PAPER PERILAKU POLITIK DAN KEKUASAAN ANALISIS SISTEM PEMERINTAHAN OTORITER PADA
MASA ORDE BARU PRESIDEN SOEHARTO
Disusun:
Nazwa Shiva Satibi 3312422043 Rombongan Belajar 3
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Program Studi S-1 Ilmu Politik
Universitas Negeri Semarang
2023
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perilaku politik dan kekuasaan adalah dua hal yang saling melengkapi sesama lain, karena dalam sebuah kekuasaan pasti terdapat suatu perilaku politik yang menjadi ciri khas dan karakteristik tertentu. Kedua hal tersebut dapat kita temui dalam suatu sistem pemerintahan. Indonesia sebagai negara kesatuan yang berpolitik memiliki sejarah panjang dalam perubahan kekuasaan dan politik pemerintahan. Mulai dari awal berdirinya Nusantara dimana kekuasaan serta pemerintahan berada di tangan kerajaan Hindu- Buddha, lalu memasuki era kolonialisme dimana Indonesia diperintah oleh bangsa Barat (Portugis dan Belanda), hingga menuju awal-awal kemerdekaan saat dikuasain oleh Kekaisaran Jepang, Indonesia mengalami banyak perubahan kekuasaan. Sampai pada akhirnya ketika sudah merdeka, Indonesia menganut sistem pemerintahan demokrasi yang dilandasi oleh ideologi Pancasila.
Pemerintahan demokrasi ini kemudian dibagi menjadi 4 periode, yakni Demokrasi Liberal-Parlementer (1945-1959), Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Orde Baru (1966-1998), dan Reformasi (1998-sekarang). Demokrasi berasal dari dua kata dalam Bahasa Yunani Kuno yakni “demos” dan “kratos” yang berarti rakyat dan kekuatan. Jadi secara bahasa “demos” dan “kratos” adalah keadaan Negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintah rakyat dan oleh rakyat.
Pengertian lain dari demokrasi sendiri secara sederhana tidak lain adalah suatu sistem politik dimana para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilu yang adil, jujur dan berkala (Huntington, 1997:6-7).
Diantara 4 periode demokrasi ini ada satu periode yang sangat berkesan dan menarik apabila dilakukan analisa perilaku politik dan kekuasaan, yaitu periode Orde Baru. Rezim Orde Baru adalah masa pemerintahan demokrasi yang bersifat otoriter. Di era Orde Baru, pemerintahan otoriter ini dipimpin oleh Presiden Soeharto. Di masa kepemimpinan Presiden Soeharto pada era Orde Baru kerap menuai banyak kontroversi serta dianggap menyimpang lantaran sifat perilaku politik otoriter tersebut. Oleh karena itu saya tertarik untuk mengangkat tema perilaku politik dan kekuasaan karena di periode Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, perilaku politik otoriter berperan penting dan menjadi ciri khas dari kekuasaan di masa ini. Banyak sekali pengaruh serta dampak yang ditinggalkan hingga sekarang oleh pemerintahan di masa Orde Baru.
1.2 Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas, muncul pertanyaan yang menjadi rumusan masalah terkait dengan perilaku politik dan kekuasaan pada masa pemerintahan Orde Baru.
1. Apa saja ciri-ciri dan karakteristik dari pemerintahan otoriter pada masa Orde Baru?
2. Apa perilaku politik yang tercerminkan dalam pemerintahan otoriter era Orde Baru?
3. Bagaimana cara kerja dari kekuasaan dalam pemerintahan otoriter pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto di era Orde baru?
4. Apa pengaruh serta dampak yang diberikan oleh kebijakan- kebijakan pada masa pemerintahan Orde Baru?
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami lebih baik keterkaitan antara perilaku politik dan kekuasaan.
2. Sebagai syarat pemenuhan tugas Ujian Tengah Semerster Mata Kuliah Perilaku Politik.
3. Untuk menganalisa dinamika perilaku politik dari sistem pemerintahan otoriter di era kekuasaan Orde Baru.
4. Untuk mengetahui pengaruh dari perilaku politik pada kebijakan- kebijakan di masa Orde Baru.
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Landasan Teoritis
2.1.1 Definisi Perilaku Politik
Perilaku politik adalah suatu hal yang merujuk pada tindakan, sikap, sifat, peran serta partisipasi individu dalam kegiatan maupun konteks politik. Perilaku politik ini mencakup berbagai aktivitas, proses, ekspresi, emosi, yang terkait pada alur dari jalannya politik itu sendiri seperti pada pemilihan umum, kampanye partai, hingga interaksi dengan lembaga pemerintah.
Menurut Harold Lasswell, yang merupakan seorang ilmuwan politik, beliau menggambarkan perilaku politik sebagai "siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana." Dalam perspektifnya, perilaku politik berkaitan dengan proses pengambilan keputusan politik dan distribusi kekuasaan. Sedangkan Menurut Sudijono Sastroatmodjo (1995:8) perilaku politik adalah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah ataupun masyarakat berkaitan dengan tujuan dari suatu masyarakat, kebijakan untuk mencapai suatu tujuan, serta sistem kekuasaan yang memungkinkan adanya suatu otoritas untuk mengatur kehidupan masyarakat kearah pencapaian tujuan tersebut.
2.1.2 Definisi Kekuasaan
Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau kekuatan untuk mengendalikan, memengaruhi, dan mengatur baik suatu tindakan serta perlakuan, bahkan hingga keputusan dari individu maupun kelompok dalam konteks sosial, ekonomi, politik, dan budaya secara menyeluruh. Kekuasaan menurut Robert Dahl digambakan sebagai "pengaruh," dan mempertimbangkan bahwa
kekuasaan terdistribusi dalam masyarakat. Beliau berpendapat bahwa kekuasaan terkonsentrasi ketika seorang atau kelompok memiliki kontrol penuh atas sumber daya penting. Oleh karena itu dalam konteks politik dan pemerintahan, kekuasaan mempunyai peran penting didalamnya.
Seseorang dapat dikatakan memiliki kekuasaan terhadap orang lain jika ia dapat mengontrol perilaku orang lain. Kekuasaan adalah hubungan nonresiprokal atau resiprokal antara dua orang atau lebih.
Nonresiprokal di dalam konteks ini dapat diartikan sebagai ketidakseimbangan atau kesinambingan kuasa yang dimiliki oleh individu yang satu dan individu yang lain (Brown dan Gilman, 2003:
158). Oleh karena itu, kita mengetahui ada banyak hal yang menjadi dasar terbentuknya faktor kekuasaan, seperti kekuatan, kekayaan, umur, gender, serta jabatan atau posisi.
2.1.3 Sistem Pemerintahan Otoriter
Sistem pemerintahan otoriter diketahui sebagai suatu gaya atau cara memerintah yang memiliki karakteristik dan ciri khas unik tersendiri.
Sistem pemerintahan otoriter adalah bentuk pemerintahan yang bercirikan penekanan kekuasaan hanya pada negara atau pribadi tertentu, tanpa melihat derajat kebebasan individu. Kekuasaan dalam sistem pemerintahan sangat terkonsentrasi di tangan satu individu atau kelompok kecil yang mengendalikan hampir semua aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Sistem pemerintahan otoriter memiliki pemimpin tunggal yang memiliki kontrol mutlak atas keputusan-keputusan. Pada sistem ini, otoritas tertinggi biasanya tidak dipilih secara demokratis, dan hak-hak sipil sering kali dibatasi.
Umumnya, sistem pemerintahan otoriter ini ada pada rezim yang dipimpin oleh seorang “diktator” atau “tiran”.
Sistem pemerintahan otoriter ini kerap muncul dan diterapkan di berbagai belahan dunia, dan di Indonesia adalah salah satunya. Asal usul dari pemerintahan otoriter ini sudah ada bahkan jauh sebelum peradaban modern tumbuh dan berkembang. Salah satu penerapan
sistem pemerintahan otoriter yang pertama kali ada, terdapat pada kekuasaan Republik Romawi Kuno yang dipimpin oleh diktator Cornelius Sulla dan Julius Caesar. Di jaman modern penerapan dari sistem pemerintahan otoriter mulai bermunculan dan bertumbuh pesat pasca Perang Dunia I, dimana negara seperti sistem pemerintahan tersebut diterapkan pada negara seperti Uni Soviet (dipimpin oleh Josef Stalin), Nazi Jerman (dibawah pimpinan Adolf Hitler), Republik Cina (dikuasai oleh Mao Zedong dan otoritas Partai Komunis Cina), dan di Indonesia saat masa Orde Baru.
2.2 Orde Baru
Seperti yang kita telah ketahui, Orde Baru adalah salah satu periode dalam perjalanan pemerintahan demokrasi negara di Indonesia. Pemerintahan Orde Baru dipimpin oleh Presiden Soeharto yang memerintah selama kurang lebih 32 tahun yakni dari tahun 1966 hingga 1998. KekuasaanOrde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan yang Dipimpin oleh Presiden Soekarno. Lahirnya Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966. Kekuasaan Orde Baru ditandai oleh sifat otoritarianisme pemerintahan yang kuat terfokus pada pembangunan ekonomi, serta pengendalian ketat atas politik dan media.
Kata “terfokus” disini lebih mengerucut pada sentralisasi kekuasaan serta pemusatan kendali penuh atas wewenang khusus hanya pada pemerintahan pusat saja.
Periode Orde Baru adalah periode yang dapat dikatakan sangat kontroversial dalam sejarah perkembangan demokrasi di Indonesia. Rezim ini dikritik karena banyaknya terjadi pelanggaran hak asasi manusia, praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), represi menggunakan kekerasan, dan aktifnya peran militer dalam pemerintahan.Beberapa ciri dan kebijakan dari pemerintahan pada masa Orde Baru antara lain sentralisasi kekuasaan, pembatasan kebebasan berpendapat dan berorganisasi, keterlibatan dalam organisasi-organisasi yang didukung oleh pemerintah, kebijakan ekonomi yang terfokus pada menarik investor asing, kebijakan pembangunan yang
terkonsentrasi pada kelompok tertentu, dan kebijakan politik partikularistik.
Terlepas dari segala kontroversi yang terjadi perekonomian dan pembangunan infrastruktur Indonesia berkembang sangat pesat di masa Orde Baru.
Kekuasaan Orde Baru berakhir pada tahun 1998 ketika terjadi protes massal yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia akibat krisis ekonomi, ketidakpuasan politik, dan tekanan internasional. Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden pada bulan Mei 1998, dan Orde Baru resmi berakhir. Akhirnya, Indonesia memasuki era reformasi yang ditandai oleh perubahan politik dan reformasi demokratisasi, serta pemilihan umum yang bebas dan terbuka kembali menjadi bagian dari proses politik.
2.3 Dinamika Perilaku Politik dan Kekuasaan pada Rezim Orde Baru
Jika kita menganalisis kasus yang dipilih melalui sudut pandang perilaku politik, kita dapat melihat bahwa pemerintahan era Orde Baru ditandai oleh adanya pembatasan dari hak kebebasan berpendapat, serta adanya represi terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mengancam keamanan negara. Perilaku politik di bawah pemerintahan ini seringkali dipengaruhi oleh keinginan pribadi untuk mempertahankan stabilitas negara dan menghindari konfrontasi dengan pemerintah. Karena adanya represi dan pembatasan kebebasan berpendapat, perilaku politik di masa Orde Baru cenderung terbatas dan terkooptasi oleh pemerintah.
Kelompok-kelompok yang tidak mendukung pemerintah seringkali mengalami penindasan dan penganiayaan. Contohnya penindasan pada etnis Tionghoa, atau para individu yang disangka simpatisan dan mendukung PKI. Di awal Orde Baru, politik Indonesia berada di bawah kendali kekuatan militer sebagai suatu institusi, maka sejak awal l980-an, politik Indonesia semakin tersentralisasi pada kepemimpinan personal Presiden Soeharto (Pratikno, 1998; 19).
Kebijakan-kebijakan yang diterapkan pada masa kekuasaan Orde Baru berfokuskan pada pembangunan, ekonomi, dan politik. Pertama, Presiden
Soeharto merencanakan pembangunan yang dijalankan selama 5 tahun, kebijakan ini diketahui sebagai REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan berjalan sebanyak 6 tahap (tahap keenam tidak selesai karena kekuasaan Orde Baru berakhir). Pembangunan ini bertujuan antara lain untuk meningkatkan ketertinggalan Indonesia dalam infrastruktur, industri, dan transportasi. Kedua, kebijakan dalam ekonomi yang diterapkan pada masa kekuasaan Orde Baru sistem perekonomian pasar bebas yang mengumatakan ekonomi secara liberal, selain itu fokus dari investasi yang dilakukan adalah dengan menarik para investor asing dengan melancarkan ekspor secara besar-besaran. Kebijakan ekonomi ini dilakukan untuk memulihkan perekonomian Indonesia pasca kekuasaan Orde Lama yang membuat hyperinflation sebesar 600%.
Ketiga, kebijakan politik yang dirumuskan berperan sangat penting dalam melancarkan perjalanan kekuasaan Orde Baru, pengurangan partai politik (PPP, PDI, Golkar) di masa ini membuat persaingan kekuasaan jadi minim dan menguntungan bagi partai politik yang dominan pada masa itu yakni Partai Golongan Karya. Partai politik Golongan Karya menjadi pendukung baik dalam menyokong agenda-agenda pemerintahan dalam kekuasaan Orde Baru, di masa ini Partai Golkar memenangkan pemilu selama 6 kali tanpa perlawanan yang ketat dari partai lainnya. Selain itu guna untuk menyingkirkan potensi pesaing dalam kekuasaan, Presiden Soeharto juga mengencarkan propaganda politik dengan menghapuskan hal-hal yang berbau komunis melalui pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia. Terakhir, pengontrolan media yang sangat ketat menjadi sarana bagi jalannya propaganda politik yang dilakukan pada masa Orde Baru, media dilarang menyebarkan informasi yang dianggap mencemarkan nama baik pemerintah.
Kekuasaan Orde Baru juga ditandai oleh korupsi yang meluas, dan mengindikasikan adanya peran Oligarki melalui Keluarga Cendana.
Keluarga Soeharto dan beberapa orang dekatnya dituduh memperkaya diri sendiri melalui nepotisme dan korupsi. Pada akhir pemerintahan Orde Baru, Indonesia mengalami krisis ekonomi hebat pada tahun 1997 yang
berdampak pada stabilitas politik dan mengakibatkan protes rakyat yang semakin meningkat.
BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan
Dapat ditarik kesimpulan dari keseluruhan pembahasan diatas, diketahui bahwa
DAFTAR PUSTAKA
Dwi, A. (2023a, July 26). Demokrasi : Pengertian dan Sejarahnya di Indonesia. FISIP UMSU Terbaik Di Medan. Retrieved October 17, 2023, from https://fisip.umsu.ac.id/2023/07/26/demokrasi-di- indonesia-pengertian-dan-sejarahnya/
Hadi, D. W., & Kasuma, G. (2012). PROPAGANDA ORDE BARU 1966-
1980. Verleden, Vol 1(No 1), 40–45.
https://www.semanticscholar.org/paper/PROPAGANDA- PEMERINTAH-ORDE-BARU-TAHUN-1966-1980-
Hadi/f5ef965be5e3bc178509ba907ad89581c0e0de48
Maulana, E. (2019). PERILAKU POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2019 DI KECAMATAN CIMERAK KABUPATEN PANGANDARAN. Moderat:
Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol.5(No. 3), 336.
https://doi.org/10.25147/moderat.v5i3.2716
Pratikno. (1998). KERETAKAN OTORITARIAMSME ORDE BARU DAN PROSPEK DEMOKRATISASI. JSP, Vol 2(No 2), 19–29.
https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/11152
Pawito, Tiyanto, D., & Utari, P. (2003). TINJAUAN TEORITIK MODEL- MODEL KEKUASAAN. Jurnal Masyarakat Dan Budaya, Volume.
5(Nomor. 2), 109–110. https://jmb.lipi.go.id/jmb/article/view/255/233 Yusa’ Farchan. (2022). DINAMIKA SISTEM POLITIK OTORITARIANISME
ORDE BARU. Jurnal Adhikari, Vol 1(No 3), 152–161.
https://doi.org/10.53968/ja.v1i3.41
Pradana, H. A. (2016). Persepsi Suharto dan Perubahan Kebijakan Luar Negeri Indonesia terhadap Cina pada Awal Orde Baru. Jurnal IP (Indonesian Perspective), Vol 1(No 1), 23–42.
https://doi.org/10.14710/ip.v1i1.10427
Setia, N. (2023). Keterlibatan Amerika Serikat dalam Upaya Pembangunan Ekonomi Indonesia Era Soeharto 1966-1980. Journal of Indonesian
History, Volume. 11(Nomor. 1), 44–55.
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih
Wahyudi, L. (2005). DEMOKRASI ORDE BARU: Sebuah Catatan Bagi Masa Depan Demokrasi Di Indonesia. Jurnal Sosial-Politika, Vol 6(No 11), 23–35. https://portal.fisip-unmul.ac.id/site/?p=456