• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pajak Daerah di Indonesia

N/A
N/A
Putri Juliani

Academic year: 2024

Membagikan "Pajak Daerah di Indonesia"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PPN & PPNBM, PBB, BPHTB, BEA MATERAI

Dosen Pengampu:

Al Parok S.E., M.S., Ak.

Di Susun Oleh : Putri Juliani (C0E023016)

PROGRAM STUDI KEUANGAN DAERAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JAMBI 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Perpajakan I untuk membuat makalah tentang PPN & PPnBM, PBB, BPHTB, Bea Materai.

Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah berperan penting dalam penyusunan makalah ini, terutama kepada dosen pengampu mata kuliah Perpajakan I yang telah membimbing dalam menyelesaikan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari, bahwa makalah yang dibuat ini masih ada kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan untuk menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan serta pengetahuan mengenai PPN & PPnBM, PBB, BPHTB, Bea Materai.

Jambi, 25 November 2024

Penulis

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan Penulisan...2

BAB II KAJIAN TEORI...3

2.1 PPN...3

2.1.1 Pengertian dan tarif PPN...3

2.2 PPnBM...4

2.2.1 Pengertian dan tarif PPn BM...4

2.3 PBB... 5

2.3.1 Pengertian dan tarif PBB...5

2.4 BPHTB...8

2.4.1 Pengertian dan tarif BPHTB...8

2.5 Bea Materai...9

2.5.1 Pengertian Bea Materai...9

BAB III PENUTUP... 11

3.1 Kesimpulan...11

DAFTAR PUSTAKA... 12

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pajak merupakan kontribusi masyarakat dalam bentuk iuran kepada kas negara dan bersifat memaksa, karena keberadaannya didasarkan pada undang-undang dengan tanpa mendapat balas jasa secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyatt. Agar pembayaran kewajiban pajak dapat dilakukan dengan baik warga negara sebagai wajib pajak semestinya mengetahui tentang jenis-jenis pajak, yaitu PPN & PPnBM, PBB, BPHTB, Bea Materai.

Selain mengetahui tentang PPN & PPnBM, PBB, BPHTB, Bea Materai., warga negara juga harus mengtahui dan memahami lebih dalam lagi mengenai hal-hal yang terkait dengan dasar pengenaan pajak sendiri, yaitu macam pemungutan pajak penghasilan, pengertian sifat pembayaran, jenis-jenis pembayaran, PPh pasal 21, 22, 23, 24, 25, 26. Tetapi, belum semua warga negara mengetahui dan mengerti akan hal pe nting seputar pajak ini. Melalui makalah ini semua hal tentang Dasaar Pengenaan Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi akan dijelaskan lebih detail.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Apa itu PPN?

2. Apa itu PPnBM?

3. Apa itu PBB?

4. Apa itu BPHTB?

5. Apa itu Bea Materai?

(5)

2 1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa itu PPN.

2. Untuk mengetahui apa itu PPnBM.

3. Untuk mengetahui apa itu PBB.

4. Untuk mengetahui apa itu BPHTB.

5. Untuk mengetahui apa itu Bea Materai.

(6)

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 PPN

2.1.1 Pengertian dan tarif PPN 1. Pengertian PPN

PPN merupakan salah satu jenis pajak yang dipungut pada saat penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP). Sederhananya, ini adalah pajak yang ditambahkan dan dipungut atas suatu transaksi. Dalam praktiknya, pihak penjual yang sudah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) harus membuat faktur pajak elektronik sebagai bukti pemungutan PPN dan melaporkannya setiap bulan melalui SPT Masa PPN. Namun, pihak yang membayar pajak ini adalah pihak pembeli.

Dasar Pengenaan Pajak:

a. PPN barang = % tarif X Harga jual b. PPN jasa = % tarif X Penggantian c. PPN impor = % tarif X Nilai impor d. PPN ekspor = % tarif X Nilai ekspor 2. Tarif PPN

Tarif PPN menurut ketentuan Undang-Undang No. 42 tahun 2009 pasal 7, yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Harmonisasi Perpajakan (UU HPP) pada bab IV pasal 7 ayat (1):

1) Tarif Pajak Pertambahan Nilai yaitu:

a. Sebesar 11% (sebelas persen) yang mulai berlaku pada tanggal 1 April 2022;

b. Sebesar l2% (dua belas persen) yang mulai berlaku paling lambat pada tanggal 1 Januari2025.

2) Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas:

(7)

4

a. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud;

b. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; dan c. Ekspor Jasa Kena Pajak.

3) Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen).

2.2 PPnBM

2.2.1 Pengertian dan tarif PPn BM 1. Pengertian PPnBM

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ialah pajak yang dikenakan pada barang yang tergolong mewah kepada produsen untuk menghasilkan atau mengimpor barang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. PPnBM hanya dikenakan 1 kali pada saat penyerahan barang ke produsen

Pengertian menghasilkan barang ialah kegiatan:

a) Merakit, yaitu menggabungkan bagian-bagian lepas dari suatu barang menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Contohnya merakit mobil, barang elektronik, dan perabot rumah tangga

b) Memasak, yaitu mengolah barang dengan cara memanaskan baik dicampur bahan lain maupun tidak c) Mencampur, yaitu mempersatukan dua atau lebih unsur

untuk menghasilkan satu atau lebih barang lain

d) Mengemas, yaitu menempatkan suatu barang ke dalam suatu benda untuk melindunginya dari kerusakan atau meningkatkan pemasarannya

(8)

e) Membotolkan, yaitu memasukkan minuman atau benda cair ke dalam botol yang ditutup menurut cara tertentu

f) Kegiatan lain yang sama dengan kegiatan

tersebut yang dikerjakan dengan bantuan orang atau badan usaha lain

2. Tarif PPnBM

1) Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah ditetapkan paling rendah 10%. (sepuluh persen) dan paling tinggi 200% (dua ratus persen).

2) Ekspor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah dikenai pajak dengan tarif 0% (nol persen).

3) Ketentuan mengenai kelompok Barang KenaPajak yang tergolong mewah yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

4) Ketentuan mengenai jenis barang yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud p ada ayat (3) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

2.3 PBB

2.3.1 Pengertian dan tarif PBB 1. Pengertian PBB

PBB adalah pajak negara yang dipungut atas bumi dalam hal ini permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya serta bangunan dalam hal ini konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara bertahap pada tanah dan/atau perairan.

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada dasarnya diatur dalam beberapa Undang-Undang di Indonesia, yaitu:

(9)

6

1. Undang-Undang (UU) No.12 Tahun 1994 Tentang Perubahan atas Undang-Undang (UU) No. 12 Tahun 1985 terkait Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang mengatur semua tentang pungutan atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

2. Undang-Undang (UU) No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah yang menjelaskan:

a) Bahwa pemerintah kabupaten atau pemerintah kota memiliki wewenang dalam melakukan pemungutan atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di sektor pedesaan dan perkotaan (PBB-P2) b) Bahwa pemerintah atau pusat memiliki wewenang terhadap

sektor Pertambangan, Perhutanan, dan Perkebunan (PBB-P3) 2. Tarif PBB

Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah sebesar 0,5%.

3. Dasar Pengenaan Pajak

Sebagai dasar pengenaan pungutan atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dapat disebut Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan dihitung berdasarkan harga rata-rata atau harga pasar pada saat melakukan transaksi jual beli. Dasar pengenaan pungutan ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu)

Namun, setiap daerah memiliki Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang berbeda-beda dikarenakan adanya pengaruh dari beberapa dasar penetapan untuk objek bumi dan bangunan, yaitu:

1. Bahan yang digunakan dalam bangunan tersebut 2. Letak

3. Rekayasa

(10)

4. Kondisi lingkungan 5. Pemanfaatan 6. Peruntukan.

4. Cara Menghitung PBB

Terdapat 3 tahap yang dilakukan dalam menghitung Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yaitu:

1) Menetapkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

Definisi dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sendiri merupakan besarnya harga atas objek baik bumi maupun bangunan atau dapat dikatakan pula sebagai harga untuk properti tanah dan bangunan. Sebelum menghitung berapa besarnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayarkan, maka langkah pertama harus mengetahui terlebih dulu harga dari tanah dan bangunan tersebut.

2) Menentukan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)

Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) merupakan suatu dasar dari penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagai nilai jual objek yang akan dimasukkan ke dalam perhitungan pajak yang terutang. Berikut ini merupakan ketentuan persentase dari Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) yang telah ditetapkan pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.201/KMK.04/2000 Tentang Penyesuaian Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Sebagai Dasar Penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan:

o 40% (empat puluh persen) untuk perkebunan

o 40% (empat puluh persen) untuk pertambangan

o 40% (empat puluh persen) untuk kehutanan

o Sedangkan bagi objek pajak lainnya seperti pedesaan

(11)

8

(NJOP), yaitu: 40% (empat puluh persen) untuk nilai lebih dari Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah), sedangkan 20% (dua puluh persen) untuk nilai kurang dari Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

2.4 BPHTB

2.4.1 Pengertian dan tarif BPHTB 1. Pengertian BPHTB

Dasar hukum Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah:

1. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

Undang-undang ini menggantikan Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291.

2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

BPHTB sendiri merupakan pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Pungutan ini ditanggung oleh pembeli dan hampir mirip dengan PPh bagi penjual. Sehingga pihak penjual dan pembeli sama-sama memiliki tanggung jawab untuk membayar pajak.

Sebelumnya BPHTB dipungut oleh pemerintah pusat, namun keberadaan Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyatakan jika BPHTB dialihkan menjadi salah satu jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota.

Dasar Pengenaan Pajak adalah NPOP (Nilai Perolehan Objek pajak), dalam hal ini harga transaksi atau nilai transaksi. Jika

(12)

NPOP tidak diketahui atau lebih rendah dari NJOP PBB, maka yang digunakan adalah NJOP PBB.

2. Tarif BPHTB

Besana tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen). Tarif Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

2.5 Bea Materai

2.5.1 Pengertian Bea Materai 1. Pengertian Bea Materai

Dasar hukum pengenaan Bea Meterai adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 atau disebut juga Undang-Undang Bea Meterai. Undang-undang ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 1986.

Selain itu untuk mengatur pelaksanaannya, telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya, Batas Pengenaan Harga Nominal yang Dikenakan Bea Meterai

Bea Materai sendiri adalah pajak atas dokumen yang terutang sejak saat dokumen tersebut ditanda-tangani oleh pihak yang berkepentingan, atau dokumen tersebut, selesai dibuat atau diserahkan kepada pihak lain bila dokumen tersebut hanya dibuat untuk satu pihak.

2. Tarif Bea Materai

Tarif bea materai dibedakan:

 Rp. 6.000,-, untuk transaksi diatas Rp. 1.000.000,-

 Rp. 3.000,-, untuk transaksi Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 999.999,- dan atau atas penggunaan cek atau bilyet giro berapapun jumlahnya.

(13)

10

3. Dokumen yang dikenakan Bea Materai

1. Surat perjanjian dan surat–surat lainnya yang dibuat untuk d igunakan sebagai alat bukti mengenai perbuatan/ kenyatan yang bersifat perdata.

2. Akta-akta notaris termasuk salinannya 3Akta-akta yang dibuat oleh PPAT termasuk rangkapnya.

3. Dokumen yang digunakan sebagai alat pembuktian dimuka pengadilan

4. Surat yang memuat jumlah uang.

5. Surat berharga seperti wesel, promes dan askep.

(14)

3.1 Kesimpulan

BAB III PENUTUP

 PPN merupakan salah satu jenis pajak yang dipungut pada saat penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP). Sederhananya, ini adalah pajak yang ditambahkan dan dipungut atas suatu transaksi.

 Tarif PPN menurut ketentuan Undang-Undang No. 42 tahun 2009 pasal 7, yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Harmonisasi Perpajakan (UU HPP) pada bab IV pasal 7 ayat (1).

 Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ialah pajak yang dikenakan pada barang yang tergolong mewah kepada produsen untuk menghasilkan atau mengimpor barang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.

 PBB adalah pajak negara yang dipungut atas bumi dalam hal ini permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya serta bangunan dalam hal ini konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara bertahap pada tanah dan/atau perairan.

 Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah sebesar 0,5%.

 BPHTB merupakan pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.

Besana tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen). Tarif Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

 Bea Materai sendiri adalah pajak atas dokumen yang terutang sejak saat dokumen tersebut ditanda-tangani oleh pihak yang berkepentingan, atau dokumen tersebut, selesai dibuat atau diserahkan kepada pihak lain bila dokumen tersebut hanya dibuat untuk satu pihak.

 Tarif bea materai dibedakan:

 Rp. 6.000,-

 Rp. 3.000,-

(15)

12

DAFTAR PUSTAKA

Mardiasmo. (2019). PERPAJAKAN (D. Arum (ed.); 2019th ed.). Penerbit ANDY.

Putra, W. E., & Syafis, K. S. (2016). Modul Ajar Pengantar Perpajakan. Buku Ajar, 1.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2O2I TENTANG HARMONISASI PERATURAN PERPAJAKAN

BADAN KEBIJAKAN FISKAL KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. (2021, Maret 26). Mengenal Pajak Penjualan Barang

Mewah (PPnBM). Retrieved Mei 13, 2023, from fiskal.kemenkeu.go.id:

https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/03/26/221036799823080- mengenal-pajak-penjualan-barang-mewah-ppnbm

BADAN KEBIJAKAN FISKAL KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. (n.d.). Mengenal Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

Retrieved Mei 13, 2023 from

https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/03/26/221036799823080- mengenal-pajak-penjualan-barang-mewah-ppnbm

KPPN KOTABUMI. (2021, Agustus 2021). BEA MATERAI. Retrieved Mei 13, 2023,

from djpb.kemenkeu.go.id:

https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/kotabumi/id/informasi-umum/publikasi- kemenkeu/bea-meterai.html

ONLINEPAJAK. (2023, April 3). Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Apa Itu? Retrieved Mei 11, 2023, from online-pajak.com: https://www.online- pajak.com/tentang- ppn-efaktur/pajak-pertambahan-nilai-ppn

Referensi

Dokumen terkait

Dalam mata kuliah ini dibahas tentang definisi dan ruang lingkup perpajakan, Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pajak Penghasilan, PPN dan PPnBM, PBB dan BPHTB serta

Pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara (contoh PPh, PPN, PPnBM, Bea Meterai). 

Menurut penulis, dampak covid-19 terhadap target (perkiraan penerimaan) pajak terhadap setiap jenis pajak daerah adalah menurunkan BPHTB, PBB-P2, pajak hotel, pajak

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) secara simultan terhadap Pendapatan Asli Daerah

Pengaruh Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan BPHTB Dan Pajak Bumi Bangunan PBB Terhadap Pendapatan Pemerintah Daerah Kota Langsa Yani Rizal1, Dede Muhajir2,Safrizal3 1Fakultas

Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah PPn dan PPnBM Gambar 3.2 Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 2008-2022 di Indonesia

Tujuan penelitian ini untuk menguji dan menganalisisapakah Pengaruh Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan BPHTB dan Pajak Bumi Dan Bangunan PBB Terhadap Pendapatan Asli Daerah PAD

Pedoman pelaporan PPh, PPN, PPnBM, dan Bea Meterai sesuai Peraturan Dirjen Pajak No.11 Tahun 2025 untuk meningkatkan kepastian hukum dan layanan administrasi