MODEL-MODEL
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBENTUKAN
UNDANG-UNDANG
Mhd Yusrizal Adi S, SH.MH Fakultas Hukum
Universitas Medan Area Medan
2021
Partisipasi masyarakat dalam proses pembentukan UU pada dasarnya dapat dilakukan dalam berbagai model pilihan partisipasi sesuai dengan tingkat perkembang politik suatu negara. Partisipasi masyarakat ini akan tergantung dari kesadaran masyarakat dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Artinya, ada suatu negara yang partisipasi masyarakat dalam
pembentukan UU diserahkan kepada legislatur, namun ada pula
suatu negara yang partisipasi masyarakat dalam proses pembentukan
UU ini terlibat langsung secara bersama-sama dengan legislatur.
Model Partisipasi Publik ( Parliamentary
Support Programme di Afrika Selatan bekerjasama dengan
European Union)
Pure representative democracy
A basic model of public participation
A realism model public participation
The possible ideal of for
south africa
Model pertama: Pure
Representative Democracy
•Model ini memiliki sifat partisipasi masyarakat bersifat “pure”
atau “murni”. Artinya, rakyat selaku warga negara dalam suatu negara demokrasi untuk keterlibatannnya dalam pengambilan keputusan publik dilakukan oleh wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui pemilihan umum di lembaga perwakilan.
•Masyarakat bersifat pasif, menerima yang akan dibentuk dalam produk legislatur. Atau dengan kata lain, rakyat tidak terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan publik
•
Bentuk partisipasi masyarakat dilakukan secara
terbatas yakni pada pemilihan umum yang dilakukan
secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Oleh
karena itu, partisipasi ini dinamakan “pure
representative democracy” sebab proses pengambilan
keputusan publik hanya dilakukan oleh lembaga
perwakilan, sedangkan rakyat hanya terlibat untuk
pembentukan lembaga perwakilannnya
Model kedua, A Basic of Public Participation
• Model ini menggambarkan bahwa rakyat yang telah melakukan interaksi keterlibatannnya dalam proses pengambilan keputusan, tidak hanya melalui pemilihan umum tetapi dalam waktu yang sama juga melakukan kontak dengan lembaga perwakilan.
• Rakyat melakukan kontak dengan lembaga perwakilan, artinya tidak ada pembatasan terhadap pengertian “public”. Dengan demikian, setiap warga negara yang telah mencapai umur tertentu misalnya 18 tahun dapat terlibat dalam partisipasi publik untuk menyampaikan aspirasinya. Akan tetapi dalam penyampaian aspirasi public participation ini pihak lembaga perwakilan terlihat tidak membuka dialog.
Model ke tiga: “ A Realism model of Public Participation
• Partisipasi model ini cenderung dilakukan dan didominasi oleh adanya kelompok-kelompok kepentingan dan organisasi-organisasi lainnya yang diorganisir.
• Publik selain ikut dalam pemilihan umum juga melakukan interaksi dengan lembaga perwakilan.
• Pelaku Public participation telah mengarah kelompok-
kelompok kepentingan dan organisasi-organisasi
lainnya yang diorganisir. Dengan demikian, terdapat
kecenderungan untuk memahami “public” dalam
konteks yang terbatas.
•
Di dalam model pilihan public participation telah
ada kesadaran bahwa tidak mungkin publik secara
keseluruhan dapa terlibat dalam proses
pembentukan UU secara langsung. Jadi,
pemahaman terhadap kata “realism” adalah untuk
menunjukkan adanya keterbatasn dalam melakukan
public participation yaitu hanya dilakukan oleh
kelompok-kelompok kepentingan dan organisasi-
organisasi yang diorganisir.
Model ke empat: The possible ideal for south Africa
Model yang diperkenalkan sebagai bentuk keempat dari berbagai partisipasi masyarakat ini, merupakan perluasan dalam memasukan tiga kelompok partisipan yaitu:
a.Those who are organized and strong;
b.Those who are organized but weak, and
c.Those who are weak and unorganized.
• Melalui model “ the possible ideal for south africa, memiliki 2 dimensi dala pengembangan visi strategis yakni:
1. Dimensi peranan partai-partai politik dan partai mayoritas;
• Di dalam dimensi ini, partai politik merupakan aktor kunci sebagai acuan dalam interaksi politik. Sementara itu partai mayoritas tidak hanya mempunyai kemampuan untuk mengontrol khususnya dalam pembuatan keputusan itu sendiri tetapi juga mengatur proses penyelenggaraan pemerintahan.
2. Dimensi hubungan perwakilan dengan eksekutif
Dalam dimensi ini para anggota perwakilan yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan membangunan hubungan dengan eksekutif. Ini memperlihatkan bahwa salah satu kunci kekuatan intervensi politik adalah milik eksekutif. Oleh karena itu, intervensi eksekutif harus dilakukan pada awal pembentukan UU
• Konsep dasar yang diharapkan sebagai bentuk ideal dalma rangka membangun partisipasi publik ini, adalah keterlibatan dari berbagai kekuatan partisipan dalam proses pengambilan keputusan publik dan pembentukan undang-undang.
• Di dalam konsep ideal bahwa pemahamannya mencakup “the include citizen (through public participation, citizen (through their representatives and constituency offices). Lobbyist and interest group, political parties reprsented in the legislature (trough committes) and the majority party causus (cas a joint legisaltive-executive forum.
• Kekuatan publik dalam proses pengambilan kebijakan dan pembentukan UU akan menemukan kesulitan dalam mengakomodasi dari berbagai pihak kepentingan yang muncul dengan dibukannya pintu partisipasi publik secara luas.
Partisipasi Publik harus dilihat dalam beberapa konteks, yakni:
1. Partisipasi publik harus mencakup suatu pengertian bahwa kontribusi masyarakat akan mempengaruhi penyelesian akhir;
2. Proses partisipasi publik harus mengkomunikasikan kepentingan dan memenuhi kebutuhan partisipan;
3. Proses partisipasi publik harus mengupayakan dan memfasilitasi keterlibatan pihak-pihak yang kemungkinan terkena dampaknya.
4. Partisipan seharusnya terlibat didalam mendefinisikan hal-hal yang mereka inginkan untuk berpartisipasi;
5. Partisipan seharusnya disediakan informasi bagi mereka butuhkan agar dapat memberikan kontribusi yang berarti;
6. Partisipan perlu diinformasikan hal-hal yang mereka sampaikan dipertimbangan dan hal yang dicerminkan dalam putusan yang dibuat.
• Kriteria terpenting dari adanya gagasan partisipasi publik adalah lebih dari sekedar wacana teorits dalam berdemokrasi melalui pemilihan umum dan referendum secara periodik.
Partisipasi publik pada pokoknya merupakan perwujudan dar adanya ide yang tidak tertulis yaitu partisipasi publik yang efektif bukanlah merupakan hasil rekayasan sederhana melalui berbagai peluang yang diciptakan, tetapi ditentukan melalui adanya seperangkat proses yang mendorong, membantu dan meningkatkan partisipasi secara penuh oleh publik dalma proses pengambilan kebijakan dan perundang-undangan
• Partisipasi publik yang efektif tergantung pada sumbangan pendidikan, informasi, dan tujuan-tujuan strategis dalam rangka memberikan pengetahuan dan seperangkat alat-alat untuk dapat mengakses kepada institusi-institusi publik.
• Tujuan-tujuan strategis dimaksudkan untuk membawa masyarakat marginal kedalam proses politik yang utama dalam menciptakan pemerintahan yang inclusive, responsive, and transparant.
• Tujuan akhirnya adalah konsolidasi suatu bentuk demokrasi yang mengikatkan dengan dan mengakui seluruh kekuatan- kekuatan kepentingan.
•Demokrasi tidak hanya cukup dipahami dengan pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh lembaga perwakilan. Dalam perkembangannya muncul demokrasi partisipatoris yang dapat dimaknai sebagai kekuasaan pemerintahan itu berasal dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat dan bersama rakyat. Konsekuensinya adalah lembaga perwakilan hanyalah salah satu pilar demokrasi dan oleh karena itu perlu membuka adanya ruang publik bagi masyarakat luas agar dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan publik, khususnya dalam pembentukan UU.
•Pembentukan UU yang secara konstitusional dilakukan oleh lembaga legislatif perlu membuka diri dari berbagai masukan dari masyarakat luas. Dengan kata lain, pembentukan UU harus diletakkan dalam konteks sosial masyarakat. Artinya, pembentukan UU tidak hanya merupakan domain lembaga legislatif, tetapi juga harus memberikan tempat bagi adanya ruang publik untuk berpartisipasi.
•