BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Analisis Bivariat
5.4.5 Distribusi Hubungan Berat Badan Lahir Dengan
Berat Badan Lahir
Morbiditas
POR
(95% CI) Nilai P Diare Tidak Diare
n % n %
< 2500 gram 4 66,7 2 33,3 4,3
(0,7-25,3) 0,086
> 2500 gram 21 31,8 45 68,2
Total 25 34,7 47 65,3
Sumber : data Primer 2011
Untuk berat badan lahir yang dihubungkan dengan morbiditas diare didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki berat badan normal > 2500 gram serta tidak mengalami diare sebesar 45 bayi (68,2%). Selain itu didapatkan nilai P 0,086. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan morbiditas diare. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 4,3. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,7-25,3 yang berarti bahwa berat badan lahir bayi memiliki kekuatan hubungan terhadap morbiditas diare namun tidak signifikan.
71 5.4.6 Distribusi Hubungan Pola Pemberian ASI Dengan Morbiditas ISPA Tabel 5.9 Distribusi Hubungan Pola Pemberian ASI Dengan Morbiditas ISPA
Pola Pemberian ASI
Morbiditas
POR
(95% CI) Nilai P
ISPA Tidak ISPA
n % n %
ASI Eksklusif 13 26,5 36 73,5 0,8 (0,3-2,4) 0,73 Bukan ASI Eksklusif 7 30,4 16 69,6
Total 20 27.8 52 72.2
Sumber : data primer 2011
Dari tabel diatas dihubungkan antara pola pemberian ASI yang diberikan terhadap jenis Morbiditas ISPA. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif maka tidak mengalami ISPA sebesar 36 bayi (73,5%). Selain itu didapatkan nilai P 0,73. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara pola pemberian ASI dengan morbiditas ispa. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 0,8. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,3-2,4 yang berarti bahwa pola pemberian asi merupakan faktor protektif terhadap morbiditas ISPA namun tidak signifikan.
5.4.7 Distribusi Hubungan Status gizi Dengan Morbiditas ISPA Tabel 5.10 Distribusi Hubungan Status gizi Dengan Morbiditas ISPA
Status Gizi
Morbiditas
Nilai P
ISPA Tidak ISPA
n % n %
Baik 20 29,2 47 70,1
0,356
Kurang 0 0 4 100,0
Buruk 0 0 1 100,0
Total 20 27,8 52 72,2
Sumber : data primer 2011
72 Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki status gizi yang buruk serta tidak mengalami ISPA sebesar 52 subjek (72,2%). Nilai untuk P adalah 0,356 hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan morbiditas ISPA.
5.4.8 Distribusi Hubungan Berat Badan Lahir Dengan Morbiditas ISPA Tabel 5.11 Distribusi Hubungan Variabel Dengan Morbiditas ISPA
Berat Badan Lahir
Morbiditas
POR (95% CI)
Nilai ISPA Tidak ISPA P
n % n %
< 2500 gram 0 0 6 100,0 1,4
(1,2-1,7) 0,113
> 2500 gram 20 30,3 46 69,7
Total 20 27.8 52 72.2
Sumber : data primer 2011
Untuk berat badan lahir yang dihubungkan dengan morbiditas ISPA didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki berat badan normal ≥ 2500 gram serta tidak mengalami ISPA sebesar 46 bayi (69,7%). Selain itu didapatkan nilai P 0,113. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan morbiditas ISPA. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 1,4. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 1,2-1,7 yang berarti bahwa berat badan lahir bayi merupakan faktor protektif terhadap morbiditas ISPA namun tidak signifikan.
73 5.4.9 Distribusi Hubungan antara pengetahuan Dengan pola pemberian ASI Tabel 5.12 Distribusi Hubungan antara pengetahuan Dengan pola pemberianASI
Pengetahuan
Pola Pemberian ASI
POR (95% CI) Nilai P ASI Eksklusif
Bukan ASI Eksklusif
n % n %
Baik 8 19,0 34 81,0 0,2
(0,1-0,7) 0,005
Kurang 15 50,0 15 50,0
Total 23 31.9 49 68.1
Sumber : data primer 2011
Untuk kepentingan perhitungan statistic maka dilakukan recoding untuk mencari hubungan antara variable. Didapatkan bahwa kebanyakan ibu yang memiliki pengetahuan yang baik memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya sejumlah 34 responden (81,0%). Selain itu didapatkan nilai P yaitu 0,005. Hal ini berarti bahwa ada hubungan antara Pengetahuan ibu terhadap Jenis ASI yang diberikan. Selain itu didapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 0,2.
Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,1-0,7 yang berarti bahwa pengetahuan responden merupakan faktor protektif terhadap jenis ASI yang diberikan serta hubungannya signifikan.
5.5 PEMBAHASAN Analisis Univariat
5.5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Ibu 5.5.1.1 Umur
Mengutip dari hasil penelitian Pola Pengasuhan dan Status gizi Balita di Kecamatan Medan Sunggal memperlihatkan hasil bahwa, semakin tua umur ibu maka pola pengasuhannya dalam pemberian makan dan praktik kesehatan akan
74 semakin baik. Hal ini dapat dimengerti karena semakin tua umur ibu maka dia akan belajar untuk semakin bertanggung jawab terhadap anak dan keluarganya.
Umur yang semakin tua menyebabkan semakin banyak pengalaman dan informasi mengenai kesehatan dan gizi keluarga.
Berdasarkan penelitian ini, umur responden dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok umur . 15-20 thn, 21-25 thn, 26-30 thn, 31-35 thn, 36- 40 thn, 41-45 thn. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa umur ibu yang menyusui setelah melahirkan pada penelitian ini umumnya wanita usia reproduktif, yaitu berada pada usia antara 26thn-30 thn.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus (2009) bahwa kelompok umur ibu menyusui segera setelah melahirkan responden terbanyak adalah ibu yang berada pada kelompok umur 25-35 tahun (60%) yang berumur <
25 tahun (27.3%) dan > 35 tahun (12,7%).
Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Rohani ( 2007) di Langkat mendapatkan bahwa kebanyakan subjeknya berumur < 30 tahun.
Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untukkehamilan persalinan dan menyusui adalah 20-35 tahun oleh sebab ituyang sesuai dengan masa reproduksi sangat baik dan sangat mendukungdalam pemberian ASI ekslusif, sedangkan umur yang kurang dari 20 tahun masih belum matang secara fisik mental dan psikologi dalam menghadapi kehamilan, persalinan serta pemberian ASI, sedangkan umurlebih dari 35 tahun dianggap juga berbahaya sebab baik alat reproduksi maupun fisik ibu sudah jauh berkurang dan
75 menurun selain itu bisa terjadi resiko bawaan pada bayinya dan juga dapat meningkatkan penyulit pada kehamilan, persalinan dan nifas.
Umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara mengasuh dan menyusui bayinya. lbu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap dalam hal jasmani dan sosial dalarn menghadapi kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi yang dilahirkan Depkes RI (1994). Sedangkan ibu yang berumur 20-35 tahun, menurut Hurlock (1997) disebut sebagai "masa dewasa"
dan disebut juga masa reproduksi,di mana pada masa ini diharapkan orang telah mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional,terutama dalarn menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat bayinya nanti.
5.5.1.2 pendidikan ibu
Menurut Apriadji, seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi dibandingkan dengan orang lain yang pendidikannya lebih tinggi. Karena sekalipun berpendidikan rendah, kalau orang tersebut rajin mendengarkan atau melihat informasi mengenai gizi tidak mustahil pengetahuan gizinya akan lebih baik.
Organisasi wanita melaporkan bahwa ibu yang agaknya kurang memulai ASI atau menyusui pada 6 bulan pertama adalah ibu-ibu muda, ras kulit hitam, mereka yang menjadi anggota Program Penambahan Makanan pada Wanita, Bayi
76 dan Anak (Woman, Infant and Children= WIC), mereka yang dengan pendidikan sekolah menengah atas atau kurang, dan mereka yang dengan bayi berat badan lahir rendah.
Pada penelitian ini, pendidikan responden dibagi menjadi lima kelompok, yaitu tidak sekolah, pendidikan SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA dan sederajat serta perguruan tinggi.Ibu yang menyusui setelah melahirkan lebih banyak yang berpendidikan akademik tinggi atau SMA.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus (2009) bahwa tingkat pendidikan ibu menyusui setelah melahirkan yang tinggi sebanyak 60% sedangkan yang berpendidikan rendah hanya 40%.
Penelitian yang dilakukan oleh Rohani di Langkat ( 2007) mendapatkan bahwa kebanyakan subjek memiliki tingkat pendidikan sampai SMP. Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelitian yang didapatkan.
Pendidikan adalah suatu proses yang terdapat unsur masukan dan unsur keluaran. Unsur masukan adalah berupa sarana pendidikan, sedangkan unsur keluaran adalah berupa bentuk perilaku dan kemampuan baru dari sarana pendidikan.Berdasarkan proses intelektual secara operasional, tujuan pendidikan dibedakan menjadi 3 (tiga) aspek, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Jalur pendidikan akan membekali seseorang dengan dasar-dasar pengetahuan teori dan logika, pengetahuan umum dan kemampuan analisis serta pengembangan kepribadian.
77 Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap menyusui setelah melahirkan.Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi serta pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.Tingkat pendidikan ibu yang rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan ibu dalam menghadapi masalah, terutama dalam pemberian ASI eksklusif.Pengetahuan ini diperoleh baik secara formal maupun informal sedangkan ibu-ibu yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru guna pemeliharaan kesehatannya Depkes RI (1996). Pendidikan juga akan membuat seseorang terdorong untuk ingin tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diterima akan menjadi pengetahuan.
Pendidikan sangat mempengaruhi kemampuan penerimaan informasi gizi makanan.Tingkat pendidikan yang rendah akan lebih kuat mempertahankan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan makanan sehingga sulit menerima informasi dalam bidang gizi.
5.5.1.3 Pekerjaan Ibu
Kesibukan dengan pekerjaan, sering sekali membuat seorang ibu lupa dan tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Walaupun kepada ibu telah diajarkan bagaimana mempertahankan produksi ASI, yaitu dengan memompa ASI peras / perahnya selama ibu bekerja dan malam hari lebih sering menyusui.
Ternyata ibu yang bekerja, lebih cepat memberikan susu botol. Alasan yang dipakai ialah supaya membiasakan bayi menyusu dari botol bila nanti ditinggal
78 bekerja. Masalah ibu yang bekerja memang terdapat hampir di seluruh dunia, kecuali di negara-negara Skandinavia dimana ibu mendapat cuti selama masih menyusui bayinya Suharyono dkk (1992). Dalam pemberian ASI terutama ASI eksklusif, masalah yang prinsipil adalah bahwa ibu-ibu membutuhkan bantuan informasi yang mendukung sehingga menambah pengetahuan ibu serta keyakinan ibu bahwa mereka dapat menyusui bayinya secara eksklusif, tugas ini akan berdampak positif bila petugas kesehatan berpengetahuan yang cukup tentang memberikan informasi yang diperlukan oleh ibu menyusui Harianja (2002).
Menurut pekerjaan, pada penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja.Berdasarkan penelitian, ibu yang menyusui setelah melahirkan sebagian besar adalah ibu yang tidak bekerja.
Demikian pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus (2009) bahwa sebagian besar responden yang menyusui setelah melahirkan adalah ibu rumah tangga yaitu 90% dan ibu yang bekerja hanya 10%. Hasil yang berbeda juga ditemukan pada penelitian Rohani di Langkat ( 2007) mendapatkan bahwa kebanyakan subjek memiliki pekerjaan sebesar 48 subjek.
Menurut Siregar (2007), kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam bekerja, menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui. Selain itu, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui.Ibu yang tidak bekerja memiliki durasi pemberian ASI lebih lamadibandingkan dengan ibu yang bekerja. Kesulitan dalam menyeimbangkan antara pekerjaan dan pemberian ASI menjadi alasan utamaibu bekerja untuk berhenti memberikan ASI pada bayinya.
79 Secara teoritis pekerjaan ibu berperan dalam intensitas pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Aktifitas ibu selama masa menyusui berpengaruh terhadap intensitas pertemuan antara ibu dan anak.Ibu yang bekerja dapat mengurangi kuantitas dan kualitas terhadap pemberian ASI eksklusif kepada bayinya dan cenderung memiliki waktu yang sedikit untuk menyusui anaknya akibat kesibukan bekerja sehingga umumnya frekuensi menyusui berkurang atau dihentikan.Sedangkan ibu yang tidak bekerja memilki waktu yang banyak untuk menyusui anaknya.
Depkes RI telah menetapkan kebijakan PP-ASI Pekerja Wanita agar ibuyang bekerja dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusifselama 6 bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.
Salah satustrategi yang digunakan dalam kebijakan tersebut adalah mengembangkan danmemantapkan pelaksanaan ASI eksklusif bagi pekerja wanita melalui pembinaandan dukungan penuh dari pihak pengusaha.
5.5.1.4 pengetahuan Ibu
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Adapun pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif adalah :
1. Tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah
80 mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi- materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks situasi yang lain.
4. Analisis. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, menggambarkan bagan, membedakan, memisahkan dan mengelompokkan.
5. Sintesis. Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada, misalnya : dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
81 6. Evaluasi. Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Berdasarkan pengetahuan, responden pada penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang berpengetahuan baik, dan kurang.Pada penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan ibu mengenai menyusui setelah melahirkan adalah baik. Hal ini juga didapatkan oleh Rannu Marianus (2009) bahwa ibu yang berpengetahuan baik sebesar 87.3% sedangkan ibu yang berpengetahuan kurang sebesar 12.7%.
Selain itu dari hasil penelitian rohani di langkat ( 2007) mendapatkan bahwa kebanyakan ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang ASI sebesar 43 orang (53,1%). Pengetahuan didefinisikan secara sederhana sebagai informasi yangdisimpan dalam ingatan.Pengetahuan termasuk didalamnya pengetahuan gizi,dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan informal.Pendidikan formaldiperoleh dari sekolah dengan kurikulum dan jenjang yang telah ditetapkan,sedangkan pendidikan informal dapat diperoleh dari seluruh aspek kehidupan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan gizi ibu berhubungan nyata dengan cara pemberian ASI. Semakin baik tingkatpengetahuan gizi ibu maka pemberian ASI semakin sering. Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu tentang ASI maka ibu akan mengetahui cara danposisi menyusui yang benar serta cara meningkatkan produksi ASI.
Brown et al (2003) menyatakan kurangnya pengetahuan ibu tentang ASImenjadi salah satu penghambat keberlangsungan pemberian ASI.Pengetahuanibu tentang ASI eksklusif dapat diperoleh dari berbagai sumber
82 informasi.Menjelang akhir kehamilan, ibu membutuhkan berbagaiinformasi penting yang umumnya disediakan oleh pelayanan dan tenagakesehatan.Selain itu, informasi yang berasal dari suami, keluarga, teman,jaringan sosial dan berbagai media berpengaruh terhadap pengetahuan ibu.
Ismirayanti (2010) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa rendahnya pendidikandan kurangnya informasi menjadi faktor yang berpengaruh tehadap kegagalanpemberian ASI eksklusif.
5.5.1.5 penghasilan Ibu
Penghasilan keluarga adalah jumlah yang didapatkan oleh anggota keluarga setiap bulannya dalam bentuk uang sebagai hasil dari pekerjaannya.
Penghasilan adalah uang yang diterima dan diberikan kepada subyek ekonomi berdasarkan prestasi-prestasi yang disarankan yaitu pendapatan dari pekerjaan, pendapatan dari profesi yang dilakukan sendiri atau usaha perorangan dan pendapatan dari kekayaan serta dari faktor sub sistem. Penghasilan keluarga adalah total penerimaan dalam suatu rumah tangga selama periode tertentu.Penelitian ini membagi responden menurut penghasilan keluarga menjadi empat kelompok, yaitu Kurang (<1.000.000), Sedang (1.000.000-3.000.000), Cukup (3.000.000-5.000.000), Tinggi (>5.000.000). dari hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat penghasilan yang paling banyak adalah kategori kurang (<1.000.000). Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak para ibu untuk tidak menyusui bayinya, padahal makanan penganti yang bergizi tinggi jauh dari jangkauan mereka.
83 5.5.1.6 Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang ibu.
Seseorang dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui yang sebetulnya hanya karena tidak mengetahui cara menyusui yang benar dan belum berpengalaman.
Menurut paritas, penelitian ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu ibu yang merupakan primipara dan ibu yang merupakan multipara atau memiliki anak lebih dari satu. Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan ibu yang menyusui setelah melahirkan adalah ibu yang merupakan multipara atau ibu yang telah memiliki anak lebih dari satu. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus (2009) yang mendapatkan bahwa ibu yang menyusui setelah melahirkan dengan jumlah anak < 2 anak lebih banyak yaitu 78.2% dibandingkan dengan ibu yang telah memiliki anak >2 anak yaitu 21.8%.
Ekawati dalam penelitiannya menyatakan bahwa semakin banyak jumlah balita yang dimiliki, kecenderungan perilaku pemberian ASI semakin baik. Hal ini dikarenakan adanya pengalaman menyusui sebelumnya. Secara teoritis paritas ada kaitannya dengan menyusui dalam memberikan ASI eksklusif. Hal ini dihubungkan dengan pengaruh pengalaman sendiri maupun orang lain terhadap pengetahuan yang dapat mempengaruhi prilaku saat ini atau kemudian.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh unsur pengalaman. Semakin banyak pengalaman seseorang terhadap objek atau peristiwa makin luas pula pengetahuan yang didapat, sehingga ibu yang telah mempunyai anak dan telah menyusui sebelumnya, mampu
84 mengambil keputusan untuk melakukan hal yang sama kepada anaknya yang sekarang. Sedangkan ibu yang baru pertama kali melahirkan atau primipara masih belum terbiasa dengan menyusui.
5.5.1.7 Proses Persalinan
Penelitian ini menurut proses persalinan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu proses persalinan normal dan proses persalinan secara operasi sectio caecar.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan banyaknya ibu yang menyusui setelah melahirkan dengan menjalani proses persalinan normal adalah 70.8%
dibandingkan dengan ibu yang menjalani proses persalinan secara sectio caesar sebesar 29.2%.
Proses persalinan merupakan proses keluarnya janin dari dalam rahim ke dunia luar. Proses Persalinan dapat dilakukan melalui jalan lahir atau vagina (persalinan pervaginam) atau persalinan melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim (persalinan perabdominam) atau dikenal dengan bedah sesar (sectio caesar).
Proses persalinan yang normal memungkinkan ibu untuk segera menyusui setelah melahirkan, mengingat kondisi tubuh cukup kuat. Dibandingkan dengan ibu yang menjalani proses persalinan sectio caesar yang keadaannya yang tidak memungkinkan untuk segera menyusui setelah menjalani proses operasi.
Pemberian ASI pertama dipengaruhi dengan kondisi kesehatan ibu setelah melahirkan.Ibu yang melahirkan dengan kondisi kelelahan, sulit baginya untuk menyusui dengan segera. Begitupun dengan ibu yang menjalani proses persalinan sectio caesar yang membutuhkan waktu pemulihan yang agak lama.
85 5.5.1.8 Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga dimulai sejak awal kehamilan dengan mempersiapkan mental dan fisik ibu untuk menyusui.Peran suami sangat penting untuk mendorong ibu menyusui setelah melahirkan.
Dukungan keluarga pada penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu yang mendapatkan dukungan yang baik dari keluarga dan yang kurang mendapatkan dukungan keluarga.Dari hasil penelitian didapatkan dukungan keluarga kepada ibu untuk menyusui setelah melahirkan adalah 90,3.
Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus bahwa dukungan keluarga menyusui setelah melahirkan sangat baik yaitu 96.4%
sedangkan yang kurang hanya sebanyak 3.6%.
Peran keluarga dalam hal ini adalah keterlibatan keluarga dalam memberikan dukungan dan informasi mengenai ASI eksklusif kepada ibu yang mana menentukan berhasil tidaknya pemberian ASI eksklusif pada bayi.
Memotivasi ibu untuk menyusui lebih sering diutamakan oleh anggota keluarga terdekat sehingga ibu merasa percaya diri untuk menyusui.
5.5.1.9 Dukungan tenaga kesehatan
Dukungan tenaga kesehatan kepada ibu untuk menyusui dapat dilakukan sebelum ibu melahirkan dengan memberikan penyuluhan dan penjelasan tentang pentingnya ASI.Setelah bayi lahir dukungan tenaga kesehatan juga masih dibutuhkan untuk mengajarkan bagaimana cara menyusui yang benar dan memotivasi ibu untuk terus memberikan ASI eksklusif.
86 Pada penelitian ini dukungan tenaga kesehatan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ibu yang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan yang baik dan yang kurang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan.Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan jumlah ibu menyusui yang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan yang baik yaitu 72.2%, sedangkan yang kurang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan sebanyak 27,8%.
Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa responden yang mendapat informasi tentang ASI Eksklusif dari dari petugas kesehatan akan terdorong untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang tidak pernah mendapatkan informasi dari petugas kesehatan yang akan berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.
5.5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Bayi 5.5.2.1 Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa jenis kelamin bayi kebanyakan berjenis kelamin Laki-laki berjumlah 42 (58,3%).
Penelitian yang dilakukan oleh winda ( 2010) di Surakarta didapatkan bahwa prosentase bayi laki – laki sebanyak 31 orang (51,67%), sedang bayi perempuan sebanyak 29 orang (48,33%). Selain itu pada penelitia yang lainnya didapatkan bahwa Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai bayi laki-laki sebanyak 17 bayi (56,7%).
87 5.5.2.2 Jenis ASI
Air Susu Ibu (ASI) merupakan cairan putih berupa emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam-garam anorganik yang disekresikan oleh kelenjar mammae ibu melalui proses laktasi yang berguna sebagai makanan bagi bayinya.ASI merupakan makanan alamiah dan makanan terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. Komposisinya sesuai untuk pertumbuhan bayi selama 6 bulan pertama.ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindarkan bayi dari berbagai penyakit.ASI merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi karena mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat oleh manusia ataupun susu yang berasal dari hewan seperti susu sapi, susu kerbau atau susu kambing.
Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh ahli gizi di seluruh dunia.
Tidak satupun susu buatan manusia (susu formula) dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi mendapatkan Jenis ASI Eksklusif berjumlah 49 (68,1%).
Penelitian yang dilakukan oleh winda ( 2010) di Surakarta didapatkan bahwa sampel bayi ASI Eksklusif 30 bayi (50,00%), dan sampel bayi non eksklusif 30 bayi (50,00%). Selain itu ada hasil penelitian yang mendapatkan bahwa sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 23 orang (76,7%).