BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bioplastik
Bioplastik merupakan nama lain dari plastik biodegradabel, yakni plastik yang dapat digunakan layaknya plastik konvensional namun akan hancur terurai secara alami dengan bantuan bakteri, jamur dan mikroba. Karena sifatnya yang dapat kembali ke alam, bioplastik menjadi ramah lingkungan dibandingkan plastik konvensiaonal (Harald, 2005). Bioplastik merupakan jenis plastik yang terbuat dari biopolimer. Biopolimer adalah polimer yang tersusun atas biomassa yang dapat diperbarui. Bioplastik telah berkembang lebih dari 10 tahun lalu, dan perkembangan kearah plastik konvensional sangat lambat. Hal ini disebabkan umumnya harga mahal dan sifatnya berbeda dengan plastik konvensional. Namun seiring dengan menipisnya cadangan minyak bumi maka bioplastik akan segera menjadi kompetitif dibandingkan plastik lainnya (Faizin, 2012).
Bioplastik atau yang sering disebut plastik biodegradabel, merupakan salah satu jenis plastik yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbarui, seperti pati, minyak nabati, dan mikrobiota. Ketersediaan bahan dasarnya di alam sangat melimpah dengan keragaman struktur tidak beracun. Bahan yang dapat diperbarui ini memiliki biodegradabilitas yang tinggi sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan bahan pembuat bioplastik (Stevens, 2002).
Bioplastik memiliki sifat fleksibel, dapat dicetak, tidak berbau , mampu menghambat keluar masuknya gas dan uap air, transparan dan tidak mengandung racun ketika dibakar maupun tidak menjadi sampah karena bersifat ramah lingkungan. Bioplastik dapat berubah menjadi biomaasa, H2O, CO2 dan CH4 melalui tahapan depolimerisasi dan mineralisasi. Depolimerisasi terjadi karena kerja enzim ekstraseluler (terdiri atas endo dan ekso enzim). Endo enzim memutus ikatan internal pada rantai utama polimer secara acak, dan ekso enzim memutus unit monomer pada rantai utama secara berurutan. Bagian- bagian oligomer yang terbentuk dipindahkan ke dalam sel menjadi mineralisasi. Proses mineralisasi membentuk CO2, CH4, N2, air, garam- garam, mineral dan biomassa. Hasil akhir yang terbentuk dapat
beragam bergantung pada polimer, organisme, dan lingkungan (Harald, 2005). Hasil degradasi bioplastik ini dapat digunakan sebagai makanan hewan ternak atau sebagai pupuk kompos. Kualitas tanah akan meningkat dengan adanya bioplastik, karena hasil penguraian mikroorganisme meningkatkan unsur hara dalam tanah (Droste, 1997).
Gambar 2. 1 Siklus bioplastik (Harald, 2005).
Menurut Guilbert (1986) tahapan pembuatan bioplsatik adalah sebagai berikut:
a) Pensuspensian bahan dalam pelarut
Pembuatan larutan film yang diawali dengan pensuspensian bahan dasar kedalam pelarut seperti etanol, air, atau bahan pelarut lainnya.
b) Penambahan pemplastis
Pemplastis ditambahkan untuk memperbaiki sifat mekanik secara kelenturan yaitu memberikan fleksibilitas pada sebuah polimer sehingga film polimer lentur dan tidak mudah putus.
c) Pengaturan Suhu
Pengaturan suhu pada pembuatan lembaran film bioplastik bertujuan membentuk pati tergelatinisasi dimana ini merupakan awal pembentukan film. Suhu akan menentukan sifat mekanik lembaran film bioplastik, karena suhu ini menentukan tingkat gelatinisasi yang terjadi dan sifat fisik pasta atau gel yang terbentuk.
d) Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menguapkan pelarut sehingga diperoleh lembaran film kering. Suhu mempengaruhi waktu pengeringan dan hasil penampakan dari film bioplastik.
Penelitian Vilpoux dan Averous (2002) melaporkan potensi penggunaan pati sebagai bahan baku pembuatan bioplastik berkisar (80-90%) dari pasar bioplastik yang ada. Selama ini bioplastik yang dikembangkan adalah berbasis pati, baik pati alami maupun yang sudah dimodifikasi. Proses pembuatan bioplastik berbasis pati ini pun sudah dikembangkan, diantaranya:
a) Mencampurkan pati dengan plastik konvensional (PE dan PP) dalam jumlah kecil.
b) Mencampurkan pati dengan turunan hasil samping minyak bumi, seperti PCL, dalam komposisi yang sama (50%).
c) Menggunakan proses ekstruksi untuk mencampurkan pati dengan bahan-bahan seperti protein kedelai, sorbitol, gliserol, alginate atau lignin sebagai pemplastis.
2.2 Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata)
Jagung manis termasuk family graminae bersama-sama dengan jagung biasa. Tanaman jagung manis umumnya ditanam untuk panen muda yaitu 69-82 hari setelah tanam atau pada saat masak susu (Milking stage) (Martin dan Leonard, 1967).
Gambar 2. 2 Struktur biji jagung (Damardjati dkk., 1986).
Proses pematangan merupakan proses perubahan gula menjadi pati sehingga biji jagung manis yang belum masak mengandung kadar gula lebih tinggi dan kadar pati lebih rendah. Perbedaanya yaitu
sebelum proses pematangan jagung manis sudah mempunyai rasa manis yang lebih dibandingkan dengan jenis jagung. Hal inilah yang menyebabkan jagung manis 4 – 8 kali lebih manis dibanding jagung biasa (Martin dan Leonard, 1967). Secara struktur biji jagung terdiri atas empat bagian utama, yaitu perikarp, lembaga endosperm dan tip kap Gambar 2.2. Perikarp merupakan lapisan terluar yang pembungkus biji dan dapat berubah cepat selama proses pembentukan biji. Lembaga meliputi 11,5% dari bobot keseluruhan biji, tersusun atas dua bagian yaitu skutelum dan poros embrio (embryonic axis).
Endosperm merupakan bagian terbesar dari biji jagung, yaitu sekitar 85%, hampir seluruhnya terdiri atas karbiohidrat dari bagian yang lunak (Floury endosperm) dan bagian yang keras (horny endosperm).
Bagian terakhir adalah tip kap yang menghubungkan biji dengan janggel (Damardjati dkk., 1986). Komposisi kimia jagung bervariasi tergantung jenis atau varietas jagung, keadaan tanah dan iklim. Pada umumnya komposisi kimianya adalah protein, lemak, karbohidrat dan abu. Karbohidrat merupakan komponen yang paling banyak terdapat dalam biji jagung, komponen karbohidrat adalah pati dan gula sederhana, yaitu glukosa, sukrosa, dan fruktosa (Lehninger, 1982).
Tabel 2. 1 Komposisi kimia jagung manis (Widowati dkk., 2005).
Komposisi kimia Jumlah (%)
Air Protein
Lemak/minyak Karbohidrat Serat kasar Abu
9,5 12,9
3,9 69,3
2,9 1,5
2.2.1. Pati
Pati merupakan polisakarida, rumus kimianya (C6H10O5) yang terdiri dari monosakarida yang berikatan melalui oksigen. Monomer dari pati adalah glukosa yang berikatan dengan ikatan α-1,4
(glikosidik) yaitu ikatan kimia yang menggabungkan 2 molekul monosakarida yang berikatan secara kovalen terhadap sesamanya (Pranamuda, 2003). Glukosa merupakan unit terkecil yang membangun pati. Pati terdiri atas dua jenis polimer glukosa yaitu amilosa dan amilopektin. Ratio antara amilosa dan amilopektin berbeda untuk setiap jenis pati, tergantung spesies tumbuhan asalnya (Winarno dan Aman, 1979). Pati jagung manis mengandung 22,8%
amilosa. Amilosa memiliki sifat keras atau kuat sedangkan amilopektin memiliki sifat lengket (Singh dkk., 2003).
Amilosa merupakan polisakarida berantai lurus berbentuk heliks dengan ikatan glikosidik α-1,4. Jumlah molekul glukosa pada rantai amilosa berkisar antara 250-350 unit. Amilopektin merupakan polisakarida bercabang dengan ikatan glikosidik α-1,4 pada rantai lurusnya dan ikatan α-1,6 pada percabangannya. Titik percabangan amilopektin lebih banyak dibandingkan dengan amilosa (Dziedzic dan Kearsley, 1986). Amilopektin berpengaruh terhadap sifat sensoris jagung, terutama tekstur dan rasa. Pada prinsipnya , semakin tinggi kandungan amilopektin, tekstur dan rasa jagung semakin lunak, pulen, dan enak (Suarni dan Firmansyah, 2005).
(a)
(b)
Gambar 2. 3 Rumus struktur (a) amilosa, (b) amilopektin (Dziedzic dan Kearsley, 1986).
Amilosa mampu membentuk struktur Kristal karena adanya interaksi molecular yang kuat. Kristalisasi sering dilihat sebagai retrogradasi, yaitu proses dimana molekul pati menjadi tidak larut dalam air secara irreversbel sehubungan dengan pembentukan ikatan yang kuat. Amilopektin merupakan elemen dari struktur Kristal.
Amilopektin juga dapat membentuk komples walaupun tidak sereaktif amilosa. Pada amilopektin , kristalisasi terhalangi oleh rantai cabang polimer (Koswara, 2009).
2.2.2. Gelatinisasi dan Retrogradasi
Zat pati terdiri dari butiran-butiran kecil yang disebut granula.
Granula pati mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda tergantung dari sumbernya. Pada umunya granula pati tidak terdapat dalam keadaan murni karena adanya zat antara misalnya protein dan lemak. Granula pati sedikitnya mengandung tiga komponen yaitu amilosa, amilopektin dan bahan antara. Granula pati bersifat kompak karena diperkuat oleh ikatan hidrogen antara molekul-molekul amilosa dan amilopektin yang cukup kuat. Oleh karena itu granula mempunyai struktur semikristal. Struktur semikristal granula pati bersifat tidak larut dalam air dingin. Gelatinisasi merupakan peristiwa pengembangan granula pati sehingga granula pati tersebut tidak dapat
kembali (irreversible) pada kondisi semula. Granula pati tidak larut dalam air dingin tetapi dapat menyerap air sampai 30% tanpa merusak struktur granula. Jika suspensi air pati dipanaskan akan terjadi pengembangan granula (Koswara, 2009). Beberapa molekul pati, khusunya amilosa yang dapat terdispersi meningkatkan granula- granula yang membengkak dan masuk ke dalam cairan yang ada disekitarnya. Selama proses gelatinisasi pati, terjadi perubahan viskositas dari suspensi pati yaitu selama fase pemanasan dan pendiginan. Suhu pada saat suspensi pati mulai meningkat viskositasnya atau saat granula pati mulai mengembang disebut dengan suhu awal gelatinisasi. Suhu pada saat granula pati mengembang dengan cepat dan mengalami perubahan yang bersifat tidak dapat balik disebut suhu gelatinisasi. Granula pati jagung berbentuk poligonal dan suhu gelatinisasinya berkisar 62-80oC.
Gelatinisasi pati akan cepat terjadi bila konsentrasi pati tinggi, suhu rendah dan pH antara 5-7 (Belitz dan Grosch, 1987).
Jika pati yang telah tergelatinisasi kemudian berbentuk gel dan didiamkan, akan terjadi perluasan daerah kristal sehingga mengakibatkan pengkerutan struktur gel yang biasanya diikuti dengan keluarnya air dari gel, dimana dalam pembuatan bioplastik terjadi pada tahap pengeringan untuk menghilangkan kandungan air tersebut.
Bila gel pati tersebut kemudian mendingin, energi kinetik tidak lagi cukup tinggi untuk melawan kecendrungan molekul-molekul amilosa untuk bersatu kembali. Molekul-molekul amilosa berikatan kembali satu sama lain serta berikatan dengan cabang amilopektin pada pinggir-pinggir luar granula. Dengan demikian mereka menggabungkan butir pati yang membentuk itu menjadi semacam jarring-jaring membentuk mikrokristal dan mengendap. Proses kristalisasi kembali pati yang telah mengalami gelatinisasi disebut retrogradasi (Winarno, 2002). Proses kristalisasi kembali pati yang telah mengalami gelatinisasi disebut retrogradasi, sedangkan keluarnya air dari gel disebut sineresis. Konsentrasi amilosa yang tinggi dan tidak adanya senyawa pembasah (Surface active agents) merupakan faktor yang mempercepat terjadinya retrogradasi (Koswara, 2009).
2.2.3. Penyimpanan Jagung Manis
Jagung manis termasuk sayuran yang cepat rusak (very perishable), penyimpanan optimum -1oC hingga 4 oC selama 1-2
minggu (Wills dan Golding, 2016). Sedangkan menurut Pastastico (1986) keadaan penyimpanan dingin yang dianjurkan pada jagung manis yang ditanam didaerah tropis adalah suhu penyimpanan 0,5 oC hingga 1,7 oC, RH 90% - 95% dan umur simpan satu minggu. Selain penurunan suhu, menurut Hardenberg (1999) penyimpanan sangat didukung bila dikombinasikan dengan penggunaan pembungkus, adapun keuntungannya adalah: (1) Melindungi bahan dari kerusakan mekanis; (2) mencegah kontaminasi serangga, debu dan penanganan;
(3) mengendalikan kualitas, memperpanjang kesegaran; (4) membantu menaikkan CO2 dan menurunkan 02 serta memperlambat penuaan. Sedangkan menurut Wijandi (1986) penggunaan pembungkus cukup bermanfaat meskipun tidak dapat mencegah kematangan lebih lanjut. Bahan yang sukar ditembus seperti plastik dapat menahan kelembaban dan mencegah kehilangan air.
Sayuran dan buah-buahan pada saat di panen masih merupakan benda hidup, oleh karena itu komposisi dan mutunya mengalami perubahan-perubahan akibat berlanjutnya kegiatan metabolism setelah panen. Setelah panen produk tetap hidup, dan terus mejalankan reaksi metabolisme dan mempertahankan sistem fisiologi seperti ketika dia masih bergabung pada tanaman. Jaringan tanaman setelah panen tetap hidup. Proses metabolik yang berlangsung dalam sel dan jaringan akan segera mulai memburuk (Charley, 1982). Benda hidup melakukan metabolisme terutama untuk memenuhi keperluan- keperluan yang dibutuhkan oleh benda tersebut agar dapat melangsungkan kehidupannya. Keperluan tersebut dalam bentuk energi. Dengan adanya energi, maka reaksi-reaksi metabolisme dapat berlangsung. Dalam sistem biologi, energi dapat diperoleh dengan beberapa cara yaitu dengan cara fotosintesis, respirasi atau fermentasi.
Proses fotosintesis, respirasi dan proses menuanya hasil pertanian, ditandai dengan perubahan-perubahan warna, tektur, aroma dan rasa (Hadiwiyoto dan Soehardi, 1980).
Jagung manis yang sudah di panen sebagian gula didalam biji akan diubah menjadi pati dan sebagian lagi dapat hilang disebabkan oleh respirasi yang menghasilkan air, CO2 dan energi (Mack dkk., 1956). Selama penyimpanan jagung manis, kadar sukrosa terus menurun karena sukrosa banyak diubah menjadi fluktosa dan glukosa (gula pereduksi). Penyimpanan pada suhu kamar menyebabkan kegiatan respirasi meningkat. Respirasi menyebabkan panas selama penyimpanan sehingga menaikkan suhu, suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim, dalam hal ini enzim invertase sehingga
mempercepat laju penguraian sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
Fruktosa mempunyai kadar kemanisan yang lebih tinggi dari sukrosa (Kusmiyati, 1988). Sehingga penyimpanan jagung manis akan meningkatkan kadar glukosa dan fruktosa (gula pereduksi). Fruktosa itu dua kali lebih manis dari glukosa, sedangkan sukrosa satu setengah kali lebih manis dari glukosa. Tetapi karena kadar fruktosa dalam jagung manis saat panen lebih kecil dari sukrosa, maka rasa manis pada jagung manis banyak disebabkan oleh sukrosa. Glukosa dan fruktosa adalah gula-gula pereduksi dengan rumus kimia C6H12O6
(Pastastico, 1986). Namun semakin lama jagung manis disimpan, maka kandungan fruktosa dan glukosa akan menurun. Hal ini karena disebabkan terbentuknya pati, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa glukosa adalah unit terkecil yang membangun pati. Lintasan sukrosa menjadi pati dapat dilihat pada gambar 2.5 di bawah ini (Kusmiyati, 1988).
Gambar 2. 4 Lintasan sukrosa menjadi pati (Kusmiyati, 1988).
2.3 Kitosan
Kitosan adalah senyawa polimer alam turunan kitin yang diisolasi dari limbah perikanan, seperti kulit udang dangkang kepiting dengan kandungan kitin antara 65-70%. Sumber bahan baku kitosan yang lain diantaranya kalajengking, jamur,cumi, gurita, serangga, laba-laba dan ulat sutera dengan kandungan kitin 5-45%. Kitosan
termasuk kelompok polisakarida seperti pati dan selulosa (Rismana, 2001). Kitosan memiliki sifat lebih reaktif dari kitin dan mudah diproduksi dalam bentuk serbuk, pasta, fil dan serat. Kitosan merupakan bahan bioaktif dan aktivitasnya dapat diaplikasikan dalam bidang farmasi, pertanian, lingkungan industri (Agustini, 2006).
Kitosan memiliki sifat antimikroba, karena dapat menghambat bakteri pathogen dan mikrorganisme pembusuk, termasuk jamur, bakteri gram-positif, bakteri gram-negatif (Hafdani dan Sadeghinia, 2011). Kitosan digunakan sebagai pelapis (film) pada berbagai bahan pangan, tujuannya adalah menghalangi oksigen masuk dengan baik, sehingga dapat digunakan sebagai kemasan berbagai bahan pangan dan juga dapat dimakan langsung, karena kitosan tidak berbahaya terhadap kesehatan (Azeredo dkk., 2010).
Gambar 2. 5 Struktur kitosan (Thatte, 2004).
Kitosan mempunyai rumus umum C6H11N04 atau disebut sebagai poli (β(1,4)-2-amino-2-Deoksi-D-Glukopiranosa). Kitosan bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdestilasi biasanya bervariasi polimerisasi yang berbeda. Struktur kitosan dapat dilihat pada Gambar 2.5 (Thatte, 2004). Sebagian besar polisakarida yang terdapat secara alami seperti selulosa, dekstran, pectin, asam alginate, agar, keragenan bersifat netral atau asam di alam, sedangkan kitosan merupakan polisakarida yang bersifat basa (Kumar, 2000). Kitosan dalam bentuk amino bebas tidak selalu larut dalam air pada pH lebih dari 6,5 sehingga memerlukan asam untuk melarutkannya. Kitosan larut dalam asam asetat dan asam forniat encer. (Hirano dkk., 1987).
2.4 Sorbitol
Sorbitol adalah senyawa monosakarida polyhydric alcohol, nama kimia lain dari sorbitol adalah hexitol atau glusitol dengan rumus kimia dari sorbitol adalah C6H1406. Sorbitol merupakan bahan pengganti gula dari golongan gula alkohol yang paling banyak digunakan, oleh karena itu struktur molekulnya mirip dengan struktur molekul glukosa hanya yang berbeda gugus aldehid (CHO) pada glukosa diganti menjadi gugus alkohol (CH2OH) (Cahyadi, 2009).
Sorbitol berbentuk bubuk kristal bewarna putih yang higrokopis, tidak berbau dan berasa manis, sorbitol larut dalam air, gliserol, Propylene glycol, serta sedikit larut dalam methanol, etanol, asam asetat, phenol dan acetamida. Sorbitol umumnya digunakan sebagai bahan baku industri barang konsumsi dan makanan seperti pasta gigi, permen, kosmetik, farmasi, vitamin C, termasuk industri tekstil dan kulit (Chelzea, 2011).
Gambar 2. 6 Struktur sorbitol (Cahyadi, 2009).
Sorbitol digunakan sebagai pemplastis (Plasticizer) dalam pembuatan bioplastik berbasis pati. Plasticizer didefinisikan sebagai bahan nonvolatile yang jika ditambahkan pada material lain akan merubah sifat fisik material tersebut. Penambahan pemlastis dalam pembuatan bioplastik dapat meningkatkan fleksibilitas edible film (Harsunu, 2006). Pengaruh penambahan pemplastis sorbitol jika dibandingkan dengan pemplastis gliserol adalah semakin banyak pemplastis yang ditambahkan maka nilai kekuatan tarik cenderung menurun sedangkan presentase elongasi of break cenderung naik dan sorbitol memberikan nilai kekuatan tariknya yang lebih tinggi dari pada gliserol, namun memberikan nilai elongasi of break yang lebih rendah dari pada gliserol karena sorbitol lebih bersifat rapuh (brittle) (Wirawan dkk., 2012). Sorbitol merupakan pemplastis yang efektif
karena memiliki kelebihan mampu untuk mengurangi ikatan hidrogen internal pada ikatan intermolekul sehingga baik untuk menghambat penguapan air dari produk, dapat larut dalam tiap-tiap rantai polimer sehingga akan mempermudah gerakan molekul polimer, tersedia dalam jumlah yang banyak, harganya murah dan bersifat non toksik (Sulaiman, 1996).
2.5 Sifat Mekanik
Sebuah material memiliki bermacam-macam sifat mekanik seperti kuat tarik, kekerasan, persen pemanjangan, kekuatan, ketahanan, kerapuhan dan sebagainya. Terdapat 3 macam gaya yang umunya diujikan pada suatu material, yaitu gaya tarik, gaya tekan, dan gaya geser. Sifat mekanik bioplastik yang umum dilakukan adalah uji kekuatan tarik (Tensile strength). Uji tarik merupakan suatu metode dimana benda (material) mengalami gaya tarik secara kontinyu searah sumbu sampel sehingga akhirnya terjadi patahan. Sifat mekanik dalam bioplastik terbagi menjadi kuat tarik dan persen pemanjangan dari pengujian bioplastik. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui reaksi benda terhadap gaya tarik. Pada umumnya yang menjadi fokus pengujian adalah kemampuan maksimum bahan dalam menrima gaya tarik, atau disebut juga tegangan tarik maksimum (ultimate tensile strength). Kuat tarik dapat diketahui melalui beban maksimum yang diperoleh ketika luas penampang material mengalami patahan selama proses pemberian gaya. Selain itu juga terhadap panjang putus (elongation at break) atau proses pemanjangan yaitu perubahan panjang maksimum pada saat terjadi peregangan hingga sampel bioplastik terputus (Wafiroh dkk., 2011). Hubungan antara beban gaya dengan perubahan panjang dapat dilihat pada Gambar. Ketika gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan, maka daerah ini disebut daerah linier. Di daerah ini, kurva pertambahan panjang terhadap gaya akan mengikuti aturan hukum hooke, yaitu rasio tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan.
Kurva pada Gambar 2.7 menunjukkan bahwa, bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik luluh, kemudian bebannya dihilangkan, maka regangan yang terjadi pada bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula yaitu pada titik nol. Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik luluh, hukum hooke tidak lagi berlaku dan terdapat perubahan permanen dari bahan tersebut. Titik luluh atau batas
proporsional merupakan titik dimana suatu bahan apabila diberi suatu beban memasuki fase peralihan deformasi elastis ke plastis, yaitu titik sampai dimana penerapan hukum hooke masih bisa ditolerir (Nurmaulita, 2010).
Gambar 2. 7 Kurva tegangan dan regangan (Nurmaulita, 2010).
2.6 Ketahanan Air (Swelling %)
Sifat ketahanan terhadap air ditentukan dengan prosetase pengembungan film oleh adanya air. Uji ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya ikatan dalam polimer serta tingkatan atau keteraturan ikatan dalam polimer yang ditentukan melalui prosentase penambahan berat polimer setelah mengalami pengembungan. Proses terdifusinya molekul pelarut kedalam polimer akan menghasilkan gel yang mengembung. Sebagaimana plastik konvensional pada umunya, bioplastik diharapkan mempunyai sifat hidrofobisitas yag mendekati plastik konvensional. Ketahanan air ini diperlukan untuk mengetahui ketahanan bioplastik terhadap air sehingga dapat menentukan produk atau bahan yang sesuai dengan kemasan tersebut (Sanjaya dan Puspita, 2008).
2.7 Ketahanan Lingkungan
Ketahanan lingkungan diartikan sebagai ketahanan bioplastik terhadap udara disekitar. Berdasarkan fungsinya sebagai kemasan pengganti plastik konvensional, maka perlu adanya uji terhadap ketahanan lingkungan seperti udara.. Menurut penelitian (Febriyantoro dkk., 2014) uji ketahanan udara dilakukan dengan pengamatan perubahan massa dari sampel yang diletakkan pada ruang terbuka dalam kurun waktu 30 hari. Uji ini dilakukan untuk mengetahui respon dari bioplastik selama dalam penyimpanan atau sebelum bioplastik digunakan sebagai kemasan secara langsung.
15