REVITALISASI DAN OPTIMALISASI IPLT KABUPATEN DHARMASRAYA:
Dari Fasilitas Terbengkalai Menjadi Layanan
Publik yang Produktif dan Berkelanjutan
Pengelolaan lumpur tinja merupakan komponen penting dalam sistem sanitasi aman yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada target akses sanitasi yang layak dan berkelanjutan. Kabupaten Dharmasraya telah memiliki Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) sejak tahun 2015 dengan kapasitas 13 m3/hari.
Bangunan ini tidak difungsikan hingga akhirnya pelayanan Lumpur tinja dipindahkan ke Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Pendahuluan
Evaluasi Pola Pelayanan, dan SDM dan adminitrasi
E v a l u a s i k e b e r f u n g s i a n I n s t a l a s i Pengolahan Lumpur Tinja
E v a l u a s i R e g u l a s i y a n g t e r s e d i a , penyusunanan SOP pelayanan
Tahun 2017 adalah titik awal Intalasi Pengelolaan Lumpur Tinja Kabupaten Dharmasraya mulai difungsikan
Rencana Revitalisasi IPLT dan Optimalisasi Layanan Lumpur Tinja
Perencanaan
Pelaksanaan
• Rehabilitasi dan pemeliharaan fisik IPLT: pembersihan IPLT, penggantian filter.
• Edukasi petugas armada terkait proses penyedotan, pembuangan lumpur tinja ke IPLT
• Penerapan sistem admistrasi (log book layanan, sistem pengarsipan, pencatatan data pelanggan
• Menyusun SOP Pelayanan sedot tinja dan penyusunan Ranperda Air Limbah
• Sosialisasi kepada masyarakat terkait pelayanan sedot tinja dan tarif retribusi
Monitoring
• Monitoring teknis infrastruktur IPLT: fungsi unit pengolahan, kondisi saluran, kapasitas bak.
• Monitoring layanan lapangan: kecepatan tanggap, keluhan masyarakat.
• Memeriksaan logbook dan volume layanan dengan kapasitas IPLT
• Pemantauan pencatatan retribusi dan pelaporan rutin ke atasan/OPD pengampu.
Permasalahan
Regulasi
• Perda retribusi belum mengakomodir penyedotan berkelompok (agar biaya penyedotan bisa lebih kurah), belum membedakan fungsi bangunan
Kendala Sosial dan Partisipasi Masyarakat
• Kesadaran masyarakat masih rendah tentang pentingnya penyedotan lumpur tinja secara berkala.
• Warga tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang layanan sedot tinja
• Beberapa warga enggan membayar retribusi dan menganggapnya mahal Kendala SDM dan Kelembagaan
• Kuantitas dan kualitas petugas teknis
• Belum tersedia pelatihan khusus bagi petugas sementara pemahaman petugas masih minim
• Petugas yang tidak disiplin dan sulit untuk dihubungi
• Pelayanan masih based on call,
• Peran opeartor dan regulator belum dipisah Kendala Teknis dan Infrastruktur
• Beberapa bagian IPLT rusak ringan hingga sedang karena tidak difungsikan
• Permintaan sedot tinja belum naik signifikan sehingga IPLT masih Idle capasity
Infrastruktur SDM dan Kelembagaan Sosial Masyarakat
Regulasi
Regulasi
• Skema retribusi saat ini belum fleksibel dan belum mempertimbangkan jarak layanan serta tingkat sosial ekonomi masyarakat
• Tidak adanya regulasi yang memayungi layanan kolektif yang dapat memberikan harga yang lebih murah untuk masyarakat
Sosial dan Partisipasi Masyarakat
• Informasi layanan belum disampaikan secara sistematis ke masyarakat.
• Tidak adanya kampanye sanitasi menyebabkan persepsi publik tetap negatif terhadap biaya sedot tinja.
SDM dan Operasional
• Ketiadaan pelatihan dan SOP menyebabkan kualitas layanan masih rendah
• Kurangnya pembinaan dan pengawasan membuat kedisiplinan menurun.
• Sistem layanan tidak efisien karena tidak ada jadwal tetap dan basis data pelanggan.
Teknis dan Infrastruktur
• Infrastruktur tidak terpelihara optimal karena minimnya alokasi anggaran dan tenaga
• Idle capasity IPLT
Analisis dan Evaluasi
Analisis
Regulasi
• Diperlukan revisi Perda retribusi yang mengakomodasi tarif berjenjang berdesarkan fungsi bangunan, dan jarak layanan serta pelayanan sedot tinja berkelompok.
Sosial dan Partisipasi Masyarakat
• Perlu dibuat mekanisme sosialisasi menggunakan media sosial, leaflet
• Bangun sistem komunikasi dua arah antara layanan dan pelanggan dengan membuat call center atau admin layanan
SDM dan Operasional
• Perlu diberikan pelatihan teknis dan etika pelayanan untuk petugas
• Bentuk struktur tim kerja dengan tanggung jawab yang jelas (teknis, admin, pengaduan)
Teknis dan Infrastruktur
• Segera lakukan pemeliharaan IPLT minimal triwulanan dan usulkan anggaran pemeliharaan rutin
• Diperlukan strategi pola layanan untuk meningkatkan permintaan layanan lumpur tinja seperti Layanan Lumpur Tinja Terjadwal.
Analisis dan Evaluasi
Evaluasi
Rekomendasi
Penguatan Kelembagaan dan Tata Kelola
• Bentuk unit khusus pengelola IPLT, misalnya melalui UPT atau penugasan fungsional yang lebih jelas.
• Perjelas SOP dan alur kerja pengelolaan lumpur tinja dari penyedotan hingga pengolahan.
Rehabilitasi Infrastruktur
• Lakukan penilaian teknis menyeluruh terhadap kondisi IPLT, termasuk bak pengolah, jalur pipa, dan sistem pembuangan akhir dan Bak Pengering / Sludge Drying Bed
• Pastikan IPLT dilengkapi dengan sistem keamanan lingkungan Transformasi Pola Layanan
• Kembangkan sistem layanan scheduled desludging (penyedotan terjadwal) untuk menggantikan model "on-call".
• Buat basis data pelanggan dan jadwal penyedotan rutin dengan pelaporan digital/manual.
Peningkatan Kapasitas SDM
• Lakukan pelatihan teknis berkala untuk operator lapangan dan petugas pengelola IPLT.
• Sertakan pelatihan mengenai keselamatan kerja, sanitasi aman, dan pengelolaan lumpur tinja berkelanjutan.
Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Edukasi
• Edukasi warga tentang pentingnya penyedotan lumpur tinja secara berkala untuk kesehatan lingkungan.
• Kampanyekan sanitasi aman melalui media lokal, forum nagari, dan kerja sama dengan sekolah atau PKK
Pemantauan dan Evaluasi berkala