• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Ekonomi Bali dalam Perspektif Pariwisata dan Budaya - UNUD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2025

Membagikan "PDF Ekonomi Bali dalam Perspektif Pariwisata dan Budaya - UNUD"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

EKONOMI  BALI  DALAM  PERSPEKTIF  PARIWISATA  DAN  BUDAYA  

Oleh

Ni Made Asti Aksari

Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Jl. P.B. Sudirman, Denpasar 80232

Abstrak

Tulisan ini membahas perekonomian Bali dari aspek pariwisata budaya yang tidak dapat dilepaskan dari pembangunan pertanian yang menjadi sumber hidup sebagian besar masyarakat. Dalam kurun waktu empat dekade, sumbangan pertanian pada pendapatan dan kesempatan kerja semakin menurun sedangkan sumbangan pariwisata sebagai sektor jasa semakin meningkat. Ini berarti pariwisata telah menjadi sektor penting yang patut dikembangkan meskipun telah terjadi peristiwa bom yang dampaknya bersifat temporer. Pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata budaya, tetapi produknya tidak jelas dan beragam sehingga sulit memasarkannya meskipun Bali sudah memiliki branding. Peran pemerintah dalam pengembangan pariwisata menjadi sangat penting dan bahkan menentukan. Strategi pembangunan yang perlu di lakukan oleh pemerintah ke depan adalah dengan mengoptimalkan pembangunan sektor pertanian dan mengarahkan Bali pada masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge-based society).

Kata kunci: pariwisata budaya, produk pariwisata, peran pemerintah

Pendahuluan

Dalam waktu hampir empat dekade sejak tahun 1970, perekonomian daerah Bali telah mengalami perubahan struktural yang sangat mendasar. Perubahan tersebut dapat dilihat dari sumbangan sektor ekonomi pada pendapatan dan kesempatan kerja. Pada tahun 1971 sumbangan sektor pertanian pada pendapatan daerah (Produk Domestik Regional Bruto) mencapai 59,3 persen dan menurun tajam menjadi 21,5 persen pada tahun 2006 (lihat tabel 1). Dipihak lain sumbangan sektor jasa, dimana pariwisata merupakan bagian didalamnya, menyumbang 31,8 persen pada tahun 1971 dan meningkat dua kali menjadi 63,0 persen pada tahun 2006. Sedangkan sektor manufaktur sumbangannya relatif kecil yaitu hanya 8,9 persen dan naik menjadi 15,4 persen pada periode yang sama. Perbandingan pendapatan secara absolut tidak dilakukan karena data pendapatan tidak didasarkan pada tahun dasar yang sama, sehingga ukuran yang lebih relevan digunakan dalam membandingkan perubahan dari dua tahun yang berbeda adalah sumbangan relatifnya.

(2)

Tabel 1 PDRB Bali, dalam Jutaan Rupiah

Sektor Ekonomi 1971

HK1993

2006 HK2000

1971 (%)

2006 (%)

A 444,590 4.779,419 59,3 21,5

Pertanian 444,590 4.779,419 59,3 21,5

M 66,553 3.422,629 8,9 15,4

Pertambangan 13,004 137,571 1,7 0,6

Manufaktur 12,679 2.097,825 1,7 9,5

Utilitas 277 330,019 0,0 1,5

Konstruksi 40,592 857,214 5,4 3,9

S 238,340 13.982,631 31,8 63,0

Perdagangan, Hotel dan Restoran 105,734 6.830,202 14,1 30,8

Komunikasi 29,233 2.323,287 3,9 10,5

Keuangan 34,212 1.673,782 4,6 7,5

Jasa lainnya 69,162 3.155,360 9,2 14,2

Semua 749,483 22.184,679 100,0 100,0

Sumber: dihitung dari berbagai terbitan BPS

Hal yang serupa terjadi pada kesempatan kerja. Apabila di cermati sumbangan sektoral pada kesempatan kerja, penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 466.226 orang pada tahun 1971dan meningkat menjadi 663.016 orang pada tahun 2006 (lihat tabel 2). Namun, secara relatif sumbangannya terhadap total kesempatan kerja menurun dari 67,5 persen menjadi 35,4 persen pada periode tersebut. Sedangkan mereka yang bekerja di sektor Jasa meningkat lima kali dari 153.132 orang pada tahun 1971 menjadi 818.114 orang pada tahun 2006, atau dari 22,2 persen menjadi 43,7 persen. Di sektor manufaktur kesempatan kerja juga meningkat tajam dari 10,3 persen menjadi 20,8 persen pada periode yang sama.

Tabel 2 Tenaga Kerja Bali, dalam Orang

Sektor 1971 2006 1971

(%)

2006 (%)

A 466.226 663.016 67.5 35.4

Pertanian 466.226 663.016 67.5 35.4

M 71.211 389.158 10.3 20.8

Pertambangan 7.215 2.257 1.0 0.1

Manufaktur 43.541 250.613 6.3 13.4

Utilitas 471 8.718 0.1 0.5

Konstruksi 19.984 127.570 2.9 6.8

S 153.132 818.114 22.2 43.7

Perdagangan, Hotel dan Restoran 77.737 403.612 11.3 21.6

Komunikasi 10.684 74.129 1.5 4.0

Keuangan 3.565 69.422 0.5 3.7

Jasa lainnya 61.146 270.951 8.9 14.5

Semua 690.569 1870.288 100.0 100.0

Sumber: dihitung dari berbagai terbitan BPS

(3)

Dari ke dua fakta tersebut, dari sisi pendapatan dan kesempatan kerja, dapat diambil kesimpulan tentang perubahan mendasar perekonomian daerah Bali dalam kurun waktu yang cukup panjang. Pertama, sumbangan relatif sektor Pertanian pada pendapatan dan kesempatan kerja menurun, sedangkan sumbangan sektor Jasa dan manufaktur meningkat dimana peningkatan sektor Jasa jauh lebih besar. Kedua, pertumbuhan pendapatan dan kesempatan kerja pada sektor Pertanian lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada sektor Jasa dan sektor Manufaktur. Ini memberikan implikasi bahwa dalam jangka panjang sektor Pertanian memberikan ruang gerak yang semakin sempit dalam menunjuang pembangunan. Dengan demikian, strategi yang perlu dilakukan pada sektor Pertanian adalah lebih meningkatkan kualitas daripada kuantitas (produksi). Peningkatan kualitas produk mempunyai dampak pada peningkatan harga yang layak, sedangkan peningkatan mutu tenaga kerja dapat meningkatkan upah serta peluang usaha yang lebih luas. Dengan demikian, sumbangan pertanian baik pada pendapatan maupun kesempatan kerja akan meningkat.

Tren penurunan sumbangan relatif sektor pertanian ini tidak hanya terjadi di Bali tetapi merupakan fenomena umum di seluruh dunia. Perubahan ini merupakan fenomena yang wajar, dialami hampir oleh negara-negara sedang membangun yang secara historis pola ini juga ditempuh oleh negara-begara yang sekarang tergolong maju.

Makin maju suatu negara dibandingkan negara lainnya maka sumbangan sektor pertanian pada pendapatan dan kesempatan kerja menurun, demikian pula hal yang sama terjadi secara historis dimana semakin bertumbuh suatu negara dari tahun ke tahun, maka peranan sektor pertaniannya makin kecil. Misalnya, pada tahun 2003, sumbangan sektor pertanian terhadap pendapatan total di Australia hanyalah 4 persen, sedangkan sumbangann sektor industri dan jasa masing-masing 26 persen dan 71 persen (World Bank, 2004); sedangkan tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian pada tahun 2000 hanyalah 6 persen untuk laki-laki dan 4 persen untuk wanita; di Jepang masing-masing angka tersebut 5 persen dan 6 persen (World Bank, 2002).

Ini berarti, kemajuan secara ekonomis ditandai oleh menurunnya peran sektor pertanian dan meningkatnya peran sektor jasa serta mendatarnya peranan sektor manufaktur. Hanya saja yang terjadi di Bali agak unik, yaitu pola umum tersebut tidak terjadi dalam arti bahwa penurunan sektor pertanian tidak diikuti peningkatan sektor manufaktur yang sama besarnya tetapi justru sektor jasa yang meningkat pesat. Hal ini disebabkan karena di Bali tidak terdapat industri besar yang merupakan stimulus bagi pembangunan lainnya. Umumnya sektor jasa yang berkembang adalah pariwisata.

(4)

Dari perkembangan ekonomi yang disampaikan diatas, apabila dilihat dari sumbangan serta pertumbuhan sektoral, maka sektor potensial yang menonjol adalah jasa khususnya sektor perdagangan, hotel dan restoran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sektor unggulan daerah Bali yang perlu mendapat penanganan dalam pengembangkan perekonomian daerah adalah sektor pariwisata yang ditunjang oleh pertanian dan manufaktur.

Pertanian dan Pariwisata: bukan pilihan

Sebelum terjadi peristiwa Bom Bali, pariwisata Bali menghadapi dua cobaan berat berturut-turut. Pertama, krisis ekonomi yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997, kedua, Pemilihan Umum 1999 yang sebelumnya ditandai dengan kerusuhan politik berskala nasional. Kilas balik situasi sebelum pemilu ternyata menunjukkan bahwa pariwisata Bali tidak banyak terpengaruh. Ini bisa disebabkan karena kejadian tersebut tidak sampai merenggut nyawa terutama wisatawan mancanegara (wisman).

Wisman yang datang ke Bali pada tahun 1998 normal dan bahkan pada awal tahun 1999 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Yang terjadi hanyalah distribusi wisatawan mancanagera yang datang mengalami perubahan yaitu mereka yang datang dari negara-negara Asia seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura mengalami penurunan sedangkan dari luar negara-negara tersebut mengalami peningkatan. Ini berarti pola distribusi permintaan luar negeri lebih banyak dipengaruhi oleh pendapatan dalam arti mereka yang negaranya dilanda krisis mengurangi pengeluarannya untuk berwisata. Sedangkan negara-negara yang tidak terlanda krisis yaitu Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia Pasifik justru krisis ekonomi di Indonesia telah membuat daya beli Negara-negara tersebut semakin kuat sehingga kecenderungan untuk datang ke Indonesia juga meningkat.

Dari sisi penawaran juga tampak bahwa penunjang sektor pariwisata meningkat dalam masa krisis. Misalnya jumlah rumah makan meningkat lebih dari 30 persen yaitu dari 591 buah pada tahun 1998 menjadi 836 buah pada tahun 2002 terutama di daerah Kuta dan Nusa Dua dengan jumlah tempat duduk dari 46.793 menjadi 64.637 buah pada tahun yang sama. Demikian pula jumlah hotel berbintang meningkat dari 90 buah pada tahun 1997 menjadi 126 buah pada tahun 2001 yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Badung. Jumlah kamar hotel berbintang meningkat lebih dari 3000 kamar dari 13.938 kamar pada tahun 1996 menjadi 17.027 kamar pada tahun 2000. Bahkan

(5)

jumlah biro perjalanan wisata juga mengalami peningkatan cukup tajam yaitu dari 263 buah pada tahun 1998 menjadi 320 buah pada tahun 2002. Peningkatan terus terjadi sampai tahun 2006 jumlah hotel berbintang menjadi 147 dan non-bintang berjumlah 1.488 buah. Dengan demikian faktor eksternal dari sisi permintaan tidak mengalami gangguan berarti sampai tahun 1999 dan faktor internal dari sisi penawaran justru mengalami peningkatan.

Namun, peristiwa Bom Bali pada bulan Oktober 2002 yang merenggut 202 jiwa ternyata membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pariwisata Bali. Indikator ini dapat dilihat dari menurunnya jumlah wisman sebesar 22,6 persen pada tahun 2003 (lihat tabel 3). Dampaknya berbeda dengan peristiwa yang murni hanya bersifat domestik, yaitu meskipun terjadi krisis ekonomi dan pemilu tahun 1999 yang diikuti oleh kerusuhan politik di Bali, tingkat hunian dan rata-rata lama menginap wisman umumnya nampak stabil sampai pada tahun 2001. Tetapi, pada tahun 2002, 2005 dan 2006 tingkat hunian rata-rata menurun setelah terjadi peristiwa Bom Bali. Angka rata- rata tingkat hunian yang menurun sekitar 4 persen poin pada tahun-tahun tersebut sesungguhnya menggambarkan telah terjadi penurunan yang sangat signifikan sejak bulan Oktober 2002. Jumlah kedatangan wisman menurun dramatis pada tahun 2003.

Pemulihan relatif cepat terjadi, yaitu pada tahun 2004 wisman yang datang naik drastis sebesar 1.46 juta orang atau meningkat 46,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, penurunan kembali terjadi dua tahun berikutnya karena Bom Bali II. Tahun 2007 kedatangan wisman berangsur-angsur pulih kembali.

Tabel 3 Jumlah Kedatangan Wisman ke Bali, 1999-2007 Tahun Wisman (orang) Pertumbuhan (%)

1999 1.355.799

2000 1.376.839 1,6

2001 1.358.592 -1,3

2002 1.286.555 -5,3

2003 995.272 -22,6

2004 1.460.420 46,7

2005 1.388.984 -4,9

2006 1.262537 -9,1

2007* 1.518.665 20,3

Sumber: Diparda Tingkat I Bali, 2004.

Keterangan: * sampai bulan November

(6)

Beberapa peristiwa besar yang menghantam Bali di sektor pariwisata layak menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan di masa datang. Pertama, kedatangan wisman lebih dominan ditentukan oleh faktor keamanan domestik terutama yang menyangkut langsung dengan keamanan mereka; dan kedua, Bali masih menjadi daerah tujuan menarik bagi wisman mengingat fluktuasi penurunan kedatangan tidak berlangsung dalam waktu relatif panjang. Demikian pula, diselenggarakannya beberapa peristiwa penting dan besar berskala dunia menunjukkan kepercayaan yang diberikan oleh pihak luar sangat besar, kepercayaan mana merupakan modal sosial yang perlu dipertahankan. Apabila dibandingkan dengan daerah tujuan wisata pesaing di Asia, Bali masih kalah bila diukur dari kedatangan jumlah wisman. Ini menunjukkan bahwa potensi di sektor pariwisata masih besar. Pesaing potensial yang masih lelap tertidur karena faktor politik adalah Myanmar yang mempunyai daya tarik cukup banyak, mulai dari unsur alamnya, artefak, keamanan, harga-harga, sampai masyarakatnya.

Bila dicermati aktifitas di sektor pertanian dan pariwisata sejak empat dekade, maka pengembangan dapat dilakukan secara serentak di ke tiga sector utama (pertanian, pariwisata, dan manufaktur), bukan pilihan dalam arti penekanan lebih ditekankan pada salah satu sektor dengan mengabaikan sektor lainnya. Wacana yang berkembang setelah bom Bali adalah adanya beberapa pendapat yang menginginkan agar pemerintah kembali ke strategi pengembangan sektor Pertanian sebagai sektor utama dengan argumentasi bahwa sektor Pariwisata sangat rentan terhadap keamanan, disamping hasil yang diperoleh tidak dinikmati oleh masyarakat luas secara merata. Argumentasi ini tentunya sangat lemah, mengingat gejolak-gejolak yang terjadi sifatnya hanyalah temporer sedangkan pembangunan bersifat jangka panjang. Kalaupun terjadi pembangunan yang tidak merata, hal itu bukan disebabkan karena sektor pariwisata per se tetapi karena kebijakan pemerintah yang belum tepat. Seperti disampaikan oleh Robinson dan Meaton (2005), tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan setelah peristiwa bom Bali adalah konsolidasi dan memusatkan pada penyelesaian persoalan konflik perbedaan yang justru terjadi dalam masyarakat Bali sendiri, bukan antara dalam dan luar. Peristiwa bom Bali tidak direspon dengan kekerasan oleh masyarakat tetapi sebaliknya dengan upacara pembersihan. Masyarakat di Kuta bahkan menginginkan supaya keadaan segera pulih kembali karena setiap orang di Kuta menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Menurut WTO, prospek pariwisata di masa depan cerah, dimana pariwisata menyumbang 35 persen dari ekspor jasa dunia dan 70 persen ditujukan ke negara berkembang. Kedatangan wisatawan internasional mencapai

(7)

898 juta orang dan bertumbuh rata-rata 6,5 persen per tahun sampai tahun 2007 sejak tahun 1950.

Sebagai suatu contoh perbandingan, bahwa dampak kegagalan tanaman jeruk sebagai akibat penyakit CVPD juga cukup parah, bahkan belum teratasi sampai sekarang. Disamping itu, di Indonesia, Bali merupakan satu-satunya provinsi yang memiliki tenaga professional di bidang pariwisata yang paling banyak, yang mana hal ini merupakan pendukung pembangunan sebagai dasar menuju masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Dengan demikian, tidaklah mungkin bagi Bali untuk kembali ke sektor pertanian hanya karena peristiwa temporer, dengan mengabaikan sektor pariwisata. Persoalannya sekarang, produk pariwisata apakah yang perlu dikembangkan?

Produk Pariwisata Budaya

Pariwisata budaya (kultural tourism) adalah pariwisata yang produk intinya (core product) budaya, dimana wisatawannya adalah seseorang yang mengunjungi atraksi pariwisata budaya, meliputi antara lain: museum, galeri seni, pertunjukan seni, festival, tempat bersejarah dan monumen, serta hasil karya masyarakat setempat.

Pariwisa budaya merupakan inti daripada produk pariwisata serta merupakan alasan utama kenapa wisatawan datang ke negara yang menawarkan pariwisata budaya (Swarbrooke dan Horner, 1999). WTO mengestimasi pariwisata budaya meliputi 37%

dari semua perjalanan dan pertumbuhannya mencapai 15% per tahun.

Payung lain daripada pariwisata budaya adalah pariwisata berkelanjutan (sustainable development) yang muncul untuk merespon akibat negatif daripada pariwisata masal (mass tourism). Dalam perkembangannya, jenis pariwisata ini juga masih diperdebatkan, yaitu sejauh mana memang ditujukan bagi pelestarian lingkungan.

Ketidakjelasan ini memungkinkan para pelaku menggunakan pariwisata berkelanjutan hanya sebagai tipuan pemasaran (Langsing and Paul De Vries, 2007). Di Bali pariwisata berkelanjutan direspon dengan mengenalkan pariwisata ramah lingkungan (eco- tourism). Namun, apabila di cermati, produk pariwisata yang disebut pariwisata lingkungan juga belum jelas identitasnya serta tidak mendapat penanganan yang mendalam dari pemerintah. Pada tingkat ini, kita hanyalah baru pada tahap menyebut nama produk.

Kemampuan Bali bertahan dari pengaruh negatif asing telah membuat pariwisata tidak merusak budaya Bali. Menurut Lieater dan De Meullenaere (2003) kedayatahanan

(8)

Bali salah satunya disebabkan lembaga sosial seperti banjar, subak, dan pemaksan memiliki sistem yang sangat kuat yaitu penggunaan dua macam alat tukar. Yang pertama adalah mata uang rupiah sebagai alat tukar konvensional dan yang kedua adalah ayahan banjar (pada makalahnya penulis menggunakan sebutan Nayahan Banjar). Ayahan banjar merupakan alat bayar yang berupa layanan waktu. Hubungan ke dua alat bayar ini oleh Lieater dan De Meullenaere disebut Yang (mata uang rupiah) dan Yin (Ayahan Banjar) yang keduanya merupakan hubungan satu dengan lainnya.

Hubungan yang fleksibel dan dan harmonis ini membuat kebudayaan mampu bertahan dari pengaruh luar.

Pariwisata di Bali mempunyai sifat yang spesifik, yaitu pemerintah daerah menetapkan sebagai pariwisata yang bernafaskan kebudayaan sehingga pariwisata di Bali disebut dengan Pariwisata Budaya dan bukan Industri Pariwisata. Karena pariwisata didasarkan pada kebudayaan setempat maka pengembangannya didasarkan pada prinsip Pariwisata untuk Bali dan bukan Bali untuk Pariwisata (Mantra, 1992: 3- 4). Persoalannya adalah, kebudayaan Bali yang bagaimanakah mempunyai kaitan dengan pembangunan khususnya pariwisata? Prof Mantra (1992: 9-13) mengemukakan bahwa kebudayaan Bali mempunyai dua struktur, yaitu struktur dalam dan struktur luar.

Struktur dalam merupakan inti pembentukan serta kepribadian kebudayaan sebagai perpaduan antara tradisi dengan agama Hindu yang berintikan agama, estetika dan solidaritas. Struktur luar, merupakan refleksi dari pada respon terhadap perkembangan dunia luar. Respon ini merupakan proses adaptasi yang dinamis terhadap perubahan yang dihadapi masyarakat Bali yang disesuaikan dengan adagium desa, kala, patra (tempat, waktu, keadaan). Selanjutnya menurut Prof Mantra, struktur luar kebudayaan Bali relatif lebih cepat berubah dibandingkan dengan struktur dalam. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan Bali dinamis serta adaptif terhadap perubahan.

Meskipun kebudayaan Bali dinamis, namun karena pengaruh struktur dalam perkembangan kebudayaan Bali tidak menyimpang dari dari beberapa konsep yang mendasari kebudayaan tersebut. Konsep tersebut antara lain: (1) Dualistik atau Rwa Bhineda, yaitu pengakuan tentang adanya dua kekuatan yang berlawanan secara abadi;

(2) Keselarasan; (3) Solidaritas; (4) Karma pala, yaitu suatu keyakinan terhadap perbuatan yang akan memperoleh hasil setimpal; dan (5) Desa, kala, patra yaitu suatu pandangan terhadap kenyataan adanya keragaman dalam kesatuan. Hal ini menunjukkan kelenturan kebudayaan Bali bahwa perubahan yang datang dari luar selalu disaring dengan konsep ini.

(9)

Eksistensi kebudayaan Bali berlangsung karena adanya dukungan sistem sosial yang mapan yang dibentuk atas dasar konsep Tri Hita Karana. Konsep ini mengandung filsafat keselarasan yaitu keselarasan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya. Dengan adanya konsep ini yang didasari oleh struktur dalam (agama, estetika, dan solidaritas), maka kebudayaan Bali telah membuktikan kemampuannya menghadapi perubahan-perubahan yang datang dari luar, karena sifatnya yang luwes, adaptif, dinamis, serta kreatif sehingga suatu pembaharuan tidak harus terjadi dengan menanggalkan nilai-nilai hakikinya (Mantra, 1992: 12).

Atas dasar tersebut maka produk pariwisata yang ditawarkan sepatutnya produk budaya, yaitu produk intinya adalah budaya; namun, pertanyaannya adalah bagaimana karakteristiknya? Kebudayaan adalah ide komunitas tentang apa yang benar, baik, indah, dan efisien; atau, kebudayaan memiliki tujuan, nilai, dan gambaran dunia (Harrison dan Huntington, 2000: 163). Kebudayaan meliputi nilai-nilai bersama, pemahaman, asumsi-asumsi, dan tujuan hidup yang dipelajari dari generasi sebelumnya, digunakan (dikembangkan) oleh generasi sekarang, dan diwariskan pada generasi mendatang (Deresky, 2000: 105). Hofstede (1997, 4-5) menyebut kebudayaan sebagai mental software atau culture two, yang merupakan fenomena kolektif dirasakan oleh masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sama. Determinan kebudayaan antara lain: agama, struktur sosial, bahasa, kekerabatan, dan sebagainya.

Budaya ibarat bawang, lapis paling luar adalah produk budaya, yang merupakan ekspresi daripada nilai dan norma yang merupakan lapisan dalam bawang, serta lapis yang paling dalam merupakan asumsi implisit yang di anut oleh masyarakat yang lebih sulit diidentifikasi. Norma (aturan, prinsip atau standar) merupakan pandangan masyarakat tentang sesuatu yang ‘benar’ dan ‘salah’, sedangkan nilai tentang sesuatu yang ‘baik’ dan ‘buruk’. Ke tiga lapisan tersebut merupakan paradigma hidup yaitu seperangkat aturan dan ketentuan tertulis atau tak tertulis yang menentukan batas-batas masyarakat untuk berperilaku. Produk dan artefak seperti bangunan tradisional Bali, karya seni, cara bernegosiasi, dan sebagainya merupakan manifestasi daripada nilai dan norma. Budaya ibarat bawang yang berlapis dimana lapisan paling luar adalah artefak dan produk tampilan, lapisan lebih dalam lagi adalah nilai dan norma dan yang paling inti adalah asumsi implisit yang diyakini oleh masyarakat.

Sementara ini yang nampak ditawarkan adalah produk inti lapisan paling luar, yaitu hasil karya budaya, sedangkan karakter dan perilaku masyarakat sebagai

(10)

supporting product terhadap core product makin lama makin kabur karena sifatnya yang memang boleh tidak ada atau tidak diperlukan. Itulah sebabnya sekarang banyak produk kerajinan yang tidak dikerjakan dan dihasilkan oleh penduduk lokal, yang sama sekali tidak mempunyai sentuhan seni mereka. Bahkan sesajen (banten) pun dihasilkan oleh orang luar Bali. Kecendrungan ini di masa depan semakin kuat sebab produk budaya lapisan paling luar bukanlah produk yang dihasilkan karena keturunan, tetapi karena dipelajari.

Nama pariwisata budaya (cultural tourism) sebagai suatu produk yang ditetapkan oleh pemerintah berkembang dengan cepat dan sangat beragam antara lain:

pariwisata konvensi (convention tourism), pariwisata spiritual (spiritual tourism), pariwisata desa (village tourism), pariwisata lingkungan (eco-tourism), pariwisata bahari (marine tourism), pariwisata subak (traditional irrigation tourism). Menurut Picard (1996: 164) pariwisata budaya sekarang hanya menjadi salah satu bagian dari berbagai jenis pariwisata, bukan merupakan bagian utama seperti yang dicanangkan oleh pemerintah.

Konsep masing-masing jenis produk pariwisata ini sama sekali tidak jelas, sehingga menawarkannyapun menjadi sulit. Misalnya, wisman yang datang ke Bali untuk menghadiri pertemuan, misalnya di Ubud, kemudian pada waktu senggang pergi ke Tanjung Benoa mencoba parasailing yang dalam perjalanannya sempat menikmati keunikan saluran irigasi yang lingkungannya berisi tugu kecil, dan setelah kembali dari perjalanan, karena penat, kemudian menenangkan diri yang dibimbing oleh pemandu spiritual; maka ini berarti dalam sehari wisman tersebut menikmati produk pariwisata desa, pariwisata konvensi, pariwisata subak, pariwisata lingkungan, pariwisata bahari, dan pariwisata spiritual; secara keseluruhan dia telah mengonsumsi pariwisata budaya.

Pertanyaannya adalah, siapa yang menjual produk tersebut dengan implikasi harus memasarkannya, dan apakah wisatawan yang datang memang benar-benar karena budaya? Sejauh ini kita belum memiliki segmentasi tersebut. McKercher (2002) mengidentifikasi lima jenis wisatawan budaya, yaitu the purposeful kultural tourist, the sightseeing cultural tourist, the casual cultural tourist, the incidental cultural tourist, dan screndipitous cultural tourist, dimana yang pertama merupakan wisatawan yang tergolong mempunyai motivasi utama untuk wisata budaya, dan jenis yang ke dua motivasinya sedikit lebih rendah dari yang pertama. Penelitiannya di Hong Kong menghasilkan bahwa hanya 13,4 persen dari wisatawan yang benar-benar berkunjung dengan motivasi budaya (Kercher dan Hilary du Cross, 2003).

(11)

Selain produk pariwisata budaya seperti disampaikan diatas, Bali juga menawarkan produk pariwisata lainnya berupa produk kerajinan yang berkembang pesat. Pada tahap awal perkembangan pariwisata, sektor industri kerajinan belum bertumbuh seperti sekarang. Masyarakat di daerah perdesaaan yang pekerjaan utamanya adalah pertanian memanfaatkan industri kerajinan sebagai pekerjaan tambahan (off-farm income). Produk yang dihasilkan sangat erat terkait dengan budaya dan lingkungan setempat. Dengan perkembangan pariwisata yang demikian pesat, mereka yang melihat peluang tersebut menjadikan industri kerajinan sebagai pekerjaan utama meskipun mereka masih kuat ikatannya dengan pertanian. Bentuk produk kerajinanpun tidak lagi sepenuhnya bernafaskan budaya dan lingkungan lokal tetapi sudah dipengaruhi oleh permintaan dan selera luar (pembeli) yang istilah ekonominya ditentukan oleh kekuatan pasar, suatu hal yang dulu sangat ditakutkan akan terjadinya degradasi nilai seni. Pusat- pusat industri kerajinan berkembang dan masyarakat yang berkecimpung dalam bidang ini semakin luas dan kompleks. Kaitan kebelakang dan kedepan (backward dan forward linkage) semakin jelas. Ke belakang terjadi spesialisasi produk seni yang prosesnya seperti dunia industri moderen, yaitu spesialisasi bahan material, pembentukan, pewarnaan, penghalusan dan sebagainya yang dulu semuanya dikerjakan oleh orang yang sama. Ke depan pelibatan suprastruktur moderen juga berkembang, seperti penggunaan cargo, kartu kredit, fasilitas ekspor/impor dan sebagainya. Intinya, kerajinan yang dulunya dikelola secara tradisional sekarang menjadi organisasi moderen dimana kandungan pengetahuan (knowledge) atas produk yang diciptakan semakin banyak. Ini merupakan salah satu ciri daripada ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Nilai tambah yang diberikan oleh faktor produksi yang berbasis pengetahuan jauh lebih besar daripada nilai tambah yang hanya menghandalkan kekuatan fisik saja. Ini berarti salah satu kebijakan yang perlu memperoleh prioritas di bidang industri dan kerajinan adalah peningkatan pengetahuan melalui pendidikan atau kegiatan sejenis yang diberikan pada para pelaku ekonomi di bidang terkait. Ke depan, produk pariwisata budaya ini akan mempengaruhi perilaku masyarakat setempat bahkan gaya hidup mereka.

(12)

Peranan Pemerintah

Keberhasilan pembangunan khususnya pariwisata sangat tergantung pada peran pemerintah. Bank Dunia (1997) dalam laporannya tentang peranan negara dalam dunia yang berubah menyampaikan pentingnya pemerintah melaksanakan hal-hal yang mendasar. Tugas pertama Negara adalah melaksanakan hal-hal yang fundamental berjalan dengan benar, antara lain: penetapan dasar hukum, mempertahankan kebijakan yang tidak terdistorsi, investasi pada layanan sosial dan infrastruktur, melindungi masyarakat yang rentan, serta melindungi lingkungan. Hal yang sama hendaknya juga dilakukan oleh pemerintah daerah dalam memperlancar jalannya pembangunan, antara lain:

Pertama, penegakan hukum yang menjamin kepastian dalam hak kepemilikan maupun berusaha. Para investor akan ragu menanamkan modalnya apabila mereka tidak memiliki jaminan dalam berusaha yang sepatutnya disediakan oleh pemerintah. Di sektor pariwisata banyak kasus terdengar bahwa para investor harus menghadapi biaya tinggi dalam melaksanakan operasinya, seperti pungutan yang dilakukan oleh lembaga atau yang mengatasnamakan kelompok di sekitar wilayah operasinya. Pemerintah hendaknya menertibkan tindakan pungutan ilegal yang berdampak negatif bagi para investor. Kasus yang belum tuntas adalah radius kesucian pura. Aturan yang tidak pasti hanyalah menimbulkan konflik serta beakibat keraguan maupun keengganan pebisnis dalam berusaha. Adanya bangunan dalam radius kesucian yang sebelumnya dianggap telah ditetapkan menunjukkan lemahnya pelaksanaan perencanaan dan hukum.

Kedua, keamanan dalam arti luas. Keamanan bukan hanya melindungi Bali dari serangan bom teroris, tetapi dari kegiatan sehari-hari yang dapat mencemaskan warga maupun wisatawan karena frekuensi kejadian serta intensitasnya yang meningkat.

Misalnya, keamanan lalu lintas yang merenggut banyak korban karena lalu lintas yang semrawut dan nyaris tanpa aturan, keamanan dalam bertransaksi seperti pada penukaran uang asing dimana para wisatawan sering menjadi korban, keamanan dalam mengkonsumsi makanan, dan sebagainya. Keamanan dalam mengkonsumsi makanan sepatutnya sudah menjadi perhatian serius dari pemerintah khususnya dinas kesehatan.

Kebijakan dan tindakan di bidang ini merupakan salah satu cara dalam mendistribusikan pendapatan di sektor pariwisata. Sementara ini yang menikmati pendapatan dari pengeluaran wisatawan untuk makanan sebagian besar restoran besar dan hotel. Hal ini masuk akal karena wisatawan lebih merasa terjamin kesehatannya apabila mengkonsumsi makanan di tempat tersebut. Di Singapura wisatawan makan di rumah

(13)

makan kecil dan kaki lima karena jaminan kesehatannya. Di Malaysia pemerintah mempromosikan makanan kaki lima tapi disertai pengawasan kesehatan yang lebih baik. Pemerintah daerah sepatutnya sudah mulai memberikan bantuan pada pedagang kecil agar mereka dapat menjajakan makanan yang bersih dan sehat. Jaminan kesehatan ini tentunya akan membuat wisatawan berpaling pada pedagang kecil yang umumnya makanannya dipandang lebih otentik. Kesehatan juga menyangkut layanan rumah sakit yang setidaknya memiliki standar internasional. Kelemahan dalam hal ini juga menjadi salah satu penyebab kenapa perusahaan asuransi asing tidak begitu percaya pada peristiwa yang terjadi yang menurut mereka sepatutnya dapat diantisipasi lebih awal.

Ketiga, pembangunan infrastruktur. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas infrastruktur karena pembangunannya tidak bersifat mencari keuntungan (non profit motive) yang disediakan untuk memperlancar kegiatan ekonomi, seperti jalan, taman, irigasi, pelabuhan, bandara, lingkungan, dan sebagainya. Keadaan infrastruktur di Bali pada umumnya masih tergolong buruk, terutama bagi pengembangan pertanian dan pariwisata. Misalnya, subak kurang diberdayakan padahal dicanangkan sebagai salah satu produk pariwisata, demikian juga fasilitas umum bagi masyarakat maupun di daerah pariwisata masih jauh dari standar, bahkan jalan-jalan di daerah pariwisata sangat memprihatinkan kondisinya. Demikian pula fasilitas informasi di daerah tujuan wisata serta fasilitas umum masih sangat kurang. Angkutan umum secara reguler yang disediakan bagi wisatawasan seperti di negara maju dapat dikatakan tidak ada kecuali di Nusa Dua resort.

Ke empat, promosi. Bila dibandingkan dengan promosi pariwisata yang dilakukan negara tetangga, apa yang dilakukan oleh pemerintah masih jauh dari efektif.

Kecilnya dana yang tersedia dapat dipahami tetapi hal ini bisa diatasi dari sisi efektivitas promosi yang dilakukan, yaitu apakah sasarannya sudah jelas dan persepsi sudah sama dengan sasaran yang dituju. Misalnya, Bali’s branding dan tagline Shanti, Shanti, Shanti, mungkin dapat dipahami oleh masyarakat Bali tetapi sulit dipahami oleh masyarakat luar Bali terutama orang asing, Pemerintah membuat asumsi yang terlalu kuat, yaitu apa yang di persepsikan pemerintah sudah sama dengan yang di persepsikan wisatawan. Mungkin diperlukan satu generasi agar tagline ini dapat dipahami, itupun kalau dilakukan promosi dengan gencar dan terus menerus.

(14)

Penutup: Pariwisata Sebagai Pendukung Masyarakat Berbasis Pengetahuan Bali yang luasnya relatif kecil tidak dapat seterusnya menggantungkan hidupnya pada sumber alam, dimana pertanian merupakan salah satu sektor yang komponen sumber alamnya sangat besar. Bali ke depan hendaknya di arahkan pada bentuk masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Pertumbuhan penduduk yang masih positif dengan ragam kebutuhan yang semakin luas akan membuat setiap kegiatan baru yang secara fisik membutuhkan sumber daya alam dapat mengancam eksistensi pertanian. Lahan sawah yang pada tahun 2001 seluas 84.841 hektar manjadi 80.997 hektar pada tahun 2006, atau terjadi mutasi 4,53 persen dalam waktu 5 tahun.

Karenanya, sektor pertanian harus dibangun seoptimal mungkin melalui peningkatan kualitas produk dan kualitas sumberdaya manusianya. Ini dapat dilakukan melalui temuan-temuan baru atau inovasi dengan cara melakukan penelitian yang lebih intensif untuk keunggulan produk serta pelatihan maupun pendidikan untuk peningkatan kualitas manusia. Pemerintah (daerah) dalam hal ini patut berperan aktif mulai dari membangun infrastruktur maupun pengembangan litbang. Sejarah telah menunjukkan bahwa hanya dengan inovasi suatu masyarakat dapat keluar dari kemelut keterbelakangan. Apabila ini dapat dilaksanakan, maka proporsi sumber alam yang digunakan semakin sedikit karena proporsi pengetahuan (knowledge) yang terkandung pada produk dan manusianya semakin tinggi.

Sektor pariwisata memiliki kandungan pengetahuan yang proporsinya jauh lebih besar karena yang dijual adalah jasa sehingga aktivitasnya tidak perlu mengeksploitasi alam apabila yang diunggulkan adalah produk pariwisata budaya. Keunggulan yang dimiliki hendaknya dikembangkan, yaitu budaya yang tidak hanya lapisan luarnya berupa artefak atau karya seni manusia tetapi juga karakternya, nilai-nilai yang dimiliki yang positif bagi pembangunan dimana hospitality adalah salah satunya.

Dengan demikian pembangunan pertanian dan pariwisata bukanlah pilihan, bukan mutually exclusive tetapi co-exist, sehingga strategi kembali ke pertanian dengan mengabaikan pariwisata tidaklah tepat, bahkan dapat menyesatkan.

(15)

Referensi

Bank Indonesia. Nopember 2007. Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Provinsi Bali.

Vo.7 No.11. Bank Indonesia, Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter, Jakarta.

Bendesa, I K. G. Prospek Pariwisata dan Industri Kerajinan di Bali. Makalah disampaikan pada Temu Saudagar Senusantara di Denpasa, 17 Februari 2008.

BPS Provinsi Bali. Desember 2007. Statistik Ketenagakerjaan Propinsi Bali 2006.

BPS Provinsi Bali. November 2007. Luas Lahan Provinsi Bali Menurut Penggunaannya 2006. Katalog BPS: 5232.51

Harrison, L. E. and Samuel P. Huntington (eds). 2000. Culture Matters: How Values Shape Human Progress. Basic Books. New York.

Hofstede, G. 1997. Cultures and Organizations: Software of the Mind. McGraw-Hill New York.

Lansing, P. and Paul De Vries. Sustainable Tourism: Ethical Alternative or Marketing Ploy? Journal of Business Ethics. 2007; 72:77-85.

Lietaer B. and Stephen De Meulenaere. International Journal of Social Economics.

2003; 30, 9/10: 967-984.

Mantra, I. B. 1992. Bali, Masalah Sosial Budaya dan Modernisasi, Upada Sastra, Denpasar.

McKercher, B. Towards a Classification of Cultural Tourists. International Journal of Tourism Research. Jan/Feb 2002; 4, 1: 29-38.

McKwercher B. and Hilary du Cros.. Testing a Cultural Tourism Typology.

International Journal of Tourism Research. Jan/Feb 2003; 5, 1: 45-58.

Picard, M. 1996. Bali, Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago. Singapore.

Robinson, A. J. and Julia Meaton. Bali Beyond the Bomb: Disparate Discourses and Implications for Sustainability. Sustainable Development. April 2005;13, 2: 69-78.

Swarbrooke, J. and Susan Horner. 1999. Consumer Behaviour in Tourism. Butterworth- Heinemann. Oxford.

The World Bank. 1997. World Development Report 1997: The State in a Changing World. Oxford University Press. Oxford

The World Bank. 2002. World Development Indicators 2002. The World Bank, Washington.

The World Bank. 2004. World Development Report 2005: A Better Investment Climate for Everyone. Oxford University Press. Oxford.

Trompenaars, F and Charles Hampden-Turner. 1998. Riding the Waves of Culture:

Understanding Diversity in Global Business. Second Edition. McGraw-Hill. New York.

Referensi

Dokumen terkait

Dunia kritik sastra di Indonesia didominasi hampir secara mutlak oleh kritik dan penapisan struktural sehingga tidak ada kontribusinya yang relevan dengan

Konsep kewarganegaraan dhimmi adalah warga negara non muslim dalam praktik kehidupan negara mendapat perlakuan istimewa yang tidak sama, dan perlakuan berbeda didasarkan

Sebaliknya, pernyataan bahwa cadar dalam Islam tidak diwajibkan atas wanita sehingga seorang muslimah tidak wajib menutupi wajahnya secara mutlak (boleh dikenakan,

Organisasi Pariwisata Dunia mendefinisikan wisatawan sebagai orang yang “perjalanan dan tinggal di tempat-tempat di luar lingkungan yang biasa mereka selama lebih dari 24 jam

Ekonomi mikro konvensional didasarkan pada perilaku individu yang terjadi di setiap unit ekonomi yang ditandai oleh tidak adanya batasan syari’ah. Perilaku individu tersebut

Hal ini didasarkan pada beberapa alasan yaitu: (a) pengembangan sektor pertanian dan sektor agroindustri meng- hasilkan komoditi bahan kebutuhan pokok yang mencukupi

Untuk ukuran partikel titik hujan yang sama dengan nilai permitivitas air absolut 1,33, didapat bahwa semakin besar frekuensi yang digunakan, semakin besar pula.

Catering dengan ukuran pesanan 5-15 orang (biasanya yang sepaket dengan homestay informal) umumnya tidak menggunakan bantuan tenaga kerja, sehingga pendapatan