Buku yang ada di tangan pembacanya memanfaatkan keingintahuan manusia dan berupaya menyajikan pengetahuan tentang pandemi Covid-19. Ego sektoral antar institusi pemerintah dan dramaturgi politik untuk merebut hati masyarakat menjadi fenomena dalam konteks politik di tengah pandemi Covid-19.
RENUNGAN
DAFTAR ISI
- Pandemi Covid-19 : Apa, Mengapa, Dan Bagaimana?
- Merajut Mozaik Kebersamaan Dalam Penanganan Pandemi Covid-19
- Nunut Tatanan Baru Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19
- Kepatuhan Dan Ketidakpatuhan
- Membangun Ketangguhan Sosial Kala Pandemi Covid-19 Menerpa
- Stigmatisasi, Prasangka Sosial Dan Diskriminasi Saat Pandemi Covid-19
- Penerapan 5m, 3t, 2i+1a Dan Vaksinasi, Upaya Memutus Mata Rantai
- Pentingnya Sosialisasi Penanganan Pandemi Covid-19
- Pandemi Covid-19 Dan Pembudayaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
- Kesadaran Kolektif Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19
- Disiplin Kolektif, Kunci Memutus Mata Rantai Pandemi Covid-19
- Kerentanan Sosial (Social Vulnerability) Di Tengah Pandemi Covid-19
- Empati Sosial Kala Pandemi Covid-19 Menerpa
- Perilaku Altruistik Kala Pandemi Covid-19
- Urgensinya Modal Sosial Kala Pandemi Covid-19
- Pandemi Covid-19 : Perubahan Sosial Dan Perubahan Sikap Sosial
- Perilaku “Covidiot” Dan “Mitos” Saat Pandemi Covid-19 Sebagai Deviasi Sosial
- Merajut Solidaritas Sosial Kala Pandemi Covid-19 Mendera
- Misteri Dan Teka-Teki Waktu Berakhirnya Pandemi Covid-19
- Membangun Sikap Optimis Di Masa Pandemi Covid-19
- Belajar Dari “Tsunami” Kasus Pandemi Covid-19 Di India Dan Pasca Mudik Lebaran
- Pendahuluan
Perilaku “Covidiot” dan “Mitos” pada masa pandemi Covid-19 sebagai gangguan sosial Pandemi Covid-19 sebagai gangguan sosial A.
PANDEMI COVID-19 : APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA?
Pengertian Pandemi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pandemi dinyatakan ketika suatu penyakit baru menyebar ke seluruh dunia melampaui batas negara. Pandemi Covid-19 adalah suatu peristiwa penyebaran penyakit virus corona 2019 (Bahasa Inggris: Coronavirus disease 2019, disingkat Covid-19) ke seluruh dunia ke semua negara.
Pengertian Covid-19
Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-CoV-2) atau sering disebut virus Corona. Covid-19 atau yang sering disebut dengan penyakit virus corona 2019 merupakan penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan akut dan disebabkan oleh sindrom pernapasan akut parah (Severe Acute Respiratory Syndrome) Coronavirus Strain Coronavirus 2 (SARS-CoV-2).
Penyebab Covid-19
Infeksi virus corona atau Covid-19 disebabkan oleh virus corona, yaitu sekelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Virus corona Covid-19 merupakan virus yang beredar di beberapa hewan, antara lain unta, kucing, dan kelelawar.
Gejala Virus Corona (Covid-19)
Pandemi Covid-19 tergolong peristiwa luar biasa sehingga dampaknya pun besar dan mencakup berbagai aspek. Misalnya, keberadaan Covid-19 membuat masyarakat dunia tidak dapat memahami makna keberadaannya.
Dampak Pandemi Covid-19
Menjaga imunitas atau daya tahan tubuh merupakan salah satu cara untuk melindungi diri dari mudahnya terpapar virus Covid-19. Orang-orang yang berisiko tinggi tertular Covid-19 adalah sebagai berikut: (a) kontak erat dengan orang yang tertular, misalnya keluarga yang tinggal serumah dengan pasien; (b) kontak dengan pasien positif Covid-19 setidaknya selama tujuh hari; (c) terhirupnya percikan air liur pasien saat batuk atau bersin secara tidak sengaja; (d) tidak sengaja menyentuh air liur penderita infeksi corona yang sembarangan membuang air liur; (e) menyentuh benda-benda yang terkontaminasi (misalnya menyentuh gagang pintu di tempat umum dan pegangan di bus atau kereta api, tombol lift), kemudian menyentuh bagian wajah seperti mata, hidung atau mulut; (f) berjabat tangan dengan pasien; dan (g) mempunyai profesi yang mengharuskan kita berhubungan dengan banyak orang.
Tingkat Kematian Akibat Virus Corona (Covid-19)
- Pencegahan Virus Corona (Covid-19)
Bagi orang yang diduga mengidap Covid-19 (termasuk kategori suspek dan probable) yang dahulu disebut ODP (orang dalam pemantauan) atau PDP (pasien dalam pengawasan), ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona. kepada orang lain. orang, yaitu: (1) melakukan isolasi mandiri dengan menjauhi orang lain untuk sementara waktu. Jika dilihat lebih luas, nampaknya ketiga aspek fundamental tersebut masih sangat relevan dengan perkembangan saat ini, khususnya di masa pandemi Covid-19.
Varian Baru Virus Corona
Ketiga, selama ini banyak terjadi mutasi virus Covid-19, dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi lebih banyak lagi di kemudian hari. Mutasi terjadi pada protein genetik pada virus dan berdampak pada respon imun tubuh serta efektivitas vaksin Covid-19.
Penutup
Pendekatan dan upaya yang harus dilakukan warga dalam menghadapi pandemi Covid-19 dapat dilakukan dengan cara (Asy'ari, 2020): bersatu terlebih dahulu. Masa pandemi Covid-19 dapat menjadi masa untuk membangun solidaritas, toleransi, dan dukungan antar umat semua agama dan kepercayaan.
MERAJUT MOZAIK KEBERSAMAAN DALAM PENANGANAN PANDEMI COVID-19
- Kebersamaan dalam Telaah Teori Emile Durkheim
- Arti Merajut Mozaik Kebersamaan
- Rumus dan Langkah-langkah Membangun Kebersamaan Penanganan dan pencegahan terus dilakukan oleh peme-
- Perekat Kebersamaan
- Merajut Kebersamaan Melalui Sinergisitas
- Merajut Kebersamaan Melalui Kolaborasi
- Penutup
Setidaknya, gotong royong mengandung beberapa nilai positif yang dapat menjadi kata kunci konsep gotong royong, antara lain kebersamaan, kekeluargaan, keadilan, kesukarelaan (tanpa pamrih), tanggung jawab, peran aktif masyarakat, serta persatuan dan kesatuan. Semangat gotong royong ini juga menjadi salah satu hal yang terdapat dalam kelompok tani (Koentjaraningrat, 2009).
NUNUT TATANAN BARU DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19
Teori Emile Durkheim dan Teori Talcott Parsons tentang Penyakit
Dari sudut pandang ini, tingkat kesehatan yang terlalu rendah atau tingkat penyakit yang terlalu tinggi pada anggota masyarakat merupakan sesuatu yang mengganggu berfungsinya sistem sosial karena masalah kesehatan menghambat kemampuan anggota masyarakat dalam memenuhi peran sosialnya. Menurut Parsons, hal ini bukan hanya karena penyakit mengganggu fungsi seseorang sebagai anggota masyarakat, tetapi juga karena penyakit, terutama kematian dini, merugikan kepentingan masyarakat, yang telah menimbulkan biaya besar bagi kelahiran, pengasuhan, dan sosialisasi anggota. masyarakat.
Pengertian Kenormalan Baru
Kebijakan dalam Menjalani Kenormalan Baru
Wajib pula menjaga jarak minimal satu meter saat berinteraksi dengan teman di tempat kerja. Jika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas kerja, maka Anda diwajibkan melakukan aktivitas kerja dengan cara bekerja dari rumah (WFH).
Adaptasi Kebiasaan/Kenormalan Baru
Dalam pandangan ini, adaptasi diri diartikan sebagai upaya mempertahankan diri secara fisik (self-preservation atau survival). Ketiga perspektif penyesuaian ini semuanya bisa digunakan untuk menghadapi kehidupan dengan normal baru ini.
Normalisasi Kehidupan pada Kenormalan Baru
Hal ini misalnya terlihat dari kesesuaian motif dan warna topeng pada pakaian, suasana hati dan kesesuaian tempat tujuan, apa saja yang perlu dilakukan. Terkait erat dengan hal ini adalah pembatasan sosial yang diterapkan secara bertahap akan menjadi tantangan.
Menjadi Warga Negara yang Menghargai Keadaan Pandemi Covid-19 telah membuat banyak hal yang berubah
- Penutup
Untuk menghadapi pandemi Covid-19, masyarakat sebagai bagian dari warga negara yang bermoral dituntut menjadi individu yang berkarakter disiplin. Dampak pandemi Covid-19 telah menyebabkan kematian, penyakit, kurangnya kenyamanan, ketidakpuasan dan kemiskinan (Subair, 2020).
KEPATUHAN VERSUS KETIDAKPATUHAN MASYARAKAT PADA PROTOKOL KESEHATAN
Pandemi Covid-19 kini menjadi kenyataan sosial yang pahit dan menyakitkan yang harus dihadapi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Kesan yang sangat menonjol dalam upaya penanganan pandemi Covid-19 adalah pemerintah kesulitan mendapatkan kepatuhan, kepatuhan dan kedisiplinan masyarakat untuk menaati kebijakannya terkait penanganan pandemi.
COVID-19
- Teori Kepatuhan (Compliance Theory)
- Pengertian Kepatuhan
- Hakikat Kepatuhan
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan
- Indikator Kepatuhan
- Ketidakpatuhan Masyarakat pada Protokol Covid-19 Ketidakpatuhan yaitu ketidakmampuan mempraktikkan
- Solusi atas Ketidakpatuhan Masyarakat
Kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan Covid-19 dalam penggunaan alat pelindung diri (masker) dapat berupa: sebelum memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir (minimal 20 detik) atau bila tidak tersedia menggunakan hand sanitizer (alkohol minimal 60%; kenakan masker hingga menutupi mulut dan hidung dan pastikan tidak ada celah antara wajah dan masker; hindari menyentuh masker saat digunakan; jika tersentuh, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik atau jika tidak tersedia, hand sanitizer (alkohol minimal 60%); ganti masker basah atau lembab dengan masker baru (masker medis hanya dapat digunakan satu kali dan masker kain dapat digunakan berulang kali); dan untuk membuka masker: lepaskan di bagian belakang (jangan sentuh bagian depan masker) Pandemi Covid-19 terus menyisakan ketidakpastian di hampir seluruh aspek kehidupan dan pertanyaan yang belum terjawab.
MEMBANGUN KETANGGUHAN SOSIAL KALA PANDEMI COVID-19 MENERPA
- Teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons
- Pengertian Ketangguhan
- Pengertian Ketangguhan Pribadi dan Sosial
- Aspek Dasar Ketangguhan
- Ciri-ciri Ketangguhan
- Faktor yang Mempengaruhi Ketangguhan Sosial
- Parameter Pengukuran Ketahanan Sosial
- Fungsi Ketangguhan
- Masyarakat Tangguh Bencana
- Meningkatkan Ketangguhan Sosial
- Penutup
Para ahli sistematika dan ekologi pada periode waktu yang berbeda telah berulang kali menyatakan bahwa ciri penting keberlanjutan sosial dan ekologi adalah “kemampuan untuk bertahan hidup, berproduksi, berkembang dan beradaptasi terhadap gangguan eksternal”. Masyarakat atau sistem sosial menjadi fokus pembangunan dalam upaya meningkatkan keberlanjutan sosial dan ekosistem.
STIGMATISASI, PRASANGKA SOSIAL DAN DISKRIMINASI SAAT PANDEMI COVID-19
Teori Stigma Erving Goffman
Stigma sebagaimana dikemukakan oleh Erving Goffman dalam teori stigma adalah tanda yang dibuat pada tubuh seseorang untuk menunjukkan dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa orang yang mempunyai tanda tersebut adalah pekerja, penjahat atau pengkhianat. Teori stigmatisasi adalah pemberian tanda pada tubuh seseorang untuk menunjukkan dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa orang yang mempunyai tanda tersebut adalah pekerja, penjahat atau pengkhianat.
Pengertian Stigma Sosial
Orang yang tidak mengidap penyakit tersebut, namun memiliki karakteristik yang sama dengan kelompok tersebut, juga dapat mengalami stigmatisasi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan situasi untuk menghindari keadaan buruk, termasuk tanggung jawab untuk menghindari tertular Covid-19.
Muncul Stigma Sosial
Memang benar masa inkubasi Covid-19 adalah 14 hari, namun hal tersebut tidak menjamin seseorang yang sudah sembuh dari Covid-19 tidak akan tertular lagi. Tak hanya terjadi di Indonesia, di Ghana terdapat penyintas Covid-19 yang ditolak berbelanja di toko setelah sembuh.
Bentuk Stigma
Karena stigmatisasi dan ketakutan dicap sebagai pembawa penyakit menular, banyak kelompok berisiko tidak mencari layanan kesehatan sampai gejalanya dapat dikendalikan, atau bahkan tidak mencari layanan kesehatan sama sekali (Bruns, Kraguljac & Bruns, 2020).
Dampak Stigmatisasi
Bukan tidak mungkin hal ini juga terjadi pada pasien Covid-19 yang mendapat stigmatisasi dan perilaku diskriminatif. Hal serupa juga bisa terjadi pada tenaga medis yang mengalami perilaku diskriminatif di tempat tinggalnya.
Melawan Stigma Sosial
Kiat Melawan Stigmatisasi
- Mitigasi Stigma
Misalnya saja ketika ada warga terdampak Covid-19 di daerahnya yang diisolasi, maka mereka bisa membantu mengantarkan makanan atau kebutuhan pokok lainnya. Mengirimkan pesan-pesan positif kepada para penderita Covid-19 merupakan salah satu cara untuk memberikan dukungan moral, terutama saat mereka menjalani isolasi.
Prasangka dan Diskriminasi
Akibatnya, prasangka sering kali didasarkan pada kurangnya pemahaman atau ketidakpedulian terhadap kelompok “mereka”, atau mungkin disebabkan oleh ketakutan akan perbedaan (Fulthoni et al. dalam Sarwono dan Meinarno, 2011). Terakhir, Doob (Dinariratri dan Sandy, dkk. 2020) menyatakan bahwa diskriminasi adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk mencegah dan membatasi suatu kelompok agar tidak dapat memiliki atau memperoleh sumber daya.
Pandemi Covid-19 : Dari Disorganisasi ke Disfungsi Sosial Masyarakat
Pandemi Covid-19 berdampak pada munculnya patologi sosial yang diwujudkan dalam tindakan penyimpangan sosial (Mahyuddin dan Rusdi, 2020). Hal ini terjadi tidak seperti yang lain. akibat disorganisasi/disintegrasi sosial akibat pandemi Covid-19.
PENERAPAN 5M, 3T, 2I+1A DAN VAKSINASI, UPAYA MEMUTUS MATA RANTAI
Teori Emory S. Bogardus dan Teori Interaksionisme Simbolik
Dengan adanya social distance, masyarakat yang berinteraksi dapat berbicara secara natural dan tidak saling bersentuhan. Terkait jarak sosial, Burgoon menyatakan bahwa masyarakat membutuhkan rasa memiliki dan ruang pribadi.
Menjaga Jarak
Social distance merupakan salah satu kebijakan yang saat ini diterapkan oleh masyarakat global di masa pandemi virus Corona. Kebijakan penjarakan fisik dan sosial yang diterapkan pemerintah Indonesia merupakan kebijakan yang tepat untuk mengurangi dampak penyebaran infeksi Covid-19 di Indonesia.
Memakai Masker
- Masker bedah
- Masker N95
- Masker kain
Hal terpenting dalam pencegahan Covid-19 tidak hanya sekedar memakai masker, namun harus dibarengi dengan sering mencuci tangan pakai sabun dan menjaga jarak fisik. Beberapa negara yang menerapkan denda jika warganya tidak memakai masker di tempat umum antara lain Thailand, Kanada, Malaysia, Singapura, menunjukkan tingkat keberhasilan yang baik dalam pengendalian Covid-19.
Mencuci Tangan
Menggunakan pembersih tangan adalah cara lain untuk memastikan tangan anda bersih selain mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Supaya penggunaan hand sanitizer lebih baik apabila anda berada di luar rumah atau ketika tiada kemudahan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir (Nur-. Kidam, A. Dkk. 2020).
Menghindari Kerumunan
Cohen menjelaskan berbagai bentuk kerumunan sebagai berikut: “Penonton: kerumunan yang melakukan sesuatu berdasarkan suatu stimulus.
Membatasi Mobilitas
Kemudian pengurangan mobilitas dalam kota sebesar 40% dapat meratakan kurva kasus COVID-19 sebesar 66% dan menunda munculnya puncak kasus selama 4 minggu. Jika mobilitas penduduk suatu saat tinggi, maka jumlah kasus Covid-19 juga akan meningkat pada saat itu.
Testing, Tracing dan Treatment
- Testing (pemeriksaan)
- Tracing (penelusuran kontak)
- Treatment (perawatan/isolasi)
- Iman, Imun dan Aman
Kelima, masyarakat yang terang-terangan mengutarakan keinginannya dan mengumpulkan massa dalam jumlah yang cukup besar berpotensi menjadi master baru Covid-19. Upaya lain untuk mencegah pandemi Covid-19 adalah sosialisasi keimanan, kekebalan dan sistem keamanan.
Vaksinasi
Jika cara-cara di atas dilakukan secara rutin dan terjadwal, pemerintah yakin peluang kita terhindar dari Covid-19 sangat besar. Selama belum ada obat pasti untuk Covid-19, vaksin Covid-19 yang aman dan efektif serta perilaku 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) merupakan upaya perlindungan yang dapat kita lakukan untuk mencegah Covid-19 agar terhindar dari penyakit. .
Membudayakan 5 M
- Tahapan know
- Tahapan believe
- Tahapan attitude
- Tahapan behavior
- Tahapan habit
- Tahapan cultutre
Berbagai upaya preventif atau preventif telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Sosialisasi yang dilakukan pemerintah atau masyarakat dalam penanganan Covid-19 di tengah pandemi seperti saat ini mempunyai cara yang berbeda-beda.
PENTINGNYA SOSIALISASI PENANGANAN PANDEMI COVID-19
- Teori Herbert Blumer, Cooley, Mead, dan lain-lain
- Pengertian Sosialisasi
- Tujuan dan Fungsi Sosialisasi
- Jenis-jenis Sosialisasi
- Sosialisasi primer
- Sosialisasi sekunder
- Tipe dan Pola Sosialisasi
- Formal
- Informal
- Proses Sosialisasi
- Tahap persiapan (preparatory stage)
- Tahap meniru (play stage)
- Tahap siap bertindak (game stage)
- Tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage/
- Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat
- Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat,
- Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut
- Syarat Terjadinya Sosialisasi
- Warisan dan kematangan biologikal
- Lingkungan yang menunjang
- Proses Pembelajaran dalam Sosialisasi
Sedangkan “aku” adalah diri sosial yang berfokus pada bagaimana hal itu ditunjukkan oleh orang lain. Dengan kata lain, pada tahap ini kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk.