PARTISIPASI MASYARAKAT TRANSMIGRAN JAWA DALAM PEMBANGUNAN
(Studi: Pembangunan Swadaya di Dusun Tebo Jaya Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang Kabupaten Bungo Provinsi Jambi)
ARTIKEL
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan S1 (STRATA 1)
Oleh : KASMIRI NPM:11070005
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2015
PARTISIPASI MASYARAKAT TRANSMIGRAN JAWA DALAM PEMBANGUNAN
(Studi: Pembangunan Swadaya di Dusun Tebo Jaya Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang Kabupaten Bungo Provinsi Jambi)
Kasmiri ¹ Rio Tutri, M.Si ² Ikhsan Muharma Putra, M.Si ³
Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT
In the hamlet of Tebo Jaya construction many done by non-governmental development development are self-reliance. Homesteader here Java community finance itself every development that he did without government intervention. They build mosques, Mosque, Madrasah, and pods of the road. The theory is the theory of participation by Krusk s. This type of research is qualitative, deskriftif. Data collection methods used are observation, in-depth interviews, and study the documents. Data analysis technique used is the reduction of the data, the presentation of data, and the withdrawal of the conclusion. The results of this research is a form of public participation in the development of Java Homesteader in the hamlet of Tebo Jaya (1) planning, (2), (3) the implementation of the surveillance, (5) maintenance. The reason the community willing to participate is the Homesteader (1) uncomfortable with other people, (2) have become part of the residents of the hamlet of Tebo Jaya, (3) away from the mosque, and (4) would like to advance the Tebo Jaya Village.
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2011
2Pembimbing I Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
3Pembimbing II Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Di Indonesia transmigrasi dijadikan sebuah program yang ditujukan untuk menyebarkan penduduk dari tempat (pulau) yang padat penduduknya ke tempat (pulau) yang masih kosong atau kurang padat penduduk (Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976:151). Istilah ini Sesuai dengan pengertian transmigrasi dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1997 Pasal 1, dinyatakan bahwa transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi pemukiman transmigrasi.
Transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sekarang ini merupakan kelanjutan dari program kolonisasi yang pada saat itu dijalankan oleh Pemerintah Belanda. Pemerintah Indonesia sudah menjalankan program transmigrasi sejak tahun 1950. Hampir sama dengan kolonisasi. Tujuan transmigrasi pada pemulaannya adalah mengurangi kepadatan penduduk Jawa (Tjondronegoro dkk,1985:66).
Kepadatan penduduk yang dialami Pulau Jawa ini dijelaskan oleh Warsito dkk (1984:177) bahwa, Pulau Jawa mengalami tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi. Hal ini terbukti bahwa Pulau Jawa dengan luas hanya 7% dari luas Indonesia tetapi Pulau Jawa dihuni oleh 64% dari seluruh penduduk Indonesia. Selain Pulau Jawa, daerah lain yang perlu mendapat perhatian akan kepadatan penduduknya adalah Madura, Bali dan Lombok. Oleh karena itu daerah ini ditetapkan oleh presiden sebagai daerah asal transmigran, yang tercantum dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1973.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, transmigrasi dianggap sangat tepat sebagai usaha untuk mengurangi kepadatan penduduk bagi daerah asal dan bagi daerah penerima, dimaksud untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam mengolah sumber daya alam yang tersedia khususnya sektor pertanian (Warsito dkk, 1984:179).
Beberapa daerah di Indonesia yang dijadikan daerah transmigrasi oleh pemerintah Republik Indonesia. Melalui
Surat Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 1973 Tanggal 4 Januari 1973 yaitu 10 provinsi seperti: Provinsi Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara (Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan,1976:155).
Salah satu desa yang dijadikan daerah tujuan transmigrasi adalah Dusun Tebo Jaya, sebuah dusun yang dibangun oleh pemerintah melalui program transmigrasi pada tahun 1990. Dusun ini terletak di Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Junaidi Sekretaris Dusun Tebo Jaya pada tanggal 13 Februari 2015. Penduduk awal terdiri dari dua daerah asal yaitu penduduk asli seperti penduduk yang berasal dari Dusun Muara Tebo Pandak dan transmigran Jawa. Masuknya masyarakat tranmigrasi ke Dusun Tebo Jaya dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama dilaksanakan pada tahun 1990 sebanyak 150 KK dan tahap kedua dilakukan pada tahun 1991 sebanyak 100. Jadi jumlah transmigran di Dusun Tebo Jaya 250 KK, sedangkan penduduk asli yang tinggal di daerah itu sebanyak 100 KK. Sehingga penduduk Dusun Tebo Jaya secara keseluruhan sebanyak 350 KK. (Hasil wawancara dengan Sekretaris Desa Tebo Jaya).
Di Dusun Tebo Jaya,
pembangunannya dilakukan dengan cara pembangunan swadaya, yaitu suatu pembangunan yang pembiayaannya ditanggung oleh masyarakat itu sendiri tanpa adanya bantuan dana dari pemerintah. Di sini warga mengumpul dana dengan cara melakukan pungutan atau iyuran sebesar Rp 5.000 – Rp 10.000 dari setiap warga yang mau berpartisipasi dalam pembangunan, iyuran ini di bayar setiap sebulan sekali oleh warga dengan cara melakukan penarikan dana saat warga menerima gaji dari hasil penjualan kelapa sawit yang diterima setiap sebulan sekali. Dana tersebut dipotong oleh pihak Koperasi Unit Desa (KUD) lalu kemudian disalurkan kepada setiap pembangunan yang dijalankan. Selain itu dananya didapatkan dari donator yang ikutserta menyumbangkan uangnya untuk
pembangunan di Dusun Tebo Jaya dengan cara pemberian dana langsung berupa uang rupiah yang diberikan kepada pihak pengelola pembangunan terkait.
Pembangunan fasilitas di Dusun Tebo Jaya ini dapat berupa pembangunan Masjid Al-Muhajirin yang terletak di Jalan Durian RT 05 RW 03 Dusun Tebo Jaya, pembangunan mushola, pembangunan madrasah Nurul Huda yang beralamat di Jalan Duku RT 02 RW 02, dan pembangunan polong jalan.
JENIS DATA DAN METODE
Penelitian ini mulai dilakukan sejak tanggal 14 Agustus sampai 16 September 2015. Tempat penelitian ini di Dusun Tebo Jaya, Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif dan tipe penelitian ini adalah tipe deskritif.
Metode pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan cara purposive sampling (Mardalis, 2010:58). Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan data primer dan data skunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Model analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman.
HASIL PENELITIAN
5.1 Bentuk Swadaya Masyarakat Transmigran Jawa dalam Pembangunan Dusun Tebo Jaya Masyarakat transmigran Jawa di Dusun Tebo Jaya merupakan masyarakat pendatang yang mendiami dan telah tinggal di Dusun Tebo Jaya. Sebagai pendatang mereka tidak hanya menjadi penonton saja dalam membangun, justru mereka terlibat langsung atau menjadi subjek dalam pembangunan tersebut. Di sini mereka membangun dalam bentuk pembangunan fisik. Pembangunan yang mereka lakukan terdiri dari 4 (empat) bangunan yaitu Masjid Almuhajirin, Mushola Nurul Yaqin, Madrasah Nurul Huda, dan polong jalan.
Partisipasi transmigran Jawa dalam masing-masing pembangunan tersebut terdapat dalam semua tahap pembangunan.
Seperti perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemeliharaan. Tahap-tahap tersebut akan penulis rincikan di bawah ini sebagai berikut:
1. Perencanaan
Proses suatu pembangunan akan menemukan hasil yang baik dan maksimal jika perencanaannya dikelola dengan baik dan terorganisir, begitu pula dengan perencanaan pembangunan Masjid Al- Muhajirin yang dibangun oleh masyarakat transmigran Jawa yang ada di Dusun Tebo Jaya ini. Dalam proses pembangunan Masjid Al-Muhajirin ini, perencanaannya berupa mencari orang untuk mendukung kegiatan pembangunan. Setelah mendapatkan dukungan dari orang-orang atau warga masyarakat, barulah diadakan rapat atau musyawarah antar warga untuk menyusun strategi, membentuk panitia, dan mencari alat-alat serta material bangunan yang dianggap perlu dalam proses pembangunan Masjid
2. Pelaksanaan
Tahap kedua yang dilakukan masyarakat transmigran Jawa dalam pembangunan di Dusun Tebo Jaya adalah pelaksanaan. Pelaksanaan dalam pembangunan ini terdiri dari pembangunan Masjid, Mushola, Madrasah, dan polong jalan. Keterlibatan transmigran jawa dalam pelaksanaan pembangunan Masjid di sini berbentuk mengerjakan pakerjaan awal yaitu seperti bergotong royong pembuatan pondasi bangunan, menegak tiang, dan angkat-angkat batu untuk bahan dasar pondasi bangunan, namun setelah itu pembangunan Masjid tersebut dilanjutkan oleh tukang yang lebih ahli dalam bidang tersebut agar mencapai hasil yang lebih baik dan lebih rapi dalam tahap penyelesaian bangunan seperti menyemin lantai, pemasangan dinding, dan pasang atap Masjid. Pada saat pengerjaan pembangunan dilakukan oleh tukang, bentuk partisipasi masyarakat transmigran Jawa berubah menjadi mengantarkan makanan dan minuman untuk kebutuhan pangan tukang yang saat melanjutkan pembangunan.
3. Pengawasan
Tahap ketiga yang dilakukan masyarakat transmigran Jawa dalam pembangunan di Dusun Tebo Jaya adalah
tahap pengawasan. Pengawasan dalam pembangunan ini terdiri dari pembangunan Masjid, Mushola, Madrasah, dan polong jalan.
Bentuk partisipasi masyarakat transmigran Jawa dalam pengawasan pembangunan Masjid, Mushola, Madrasah dan polong jalan di atas terlihat bahwa terdapat perbedaan cara dan pada pembangunan polong tidak ada kegiatan pengawasan yang dilakukan masyarakat trasmigran Jawa. Sedangkan dalam pembangunan Masjid, pengawasannya dilakukan dengan cara masyarakat mendengarkan panitia atau pengurus Masjid membacakan keungan Masjid, pengawasan ini dilakukan setiap sebelum Sholat Jum’at.
Kegiatan pengawasan ini hampir sama dengan pengawasan pembanguna Mushola, yaitu pengurus pembangunan membacakan atau merincikan keuangan Mushola. tapai pada pembangunan Mushola kegiatan seperti ini hanya dilakukan setiap selesai melakukan pembangunan. Sedangkan pada pengawasan pembangunan Madrasah, orang tua atau wali murid yang memiliki anaknya sekolah di Madrasah tersebut yang mengawasi apakah kegiatan sekolah tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan semestinya tau tidak. Jika tidak maka mereka bersama dengan pengurus Madrasah akan mengadakan rapat untuk mencari solusi dari permasalahan ini.
4. Pemeliharaan
Suatu bangunan tersebut tidak akan bertahan lama dengan utuh jika tidaknya pemeliharaan. Pemeliharaan dalam bangunan Masjid ini berupa kegiataan menjaga keutuhan dengan memperbaiki dan mengantikan yang rusak membersihkan, memperluas, menambah perlengkapan elektronik dan memperindah.
Bahwa partisipasi masyarakat transmigran Jawa dalam pemeliharaan Masjid lebih banyak dilakukan oleh pengurus Masjid itu sendiri, sedangkan bagi warga lainnya mereka hanya berpartisipasi dalam bentuk uang yang mereka sumbangkan pada saat mereka sedang solat jum’at, solat id (sholat idul fitri dan idul adha), dan membayar uang rutin bulanan yang dibayar disaat mereka menerima gaji dari hasil panen sawit, dalam pemeliharaan
pembangunan Mushola bentuk partisipasi masyarakat transmigran Jawa adalah merenopasi Mushola jika Mushola tersebut sudah mulai mengalami kerusakan dan kembali melakukan iyuran untuk biaya renopasi tersebut, pengerjaannya dilakukan oleh tukang bangunan, dalam pemeliharaan pembangunan Madrsah hanya dilakukan oleh komite atau pengurus madrasah saja karena sudah mendapat bantuan dana untuk membangun gedung baru dari Pemerintah Kementrian Agama, jadi masyarakat tidak mengeluarkan dana lagi untuk kegiatan pemeliharaan, dan dalam pemeliharaan pembangunan polong jalan ini dilakukan oleh masyarakat transmigran Jawa dengan mengantikan langsung polong tersebut jika polong tersebut sudah pecah dan tidak bisa digunakan. Kegitan semacam ini terjadi secara terus menerus jika terjadi kerusakan lagi.
5.2 Alasan Masyarakat Transmigran Jawa Berpartisipasi Dalam Pembangunan Secara Swadaya di Dusun Tebo Jaya
Sebagai seorang pendatang yang menghuni dan menetap di daerah yang mungkin belum mereka kenal dengan baik apakah daerah yang baru mereka tempati, apakah memberikan kenyamanan kehidupan yang layak bagi mereka ataukah malah sebaliknya akan menyengsarakan mereka.
Namun transmigran Jawa telah banyak berpartisipasi atau ikut secara langsung dalam pembangunan daerah tersebut.
Partisipasi ini tidak hanya berbentuk harta, namun juga berbentuk tenaga, pikiran dan lain sebagainya. Setiap manusia ingin melakukan suatu kegiatan pasti mereka sudah mempunyai alasan tertentu.
Begitupunmasyarakat Jawa yang tinggal di Dusun Tebo Jaya ini, mereka mempunyai alasan untuk ikut membangun Dusun Tebo Jaya. Alasan Masyarakat transmigran dalam pembangunan di Dusun Tebo Jaya adalah sebagai berikut:
1. Tidak Enak Dengan Masyarkat Lain Mereka akan mersa tidak enak hati atau akan merasa malu jika mereaka tidak ikut serta dalam pembangunan di Dusun Tebo Jaya hal ini disebabkan karena jika masyarakat lain ikut serta sedangkan yang bersangkutan tidak ikut maka dalam
pergaulan sehari-hari rasa malu tersebut akan muncul dengan sendirinya.
2. Sudah Menjadi Bagian Dari Warga Dusun Tebo Jaya
Mereka benar-benar sudah menjadi bagian dari warga Dusun Tebo Jaya, artinya telah timbul rasa mencintai dan memiliki dalam diri mereka terhadap tempat tinggal baru mereka. Untuk mengungkapkan rasa mencintai dan memiliki ini mereka wujudkan dengan ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Mereka mebangunan bergabagai fasilitas yakni Masjid, Mushola, Madrsah dan polong jalan.
3. Jauh Dari Masjid
Bagi masyarakat transmigran Jawa yang keberadaan rumah mereka yang jauh dari Masjid akan memakan waktu yang cukup lama jika mereka pergi sholat berjamaah ke Masjid. maka untuk mengatasi perseolan ini mereka membagun Mushola yang lebih dekat dan mudah dijangkau dari rumah mereka supaya mereka masih tetap bisa sholat secara berjamaah bersama tetangga mereka.
4. Ingin Memajukan Dusun Tebo Jaya Dalam ungkapan yang hampir sama yaitu masyarakat transmigran Jawa mau berpartisipasi dalam pembangunan Di Dusun Tebo Jaya adalah untuk memajukan Dusun Tebo Jaya.
5. Rusaknya Fasilitas Jalan
Masyarakat transmigran Jawa mau berpartisipasi dalam pembangunan di Dusun Tebo Jaya karena rusaknya falilitas jalan.
Pada awal pembangunan Dusun Tebo Jaya, untuk menyebrang sungai-sungai yang melintasi permukaan jalan di bangun jembatan yang terbuat dari kayu. setelah berjalan 10-15 tahun kemudian jembatan kayu tersebut mengalami pelapukan dan rusak sehingga tidak bisa digunakan lagi maka masyarakat transmigran Jawa mengantikan jembatan kayu tersebut dengan polong jalan. Namun di Dusun Tebo Jaya polong jalan ini lebih diperuntukan untuk sungai-sungai yang berukuran relatif kecil berukuran luas sungai 1-1,5 Meter, sedangkan untuk sungai yang ukurannya 2
Meter maka fungsi dari jembatan kayu tersebut digantikan dengan jembatan beton dan biaya di tanggung oleh pemerintah daerah secara langsung.
Berdasarkan alasan masyarakat transmigran mau berpartisipasi dalam pembangunan di Dusun Tebo Jaya pada penelitian ini terdapat berbagai tujuan yaitu dalam pembangunan Masjid tujuan mereka adalah agar mereka dapat sholat berjamaah bersama, dalam pembangunan Mushola tujuan mereka adalah agar mereka tidak perlu jauh-jauh ke Masjid untuk sholat, dalam pembangunan Madrasah adalah agar anak-anak mereka bisa belajar ilmu agama lebih baik lagi, sedangkan dalam pembangunan polong jalan adalah agar mereka bisa lancar dalam bertransportasi demi kelangsungan perekonomian mereka.
Tujuan-tujuan tersebut jika dikaitkan dengan teori partisipasi maka berkenaan dengan partisipasi instrumental yaitu kerena ingin mencapai tujuan yang cepat seperti bisa sholat berjamaah bersama, ingin mempunyai tempat sholat yang lebih dekat, ingin anak- anak mereka bisa mendapatkan Ilmu Agama, dan untuk kelancaran transportasi mereka. Sedangkan Partisipasi transformasi onal yaitu karena ingin mendapatkan tujuan yang lebih tinggi lagi, tujuan ini terlihat pada mereka ingin memajukan Dusun Tebo Jaya dan mendapat perhatian dari pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaa.
1976.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1973.
Mardalis.2010. Metode Penelitian Sautu Pendekatan Proposal. Jakarta:
Bumi Aksara.
Tjondronegoro.1985. Ilmu Kependudukan.
Jakarta:Erlangga.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997.
Warsito, Rukmadi dkk.1984. Transmigrasi Dari Daerah Asal Sampai Benturan Budaya di Tempat Pemukiman. Jakarta: CV.
Rajawali.