PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Faktor yang Terkait Dalam Pemberian ASI, Pola Penyakit
- Umur Ibu
- Pendidikan Ibu
- Pengetahuan Gizi
- Pekerjaan dan Penghasilan Ibu
- Parietas
- Proses Persalinan
- Dukungan Keluarga dan Tenaga kesehatan
Status gizi tergantung pada tingkat asupan yang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas zat gizi yang dibutuhkan tubuh.Dalam keadaan gizi baik, tubuh mempunyai kemampuan yang cukup untuk bertahan terhadap penyakit menular. Pengetahuan gizi yang baik akan menuntut individu untuk melakukan tindakan yang baik guna meningkatkan status gizi individu dan keluarga. Keluarga/ibu yang memiliki banyak anak juga menyebabkan distribusi kasih sayang dan perhatian yang tidak merata kepada setiap anak.
Air Susu Ibu
- Definisi Air Susu Ibu
- Komposisi ASI
- Komposisi ASI Dari Hari Ke Hari
- Faktor Yang Mempengaruhi Produksi ASI
- Volume Produksi ASI
- Pemberian ASI
- Manfaat ASI
Makanan yang dimakan ibu menyusui tidak secara langsung mempengaruhi kualitas atau kuantitas ASI yang dihasilkan. Refleks jatuh mudah terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami syok emosi, stres mental, dan gangguan jiwa. ASI lainnya, yang disebut “Kolostrum”, mengandung setidaknya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak.
Bayi
- Makanan Bayi Usia 0-4 Bulan
- Peran ASI Terhadap Pertumbuhan Bayi
Manfaat ASI yang berperan dalam tumbuh kembang bayi dilihat dari kandungan protein, lemak, elektrolit, enzim dan hormon dalam ASI. Lemak pada ASI berbentuk gumpalan yang terdiri dari trigliserida dengan campuran fosfolipid, kolesterol, vitamin A, dan karotenoid. Asam lemak dalam ASI memungkinkan bayi memperoleh energi yang cukup dan dapat membentuk mielin pada sistem saraf.
Pola Pemberian ASI
- Pola Pemberian ASI Secara Tepat dan Benar
- Peran ASI Terhadap Morbiditas, Mortalitas
Penelitian WHO di negara berkembang menunjukkan bahwa bayi yang mendapat ASI memiliki perlindungan lebih dari 2 kali lipat terhadap kematian dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI pada tahun pertama. Sebuah studi kohort terhadap 1.677 bayi yang tinggal di Bangladesh menunjukkan risiko kematian relatif pada usia 6 bulan. Angka 28 angka pertama dua kali lebih rendah pada bayi yang diberi ASI eksklusif dibandingkan bayi yang tidak diberi ASI atau diberi ASI sebagian (WHO, 2000).
Morbiditas Atau Penyakit Infeksi yang Umum Terjadi Pada
- Diare
- Hubungan Antara Pemberian ASI Eklusif Dengan
- Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Kondisi ini dapat timbul karena berbagai sebab, yaitu akibat status gizi ibu sebelum dan sesudah hamil (Osendarp et.al, 2001), tidak diberikannya air susu ibu (ASI) (Willows et.a,l 2000), pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu banyak, anak usia dini (Fawzy et.al, 1997), gizi buruk dan penyakit menular yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak sesuai (Rahmanifar, 1996). Durasi atau durasi penyakit dihitung berdasarkan jumlah hari sakit sesuai dengan definisi penyakit berdasarkan penyakit yang diderita, mulai dari munculnya gejala klinis hingga pemulihan secara subyektif dan obyektif (Lopez-Alarcon et.al , 1997). Episode baru dikatakan keadaan terbebas (dinyatakan sehat) dari gejala penyakit yang diderita paling sedikit dua hari (Lopez-Alarcon, et.al 1997) dan tiga hari (Baqui et. et al. .1991, Alam dkk.2000, Thaha, 1995: 98).
KERANGKA KONSEP
- Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
- Skema Pola Fikir Penelitian
- Hipotesis Penelitian
- Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
- Jenis Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Alur Penelitian
- Penentuan Besar Sampel
- Instrumen Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
- Etika Penelitian
- Metode Analisis Data
Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui hubungan pola ASI eksklusif dengan angka kesakitan pada bayi usia 1 bulan. Untuk menguji hubungan ASI Eksklusif dengan angka kesakitan pada bayi usia 0-1 bulan digunakan uji statistik chi-square yang diolah dengan SPSS 19. 69 5.4.3 Sebaran hubungan pola ASI dengan angka kesakitan diare Tabel 5.6 Sebaran Hubungan Pola Menyusui dengan Angka Kematian Diare.
71 5.4.6 Distribusi korelasi pola menyusui dengan angka kesakitan ISPA Tabel 5.9 Distribusi korelasi pola menyusui dengan angka kesakitan ISPA. Nilai interval kepercayaan 95% adalah 0,3–2,4 yang berarti pola menyusui merupakan faktor protektif terhadap kesakitan ISPA namun tidak signifikan. Peran keluarga dalam hal ini adalah keterlibatan keluarga dalam memberikan dukungan dan informasi mengenai ASI eksklusif kepada ibu, yang menentukan berhasil atau tidaknya pemberian ASI eksklusif kepada anak.
Nilai interval kepercayaan 95% adalah 1,5-12,32 yang berarti terdapat hubungan yang kuat antara pengetahuan dengan pola menyusui, namun tidak signifikan. Hasil penelitian lain yang dilakukan di Sukahaja pada tahun 2007 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Diawali dengan upaya mencari literatur mengenai kejadian diare pada bayi usia 0 sampai 6 bulan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rohani di Langkat (2007) mengungkapkan bahwa hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor pengetahuan berpengaruh terhadap pemberian ASI Eksklusif (p = 0,002; B = 2,048), hal ini menunjukkan akan adanya pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. peningkatan pemberian ASI eksklusif jika dibarengi dengan peningkatan pengetahuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Gowa, merupakan Rumah Sakit Kelas B yang terletak di ibu kota Kabupaten Gowa ± 500 m sebelah timur jalan raya penghubung kota-kota di Sulawesi Selatan ± 10 km sebelah timur kota Makassar seluas 4,62 Ha. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 995/Menkes/SK/X/2008 tanggal 29 Oktober 2008 tentang Peningkatan Rumah Sakit Daerah Syekh Yusuf dari Kelas C menjadi Kelas B. Gowa yang terletak di Kota Gowa, rumah sakit ini menerima pasien dari daerah Kabupaten Gowa, Kota Gowa.
Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa dibangun pada tahun 1982 dan dilengkapi dengan beberapa unit bangunan antara lain
Deskripsi Karakteristik Subjek
61 Januari di RSUD Syech Yusuf, dan ibu yang juga memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 72 pasien. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di rumah sakit dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimana data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner yang diberikan kepada ibu yang melahirkan di RSUD Syech Yusuf Makassar. Data yang diperoleh kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabulasi sesuai dengan tujuan penelitian dan disertai narasi yang digunakan sebagai penjelasan tabel tersebut.
Analisis Univariat
- Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Ibu
- Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik
- Distribusi Responden Berdasarkan Pola Pemberian
Dari hasil penelitian diketahui bahwa kategori usia ibu yang paling sering adalah 26-30 tahun dengan jumlah 21 responden (29,2%). Dari segi paritas, hasil penelitian menunjukkan 46 responden masuk dalam kategori Multipara (63,9). Untuk kategori dukungan keluarga, berdasarkan hasil penelitian ditemukan sekitar 90,3% atau 65 responden memiliki dukungan keluarga baik.
Selain dukungan keluarga, tingkat dukungan tenaga kesehatan di RS Syekh Yusuf juga dinilai dan diketahui bahwa dukungan tenaga kesehatan berada pada kategori Baik sebanyak 52 responden (72,2%). Mengenai jenis kelamin anak, hasil penelitian menunjukkan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 42 orang (58,3%). Untuk kategori kesakitan diare didapatkan sebagian besar bayi tidak mengalami diare pada setiap pemeriksaan lanjutan yaitu sebanyak 47 bayi (65,3%).
Dari hasil penelitian diketahui bahwa status gizi bayi sebagian besar berada pada kategori Baik ≥-2 sampai +2 SD dengan jumlah 37 bayi (51,4%). Hal ini berkaitan dengan berat badan lahir anak, dimana hasil penelitian menunjukkan bayi paling banyak memiliki berat badan lahir ≥ 2500 gram yaitu sebanyak 66 bayi (91,7%). Dari hasil penelitian diketahui sekitar 4 responden tidak memberikan ASI eksklusif dengan alasan ASI tidak keluar.
Dari hasil penelitian diketahui sebagian besar responden memberikan kolostrum dalam waktu kurang dari 30 menit yaitu sebanyak 28 responden (38,9%).
Analisis Bivariat
- Distribusi Hubungan Pengetahuan Dengan Pola
- Distribusi Hubungan Umur Responden Dengan
- Distribusi Hubungan Pola ASI Dengan Morbiditas
- Distribusi Hubungan Status Gizi Dengan Morbiditas
- Distribusi Hubungan Berat Badan Lahir Dengan
- Distribusi Hubungan Pola ASI Dengan Morbiditas
- Distribusi Hubungan Status Gizi Dengan Morbiditas
- Distribusi Hubungan Antara Pengetahuan Dengan
68 5.4.2 Distribusi hubungan umur responden dengan pola menyusui Tabel 5.5 Distribusi hubungan umur responden dengan pola menyusui Tabel 5.5 Distribusi hubungan umur responden dengan pola menyusui. Nilai interval kepercayaan 95% adalah 0,2-1,3 yang berarti usia responden merupakan faktor protektif terhadap jenis ASI yang diberikan, namun tidak signifikan. Nilai interval kepercayaan 95% adalah 0,2-1,6 yang berarti jenis ASI merupakan faktor protektif terhadap kejadian diare, namun tidak signifikan.
Nilai P value sebesar 0,359 yang berarti tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan angka kesakitan diare. Untuk berat badan lahir berhubungan dengan angka kesakitan diare, didapatkan sebagian besar bayi memiliki berat badan normal >2500 gram dan 45 bayi (68,2%) tidak mengalami diare. Nilai interval kepercayaan 95% adalah 0,7-25,3 yang berarti berat badan lahir bayi mempunyai hubungan yang kuat dengan kejadian diare, namun tidak signifikan.
Nilai P sebesar 0,356 yang berarti tidak ada hubungan antara gizi dengan angka kesakitan ISPA. Untuk berat badan lahir yang berhubungan dengan angka kesakitan ISPA didapatkan sebagian besar bayi mempunyai berat badan normal ≥ 2500 gram dan tidak mengalami ISPA sebanyak 46 bayi (69,7%). Nilai interval kepercayaan 95% adalah 1,2–1,7 yang berarti berat badan lahir anak merupakan faktor protektif terhadap angka kesakitan ISPA, namun tidak signifikan.
73 5.4.9 Distribusi hubungan pengetahuan dengan pola menyusui Tabel 5.12 Distribusi hubungan pengetahuan dengan pola menyusui Tabel 5.12 Distribusi hubungan pengetahuan dengan pola menyusui.
Pembahasan
- Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik
- Distribusi Responden Berdasarkan Pola Pemberian
- Distribusi Hubungan Pengetahuan Dengan Pola
- Distribusi Hubungan Variabel Dengan Morbiditas
Diketahui sebagian besar ibu yang mempunyai pengetahuan baik memberikan ASI Eksklusif pada bayinya yaitu sebanyak 34 responden (81,0%). Dari hasil penelitian diketahui bahwa usia ibu menyusui pasca melahirkan pada penelitian ini umumnya adalah wanita usia subur yaitu antara 26 hingga 30 tahun. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus (2009) menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang memberikan ASI setelah melahirkan adalah ibu rumah tangga, masing-masing sebesar 90% dan ibu bekerja hanya sebesar 10%.
Berdasarkan hasil penelitian, ibu yang memberikan ASI setelah melahirkan diketahui merupakan ibu multipara atau ibu yang memiliki anak lebih dari satu. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa jumlah ibu yang memberikan ASI setelah melahirkan dengan melalui proses persalinan normal sebanyak 70,8%. Selain itu, terdapat temuan penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif yaitu 23 orang (76,7%).
Dari hasil penelitian ternyata jumlah ibu yang menyusui setelah melahirkan dan memiliki bayi dengan berat lahir < 2500 gram sebanyak 8,3%, sedangkan yang memiliki bayi dengan berat lahir ≥ 2500 gram sebanyak 91,7%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Anggrita (2009), bayi yang menerima kolostrum meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama karena adanya kontak antara ibu dan bayi pada saat inisiasi menyusu dini. 95 Angka kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan yang mendapat ASI eksklusif lebih rendah dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif.
Dari hasil penelitian diketahui sebagian besar bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak mengalami diare yaitu 34 bayi (69,4%). Oleh karena itu, angka kejadian diare pada bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih rendah dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Dari hasil penelitian diketahui sebagian besar bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak mengalami ISPA yaitu 36 bayi (73,5%).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
11 Jika ASI masih sedikit atau tidak ada yang keluar pada hari pertama, sebaiknya berikan susu formula pada bayi Anda. 12 ASI lebih baik dibandingkan susu formula karena tidak perlu menyiapkan dan membersihkan peralatan susu (botol). 13 Susu pengganti adalah susu yang mempunyai kandungan gizi lebih baik dibandingkan ASI dan dapat diberikan segera setelah lahir.
14 Penggantian botol dengan susu akan memudahkan bakteri penyakit masuk ke dalam tubuh bayi melalui botol yang tidak dibersihkan dengan baik. 6 Sudah berapa lama ibu hanya memberikan ASI saja (tanpa susu formula dan makanan lain) kepada mantan anaknya? jika anak pertama belum selesai). 1 Apakah perawat/bidan/dokter menganjurkan pemberian ASI langsung pada satu jam pertama setelah anak ibu lahir?
10 Apakah perawat/bidan/dokter memberikan informasi perbedaan nilai gizi antara ASI dan ASI? 12 Apakah perawat/bidan/dokter menganjurkan agar bayi diberi susu formula merek tertentu segera setelah lahir?