1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan wilayah merupakan salah satu program pembangunan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah yang diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (Ummah, 2008).
Ditambahkan oleh (Mulyanto, 2008) bahwa pengembangan wilayah adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan dengan menjadikan potensi-potensi yang dimiliki untuk menghasilkan keadaan yang lebih teratur dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan keingian masyarakat. Salah satu upaya pengembangan wilayah adalah pengembangan pertanian, dimana Indonesia sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian (Laili & Diartho, 2018). Menurut data yang disebutkan dalam dokumen Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian Tahun 2017-2018 (Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian Tahun 2017-2018, 2018), bahwa sampai Bulan Februari 2018, jumlah tenaga kerja pertanian di Indoesia mencapai 36,91 juta orang atau sebesar 28,23 persen dari jumlah tenaga kerja di Indonesia yang terbagi menjadi 4 (empat) subsektor yaitu tanaman pangan sebesar 46,58 persen, perkebunan sebesar 30,79 persen, peternakan sebesar 13,47 persen dan hortikultura sebesar 9,14 persen.
Namun, walaupun pertanian menjadi dominasi mata pencaharian penduduk, (Burano, 2017) menyatakan bahwa sektor pertanian tumbuh sangat lamban dibandingkan sektor industri dan sektor-sektor lainnya. (Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN, 2015) menyebutkan bahwa permasalahan pertanian di Indonesia adalah pertambahan permintaan lebih besar daripada kemampuan berproduksi. Ditambahkan dalam dokumen (Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian Tahun 2017-2018, 2018) bahwa produktivitas tenaga kerja pertanian di Indonesia masih rendah dikarenakan tingkat pendidikan tenaga kerja dan kemampuan adopsi teknologi yang juga masih rendah.
Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan suatu pendekatan untuk mengembangkan sektor pertanian, diantaranya menurut (Sumastuti & Kirana,
2 2015) dengan pendekatan agribisnis yang diprediksi akan sangat berperan dalam pembangunan ekonomi kerakyatan di masa depan. Agribisnis menurut (Arifin, 2016) merupakan aktivitas yang termasuk didalamnya kegiatan produksi, pengolahan serta pemasaran hasil berkaitan dengan komoditi pertanian, menggunakan arti yang luas (usahatani, perkebunanan, kehutanan, perikanan, perternakan) yang bertujuan untuk memperoleh keutungan. Secara lebih sederhana, (Sumastuti & Kirana, 2015) menggambarkan agribisnis ke dalam satu pikiran yang menyeluruh, dimulai pada proses produksi, pengolahan hasil, pemasaran serta kegiatan lainnya, yang berhubungan dengan aktivitas pertanian.
Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu dari 10 kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Timur yang direncanakan pengembangnya melalui sektor pertanian (Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016- 2036, 2016). Dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kutai Kartanegara 2011-2031 tujuan penataan ruang kabupaten adalah untuk mewujudkan kabupaten sebagai pusat pertumbuhan dan kawasan andalan dengan memanfaatkan potensi pertambangan, minyak dan gas (MIGAS), serta sektor unggulan pertanian dan pariwisata menuju terwujudnya masyarakat yang Maju, Mandiri, dan Sejahtera. Jumlah penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun 2017 adalah sebanyak 752.091 jiwa (Kabupaten Kutai Kartanegara dalam Angka Tahun 2017, 2018). Dari jumlah penduduk tersebut, jumlah tenaga kerja yang bekerja pada sektor pertanian adalah yang terbanyak, yaitu sebesar 28,83 persen dari total tenaga kerja di Kabupaten Kutai Kartanegara(Keadaan Angkatan Kerja Kabupaten Kutai Kartanegara, 2018).
Sejak tahun 1957, dengan adanya program transmigrasi, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki kebijakan untuk melakukan pengadaan upaya swasembada pangan (Buku Penyelenggaraan Program Transmigrasi di Provinsi Kalimantan Timur, 2013). Sampai saat ini, arah pembangunan yang menjadi tujuan pembangunan jangka panjang Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2005-2025 salah satunya adalah mewujudkan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara yang sejahtera dengan cara meningkatkan kinerja sektor pertanian melalui peningkatan diversifikasi produk pangan dengan pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing, meningkatkan nilai
3 tambah serta mendorong terwujudnya kemandirian pangan (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005-2025, 2010). Untuk mewujudkan arah dan tujuan pembangunan tersebut, pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menetapkan arahan pengembangan 12 dari 18 kecamatan yaitu Kecamatan Muara Kaman, Sebulu, Tenggarong Seberang, Tenggarong, Loa Kulu, Loa Janan, Kota Bangun, Kenohan, Kembang Janggut, Tabang, Samboja dan Muara Jawa menjadi pertanian agribisnis tanaman pangan (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005-2025, 2010).
Produktivitas tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara dalam lima tahun, yaitu tahun 2013-2017 pada beberapa komoditas mengalami penurunan, dimana berdasarkan data yang didapatkan dari (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, 2020) adalah bahwa komoditas padi, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi jalar menurun sebanyak 3-12 persen setiap tahunnya.Angka tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan produktivitas pada beberapa komoditas dan kenaikan produktivitas pada komoditas yang lain (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura, 2019).
Penurunan angka produktivitas pertanian tanaman pangan kemudian menjadi isu strategis daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam dokumen (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2016-2021, 2016), dikarenakan terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian tanaman pangan, yaitu tambang dan batu bara serta kurangnya pembukaan lahan dan usaha pertanian tanaman pangan yang baru dikarenakan perencanaan pengembangan wilayah yang belum terpadu dan aturan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di tingkat kabupaten masih belum tersedia, terjadinya alih fungsi tenaga kerja pertanian ke non pertanian dikarenakan belum optimalnya sumberdaya pertanian, rendahnya efisiensi peralatan pasca panen hasil pertanian tanaman pangan dikarenakan standardisasi serta pendampingan standardisasi peralatan pasca panen dan pengolahan belum dilakukan, dan distribusi pupuk bersubsidi untuk tanaman pangan berkaitan dengan informasi kebutuhan pupuk dan pengawalannya masih bermasalah.
4 Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian arahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara agar dapat meminimalisasi permasalahan- permasalahan yang terjadi untuk mendukung kebijakan pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu mengadakan pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal.
1.2 Perumusan Masalah
Arah pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara salah satunya adalah pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal untuk meningkatkan daya saing, kemudian arahan pengembangannya adalah dengan pertanian agribisnis tanaman pangan (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005-2025, 2010). Namun, isu strategis daerah Kabupaten Kutai Kartanegara diantaranya adalah penurunan angka produktivitas pertanian tanaman pangan disebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian tanaman pangan, yaitu tambang dan batu bara serta kurangnya pembukaan lahan dan usaha pertanian tanaman pangan yang baru, terjadinya alih fungsi tenaga kerja pertanian ke non pertanian, rendahnya efisiensi peralatan pasca panen hasil pertanian tanaman pangan dan distribusi pupuk bersubsidi untuk tanaman pangan(Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2016-2021, 2016). Sehingga, perumusan masalah penelitian yaitu bagaimana arahan pengembangan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskanarahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
1.4 Sasaran
Berdasarkan tujuan penelitian, maka sasaran yang ditetapkan adalah sebagai berikut.
5 a. Menganalisis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten
Kutai Kartanegara.
b. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kawasan agribisnis subsektor tanaman pangan pada komoditas unggulan terpilih di Kabupaten Kutai Kartanegara.
c. Merumuskanarahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan Kabupaten Kutai Kartanegara.
1.5 Ruang Lingkup
1.5.1 Ruang Lingkup Wilayah
Wilayah penelitian adalah pada Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas wilayah sebesar 27.263 km². Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki 18 kecamatan yaitu Kecamatan Anggana, Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Kenohan, Kecamatan Kota Bangun, Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Loa Kulu, Kecamatan Marang Kayu, Kecamatan Muara Badak, Kecamatan Muara Jawa, Kecamatan Muara Kaman, Kecamatan Muara Muntai, Kecamatan Muara Wis, Kecamatan Samboja, Kecamatan Sanga-sanga, Kecamatan Sebulu, Kecamatan Tabang, Kecamatan Tenggarong, dan Kecamatan Tenggarong Seberang.
Kecamatan dengan luas terbesar pada Kabupaten Kutai Kartanegara adalah Kecamatan Tabang dengan luas 7.764,5 km² atau sebesar 28,48 persen dari luas wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara sedangkan luas kecamatan terkecil yaitu Kecamatan Sanga-Sanga yaitu seluas 233,40 km² atau 0,86 persen dari luas wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Secara administrasi, Kabupaten Kutai Kartanegarasecara langsung berbatasan dengan:
a. Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara pada bagian utara
b. Kabupaten Kutai Timur, Kota Bontang dan Selat Makassar pada bagian timur.
c. Kabupaten Penajam Paser Utara, Kota Balikpapan pada bagian selatan.
d. Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Mahakam Ulu pada bagian barat.
6 Gambar 1. 1 Peta Kabupeten Kutai Kartanegara
Sumber: Bappeda dan Olahan Penulis, 2019
7 1.5.2 Ruang Lingkup Pembahasan
Pembahasan pada penelitian dimulai dari penentuan komoditas unggulan dengan batasan pembahasan yaitu pada subsektor tanaman pangan hanya menggunakan teori basis non basis menggunakan perhitungan LQ (Location Quotient) dan DLQ (Dynamic Location Quotient), kemudian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kawasan agribisnis dengan batasan pembahasan hanya pada komoditas unggulan terpilih subsistem hulu sampai hilir serta penunjang dan subsektor tanaman pangan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sehingga, arahan pengembangan kawasan agribisnis hulu sampai dengan hilir dibatasi oleh pembahasan mengenai subsektor tanaman pangan pada komoditas unggulan terpilih.
1.5.3 Ruang Lingkup Substansi
Lingkup substansi pada penelitian adalah perumusan arahan pengembangan kawasan agribisnis pada subsistem agribisnis hulu, onfarm, hilir dan subsistem agribisnis penunjang pada komoditas unggulan tanaman pangan yang dimulai dari analisis penentuan komoditas unggulan untuk subsektor tanaman pangan Kabupaten Kutai Kartanegara dan analisis penentuan faktor- faktor yang mempengaruhi, baik pendukung maupun penghambat pengembangan kawasan agribisnis masing- masing subsistem pada komoditas unggulan terpilih Kabupaten Kutai Kartanegara. Rumusan arahan difokuskan pada komoditas unggulan terpilih berdasarkan faktor yang mempengaruhi pada masing- masing subsistem agribisinis di Kabupaten Kutai Kartanegara.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk peneliti, masyarakat dan pemerintah diantaranya adalah:
a. Secara teori bermanfaat sebagai informasi bagi peneliti dan masyarakat mengenai arahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
b. Secara praktik bermanfaat sebagai bahan masukan bagi pemerintah maupun pihak yang berwenang dalam memberikan arahan pengembangan kawasan
8 agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
1.7 Kerangka Pemikiran Penelitian
Adapun kerangka pemikiran penelitian ini dengan mengacu kepada latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran yang telah dijelaskan adalah sebagai berikut.
9 Gambar 1. 2 Kerangka Pemikiran Penelitian (Penulis, 2020)
LATAR BELAKANG:
1. Pengembangan wilayah di Indonesia salah satunya dengan pengembangan kawasan pertanian dapat dilakukan dengan konsep pendekatan agribisnis.
2. Tujuan penataan ruang Kabupaten Kutai Kartanegara salah satunya adalah mengembangkan sektor unggulan pertanian dengan menetapkan arahan pengembangan pertanian agribisnis tanaman pangan.
3. Program pembangunan transmigrasi menjadi peluang swasembada pangan dengan penambahan areal pertanian.
4. Penurunan angka produktivitas pertanian tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara pada beberapa komoditas sebesar 3-12 persen setiap tahunnya.
5. Penurunan produktivitas pertanian tanaman pangan menjadi isu strategis Kabupaten Kutai Kartanegara.
RUMUSAN MASALAH:
Bagaimana arahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
TUJUAN:
Merumuskanarahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
SASARAN:
1. Menganalisis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kawasan agribisnis subsektor tanaman panganpada komoditas unggulan terpilih di Kabupaten Kutai Kartanegara.
3. Merumuskanarahan pengembangan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan subsektor tanaman pangan Kabupaten Kutai Kartanegara.
JUDUL:
Arahan Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Komoditas Unggulan Subsektor Tanaman Pangan (Studi Kasus: Kabupaten Kutai Kartanegara)