PENERAPAN 5M, 3T, 2I+1A DAN VAKSINASI, UPAYA MEMUTUS MATA RANTAI
B. Teori Emory S. Bogardus dan Teori Interaksionisme Simbolik
Social distancing, belakangan ini menjadi kata atau kalimat yang paling sering didengar, baca, dan ucapkan terkait dengan virus corona. Social distancing sebetulnya bukan hanya istilah yang diciptakan oleh instansi atau seseorang. Karena pada ke- nyataannya, ada sebuah teori yang mengangkat soal hal ini.
Melansir dari laman resmi Brock University, Kanada, soci- al distance scale adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh seorang profesor ahli sosiologi bernama Emory S. Bogardus (1882-1972). Bogardus juga merupakan pencetus didirikannya Fakultas Sosiologi di seluruh dunia. Ia pertama kali mendirikan Fakultas Sosiologi pada tahun 1915 di University of Southern California. Bicara soal teori social distance scale yang dibuat oleh Bogardus, teori ini sebetulnya ia gunakan untuk meng- ukur secara empiris tentang kesediaan orang, apakah ia mau melakukan kontak sosial atau tidak.
Secara teoretis Emory Bogardus mengukur jarak sosial de- ngan menakar penerimaan seseorang terhadap orang lain da- lam unsur: a) kesediaan untuk menikah dengan orang lain. b) Bergaul rapat sebagai kawan. c) Penerimaan sebagai tetangga.
d) Penerimaan sebagai rekan seprofesi/jabatan. e) Penerimaan sebagai warga negara. f) Penerimaan sebagai pengunjung ne- gara.
Jarak sosial adalah pemisahan secara sosial yang dianggap ada dan terjadi antarindividu, antarkelompok, atau antara indi- vidu dan kelompok.
Penggunaan jarak sosial dalam sosiologi adalah untuk me- ngetahui hubungan sosial dalam suatu kelompok atau antar ke- lompok. Jarak sosial mendeskripsikan jarak antara serbagai ke- lompok dalam masyarakat dan bukan merupakan jarak (lokasi).
Konsep jarak sosial pertama kali dianalisa oleh Emory S. Bogar- dus dan menghasilkan alat ukur dan alat banding sikap masya- rakat yang disebut skala Bogardus. Penanggap diminta untuk menanggapi pernyataan-pernyataan tentang hubungan sosial dengan kelompok sosial lain dengan tingkat kesamaan yang berbeda-beda dengan kelompok asalnya.
Konsep jarak sosial menurut Edward T. Hall merupakan sua- tu jarak orang berinteraksi antara satu dengan yang lain, dapat berbicara tetapi tidak saling menyentuh.
Studi yang menelaah persepsi manusia atas ruang (pribadi dan sosial), cara manusia menggunakan ruang, dan pengaruh ruang dalam komunikasi disebut proxemics (Edward T. Hall da- lam Ahmad Usman, 2020). Karl dan Yoels mendasarkan teori- nya pada karya Edward T. Hall (1982) mengenai konsep jarak sosial atau proxemics. Menurut Hall, dalam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat macam jarak, yaitu jarak in- tim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.
Jarak sosial antar manusia dapat dipercaya berhubungan dengan jarak fisik, yang terdiri dari jarak intim dan jarak perso- nal, kemudian dibagi lagi (Edward T. Hall dalam Ahmad Usman, 2020) sebagai berikut:
1) Jarak intim (sekitar 0–45 cm)
Dalam jarak intim terjadi keterlibatan intensif pancaindera dengan tubuh orang lain. Contohnya dua orang yang mela- kukan olahraga jarak dekat, seperti sumo dan gulat. Apabila
seseorang terpaksa berada dalam jarak intim, seperti di dalam bus atau kereta api yang penuh sesak, ia akan berusaha sebisa mungkin menghindari kontak tubuh dan kontak pandangan mata dengan orang di sekitarnya.
2) Jarak Pribadi (sekitar 45 cm–1,22 m)
Jarak pribadi cenderung dijumpai dalam interaksi antara orang yang berhubungan dekat, seperti suami isteri atau ibu dan anak.
3) Jarak Sosial (sekitar 1,22 m–3,66 m)
Dengan jarak sosial orang yang berinteraksi dapat berbicara se- cara wajar dan tidak saling menyentuh. Contohnya interaksi di dalam pertemuan santai dengan teman, guru, dan sebagainya.
4) Jarak Publik (di atas 3,66 m)
Umumnya digunakan oleh orang yang harus tampil di depan umum, seperti politisi dan artis. Semakin besar jarak, semakin keras pula suara yang harus dikeluarkan.
Menurut Edward T. Hall (Ritzer, 2014), jarak atau ruang me- miliki 4 (empat) fungsi:
1. Safety : ketika ada jarak antara kita dengan orang lain, kita akan merasa aman karena kita yakin orang tersebut tidak akan menyerang kita dengan mengejutkan.
2. Communication : ketika orang-orang berdekatan dengan kita, kita akan dengan mudah berkomunikasi dengan me- reka.
3. Effection : ketika orang-orang dekat dengan kita, kita bisa sa- ling menjalin keakraban.
4. Threat : atau ancaman, bisa dilakukan hal sebaliknya, kita da- pat mempertimbangkan.
Penggunaan konsep jarak sosial mempermudah pemben- tukan tingkatan diskriminasi yang kontinum. Konsep jarak so- sial pertama kali dianalisa oleh Emory S. Bogardus dalam Public Opinion and The Making of Public Opinion (1951) menghasilkan alat ukur dan alat banding sikap masyarakat yang disebut ska- la Bogardus. Penanggap diminta untuk menanggapi pernya- taan-pernyataan tentang hubungan sosial dengan kelompok sosial lain dengan tingkat kesamaan yang berbeda-beda de- ngan kelompok asalnya.
Konsep social dictance itu sebenarnya salah satu konsep yang secara teoritik ada pada salah satu teori dalam ilmu ko- munikasi. Secara ringkas, teori pelanggaran harapan menjelas- kan tentang pengaruh komunikasi non verbal dan pengaruh perilaku manusia. Teori yang dikemukakan oleh Judee K. Bur- goon menyatakan bahwa perubahan tak terduga yang terjadi dalam jarak perbincangan antara komunikator dapat menim- bulkan perasaan yang tidak nyaman, bahkan rasa marah dan seringkali ambigu. Makna dibalik pelanggaran harapan (expec- tancy violation) disini lebih mengarah kepada sebuah dugaan atau prediksi. Dalam teori pelanggaran harapan ada konsep yang disebut zona prosemik yang merujuk pada pengaturan, penggunaan, dan penafsiran ruang dan jarak.
Terkait jarak sosial (social distance), Burgoon menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan afiliasi dan ruang pribadi. Dalam artian bahwa manusia selalu ingin dekat seca- ra fisik dengan manusia lainnya terutama orang yang memiliki kedekatan personal dengan kita. Namun disaat bersamaan kita sebagai individu juga tetap harus menjaga jarak dengan orang lain yang kita anggap asing, sebagai bentuk perlindungan diri dari ancaman yang mungkin dari orang yang kita anggap asing tersebut.
Jarak sosial (social distance) dapat didefinisikan berdasarkan zona prosemik yang digunakan antar individu ketika berinter- aksi dengan individu lainnya.
Menurut Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication (Sendjaja, 2014), terdapat tiga pende- katan dalam berkomunikasi antarmanusia. Yang pertama ada- lah pendekatan scientific (ilmiah-empiris). Umumnya, pende- katan ini berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta. Cara pandang yang menekankan unsur objektivitas dan pemisahan antara known (objek yang ingin diketahui dan diteliti) serta knower (subjek pelaku atau pengamat).
Lalu, ada pendekatan humanistik (humaniora interpretatif).
Ini merupakan pendekatan dengan cara pandang yang meng- asosiasikan dengan prinsip subjektivitas. Manusia mengamati sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang di lingkungannya. Yang ketiga adalah pendekatan social sciences (ilmu sosial). Ini merupakan gabungan dari pendekatan scien- tific dan humanistic di mana objek studinya adalah kehidupan manusia, termasuk di dalamnya memahami tingkah laku ma- nusia.
Ada dua jarak sosial secara sosiologi yakni jarak sosial sub- yektif jarak sosial obyektif. Jarak sosial subyektif menurut Astrid S. Susanto (1993 : 110) ditentukan oleh: (a) frekuensi interak- si; (b) ketepatan konvergensi atau divergensi gambaran pada masing-masing individu tentang pihak lain; (c) hasrat atau ke- inginan untuk tidak berinteraksi; dan (d) intensitas interaksi.
Sedangkan jarak sosial obyektif adalah berat-ringannya ham- batan untuk berinteraksi dan berkomunikasi yang disebabkan oleh faktor di luar diri individu atau kelompok yang bersang- kutan, misalnya, keadaan alam, sarana dan prasarana transpor- tasi-komunikasi.
Teori Mayoritas-Minoritas merupakan salah satu teori yang baik digunakan untuk memotret persoalan prasangka sosial (streotipe, jarak sosial, dan diskriminasi).
Tampak jelas bahwa manusia membutuhkan kesempatan secara langsung untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan
di sekitarnya. Di sinilah terlihat kondisi pandemik corona Co- vid-19 jauh dari ideal hubungan manusia secara humanis.
Pembatasan sosial (social distancing) dan pembatasan fisik (physical distancing) berbicara interaksi. Karenanya, bisa diana- lisis dengan teorinya George Simmel (1858-1918). Simmel ter- kenal karena analisanya berpusat pada masalah-masalah yang berskala kecil seperti aksi dan interaksi. Menurut Simmel, tugas utama sosiologi adalah memahami interaksi di antara manusia.
Dalam karyanya yang terkenal dyad dan triad (kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang), Simmel mengemukakan bah- wa perkembangan penting dalam sosiologi terjadi ketika ke- lompok dyad (dua orang) diubah ke dalam kelompok triad (tiga orang) dengan menambahkan orang yang ketiga.
Teori interaksionisme simbolik merupakan salah satu teo- ri yang baru muncul setelah adanya teori aksi (action theory), yang dipelopori oleh Max Weber. Teori interaksionisme sim- bolik dikemukakan oleh beberapa sosiolog untuk menentang teori behaviorisme radikal yang dipelopori oleh Watson. Para sosiolog tersebut adalah John Dewey, Chales Horton Cooley, George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Secara mendalam, teori ini dikemukakan oleh George Herbert Mead. Mead, lahir di Massachussets, Amerika Serikat, 27 Februari 1863. Ia dikenal sebagai seorang filsuf, sosiolog dan psikolog berkat pengabdi- annya di Universitas Chicago. Dalam keilmuan, ia dipengaruhi oleh John Dewey karena mereka bekerja sama di Universitas Chicago. Dewey, Cooley dan Mead menghasilkan sebuah pro- yek keilmuan yaitu psikologisosial pada tahun 1891. Sedang- kan Blumer yang lahir tanggal 7 Maret 1900, sangat tertarik dan kritis meneliti mengenai interaksionisme simbolik berdasarkan pemikiran para seniornya.