Buku ini juga mengupas tentang kepemimpinan dan pengambilan keputusan serta peran komite sekolah/madrasah yang bersinergi dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah. Teknik Peningkatan Mutu Pendidikan __95 BAB VII BUDAYA DAN IKLIM ORGANISASI SEKOLAH DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH __99.
PENDAHULUAN
Model MBS yang diujicobakan di Amerika memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Sebagaimana dikatakan Stonehill (1993), MBS merupakan strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mengalihkan kewenangan pengambilan keputusan dari pusat ke sekolah.
KONSEP DASAR MANAJEMEN
Pengertian Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah 1. Pengertian Manajemen
- Pengertian Sekolah/Madrasah
- Pengertian Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah
Kegiatan pengelolaan melibatkan sumber daya manusia dan non manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sementara itu, David (1989) mengartikan MBS sebagai otonomi sekolah yang disertai pengambilan keputusan partisipatif.
Sejarah Perkembangan Manajemen Berbasis Madrasah/
Para pengambil kebijakan mulai percaya pada paradigma baru, yaitu peningkatan kualitas pendidikan yang mendukung manajemen berbasis sekolah di berbagai negara, seperti program pemberdayaan sekolah untuk meningkatkan hubungan interpersonal dan kepemimpinan sekolah. Negara-negara lain hanya berfokus pada pemberian wewenang kepada sekolah dalam mengalokasikan dana dan sumber daya pendidikan, seperti di Australia (Schools of the Future), Kanada (School-Based Budgeting), dan Amerika Serikat (Charter Schools).
Tujuan Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah
Sekolah dapat bertanggung jawab atas mutu pendidikan: kepada negara, kepada orang tua siswa, dan kepada masyarakat pada umumnya. Levačič mendefinisikan tiga tujuan MBS, yang pertama adalah efisiensi, artinya dengan MBS proses peningkatan mutu pendidikan berlangsung secara efisien, terutama yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya manusia.
Rasionalitas Penerapan Manajemen Berbasis Madrasah/
Dengan kata lain manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah manajemen sekolah/madrasah yang bertujuan mengembalikan sekolah/madrasah kepada pemangku kepentingan semula dalam pendidikan yaitu masyarakat. Sedangkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah/madrasah secara hukum didasarkan pada: (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, (2) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan (3) Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Standar Pendidikan Nasional. Pendidikan Nomor 044 tentang Dewan Komite Pendidikan dan Sekolah.
Karakteristik Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah Manajemen Berbasis Sekolah memiliki beberapa
- Karakteristik Output
- Karakteristik Proses
- Karakteristik Input Pendidikan
1985) mengatakan bahwa keterlibatan orang tua siswa di sekolah sangat penting untuk menciptakan kedisiplinan yang efektif di sekolah. Dengan melibatkan orang tua di sekolah, seluruh komunitas sekolah merasa terkendali, sehingga kedisiplinan di sekolah bisa efektif.
PERBEDAAN MANAJEMEN BERBASIS
SEKOLAH/MADRASAH DENGAN MANAJEMEN BERBASIS PUSAT
Karakteristik Manajemen Berbasis Pusat
Sedangkan iklim sekolah adalah situasi dan suasana hubungan dalam lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi perilaku warga sekolah, termasuk guru dan staf sekolah. Enam profil iklim sekolah tersebut adalah: (1) iklim terbuka, (2) iklim otonom, (3) iklim terkendali, (4) iklim keluarga, (5) iklim ayah, dan (6) iklim tertutup.
Perbedaan Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah dengan Manajemen Berbasis Pusat
AKTIVITAS MANAJERIAL DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH/MADRASAH
Pengertian Aktivitas Manajerial
Sekilas pernyataan kuantitatif yang dibuat oleh Sergiovanni dan kawan-kawan mengenai tingkatan manajemen berbeda dengan yang dibuat oleh Gorton. Jadi, meskipun Sergiovanni dan kawan-kawan hanya memaparkan empat tingkatan manajemen, namun keempat tingkatan manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan secara konseptual sama dengan dua belas tingkatan manajemen yang dikemukakan oleh Gorton.
Implementasi Aktivitas Manajerial Dalam MBS/M
- Perencanaan (Planning)
- Pengorganisasian (Organizing)
- Penggerakan (Actuating)
- Pengawasan (Controling)
Connor (1974) mendefinisikan organisasi sebagai suatu kegiatan yang melayani proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keenam, seluruh rangkaian kegiatan dalam organisasi ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi. Mobilisasi pada dasarnya adalah menggerakkan orang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien.
Oleh karena itu dorongan ini berkaitan dengan kemampuan pemimpin dalam memberikan motivasi agar bawahan bekerja keras untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH/MADRASAH
- Pengertian Kepemimpinan
- Model dan Gaya Kepemimpinan
- Teori sifat (Traith Approach/Theory)
- Teori Perilaku Kepemimpinan (Behaviour Approach/Theory) Pendekatan kepemipinan yang berdasarkan teori sifat,
- Teori Atribusi Pemimpin
- Teori Kepemimpinan Kharismatik
- Teori Situasional
- Teori Transaksional dan Transformasional
- Kepemimpinan Partisipatif dalam Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah
- Tugas dan Fungsi Sekolah dalam Penyelenggaraan MBS/M Sebagai pengejahwentahan kepemimpinan kepala sekolah
Dua komponen menunjukkan perilaku manajemen berorientasi tugas, yaitu merancang tugas dan menetapkan tujuan. Kepemimpinan yang lebih sesuai dengan paradigma kepemimpinan berbasis sekolah/madrasah adalah gaya kepemimpinan partisipatif yang berorientasi pada tugas dan juga berorientasi pada hubungan antarmanusia. Berkaitan dengan manajemen partisipatif, kepala sekolah/madrasah harus mampu menunjukkan peran kepemimpinan yang baik.
Kepala sekolah sebagai mediator konflik merupakan peran yang memerlukan gaya kepemimpinan yang dapat menyelaraskan berbagai kepentingan dan menyesuaikan dengan tujuan organisasi sekolah/madrasah.
TEKNIK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH/MADRASAH
Pengertian Teknik
Metode adalah cara yang dipilih untuk bertindak (konteks pembelajaran: penyampaian materi atau materi) sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian Mutu
Mutu pendidikan merupakan sesuatu yang intangible (sesuatu yang tidak dapat disentuh), yaitu mutu pendidikan yang sulit diraba dan sulit diukur standarnya, kecuali dengan mengkuantifikasi segala sesuatunya. Mutu pendidikan dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi, sosial politik, sosial budaya, pendidikan dan dari sudut pandang proses globalisasi. Berdasarkan pengertian tersebut, mutu pendidikan dapat diterjemahkan ke dalam indikator kinerja yang dapat diukur dan dilaporkan.
Berdasarkan pengertian mutu dan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa produk pendidikan sekolah adalah layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.
Teknik Peningkatan Mutu Pendidikan
Dengan kata lain, penjaminan mutu berorientasi pada proses, artinya konsep ini mengandung jaminan bahwa proses yang berjalan sesuai standar. Pengendalian mutu merupakan suatu sistem untuk mendeteksi penyimpangan mutu keluaran yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Jadi harus dinilai kualitasnya apakah sudah sesuai dengan kewajiban yang tertuang dalam kontrak atau belum.
Jika dikaitkan dengan sekolah, maka mutu pendidikan harus sesuai dengan harapan penerima layanan pendidikan atau pelanggan pendidikan, baik pelanggan pendidikan internal maupun pelanggan pendidikan eksternal.
BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH DALAM
PERSPEKTIF MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Konsep Budaya dan Iklim Sekolah 1. Konsep Budaya Sekolah
- Konsep Iklim Sekolah
Steers (1984) menyatakan bahwa iklim organisasi dapat dilihat sebagai kepribadian organisasi dan dapat mempengaruhi perilaku organisasi. Lebih lanjut Owens (1995) menyatakan bahwa iklim organisasi adalah studi tentang persepsi individu yang memiliki berbagai aspek dalam organisasi. Pada tataran organisasi, iklim organisasi sekolah merupakan ciri sekolah yang berkesinambungan, yang membedakan sekolah yang satu dengan sekolah yang lain dan mempengaruhi perilaku individu.
Kedua, iklim organisasi sekolah dirasakan dan dialami oleh warga sekolah, baik secara individu maupun kelompok.
Karakteristik Budaya dan Iklim Sekolah 1. Karakteristik Budaya Sekolah
- Karakteristik Iklim Sekolah
Menurut Halpin dan Croft, karakteristik iklim sekolah terdiri dari dua dimensi, yaitu persepsi guru terhadap kepala sekolah dan persepsi guru terhadap guru. Dengan kata lain, Kepala Sekolah memberikan kebebasan kepada guru dan pegawai untuk membentuk struktur interaksi, sehingga mereka dapat memperoleh dan memenuhi kebutuhan sosialnya. Ciri-ciri kepala sekolah dalam iklim otonomi adalah: (1) mempunyai fleksibilitas pribadi yang tinggi, (2) memberikan dorongan kepada warga sekolah dengan perilakunya sebagai pekerja keras dan etos kerja, dan (3) ia mengontrol dan memperhatikan tingkat kesejahteraan guru, pegawai dan warga sekolah lainnya.
Ciri-ciri tersebut adalah: (1) Anggota kelompok kurang mendapat kepuasan kerja dan kebutuhan sosial, (2) Kepala sekolah tidak efektif dalam mengarahkan kegiatan guru, (3) Kepala sekolah tertutup, sedikit lurus dan suka menyendiri, (4) ) Partisipasi dan kerjasama antara guru dan kepala sekolah kurang baik, (5) kerja kolektif warga sekolah kurang baik, (6) Kepala Sekolah selalu mengedepankan hasil dan menetapkan aturan yang cenderung sewenang-wenang, dan (7) Kepala sekolah tidak memotivasi guru dan warga sekolah lainnya.
Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah
- Prinsip-Prinsip Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Budaya dan iklim sekolah yang efektif akan memberikan
- Model Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah
Kelima, orientasi kinerja.Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus diarahkan pada tujuan yang terukur (tangible). Komitmen pimpinan sekolah dan warga menentukan implementasi program pengembangan budaya dan iklim sekolah. Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus dibarengi dengan sistem penghargaan, meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang.
Pemimpin sekolah dapat mengembangkan metode evaluasi diri yang berguna dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM
- Konsep Dasar Pengambilan Keputusan
- Jenis Pengambilan Keputusan
- Pengambilan Keputusan Partisipatif
- Partisipasi Guru dalam Pengambilan Keputusan
Dalam konteks sekolah, idealnya pengambilan keputusan di sekolah melibatkan guru dan pemangku kepentingan lainnya. Ada dua keuntungan jika model pengambilan keputusan partisipatif diterapkan di sekolah: (1) pengambilan keputusan yang lebih baik dan (2) peningkatan pertumbuhan dan perkembangan organisasi (Owens, 1996). Pengambilan keputusan partisipatif di sekolah akan lebih hidup dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan sekolah jika didukung oleh perilaku kepala sekolah yang menggunakannya.
Pengambilan keputusan yang otoritatif adalah keputusan yang dibebankan oleh kepala sekolah kepada guru dan staf sekolah/madrasah.
STRATEGI PENERAPAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH/MADRASAH
Pengertian Strategi
Sedangkan Anshoff (dalam Anwar, 2004) menjelaskan bahwa strategi adalah “seperangkat aturan keputusan yang memandu perilaku organisasi”. Berdasarkan pengertian di atas, kita dapat mengartikan bahwa strategi adalah suatu upaya untuk berhasil dan berhasil mencapai tujuan. Dengan demikian, dalam konteks pelaksanaan manajemen sekolah/madrasah, strategi dapat diartikan sebagai upaya atau cara pelaksanaan manajemen sekolah/madrasah dengan tujuan untuk lebih efektif meningkatkan mutu sekolah/madrasah.
Dengan kata lain, strategi adalah suatu pola upaya yang direncanakan dan ditentukan secara sadar untuk melaksanakan kegiatan penyelenggaraan manajemen berbasis sekolah/madrasah secara efektif dan efisien.
Langkah-Langkah Strategi Penerapan Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah
- Persiapan
- Tahap Implementasi
- Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut
Sosialisasi ini diperlukan untuk membangun, menyamakan persepsi dan pemahaman mengenai penerapan kepemimpinan berbasis sekolah/madrasah (Samani, 1999). Pembentukan tim pengembangan mutu sekolah/madrasah Strategi terpenting yang dilakukan pasca sosialisasi adalah pembentukan tim pengembangan mutu di sekolah. Oleh karena itu, program peningkatan mutu sekolah perlu dikembangkan bersama antara tim pengembang sekolah dan masyarakat setempat, khususnya komite sekolah/madrasah.
Selain itu, laporan dan rekomendasi yang disusun dilaporkan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah.
KOMITE SEKOLAH/MADRASAH DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN BERBASIS
Konsep Dasar Komite Sekolah/Madrasah
Selanjutnya sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan dan pelaksanaan otonomi daerah serta amanat undang-undang nomor 20 tahun 20003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BP3 diganti dengan Komite Sekolah. Oleh karena itu, penafsiran Komite Sekolah harus ditempatkan pada konteks partisipasi masyarakat dan orang tua dalam pendidikan, yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional di atas. Secara umum Komite Sekolah dapat diartikan sebagai lembaga mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu dan efisiensi pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun luar sekolah. jalur pendidikan.
Tujuan dibentuknya komite sekolah adalah untuk mewujudkan organisasi warga sekolah yang berdedikasi dan loyal serta peduli terhadap kemajuan.
Komite Sekolah/Madrasah Dalam Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan
Proses pembentukan komite sekolah berlangsung dalam tiga tahap, yaitu persiapan, seleksi dan pengangkatan anggota serta pengelolaan komite sekolah. Pada tahap persiapan, ketua komite sekolah/madrasah lama membentuk panitia persiapan pembentukan komite sekolah. Komite Persiapan ini mempunyai tugas dan tanggung jawab mempersiapkan dan melaksanakan proses pembentukan komite sekolah/madrasah.
Selanjutnya pengangkatan anggota dan pengurus diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Komite Sekolah.
Peran Komite Sekolah/Madrasah
Implementasinya dilakukan dalam kegiatan operasional dewan sekolah (Depdiknas, 2003) sebagai berikut :. 1) verifikasi RAPBS yang diusulkan oleh kepala sekolah, (2) konfirmasi RAPBS yang diusulkan oleh kepala sekolah setelah proses verifikasi pada rapat pleno dewan sekolah, (3) memberikan motivasi kepada orang tua siswa dan pimpinan sekolah. masyarakat kelas menengah untuk meningkatkan komitmennya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah, (4) membantu sekolah menggalang dana masyarakat. Implementasinya diwujudkan dalam kegiatan operasional dewan sekolah (Depdiknas, 2003) dengan cara sebagai berikut: (1) implementasi konsep subsidi silang ketika memungut biaya sekolah dari orang tua siswa, (2) implementasi kegiatan inovatif untuk meningkatkan keterlibatan. orang tua dan masyarakat ke sekolah dan (3) ) membantu sekolah menciptakan hubungan dan kerjasama antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Kegiatan operasional dewan sekolah adalah: (1) menyebarkan angket untuk menjaring saran, masukan, dan ide kreatif dari orang tua dan masyarakat, dan (2) mengirimkan laporan tertulis kepada sekolah mengenai hasil observasinya terhadap sekolah.
Dewan sekolah diharapkan berperan aktif dalam penyusunan visi, misi, tujuan dan berbagai program sekolah.
Strategi Pemberdayaan Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu pendidikan
Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yaitu pertama meyakinkan dan meningkatkan kesadaran komite sekolah dan orang tua siswa untuk meningkatkan mutu di sekolah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika komite sekolah dan orang tua berpartisipasi secara maksimal dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah, maka hal ini akan memudahkan keberhasilan peningkatan mutu yang diharapkan. Oleh karena itu, mobilisasi warga sekolah dan komite sekolah diharapkan secara sinergis mengarah pada satu tujuan, yaitu peningkatan mutu dan kesesuaian pendidikan dengan pengembangan masyarakat.
Adanya sinergi antara komite sekolah dan sekolah dapat menghasilkan peningkatan tanggung jawab bersama antara sekolah dan masyarakat sebagai mitra kerja dalam pengembangan pendidikan di sekolah.
DAFTAR RUJUKAN
Pada tahun 2002 menyelesaikan program magister pada Program Studi Manajemen Pendidikan di PPS Universitas Negeri Malang dan pada tahun 2007 menyelesaikan program PhD dan doktor pada Program Studi Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Malang.
PROFIL SINGKAT PENULIS
Saat ini penulis merupakan dosen manajemen pendidikan pada jurusan Tarbiyah dan program pascasarjana STAIN Jember. Beliau juga mengajar manajemen pendidikan pada program pascasarjana Universitas Gresik dan program pascasarjana UMS Surakarta.