BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Morbiditas Atau Penyakit Infeksi yang Umum Terjadi Pada
2.5.1 Diare
30
31 3. Diare kronik bila diare berlangsung lebih dari 14 hari.
Sedangkan menurut pedoman MTBS (2000), diare dapat kelompokkan atau dikalsifikasikan menjadi:
1. Diare akut, terbagi atas: (a) diare dengan dehidrasi berat, (b) diare ringan/sedang, dan (c) diare tanpa dehidrasi.
2. Diare persisten bila diare berlangsung 14 hari atau lebih, terbagi atas:
(a) diare persisten dengan dehidrasi dan (b) diare persisten tanpa dehidrasi.
3. Disentri apabila diare berlangsung disertai dengan darah.
3. Penyebab diare dan mekanismenya
Penyebab utamanya adalah beberapa kuman usus penting, yaitu rotavirus, E.coli, shigella, cryptosporidium, vibrio cholera, dan salmonella (Depkes RI, 1998).
Selain kuman, ada beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare, yaitu:
1. Tidak memberi ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama dari kehidupan.
2. Menggunakan botol susu.
3. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar.
4. Air minum tercemar bakteri tinja.
5. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah buang tinja, atau sebelum menjamah makanan.
32 Diare dapat terjadi dengan mekanisme dasar sebagai berikut:
1. Gangguan osmotik
Terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi penggeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu, misalnya toksin pada dinding usus, akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus, selanjutnya timbul diare, karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya, bila peristaltic usus menurun, maka akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, sehingga selanjutnya timbul diare pula.
Menurut Suharyono (1999:56) sebagai akibat dari diare akut maupun kronis, dapat terjadi hal-hal sebagai berikut:
1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi)
Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (metabolic asidosis), karena:
1. Kehilangan natrium bikarbonat bersama tinja.
33 2. Adanya ketosis kelaparan dan metabolism lemak yang tidak
sempurna, sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh.
3. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
4. Produk metabolism yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguri dan anuria).
5. Pemindahan ion natrium dan cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.
Secara klinis, asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernapasan yang bersifat cepat, teratur, dan dalam.
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita diare dan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita KKP, karena:
1. Penyimpanan persediaan glikogen dalam hati terganggu.
2. Adanya gangguan absorpsi glukosa (walaupun jarang terjadi) Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40% pada bayi dan 50% pada anak-anak. Hal tersebut dapat berupa lemas, apatis, peka rangsangan, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.
3. Gangguan gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi sehingga terjadi penurunan berat badan. Hal ini disebabkan karena:
34 1. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare akan bertambah hebat, sehingga orang tua hanya sering memberikan air teh saja.
2. Walupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran dalam waktu yang terlalu lama.
3. Makanan diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan baik karena ada hiperperistaltik.
4. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare yang dengan atau tanpa disertai muntah, maka dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa syok hipovolemik.
Akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadinya hipoksia, asidosis bertambah berat sehingga dapat mengakibatkan perdarahan di dalam otak, kesadaran menurun, dan bila tidak segera ditolong maka penderita dapat meninggal.
5. Komplikasi
Akibat diare dan kehilangan cairan serta elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
1. Dehidrasi
2. Syok hipovolemik 3. Hipokalemia
4. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactose.
5. Hipoglikemia
35 6. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energy protein
2.5.2 Hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare Pada waktu bayi baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan tubuh dari ibunya melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut akan cepat turun setelah kelahiran bayi, padahal dari waktu bayi lahir sampai bayi berusia beberapa sbulan, bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. Sehingga kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh. Kesenjangan daya tahan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI (Roesli, 2005).
Pemberian makanan berupa ASI sampai bayi mencapai usia 4-6 bulan, akan memberikan kekebalan kepada bayi terhadap berbagai macam penyakit karena ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, jamur dan parasit.
Oleh karena itu, dengan adanya zat anti infeksi dari ASI, maka bayi ASI eksklusif akan terlindungi dari berbagai macam infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit. Ada perbedaan yang signifikan antara bayi yang mendapat ASI eksklusif minimal 4 bulan dengan bayi yang hanya diberi susu formula. Bayi yang diberikan susu formula biasanya mudah sakit dan sering mengalami problema kesehatan seperti sakit diare dan lain-lain yang memerlukan 22 pengobatan sedangkan bayi yang diberikan ASI biasanya jarang mendapat sakit dan kalaupun sakit biasanya ringan dan jarang memerlukan perawatan (Wahyu, 2000).
36 Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian di Filipina yang menegaskan tentang manfaat pemberian ASI ekskusif serta dampak negatif pemberian cairan tambahan tanpa nilai gizi terhadap timbulnya penyakit diare. Seorang bayi yang diberi air putih atau minuman herbal, lainnya beresiko terkena diare 2-3 kali lebih banyak dibandingkan bayi yang diberi ASI Eksklusif (BKKBN, 2004).
2.5.3 Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan penyakit yang umum dijumpai pada bayi dan anak-anak masih menduduki peringkat teratas sebagai penyebab kematian bayi di Indonesia, selain itu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi merupakan tiga penyebab utama kematian pada golongan umur bayi. Berdasarkan data SDKI Tahun 2002-2003, prevalensi ISPA pada bayi kurang dari satu tahun di Indonesia 7,6% sedangkan di Jawa Tengah prevalensinya 11%. Dari data SKRT Tahun 2001, diketahui bahwa 27,6%
kematian bayi kurang dari satu tahun di Indonesia disebabkan oleh ISPA (LIPI, 2004 : 157).
Kondisi tersebut dapat timbul karena berbagai sebab yaitu sebagai dampak dari status gizi ibu sebelum dan sesudah hamil (Osendarp et.al, 2001), Air Susu Ibu (ASI) tidak diberikan (Willows et.a,l 2000), pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini (Fawzy et.al, 1997), kekurangan gizi serta penyakit infeksi yang disebabkan keadaan lingkungan yang tidak memadai (Rahmanifar,1996). Pada penelitian ini penyakit infeksi yang diteliti mengenai ISPA dilihat dari episode kejadian ISPA pada bayi selama tiga bulan penelitian.
37 1. Pengertian ISPA
Penyakit ISPA mengandung tiga unsur pengertian yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut. ISPA didefinisikan sebagai suatu penyakit infeksi pada hidung, telinga, tenggorokan (pharynx), trachea, bronchioli dan paru yang kurang dari dua minggu (14 hari) dengan tanda dan gejala dapat berupa: batuk dan atau pilek (ingus) dan atau batuk pilek dan atau sesak nafas karena hidung tersumbat dengan atau tanpa demam. Dengan batasan ini, maka jaringan paru-paru termasuk dalam saluran pernapasan (respiratory tract). Batas waktu 14 hari diambil untuk menunjukkan berlangsungnya proses akut, meskipun beberapa penyakit yang dapat digolongkan ISPA, proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari (Depkes RI,1996). Definisi ISPA menurut Lopez-Alarcon (1997) yaitu suatu penyakit yang ditandai dengan batuk, pilek paling sedikit dua hari berturut-turut diikuti satu atau lebih gejala-gejala seperti Erythematous mucusa, tangisan atau suara parau, kesulitan bernafas, dengan atau tanpa demam. Lama sakit atau durasi dihitung berdasarkan jumlah hari sakit sesuai dengan definisi sakit dari penyakit yang diderita, diawali dengan munculnya gejala klinis sampai sembuh secara subyektif maupun obyektif (Lopez-Alarcon et.al, 1997). Dikatakan episode baru yaitu suatu keadaan terbebas (dinyatakan sehat) dari gejala penyakit yang pernah diderita sekurang-kurangnya dua hari (Lopez-Alarcon, et.al 1997) dan tiga hari (Baqui et.a,l 1991, Alam et.al 2000, Thaha, 1995: 98).
2. Penyebab ISPA
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah Genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofilus, Bordetella dan Corynebacterium.
38 Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikomavirus, Mikooplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
3. Klasifikasi ISPA
ISPA diklasifikasikan bermacam-macam tergantung dari peninjauannya yaitu:
1. Tinjauan Anatomis
1. Infeksi pernapasan akut bagian atas yaitu infeksi akut yang menyerang hidung sampai epiglotis misalnya Rhinitis akut dan Sinusitis.
2. Infeksi pernapasan akut bagian bawah yaitu infeksi akut yang menyerang bagian bawah epiglottis sampai alveoli paru.
2. Tinjauan etiologi penyebab terdiri dari lebih dari 300 jenis virus, bakteri dan riketsia.
3. Tinjauan Daftar Tabulasi Dasar (DTD).
Daftar Tabulasi Dasar (DTD) disusun atas dasar ICD (International Classification Disease) seperti dipteri, batuk rejan dan bronchitis.
4. Tinjauan derajat keparahan penyakit
Dalam penentuan derajat keparahan penyakit, dibedakan atas dua kelompok yaitu umur kurang dari 2 bulan dan umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun sebagai berikut :
1. Bukan pneumonia adalah salah satu atau lebih gejala berikut batuk pilek biasa (common cold) yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan penarikan dinding dada ke dalam.
39 2. Pneumonia adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur. Adanya nafas cepat (fast breathing), hal ini ditentukan dengan alat menghitung frekuensi pernapasan. Batas nafas cepat adalah frekuensi nafas sebanyak :
1. 60 kali per menit atau lebih pada usia kurang 2 bulan.
2. 50 kali per menit atau lebih pada usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun.
3. 40 kali per menit atau lebih pada usia 1 sampai 5 tahun.
3. Pneumonia berat adanya nafas cepat, yaitu frekuensi nafas sebanyak 60 kali per menit atau lebih atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) (Depkes RI, 1996 dan Mursyid, 1992). ISPA dapat menyerang anak-anak dan dewasa. Orang dewasa mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik, sehingga biasanya penyakitnya tidak terlalu berat, sedangkan pada anak-anak terutama bayi biasanya mudah terserang dan jika terserang ISPA keadaan bayi lebih cepat memburuk (Depkes RI, 1996).
40 BAB III
KERANGKA KONSEP 3.1 Dasar Penelitian Variabel yang Diteliti
Pemberian ASI merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). ASI merupakan sumber nutrisi yang sangat penting baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, sebagai system imunitas alami, ekonomis, dan memiliki tingkat higien yang tinggi sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi pada bayi khususnya diare dan ISPA. Selain itu, ASI eksklusif mengandung berbagai faktor perlindungan khususnya untuk pertahanan saluran cerna diantaranya sIgA, oligosakarida, limfosit T dan B, serta laktoferin.
yang dapat meningkatkan system imunitas tubuh bayi , sehingga dapat menurunkan resiko terjadinya diare dan ISPA pada bayi.
Dengan mengetahui pentingnya menyusui dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI seperti psikologis ibu yaitu kepribadian dan pengalaman ibu, kesehatan ibu dan bayi, pengetahuan ibu mengenai proses laktasi, lingkungan keluarga, peraturan pemasaran pengganti ASI, jumlah anak, petugas kesehatan, tata laksana rumah sakit, dan sosial budaya, maka diharapkan seorang ibu dapat mengoptimalkan penggunaan ASI setelah melahirkan.
Adanya promosi penggunaan ASI yang telah dicanangkan oleh pemerintah dan program penyuluhan oleh petugas kesehatan diharapkan dapat memberi pengetahuan tentang pentingnya pemberian ASI setelah melahirkan serta mempertinggi motivasi pemberian ASI. Pengetahuan yang baik dan cukup diharapkan akan menimbulkan perilaku ibu terhadap pemberian ASI
41 3.2 Skema Pola Pikir Penelitian
Ket:
3.3 HIPOTESIS
H1: Ada Hubungan antara pola pemberian ASI dengan morbiditas pada bayi umur 1 bulan
diteliti
Pola pemberian ASI
Morbiditas Status gizi
Diare ISPA
Karakteristik ibu:
- Umur - Pendidikan - Pengetahuan
- Pekerjaan - Penghasilan
- Parietas - Proses persalinan
- Dukungan keluarga
Dukungan tenaga kesehatan
Sanitasi lingkungan
Adat dan budaya
Tidak diteliti
42 3.4 Definisi Operasional
3.4.1 Umur Ibu 1.Definisi
Umur ibu adalah umur responden sejak dilahirkan hingga saat pengambilan data yang dinyatakan dalam satuan tahun.
2. Kriteria Objektif
a.Usia 15-20 tahun d. Usia 31-35 tahun b. Usia 21-25 tahun e. Usia 36-40 tahun c. Usia 26-30 tahun f. Usia 41-45 tahun 3.4.2 Pendidikan
1. Definisi
Pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah dilalui atau sedang dijalani oleh responden.
2. Kriteria Objektif
a.Tidak bersekolah d. SMA/sederajat
b. SD/sederajat e. Perguruan tinggi/sederajat c. SLTP/sederajat
3.4.3 Pengetahuan 1. Definisi
Yang dimaksud dengan pengetahuan pada penelitian ini adalah pengetahuan responden tentang ASI, kandungan ASI, manfaat ASI, pengaruh menyusui ibu pada bayi, akibat kekurangan ASI.
43 Hal-hal yang perlu diketahui oleh ibu mengenai ASI dan pemberian ASI setelah melahirkan:
1. ASI adalah makanan terbaik bayi pada awal usia kehidupan
2. ASI paling sesuai untuk pertumbuhan bayi dan mengandung zat kekebalan tubuh atau pelindung tubuh.
3. Susu yang dihasilkan pertama kali sebaiknya diberikan sedini mungki setelah bayi lahir.
4. ASI lebih murah, praktis, dan bersih jika dibandingkan dengan susu formula.
5. Kandungan gizi ASI jauh lebih tinggi dari pada susu formula.
6. Manfaat ASI bagi bayi dari segi nilai gizi adalah mengandung zat makanan seperti protein.
7. Manfaat ASI bagi ibu adalah mengurangi resiko terjadinya kanker payudara.
8. ASI yang baik untuk bayi karena menjadi sehat dan cerdas.
9. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi hingga bayi berusia 6 bulan.
10. ASI dapat meningkatkan kasih saying antara ibu dan bayi Cara pengukuran ibu dalam penelitian kami:
1. Dengan menyiapkan 15 pertanyaan yang berhubungan dengan pengetahuan yang terdapat pada kuesioner.
2. Setiap nomor memiliki bobot penilaian yang sama, setiap jawaban yang benar diberi nilai 1 dan bila salah nilainya 0.
44 3. Nilai responden didapatkan dari bobot jumlah yang dijawab dengan
benar
4. Skoring tertinggi adalah 15 2. Kriteria Objektif
a. Baik : jika skor >11 b. Kurang : jika skor < 11 3.4.4 Pekerjaan
1. Definisi
Pekerjaan ibu adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh responden yang menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
2. Kriteria Objektif a. Bekerja
b. Tidak bekerja
3.4.5 Penghasilan Keluarga 1. Definisi
Penghasilan keluarga adalah jumlah yang didapatkan oleh anggota keluarga setiap bulannya dalam bentuk uang sebagai hasil dari pekerjaannya.
2.Kriteria Objektif
Penentuan kriteria objektif ini didasarkan pada nilai Upah Minimum Regional (UMR) Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2010, yaitu sebesar Rp.1.000.000,00.
a. Kurang : <Rp.1.000.000,00./ bulan.
b. Sedang : Rp.1.000.000,00. – Rp. 3.000.000,00/ bulan.
45 c. Cukup : Rp. 3.000.000,00 – Rp. 5.000.000,00/ bulan.
d. Tinggi : >Rp. 5.000.000,00/ bulan
3.4.6 Dukungan Keluarga 1. Definisi
Dukungan keluarga merupakan motivasi untuk menyusui yang diperoleh oleh ibu dari keluarga terdekatnya yaitu suami dan orang tuanya.
Cara mengetahui dukungan keluarga dengan menggunakan kuesioner dengan 12 pertanyaan, dimana jawaban pertanyaan berupa “Ya” dan
“Tidak”.Jawaban “Ya” diberi nilai 1 dan jawaban “Tidak” diberi nilai 0.
2. Kriteria Objektif a. cukup : jika nilai >8 b. Kurang : jika nilai ≤ 8 3.4.7 Paritas
1. Definisi
Paritas merupakan jumlah anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh responden, tidak termasuk anak yang meninggal.
2. Kriteria Objektif a. primipara b. Multipara
46 3.4.8 Pola Pemberian ASI
1. Definisi
Pola pemberian ASI merupakan cara responden memberikan asupan kepada bayinya.
2. Kriteria Objektif a. ASI ekslusif
b. ASI dan Susu Formula
c. ASI dan minuman lain (air putih, teh, madu)
Jika jawaban selain a, maka menyertakan alasan mengapa tidak memberikan ASI eksklusif.
Kriteria Objektif:
a. Produksi ASI tidak ada.
b. Produksi ASI sedikit.
c. Alasan lain. Sebutkan
3.4.9 Pemberian ASI I (Kolostrum) 1. Definisi
Pemberian ASI pertama merupakan jarak waktu antara kelahiran bayi dengan waktu pertama kali ibu memberikan ASI kepada bayi.
2. Kriteria Objektif a. 30 m3nit pertama b. 30 menit-1 jam c. > 1 jam - 1 hari
d. Tidak memberikan ASI pertama
47 Jika jawaban c dan d, maka menyertakan alasan tidak memberikan ASI segera setelah melahirkan
Kriteria Objektif:
a. ASI tidak keluar b. Ibu lelah
c. Tidak tahu manfaat ASI 3.4.10 Proses Persalinan 1. Definisi
Proses persalinan merupakan proses keluarnya janin dari dalam rahim ke dunia luar. Proses Persalinan dapat dilakukan melalui jalan lahir atau vagina (persalinan pervaginam) atau persalinan melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim (persalinan perabdominam) atau dikenal dengan bedah sesar (seksio sesarea).
2. Kriteria Objektif a. Persalinan normal b. Seksio sesaria
3.4.11 Dukungan Tenaga Kesehatan 1. Definisi
Dukungan tenaga kesehatan merupakan motivasi untuk menyusui yang diperoleh oleh ibu dari petugas kesehatan yaitu dokter, bidan dan perawat.Jawaban bersifat objektif dan diisi oleh responden.Cara mengetahui dukungan tenaga kesehatan dengan menggunakan kuesioner dengan 12 pertanyaan, dimana jawaban
48 pertanyaan berupa “Ya” dan “Tidak”.Jawaban “Ya” diberi nilai 1 dan jawaban
“Tidak” diberi nilai 0.
2. Kriteria Objektif
a. Mendapat dukungan yang baik dari tenaga kesehatan jika nilai kuesioner >
8.
b. Mendapat dukungan yang kurang dari tenaga kesehatan jika nilai kuesioner ≤ 8.
3.4.12 Keadaan Umum Ibu 1. Keadaan umum baik
Definisi:
Dikatakan keadaan umum baik apabila kondisi kesehatan ibu setelah partus secara keseluruhan dalam keadaan normal.Hal ini dapat dilihat dari kondisi ibu secara umum, kesadaran dan tanda vital.
2. Keadaan umum buruk Definisi:
Keadaan umum buruk ditujukan kepada kondisi kesehatan ibu yang tidak baik setelah partus, seperti lemah, sesak, kejang, perdarahan dan syok, sehingga dibutuhkan penanganan khusus untuk memperbaikinya.
3.4.13. Diare 1. Definisi
Diare merupakan suatu gejala dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja dan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari (konsistensi cair:diare, konsistensi seperti pasta: bukan diare), namun
49 tidak selamanya mencret dikatakan diare misalnya pada bayi yang berusia kurang dari sebulan, buang air hingga lima kali sehari dan fesesnya lunak (Masri, 2004).
2. Kriteria Objektif
a. Bayi dengan frekuensi buang air besar > 3 kali dalam 1 bulan b. Bayi dengan frekuensi buang air besar < 3 kali dalam 1 bulan.
50 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian nested cases control dimana observasi atau pengukuran antara variabel independen dan variabel dependen dilakukan secara prospektif (ke depan) selama 1 bulan.
4.2 Lokasi dan waktu penelitian 4.2.1 Lokasi penelitian
Penelitian akan dilakukan di RSUD SYECH YUSUF gowa.
4.2.2 Waktu penelitian
Penelitian akan dilakukan mulai tanggal 5 desember 2011 sampai 10 januari 2012 4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi merupakan keseluruhan sampel yang menyangkut masalah yang diteliti (Beni,2008). Populasi target adalah bayi usia 0-1 bulan. Populasi terjangkau adalah bayi usia 0-1 bulan yang lahirkan di RS Syech Yusuf.
4.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian kecil dari populasi (Beni,2008). Sampling adalah proses menyeleksi populasi yang dapat mewakili populasi yang ada. Sampel penelitian diambil dengan teknik Purposive sampling (Murti, 2006).
Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, yaitu:
51 1.Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari populasi target yang terjangkau akan diteliti (Nursalam,2003). Dalam penelitian ini kriteria inklusinya adalah:
1.Bayi baru lahir
2.Tidak ada cacat bawaan dan penyakit bawaan
3.Ibu dari bayi yang akan diteliti bersedia untuk mengikuti penelitian dan telah menandatangani informed consent.
2. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang tidak memenuhi criteria inklusi tidak diikutsertakan dalam penelitian (Nursalam, 2003).
Kriteria eksklusinya adalah:
1. Bayi dengan cacat bawaan dan penyakit bawaan
2. Tidak menandatangani persetujuan kesediaan (informed consent) 3. Bayi meninggal dalam rentang waktu penelitian
52 4.4 Alur penelitian
Bayi usia 1 bulan Ibu dan bayi baru lahir
Pengisian kuisioner mingguan:
- Penilaian pola pemberian ASI - Morbiditas diare dan
ISPA
Identifikasisampeldanr esponden
(wawancaradanpengisi ankuisioner) :
- Data bayi - Data responden - Pengetahuantentang
ASI
- Polapemberian ASI - Dukungankeluarga - Dukungantenagakese
hatan
- Pengukuran BB lahir
- Penilaianstatus gizi (BB/U) - Penilaianpolape
mberian ASI - Penilaianmorbid
itasdiaredan ISPA
Hari I
Awalpenelitia n
Minggu I,II, dan III
pencatatandanobservasiselamap enelitian
Akhirbulan I
Akhir penelitian
53 4.5 Penentuan besar sampel
Sesuai dengan rancangan penelitian nested case control, subjek dibagi dalam kelompok kasus (bayi dengan ASI eksklusif) dan kelompok control (bayi dengan ASI non eksklusif).
Rumus
yang digunakan adalah
Keterangan:
- Zα = Deviat Baku Alfa (Z=1,960 untuk α= 0,05) - Zβ = Deviat Baku Beta (Z=0,842 untuk β=0,20) - P2 = Proporsi dalam kelompok yang sudah
diketahui nilainya (0,60) - Q2 = 1-P2 =1-0,60=0,4
- P1 = Proporsi pada kelompok yang nilainya merupakan judgement peneliti (0,80)
- Q1 = 1-P1 =1-0,80= 0,2
- P1 – P2 = Selisih proporsi minimal yang dianggap bermakna (0,80-0,60= 0,20)
- P = Proporsi total = (P1+P2)/2 = (0,80+0,60)/2
= 0,7
- Q = 1-P = 1-0,7=0,3 - OR = 2
54 Maka,
-
-
-
- 81
Dari perhitungan rumus besar sampel ini diperoleh jumlah sampel minimal pada masing-masing kelompok adalah 82
4.6 Instrument penelitian
Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengetahui hubungan antara pola pemberian ASI eksklusif dan morbiditas pada bayi umur 1 bulan.
4.7 Metode pengumpulan data
Data primer merupakan data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden (ibu bayi) yang berisi daftar pertanyaan dan jawaban yang telah disiapkan. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari rekam medic.
4.8 Etika penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti harus memperhatikan masalah etika penelitian yang meliputi:
55 1. Lembar persetujuan informed consent
Pada lembar persetujuan diberikan kepada responden yang diteliti, dimana peneliti menjelaskan maksud dari penelitian yang akan dilakukan dari dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Bila subjek menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.
2. Kerahasiaan nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan namanya dalam lembar pengumpulan data, cukup dengan diberi kode pada masing-masing lembar (Nursalam, 2003).
3. Kerahasiaan
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan dijadikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian (Alimun,2003).
4.9 Metode analisis data
Untuk menguji hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan morbiditas pada bayi umur 0-1 bulan adalah dengan menggunakan uji statistic chi square dan akan diolah dengan SPSS 19.