Parenting Parent Child educate Jorong Rabbi Jonggor villages Rabbi Jonggor District of
Mount Tuleh Pasaman West.
By:
Riza Hafiza*Edi Suarto**Rika Despica
*** the geography education student of STKIP PGRI Sumatera Barat
** the lecturer at geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAC
This Research aimed to get data or information and analyze in depth the neighbor Parenting Parent Child educate terms: 1) Parenting Parents in educating children seen from the Parent level of education, 2) Parenting Parents in educating children seen from parents experience, 3) parenting parents in educating children seen from the outpouring of time parents and 4) parenting parents in educating children seen from the Total Family.
the research is a qualitative study conducted in Jorong Rabbi Jonggor town Rabbi Jonggor Gunung Tuleh West Pasaman, informants taken by purposive sampling technique housewives who have school-age children from kindergarten / early childhood, elementary, junior high, high school and college. Engineering Data analyst with data reduction, data presentation and conclusion. The results showed: 1) Parenting parents viewed from the education level of mothers who have children who are studying the average school education up to secondary school level. there is generally in Jorong Rabbi Jonggor parenting parents apply for kindergarten / early childhood is demogratis, for elementary, junior college samapai generally be authoritarian. 2) Parenting parents in educating children seen from experience, parents give different parenting for children with different ages. 3) Parenting parents in educating children seen from the outpouring of time owned parent, usually the parents give time to care for children is very low at 1 hour in a day in the evening, and 4) Parenting parents in educating children seen from number of families, the average family size of 5 people, children are still studying from kindergarten to high school, live in their own homes and are still living with the nuclear family.
Keywords: Parenting the Parent, in educating Children
POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK DI JORONG RABI JONGGOR KANAGARIAN RABI JONGGOR KECAMATAN
GUNUNG TULEH KABUPATEN PASAMAN BARAT
Oleh:
*Riza Hafiza*Edi Suarto**Rika Despica**
* Mahasiswa pendidikan geografi STKIP PGRI Sumatera Barat
** Dosen departemen geografi STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi dan menganalisis secara mendalam tetang Pola Asuh Orang Tua dalam mendidik Anak dari segi : 1) Pola Asuh Orang Tua dalam mendidik anak dilihat dari tingkat pendidikan Orang Tua, 2) Pola Asuh Orang Tua dalam mendidik anak dilihat dari pengalaman Orang Tua, 3) Pola Asuh Orang Tua dalam mendidik anak dilihat dari Curahan waktu orang tua dan 4) Pola Asuh Orang Tua dalam mendidik anak dilihat dari Jumlah Keluarga.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan di Jorong Rabi Jonggor Kenagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, informan di ambil dengan tekhnik purposive sampling yaitu ibu rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah mulai dari TK/PAUD, SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi. Teknik analis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan : 1) Pola asuh orang tua dilihat dari Tingkat pendidikan ibu yang mempunyai anak yang sedang menempuh pendidikan sekolah rata-rata mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTP . ada umumnya di Jorong Rabi Jonggor orang tua menerapkan pola asuh untuk tingkat TK/PAUD bersifat demogratis, untuk tingkat SD, SLTP samapai perguruan tinggi umumnya bersifat otoriter. 2) Pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari pengalaman, orang tua memberikan pola asuh yang berbeda untuk anak dengan umur yang berbeda pula . 3) Pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari curahan waktu yang dimiliki orang tua, umumnya orang tua memberikan waktu untuk mengasuh anak sangat rendah yaitu 1 jam dalam satu hari di malam hari, dan 4) Pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari jumlah keluarga, rata- rata jumlah anggota keluarga 5 orang, anak masih menempuh pendidikan dari TK sampai SMA, tinggal di rumah sendiri dan masih tinggal bersama keluarga inti.
Kata kunci: Pola Asuh Orang Tua, dalam mendidik Anak
PENDAHULUAN
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak nya dalam keluarga, karena dari orang tualah anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua di katakan pendidik utama karena dari merekalah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya, karena pendidikan dari orang tua menjadi dasar bagi perkembangan dan kehidupan anak di kemudian hari.
Orang tua pada umumnya menjadi model utama bagi anak, jika orang tua melakukan hal-hal yang salah dalam
mendidik anak, seperti mencaci dan berkata- kata kotor kepada anaknya serta memukuli setiap kali anak berbuat kesalahan maka anak akan memiliki prilaku yang salah pula dia akan melawan meskipun tidak secara langsung akan tetapi di dalam hati si anak akan ada rasa mendongkol. Orang tua harus mengerti apa perannya dalam mendidik anak supaya dalam perkembangan prilaku anak tidak menyimpang. Anak nakal dan tidak baik akan menjadi sorotan bagi masyarakat, teman, dan gurunya. Orang lain pasti beranggapan bahwa anak menjadi seperti itu karena kesalahan orang tua dalam mendidiknya. Anak merupakan anggota keluarga yang bisa mengukur isi hati Ayah- ibunya. Orang tua harus tegas dan berwibawa
di hadapan anak. Orang tua perlu meluangkan waktu bersama anak minimal setengah jam di sela-sela kesibukannya.
Ahmadi (2007).
Anak keluar dari lingkungan keluarga, mereka mengenal lebih banyak saudara dalam lingkungan keluarganya. Ia ingin mengetahui segala sesuatu di sekitarnya sehingga bertambah pengalamannya. Semua pengalaman baru tersebut akan membantu dan mempengaruhi proses perkembangannya (Mansur, 2009: 7)
Banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak mereka setelah di serahkan kepada guru di sekolah maka lepaslah hak dan kewajibannya untuk memberikan pendidikan terhadap anak. Semua tanggung jawabnya telah beralih kepada guru di sekolah, apakah menjadi pandai atau bodoh, akan menjadi nakal atau berbudi pekerti yang baik dan luhur sebagian orang tua ini tidak mau tau menau dengan hal tersebut mereka sibuk dengan urusan nya masing-masing, tidak pernah menanyakan bagaimana pendidikan anaknya setelah sampai dirumah, dia beranggapan hal ini semua adalah urusan guru di sekolah. Yusuf (2000).
Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuh kembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak di upayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan- kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan.
Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang tepat. Yusuf (2000).
Menurut Stewart dan Koch dalam wahyuning (2003) mengatakan bahwa pola asuh pada orang tua ada tiga macam yaitu pola asuh Otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh pada perilaku si anak melainkan akan berpengaruh pula pada prestasi belajarnya.
Seorang anak yang di didik dengan menggunakan kekerasan akan membawa dampak buruk terhadap diri anak, seperti: (1) Pukulan akan mewariskan kebodohan pada diri anak, (2) Anak yang sering di pukul akan merasa rendah diri dan bodoh (3) Suka membangkang sebagai bentuk perlawanan terhadap orang tua.
Kasih sayang orang tua memang penting tapi kalau berlebihan akan
mendatangkan akibat yang tidak diharapkan.
Sebagian ayah dan ibu karena begitu sayang kepada anak-anak, mereka tidak mau memperbaiki krakter buruk anaknya sendiri.
Mereka membiarkan kenakalan anak- anaknya tanpa sedikitpun di tanggapi. Orang tua seperti itu tidak ingin memberi peringatan pada anak-anak karena takut tersinggung. Semua orang tua harus mengekspresikan kasih sayang, tetapi jangan sampai tidak mendidiknya. Orang tua yang baik adalah yang bisa menempatkan kasih sayang dan mendidik anak pada tempat yang tepat. (Muhammad, 2002: 135) .
Setiap orang tua bisa saja menyiksa anak dengan menggunakan hukuman fisik agar anak mematuhinya. Memukul tidak menyelesaikan masalah, tidak ada riset mengatakan bahwa anak yang di pukul pada usia 4 tahun biasanya masih harus di pukul ketika berusia 7 tahun. Dengan kata lain dalam jangka panjang tidak akan memberikan dampak positif pada anak, selain itu memukul anak memberikan contoh yang buruk dan memberikan kesan bahwa kekerasan adalah hal yang bisa di terima (Woolfson, 2004: 43).
Semua orang tua sangat menyayangi anak-anak setulusnya, namun orang tua juga harus sadar dan hati-hati dengan prilaku negatif anak-anak dan orang tua jangan mengabaikan perannya sebagai pendidik.
Anak-anak tidak boleh kehilangan kasih sayang dari orang tuanya tapi jangan pula di biarkan bebas begitu saja.
Hal ini berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak berkembang tanpa kasih sayang. Jika anak tidak mendapat kasih sayang yang semestinya, maka kepribadian anak tersebut akan hancur, dan anak akan berbuat sesuka hatinya, juga tidak akan menghiraukan nasehat-nasehat baik lagi, anak akan selalu mencari jati diri dan kepuasan dirinya sendiri tanpa menghiraukan perbutan yang dialakukan itu baik atau buruk.
Berdasarkan observasi awal penulis lakukan di Jorong Rabi Jonggor pola asuh orang tua dalam mendidik anak semakin berkurang, seolah-olah tanggung jawab untuk pendidikan anak telah di serahkan pada lembaga pendidikan yakni sekolah dimana pada waktu anak membuat pekerjaan rumah di rumah anak mengerjakannya sendiri, kadang anak tidak membuat tugas pekerjan rumah (Pr) sama sekali karena anak tidak mengerti dengan tugasnya akhirnya anak mengerjakannya di sekolah, ini semua sudah jelas karena kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak,
kemudian yang menyebabkan orang tua tidak mendidik anak dengan baik karena pendikan orang tua yang kurang , pengalaman yang di miliki orang tua kurang dan di tambah pula dengan banyaknya jumlah keluarga yang membuat orang tua sibuk mencari nafkah sehingga pendidikan anak tidak begitu di perhatiakan.
Dalam hal ini pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap sesuatu hal terutama dalam membelajarkan anak. Dimana pada waktu orang tua membelajarkan anak pasti anak akan bertanya jika guru memberikan tugas kepada anak, bila pendidikan orang tua lebih tinggi dari anak maka orang tua pasti akan bisa menjawab pertanyaan yang diberikan anak dan begitu juga sebaliknya.
Disamping itu orang tua mempunyai sedikit waktu untuk membelajarkan anak karena orang tua sibuk dalam mencari nafkah untuk memenuhi keperluan sekolah anak kemudian demi memenuhi kebutuhan hidup. Pada umumnya daerah Rabi Jonggor ini masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Dimana, pagi hari mereka sudah berangkat dari rumah pergi mencari nafkah demi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka dan pada sore harinya baru kembali kerumah. Sementara, di jorong Rabi Jonggor pola asuh terhadap anak sangat rendah dan tidak begitu di perhatikan.
Sedangkan, yang dikatakan dengan pola asuh adalah cara perlakuan orang tua yang diterapkan terhadap anak.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menurut Bogdan dan Taylor dalam moleong (2005 :4) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan sebagian prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang di amati. Penelitian kualitaif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian secara holistik dan secara deskripsi dalam bentuk cerita.
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong 2010). Dalam hal ini adalah individu-individu yang di wawancarai untuk keperluan informasi agar memberikan keterangan data yang di perlukan peneliti.
Dalam penelitian kualitatif informan adalah sejumlah subjek yang akan di teliti atau diambil dan dijadikan parameter dalam
pengambilan data informan yang dapat memberikan informasi dan data yang diperlukan dalam peneliti.
Informan peneliti diambil secara purposive sampling (sampel purposif) yaitu penelitian sampel berdasarkan pada krakteristik tertentu (Sugiyono 2009). Jadi apabila kita melakukan penelitian dengan mengambil sebagian subjek dari informan, maka dinamakan informan penlitian. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah ibu rumah tangga yang mempunyai anak usia sekolah.
Jenis Data, dan Sumber Data adalah Jenis Data, Ditinjau dari sumbernya maka data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder. Data primer adalah data yang berasaldari informan yang di kumpulkan melalui wawancara dengan memggunakan pedoman wawancara sebagai panduan yang telah dibuat dan di tetapkan sebelumnya.Sedangkan data skunder berasal dari wali nagari dan wali jorong. Sedangkan Sumber Data yaitu Sumber data primer di peroleh langsung dari informan yang merupakan keseluruhan subjek penelitian, yakni ibu rumah tangga yang mempunyai anak usia sekolah di Jorong Rabi Jonggor Kanagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat.Sedangkan sumber Data skunder di peroleh dari wali nagari dan wali jorong.
Alat pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini, seperti data primer di peroleh melalui teknik wawancara dengan responden langsung agar kebenarannya dapat terjaga, maka alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kertas,pena/spidol dan kamera. Data sekunder didapat melalui observasi dan pencatatan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data, tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, penelitian ini tidak akan mendapatkan data yang di butuhkan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa angket (kuisioner) dan observasi.
Sebagaiman yang di katakan oleh Sugiyono (2008) kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk di jawabnya. Teknik pengumpulan data yang di lakukan dalam penelitian ini adalah
dengan wawancara berencana terhadap responden. Analisis Data
Analisis data di lakukan seperti yang di kemukakan oleh Sugiyono (2008: 92-94) teknis analisis data yang di lakukan dalam penelitian ini adalah: Reduksi Data, Penyajian Data (Data Display) dan Penarikan Kesimpulan(Verifikasi)
Keabsahan data diketahui melalui jawaban informan pada kaset data dan informan kepada waktu, tempat, dan stuasi yang berbeda. Pemeriksaan keabsahan data yang di peroleh di lakukan dengan beberapa cara antara lain: Perpanjangan keikutsertaan dan Ketekunan Pengamatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada pembasan ini akan dibahas hasil penelitian tentang Pola Asuh Orang Tua dalam mendidik Anak Di Jorong Rabi Jinggor Kenagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat sebagai berikut
Pertama, Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di Jorong Rabi Jonggor yang mempunyai anak yang sedang menempuh pendidikan sekolah rata-rata mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTP, tetapi ada yang memiliki pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Umumnya ibu di Jorong Rabi Jonggor tidak memiliki dasar mendidik anak, terutama yang didapatkan dari sekolah formal. Ibu di Jorong Rabi Jonggor tidak ada yang mmperoleh pendidikan non formal.
Pola asuh orang tua tingkat TK/PAUD di Jorong Rabi Jonggor bersifat demogratis, pola asuh orang tua tingkat SD-SLTP bersifat otoriter, pola auh orang tua tingkat SLTA sampai Perguruan tinggi pada umumnya bersifat otoriter terhadap anak.
Menurut Tamrin (2001)
mengemukakan bahwa memberikan pendidikan kepada anak, memang merupakan suatu tanggung jawab yang berat bagi orang tua. Akan tetapi agar anak menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi bangsa dan negara, terutama bagi dirinya nantidi kemudian hari, maka orang tua harus menjalankan kewajiban dan tangggung jawab itu, sehingga dengan begitu orang tua bisa menuntun dan membimbing anak dalam menggapai nasa depannya.
Kedua, pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari pengalaman orang tua di Jorong Rabi Jonggor Kenagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, umumnya orang tua memberikan pola asuh yang berbeda untuk anak dengan umur yang berbeda pula.
Orang tua cendrung memperhatikan anak- anak yang lebih kecil, karena anak yang lebih kecil belum mandiri, sementara untuk anak yang lebih besar di awasi oleh orang tua, terutama pergaulan.Orang tua mendapatkan pengalaman dalam mendidik anak dari media sosial dan lingkungan tempat tinggal.
Hal ini sesuai dengan Darwisyam (2006) pengalaman adalah “salah satu sumber bagi seseorang atau pengalaman merupakan pengetahuan tantang sesuatu dimasa lampau, pengalaman seseorang selama berfikir tampa seseorang itu meninggal sehingga pada umumnya orang lain lebih cendrung memilih tenaga kerja yang berpengalaman”. Selanjut Prayitno dalam Darwisyam (2006) pengemukakan
“pengalaman yang sudah ada merupakan dasar yang paling baik sehingga merupakan titik tolak usaha demi belajar, pengalaman yang sudah ada diolah dengan cara dan sistem yang sudah di rencanakan menghasilkan mutu yang lebih baik”. M masalah diatas dapat diperjelas lagi bahwa orang yang pengalamannya kurang lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan dengan orang yang berpengalaman, maka diperlukan pengalaman yang semakin banyak jika ingin membelajarkan anak
Ketiga, pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari curahan waktu yang dimiliki orang tua di Jorong Rabi Jonggor Kenagarian Rabi Jonggor KecamatanGunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, umumnya orang tua memberikan waktu untuk mengasuh anak 1 jam dalam 1 hari yaitu di malam hari. Tetapi orang tua tetap mengawasi anak dalam pergaulan, mengerjakan tugas/ PR sekolah sampai mempersiapkan keperluan anak untuk sekolah. Orang tua di Jorong Rabi Jonggor umumnya bekerja sebagai petani dan mengesuh anak sendiri dalam keluarga, tanpa dibantu oleh orang lain.
Menyisihkan waktu khusus dan menyurahkan perhatian spenuhnya kepada anak setelah kembali dari kegiatan diluar rumah bukan sekedar dimaksud agar anak merasakan ia diterima oleh orang tuanya.
Namun hendaknya juga merupakan satu kesempatan untuk memperbaiki atau mengoreksi perbuatan atau prilaku anak pada hari itu (Soemanto, 1990).
Keempat, Pola Asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari jumlah keluarga di Jorong Rabi Jonggor Kenagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, rata-rata jumlah anggota keluarga di Rabi Jonggor adalah 5
orang, anak masih menempuh pendidikan dari TK sampai SMA, tinggal dirumah sendiri dan masih tinggal bersama dalam keluarga inti. Jumlah keluarga sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keuarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
KESIMPULAN
Berdasarkan pada deskripsi data dan pembahasan data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Pola asuh orang tua dilihat dari tingkat pendidikan ibu di Jorong Rabi Jonggor yang mempunyai anak yang sedang menempuh pendidikan sekolah rata-rata mengenyam pendidikan samapai tingkat SLTP , sampai perguruan tinggi, tidak memiliki dasar mendidik anak, terutama yang di dapatkan disekolah formal dan tidak ada yang memperoleh pendidikan non formal. Pada umumnya Di Jorong Rabi Jonggor orang tua menerapkan pola asuh untuk tingkat TK/PAUD bersifat demogratis, disini orang tua memberikan kebebasan pada anak untuk memilih dan melakukan tindakan dan pendekatan orang tua pada anak bersifat hangat. untuk tingkat SD,SLTP sampai perguruan tinggi umumnya bersifat otoriter. Orang tua cendrung memaksa atau memerintah, apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatan orang tua , maka orang tua tidak segan untuk menghukum anak.
2. Pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari pengalaman orang tua di Jorong Rabi Jonggor Kenagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, orang tua memberikan pola asuh yang berbeda untuk anak dengan umur yang berbeda. Orang tua mendapatkan pengalaman dalam mendidik anak di dapatkan dari media sosial dan lingkungan tempat tinggal.
3. Pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari curahan waktu yang dimiliki orang tua di Jorong Rabi Jonggor Kanagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat , umumnya orang tua memberikan waktu untuk mengasuh anak 1 jam dalam 1 hari yaitu di waktu malam hari , mengawasi
anak dalam hal pergaulan, mengerjakan tugas/ PR sekolah samapi mempersiapkan keperluan anak untuk sekolah.
4. Pola asuh orang tua dalam mendidik anak dilihat dari jumlah keluarga di Jorong Rabi Jonggor Kanagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, rata-rata jumlah anggota keluarga di Jorong Rabi Jonggor adalah 5 orang , anak yang masih menempuh pendidikan di TK samapi SMA, tingggal di rumah sendiri dan masih tinggal bersama keluarga inti. Jumlah keluarga sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang di temukan di atas maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Diharapkan kepada orang tua untuk memperhatikan pola asuh terhadap anak sekolah dasar di kenagarian Rabi Jonggor, sehingga perkembangan anak dapat berjalan lancar.
2. Diharapkan kepada orang tua untuk lebih memperhatikan kebutuhan anak, sehingga anak tidak merasa tersudutkan dengan pola asuh orang tua.
3. Diharapkan kepada orang tua untuk meningkatakan pengetahuan tentang pola asuh dalam mendidik anak.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Fitri. 2013. faktor-faktor yang
mempengaruhi Motivasi ibu rumah tangga Dalam Membelajarkan anakDi Paraman Ampalu kabupaten pasaman barat. Skripsi Jurusan Geografi.
Langgulung, Hasan. (2004) manusia pendidikan. Jakarta: PT. Al Husna Baru
Moleong, Lexy. J. 2005. Metologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdokarya.
Bandung.
Mudyaharjdo, Redja. 2002. pengantar pendidikan. Raja Grafindo persada:
Jakarta
Nofebriani, Dilli. 2012. Faktor yang
Mempengaruhi Siswa Bolos Belajar di SMAN 1 Kelas XI Pantai Cermin Kabupaten Solok. Skripsi: STKIP.
Power wadarminta. 2011. filsafat pendidikan.
pustaka setia: Bandung.
Rovina, Vivi. 2002. Studi Korelasi Motivasi Orang Tua, Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan Hasil Belajar Anak di Kecamatan Nanggalo. Skripsi Geografi fis UNP.
Sudarsono. 2004. Kenakalan Remaja.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Sadulloh uyoh 2011.pedagogik.
Alfabeta. Bandung.
Salahuddin, Anas. 2011. Filsafat pendidikan. pustaka setia: Bandung
Sugiyono. 2008. metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D). Alfabeta. Bandung