37 Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian, Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2008, hal. Perkembangan hukum lingkungan hidup internasional sebagai bagian dari hukum internasional diawali dengan diadakannya Konferensi Stockholm tentang Lingkungan Hidup pada tahun 1972, pertemuan ini membangkitkan kesadaran global khususnya di Amerika dan Eropa Barat. Berbagai pakar hukum internasional telah memberikan kontribusi mengenai pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup, salah satunya melalui pendekatan lingkungan hidup dan hak asasi manusia, hal ini karena landasan hak lingkungan hidup menjamin pengakuan hak asasi manusia yang kuat bagi masyarakat adat.49.
Terdapat beberapa instrumen hukum internasional yang mengatur hubungan antara lingkungan hidup dan hak asasi manusia, yang antara lain dituangkan dalam beberapa perjanjian internasional. Di sisi lain, para pendukung dualisme, seperti Tripel dan Anzilotti, berpendapat bahwa hukum internasional dan hukum nasional adalah dua sistem hukum terpisah yang berbeda satu sama lain.53. Di sisi lain, terdapat penegasan atas keutamaan hukum internasional di atas hukum nasional sebagai syarat mutlak bagi keberadaan hukum internasional.54.
Protokol Kyoto 1997
Artinya setiap kegiatan atau program yang dilakukan suatu negara di negara lain akan memberikan satuan penurunan emisi kepada negara pelaksana program tersebut. Para Pihak dalam Lampiran B dapat melakukan perdagangan emisi untuk tujuan memenuhi kewajiban mereka berdasarkan Pasal 3. Perdagangan tersebut wajib melengkapi upaya-upaya nasional yang bertujuan untuk memenuhi batasan-batasan emisi dan kewajiban-kewajiban pengurangan emisi berdasarkan hal tersebut.
Perdagangan emisi merupakan mekanisme yang memungkinkan suatu negara maju menjual kredit penurunan emisi gas rumah kaca kepada negara maju lainnya. Perdagangan emisi dapat dilakukan ketika negara-negara maju yang menjual kredit gas rumah kaca mempunyai kredit pengurangan gas rumah kaca yang melebihi target negaranya. Mekanisme ini memungkinkan negara-negara non-Annex I untuk berperan aktif dalam membantu mengurangi emisi gas rumah kaca melalui proyek-proyek yang dilaksanakan oleh negara maju.
Nantinya, kredit penurunan emisi gas rumah kaca yang diperoleh melalui proyek ini mungkin dimiliki oleh negara-negara maju. CDM juga bertujuan untuk memungkinkan negara-negara berkembang mendukung pembangunan berkelanjutan, dan CDM adalah satu-satunya mekanisme yang melaluinya negara-negara berkembang dapat berpartisipasi dalam Protokol Kyoto. Kedua, total emisi negara-negara Annex I yang telah meratifikasi Protokol Kyoto setidaknya berjumlah 55% dari total emisi Annex I pada tahun 1990.
Selain itu, Rusia meratifikasi Protokol Kyoto pada tanggal 18 November 2004, sehingga total emisi negara-negara penandatangan Annex I Kyoto menjadi lebih dari 55% atau 61,79%. Pada tahun 20017 telah disusun Bali Roadmap yang memuat Bali Action Plan yang menjadi landasan perundingan internasional dalam kelanjutan komitmen negara-negara peserta UNFCCC dalam komitmen bersama penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat global.
Bali Road Map 2007
Konfirmasi kesediaan sukarela negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi secara teratur, dapat dilaporkan dan diverifikasi dalam konteks pembangunan berkelanjutan yang didukung oleh teknologi, dana dan peningkatan kapasitas; Memperkuat sumber pendanaan dan investasi untuk mendukung aksi mitigasi, adaptasi dan transfer teknologi terkait perubahan iklim. Para pemangku kepentingan di Bali mengatakan bahwa deforestasi dan degradasi hutan merupakan sumber utama emisi dan dalam beberapa kasus, degradasi hutan (misalnya lahan gambut) dapat menyebabkan tingkat emisi yang tinggi.
Oleh karena itu, disepakati bahwa diskusi dan kegiatan metodologis dalam Konvensi harus membahas kedua sumber tersebut, meskipun para pihak terus menekankan kesulitan besar dalam mendefinisikan 'degradasi' hutan70. Emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan menjadi permasalahan yang mendorong terbentuknya landasan hukum dalam pengembangan program. 70 Tom Griffiths, Forests, Climate Change Mitigation and the Rights of Indigenous Peoples Versi terkini, Forest People Programme, UK, 2009, hal.
Policy approaches and positive incentives for issues related to reducing emissions from deforestation and forest degradation in developing countries; and the role of conservation, sustainable forest management and increasing forest carbon stocks in developing countries.
Masyarakat Adat dan Pengaturannya dalam Instrumen Hukum Internasional
Pengertian dan Ruang Lingkup Masyarakat Adat
Menurut catatan PBB, terdapat 300 juta orang dari 5.000 kelompok yang merupakan masyarakat adat, yang didefinisikan sebagai: "Pewaris penduduk asli daerah jajahan dan mempertahankan budaya minoritas." Menurut Rafael Edy Bosko, kata pribumi berasal dari bahasa Latin, indiganae, yang digunakan untuk membedakan antara orang yang lahir di suatu tempat dengan orang yang berasal dari tempat lain (advenae). Menurut catatan PBB, terdapat 300 juta orang dari 5000 kelompok yang merupakan masyarakat adat yang didefinisikan sebagai: “Pewaris penduduk asli wilayah jajahan dan mempertahankan budaya minoritas”.73.
Pengertian masyarakat adat padanannya dengan kata Masyarakat Adat yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) huruf b Konvensi 169 Organisasi Perburuhan Internasional atau Konvensi ILO 169 yang menyatakan. Masyarakat adat adalah masyarakat di negara-negara merdeka yang dianggap sebagai masyarakat adat berdasarkan keturunan mereka dari populasi yang mendiami negara tersebut, atau wilayah geografis di mana negara tersebut berada, pada saat penaklukan atau penjajahan atau penetapan batas-batas negara saat ini dan yang mana , apapun status hukumnya, tetap mempertahankan sebagian atau seluruh lembaga sosial, ekonomi, budaya dan politiknya”. Dari definisi yang diberikan Konvensi ILO terlihat bahwa masyarakat adat adalah sekelompok individu yang merupakan keturunan asli suatu negara.
Menurut Konvensi ini, masyarakat adat yang tinggal di suatu negara adalah masyarakat yang kondisi sosial, ekonomi, dan budayanya berbeda dengan bagian masyarakat lain di negara tersebut. Sementara definisi lain disampaikan oleh Jose R Martinez yang mengutarakan definisi dan konsep masyarakat adat yang diperoleh berdasarkan penelitian panjang mengenai diskriminasi. Komunitas, masyarakat, dan bangsa adat adalah mereka yang, dengan kesinambungan sejarah dengan masyarakat pra-invasi dan pra-kolonial yang berkembang di wilayah mereka, membedakan diri mereka dari sektor-sektor masyarakat lain yang kini ada di wilayah tersebut, atau bagiannya.
They currently constitute non-dominant sectors of society and are determined to preserve, develop and transmit their ancestral territories and their ethnic identity to future generations as a basis for their continued existence as a people in accordance with their own cultural patterns, social institutions and legal system .” Melaliu the Human Rights Committee sebagai treaty-based body dari ICCPR nemabu komunikasi tentang penangang asli, misal dalam Lovecase v.
Instrumen Hukum Internasional tentang Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Adat
Dalam perkembangannya, telah dilakukan upaya pengakuan dan perlindungan masyarakat adat berdasarkan muatan regulasi yang berkembang dalam berbagai bentuk perjanjian internasional, baik deklarasi maupun konvensi, antara lain: 76. Konvensi ILO tentang Masyarakat Adat dan Masyarakat Adat merupakan konvensi internasional pertama yang konvensi yang membahas kebutuhan khusus hak asasi manusia masyarakat adat. Konvensi ini menjelaskan tanggung jawab pemerintah dalam memajukan dan melindungi hak asasi manusia masyarakat adat.
Masyarakat adat mempunyai peran penting dalam pengelolaan dan pembangunan lingkungan karena pengetahuan dan praktik tradisional mereka. Menekankan bahwa hak masyarakat adat atas tanah merupakan hak kepemilikan penuh, terlepas apakah mereka mempunyai hak resmi yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang atau tidak.77. Manifesto Meksiko pada Kongres Kehutanan Dunia X tahun 1985. Kongres tersebut menekankan perlunya pengakuan terhadap lembaga masyarakat lokal dan pengetahuan asli mereka untuk mampu mengelola hutan, termasuk perlindungan dan pemanfaatan hutan yang disebut pengelolaan hutan berbasis masyarakat. 78.
Kongres menegaskan kembali pentingnya memihak masyarakat yang terpinggirkan, termasuk masyarakat adat, dan pada saat yang sama menekankan pentingnya rencana aksi yang disebut Rencana Aksi Hutan Tropis (TFAP).79. Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP) tahun 2007 merupakan deklarasi yang berisi kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat adat mengenai bagaimana mereka seharusnya diperlakukan. Instrumen ini memberikan kerangka penting bagi realisasi hak asasi masyarakat adat dan landasan tanggung jawab negara dalam melindungi mereka.
Dari segi isinya, Deklarasi PBB merupakan dokumen luar biasa yang mencerminkan keseimbangan antara kepentingan individu dan kolektif, hak asasi manusia masyarakat adat dan kewajiban hukum pemerintah suatu negara.80. Semuanya sangat penting bagi keberadaan masyarakat adat, keterkaitan setiap pasal satu sama lain merupakan rangkaian bagi pemerintah untuk menjamin hak-hak masyarakat adat harus dilindungi. Hak masyarakat adat untuk memperoleh hak dan akses terhadap sumber daya ditegaskan dalam Pasal 10 dan Pasal 26(2). 1) (2) yang memberikan hak untuk mengelola sumber daya alam berdasarkan kearifan lokal atau tradisi lokal dalam pengelolaannya, yaitu.
Hak masyarakat adat atas pendidikan dan media ditegaskan dalam Pasal 14, 15 dan 16 terkait, dalam Pasal 14 yang menyatakan.
Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan Nasional
Masyarakat adat mempunyai hak atas pengakuan, pengamatan dan penegakan perjanjian-perjanjian, kesepakatan-kesepakatan dan pengaturan-pengaturan konstruktif lainnya yang dibuat dengan Negara-negara atau penerusnya dan agar Negara-negara tersebut menghormati dan menaati perjanjian-perjanjian, perjanjian-perjanjian dan pengaturan-pengaturan konstruktif lainnya tersebut.” Dengan menjadi pihak dalam perjanjian-perjanjian internasional , negara menjalankan kewajiban dan tugas berdasarkan hukum internasional untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi manusia. Kewajiban untuk menghormati berarti bahwa negara harus menahan diri untuk tidak mencampuri atau membatasi pelaksanaan hak asasi manusia.
Kewajiban untuk melindungi mengharuskan negara untuk melindungi individu dan kelompok dari pelanggaran hak asasi manusia. Kewajiban untuk memenuhi (to fullfill) berarti bahwa negara harus mengambil langkah-langkah positif untuk memfasilitasi realisasi hak asasi manusia yang mendasar.82. Selain ketentuan UUD 1945, Ketetapan MPR No
“Setiap orang berhak atas hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil sembarangan. Lebih lanjut, Pasal 41 menyatakan bahwa identitas budaya masyarakat adat, termasuk hak atas tanah adat, wajib dilindungi seiring dengan perkembangan zaman.” Pelaksanaan hak menguasai negara dapat dilimpahkan kepada wilayah Swatantra dan masyarakat hukum adat, sepanjang diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, sesuai dengan ketentuan peraturan pemerintah. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, khususnya pada Pasal 4 ayat (2), akan memberikan kompensasi yang layak bagi pengelolaan hutan.
Kompensasi yang layak diberikan kepada masyarakat yang dirugikan sebagai pemegang hak atas tanah dan hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan, pertambangan, mineral, ikan, dan/atau ruang angkasa, dan dapat membuktikan bahwa mereka menderita kerugian secara langsung. akibat pelaksanaan proyek pembangunan. kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang dan perubahannya, nilai spasial sebagai dampaknya.