• Tidak ada hasil yang ditemukan

The population of this research is All head of family of salak farmers in kenagarian Rabi Jonggor district Gunuang Tuleh Pasaman Barat district

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "The population of this research is All head of family of salak farmers in kenagarian Rabi Jonggor district Gunuang Tuleh Pasaman Barat district"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

USAHA PER KEBUN AN S ALA K ( Salacca Edulis ) DI KE NA GAR IAN RABI JON GGOR KECAMATAN

GUNUANG TULEH KABUPATENPASAMAN BARAT

Nefi Safitri¹, Bakaruddin², Yuherman²

¹Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

²Dosen Program Studi Pendidikan Geogafi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

This research aims to obtain data, process, analyze and discuss about Salak Plantation Development (SalaccaEdulis) in Kenagarian Rabi Jonggor Gunuang Tuleh Subdistrict Pasaman Barat Regency are: 1) Area of plantation farming business of salak in kenagarian Rabi Jonggor sub district Gunuang Tuleh Pasaman West, 2) Production of salak plantation business in rural kenagarian Rabi Jonggor Gunuang Tuleh subdistrict Pasaman Barat district, 3) Marketing of salak plantation business in kenagarian Rabi Jonggor Gununag Tuleh district of Pasaman Barat Regency. This type of research is descriptive. The population of this research is All head of family of salak farmers in kenagarian Rabi Jonggor district Gunuang Tuleh Pasaman Barat district. The sample of respondents was taken based on total sampling with the number of respondents 82 people.

The results of the study explain that: (1) Area of salak farmers generally have 1 ha of land, own majority salak plantation area. (2) Salak production in general produces salak production> 100 kg, salak production sometimes sold to market, No counseling from salak related service at present. (3) Marketing in rabbit Jonggor is generally salak production sold only at home or near the salak plantation, salak harvest is always sold, and sometimes made in processed coffee powder from seeds of bark.

Keywords : Land Area, Production and Business Operation

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara agraris, tanahnya yang subur dengan iklim yang cukup menguntungkan sehingga baik untuk usaha pertanian.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia untuk menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian. Usaha pertanian ini merupakan budaya yang sudah turun temurun dalam menompang kehidupan rakyat Indonesia

disamping usaha lainnya seperti berdagang (Septi 2011:1).

Usaha pemerintah dalam pembangunan bangsa Indonesia ditujukan untuk memperbaiki sektor pertanian, pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan peningkatan dan taraf hidup petani, memperluas kesempatan kerja dan usaha, serta mengisi dan memperluas pasar. Melalui pertanian yang maju, efesien dan tangguh akan mampu

(2)

meningkatkan mata pencaharian dan derajat pengolahan produksi sehingga menunjang pembangunan daerah (Septi 2011:1).

Sektor pertanian di Sumatera Barat menunjang peranan penting dalam struktur perekonomian,dimana 50% masyarakatnya bergerak dalam sektor ini, baik sebagai petani sawah maupun petani perkebunan.

Sumatera Barat dengan luas wilayah 42.297,30 km2 (Sumatera Barat dalam angka tahun 2013) memiliki lahan pertanian seluas 9,952,01 km2. Lahan pertanian seluas ini di gunakan penduduk untuk usaha persawahan, perkebunan dan kebun campuran (BPS Sumatera Barat 2013). Peningkatan produktifitas usaha pertanian tersebut penting di lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil utama komoditi pertanian di Sumatera Barat meliputi padi, hortikultura dan tanaman perkebunan. Tanaman perkebunan yang di usahakan antara lain karet, kelapa, kelapa sawit, teh, salak, kopi, kulit manis, cengkeh, tebu, gambir dan lain-lain.

Tingkat produksisalak di kecamatan Gunuang Tuleh pada tahun 2010 sebanyak 190,52 ton, tahun 2011 sebanyak 268,1 ton, tahun 2012 sebanyak 401,7 ton, tahun 2013 sebanyak 393 ton, tahun 2014 sebanyak 1.101 ton, dan produksi tahun 2015 sebanyak 343,59 ton (sumber: DPTPHP Kab.

Pasaman Barat). Jadi tingkat produksi buah salak dalam lima tahun terakhir mengalami fluktuasi, dari tahun 2010 sampai 2012 mengalami kenaikan dan turun pada tahun 2013 dan naik lagi pada tahun 2014 dan 2015.

Naim (2013),upaya dan kendala petani dalam meningkatkan produktifitas karet di Desa Sarimulya Kecamatan Rimbo Ilir Kabupaten Tebo provinsi Jambi. Menyimpulkan upaya dalam persiapan lahannya sudah baik tetapi masih tradisional karena masih memanfaatkan alat yang sederhana dan dilihat dari jenis bibit secara umum yang paling banyak ditanam adalah jenis gt1, yaitu salah satu bibit yang dianjurkan oleh BPP setempat.

(3)

METODE PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang, batasan rumusan masalah serta tujuan penelitian tergolong pada penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menggambarkan dan menginterprestasi apa adanya, Arikunto (2006) mengatakan penelitian deskriptif adalah kejelasan unsure tujuan, pendekatan, subjek, sumber data sudah mantap dan rinci sejak awal memperoleh pembenaran (verifikasi) menggambarkan fakta dan variabel.

Menurut Sugiyono (2011) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya, populasi dalam penelitian ini adalah semua kepala keluarga (KK) yang melakukan usaha perkebunan salak.

Mengingat luasnya daerah penelitian, observasi tidak dilakukan pada keseluruhan daerah tetapi dilakukan pengambilan sampel wilayah secara purposive sampling (penunjukan) yaitu hanya mengambil

3 (tiga) jorong yang berada di kecamatan Rabi Jonggor kecamatan Gunuang Tuleh kabupaten Pasaman Barat yaitu : Jorong Paraman Ampalu, Jorong Ampang Sorik Dan Jorong Air Dingin.

HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang akan dikemukakan yaitu hasil penelitian yang berkaitan dengan Perkembangan Usaha Perkebunan Salak (Salacca Edulis) Di Nagari Rabi Jonggor Kecamatan Gunuang Tuleh Kabupaten Pasaman Barat. Dimana pelaksanaan nya dilihat dari: 1) Luas Lahan Salak , 2) Produksi Salak 3) Pemasaran Salak.

Pertama: Luas lahan petani salak di kenagarian Rabi Jonggor kecamatan Gunuang Tuleh kabupaten Pasaman Barat dengan responden 20 memiliki luas lahan Salak 1 ha dengan presentase (48,79%), lahan untuk produksi salak yang harus diperhatikan kadang- kadang (36,59%), lahan milik sendiri atau orang lain adalah kebanyakan milik sendiri (75,60%), serta ada hambatan dalam mengolah lahan perkebunan sebanyak (73,17%), dan lahan yang digunakan selain

(4)

produksi salak dengan presentase (73,18%).

Temuan ini ternyata sesuai dengan pendapat Rayes (2007) Lahan adalah kecocokan suatu lahan untuk pembinaan tertentu , sebagai contoh untuk lahan irigasi, tambak, pertanian, tanaman tahunan atau tanaman semusim lebih spesifik lagi kesesuaian lahan itu ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungan, yang terdiri dari atas iklim, tanah, topografi, hidrologi atau yang sesuai untuk usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif.

Kedua: Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kenagarian Rabi Jonggor kecamatan Gunuang Tuleh kabupaten Pasaman Barat hasil produksi petani salak untuk setiap panen di Kenagarian Rabi Jonggor

>50 Kg dengan presentase (58,53%), sedangkan berapa kali panen yang biasanya dilakukan petani salak untuk setiap panen di Kenagarian Rabi Jonggor >25 Kg adalah (68,29%), hasil buah salak yang di jual ke pasardi Kenagarian Rabi Jonggor kadang-kadang sebesar (34,14%), petani salak yang mendapatkan penyuluhan terkait

salak dari Dinas terkait di Kenagarian Rabi Jonggor tidak ada (76,82%), dan hasil usaha perkebunan buah salak ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari bapak/ibu petani salak di Kenagarian Rabi Jonggor sebesar (67,08%).

Temuan ini ternyata sesuai dengan pendapat Menurut Sadano Sukirno, produksi adalah kegiatan yang dilakukan manusia dalam menghasilkan suatu produk baik barang maupun jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen (sumber:http://www.pengertianpakar.

com/2015/04/pengertian-kegiatan- produksi menurut-pakar.html.

Diakses tanggal 18 mei 2017 jam 20.53 wib).

Ketiga: Hasil penelitian menunjukan bahwa pemasaran di kenagarian Rabi Jonggor kecamatan Gunuang Tuleh kabupaten Pasaman Barat yang dilakukan untuk menjual hasil salak di Kenagarian Rabi Jonggor dengan menjual salak dirumah sendiri adalah (60,98%), produksi salak selalu di jual di Kenagarian Rabi Jonggor (85,37%), kadang-kadang sebahagian petani

(5)

melakukan olahan salak yang lakukandi Kenagarian Rabi Jonggor adalah (79,27%), konsumen yang komplain terhadap penjualan salak di Kenagarian Rabi Jonggor dengan presentase (63,41%), dan kendaraan yang biasanya digunakan untuk menjual produksi salak di Kenagarian Rabi Jonggor adalah Mobil (53,66%.

Temuan ini ternyata sesuai dengan pendapat Kotler dan Keller (2016:27) adalah “marketing is meeting needs profibility”, maksud ungkapan tersebut adalah pemasaran merupakan hal yang dilakukan untuk memenuhi setiap kebutuhan (kebutuhan konsumen) dengan cara- cara yang menguntungkan semua pihak.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan di Kenagarian Rabi Jonggor Kecamatan Gunuang Tuleh Kabupaten Pasaman Barat dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Luas lahan petani salak di Kenagarian Rabi Jonggor kecamatan Gunuang Tuleh kabupaten Pasaman Barat pada

umumnya memiliki lahan 1 ha, lahan untuk produksi salak kadang-kadang diperhatikan, lahan salak pada umumnya milik petani itu sendiri, hambatan dalam mengolah perkebunan salak ada, dan lahan di kenagarian Rabi Jonggor pada umumnya tidak ada digunakan selain lahan untuk salak.

2. Tingkat hasil produksi salak di kenagarian Rabi Jonggor setiap panen >100 Kg, dalam 1 tahun panen biasanya dilakukan >25 kali, hasil produksi salak kadang-kadang di jual ke pasar oleh petani salak, dari Dinas terkait tidak ada penyuluhan terkait dengan perkebunan salak sendiri, dan hasil dari perkebunan salak ini bisa mencukupi kebutuhan sehari- hari petani salak di kenagarian Rabi Jonggor.

3. Pemasaran hasil produksi salak di kenagarian Rabi Jonggor pada umumnya dijual dirumah petani itu sendiri atau tempat seperti pondok untuk memetik salak itu sendiri, hasil salak selalu dijual oleh petani salak, kadang-

(6)

kadang ada olahan salak yang dibuat oleh petani yaitu olahan 4. Bubuk kopi dari biji salak, dan

biasanya untuk menjual hasil produksi salak petani menggunakan mobil.

DAFTAR PUSTAKA

DPTPHP Kab.Pasaman Barat.

Naim. (2013) “Upaya dan Kendala Petani dalam Meningkatkan Produktifitas Karet di Desa Sarimulya Kecamatan Rimbo Ilir Kabupaten Tebo provinsi Jambi” (Skripsi). STKIP PGRI SUMBAR

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: PT RinekaCipta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Rayes, M. Luthfi. 2007. Metode Investasi Sumber Daya Lahan.

CV.Andi Offeset : Yogyakarta.

http://www.pengertianpakar.com/201 5/04/pengertian-kegiatan-

produksi-menurut-pakar.html.

Diakses tanggal 18 mei 2017 jam 20.53 wib

Referensi

Dokumen terkait

Dari permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pemberdayaan Masyarakat Petani dalam Meningkatkan Hasil Panen Padi melalui