DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ...ii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1
B. Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ...2
C. Landasan Yuridis ...3
D. Tujuan Penyusunan Pedoman KTSP SMK ...3
E. Ruang Lingkup Penyusunan KTSP SMK ...3
F. Sasaran Pedoman Penyusunan KTSP SMK ...4
BAB II. PENYUSUNAN KTSP SMK (DOKUMEN I) A. Konseptual ...5
B. Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP ...7
C. Prosedur Operasional Pengembangan KTSP ...8
D. Tata Kelola KTSP ...10
E. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengembangan KTSP ...10
F. Mekanisme Pengembangan KTSP ...11
G. Sistematika Dokumen 1 KTSP ...12
H. Penjelasan Isi dan Penulisan ...13
BAB III. PENGEMBANGAN SILABUS (DOKUMEN II) A. Pengertian Silabus ...24
B. Diagram Alur Pengembangan Silabus ...24
C. Komponen Silabus ...25
BAB IV. PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) A. Pengertian RPP ...26
B. Komponen RPP ...26
BAB V. PROSEDUR PENETAPAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN KTSP A. Penetapan ...28
B. Pengesahan ...28
BAB VI. PENUTUP ...29
Lampiran-lampiran : 1. Contoh proses pembuatan RPP versi baru ...30
2. Contoh RPP versi baru yang sudah jadi ...32
3. Instrumen Verifikasi dan Validasi KTSP ...34
4. Contoh format lembar penetapan dan pengesahan ...40
5. Contoh Cover KTSP ...41
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Sekolah adalah garda terdepan penyelenggaraan sistem pendidikan. Agar semua program yang ada di sekolah berjalan dengan baik, maka harus direncanakan dengan baik pula. Salah satu dokumen yang harus ada dalam sistem perencanaan sekolah adalah dokumen kurikulum, yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP adalah dokumen yang menggambarkan legalitas sebuah proses pembelajaran di sekolah, karena itu KTSP harus disahkan dan disetujui oleh pihak-pihak yang berwenang. KTSP menggambarkan tujuan sekolah yang akan dicapai, apa saja yang harus diajarkan kepada peserta didik dan bagaimana proses serta pengaturan waktunya, serta bagaimana melakukan penilaian hasil pembelajaran dan evaluasinya. Di dalamnya juga diatur bagaimana peserta didik difasilitasi untuk mengembangkan kepribadian, minat dan bakatnya. Hal ini memberi gambaran bahwa KTSP adalah dokumen yang harus dipersiapkan, disusun, dikembangkan, dievaluasi, dan direvisi dengan prosedur yang benar. Dengan demikian proses pengembangannya menuntut pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman yang cukup dari para pelakunya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, mengamanatkan tersusunnya kurikulum pada tingkat sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah, mengacu kepada Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian. Terkait dengan pembangunan Pendidikan Menengah Kejuruan, masing- masing daerah dan masing- masing SMK memerlukan kurikulum yang sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah atau potensi SMK. Kurikulum tersebut adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMK. KTSP SMK perlu dikembangkan dan diimplementasikan secara dinamis kontekstual dan otentik untuk merespon kebutuhan peserta didik, masyarakat, pemerintah daerah, sekolah, dan Dunia Usaha, Dunia Industri dan dunia Kerja (DUDIKA). Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:
1. Pasal 36 ayat (2) menyebutkan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan sekolah, potensi daerah, dan peserta didik.
2. Pasal 36 ayat (3) menyebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) peningkatan iman dan takwa; (b) peningkatan akhlak mulia; (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; (f) tuntutan dunia kerja; (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (h) agama;
(i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
3. Pasal 38 Ayat (2) mengatur bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau sekolah dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.
KTSP adalah dokumen sekolah yang khas, sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing sekolah tanpa mengurangi bobot minimal muatan kurikulum secara nasional. KTSP disusun oleh tim pengembang yang disebut dengan Tim Pengembang Kurikulum atau TPK, yang harus ada di masing-masing sekolah.
Mengingat pentingnya fungsi KTSP dalam pengelolaan pembelajaran, maka dalam pelaksanaannya perlu dilakukan pengembangan kurikulum yang terus-menerus sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Buku Pedoman penyusunan KTSP ini disusun sebagai pedoman seluruh pihak yang berkepentingan dengan kurikulum dan pembelajaran di SMK, sebagai salah satu upaya menjaga dan meningkatkan mutu SMK Jawa Timur.
B. Pengertian KTSP
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing sekolah. KTSP SMK adalah keseluruhan program aktivitas pembelajaran baik terstruktur maupun tidak-terstruktur yang terdokumentasi dengan rapi, digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran di SMK untuk memberikan berbagai pengalaman belajar bermakna dan berdampak besar bagi peserta didik dalam bekerja, melanjutkan pendidikan atau berwirausaha dan diatur oleh sekolah. KTSP SMK merupakan kurikulum implementatif yang disusun dan dilaksanakan oleh sekolah yang bersangkutan.
KTSP SMK sebagiai pedoman pembelajaran adalah merupakan sekumpulan program pemberian pengalaman belajar yang berdaya-guna bagi semua perserta didik, sedangkan KTSP sebagai dokumen terdiri atas; visi, misi, tujuan, strategi
pencapaian visi-misi, Profil Lulusan, SKL, Struktur kurikulum, kalender pendidikan, Silabus, dan RPP yang dilengkapi dengan perangkat penilaian.
C. Landasan Yuridis
Landasan yuridis pedoman pengembangan KTSP SMK :
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan,
3. Peraturan Presiden No. 68 tahun 2022 tentang Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 61 tahun 2014 tentang Kurikulum Tingkat Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 50 tahun 2020 tentang Praktek Kerja Lapangan Bagi Peserta Didik.
6. Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 83 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi.
7. Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur No. 188.4/3071/101.1/2023 tentang Kalender Pendidikan Bagi Satuan Pendidikan
di Provinsi Jawa Timur Tahun Pelajaran 2023/2024.
D. Tujuan Penyusunan Pedoman KTSP SMK Tujuan disusunnya pedoman KTSP SMK adalah :
1. Menjadi acuan bagi Kepala Sekolah dan tenaga pendidik dalam menyusun dan mengelola KTSP secara optimal di satuan pendidikan;
2. Menjadi acuan Dinas Pendidikan dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten/Kota sesuai kewenangannya dalam melakukan koordinasi dan supervisi penyusunan dan pengelolaan kurikulum di setiap satuan pendidikan;
3. Menjadi acuan bagi pemangku kepentingan bidang pendidikan dalam membantu penyusunan kurikulum di satuan pendidikan.
E. Ruang Lingkup Pedoman Penyusunan KTSP SMK
Ruang lingkup pedoman Penyusunan KTSP SMK ini mencakup dua kegiatan yaitu:
1. Prosedur Pengembangan Dokumen KTSP oleh Satuan Pendidikan yang terdiri dari
pengembangan dokumen I, dokumen II (Silabus) dan dokumen III (RPP).
2. Prosedur Pengesahan Dokumen I KTSP oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
F. Sasaran Pengguna Pedoman Penyusunan KTSP SMK.
Pedoman ini disusun untuk digunakan sebagai pedoman pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi KTSP SMK di lingkungan Provinsi Jawa Timur, dengan sasaran pengguna:
1. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
2. Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten/Kota ; 3. Pengawas SMK;
4. Kepala sekolah;
5. Wakil kepala sekolah;
6. Tim Pengembang Kurikulum Sekolah
7. Guru, Ketua program/kompetensi keahlian;
8. Stakeholder terkait (Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja).
BAB II
PENYUSUNAN KTSP SMK
A. Konseptual
KTSP adalah dokumen yang menggambarkan rancangan seluruh proses pembelajaran di sebuah sekolah, yang disebut juga dengan desain kurikulum di sekolah. KTSP juga menggambarkan apa saja yang harus diajarkan kepada peserta didik dan bagaimana proses serta pengaturan waktunya. Selain itu KTSP juga harus memberi gambaran pengalaman belajar seperti apa yang harus dialami oleh peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler serta budaya sekolah.
Komponen KTSP meliputi 3 dokumen. Dokumen 1 yang disebut dengan Buku I KTSP berisi sekurang-kurangnya visi, misi, tujuan, muatan, pengaturan beban belajar, dan kalender pendidikan. Dokumen 2 yang disebut dengan Buku II KTSP berisi silabus dan dokumen 3 yang disebut dengan Buku III KTSP berisi rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun sesuai potensi, minat, bakat, dan kemampuan peserta didik di lingkungan belajar. Penyusunan Buku I KTSP menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Buku II KTSP sudah disusun oleh Pemerintah, sedangkan penyusunan Buku III KTSP menjadi tanggung jawab masing-masing tenaga pendidik.
Untuk menghasilkan Dokumen 1 KTSP yang berkualitas harus
memperhatikan (1) acuan konseptual, (2) prinsip pengembangan dan (3) prosedur operasional.
1. Acuan Konseptual meliputi
Acuan konseptual adalah kerangka pikir yang terkait dengan cakupan muatan yang harus dijadikan pedoman dalam proses penyusunan kurikulum. Adapun acuan konseptual pengembangan kurikulum meliputi :
1.1 Peningkatan Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia;
Iman, takwa, dan akhlak mulia menjadi dasar pengembangan kepribadian peserta didik secara utuh. KTSP disusun agar semua mata pelajaran dapat meningkatkan iman, takwa dan akhlak mulia.
1.2 Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama;
Kurikulum dikembangkan untuk memelihara dan meningkatkan toleransi dan kerukunan inter umat dan antar umat beragama.
1.3 Persatuan Nasional dan Nilai-Nilai Kebangsaan;
Kurikulum diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu,
kurikulum harus menumbuhkembangkan wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI.
1.4 Peningkatan Potensi, Kecerdasan, Bakat, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik;
Pendidikan merupakan proses holistik/sistemik dan sistematik untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang memungkinkan potensi diri (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, bakat, minat, serta tingkat perkembangan kecerdasan; intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik.
1.5 Kesetaraan Warga Negara Memperoleh Pendidikan Bermutu;
Kurikulum diarahkan kepada pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang holistik dan berkeadilan dengan memperhatikan kesetaraan warga negara memperoleh pendidikan bermutu.
1.6 Kebutuhan Kompetensi Masa Depan;
Kompetensi peserta didik yang diperlukan antara lain berpikir kritis dan membuat keputusan, memecahkan masalah yang kompleks secara lintas bidang keilmuan, berpikir kreatif dan kewirausahaan, berkomunikasi dan berkolaborasi, menggunakan pengetahuan kesempatan secara inovatif, mengelola keuangan, kesehatan, dan tanggung jawab warga negara.
1.7 Tuntutan Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA),
Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup.
Oleh sebab itu, kurikulum perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan dan kecakapan hidup untuk membekali peserta didik dalam didik pada sekolah kejuruan dan peserta didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pembelajaran harus mengacu kepada Demand Driven, bukan Supply Driven.
1.8 Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK);
Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana Ipteks sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan penyesuaian terhadap perkembangan Ipteks sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Iptek.
1.9 Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah serta Lingkungan;
Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan Pendidikan yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari- hari. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah dan lingkungan.
1.10 Tuntutan Pembangunan Daerah dan Nasional;
Dalam era otonomi dan desentralisasi, kurikulum adalah salah satu media pengikat dan pengembang keutuhan bangsa yang dapat mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional.
Untuk itu, kurikulum perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan lokal, daerah dan nasional.
1.11 Dinamika Perkembangan Global;
Kurikulum dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar bebas.
Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan bangsa lain.
1.12 Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat;
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya.
Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat ditumbuh kembangkan terlebih dahulu sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain.
1.13 Karakteristik Satuan Pendidikan
Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kondisi dan ciri Satuan Pendidikan.
B. Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
Tantangan eksternal SMK kedepan sangat banyak dan kompleks. Adanya globalisasi industri, perdagangan modern, Revolusi Industri 4.0., era disrupsi, era media sosial, menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus disikapi dengan bijak oleh SMK. Tantangan eksternal yang lain juga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, investasi, dan transformasi bidang pendidikan.
Trend dunia saat ini cenderung kepada Gig Economy, yaitu pasar tenaga kerja yang identik dengan karyawan kontrak jangka pendek atau pekerja lepas (freelancer).
Hal ini akan mengakibatkan terjadinya pergeseran status pekerja perusahaan, yang umumnya merupakan tenaga kerja permanen menjadi karyawan kontrak sementara
(Short-term Contract), independent workers maupun karyawan tidak tetap (temporary workers). Adanya fenomena Gig Economy juga turut memunculkan adanya on demand worker freelance atau pekerja lepas yang bekerja hanya saat dibutuhkan saja.
Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK) ditantang untuk turut memberi andil menyiapkan modal manusia kompeten untuk mampu memenangkan persaingan di pasar tenaga kerja global, melalui pengembangan kurikulum/KTSP yang digunakan di SMK
Agar KTSP dapat digunakan sebagai pegangan bagi seluruh pihak yang berkepentingangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di SMK, maka KTSP dikembangkan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, Demand Driven dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya pada masa kini dan yang akan datang.
2. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan kemampuan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
3. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar jenjang pend
4. KTSP SMK dikembangkan dengan prinsip diversifikasi dengan maksud agar memungkinkan adanya kesesuaian program-program pendidikan pada SMK dengan situasi, kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah (terutama dunia usaha /dunia industri) dan potensi SMK serta potensi peserta didik.
C. Prosedur Operasional Pengembangan KTSP
Prosedur operasional pengembangan KTSP sekurang-kurangnya meliputi : 1. Analisis
Ada tiga macam analisis yang harus dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikululum Sekolah sebelum mengembangkan kurikulum, yaitu:
1) Analisis ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sebelum merancang, mengembangkan atau mereview KTSP, setiap personal yang terlibat di dalamnya harus menganalis berbagai peraturan perundangan
yang berlaku. Peraturan-peraturan berupa undang- undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri pendidikan, peraturan daerah dan peraturan- peraturan lain yang berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran di SMK dibaca, dikaji, dan digunakan sebagai landasan dalam menysusn KTSP.
2) Analisis kebutuhan peserta didik, sekolah dan lingkungan.
KTSP disusun sebagai acuan bagi penyelenggara pendidikan di sekolah untuk menfasilitasi peserta didik berkembang sesuai dengan potensinya melalui berbagai kegiatan di sekolah. Oleh karena itu peserta didik menjadi fokus utama pengembangan KTSP. Agar KTSP sesuai dengan kebutuhan peserta didik, perlu dianalisis kebutuhan peserta didik sesuai dengan minat, bakat, dan berbagai potensi yang dimiliki, sehingga sekolah dapat mengakomodasi potensi dan kebutuhan peserta didik di dalam KTSP antara lain untuk kegiatan pengembangan diri, penguatan pendidikan karakter, penentuan KKM, dan sebagainya. Agar KTSP berkesesuaian dengan lingkungan setempat, maka perlu dilakukan analisis lingkungan. Dengan analisis ini sekolah dapat menentukan muatan lokal atau global yang sesuai, atau potensi lingkungan sebagai sumber belajar peserta didik.
3) Analisis ketersediaan sumber daya pendidikan.
Analisis ketersediaan sumber daya dilakukan agar KTSP yang disusun sekolah dapat diimplementasikan dengan baik. Dengan analisis ini SMK dapat mengetahui sumber daya yang ada sekaligus untuk memperhitungkan kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan. Analisis sumber daya meliputi analisis pendidik dan tenaga kependidikan, analisis ketercukupan sarana dan prasarana, analisis sumber dana, dan analisis sumber daya lainnya.
2. Diagram Alur Penyusunan KTSP
Pembentukan
TPK TPK menyusun
Rencana Kerja Mengadakan
workshop Analisis KTSP
Penetapan Finalisasi
draf KTSP Reviu/revisi draf KTSP
Draf dokumen
KTSP
Keterangan :
TPK : Tim Pengembang Kurikulum
a. Penetapan KTSP dilakukan kepala sekolah berdasarkan hasil rapat dewan guru sekolah dengan melibatkan komite sekolah.
b. Pengesahan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
D. Tata Kelola KTSP SMK
Penyempurnaan tata kelola KTSP SMK diarahkan pada peningkatan hal- hal sebagai berikut
1. Tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi tata kerja yang bersifat kolaboratif;
2. Penguatan manajemen sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader);
3. Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran;
4. Penguatan kerjasama dengan dunia kerja melalui sharing sumberdaya;
5. Pengelolaan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama;
6. Pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat- lingkungan alam, sumber/media lainnya);
7. Pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
8. Pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
9. Belajar kelompok berbasis tim;
10. Pembelajaran berbasis alat nyata dan multimedia;
11. Pembelajaran memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik, dan
12. Pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidiscipline).
13. Pelaksanaan pendidikan anti korupsi di satuan pendidikan.
E. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Pengembangan KTSP.
1. Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan KTSP terdiri atas:
a. Tenaga pendidik/guru,
b. Kepala Sekolah, c. Komite Sekolah, d. Nara sumber,
e. Pengawas Pembina Satuan Pendidikan, f. Cabang Dinas Pendidikan Wilayah
g. Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA)
2. Dinas pendidikan Provinsi Jawa Timur sesuai dengan kewenangannya melakukan koordinasi dan supervisi, serta pengesahan dokumen KTSP.
F. Mekanisme Pengembangan KTSP 1. Pengembangan
Pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah.
Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja sekolah dan/atau kelompok divisi sekolah yang diselenggarakan sebelum tahun ajaran baru.
Tahap kegiatan pengembangan KTSP secara garis besar meliputi:
(1) penyusunan draf berdasarkan analisis konteks;
(2) review, revisi, dan finalisasi; serta
(3) pengesahan oleh pejabat yang berwenang.
Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan oleh tim pengembang kurikulum sekolah.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan KTSP merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur sekolah yakni kepala sekolah/madrasah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.
3. Daya Dukung
Daya dukung pengembangan dan pelaksanaan KTSP meliputi:
a. Kebijakan Sekolah
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP merupakan kewenangan dan tanggung jawab penuh dari sekolah. Oleh karena itu untuk dapat me- ngembangkan dan melaksanakan KTSP diperlukan kebijakan sekolah yang ditetapkan dalam rapat sekolah dengan melibatkan komite sekolah/ madrasah baik langsung maupun tidak langsung.
b. Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP merupakan proses perwujudan kurikulum yang sesungguhnya. Oleh karena itu tenaga pendidik merupa kan unsur yang mutlak diperlukan dalam kuantitas dan kualitas yang memadai.
Selain itu tenaga kependidikan pada masing-masing sekolah juga sangat
diperlukan untuk mendukung pelaksanaan KTSP.
c. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Sekolah
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP memerlukan dukungan berupa ketersediaan sarana dan prasarana sekolah. Sarana sekolah adalah segala kebutuhan fisik, sosial, dan kultural serta prasarana seperti lahan, gedung, serta sangat diperlukan sebagai unsur penunjang yang pelaksanaan KTSP pada sekolah.
d. Pelibatan Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA) dan Instansi Terkait.
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP memerlukan dukungan dari DUDIKA dan instansi terkait, sebagai pihak yang ikut terlibat didalam kolaborasi dan sinergi Kegiatan Belajar Mengajar serta merupakan pihak yang akan menggunakan lulusan yang dihasilkan oleh SMK.
G. Sistematika Dokumen 1 KTSP
Sistematika dokumen I KTSP terdiri dari tiga (3) bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir. Sistematika selengkapnya adalah sebagai berikut:
Bagian awal
1. Halaman Sampul 2. Lembar Pengesahan 3. Kata Pengantar 4. Daftar Isi Bagian isi
Bab I. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang 1.2. Dasar Hukum 1.3. Tujuan
1.4. Pengembangan Kurikulum
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan Satuan Pendidikan 2.1 Visi Satuan Pendidikan
2.2 Misi Satuan Pendidikan 2.3 Tujuan Satuan Pendidikan
Bab III. Struktur dan muatan Kurikulum SMK.
3.1 Kerangka Dasar Kurikulum SMK 3.2 Standar Kompetensi lulusan SMK 3.3 Profil lulusan SMK
3.4 Beban belajar di SMK
3.5 Penguatan pendidikan karakter 3.6 Gerakan literasi sekolah
3.7 Program muatan local
3.8 Program penguatan kompetensi
3.9 Kegiatan pengembangan diri (ekstrakurikuler) 3.10 Pelaksanaan bombingan konseling
3.11 Mekanisme penilaian 3.12 Kriteria ketuntasan belajar 3.13 Praktek kerja lapangan (PKL) 3.14 Kenaikan kelas
3.15 Kelulusan
3.16 Mutasi peserta didik Bab IV. Kalender pendidikan Bab V. Supervisi pembelajaran Bab VI. Penutup
Bagian Akhir
H. Penjelasan Isi dan Penulisan Bagian Awal
Bagian awal Dokumen I KTSP terdiri dari sampul, lembar pengesahan, pengantar dan daftar isi.
1. Sampul
Sampul luar Dokumen I berisi logo sekolah, judul, nama sekolah, tahun pelajaran, Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN), alamat sekolah lengkap dengan nomor telepon, email, web dan tahun penyusunan.
2. Lembar Pengesahan
Lembar ini memuat rumusan kalimat penetapan oleh Kepala Sekolah dan Komite Sekolah serta pengesahan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
3. Kata Pengantar
Kata pengantar ditulis untuk mengantarkan pembaca memahami naskah dokumen KTSP dilengkapi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang berkontribusi dalam penyelesaian dokumen KTSP. Ucapan terimakasih disusun berdasarkan tingkat kontribusi dalam pengembangan KTSP.
4. Daftar Isi
Daftar isi berisi judul-judul yang terdapat pada bagian awal dokumen mulai
pengesahan sampai daftar tabel (jika ada), daftar gambar (jika ada), daftar lampiran, bagian isi mulai bab pertama sampai terakhir beserta sub babnya.
Bagian isi
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang
Bagian ini minimal memuat kondisi nyata sekolah dalam pencapaian 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP), kondisi yang diinginkan (ideal) dalam pencapaian SNP dan deskripsi potensi karakteristik satuan pendidikan. Paparan ini didasarkan pada hasil analisis baik analisis peraturan perundangan yang mengatur kurikulum, analisis kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan dan lingkungan.
1.2. Dasar Hukum
Dasar hukum pengembangan Dokumen I minimal memuat perundangan yang terkait langsung dengan kurikulum. Cara penulisan disusun secara sistematis dengan urutan produk hukum dari yang tertinggi ditempatkan pada urutan pertama sampai yang terendah pada urutan terakhir.
1.3. Tujuan
Menjabarkan pencapaian tujuan pengembangan KTSP secara terukur dan spesifik menghasilkan dokumen KTSP baik Dokumen I, Dokumen II, dan Dokumen III.
1.4. Pengembangan Kurikulum
Menjabarkan acuan konseptual kurikulum, prinsip pengembangan kurikulum, dan prosedur operasional kurikulum sesuai Permendikbud Nomor 61 Tahun 2014.
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan 2.1. Visi Satuan Pendidikan:
a) Dijadikan sebagai cita-cita bersama warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang;
b) Mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan;
c) Dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga satuan pendidikan dan pihak-pihak yang berkepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional;
d) Diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala
sekolah/madrasah dengan memperhatikan masukan komite sekolah/madrasah;
e) Disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan;
f) Ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat.
g) Rumusan Visi ditulis dengan kalimat yang ringkas, mudah dipahami, dan bermakna luas.
2.2. Misi Satuan Pendidikan
a) Memberikan arah dalam mewujudkan visi satuan pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional;
b) Merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu;
c) Menjadi dasar program pokok satuan pendidikan;
d) Menekankan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan oleh satuan pendidikan;
e) program satuan pendidikan;
f) Memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatansatuan- satuan unit satuan pendidikan yang terlibat;
g) Dirumuskan berdasarkan masukan dari segenap pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah;
h) Disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan;
i) Ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan j) perkembangan dan tantangan di masyarakat.
2.3. Tujuan Satuan Pendidikan
a) Menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahunan);
b) Mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat;
c) Mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh satuan pendidikan dan Pemerintah;
d) Mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah;
e) Disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan
f) segenap pihak yang berkepentingan.
Bab III. Struktur dan Muatan Kurikulum SMK 3.1. Kerangka Dasar Kurikulum SMK
Berisi landasan yuridis Kurikulum SMK, berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 07/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) / Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan Peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor 464/D.D5/KR/2018 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Muatan Nasional (A), Muatan Kewilayahan (B), Dasar Bidang Keahlian (C1),
3.2. Standar Kompetensi Lulusan SMK
Berisi uraian tentang standar kompetensi lulusan, mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 34 tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan SMK/MAK.
3.3. Profil Lulusan SMK
Berisi uraian dan penjelasan tentang profil lulusan, sehingga setiap pihak yang berkentingan dengan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan fokus pada mutu lulusan. Profil lulusan adalah gambaran konkrit kompetensi dan karakteristik lulusan dari masing- masing satuan pendidikan. Acuan dalam menyusun profil lulusan masing-masing satuan pendidikan dijabarkan dari:
1) Standar Kompetensi Lulusan 2) Visi, misi, dan tujuan sekolah, 3) Ciri khusus atau branding sekolah.
3.4. Beban Belajar di SMK
Berisi uraian dan penjelasan tentang beban belajar di SMK. Yang merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester dan satu tahun pelajaran.
a) Beban belajar di Sekolah Menengah Kejuruan dinyatakan dalam jam pelajaran per minggu. Beban belajar satu minggu Kelas X, XI, XII, dan XIII disesuaikan dengan struktur kurikulumnya, misalnya 48 jam pelajaran.
Durasi setiap satu jam pelajaran adalah 45 menit.
b) Beban belajar di Kelas X dan XI dalam satu semester 18 minggu.
c) Beban belajar di kelas XII dan XIII pada semester ganjil 18minggu.
d) Beban belajar di kelas XII dan XIII pada semester genap paling sedikit 14 minggu dan paling banyak 16 minggu.
Setiap sekolah SMK boleh menambah jam belajar per minggu berdasarkan
pertimbangan kebutuhan belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting.
Beban belajar harus mengacu kepada struktur kurikulum Satuan dan Muatan Peminatan Kejuruan. Muatan Kewilayahan juga harus memperhatikan adanya muatan lokal sesuai kondisi daerah.
Beban belajar dalam satu minggu didistribusikan dalam bentuk Jadwal Pelajaran dan harus sama jumlah jam pelajarannya seperti yang tercantum dalam struktur kurikulum.
Khusus pada kondisi pandemi covid-19 saat ini, dalam mengatur jam belajar sekolah menyesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerahnya dengan selalu memperhatikan peraturan yang berlaku.
3.5. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Pada KTSP
Berisi penjelasan tentang Gerakan PPK, yang menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang berbudaya dan beradap.
Agar gerakan PPK di SMK berjalan secara terarah dan terukur, maka desain PPK harus secara eksplisit digariskan di dalam KTSP. Mengintegrasikan PPK di sekolah dimulai dengan mengkaji nilai-nilai yang akan dikembangkan di sekolah, merumuskan kembali visi, misi, dan tujuan sekolah, melakukan kajian kegiatan intrakurikuer, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah, mengatur strategi bagaimana nilai-nilai PPK tersebut dibelajarkan kepada peserta didik secara langsung maupun tidak langsung, serta bagaimana melakukan penilaiannya. Semua hal tersebut dimasukkan ke dalam KTSP agar menjadi pedoman dan pegangan seluruh warga sekolah dalam menfasilitasi peserta didik menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Sebagai gambaran, PPK di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai strategi, antara lain:
a. Implementasi PPK berbasis kelas
Pengintegrasian PPK dalam kurikulum mengandung arti bahwa pendidik mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK ke dalam proses pembelajaran dalam setiap mata pelajaran. Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai- nilai utama karakter dimaksudkan untuk menumbuhkan dan menguatkan pengetahuan, menanamkan kesadaran, dan mempraktikkan nilai-nilai utama PPK. Pendidik dapat memanfaatkan secara optimal materi yang sudah tersedia di dalam kurikulum secara kontekstual dengan penguatan nilai-nilai utama PPK.
b. Implentasi PPK berbasis budaya sekolah
Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis Pendidikan Karakter mengatasi ruang- ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah.
Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang merepresentasikan nilainilai utama Pendidikan Karakter yang menjadi prioritas sekolah. Pembiasaan ini diintegrasikan dalam keseluruhan kegiatan di sekolah yang tercermin dari suasana dan lingkungan sekolah yang kondusif.
Salah satu budaya penting yang harus dibangun di sekolah budaya literasi, melalui Gerakan Literasi Sekolah. Mengingat pentingnya literasi dalam peningkatan kualitas kemanusiaan, gerakan literasi sekolah wajib dilakukan di SMK, dengan berbagai tahapannya.
c. Implemenasti PPK berbasis Kegiatan Ekstrakkurikuler
Penguatan nilai-nilai utama PPK sangat dimungkinkan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini tersebut bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan bakat peserta didik, sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing.
Ada dua jenis kegiatan ekstrakurikuler, yakni ekstrakurikuler wajib (pendidikan kepramukaan) dan pilihan (sesuai dengan kegiatan yang dikembangkan oleh masing-masing sekolah).
Semua kegiatan ekstrakurikuler harus memuat dan menegaskan nilai-nilai karakter yang dikembangan dalam setiap bentuk kegiatan yang dilakukan.
Meskipun secara implisit kegiatan ekstra kuirkuler sudah mengandung nilai- nilai karakter, namun tetap harus diungkap secara eksplisit serta direfleksikan dan ditegaskan kembali di akhir kegiatan.
3.6. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) :
Berisi penjelasan tentang Gerakan litersi sekolah sebagai upaya yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk membiasakan semua warga sekolah melakukan kegiatan literasi. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya.
Sebagai gambaran, Komponen literasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi pondasi perkembangan literasi dasar.
b. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
c. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
d. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
e. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Komponen literasi yang dilaksanakan dan teknis pelaksanannya dijelaskan dan diuraikan secara runtut sesuai situasi dan kondisi satuan pendidikan.
3.7. Program Muatan Lokal
Berisi penjelasan dan uraian tentang muatan lokal dan teknis pelaksanaannya di satuan pendidikan. Muatan lokal merupakan bahan kajian atau mata pelajaran
pada sekolah yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya.
Muatan lokal diajarkan dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk:
a. mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya; dan
b. melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Muatan lokal yang dipilih dan diajarkan harus terdokumentasikan dalam bentuk kompetensi dasar, silabus dan RPP. Kompetesi dasar muatan lokal dicantumkan di dalam dokumen 1 (satu) KTSP, sedangkan silabus di dokumen 2 (dua) dan RPP di dokumen 3 (tiga). Penyelenggaraan muatan lokal harus mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 tahun 2014 Tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013 dan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 19 tahun 2014 tentang mata Pelajaran Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah dan Madrasah.
3.8. Program Penguatan Kompetensi
Berisi penjelasan dan uraian tentang penguatan kompetensi yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Penguatan kompetensi adalah sebuah langkah untuk melakukan penyesuaian kompetensi antara yang ada di dalam kurikulum dengan yang dibutuhkan oleh Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA).
Langkah ini merupakan kolaborasi dan sinergi dalam melakukan proses sinkronisasi KTSP. Sehingga KTSP tidak lagi berorientasi kepada Supply Driven, tetapi berorientasi kepada Demand Driven. Penguatan kompetensi bisa dilakukan melalui beberapa kegiatan , antara Magang Guru di Industri, Guru Tamu dari Industri, Teaching Factory, Kelas Industri dan kegiatan yang sejenis.
Pelaksanaan penguatan kompetensi di satuan pendidikan dijelaskan dan diuraikan, yang meliputi jenis kegiatannya beserta teknis pelaksanannya.
3.9. Kegiatan Pengembangan Diri (Ekstrakurikuler)
Berisi penjelasan dan uraian tentang kegiatan pengembangan diri di satuan pendidikan. Secara umum, pengembangan diri di satuan pendidikan mempunyai tujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah.
Secara khusus, pengembangan diri bertujuan menunjang menfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan (1) bakat, (2) minat, (3) kreativitas, (4) kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, (5) kemampuan kehidupan keagamaan, (6) kemampuan sosial, (7) kemampuan belajar, (8) wawasan dan perencanaan karir, (9) Kemampuan pemecahan masalah, dan ( 10) kemandirian.
Pelaksanaan kegiatan pengembangan diri (ekstrakurikuler) i di satuan pendidikan dijelaskan dan diuraikan, yang meliputi jenis kegiatannya beserta teknis pelaksanannya.
3.10. Pelaksanaan Bimbingan Konseling
Berisi penjelasan dan uraian pelaksanaan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan. Bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional pada satuan pendidikan dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor. Konselor adalah seseorang yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling. Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling yang dihasilkan Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) dapat ditugasi sebagai Guru Bimbingan dan Konseling untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.
3.11. Program Pendidikan Anti Korupsi.
Berisi uraian Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi di Satuan Pendidikan.
Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi adalah kegiatan pendidikan yang menjadi tanggung jawab Satuan Pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi kepada Peserta Didik melalui kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler, penyisipan atau integrasi nilai-nilai anti korupsi dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran yang relevan dan pengembangan kegiatan pendidikan lain yang terkait dengan pengembangan karakter.
3.12. Program Anti Bulliying (Perundungan) di Satuan Pendidikan.
Berisi uraian Penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar yang kondusif dan menyenangkan, terhindar dari diskriminasi, bulliying (perundungan).
Terdapat upaya-upaya Satuan Pendidikan dalam bentuk regulasi dan pelaksanaannya untuk mewujudkan program Anti Bulliying (Perundungan) di Satuan Pendidikan.
3.13. Mekanisme Penilaian
Berisi penjelasan dan uraian tentang mekanisme penilaian di satuan pendidikan.
Sebagai sebuah tahapan penting dalam proses pembelajaran, penilaian yang dilakukan di sekolah harus direncanakan dengan baik. Oleh karena itu untuk menjamin agar mekanisme penilaian di SMK berjalan dengan baik, seyogyanya hal tersebut dicantumkan di KTSP. Mekanisme penilaian yang perlu di atur dalam KTSP antara lain jenis-jenis ulangan, tes, atau ujian yang akan dilakukan di satuan pendidikan, mekanisme penjaminan kualitas intrumen penilaian, mekanisme pengolahan dan pemanfaatan hasil penilaian serta sistem pelaporan penilaian. Mekanisme penilaian mengacu kepada Permendikbudristek Republik Indonesia No. 21 tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan dan Jenjang Pendidikan Menengah.
3.14. Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran.
Berisi penjelasan dan uraian tentang Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran.
Sistem penilaian yang digunakan dan standar minimal Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran dijelaskan dan diuraikan, dan bagaimana cara menentukan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran.
3.15. Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Berisi penjelasan dan uraian tentang Praktek Kerja Lapangan (PKL). Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 50 tahun 2020 tentang Praktek Kerja Lapangan Bagi Peserta Didik.
3.16. Kenaikan Kelas
Berisi penjelasan dan uraian kriteria kenaikan kelas yang mengacu pada ketentuan penilaian yang berlaku di satuan pendidikan.
Kriteria kenaikan kelas harus dicantumkan dengan jelas di dalam KTSP sebagai dasar pengambilan keputusan kenaikan kelas, mengacu kepada Permendikbudristek Republik Indonesia No. 21 tahun 2022 tentang Standar
Penilaian Pendidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan dan Jenjang Pendidikan Menengah.
3.17. Kelulusan
Berisi penjelasan dan uraian tentang kriteria kelulusan dari satuan pendidikan.
Kriteria Kelulusan mengacu kepada Permendikbudristek Republik Indonesia No.
21 tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan dan Jenjang Pendidikan Menengah.
3.18. Mutasi Peserta Didik
Berisi uraian atau ketentuan yang mengatur mekanisme, prosedur mutasi masuk dan mutasi keluar bagi peserta didik.
Bab IV. Kalender Pendidikan
Berisi penjelasan dan ketentuan yang mengatur tentang kegiatan-kegiatan berikut:
1. Permulaan awal tahun pelajaran.
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
2. Pengaturan waktu pembelajaran efektif.
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan ekstrakurikuler.
3. Pengaturan waktu libur.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
4. Pengaturan waktu penilaian
Waktu penilaian adalah waktu yang ditetapkan untuk proses penilaian, baik penilaian oleh guru, oleh satuan pendidikan maupun oleh pemerintah.
5. Tabel jadwal kegiatan sekolah
Bab V. Supervisi pembelajaran Berisi penjelasan dan uraian tentang :
1. Perencanaan supervisi pembelajaran 2. Pelaksanaan kegiatan supervisi 3. Laporan kegiatan supervisi individual
Bab VI. Penutup Bagian Akhir
Bagian akhir dokumen I KTSP adalah lampiran dokumen-dokumen pendukung seperti:
1. SK. Kepala Sekolah tentang Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum 2. SK Kepala Sekolah tentang Kalender Akademik Sekolah
3. SK.Kepala Sekolah tentang Pembetukan Tim pelaksana Supervisi pembelajaran 4. SK Kepala Sekolah tentang Pembentukan Satgas Anti Bullying (Perundungan).
5. Instrumen hasil verifikasi dan validasi Pengawas 6. Dokumen lain yang relevan (dokumen penunjang).
BAB III
PENGEMBANGAN SILABUS
A. Pengertian Silabus
Silabus merupakan acuan pengembangan kerangka pembelajaran untuk setiap mata pelajaran. Silabus dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar isi untuk pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun pelajaran. Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada tingkat satuan pendidikan. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri sebaiknya bergabung dengan sekolah lain melalui forum MGMP kabupaten/kota.
Cabang Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi pengembangan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.
B. Diagram Alur Pengembangan Silabus
ANALISIS
KALDIK RPE - RHE-
RJE ANALISIS
SKL-KI-KD IPK, TP & MP
PROTA &
PROMES METH/MODEL
& PENILAIAN
Keterangan :
RPE : Rencana Pekan Efektif IPK : Indikator Pencapaian Kompetensi RHE :
RJE :
Rencana Hari Efektif
Rencana Jam Efektif
TP :
MP :
Tujuan Pembelajaran
Materi Pembelajaran SILABUS RPP
C. Komponen Silabus
Berikut contoh komponen-komponen pada Silabus :
No Komponen Keterangan
1. Identitas • Nama Sekolah, Mata Pelajaran, Kelas/Semester Tahun Pelajaran, dan Alokasi Waktu.
2. Kompetensi Inti • Sesuai dengan Perdirjen nomor: 464/D.D5/KR/2018
• Untuk mapel selain Pendidikan Agama dan PKn, cukup mencantumkan KI-3 dan KI-4.
3. Kompetensi Dasar • Kemampuan spesifik yang mencakup sikap, penge tahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran.
• Sesuai dengan Perdirjen nomor: 464/D.D5/KR/2018 4. Indikator
Pencapaian Kompetensi (IPK)
• Merupakan tahapan kompetensi yang harus dilalui siswa untuk mencapai kompetensi KD
• Setiap 1 (satu) KD minimal diturunkan menjadi 3 (tiga) IPK, dengan rincian; 2 IPK sebagai tahapan, dan 1 IPK target (kunci)
• Satu IPK hanya untuk satu kompetensi Contoh : Menjelaskan persamaan kuadrat
5. Materi Pelajaran • Disesuaikan dengan IPK yang diturunkan dari KD 6. Kegiatan
Pembelajaran
• Terdiri dari pendahuluan, kegiatan inti dan penutup
• Kegiatan pendahuluan terdiri atas ; persiapan, apersepsi, informasi dan motivasi
• Pada kegiatan inti, langkah pembelajaran mengacu pada sintaks dari model pembelajaran yang digunakan
• Kegiatan penutup terdiri dari ; refleksi, resume dan penugasan
7. Penilaian • Teknik penilaian yang dilakukan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran, misalnya ; tes tulis bentuk Pilihan Ganda (PG), Essay, dan lain-lain
8. Sumber belajar • Mencantumkan semua referensi yang digunakan sebagai sumber belajar.
• Jika berupa buku, maka harus dituliskan secara lengkap judul, tahun terbit, dan pengarang/ penerbitnya, begitu juga jika berupa web atau blog
9. Alokasi Waktu • Disesuaikan dengan waktu yang sudah direncana kan dalam program semester.
BAB IV
PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
A. Pengertian RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih, yang dilengkapi dengan instrument penilaian dari 3 (tiga) ranah KD, yaitu ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan.
RPP dikembangkan dari silabus dan bertujuan untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi. Pengembangan RPP dilaksanakan bersamaan dengan pengembangan silabus saat melakukan analisis SKL, KI, dan KD.
B. Komponen RPP
No Komponen Keterangan
1. Identitas • Nama Sekolah, Mata Pelajaran, Kelas/ Semester : Tahun Pelajaran, dan Alokasi Waktu.
• Format penulisan Alokasi waktu harus menunjukkan jumlah JP.
Contoh : Alokasi Waktu = 2 JP (2 x 45 menit)
• Alokasi waktu (AW) untuk satu kali pertemuan minimal 2 JP, jika sebuah mapel memiliki AW = 3 JP maka harus dilaksanakan dalam satu pertemuan.
• Jika pembelajaran sebuah mapel membutuhkan lebih dari 1 (satu) pertemuan, maka pada RPP harus dituliskan identitas pertemuannya (pertemuan ke 1, pertemuan ke 2, dan seterusnya)
2. Kompetensi Inti • Sesuai dengan Perdirjen nomor: 464/D.D5/KR/2018
• Untuk mapel selain Pendidikan Agama dan PKn, cukup mencantumkan KI-3 dan KI-4.
3. Kompetensi Dasar • Kemampuan spesifik yang mencakup sikap, penge tahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran.
• Sesuai dengan Perdirjen nomor: 464/D.D5/KR/2018 4. Indikator Pencapaian
Kompetensi (IPK)
• Merupakan tahapan kompetensi yang harus dilalui siswa untuk mencapai kompetensi KD (ditunjukkan oleh KKO KD)
• Setiap 1 (satu) KD minimal diturunkan menjadi 3 (tiga) IPK, dengan rincian; 2 IPK sebagai tahapan, dan 1 IPK target (kunci)
• Satu IPK hanya untuk satu kompetensi Contoh : Menjelaskan persamaan kuadrat
5. Tujuan
Pembelajaran (TP)
• Diturunkan dari setiap IPK, dengan demikian jumlah indicator sama dengan jumlah TP.
• Komponen kalimatnya terdiri atas Audience (A), Behavior (B), Condition (C), dan Degree (D).
• Kompenen behavior (B) diambilkan dari IPK Contoh : melalui diskusi (C) siswa (A) dapat
menjelaskan persamaan kuadrat (B) dengan benar (D) 6. Materi Pelajaran • Disesuaikan dengan IPK yang diturunkan dari KD 7. Metode dan/atau
Model Pembelajaran
• Nama metode dan/atau model pembelajaran yang digunakan
• Metode dan/atau model pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran.
8. Kegiatan Pembelajaran
• Terdiri dari pendahuluan, kegiatan inti dan penutup
• Kegiatan pendahuluan terdiri atas ; persiapan, apersepsi, informasi dan motivasi
• Pada kegiatan inti, langkah pembelajaran mengacu pada sintaks dari model pembelajaran yang digunakan
• Kegiatan penutup terdiri dari ; refleksi, resume dan penugasan
9. Penilaian • Meliputi 3 (ranah), yaitu ; pengetahuan, keterampilan dan sikap.
• Menyebutkan teknik/instrument yang digunakan untuk menilai pada masing-masing ranah.
• Khusus pada penilaian pengetahuan, maka jumlah soal dalam instrument penilaian minimal sama dengan jumlah item tujuan pembelajaran.
10. Alokasi Waktu • Disesuaikan dengan waktu yang sudah direncanakan dalam program semester.
11. Sumber belajar • Mencantumkan semua referensi yang digunakan sebagai sumber belajar.
• Jika berupa buku, maka harus dituliskan secara lengkap judul, tahun terbit, dan pengarang/ penerbitnya, begitu juga jika berupa web atau blog
RPP harus memuat materi tentang Pendidikan Anti Korupsi.
BAB V
PROSEDUR PENETAPAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN 1 KTSP
A. Penetapan
1. Sekolah harus membuat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai kurikulum yang berlaku untuk setiap Kompetensi Keahlian.
2. KTSP harus divalidasi oleh Pengawas Pembina dengan mengacu kepada instrumen validasi yang tersedia dengan cara memberi tanda √ pada kolom ada/tidak.
Apabila terdapat kekurangan diberikan catatan pada kolom keterangankemudian pada kolom tersebut ditandatangani.
Kolom catatan harus diisi sebagai rekomendasi pengawas kepada sekolah, utamanya terkait perbaikan yang harus dilakukan.
3. Penetapan KTSP dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah dengan menandatangani dokumen final setelah mendapatkan masukan dari warga sekolah dan rekomendasi dari pengawas.
B. Pengesahan
1. Dokumen KTSP selanjutnya diserahkan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk mendapatkan pengesahan, dengan melampirkan :
a. Lembar instrumen validasi KTSP yang sudah ditandatangani Pengawas Pembina SMK dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten/Kota dan dibubuhi stempel dinas.
b. Lembar Penetapan yang telah diparaf Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
2. Pengesahan KTSP oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
BAB VI PENUTUP
Pedoman Penyusunan Dokumen KTSP SMK Provinsi Jawa Timur ini disusun sebagai acuan satuan pendidikan SMK dalam menyusun dan merencanakan pembelajaran sesuai dengan regulasi yang berlaku. Dengan adanya pedoman ini diharapkan penyusunan KTSP dapat dilakukan dengan baik dan dalam waktu yang singkat, yang pada akhirnya kualitas pembelajaran di SMK dapat terencana dan terlaksana dengan baik.
LAMPIRAN 1 :
Contoh proses pembuatan RPP versi baru ;
(Dapat disesuaikan dengan update terbaru ketentuan pembuatan RPP ) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
▪ Sekolah : SMK JUJUR
▪ Kelas/Semester : X / 1 (ganjil)
▪ Mapel : Teknologi Dasar Otomotif
▪ Materi Pokok : Rangkaian Kelistrikan Sederhana
▪ Alokasi Waktu : 2 x 45 menit A. Kompetensi Dasar :
3.11. Memahami rangkaian kelistrikan sederhana 4.11. Membuat rangkaian listrik sederhana Indikator :
3.11.1 Mengidentifikasi komponen rangkaian listrik sederhana 3.11.2 Menjelaskan prinsip kerja rangkaian listrik sederhana 3.11.3 Menjelaskan sifat-sifat rangkaian seri dan parallel 4.11.1 Merancang rangkaian kelistrikan lampu rem 4.11.2 Membuat rangkaian kelistrikan lampu rem 4.11.2 Menguji rangkaian kelistrikan lampu rem B. Tujuan Pembelajaran :
Melalui diskusi dan kerja praktik, siswa dapat :
1. Mengidentifikasi komponen rangkaian listrik sederhana 2. Menjelaskan prinsip kerja rangkaian listrik sederhana 3. Menjelaskan sifat-sifat rangkaian seri dan parallel 4. Merancang rangkaian kelistrikan lampu rem 5. Membuat rangkaian kelistrikan lampu rem 6. Menguji rangkaian kelistrikan lampu rem Catatan :
Jika memungkinkan, maka Tujuan Pembelajaran dapat dibuat dalam bentuk satu kalimat dengan lebih dari satu KKO.
1. Melalui diskusi siswa dapat mengindentifikasi dan menjelaskan rangkaian listrik sederhana (untuk ranah pengetahuan)
2. Menjelaskan sifat-sifat rangkaian seri dan parallel
3. Dengan kerja praktik siswa dapat merancang, membuat dan menguji rangkaian kelistrikan lampu rem
C. Kegiatan Pembelajaran : Pendahuluan :
1. Persiapan (salam, doa bersama, presensi)
2. Apersepsi (mengingatkan kembali materi yang sudah dipelajarai) 3. Informasi (menyampaikan KD dari materi yang akan dipelajari)
4. Motivasi (menyampaikan TP dari materi yang akan dipelajari, cara menilainya, dan lain-lain) Indikator
cukup ditulis di silabus saja
Kegiatan Inti : menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning 1. Siswa memperhatikan gambar rangkaian kelistrikan sederhana 2. Siswa mendiskusikan rangkaian kelistrikan sederhana
3. Siswa mencari tahu, jenis, tujuan, fungsi rangkaian 4. Siswa mengolah data/informasi yang terkumpul
5. Siswa membuat kesimpulan dari materi dalam pokok bahasan 6. Siswa menyampaikan hasil diskusi tentang pokok bahasan Penutup :
1. Refleksi (mengingat kembali materi yang baru dipelajari)
2. Resume (siswa diajak membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari) 3. Tugas (memberi tugas yang bersifat motivatif)
Catatan : Karena isi dari langkah Pendahuluan dan Penutup untuk semua mapel sama, maka boleh tidak ditulis tetapi harus tetap dilaksanakan.
D. Penilaian Hasil Pembelajaran
Pengetahuan Keterampilan Sikap
Soal tertulis :
1. Jelaskan jelaskan prinsip rangkaian listrik sederhana
2. Jelaskan sifat-sifat rangkaian seri dan parallel
1. Buatlah rancangan rangkaian listrik sederhana dengan prinsip kerja seri 2. Buatlah rancangan rangkaian listrik sederhana dengan prinsip kerja seri
1. Komunikatif :
Penggunaan Bahasa yang baik dan benar
2. Kolaboratif :
Kerjasama dalam diskusi 3. Tanggung jawab : Integritas sebagai anggota diskusi saat melaksanakan tugas
Surabaya, . 2023
Mengetahui Guru Mapel, Kepala Sekolah
LAMPIRAN 2 :
Contoh RPP versi baru yang sudah jadi
(Dapat disesuaikan dengan update terbaru ketentuan pembuatan RPP ) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
▪ Sekolah : SMK JUJUR
▪ Kelas/Semester : X / 1 (ganjil)
▪ Mapel : Teknologi Dasar Otomotif
▪ Materi Pokok : Rangkaian Kelistrikan sederhana
▪ Alokasi Waktu : 1 x pertemuan (2 x 45 menit) A. Kompetensi Dasar :
3.11. Memahami rangkaian kelistrikan sederhana 4.11. Membuat rangkaian listrik sederhana B. Tujuan Pembelajaran :
Melalui diskusi dan kerja praktik, siswa dapat :
1. Mengidentifikasi komponen rangkaian listrik sederhana 2. Menjelaskan prinsip kerja rangkaian listrik sederhana 3. Menjelaskan sifat-sifat rangkaian seri dan parallel 4. Merancang rangkaian kelistrikan lampu rem 5. Membuat rangkaian kelistrikan lampu rem 6. Menguji rangkaian kelistrikan lampu rem
C. Kegiatan Pembelajaran : Model Pembelajaran Discovery Learning 1. Siswa memperhatikan gambar rangkaian kelistrikan sederhana
2. Siswa mendiskusikan rangkaian kelistrikan sederhana 3. Siswa mencari tahu, jenis, tujuan, fungsi rangkaian 4. Siswa mengolah data/informasi yang terkumpul
5. Siswa membuat kesimpulan dari materi dalam pokok bahasan 6. Siswa menyampaikan hasil diskusi tentang pokok bahasan D. Penilaian Hasil Pembelajaran
Pengetahuan Keterampilan Sikap
Soal tertulis :
1. Jelaskan jelaskan prinsip rangkaian listrik sederhana 2. Jelaskan sifat-sifat rangkaian seri dan parallel
1. Buatlah rancangan rangkaian listrik sederhana dengan prinsip kerja seri 2. Buatlah rancangan rangkaian listrik sederhana dengan prinsip kerja seri
1. Komunikatif : Penggunaan Bahasa yang baik dan benar 2. Kolaboratif :
Kerjasama dalam diskusi
3. Tanggung jawab : Integritas sebagai anggota diskusi saat melaksanakan tugas
Surabaya, . 2023
Mengetahui Guru Mapel, Kepala Sekolah
………. ……….
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR DINAS PENDIDIKAN
Jl. Gentengkali 33, Tlp (031) 5344028, 5463836, 5342706, 5342708 Fax. 5346707 Kode Pos 60275
SURABAYA
INSTRUMEN VALIDASI/VERIFIKASI DOKUMEN I KTSP SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
Tahun Pelajaran 2023/2024 A. IDENTITAS SEKOLAH
1. Nama Sekolah : ...
2. NPSN : ...
3. Alamat Sekolah
a. Jalan : ...
b. Desa/Kelurahan : ...
c. Kecamatan : ...
d. Kota : ...
e. Telepon : ...
f. e-mail : ...
g. Website : ...
4. Kepala Sekolah
a. Nama : ...
b. NIP : ...
c. Telp./HP : ...
d. e-mail : ...
5. Bidang Keahlian : ...
Program Keahlian : ...
Kompetensi Keahlian : ...
...
...
...
B. PETUGAS VALIDASI
Nama : ...
Jabatan : Pengawas Sekolah
Tanggal Validasi : ...
PETUNJUK PENGISIAN
1. Perhatikan/Cermati dokumen KTSP yang akan divalidasi/diverifikasi
2. Tuliskan identitas sekolah, alamat, nama kepala sekolah, nama dan jabatan petugas validasi/verifikasi
3. Bubuhkan tanda cek (√) sesuai keberadaan butir-butir pernyataan.
4. Catatan petugas validasi/verifikasi diisi dengan temuan, komentar dan saran
LAMPIRAN 3 :
CONTOH
INSTRUMEN VALIDASI/VERIFIKASI DOKUMEN I KTSP SMK
NO KOMPONEN KTSP / INDIKATOR KEBERADAAN KETERA NGAN ADA TIDAK
COVER / HALAMAN JUDUL
Judul : Kurikulum SMK
Program Keahlian/Kompetensi Keahlian :
Tahun Pelajaran :
Alamat sekolah :.
Terdapat logo sekolah dan atau daerah LEMBAR PENGESAHAN
Rumusan kalimat penetapan
Terdapat tanda tangan kepala sekolah sebagai pihak yang menetapkan beserta stempel sekolah
Tanda tangan ketua komite sekolah sebagai pihak yang menyetujui beserta stempel komite sekolah
Terdapat tempat tanda tangan Kepala Dinas/ Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMK sebagai pihak yang mengesahkan beserta stempelnya.
KATA PENGANTAR
Berisi pernyataan rasa syukur, dan suka cita dapat menyajikan buku kepada khalayak, serta terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu
DAFTAR ISI
Kesesuaian dengan halaman BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Latar Belakang memuat :
1. Kondisi nyata berdasarkan hasil Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP)
2. Kondisi ideal sesuai Permendikbud No.34/2018
3. Potensi dan karakteristik satuan pendidikan B. Dasar Hukum
Mencantumkan dasar hukum yang relevan, yaitu : 1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional 2. .
3. . 4. . 5. . Dst.
C. Prinsip Pengembangan kurikulum
Menjabarkan acuan konseptual kurikulum, prinsip pengembangan kurikulum dan prosedur operasional kurikulum sesuai permendikbud Nomor 61 tahun 2014 BAB II. VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN
1. Visi Satuan Pendidikan
1) dijadikan sebagai cita-cita bersama warga satuan
pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang
2) mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan
3) dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga satuan pendidikan dan pihak-pihak yang berkepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional
4) Rumusan Visi ditulis dengan kalimat yang ringkas, mudah dipahami, dan bermakna luas.
2. Misi Satuan Pendidikan
1) memberikan arah dalam mewujudkan visi satuan pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional
2) merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu
3) menjadi dasar program pokok satuan pendidikan 4) memuat pernyataan umum dan khusus yang
berkaitan dengan program satuan pendidikan 5) memberikan keluwesan dan ruang gerak
pengembangan kegiatansatuan-satuan unit satuan pendidikan yang terlibat
3. Tujuan Satuan Pendidikan
1) menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai o l e h s a t u a n p e n d i d i k a n
2) mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan
masyarakat
3) mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh satuan pendidikan dan Pemerintah
BAB III. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM SMK 1. Kerangka Dasar Kurikulum SMK :
1) Menguraikan landasan yuridis kurikulum SMK berdasarkan Perdirjen Dikdasmen Nomor
07/D.D5/KK/2018 tentang Struktur Kurikulm SMK /MAK dan Perdirjen Dikdasmen No.
464/D.D5/KR/2018 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar.
2) Daftar mata pelajaran wajib yang meliputi Muatan Nasional,Muatan Kewilayahan, dan Peminatan Kejuruan
3) Pengaturan alokasi waktu per-mata pelajaran disesuaikan dengan standar isi, kebutuhan peserta didik dan sekolah dengan total waktu sesuai dengan standar proses.
2. Standar Kompetensi Lulusan SMK :
Menguraikan standar kompetensi lulusan, mengacu kepada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 34 tahun 2018 tentang SNP SMK/MAK.
3. Profil Lulusan SMK :
1) Menggambarkan profil lulusan yang akan dihasilkan