PANDEMI COVID-19 : APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA?
J. Varian Baru Virus Corona
mana dengan kondisi adanya virus ini manusia masih tetap nyaman untuk beraktifitas dalam wadah desain arsitektur tan- pa terganggu ataupun terhambat dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dan harus memudahkan manusia untuk beraktifitas. Dan yang terahir adalah beauty jangan sampai ap- likasi atau penerapan desain (pasca Covid-19) yang menerap- kan protokol kesehatan ini merusak tampilan desain atau tidak memiliki nilai estetika sama sekali. Jika dibicarakan lebih lanjut manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME yang sempurna dibekali akal dan pikiran, tentu akan sangat mampu untuk me- mikirkan bagaimana jalan keluar dari suatu masalah yang saat ini dihadapi. Merujuk teori adaptasi ada beberapa hal yang da- pat dilakukan manusia dalam upaya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan binaan (adaptasi) yang ada yaitu menurut Sonnenfeld (Bell, P.A., Greene, T.C., Fisher, J.D., & Baum, A., 1996 dalam Iptidaiyah, 2020): a. Adaptation, yaitu mengubah ting- kah laku atau respon-respon agar sesuai dengan lingkungan- nya b. Adjustment, yaitu perilaku mengubah lingkungan agar sesuai dengan kondisi lingkungan yang diinginkan.
secara saksama perkembangan ilmu yang ada dalam mengam- bil kebijakan publik dan juga keputusan pribadi. Tentu, harus berdasar dari sumber informasi yang sahih. Hal ketiga, sejauh ini sudah amat banyak mutasi virus covid-19 yang sudah terjadi dan masih mungkin akan ada yang terjadi lagi di masa depan.
Sejak lebih setahun pandemi, telah ditemukan enam varian baru virus korona yang diumumkan Kemenkes RI (Yordan Kha- edir, 2021). Varian ini identik dengan varian B.1.1.7 (atau sering disebut dengan ‘UK Variant’) yang pertama kali ditemukan di Inggris.
Virus ini tersebar di sejumlah beberapa provinsi berbeda di Indonesia, varian ini pertama kali ditemukan pada kasus impor yang dibawa pekerja migran dari Saudi Arabia. Variasi (varian) dan mutasi virus merupakan proses biologis yang kerap terjadi dan tidak mengejutkan.
Mutasi ialah perubahan materi genetik pada level DNA/RNA organisme hidup. Bisa dikatakan, varian ialah mutasi yang dite- mukan pada populasi tertentu. Lebih mudah menular. Seku- rangnya 4.000 mutasi virus korona telah teridentifikasi di dunia.
Tidak semuanya berdampak negatif.
Selain B.1.1.7, tercatat varian B1.351 yang pertama kali dite- mukan di Afrika Selatan dan P.1 yang ditemukan di Brasil. Vari- an B.1.1.7 memiliki karakteristik 50%-70% lebih mudah menu- lar jika dibandingkan dengan varian lain (Rambout dkk dalam Yordan Khaedir, 2021).
Merujuk pada database global GISAID, saat ini varian B.1.1.7 telah terdeteksi di lebih dari 50 negara di dunia. Mudahnya pe- nularan virus (transmisi virus) berdasar pada beberapa mutasi (point mutations) yang dominan pada permukaan SARS-CoV-2, yakni protein S (spike) yang berperan penting menginfeksi sel tubuh manusia dengan ikatan pada reseptor ACE2. Ikatan yang kuat keduanya memberi peluang virus lebih mudah berepli- kasi/memperbanyak diri sehingga potensial menularkan pada
orang lain.
Mutasi D614G yang baru-baru ini diidentifikasi juga tidak jauh berbeda dengan varian B.1.1.7. Hampir 90% SARS-CoV-2 dunia didominasi mutasi D614G. Selain mutasi D614G varian B1, empat dari delapan jenis mutasi varian B.1.1.7 diduga ber- peran pada proses intervensi virus pada sel tubuh manusia dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh, terutama terkait de- ngan pembentukan antibodi spesifik SARS-CoV-2. Selain mu- dah menular, ahli memprediksikan dampak medis yang bisa muncul akibat varian ini.
Beberapa dampak medis yang perlu mendapat perhatian ialah derajat keparahan penyakit (severity) pada populasi ter- tentu atau kelompok rentan dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (Yordan Khaedir, 2021). Mutasi D614G diduga le- bih banyak ditemukan pada usia dewasa muda dengan jumlah replikasi virus (viral load) yang tinggi (Cell dalam Yordan Khae- dir, 2021).
Anggapan D614G dan varian B.1.1.7 lebih mematikan, juga masih bersifat spekulatif. Data ilmiah belum cukup kuat untuk membuktikan bahwa keduanya memperberat atau parameter membedakan kategori ringan, sedang covid-19. Namun, se- makin mudah orang terinfeksi SARS-CoV-2 dan meningkatnya positivity rate, akan diikuti dengan meningkatnya jumlah orang yang membutuhkan perawatan di RS, termasuk kebutuhan te- rapi obat.
Pelayanan kesehatan secara umum akan terdampak. Mele- mahnya antibodi covid-19 juga berpeluang terjadinya reinfeksi.
Jika dibandingkan dengan B.1.1.7, B1.351 diduga kuat mampu memicu terjadinya reinfeksi. Dampak lain, munculnya varian baru ialah penurunan spesifisitas dan sensitivitas pada diagno- sis SARS-CoV-2 yang menggunakan PCR. Bukan tidak mungkin pemeriksaan PCR yang dihasilkan negatif palsu. Pentingnya pe- ran epidemiologi molekuler.
Temuan kasus varian baru virus korona merupakan early warning bagi Indonesia untuk segera memulai identifikasi ke- beradaan varian B.1.1.7 (Yordan Khaedir, 2021). Terlebih, data epidemiologi molekuler SARS-CoV-2 Indonesia masih sangat minim. Surveilans B.1.1.7 diperlukan, selain juga keberadaan varian lain, seperti B1.153 dan P.1. Kita juga harus memastikan bahwa tes diagnostik mampu mendeteksi semua jenis varian baru.
Identifikasi varian baru virus korona saat ini, hanya bisa di- lakukan dengan analisis sekuensing nukleotida protein atau metode whole genome sequencing (WGS), yakni butuh kete- rampilan dan teknologi alat diagnostik yang berbeda dengan metode PCR biasa. Setelah varian virus baru teridentifikasi, pemahaman karakteristik virus menjadi lebih luas. Informasi terkait dengan kemampuan virus lebih mudah menular, geja- la klinis yang khas, efektivitas terapi pengobatan dan produksi vaksin covid-19 bisa terungkap dengan analisis data epidemio- logi molekuler (Yordan Khaedir, 2021).
Sekarang muncul mutasi varian virus corona jenis baru yakni E484K ‘Eek’. Mutasi virus SARS-CoV-2 varian E484K pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan. Varian ini dengan cepat menye- bar di Inggris hingga ke Jepang. Mutasi virus Covid-19 E484K
‘Eek’ sudah terdeteksi masuk ke Indonesia.
Mengutip laman British Medical Journal varian Covid-19 ini sebetulnya bukan jenis baru. Ia adalah mutasi yang terjadi pada virus corona di Afrika Selatan varian B1351, dan varian B1128 asal Brasil. Mutasi terjadi pada protein genetik dalam virus dan berdampak pada respons imun tubuh hingga efektivitas vaksin Covid-19.
Berdasarkan gejalanya, tidak ada perbedaan yang ditimbul- kan antara virus corona varian E484K ‘Eek’ dan lainnya. Dokter spesialis paru, Erlang Samoedro mengatakan, gejala infeksi vi- rus corona varian Eek masih sama seperti lainnya seperti de- mam, pilek, batuk, dan lain-lain.
Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mencatat beberapa gejala umum seperti berikut. Pertama, ge- jala paling umum: demam, batuk kering, rasa lelah, anosmia atau hilangnya fungsi indera penciuman dan perasa, diare. Ke- dua, beberapa gejala lain di antaranya: rasa nyeri di tubuh, sa- kit tenggorokan, konjungtivitis atau mata merah, sakit kepala, ruam. Ketiga, gejala yang lebih serius : napas pendek atau sesak napas, sakit dada, dan kehilangan kemampuan bicara dan ber- gerak.