• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Tangguh Bencana

Dalam dokumen PANDEMI COVID-19 (Kajian Sosio-Kultural) (Halaman 116-120)

MEMBANGUN KETANGGUHAN SOSIAL KALA PANDEMI COVID-19 MENERPA

J. Masyarakat Tangguh Bencana

Masyarakat dapat terlibat aktif dalam mengkaji, menganali- sis, menangani, merencanakan, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko bencana yang ada di wilayah mereka, teru- tama dengan memanfaatkan sumber daya (manusia, alam, bu- daya dan ekonomi) lokal demi menjamin keberlanjutan.

Masyarakat yang tangguh bencana (disaster-resilient com- munity) ialah masyarakat yang mampu mengantisipasi dan meminimalisasi kekuatan yang merusak, melalui adaptasi. Me- reka juga mampu mengelola dan menjaga stuktur dan fungsi dasar tertentu ketika terjadi bencana. Dan kalau terkena dam- pak bencana, mereka akan dengan cepat bisa membangun ke- hidupannya menjadi normal kembali (Twigg, 2012).

Masyarakat tangguh bencana, menurut Samsul Maarif (2012), memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengantisipasi setiap ancaman; (2) kemampuan untuk mela- wan atau menghindari; (3) kemampuan untuk mengadaptasi bencana dan dampak yang ditimbulkan; dan (4) kemampuan untuk pulih kembali secara cepat.

Harus diakui bahwa selama ini masyarakat ketika menga- lami bencana patut diduga tidak sepenuhnya dalam keadaan yang siap siaga. Persoalan tersebut dapat dipastikan terjadi ka- rena masih rendahnya pengetahuan (kognisi) masyarakat ter- hadap pemahaman tentang bencana. Minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang ancaman bencana pada gilirannya akan membuat masyarakat apatis terhadap gejala sosial yang akan ditimbulkan oleh bencana itu sendiri.

Paradigma penanganan bencana yang selama ini berfokus pada pendekatan yang bersifat charity dan karitatif harus diu- bah. Penanganan bencana secara charity dan karitatif dampak- nya hanya berlangsung dalam jangka pendek dan tidak mem- berikan langkah solutif secara nyata.

Paradigma untuk mengurangi risiko bencana semestinya harus berorientasi pada langkah-langkah preventif secara ter- padu dan terintegrasi. Sebab kesiapsiagaan masyarakat seba- gai bagian pengetahuan untuk melakukan mitigasi bencana bukan proses instan. Lebih jauh upaya tersebut memerlukan peran lembaga sosial dalam mengkoordinir dan mentransfor- masikan cara berfikir masyarakat dalam melakukan mitigasi bencana.

Membangun masyarakat tangguh bencana melalui lembaga sosial kemasyarakatan penting karena masyarakat diikat oleh nilai-nilai atau norma yang termanifestasi dalam kearifan lokal yang seharusnya mampu dijadikan instrumen pengurangan risiko bencana. Akan tetapi, peran lembaga sosial kemasyara- katan dalam konteks mitigasi bencana selama ini belum dapat dimaksimalkan. Oleh karena itu, dalam konteks kebencanaan lembaga sosial kemasyarakatan perlu didayagunakan dengan optimal agar dapat memunculkan kesadaran bagi masyarakat.

Guna mendorong terciptanya masyarakat dengan kesadar- an mitigasi bencana yang baik, maka peran lembaga sosial ke- masyarakatan perlu bertransformasi. Sebab dengan memper- siapkan masyarakat dengan segala sumberdaya dan potensi yang dimiliki tentu menjadi bagian penting kedepannya dalam rangka mengedukasi masyarakat sehingga mereka dapat lebih siap dan tanggap ketika menghadapi ancaman bencana.

Berkenaan dengan itu, bencana alam sebenarnya merupa- kan gejala yang sporadis. Namun demikian, respons masya- rakat dalam menghadapinya tidak dapat sporadis, melainkan perlu disusun langkah sistematis dan terkoordinir yaitu melalui lembaga sosial kemasyarakatan. Hal tersebut penting agar ma- syarakat dapat melakukan langkah antisipatif dalam mengha- dapi ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat saja terjadi.

Dalam konteks tersebut, nilai-nilai atau norma yang termani- festasi dalam kearifan lokal masyarakat yang notabenenya se- makin ditinggalkan harus direkonstruksi kembali sebagai suatu sumberdaya yang potensial dalam pengurangan risiko benca- na.

Transformasi lembaga sosial kemasyarakatan yang diupaya- kan dalam masyarakat pada gilirannya dapat menjadi sumber- daya potensial yang bermanfaat untuk membangun strategi dalam menghadapi bencana. Kemampuan masyarakat dalam menghadapi setiap ancaman bencana tentu dalam praktiknya perlu melibatkan multipihak sehingga setiap lembaga sosial

yang ada di masyarakat baik lembaga pendidikan, ekonomi, dan lembaga pemerintah desa agar dapat berfungsi mendu- kung proses transformasi kelembagaan sosial masyarakat da- lam menghadapi bencana.

Membangun masyarakat tangguh bencana melalui trans- formasi kelembagaan sosial sangat penting dilakukan. Urgensi dari hal tersebut mengingat rentannya masyarakat terhadap bencana alam. Sehingga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan pengurangan risiko bencana, maka masyarakat harus dipersiapkan melalui proses rekaya- sa sosial dengan menghidupkan kembali segala potensi yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri sebagai bagian dari lang- kah-langkah preventif dalam menghadapi bencana di masa yang akan datang.

Masyarakat tangguh menghadapi bencana memiliki ciri-ciri (Maarif, 2012), yaitu : pertama, kemampuan untuk mengantisi- pasi setiap ancaman yang akan terjadi. Oleh karena itu, tahap ini kita dituntut mampu melakukan prediksi, analisis, identifika- si dan kajian terhadap risiko bencana. Kemampuan ini memer- lukan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang canggih ma- upun yang tepat guna. Juga dari pengetahuan yang modern hingga kearifan lokal yang sudah ada di masyarakat. Kedua, kemampuan untuk melawan atau menghindari ancaman ben- cana tersebut. Kemampuan untuk melawan ini sangat tergan- tung dari besarnya ancaman yang akan kita hadapi. Apakah kemampuan sumber daya kita mampu menghadapi kekuatan dampak yang akan ditimbulkan.

Ketiga, kemampuan untuk menghadapi bencana dan dam- pak yang ditimbulkan. Apabila kita tidak mampu melawan ataupun menghindar, maka kita harus mampu mengurangi, mengalihkan atau menerima resiko bencana yang akan ter- jadi. Prinisp-prnsip manajemen resiko berlaku untuk man- anggulangi bencana. Upaya memperkecil dampak yang di- timbulkan atau mitigasi bencana, seperti membuat bangunan

tahan gempa, membangun stelter vertikal, membuat jalur-jaur pengungsian dan sebagainya harus diterapkan. Pada dasarnya mengadaptasi bencana ini bertujuan agar kemampuan masya- rakat untuk menerima risiko semakin tinggi. Hal ini berkaitan dengan filosofi, hidup berdampingan secara damai dengan bencana. Keempat, kemampuan untuk pulih kembali secara cepat setelah terjadi bencana. Ketangguhan suatu masyarakat dalam menanggulangi bencana dapat dilihat dari kemampuan (daya lenting) untuk pulih kembali setelah ditimpa bencana.

Peningkatan kapasitas masyarakat merupakan suatu ke- niscayaan, karena masyarakat sebagai pelaku awal penang- gulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu menangani bencana sehingga diha- rapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar.

Kegiatan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat ini selaras dengan program pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) yang merupakan desa/kelurahan yang me- miliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan mengha- dapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan jika terkena bencana.

Adanya dukungan masyarakat yang memiliki ketangguhan dalam menghadapi bencana, yang ditandai dengan adanya hal-hal sebagai berikut: a. Pemahaman terhadap hakekat ben- cana; b. Bekal ruhani untuk menghadapi bencana; c. Pemaham- an tentang adanya bahaya di sekitarnya; d. Pemahaman ten- tang sistem peringatan dini (early warning systems) yang ada; e.

Pemahaman tentang jalur evakuasi dan titik kumpul; f. Ketram- pilan untuk menyelamatkan diri; dan g. Kegiatan mitigasi untuk pengurangan dampak bencana.

Dalam dokumen PANDEMI COVID-19 (Kajian Sosio-Kultural) (Halaman 116-120)