• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Pembelajaran dan Penilaian Bahasa Indonesia (SD/MI)

N/A
N/A
LULU DIENTI

Academic year: 2024

Membagikan "Pedoman Pembelajaran dan Penilaian Bahasa Indonesia (SD/MI)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Lulu Sania Dienti NIM : 2499010067

Resume

- Inspirasi Pembelajaran dan Penilaian Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (SD/MI) Pembelajaran bahasa Indonesia menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pendidikan bahasa pada khususnya, dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi pada umumnya. Pedoman mata pelajaran Bahasa Indonesia ini disusun dengan tujuan agar terwujud persamaan persepsi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Acuan lain yang tidak bertentangan dengan tujuan kurikulum dan bersifat memperkaya kegiatan pembelajaran sangat dimungkinkan untuk digunakan. Buku ini memuat karakteristik, desain pembelajaran, penilaian, media dan sumber belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Tujuan Buku disusun dengan tujuan agar para guru Bahasa Indonesia memahami (1) substansi dan karakteristik mata pelajaran Bahasa Indonesia, kompetensi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, desain pembelajaran untuk mencapai kompetensi berbahasa Indonesia, penilaian mata pelajaran Bahasa Indonesia, penggunaan sumber belajar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan pembiasaan budaya belajar. Dengan pemahaman terhadap hal-hal tersebut diharapkan para guru Bahasa Indonesia mampu mengaktualisasikan pemahaman mereka dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pemilihan media dan sumber belajar untuk pembelajaran bahasa Indonesia, serta mengoptimalkan perannya sebagai pengembang budaya belajar.

Ruang Lingkup Buku ini meliputi :

1. Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Indonesia - Hakikat Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah merpakan pembinaan dan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi yang diperlukan peserta didik dalam menempuh pendidikan dan di dunia kerja serta berkehidupan di lingkungan sosial. Pembelajaran sastra meliputi pemahaman karya sastra, sebagai khazanah kekayaan rohani bangsa, dengan caramengkaji nilai-nilai luhur, budaya, sosial, dan estetikdalam karya sastra untuk pengembangan sikap, pengetahuan, dan kecakapan peserta didik yang berbudaya Indonesia. Karya sastra yang dimaksud, di samping memiliki nilai-nilai keindahan, juga memperkuat nilai-nilai ilahiah para peserta didik dan memperkaya wawasan kebudayaan mereka, baik yang bersifat kedaerahan, nasional, dan dunia internasional. Kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk membangun sikap kriitis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan, dan sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bangsa.

- Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai:

1) Sarana Berpikir

Proses berpikir seharusnya melekat dan terus-menerus terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Ketikapendidik menghadirkan kegiatan berbahasa atau bersastra, kegiatan tersebut akan dapat dipahami dengan baik jika peserta didik mampu dan

(2)

mau berpikir . Penguasaan bahasa juga memengaruhi kemampuan peserta didik dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

2) Pemersatu Bangsa

Bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam mempersatukan bangsa dan sarana pengembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Penguasaan bahasa Indonesia oleh peserta didik juga akan menunjang keberhasilan mereka dalam mempelajari semua mata pelajaran. Proses penghayatan ini perlu diprogramkan secara terencana dan bersistem. Dengan cara ini melalui pengalaman belajar berbahasa Indonesia sebagai perekat bangsa diharapkan akan terbangun jiwa dan semangat kebersamaan peserta didik. Bahasa Indonesia dapat menjadikan setiap kita untuk merasa menjadi bagian dari kelompok masyarakatnya. Hal seperti ini pula yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda bersatu karena merasa samasama berkepentingan terhadap bahasa Indonesia.

3) Penghela Ilmu Pengetahuan

Melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, memirsa, membaca, dan menulis, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya secara terus-menerus untuk membantu pengembangan mata pelajaran lainnya.

Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna atau konsep, bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir.

4) Penghalus Budi Pekerti

Melalui kegiatan bersastra, pembelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan sebagai sarana penghalus budi pekerti. Kegiatan apresiasi karya sastra yang diawalidari membaca. Membaca harus menjadi kegiatan penting dalam pembelajaran bersastra peserta didik. Melalui kegiatan mendengarkan atau membaca puisi, prosa, dan drama, peserta didikterlibat dalam kegiatan reseptif. Pada kesempatan yang lain, peserta didik diajak untuk terlibat dalam kegiatan produktif, yaitu berekspresi dan berkreasi atau menghasilkanpuisi, cerpen, novel, dan/atau naskah drama. Oleh karena itu, pembelajaran sastra ditempuh dalam bentuk kegiatan produktif lisan atau tulis juga dapat mempresentasikan kinerja apresiatifnya. Dengan demikian, kegiatan reseptif dan produktif dalambersastra akan menjadi rangkaian kegiatan apresiasi, ekpresi.

5) Pelestari Budaya Bangsa dan Bahasa Pengantar Dalam Pendidikan

Bahasa Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan eksistensinya. Sebagai bagian dari budaya bangsayang dijunjung tinggi ,eksistens ibahasa Indonesia akan terus bertahan dan bahkan menguat jika dilestarikan oleh setiap penuturnya. Pembelajaran Bahasa Indonesiadi satuan pendidikan merupakan upaya melestarikan eksistensi bahasa Indonesia sebagai

(3)

bahasa Negara dan dalam memerankan fungsinya sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia.

2. Desain Pembelajaran - Pendekatan

Pendekatan pengembangan kurikulum bahasa di berbagai negara maju saat ini, juga menjadi dasar Kurikulum 2013, yaitu genre-based, genre pedagogy dancontent language integrated learning (CLIL).

1. Genre-based

Beberapa prinsip pada pendekatan ini, yaitu: (1) teks terbentuk karena tuntutan kegiatan sosial; (2) teks itu memiliki tujuan sosial; (3) bentuk teks merupakan hasil konvensi; (4) kebahasaan (tata bahasa) suatu teks bersifat fungsional sesuai tujuan sosial; dan (5) bahasa teks, seperti kosa kata, tata bahasa, atau ciri lainnya tidak boleh diajarkan terpisah dari pertimbangan struktur teksnya

Ada 7 jenis teks sebagai tujuan sosial, yaitu: laporan (report), rekon (recount), eksplanasi (explanation), eksposisi (exposition: discussion, response or review), deskripsi (description), prosedur (procedure), dan narasi (narrative).

2. Pedagogi genre

Terdapat 4C dalam pembelajaran berbahasa berbasis teks yaitu content, communication, cognition, culture (community/citizenship). Content itu berkaitan dengan topik apa (dalam hal ini adalah topik IPA seperti ekosistem).

Communication berkaitan dengan bahasa jenis apa yang digunakan (misalnya membandingkan, melaporkan). Pada bagian ini konsep genre teraplikasi, bagaimana suatu jenis teks tersusun (struktur teks) dan bentuk bahasa apa yang sering digunakan pada jenis teks tersebut. Cognition berkaitan dengan keterampilan berpikir apa yang dituntut berkenaan dengan topik (misalnya mengidentifikasi, mengklasifikasi). Culture berkaitan dengan muatan lokal lingkungan sekitar yang berkaitan dengan topik, misalnya kekhasan tumbuhan yang ada di wilayah tempat siswa belajar, termasuk juga persoalan karakter dan sikap berbahasa.

Pengetahuan didapat melalui langkah-langkah metode ilmiah: mengajukan pertanyaan, mengamati fakta, mengajukan jawaban sementara, menguji fakta, menyimpulkan jawaban, menyampaikan temuan. Proses utama belajar mengajar pedagogi genre dikenal sebagai siklus belajar mengajar yang terdiri atas empat tahap, yaitu: (1) penyiapan konteks dan membangun pembelajaran; (2) pemodelan dan dekonstruksi; (3) konstruksi terbimbing ; dan (4) konstruksi mandiri.

Di awal pelajaran peserta didik dibiasakan untuk membaca teks. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan pendidik di SD/MI adalah dengan rutin menugasi peserta didik untuk menjelaskan dari lingkup terdekat yaitu menjelaskan diri sendiri, keluarga/kerabat, dan lingkungan sosial.

- Metode 3. Penilaian

- Tujuan

Tujuan penilaian di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia secara umum untuk (1) mengetahui ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran bahasa Indonesia; (2)

(4)

memberikan gambaran yang objektif tentang kemampuan berbahasa Indonesia siswa;

(3) mengetahui kemampuan siswa di dalam KIKD tertentu; (4) menentukan kelayakan siswa dalam berbahasa Indonesia; (5) memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia; (6) memberikan motivasi belajar bagi siswa dan motivasi berprestasi bagi guru.

- Proses

1) Perencanaan, yang berisi kegiatan-kegiatan perumusan tujuan penilaian, penetapan aspek-aspek yang akan dinilai, penentuan metode penilaian yang akan dipergunakan, penyusunan alat penilaian, penentuan kriteria yang dipergunakan, dan penentuan frekuensi pelaksanaan penilaian.

2) Pengumpulan data yang berupa kegiatan-kegiatan pelaksanaan penilaian, pemeriksaan hasil penilaian atau lembar tugas, dan pemberian skor.

3) Pengolahan data hasil penilaian yang mungkin dilakukan dengan teknik statistik atau nonstatistik, tergantung jenis data yang diperoleh kualitatif atau kuantitatif.

4) Penafsiran terhadap hasil kegiatan pengolahan data dengan mendasarkan diri pada norma tertentu.

5) Penggunaan hasil penilaian yang telah selesai diolah dan ditafsirkan sesuai dengan tujuan penilaian.

- Prinsip

beberapa prinsip penilaian yang dikembangkan oleh BSNP yaitu sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, akuntabel.

- Teknik

Teknik penilaian pembelajaran bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknik tes dan teknik nontes.

1) Pengembangan Instrumen Penilaian

Hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan instrument penilaian : a. Kompetensi yang dinilai harus sesuai dengan KI-KD

b. Penentuan tujuan penilaian diambil dari indicator-indikator pencapaian c. Penyusunan kisi-kisi

d. Perumusan indicator pencapaian

Hal yang harus diperhatikan pada perumusan indicator: (1) rumusan indikator menggunakan kata kerja operasional; (2) setiap KD dapat diturunkan menjadi beberapa indikator, (3) indikator yang dikembangkan haruslah memberikan makna bagi kehidupan siswa sehari-hari, (4) setiap indikator dapat dibuat menjadi lebih dari satu butir soal.

e. Penyusunan instrument - Penyusunan tes tertulis

Hal-hal yang harus diperhatikan, meliputi: a. memperhatikan persyaratan penyusunan tes tertulis, baik dari aspek materi/isi/konsep, konstruksi, maupun bahasa; b. mengacu pada indikator pencapaian; c. memilih bentuk butir yang sesuai dengan indikator, misalnya bentuk isian, uraian, pilihan

(5)

ganda atau lainnya; serta d. membuat kunci jawaban dan/atau pedoman penskoran.

- Penyusunan pedoman observasi

hal-hal yang harus diperhatikan adalah: a. mengacu pada indikator pencapaian; b. mengidentifikasi perilaku atau langkah kegiatan yang diobservasi; 22 c. menentukan model skala yang dipakai, yakni skala penilaian (rating scale) atau daftar cek (check list); serta d. membuat rubrik/pedoman penskoran sesuai jenis teks.

- Penyusunan penugasan (tugas rumah/proyek)

hal yang harus diperhatikan dalam penilaian proyek, yaitu kemampuan pengelolaan, relevansi, dan keaslian. Langkahlangkah penyusunan penilaian proyek adalah: (a) mengacu pada indikator pencapaian, (b) mengacu pada jenis tugas yang dikerjakan, (c) membuat rubrik/pedoman penskoran sesuai jenis teks.

2) Pelaksanaan Penilaian

Untuk mengukur keberhasilan kompetensi pengetahuan menggunakan tes tulis dan tes lisan. Untuk mengukur ketrampilan menggunakan tes kinerja, penugasan (lisan, tulis, proyek, atau multimodal) dan/atau portofolio. Sedangkan unuk sikap menggunakan lembar pengamatan, lembar penilaian diri, lembar penilaian antarteman, dan jurnal.

3) Pengolahan dan Penafsiran Hasil Penilaian

Pengolahan Hasi Penilaian. Hasil penilaian yang dilakukan oleh guru harus diolah terlebih dahulu sebelum diputuskan. Pengolahan ini dilakukan melalui penskoran dan konversi skor.

Penafsiran Hasil Penilaian. Ada dua cara menafsirkan hasil penilaian berdasarkan skor hasil pengolahan, yakni penilaian dengan acuan patokan dan penilaian dengan acuan norma.

4. Media dan Sumber Belajar - Media

Media menjadi faktor penting dalam pembelajaran. Keberadaannya ikut menentukan keberhasilan pembelajaran. Dalam proses kegiatan belajar-mengajar, media pembelajaran adalah sarana untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya proses belajar terjadi. Media pembelajaran menurut Aldino (2004:9) merupakan sarana atau alat komunikasi sekaligus merupakan sumber informasi. Secara umum fungsi media adalah sebagai penyalur pesan. Selain fungsi tersebut Hamalik(1986) mengemukakan bahwa penggunaan media dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasaingin tahu dan minat, membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar serta dapat mempengaruhi psikologis peserta didik.

Media diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu (1) mediaaudio, (2) mediavisual,(3) mediaaudio-visual.

1. Pemilihan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia

Hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih media :

(6)

- Fungsional. Salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar fungsional dalam arti cocok dengan tujuan pembelajaran dan benar-benarberfungsi untukmenunjang ketercapaian tujuan pembelajaran.

- Ketersediaan media. Pada saat diperlukan dalam pembelajaran, pengadaan media itu mudah.

- Murah. Untuk melatih peserta didik berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal.

- Menarik dapat menentukan media pembelajaran menarik, setidaknya perlu dipertimbangkan beberapa hal, yakni (1) kesesuaian media dengan 28 kebutuhan peserta didik, (2) kesesuaian media pembelajaran dengan dunia peserta didik, (3) baru, (4) menantang, dan (5) variatif.

2. Idenfitikasi media sesuai kompetensi dasar Bahasa indonesia - Sumber Belajar

1. Fungsi sumber belajar 2. Jenis sumber belajar

Terdapat dua jenis sumber belajar yaitu: (a) sumber belajar yang dirancang, yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponensistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal, dan (b) sumber belajar yang dimanfaatkan, yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan, dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

3. Kriteria pemilihan sumber belajar

(1) ekonomis, tidak harus terpatok pada harga yang mahal; (2) praktis, tidak memerlukan pengelolaanyang rumit, sulit dan langka; (3) mudah, dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita; (4) fleksibel, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kompetensi dasar; serta(5) sesuai dengan kompetensi dasar, mendukung proses dan pencapaian kompetensi dasar 30 dan dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar peserta didik

4. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran peserta didik. Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagaisumber belajar terdiri atas:

lingkungan sosial, dan lingkungan fisik.Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memelihara dan melestarikan alam. Bahkan belakangan ini, berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.Guru

5. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dalam Pembelajaran Abad 21

(7)

Berdasarkan studi tentang Pengkajian dan Pengajaran Keterampilan Abad ke 21 atau The Assessment and Teaching of 21st Century Skills telah mengategorikan keterampilan abad ke-21 menjadi empat bagian besar yang memungkinkan individu untuk berkontribusi terhadap modal sosial dan modal intelektual di zaman modern. Keempat kategori tersebut adalah: tema atau pokok persoalan abad 21; keterampilan belajar dan berinovasi;

keterampilan pemanfaatan informasi, media, dan teknologi; keterampilan hidup dan karir.

Selain itu, tema abad 21 terkait dengan kesadaran dan kemampuan: sadar ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; sadar sebagai warganegara yang baik; sadar kesehatan; dan sadar lingkungan. Keterampilan belajar dan berinovasi yang dibutuhkan dalam abad 21 mencakup kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, serta komunikasi dan kolaborasi. Oleh sebab itu dibutuhkan melek informasi, media, dan TIK.

Profil guru abad 21 yang keempat berkaitan dengan pengembangan hidup dan karir.

Kemampuan bersikap luwes dan beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi kerja akan memudahkan tugas guru yang menghadapi siswa dengan berbagai perbedaan individual.

Peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah harus mengondisikan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,minat,dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.Panduan Pembelajaran dan Asesmen Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA)

- Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SD Kelas Rendah 1. Memahami Pembelajaran Paradigma Baru

Pembelajaran paradigma baru memastikan praktik pembelajaran untuk berpusat pada peserta didik. Dengan paradigma baru ini, pembelajaran merupakan satu siklus yang berawal dari pemetaan standar kompetensi, perencanaan proses pembelajaran, dan pelaksanaan asesmen untuk memperbaiki pembelajaran sehingga peserta didik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.

- Kerangka Kurikulum Pada Sekolah Penggerak 1. Profil Pelajar Pancasila

2. Struktur Kurikulum 3. Capaian Pembelajaran

4. Prinsip Pembelajaran dan Asesmen Komponen yang harus dikembangkan : 1. Kurikulum Operasional

2. Perangkat Ajar - Profil Pelajar Pancasila

Secara umum 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila beserta elemen di dalamnya adalah sebagai berikut:

1. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia 2. Berkebinekaan Global

3. Gotong Royong 4. Mandiri

5. Bernalar Kritis

(8)

6. Kreatif

- Alur Tujuan Pembelajaran dan Modul Ajar Sebagai Dokumen Rencana Pembelajaran 1. Capaian pembelajaran: Capaian pembelajaran memuat sekumpulan kompetensi

dan lingkup materi yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi.

Menyesuaikan tahap perkembangan peserta didik pemetaan capaian pembelajaran dibagi dalam fase usia

2. Kurikulum Operasional: Kurikulum operasional satuan pendidikan dan alur tujuan pembelajaran (ATP) memiliki fungsi yang sama dengan silabus, yaitu sebagai acuan perencanaan pembelajaran.

- Pengawasan Proses Pembelajaran

Pendidik diberikan ruang untuk mengembangkan rencana pembelajaran dengan komponen dan format yang sesuai karakteristik peserta didik. Dengan demikian tidak ada standar format baku dokumen pembelajaran yang membatasi kemerdekaan pendidik dalam mendesain pembelajaran. Tindak lanjut hasil pengawasan proses pembelajaran dilakukan dalam bentuk:

1. Perbaikan rencana dan pelaksanaan pembelajaran

2. Pendampingan teknis kepada pendidik yang memerlukan konsultasi dan dukungan lain

3. Penghargaan kepada pendidik yang menunjukkan kinerja yang baik 4. Diseminasi praktik

5. Penguatan dan pemberian kesempatan kepada pendidik - Prinsip Pembelajaran

Pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip pembelajaran sebagai berikut:

1) Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan yang beragam

2) Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas

3) Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistic

4) Pembelajaran yang relevan

5) Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

2. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran Intrakurikuler dan Asesmen

- Menganalisis Capaian Pembelajaran untk Menyusun Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran

Tujuan kegiatan analisis capaian pembelajaran: Mendapatkan peta kompetensi yang akan menjadi rujukan untuk pelaksanaan pembelajaran. Pendidik dan satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai strategi untuk menyusun tujuan pembelajaran dan alur tujuan.

Tujuan Pembelajaran yang ideal terdiri dari dari 2 komponen berikut:

- Kompetensi yaitu kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik

(9)

- Konten yaitu ilmu pengetahuan inti atau konsep utama yang perlu dipahami di akhir satu unit pembelajaran.

Kriteria Alur Tujuan Pembelajaran:

- Menggambarkan urutan pengembangan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik

- Alur tujuan pembelajaran dalam satu fase menggambarkan cakupan dan tahapan pembelajaran.

- Alur tujuan pembelajaran pada keseluruhan fase menggambarkan tahapan perkembangan kompetensi antarfase dan jenjang.

- Perencanaan dan Pelaksanaan Asesmen Diagnostik

Asesmen diagnostik bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan peserta didik. Hasilnya digunakan pendidik sebagai rujukan dalam merencanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

Berikut adalah tahapan asesmen diagnostic:

- Mengembangkan Modul Ajar

Tujuan pengembangan modul ajar: Mengembangkan perangkat ajar yang memandu pendidik melaksanakan pembelajaran. Modul ajar yang dikembangkan memenuhi kriteria berikut ini:

1. Esensial: Pemahaman konsep dari setiap mata pelajaran melalui pengalaman belajar dan lintas disiplin.

2. Menarik, bermakna, dan menantang: Menumbuhkan minat untuk belajar dan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar.

3. Relevan dan kontekstual: Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, dan sesuai dengan konteks di waktu dan tempat peserta didik berada.

4. Berkesinambungan: Keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar peserta didik.

- Penyesuaian Pembelajaran dengan Tingkag Capaian dan Karalteristik Peserta Didik Dalam melakukan penyesuaian pembelajaran peran pendidik secara umum adalah sebagai berikut:

1) Aktif mencari dan mendengarkan pendapat, pertanyaan, sudut pandang, aspirasi dari peserta didiknya.

2) Membuka kesempatan untuk eksplorasi diri dan dunia dengan memberikan pertanyaan dan tugas ‘terbuka’.

(10)

3) Memberikan pertolongan dan juga tantangan bagi peserta didik yang membutuhkan.

4) Memberikan umpan balik dan kesempatan bagi peserta didik

5) Melibatkan peserta didik untuk mengambil keputusan untuk apa, mengapa, bagaimana mereka belajar. Peserta didik berlaku sebagai kolaborator dalam komunitas belajarnya.

6) Mengkomunikasikan ekspektasi dengan jelas kepada peserta didik

7) Membuat kesepakatan bersama dengan peserta didik agar saling menghormati dan membangun rasa percaya dengan satu sama lain.

8) Membangun rutinitas keseharian dengan membiasakan budaya positif, dan konsisten menjadi teladan bagi peserta didik

Penyeusaian pembelajaran dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

1) Menyesuaiakan ruang lingkup materi pembelajaran 2) Menyesuaikan proses pembelajaran

3) Menyesuaikan produk hasil belajar 4) Mengondinisikan lingkungan belajar

- Perencanaan, Pelaksanaan, dan Pengolahan Hasil Asesmen Formatif dan Sumatif a. Prinsip Asesmen

1) Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, dan menyediakan informasi yang holistic.

2) Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran.

3) Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar dan menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya.

4) Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai serta strategi tindak lanjutnya.

5) Hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran b. Jenis, karakteristik, dan fungsi asesmen

c. Paradigma asesmen

Hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan dan pelaksanaan asesmen :

(11)

1. Penerapan Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset): Penerapan pola pikir bertumbuh dalam asesmen diharapkan membangun kesadaran bahwa proses pencapaian tujuan pembelajaran, lebih penting daripada sebatas hasil akhir.

2. Terpadu: Asesmen dilaksanakan terpadu dengan pembelajaran mencakup kompetensi pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang saling terkait.

3. Keleluasaan dalam Menentukan Waktu Asesmen

4. Keleluasaan dalam Menentukan Jenis Asesmen: pendidik diberikan keleluasaan dalam merencanakan dan menggunakan jenis asesmen.

5. Keleluasaan dalam Menggunakan Teknik dan Instrumen Asesmen

6. Keleluasaan dalam Menentukan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran:

kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran menjadi sumber informasi atau data bagi pendidik untuk menentukan tindak lanjut penyesuaian pembelajaran sesuai kondisi peserta didik

7. Keleluasaan dalam Mengolah Hasil Asesmen: Terdapat 2 jenis data yaitu data hasil asesmen yang berupa angka (kuantitatif) serta data hasil asesmen yang berupa narasi (kualitatif). Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk mengolah hasil asesmen, dengan mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, dan aktivitas pembelajaran.

8. Keleluasaan dalam Menentukan Kriteria Kenaikan Kelas

Pendidik dan satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan kriteria kenaikan kelas, dengan mempertimbangkan: 1) Laporan Kemajuan Belajar, 2) Laporan Pencapaian Projek Profil Pelajar Pancasila, 3) Portofolio peserta didik, 4) Ekstrakurikuler/prestasi/penghargaan peserta didik, 5) Tingkat kehadiran.

d. Langkah menyusun dan mengolah asesmen :

1. Gunakan alur tujuan pembelajaran yang telah disusun, kemudian identifikasi tujuan pembelajaran yang menjadi kompetensi yang diinginkan.

2. Identifikasi bentuk asesmen yang hendak dilakukan untuk mengukur pembelajaran secara formatif maupun sumatif.

3. Buat instrumen asesmen formatif dan sumatif bersamaan dengan menyusun modul ajar.

4. Pelaksanaan Asesmen Formatif dan Sumatif.

5. Mengolah Hasil Asesmen - Pelaporan Kemajuan

Pelaporan hasil adalah bagaimana sekolah mengkomunikasikan apa yang peserta didik ketahui, pahami, dan bisa lakukan. Laporan kemajuan belajar berupa rapor.

- Evaluasi Pembelajaran dan Asesmen

(12)

- Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi Sekolah Dasar

Di bagian awal buku, dibahas tentang pendekatan-pendekatan utama yang relevan dalam pembelajaran bahasa, yang dapat diterapkan di kelas tinggi. Beberapa pendekatan yang dibahas meliputi pendekatan komunikatif, pendekatan struktural, dan Whole Language Approach. Pendekatan komunikatif menekankan kemampuan siswa untuk menggunakan bahasa dalam konteks komunikasi nyata, di mana siswa diharapkan mampu berinteraksi secara efektif dan alami. Pendekatan struktural lebih berfokus pada penguasaan tata Bahasa atau pola kalimat secara terstruktur, sedangkan Whole Language Approach mengajak siswa mempelajari bahasa sebagai satu kesatuan dengan mengintegrasikan keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam konteks yang bermakna dan dekat dengan kehidupan mereka.

Selain itu, buku ini juga mengadopsi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), yang menitikberatkan pada keaktifan siswa selama proses pembelajaran dan memberi kesempatan bagi mereka untuk mengeksplorasi minat serta bakatnya.

Pada setiap keterampilan bahasa—membaca, menulis, menyimak, dan berbicara—

buku ini memberikan strategi pembelajaran spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan kelas tinggi SD. Dalam keterampilan membaca, misalnya, penulis menguraikan berbagai jenis kegiatan seperti membaca intensif, membaca pemahaman, dan kegiatan membaca secara kolaboratif yang mendorong siswa memahami isi teks dengan lebih mendalam. Pembelajaran menulis diarahkan untuk mengembangkan keterampilan ekspresif melalui tugas-tugas menulis kreatif, seperti membuat jurnal dan menulis narasi singkat, yang bertujuan agar siswa dapat mengekspresikan ide dan perasaan mereka secara tertulis. Untuk keterampilan menyimak, penulis memberikan contoh kegiatan menyimak melalui media audio serta interaksi langsung dengan teman-temannya, guna melatih siswa dalam memahami pesan atau cerita yang disampaikan. Sementara itu, keterampilan berbicara dikembangkan melalui kegiatan bermain peran, simulasi, diskusi kelompok, dan presentasi, yang semua bertujuan untuk meningkatkan kelancaran, keberanian, dan keterampilan komunikasi verbal siswa di depan umum.

Aspek penilaian juga mendapat perhatian khusus dalam buku ini, dengan metode yang disesuaikan untuk setiap keterampilan bahasa. Penilaian keterampilan membaca mencakup evaluasi pemahaman teks dan kecepatan membaca. Penilaian dalam keterampilan menulis difokuskan pada aspek kelancaran ide, tata bahasa, dan struktur tulisan. Pada keterampilan menyimak, evaluasi difokuskan pada kemampuan siswa untuk mengidentifikasi pesan utama

(13)

dan detail penting dari informasi yang disampaikan. Sedangkan pada keterampilan berbicara, evaluasi dilakukan melalui tes lisan, diskusi kelompok, serta presentasi individu yang mengukur kelancaran, kefasihan, dan keberanian berbicara di depan teman sekelas. Penulis menekankan bahwa penilaian harus dilakukan secara berkelanjutan agar guru dapat memantau perkembangan keterampilan berbahasa siswa secara konsisten dan menyeluruh.

Buku ini bermanfaat terutama bagi mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang sedang mempersiapkan diri menjadi pendidik. Buku ini diharapkan dapat membekali mereka dengan wawasan teoretis dan praktis dalam merancang serta melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas tinggi SD. Selain itu, mahasiswa PGSD juga diajak untuk menguasai berbagai strategi pengajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan linguistik tetapi juga dapat menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Melalui buku ini, calon guru diharapkan mampu merancang pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif, yang tidak hanya mencakup teori, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam penggunaan bahasa yang beragam di kelas tinggi. Berikut isi dari buku tersebut : 1. Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah Dasar

a. Belajar Bahasa b. Pembelajaran Bahasa

c. Faktor Penentu Bahasa Mudah atau Sulit di Pahami 2. Pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa

3. Strategi Pembelajaran Membaca Sebagai Fokus di Sekolah Dasar a. Hakikat

b. Tujuan Membaca di Kelas Tinggi

c. Jenis Membaca yang Diajarkan di Kelas Tinggi d. Pembelajaran Membaca di Kelas Tinggi

e. Penilaian

4. Strategi Pembelajaran Menulis Sebagai Fokus di Sekolah Dasar a. Hakikat

b. Tujuan Menulis di Kelas Tinggi

c. Jenis Menulis yang Diajarkan di Kelas Tinggi d. Penilaian

5. Strategi Pembelajaran Menyimak Sebagai Fokus di Sekolah Dasar a. Tujuan

b. Peran Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Bahasa Lisan c. Materi Pembelajaran Menyimak

d. Metode dan Teknik dalam Pembelajaran Menyimak e. Media dan Bahan Pembelajaran Menyimak

f. Penilaian

6. Strategi Pembelajaran Berbicara Sebagai Fokus di Sekolah Dasar a. Teknik

b. Materi

c. Pelaksanaan Pengajaran d. Penilaian

e. Ragam Tes

(14)

7. Pembelajaran Apresiasi Sastra di SD a. Hakikat Sastra Anak

b. Kriteria Pemilihan Bahan Pengajaran Prosa c. Kriteria Pemilihan Bahan Pengajaran Puisi d. Kriteria Pemilihan Bahan Pengajaran Drama

- Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SD (Pendekatan dan Teknis) 1. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia

a. Pendekatan Formal

Pembelajaran bahasa merupakan kegiatan rutin yang konvensional, dengan mengikuti cara-cara yang telah biasa dilakukan berdasar pengalaman. Oleh karena itu, pendekatan ini tidak memiliki latar belakang teoritis.

b. Pendekatan Empirik

Pendekatan empirik ini sering disebut dengan pendekatan atau aliran behavioris, pendekatan mekanis.

c. Pendekatan Struktural

Pendekatan struktural merupakan pendekatan pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahwa bahasa adalah seperangkat kaidah.

d. Pendekatan Keterampilan

Berbagai kemampuan dasar yang dapat dikembangkan dengan pendekatan keterampilan proses adalah:

1) Mengamati 2) Menggolongkan 3) Menafsirkan

4) Menerapkan konsep 5) Mengkomunikasikan 6) Mengendalikan variable e. Pendekatan Rasional

Karena bahasa yang hidup adalah bahasa yang dapat digunakan untuk berpikir, penguasaan bahasa dilihat dari kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat berpikir dengan kegiatan mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis.

f. Pendekatan Fungsional

Peserta didik langsung menghadapi bahasa yang hidup dan mencoba memakainya sesuai dengan keperluan komunikasi.

g. Pendekatan Terpadu

Pendekatan pembelajaran bahasa yang terintegrasi didasarkan pada kenyataan bahwa penggunaan bahasa sehari-hari baik secara formal maupun tidak formal tiap-tiap aspeknya tidak pernah berdiri sendiri.

h. Pendekatan Integral

Pengajaran harus fleksibel dan dengan metodologi terbuka. Bantuan-bantuan ilmu lain yang mendukung kelancaran pembelajaran berbahasa perlu mendapat tempat sehingga pembelajaran bahasa lebih bermanfaat.

i. Pendekatan Sosiolinguistik

(15)

Pendekatan sosiolinguistik diartikan sebagai pendekatan pembelajaran bahasa yang memanfaatkan hasil studi sosiolinguistik yang menghubungkan gejala masyarakat dengan gejala bahasa

j. Pendekatan Psikologi

Pendekatan psikologi dalam pembelajaran bahasa menelaah bagaimana peserta didik belajar bahasa dan bagaimana peserta didik sebagai individu yang kompleks.

k. Pendekatan Psikolinguistik

Pendekatan psikolinguistik bertumpu pada pemikiran tentang proses yang terjadi pada benak anak ketika mulai belajar bahasa, serta bagaimana pula perkembangannya.

l. Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan pembelajaran bahasa yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai.

2. Metode Pembelajaran a. Metode Terjemahan

Penggunaan metode ini dilakukan dengan menerjemahkan wacana dalam bahasa asing ke dalam bahasa ibu peserta didik.

b. Metode Tata Bahasa

Penggunaann metode ini lebih menekankan pada pembelajaran bahasa tulis yang bersifat pasif. Kelebihan : 1) mudah dilaksanakan, 2) sederhana. 3) biaya murah.

Kekurangan : 1) bersifat dinamis, 2) arti kata tergantung konteks pemaiakain c. Metode Langsung

Penggunaan metode langsung didasarkan pada asumsi bahwa penguasaan bahasa dan pengembangan rasa bahasa secara instingtif berakar dalam hubungan langsung antara pengalaman dan ekspresi. Kelebihan : 1) siswa aktif berbahasa, 2) pemahaman siswa terkait Bahasa tidak verbalitas. Kekurangan : 1) tidak semua kata dapat menjelaskan sesuatu, 2) siswa menerjemahkan secara diam-diam, 3) siswa kesulitan membentuk kata-kata

d. Metode Berlizt

Penggunaan metode Berlizt merupakan pengembangan metode Langsung. g. Adapun ciri-ciri penggunaan metode Berlizt, yaitu: 1) Selalu menjaga hubungan langsung antara bahasa dan pikiran, 2) Bahasa ibi tidak boleh digunakan, 3) Kata-kata benda konkret diajarkan dengan menunjukkan benda asli, gambar atau tiruannya, 4) Kata-kata benda abstrak diajarkan dengan mendemonsrasikan pengertiannya, 5) Tata bahasa diajarkan dengan contoh-contoh, 6) Sejak awal semua aspek diajarkan secara lisan, dan 7) Kata-kata diajarkan dalam hubungannya dengan kalimat.

e. Metode Pembatasan Bahasa

Untuk mencapai hal itu ditempuh langkah-langkah pembelajarannya: 1) Kata-kata dan pola kalimat yang dipilih yang frekuensi pemakaiannya tinggi, 2) Kata-kata dan pola kalimat yang diajarkan diambil dari bacaan, 3) Pemilihan kata-kata dan struktur kalimat didasarkan pada nilai struktuernya, keumuman pemakaiannya secara geografis, nilai dalam pembentiukan kata baru dan fungsi stilistikanya.

f. Metode Oral

(16)

Prinsip dasar yang digunakan dalam metode ini bahwa pengajaran bahasa dilaksanakan melalui bicara, apa pun tujuan yang ingin dicapai.

g. Metode Realis

Adapun ciri-ciri metode ini: 1) Sejak awal siswa belajar berbahasa sesuai tingkah laku berbahasa sesungguhnya, 2) Bahas dipandang sebagai reaksi terhadap alam sekitar, 3) Tingkah laku merupakan bagian dari keseluruhan berbahasa itu sendiri; 4) Penggunaan bahasa sesuai tingkah laku berbahasa sesungguhnya; 5) Bahan disajukan dalam bentuk percakapan, 6) Penyusunan bahan dilakukan dengan kerja sama antara guru dan ahli bahasa.

h. Metode Baru

Landasan metode ini adalah membaca dengan ciri: 1) Pioritas pelajarannya membaca, 2) Murid diperlenkapi dengan kata-kata pilihan, 3) Bahasa ibu masih mungkin digunakan secara selektif, 4) Mendengar dan memahami sesuatu dilakukan lebih dahulu sebelum anak belajar berbicara, 5) Buku guru dan buku murid disiapkan dan ditambah dengan bacaan pelengkap.

i. Metode Alamiah

Metode ini didasarkan pada prinsip bahwa belajar bahasa sesuai dengan anak belajar bahasa ibu.

j. Metode Psikologis

Metode ini berdasar prinsip visualisasi mental dan asosiasi gagasan-gagasan.

k. Metode Membaca

Pembelajaran bertujuan pada pengetashuann dan keterampilan membaca pada bahasa target.

l. Metode Linguistik

Dalam metode linguistik semua bahasa diperlakukan sama, artinya tidak ada bahasa yang lebih baik/lebih maju daripada bahasa lain.

m. Metode Pilihan

Prinsip dasar metode pilihan berdasarkan gabungan antara metode langsung dan metode tak langsung. Bahasa ibu murid dapat digunakan untuk menjelaskan dan menerjemahkan agar tidak terjadi pemborosan waktu dan mencegah salah paham.

3. Model Pembelajaran Bahasa Indonesia a. Model Pembelajaran Membaca

1) Kegiatan Membaca Berpikir Terarah (Model Directed Reading Thinking Activity) (DRTA)

2) Model K-W-L. K- What I Know (apa yang saya ketahui). langkah W- What I Want to Learn (apa yang ingin saya pelajari), dan langkah L- What I Learned (apa yang telah saga pelajari).

3) Model PORPE (Predict. Organize, Rehearse, Practice. Evaluate)

Tahapan strategi Porpe adalah sebagai berikut. 1) Predict (membuat prediksi berupa pertanyaan-pertanyaan esai), 2) Organize (mengorganisasikan konsep dalarn bentuk mind mapping), 3) Rehearse (melatih kembali dengan cara mepresentasikan di depan), 4) Practice (praktik; menuliskan kembali dengan bahasanya sendiri), 5) Evaluate (evaluasi yaitu menjawab pertanyaan esai yang dibuat oleh guru)

(17)

4) Model ECOLA (Extending Consept trought Language Activities) b. Model Pembelajaran Mendengarkan

1) R etelling stony 2) Bisik Berantai

3) Model Menvimak Secara Langsung/DLA (Direct Listening Activities) 4) Identifikasi Kata Kunci

5) Memperluas Kalimat 6) Menvelesaikan Cerita c. Model Pembelajaran Menulis

1) Model Brainstorming 2) Model Brain writing 3) Model Roundtable 4) Model Brown

5) Model Sugesti – Imajinasi menggunakan lagu. musik, pembacaan puisi. tayangan pementasan drama, cuplikan sinetron, iklan. film, dsb.

d. Model Pembelajaran Berbicara 1) Listening Team

2) Model In The News 3) Model Siapa dan Apa Sava 4. Pendekatan Whole Language

Pengembangan wawasan whole language diilhami konsep konstrutivisme, language experience approach, dan progresivisme dalam pendidikan. Wawasan yang dikembangkan sehubungan dengan bahasa sebagai materi pelajaran dan penentuan isi pembelajarannya diwarnai oleh fungsionalisme dan semiotika. Sementara itu, prinsip dan penggarapan proses pembelajarannya diwarnai oleh progresivisme dan konstruktivisme menyatakan bahwa siswa membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh dan terpadu. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari desiminator informasi menjadi fasilitor. Penentuan isi pembelajaran dalam perspektif whole language diarahkan oleh konsepsi tentang kebahasaan dan nilai fungsionalnya bagi pebelajar dalam kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan konsepsi bahwa pengajaran bahasa mesti didasarkan pada kenyataan penggunaan bahasa, maka isi pembelajaran bahasa diorientasikan pada topik pengajaran: a. Membaca, b. Menulis, c. Menyimak, dan d.

Wicara. Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan berbahasa yang diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. Menerapkan whole language memang agak sulit karena tidak ada acuan yang benar-benar mengaturnya.

1) Komponen

Ada delapan komponen whole language, yaitu reading aloud, sustained silent reading, shared reading, journal writing, guided reading, guided writing, independent reading, dan independent writing.

5. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan

(18)

mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya . Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas . Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SD/MI memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.

1) Karakteristik

a. Melakukan hubungan yang bermakna, b. Mengerjakan pekerjaan yang berarti, c.

Mengatur cara belajar sendiri, d. Bekerja sama, e. Berpikir kritis dan kreatif, f.

Mengasuh atau memelihara pribadi siswa, g. Mencapai standar yang tinggi, dan h.

Menggunakan penilaian sebenarnya.

2) Komponen

- Constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk).

- Questioning (bertanya).

- Inquiry (menyelidiki, menemukan).

- Learning community (masyarakat belajar).

- Modelling (pemodelan).

- Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya).

3) Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Kontekstual (CTL)

- Keunggulan : 1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil, 2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa, 3) Kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental, 4) Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi

6. Metode Menulis Permulaan

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas 1 dan 2. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut.

Metode : - Eja

- Kata Lembaga - Global

- SAS

7. Model Pembelajaran Berbasi Permainan

Dalam aspek psikomotor permainan dapat meningkatkan kemampuan motorik peserta didik, baik motorik kasar maupun motorik halus. Selain itu permaina juga dapat meningkatkan kepekaan dari masing-masing panca indera yang dimiliki anak. Pada aspek afektif, permainan dapat meningkatkan karakter peserta didik. Misalnya, disaat mereka

(19)

bermain peran sebagai ibu yang sedang menggendong boneka, mereka begitu menghayati peran tersebut.

Pembelajaran berbasis permainan termasuk pembelajaran yang mengakomodasi semua teori belajar yang ada. Pembelajaran dengan permainan dapat digunakan secara umum, baik untuk teori behaviorisme, kognitivisme, maupun psikologi sosial. Karena peserta didik merasa senang berpartisipasi aktif dalam permainan tersebut. Dengan demikian, penggunaan pembelajaran berbasis permainan di kelas dapat diertanggungjawabkan secara teoritis.

Penerapan pembelajaran dengan memasukkan permainan, apabila dikelola dengan baik, akan menghasilkan hal-hal positif dalam belajar. Permainan beajar, jika dimanfaatkan secara bijak dapat menyingkirkan keseriusan yang terhambat, menghilangkan stress dalam lingkungan belajar, mengajak orang terlibat penuh dan meningkatkan proses belajar.

8. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif menciptakan sebuah revolusi pembelajaran di kelas. Tidak ada lagi sebuah kelas yang sunyi selama proses pembelajaran, karena pembelajaran terbaik akan tercapai di tengah-tengah percakapan di antara siswa

9. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SD/MI dipelajarinya berupa unjuk kerja. Pada model pembelajaran berbasis masalah ini juga ada langkah-langkah untuk menyelesaikan sebuah masalah yaitu dengan memaparkan siswa terhadap maslah, mengkoordinasikan siswa untuk belajar, membimbing siswa mengumpulkan data, mengembangkan dan mendemostrasikan, melakukan evaluasi dan pemecahan masalah, mengumpulkan hasil.

10. Model PAKEM dan PAIKEM

Pendekatan PAKEM adalah sebuah strategi pendekatan introduksional yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan ketrampilan, sikap dan pemahaman kegiatan dengan penekanan belajar sambil bekerja secara mandiri. PAKEM merupakan akronim dari pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan.

Pendekatan PAIKEM adalah sebuah strategi dan terobosan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengerjakan kegiatan yang beragam dalam rangka mengembangkan ketrampilan dan pemahamannya, dengan penekanan peserta didik belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar (termasuk pemanfaatan lingkungan), supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.

11. Contoh Pembelajaran Inovatif - Ular Tangga Antonim Sinonim - “Kobecir (Kolom berciri)”

- Permainan Lompat Kata

- Model pembelajaran dengan Media Pembelajaran Scrable - Papan Dora

- Gambar Berpantun

(20)

- Imajinasi Mengarang dalam Kreativitas menggambar - Dadu Beradu

- Tebaklah Aku - Denah Monopoli

- Manah (Membaca Denah) - Permainan Sibuata

- Menyusun Paragraf Melalui Permainan Estafet Sedotan - Permainan Putaran ABTA (Abjad dan Kata)

- JONGKEK (Jongjang Ongkak Angkek) - Petak Tebak

- Sticking Cooperation

- MECEPU (Melengkapi Cerita Puzzle) - Membaca Kritis

- Mendengarkan dengan Komunikatif - Menulis Laporan Inkuiri

- Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi mahasiswa terhadap kompetensi professional dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD/MI dilihat dari aspek : Kemampuan

contoh soal penilaian tengah semester mata pelajaran bahasa indonesia kelas empat sekolah dasar kurikulum

Kisi-Kisi Penilaian Akhir Semester (PAS) untuk semester ganjil mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 5

MODEL PEMBELAJARAN MEMBACA DI SD UNTUK KELAS TINGGI Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar Kelas/Semester : IV/I Waktu : 2 x 35 menit Kompetensi Dasar :

2022-2023 7 KUNCI JAWABAN DAN PEDOMAN PENILAIAN SUMATIF TENGAH SEMESTER STS KELAS IV EMPAT SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia I..

Dokumen ini berisi informasi tentang modul ajar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang Sekolah Dasar, kelas 1, semester 1, yang disusun berdasarkan Kurikulum

Mahasiswa diberikan tugas membuat soal mata pelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kompetensi Dasar yang telah

Soal prediksi USBN mata pelajaran bahasa