• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi atas Ketidakpatuhan Masyarakat

Dalam dokumen PANDEMI COVID-19 (Kajian Sosio-Kultural) (Halaman 102-106)

COVID-19

H. Solusi atas Ketidakpatuhan Masyarakat

Ketidakpatuhan atau kepatuhan yang merusak berarti tin- dakaan yang berdasarkan kepatuhan itu membahayakan orang lain atau dirinya sendiri. Penyebab kepatuhan yang merusak yaitu: pertama, orang-orang yang berkuasa membebaskan orang-orang yang patuh dari tanggungjawab atas tindakan mereka; kedua, orang-orang yang berkuasa sering kali memi- liki tanda atau lencana nyata yang menunjukan status mereka.

Hal ini menimbulkan norma “patuhilah orang yang memegang kendali”. Norma ini adalah norma yang kuat, dan bila kita diha- dapkan dengannya, sebagian besar orang merasa sulit untuk mematuhinya. Ketiga, adanya perintah bertahap dari figure otoritas. Perintah awal mungkin saja meminta tindakan yang ringan baru selanjutnya perintah untuk melakukan tindakan yang berbahaya. Keempat, situasi yang melibatkan kepatuhan bisa berubah cepat. Cepatnya perubahan ini menyebabkan ke- cenderungan meningkatnya kepatuhan.

Dinicola dan Dimatteo (Subair, 2020), mengusulkan 5 cara untuk mengatasi ketidakpatuhan pasien, yaitu : pertama, me- ngembangkan tujuan kepatuhan. Seseorang akan dengan

senang hati mengemukakan tujuannya mengikuti program pengobatan jika memiliki keyakinan dan sikap positif, dengan cara kontrak tertulis juga dapat meningkatkan kepatuhan. Ke- dua, perilaku sehat yang dipengaruhi oleh kebiasaan. Sikap pengontrolan diri membutuhkan pemantauan terhadap diri sendiri, evaluasi diri dan penghargaan terhadap diri sendiri ter- hadap perilaku yang baru. Ini merupakan suatu strategi yang bukan hanya untuk mengubah perilaku, tetapi juga untuk mempertahankan perubahan tersebut.

Ketiga, pengontrolan perilaku. Faktor kognitif juga berperan penting dalam mengatasi ketidakpatuhan. Menurut Janis dan Rodin (Nugraha, 2020) mengatakan bahwa ketidakpatuhan da- pat diselesaikan dengan menggunakan satu “Kekuatan Petun- juk”, yang dapat diartikan sebagai situasi dimana profesional kesehatan berperan sebagai referensi sebagai klien. Profesional kesehatan tersebut menjadi seseorang yang dalam berbagai cara dan membela perilaku sehat. Keempat, dukungan sosial.

Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari ang- gota keluarga, teman, waktu, dan uang merupakan faktor-fak- tor penting dalam kepatuhan mengikuti program pengobatan.

Dan kelima, dukungan dari profesional kesehatan. Dukungan profesional kesehatan merupakan faktor yang penting yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan.

I. Penutup

Minimal ada tiga wujud kepatuhan masyarakat pada proto- kol kesehatan Covid-19, yakni kepatuhan dalam pembatasan sosial fisik, kepatuhan dalam penggunaan alat pelindung diri (masker), dan kepatuhan dalam menjaga kebersihan diri (cuci tangan) atau yang dikenal 3 M.

Kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan Covid-19 dalam pembatasan sosial fisik, dapat berupa : hindari berin- teraksi dengan orang yang menunjukkan tanda-tanda meng- alami sakit, jika bekerja dalam jarak dekat dengan rekan ker- ja, pastikan untuk menjaga jarak hingga dua meter, jika tidak

memungkinkan, setidaknya hingga satu meter paling dekat, hindari untuk berkumpul di area publik, dan hindari hadir di pertemuan besar atau kerumunan orang.

Kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan Covid-19 dalam penggunaan alat pelindung diri (masker), dapat beru- pa : sebelum memasang masker, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir (minimal 20 detik) atau bila tidak tersedia, guna- kan cairan pembersih tangan (minimal alkohol 60%); pasang masker untuk menutupi mulut dan hidung dan pastikan tidak ada sela antara wajah dan masker; hindari menyentuh masker saat digunakan; bila tersentuh, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir minimal 20 detik atau bila tidak ada, cairan pembersih tangan (minimal alkohol 60%); ganti masker yang basah atau lembab dengan masker baru (masker medis hanya boleh digu- nakan satu kali saja dan masker kain dapat digunakan berulang kali); dan untuk membuka masker: lepaskan dari belakang (ja- ngan sentuh bagian depan masker).

Kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan Covid-19 dalam menjaga kebersihan diri (cuci tangan), dapat berupa : mencuci tangan setelah menyentuh benda-benda yang lazim digunakan orang sakit, mencuci tangan yang baik setidaknya menggosok bagian-bagian tangan selama 20 detik mengguna- kan air dan sabun, gunakan cairan pembersih tangan, hindari menyentuh wajah, hidung, mulut, serta jangan menggosok kelopak mata, praktikkan etika batuk dan bersin, dan buang dengan baik barang-barang yang bersentuhan dengan mulut, misalnya tisu, peralatan makan plastik, hingga sikat gigi bekas.

Selain menuntut kepatuhan masyarakat pada protokol ke- sehatan Covid-19, sejumlah kebijakan yang perlu dipertim- bangkan, pertama, mencegah masuknya varian baru di wilayah RI. Dari sejumlah kasus yang ditemukan, ditengarai merupakan kasus impor. Pengawasan ketat diperlukan di sejumlah pintu masuk wilayah RI, seperti bandar udara dan pelabuhan untuk deteksi dini virus. Pemeriksaan sekuens genom pendatang luar

negeri, diperlukan bagi yang terkonfirmasi covid-19. Memper- panjang masa karantina bagi pendatang untuk minimalisasi penularan juga perlu dipertimbangkan walaupun butuh biaya lebih besar.

Kedua, peningkatan kapasitas pemeriksaan laboratorium agar mampu mendeteksi cepat varian baru. Ketiga, kebijak- an mobilitas warga yang lebih diperketat. Ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya transmisi lokal antarwila- yah (provinsi). Keempat, perlunya dibentuk pusat data nasional yang berfungsi sebagai pusat pengumpulan surveilans genom SARS-CoV-2. Pusat data nasional harus terintegrasi dengan la- boratorium RS rujukan dan layanan kesehatan lain yang terka- it guna mendapatkan data epidemiologi molekuler covid-19 secara holistis dan komprehensif. Diperlukan kolaborasi yang intensif antara pusat data nasional surveilans SARS-CoV-2, aka- demisi universitas, dan peneliti dalam serta luar negeri.

Pandemi covid-19 masih menyisakan ketidakpastian di hampir semua aspek kehidupan dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Semoga !!!

  

A. Pendahuluan

Hingga saat ini tidak ada pakar atau ahli yang mampu men- definisikan secara jelas kapan pandemi Covid-19 ini akan ber- akhir. Namun, pertanyaan penting yang harus dijawab oleh pemerintah dan masyarakat saat ini adalah apa exit plan yang harus dipersiapkan?

Diakui atau tidak, pandemi Covid-19 telah memaksa se- mua entitas untuk merubah dan membangun konstruksi sosial baru. Perubahan sosial sebelum-sebelumnya terjadi secara na- tural, dan proses perubahannya secara perlahan. Namun tidak dengan pandemi Covid-19, pada kasus ini rekayasa sosial tam- paknya harus dilakukan agar bisa melahirkan proses adaptasi yang cepat, syaratnya, ketangguhan sosial harus dikuatkan se- cara massif.

Di tengah kerapuhan dan kerentanan masyarakat sebagai dampak pandemi Covid-19, mendesak untuk membangun ke- tangguhan sosial.

5

MEMBANGUN KETANGGUHAN SOSIAL

Dalam dokumen PANDEMI COVID-19 (Kajian Sosio-Kultural) (Halaman 102-106)