• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEP

4.5 Penentuan Besar Sampel

Sesuai dengan rancangan penelitian nested case control, subjek dibagi dalam kelompok kasus (bayi dengan ASI eksklusif) dan kelompok control (bayi dengan ASI non eksklusif).

Rumus

yang digunakan adalah

Keterangan:

- Zα = Deviat Baku Alfa (Z=1,960 untuk α= 0,05) - Zβ = Deviat Baku Beta (Z=0,842 untuk β=0,20) - P2 = Proporsi dalam kelompok yang sudah

diketahui nilainya (0,60) - Q2 = 1-P2 =1-0,60=0,4

- P1 = Proporsi pada kelompok yang nilainya merupakan judgement peneliti (0,80)

- Q1 = 1-P1 =1-0,80= 0,2

- P1 – P2 = Selisih proporsi minimal yang dianggap bermakna (0,80-0,60= 0,20)

- P = Proporsi total = (P1+P2)/2 = (0,80+0,60)/2

= 0,7

- Q = 1-P = 1-0,7=0,3 - OR = 2

54 Maka,

-

-

-

- 81

Dari perhitungan rumus besar sampel ini diperoleh jumlah sampel minimal pada masing-masing kelompok adalah 82

4.6 Instrument penelitian

Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengetahui hubungan antara pola pemberian ASI eksklusif dan morbiditas pada bayi umur 1 bulan.

4.7 Metode pengumpulan data

Data primer merupakan data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden (ibu bayi) yang berisi daftar pertanyaan dan jawaban yang telah disiapkan. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari rekam medic.

4.8 Etika penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti harus memperhatikan masalah etika penelitian yang meliputi:

55 1. Lembar persetujuan informed consent

Pada lembar persetujuan diberikan kepada responden yang diteliti, dimana peneliti menjelaskan maksud dari penelitian yang akan dilakukan dari dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Bila subjek menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.

2. Kerahasiaan nama (Anonimity)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan namanya dalam lembar pengumpulan data, cukup dengan diberi kode pada masing-masing lembar (Nursalam, 2003).

3. Kerahasiaan

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan dijadikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian (Alimun,2003).

4.9 Metode analisis data

Untuk menguji hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan morbiditas pada bayi umur 0-1 bulan adalah dengan menggunakan uji statistic chi square dan akan diolah dengan SPSS 19.

56 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa, merupakan Rumah Sakit Klasifikasi B yang terletak di Ibukota Kabupaten Gowa ± 500 m ke timur dari jalan raya menghubungkan kota-kota yang berada di Sulawesi Selatan ± 10 km dari arah timur kota Makassar yang luasnya 4,62 Ha. dengan fasilitas :

1. Jumlah Tempat Tidur sebanyak 177 TT

2. Rawat Darurat 24 Jam

3. Rawat Jalan dengan 10 Pelayanan Spesilistik

4. Medical Checkup

5. Kamar Bedah dengan 1 Kamar Operasi

6. Kamar Bersalin dengan 4 buah Tempat Tidur

7. Pelayanan Penunjang Medis (Laboratorium, Radiologi,Kamar Bedah, Rawat Darurat, Farmasi, CT-Scan, PA, USG, EEG, EKG, Treadmill, Spirometri dll)

8. Penunjang Lainnya (ambulance, Kereta Jenazah, dll)

Dengan Keputusan SK. Menteri Kesehatan R.I Nomor 995/Menkes/SK/X/2008 tanggal 29 Oktober 2008 tentang Peningkatan kelas RSUD Syekh Yusuf dari kelas C menjadi kelas B.

57 RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa merupakan rumah sakit milik Pemda Kab. Gowa yang berlokasi di Kota Gowa, Rumah Sakit ini menerima pasien dari Wilayah Kabupaten Gowa, Kota Gowa. Dengan jumlah pegawai per 31 Juli 2010 sebanyak 348 orang.

RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa memberi pelayanan dengan motto “ SIPAKALABBIRI”

RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa menerima pelayanan pasien selain dengan pembayaran Tunai, Pasien Askes, Pasien Kerja Sama dengan Jaminan Perusahaan, Pasien JAMKESMAS, Pasien JAMKESDA.

Walaupun bukan sebagai RS Pendidikan, RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa digunakan sebagai lahan pendidikan Mahasiswa-mahasiswa Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, Akademi Gizi, Akademi Radiologi, Akademi Farmasi, Akademi Rehabilitasi, dll. Untuk menimba ilmu di RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa.

Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa dibangun sejak tahun 1982 yang dilengkapai dengan beberapa unit bangunan antara lain :

1. Pembangunan tahap pertama pada tahun 1982 terdiri dari :

1. Gedung Kantor seluas 245 m²

2. Gedung Perawatan I seluas 420 m²

3. Rumah Dinas 2 buah seluas 190 m²

4. Selasar 5 buah sepanjang 450 m²

58 2. Pembangunan tahap kedua

3. pada tahun 1984 terdiri dari :

1. Gedung Bedah (OK) seluas 270 m²

2. Gedung Kamar Loundry 36 m²

3. Gedung Gudang Rumah Sakit 36 m²

4. Pembangunan tahap ketiga tahun 1989 terdiri dari :

1. Gedung Perawatan II seluas 420 m²

2. Gedung Selasar sepanjang 63 m²

5. Pembagunan tahap keempat tahun 1993 terdiri dari :

1. Selasar sepanjang 20 m²

2. Taman seluas 20 m²

3. Pagar sepanjang 20 m²

6. Pembangunan tahap kelima tahun 1994 terdiri dari :

1. Mushollah 82 m²

2. Gardu Satpam 6 m²

3. Unit Gawat Darurat 126 m²

7. Pembangunan tahap keenam tahun 1998 terdiri dari :

1. Perawatan III 460 m²

8. Pembangunan tahap ketujuh tahun 2001 terdiri dari :

1. Poliklinik Ahli

9. Pembangunan tahap kedelapan tahun 2002 terdiri dari :

1. Gedung IPSRS merupakan renovasi dari bangunan Rumah Sakit

59

2. Perawatan IV merupakan Renovasi Asrama RSUD. Syekh Yusuf Kab. Gowa

10. Pembangunan tahap kesembilan tahun 2003 terdiri dari :

1. Renovasi Pagar depan, samping kiri / kanan

2. Renovasi Selasar penghubung

3. Pembangunan Gedung Loundry

4. Pembangunan Pos Jaga Satpam II

11. Pembangunan tahap kesepuluh tahun 2004 terdiri dari :

1. Renovasi Gedung Perawatan I

2. Pemasangan Jaringan Instalasi Air Bersih

3. Pembuatan saluran Limbah Rumah Sakit

4. Pengadaan Motor dan Rumah Incenerator

5. Renovasi Gedung Unit Rawat Darurat

6. Pengadaan Alat Pemadaman Kebakaran

7. Penimbunan dan Pemasangan Paving Blok 12. Pembangunan tahap kesebelas tahun 2005 terdiri dari :

1. Renovasi Gedung Perawatan II

2. Renovasi Gedung Intalasi Gizi / Fisioterapi

3. Renovasi pembangunan Instalasai Farmasi

4. Pembangunan Instalasi Sarana Air Bersih

5. Pembangunan Instalasi Bak Penampungan Air Limbah

6. Pengadaan peralatan Penunjang Perwatan

7. Alat Kesehatan Mesin Anastesi

60

8. Bimbingan dan Pelatihan Akreditasi

9. Peningkatan Kualitas SDM Rumah Sakit

10. Lanjutan Gedung Perawatan

11. Penataan Taman Belakang Rumah Sakit

13. Pembangunan tahap keduabelas tahun 2006 terdiri dari :

1. Pembangunan Lanjutan Perawatan I

2. Pengadaan Peralatan Penunjang Perawatan

3. Bimbingan dan Pelatihan Anastesi

4. Pengadaan Peralatan Kedokteran Gigi

5. Pengadaan Alat Kesehatan Sterilisator

6. Pembangunan Kantor Lama

7. Lanjutan Pembangunan Taman Belakang Rumah Sakit

8. Lanjutan Renovasi Ruang Instalasi Gizi / Fisioterapi 14. Pembangunan Perawatan V Tahun 2008

15. Pembangunan Perawatan Kelas III TAhun 2009

16. Rehabilitasi Bangunan Perawatan Kebidanan Tahun 2009 17. Renovasi Gedung Instalasi Gawat Darurat Tahun 2010

5.2 Deskripsi karakteristik subjek

Penelitian ini berlansung selama 36 hari terhitung mulai tanggal 5 desember 2011 sampai 10 januari 2012 tentang hubungan pola pemberian ASI dengan morbiditas pada bayi umur 1 bulan di RSUD syech yusuf Makassar.

Jumlah ibu yang melakukan proses persalinan 72 orang dri 5 desember sampai 10

61 januari di RSUD syech yusuf, dan ibu yang juga telah memenuhi kriteria inklusi dan eklusi adalah 72 orang pasien.

Subjek dalam penelitian ini adalah semua ibu yang melakukan persalinan di rumah sakit dan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eklusi dimana data diperoleh dari hasil pengisian quesioner yang di berikan pada ibu yang telah melakukan proses persalinan di RSUD syech yusuf makassar.

Data yang diperoleh kemudian diolah dan di sajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabulasi sesuai dengan tujuan penelitian dan disertai narasi yang di gunakan sebagai penjelasan tabel.

62 5.3 Analisis Univariat

5.3.1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Ibu Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Ibu

Variabel Jumlah

n =72 Persentase(%) Umur ibu

1. 15-20 thn 10 13,9

2. 21-25 thn 16 22,2

3. 26-30 thn 21 29,

4. 31-35 thn 16 22,2

5. 36-40 thn 9 12,5

6. 41-45 thn 0 0

Pendidikan ibu

1. Tidak sekolah 1 1,4

2. SD 15 20,8

3. SMP 12 16,7

4. SMA 30 41,7

5. PT 14 19,4

Pekerjaan ibu

1. Bekerja 11 15,3

2. Tidak bekerja 61 84,7

Pengetahuan ibu

1. Baik 42 58,3

2. Kurang 30 41,7

Penghasilan ibu

1. Kurang (<1.000.000) 39 54,2

2. Sedang (1.000.000-3.000.000) 17 23,6

3. Cukup (3.000.000-5.000.000) 14 19,4

4. Tinggi (>5.000.000) 2 2,8

Paritas

1. Primipara 26 36,1

2. Multipara 46 63,9

Proses Persalinan

1. Normal 51 70,8

2. Sectio Cesarea 21 29,2

Dukungan Keluarga

1. Cukup 65 90,3

2. Kurang 7 9,7

Dukungan Tenaga Kesehatan

1. Baik 52 72,2

2. Kurang 20 27,8

Sumber : data primer 2011

63 Sesuai tabel diatas ini maka ada sembilan variabel yang dinilai. Yang pertama yaitu umur ibu. Umur responden merupakan umur yang terhitung sejak dilahirkan hingga saat pengambilan data yang dinyatakan dalam satuan tahun.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kategori umur ibu yang paling banyak ditemukan adalah umur 26-30 thn dengan jumlah Responden 21(29,2%). Rerata umurnya 27,85 tahun (SD±5,79). Umur responden yang paling muda adalah 19 tahun dan paling tua adalah 38 tahun.

Selain itu dari segi tingkat pendidikan responden didapatkan bahwa yang paling banyak adalah SMA yang berjumlah 30 responden (41,7%). Dan hanya ada 1 responden yang tidak sekolah.

Hampir semua responden masuk dalam kategori Tidak bekerja dengan jumlah 61 responden (84,7%). Dalam hal ini IRT/Ibu Rumah Tangga, dan hanya sekitar 11 responden (15,3%) yang masuk dalam kategori bekerja untuk menghasilkan pekerjaan.

Yang dimaksud dengan pengetahuan pada penelitian ini adalah pengetahuan responden tentang ASI, kandungan ASI, manfaat ASI, pengaruh menyusui ibu pada bayi, akibat kekurangan ASI. Tingkat pengetahuan responden diukur dengan menggunakan kuesioner berupa pertanyaan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tiap responden memiliki tingkat pengetahuan yang Baik berjumlah 42 responden (58,3%).

Dari segi penghasilan responden maka kebanyakan responden masuk dalam kategori penghasilan Kurang (<1.000.000) berjumlah 39 responden

64 (54,2%). Dan hanya 2 responden yang masuk dalam kategori penghasilan Tinggi (>5.000.000).

Dari segi paritas maka dari hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang masuk dalam kategori Multipara adalaha 46 responden (63,9). Selain itu proses persalinan responden kebanyakan masuk dalam kategori proses persalinan Normal jumlahnya 51 responden (70,8%).

Untuk kategori dukungan keluarga maka berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sekitar 90,3 % atau 65 responden memiliki dukungan keluarga yang baik. Selain dukungan keluarga, juga dinilai seberapa besar dukungan tenaga kesehatan di RSUD Syekh Yusuf, dan didapatkan bahwa Dukungan tenaga kesehatan masuk dalam kategori Baik dengan jumlah 52 responden (72,2%).

5.3.2 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Bayi

Berdasarkan tabel dibawah ini dinilai karakteristik bayi mulai dari jenis kelamin, jenis ASI, Morbiditas ISPA dan Diare, Status gizi, berat badan lahir.

Untuk jenis kelamin bayi maka dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan berjenis kelamin Laki-laki berjumlah 42 (58,3%).

Selain itu dinilai pula jenis asi yang diberikan oleh bayi. Didapatkan bahwa kebanyakan bayi mendapatkan Jenis ASI Eksklusif berjumlah 49 (68,1%).

Tiap minggu bayi responden dinilai bagaimana tingkat perkembangannya dalam hal ini tingkat morbiditas. Untuk kategori morbiditas Diare, didapatkan bahwa kebanyakan bayi Tidak mengalami Diare dari tiap follow up, yaitu 47 bayi (65,3%). Selain itu untuk kategori morbiditas Diare, didapatkan bahwa

65 kebanyakan bayi tidak mengalami Diare dari hasil follow up tiap minggu sebesar 47 bayi (65,3%).

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa status gizi bayi kebanyakan masuk dalam kategori Baik ≥-2 sampai +2 SD dengan jumlah 37 bayi (51,4%). Hal ini berhubungan dengan berat badan lahir bayi, dimana dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki berat badan lahir ≥ 2500 gram berjumlah 66 bayi (91,7%)

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Bayi

Variabel Jumlah

n=72 %

Jenis Kelamin

Laki-laki 42 58,3

Perempuan 30 41,7

Jenis ASI

ASI Eksklusif 49 68,1

Bukan ASI Eksklusif 23 31,9

Morbiditas

Diare 25 34,7

Tidak Diare 47 65,3

Morbiditas

ISPA 20 27,8

Tidak ISPA 52 72,2

Status Gizi

Lebih >+2 SD 0 0

Baik >-2 sampai +2 SD 37 51,4

Kurang <-2 sampai >-3 SD 18 25,0

Buruk <-3 SD 17 23,6

Berat Badan Lahir

< 2500 gram 6 8,3

> 2500 gram 66 91,7

Sumber : data Primer 2011

66 5.3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pola Pemberian ASI

Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pola Pemberian ASI

Variabel Jumlah

n=72 %

Pola Pemberian ASI

1. ASI Eksklusif 49 68,1

2. ASI dan Susu Formula 23 31,9

3. ASI, Minuman Lain 0 0

Alasan tidak memberi ASI Eksklusif

1. ASI Tidak ada 4 33,3

2. ASI Sedikit 0 0

3. Alasan Lain 0 0

Pemberian Colostrum

1. < 30 menit 28 38,9

2. 30 menit- 1 jam 1 1,4

3. > 1 jam - 1 hari 20 27,8

4. Tidak Memberi ASI 23 31,9

Alasan tidak memberi Colostrum

1. ASI Tidak keluar 24 55,8

2. Ibu Lelah 19 44,2

3. Tidak tahu manfaat ASI 0 0

Sumber : data Primer 2011

Berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui bahwa pola pemberian ASI dibagi dalam 3 kategori yaitu ASI Eksklusif, ASI dan Susu Formula, ASI, Minuman Lain. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan responden memberikan bayinya ASI Eksklusif dengan jumlah 49 subjek (68,1%).

Tetapi ada juga responden yang tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Ada beberapa alasan yang disampaikan misalnya ASI Tidak ada, ASI Sedikit, Alasan Lain. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sekitar 4 responden yang tidak memberikan ASI Eksklusif dan alasannya karena ASInya tidak ada yang keluar.

67 Dalam kuisioner juga ditanyakan kepada responden tentang pemberian kolostrum kepada bayinya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan responden memberikan kolostrum dalam waktu kurang 30 menit dengan jumlah 28 responden (38,9%).

Ada juga responden yang tidak memberikan colostrum kepada bayinya.

Ada beberapa alas an yang disampaikan yaitu ASI Tidak keluar dengan jumlah terbanyak yaitu 24 responden (55,8%), Ibu Lelah, Tidak tahu manfaat ASI.

5.4 Analisis Bivariat

5.4.1 Distribusi Hubungan Pengetahuan Dengan Pola Pemberian ASI Tabel 5.4 Distribusi Hubungan Pengetahuan Dengan Pola Pemberian ASI

Pengetahuan

Pola Pemberian ASI

POR

(95% CI) Nilai P ASI Eksklusif

Bukan ASI Eksklusif

n % N %

Baik 34 81,0 8 19,0 4,2

(1,5-12,2) 0,005

Kurang 15 50,0 15 50,0

Total 49 68,0 23 32,0

Sumber : data Primer 2011

Dari tabel diatas didapatkan bahwa kebanyakan responden memiliki pengetahuan yang baik tentang ASI Eksklusif dengan jumlah responden 34

(81,0%). Sedangkan untuk nilai p didapatkan 0,005. Hal ini berarti ada hubungan antara pengetahuan dengan Pola pemberian ASI. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 4,2. Dengan Nilai confidence interval 95%

adalah 1,5-12,32 yang berarti bahwa ada kekuatan hubungan antara pengetahuan dengan pola pemberian ASI namun tidak signifikan.

68 5.4.2 Distribusi Hubungan Umur Responden Dengan Pola Pemberian ASI Tabel 5.5 Distribusi Hubungan Umur Responden Dengan Pola PemberianASI

Umur

Jenis ASI

POR

(95% CI) Nilai P ASI Eksklusif

Bukan ASI Eksklusif

n % n %

15-30 tahun 17 58,6 12 41,4 0,5

(0,2-1,3) 0,519

31-40 tahun 32 74,4 11 25,6

Total 49 68,1 23 31,9

Sumber : data Primer 2011

Dari tabel diatas dapat diketahui tentang variable umur. Untuk kepentingan statistic variable umur diubah menjadi 2 kategori meskipun sebenarnya ada 5 kategori. Hal ini dilakukan agar bisa diketahui nilai prevalens odds ratio dan confidens interval 95%. Sehingga bisa diketahui bahwa umur yang paling banyak adalah 15-30 tahun yang memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya sebesar 17 responden (58,6%). Didapatkan nilai P adalah 0,519. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara umur responden dengan jenisASI yang diberikan. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 0,5.

Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,2-1,3 yang berarti bahwa umur responden merupakan faktor protektif terhadap jenis ASI yang diberikan namun tidak signifikan.

69 5.4.3 Distribusi Hubungan Pola Pemberian ASI Dengan Morbiditas Diare Tabel 5.6 Distribusi Hubungan Pola Pemberian ASI Dengan Morbiditas Diare

Pola Pemberian ASI

Morbiditas

POR

(95% CI) Nilai P Diare Tidak Diare

n % n %

ASI Eksklusif 15 30,6 34 69,4 0,6 (0,2-1,6) 0,285 Bukan ASI Eksklusif 10 43,5 13 56,5

Total 25 34,7 47 65,3

Sumber : data Primer 2011

Dari tabel diatas dihubungkan antara pola pemberian ASI yang diberikan terhadap jenis Morbiditas Diare. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif maka tidak mengalami diare sebesar 34 bayi (69,4%). Selain itu didapatkan nilai P 0,285. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara pola pemberian ASI dengan morbiditas diare.

Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 0,6. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,2-1,6 yang berarti bahwa jenis asi merupakan faktor protektif terhadap morbiditas diare namun tidak signifikan.

5.4.4 Distribusi Hubungan Status gizi Dengan Morbiditas Diare Tabel 5.7 Distribusi Hubungan Status gizi Dengan Mrobiditas Diare

Status Gizi

Morbiditas

Nilai P Diare Tidak Diare

n % n %

Baik 23 34,3 44 65,7

0,359

Kurang 1 25,0 3 75,0

Buruk 1 100,0 0 0,0

Total 25 34,7 47 65,3

Sumber : data Primer 2011

70 Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki status gizi yang baik serta tidak mengalami diare sebesar 44 subjek (65,7%). Nilai untuk P adalah 0,359 hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan morbiditas diare.

5.4.5 Distribusi Hubungan Berat Badan lahir Dengan Morbiditas Diare Tabel 5.8 Distribusi Hubungan Berat badan Lahir Dengan Morbiditas Diare

Berat Badan Lahir

Morbiditas

POR

(95% CI) Nilai P Diare Tidak Diare

n % n %

< 2500 gram 4 66,7 2 33,3 4,3

(0,7-25,3) 0,086

> 2500 gram 21 31,8 45 68,2

Total 25 34,7 47 65,3

Sumber : data Primer 2011

Untuk berat badan lahir yang dihubungkan dengan morbiditas diare didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki berat badan normal > 2500 gram serta tidak mengalami diare sebesar 45 bayi (68,2%). Selain itu didapatkan nilai P 0,086. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan morbiditas diare. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 4,3. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,7-25,3 yang berarti bahwa berat badan lahir bayi memiliki kekuatan hubungan terhadap morbiditas diare namun tidak signifikan.

71 5.4.6 Distribusi Hubungan Pola Pemberian ASI Dengan Morbiditas ISPA Tabel 5.9 Distribusi Hubungan Pola Pemberian ASI Dengan Morbiditas ISPA

Pola Pemberian ASI

Morbiditas

POR

(95% CI) Nilai P

ISPA Tidak ISPA

n % n %

ASI Eksklusif 13 26,5 36 73,5 0,8 (0,3-2,4) 0,73 Bukan ASI Eksklusif 7 30,4 16 69,6

Total 20 27.8 52 72.2

Sumber : data primer 2011

Dari tabel diatas dihubungkan antara pola pemberian ASI yang diberikan terhadap jenis Morbiditas ISPA. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif maka tidak mengalami ISPA sebesar 36 bayi (73,5%). Selain itu didapatkan nilai P 0,73. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara pola pemberian ASI dengan morbiditas ispa. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 0,8. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,3-2,4 yang berarti bahwa pola pemberian asi merupakan faktor protektif terhadap morbiditas ISPA namun tidak signifikan.

5.4.7 Distribusi Hubungan Status gizi Dengan Morbiditas ISPA Tabel 5.10 Distribusi Hubungan Status gizi Dengan Morbiditas ISPA

Status Gizi

Morbiditas

Nilai P

ISPA Tidak ISPA

n % n %

Baik 20 29,2 47 70,1

0,356

Kurang 0 0 4 100,0

Buruk 0 0 1 100,0

Total 20 27,8 52 72,2

Sumber : data primer 2011

72 Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki status gizi yang buruk serta tidak mengalami ISPA sebesar 52 subjek (72,2%). Nilai untuk P adalah 0,356 hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan morbiditas ISPA.

5.4.8 Distribusi Hubungan Berat Badan Lahir Dengan Morbiditas ISPA Tabel 5.11 Distribusi Hubungan Variabel Dengan Morbiditas ISPA

Berat Badan Lahir

Morbiditas

POR (95% CI)

Nilai ISPA Tidak ISPA P

n % n %

< 2500 gram 0 0 6 100,0 1,4

(1,2-1,7) 0,113

> 2500 gram 20 30,3 46 69,7

Total 20 27.8 52 72.2

Sumber : data primer 2011

Untuk berat badan lahir yang dihubungkan dengan morbiditas ISPA didapatkan bahwa kebanyakan bayi memiliki berat badan normal ≥ 2500 gram serta tidak mengalami ISPA sebesar 46 bayi (69,7%). Selain itu didapatkan nilai P 0,113. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan morbiditas ISPA. Selain itu di dapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 1,4. Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 1,2-1,7 yang berarti bahwa berat badan lahir bayi merupakan faktor protektif terhadap morbiditas ISPA namun tidak signifikan.

73 5.4.9 Distribusi Hubungan antara pengetahuan Dengan pola pemberian ASI Tabel 5.12 Distribusi Hubungan antara pengetahuan Dengan pola pemberianASI

Pengetahuan

Pola Pemberian ASI

POR (95% CI) Nilai P ASI Eksklusif

Bukan ASI Eksklusif

n % n %

Baik 8 19,0 34 81,0 0,2

(0,1-0,7) 0,005

Kurang 15 50,0 15 50,0

Total 23 31.9 49 68.1

Sumber : data primer 2011

Untuk kepentingan perhitungan statistic maka dilakukan recoding untuk mencari hubungan antara variable. Didapatkan bahwa kebanyakan ibu yang memiliki pengetahuan yang baik memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya sejumlah 34 responden (81,0%). Selain itu didapatkan nilai P yaitu 0,005. Hal ini berarti bahwa ada hubungan antara Pengetahuan ibu terhadap Jenis ASI yang diberikan. Selain itu didapatkan bahwa nilai Prevalens odds ratio adalah 0,2.

Dengan Nilai confidence interval 95% adalah 0,1-0,7 yang berarti bahwa pengetahuan responden merupakan faktor protektif terhadap jenis ASI yang diberikan serta hubungannya signifikan.

5.5 PEMBAHASAN Analisis Univariat

5.5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Ibu 5.5.1.1 Umur

Mengutip dari hasil penelitian Pola Pengasuhan dan Status gizi Balita di Kecamatan Medan Sunggal memperlihatkan hasil bahwa, semakin tua umur ibu maka pola pengasuhannya dalam pemberian makan dan praktik kesehatan akan

74 semakin baik. Hal ini dapat dimengerti karena semakin tua umur ibu maka dia akan belajar untuk semakin bertanggung jawab terhadap anak dan keluarganya.

Umur yang semakin tua menyebabkan semakin banyak pengalaman dan informasi mengenai kesehatan dan gizi keluarga.

Berdasarkan penelitian ini, umur responden dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok umur . 15-20 thn, 21-25 thn, 26-30 thn, 31-35 thn, 36- 40 thn, 41-45 thn. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa umur ibu yang menyusui setelah melahirkan pada penelitian ini umumnya wanita usia reproduktif, yaitu berada pada usia antara 26thn-30 thn.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Rannu Marianus (2009) bahwa kelompok umur ibu menyusui segera setelah melahirkan responden terbanyak adalah ibu yang berada pada kelompok umur 25-35 tahun (60%) yang berumur <

25 tahun (27.3%) dan > 35 tahun (12,7%).

Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Rohani ( 2007) di Langkat mendapatkan bahwa kebanyakan subjeknya berumur < 30 tahun.

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untukkehamilan persalinan dan menyusui adalah 20-35 tahun oleh sebab ituyang sesuai dengan masa reproduksi sangat baik dan sangat mendukungdalam pemberian ASI ekslusif, sedangkan umur yang kurang dari 20 tahun masih belum matang secara fisik mental dan psikologi dalam menghadapi kehamilan, persalinan serta pemberian ASI, sedangkan umurlebih dari 35 tahun dianggap juga berbahaya sebab baik alat reproduksi maupun fisik ibu sudah jauh berkurang dan

75 menurun selain itu bisa terjadi resiko bawaan pada bayinya dan juga dapat meningkatkan penyulit pada kehamilan, persalinan dan nifas.

Umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara mengasuh dan menyusui bayinya. lbu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap dalam hal jasmani dan sosial dalarn menghadapi kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi yang dilahirkan Depkes RI (1994). Sedangkan ibu yang berumur 20-35 tahun, menurut Hurlock (1997) disebut sebagai "masa dewasa"

dan disebut juga masa reproduksi,di mana pada masa ini diharapkan orang telah mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional,terutama dalarn menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat bayinya nanti.

5.5.1.2 pendidikan ibu

Menurut Apriadji, seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi dibandingkan dengan orang lain yang pendidikannya lebih tinggi. Karena sekalipun berpendidikan rendah, kalau orang tersebut rajin mendengarkan atau melihat informasi mengenai gizi tidak mustahil pengetahuan gizinya akan lebih baik.

Organisasi wanita melaporkan bahwa ibu yang agaknya kurang memulai ASI atau menyusui pada 6 bulan pertama adalah ibu-ibu muda, ras kulit hitam, mereka yang menjadi anggota Program Penambahan Makanan pada Wanita, Bayi