• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAJARI TENTANG BEA METERAI

N/A
N/A
Bella Putri

Academic year: 2023

Membagikan "PELAJARI TENTANG BEA METERAI"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

BEA METERAI

(2)

Dasar

Hukum

Tentang Bea Meterai

UU No 10 Tahun 2020 01

Tentang pembayaran bea meterai, ciri umum dan ciri khusus pada meterai Tempel, kode unik dan keterangan tertentu pada meterai Elektronik, meterai dalam bentuk lain, dan penentuan Keabsahan meterai, serta pemeteraian kemudian

PMK no 134/PMK.03/2021 02

Tentang Peraturan pelaksanaan peraturan pemerintah nomor 86 tahun 2021 Tentang pengadaan, pengelolaan, dan penjualan meterai

PMK no 133/PMK.03/2021

03

(3)

Latar

Belakang

UU No 10 Tahun 2020

Pengesahan ini akan sangat bermanfaat sebagai salah satu perangkat untuk mewujudkan

perbaikan kesejahteraan rakyat, peningkatan pertumbuhan

ekonomi yang berkualitas, perbaikan tata kelola Bea Meterai.

Undang-Undang Bea Meterai yang baru ini akan Menggantikan

Undang-Undang Bea Meterai Nomor 13 Tahun 1985 yang telah berlaku selama 35 tahun dan belum pernah mengalami

perubahan.

(4)

Keberpihakan kepada masyarakat luas dan pelaku UMKM dengan tarif yang relatif rendah dan terjangkau, serta kenaikan batas nominal nilai uang dalam dokumen dari lebih dari Rp1 juta menjadi lebih dari Rp5 juta

Meningkatkan kesederhanaan dan efektivitas melalui tarif tunggal dan penerapan meterai elektronik

Memberikan kesetaraan antara dokumen kertas dan elektronik

Tujuan

(5)

Bea Meterai adalah pajak atas dokumen.

Pengertian Bea Meterai

Pasal 1 angka 1 UU Bea Meterai

Bea Meterai dikenakan 1 (satu) kali untuk setiap Dokumen

(Pasal 4 UU Bea Meterai)

Dokumen adalah sesuatu yang ditulis atau tulisan, dalam bentuk tulisan tangan, cetakan, atau elektronik, yang

dapat dipakai sebagai alat bukti atau keterangan.

Pasal 1 angka 2 UU Bea Meterai

(6)

Objek Bea Meterai

Bea Meterai dikenakan atas:

Dokumen yang dibuat sebagai alat untuk

menerangkan mengenai suatu kejadian yang bersifat perdata; dan

Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan

Pasal 3 ayat (1) UU Bea Meterai

(7)

Dokumen yang bersifat perdata sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (1) huruf a meliputi:

Objek Bea Meterai

surat perjanjian, surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang sejenis, beserta rangkapnya;

akta notaris beserta grosse, salinan, dan kutipanya;

akta PPAT beserta salinan dan kutipannya;

surat berharga dengan nama dan bentuk apapun;

dokumen transaksi surat berharga, termasuk dokumen transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan bentuk apa pun;

dokumen lelang yang berupa kutipan risalah lelang, minuta risalah lelang, salinan risalah lelang, dan grosse risalah lelang

Pasal 3 ayat (2)

(8)

Objek Bea Meterai

> 250 ribu > 5 juta

UU No 13 Tahun 1985 UU No Tahun 2020

Dokumen yang menyatakan jumlah uang dengan nominal lebih dari Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah) yang:

menyebutkan penerimaan uang;

berisi pengakuan bahwa utang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan

Pasal 3 ayat (2) huruf g UU Bea Meterai

(9)

Non-Objek Bea Meterai

tanda terima pembayaran gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang berkaitan dengan hubungan kerja, serta surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran dimaksud

tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas pemerintah

daerah, bank, dan Lembaga lainnya yang ditunjuk oleh negara

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan

Bea Meterai tidak dikenakan atas Dokumen berupa:

dokumen yang terkait lalu lintas orang dan barang

1.

surat penyimpanan barang

2.

konosemen

3.

surat angkutan penumpang dan barang

4.

bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang

5.

surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim

6. surat lainnya yang dapat dipersamakan dengan surat sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 5

segala bentuk ijazah

Pasal 7 UU Bea Meterai

(10)

Bea Meterai tidak dikenakan atas Dokumen berupa:

kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu yang berasal dari kas negara, kas pemerintahan daerah, bank, dan lembaga lainnya yang ditunjuk berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan

tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi

surat gadai

dokumen yang menyebutkan simpanan

uang atau surat berharga, pembayaran uang simpanan kepada penyimpan oleh bank, koperasi, dan badan lainnya yang

menyelenggarakan penyimpanan uang, atau pengeluaran surat berharga oleh kustodian kepada nasabah

tanda pembagian keuntungan, bunga, atau imbal hasil dari surat berharga, dengan nama dan dalam bentuk apa pun

dokumen yang diterbitkan atau dihasilkan oleh Bank Indonesia dalam rangka

pelaksanaan kebijakan moneter

Non-Objek Bea Meterai

Pasal 7 UU Bea Meterai

(11)

sepuluh ribu rupiah

Tarif Bea Meterai

10.000

Berlaku mulai 1 Januari 2021

METERAI TEMPEL

9BF765GI497868965

Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dikenai Bea Meterai dengan tarif tetap sebesar

Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) Pasal 5 UU Bea Meterai 2020

Tarif tersebut dapat diturunkan atau dinaikkan

dengan Peraturan Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

(12)

Saat Terutang Bea Meterai

Bea Meterai terutang pada saat:

Dokumen dibubuhi untuk tanda tangan

Surat perjanjian berserta rangkapnya

Akte notaris beserta grosse, salinan, dan kutipannya Akta PPAT beserta salinan dan kutipannya

Dokumen selesai dibuat

Surat berharga dengan nama dan dalam bentuk apapun

Dokumen transaksi surat berharga, termasuk dokumen transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan dalam bentuk apa pun

Pasal 8 ayat (1) UU Bea Meterai

(13)

Saat Terutang Bea Meterai

Dokumen diserahkan kepada pihak untuk siapa Dokumen tersebut dibuat

Surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang sejenis, beserta rangkapnya

Dokumen lelang

Surat yang menyatakan jumlah uang

Dokumen diajukan ke Pengadilan, untuk dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan

Dokumen digunakan di Indonesia, untuk dokumen perdata yang dibuat di luar negeri

Pasal 8 ayat (1) UU Bea Meterai

(14)

Yang Terutang

PIHAK

Dokumen yang dibuat sepihak, Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerima dokumen

Dokumen yang dibuat 2 (dua) pihak atau lebih, Bea Meterai terutang oleh masing-masing pihak atas Dokumen yang diterimanya

PENGECUALIAN

Dokumen berupa surat berharga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d, Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerbitkan surat berharga

Pasa l 9

(15)

Pemungutan Bea Meterai yang terutang atas Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dapat dilakukan oleh pemungut Bea Meterai.

Kewajiban Pemungut Bea Meterai:

Memungut Bea Meterai yang terutang atas dokumen tertentu dari pihak yang terutang

Menyetorkan Bea Meterai ke kas negara

Melaporkan pemungutan dan penyetoran Bea Meterai ke kantor DJP

Pemungut

PIHAK

Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan pemungut dan tata cara pemungutan, penyetoran, dan pelaporan Bea Meterai diatur dalam Peraturan Menteri

*

Pasal 10 - 11

(16)

Meterai Tempel

Meterai Elektronik

Meterai Dalam Bentuk Lain Surat Setoran Pajak

Pembayaran Bea Meterai

(17)

Meterai Tempel

Ciri-ciri umum meterai tempel adalah:

gambar lambang negara Garuda Pancasila frasa “Meterai Tempel”

angka yang menunjukkan nilai nominal

Selain memiliki ciri umum, meterai tempel juga memiliki

ciri khusus sebagai unsur pengaman pada desain, bahan,

dan teknik cetak.

(18)

merupakan meterai yang memiliki kode unik dan keterangan tertentu yang diatur dengan Peraturan Menteri

Meterai Dalam Bentuk Lain

merupakan meterai yang dibuat dengan menggunakan mesin teraan meterai digital, sistem komputerisasi, teknologi percetakan, dan sistem atau teknologi lainnya

Meterai Elektronik

(19)

Pemeteraian Kemudian

Dilakukan untuk:

Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar

Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti pengadilan

* Pihak yang wajib membayar Bea Meterai melalui Pemateraian Kemudian

merupakan pihak yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9

(20)

Bea Meterai yang terutang dapat diberikan fasilitas pembebasan dari pengenaan Bea Meterai, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk:

Dokumen yang menyatakan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dalam rangka percepatan proses penanganan dan

pemulihan kondisi sosial ekonomi suatu

daerah akibat bencana alam yang ditetapkan sebagai bencana alam

Dokumen yang menyatakan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang

digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang semata-mata bersifat keagamaan dan/atau sosial tidak bersifat komersial

a.

b.

c.

Dokumen dalam rangka mendorong atau melaksanakan program

pemerintah dan/atau kebijakan

lembaga yang berwenang di bidang moneter atau jasa keuangan

Dokumen yang terkait pelaksanaan perjanjian internasional yang telah mengikat berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perjanjian internasional atau berdasarkan asas timbal balik

d.

*

Dokumen adalah sebagaimana dimaksud Pasal 3

Pasal 22

(21)

Sanksi

Pemungut Bea Meterai yang tidak melaksanakan kewajiban pemungutan dan/atau penyetoran, diterbitkan SKP untuk menagih Bea Meterai yang tidak atau kurang dipungut dan/atau tidak atau kurang disetor, ditambah sanksi administratif sebesar 100% (seratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dipungut dan/atau tidak atau kurang disetor.

Pasal 11 ayat (2) dan ayat (3) UU Bea Meterai

Bea Meterai yang wajib dibayar melalui Pemeteraian Kemudian atas dokumen yang Bea Mterainya tidak atau kurang dibayar sebesar Bea Meterai yang terutang ditambah sanksi administratif sebesar 100% (seratus persen) dari Bea Meterai yang terutang.

Pasal 17 ayat (1) jo. Pasal 18 ayat (2) UU Bea Meterai 2020

(22)

Pejabat yang berwenang dalam menjalankan tugas atau jabatannya, dilarang : menerima, mempertimbangkan, atau menyimpan Dokumen sebagaimana

Larangan Pejabat

dimaksud dalam Pasal 3 yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar

melekatkan Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar pada Dokumen lain yang berkaitan membuat salinan, tembusan, rangkap, atau petikan dari Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar

Pasal 21

a.

b.

c.

memberikan keterangan atau catatan pada Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar

d.

(23)

Bea Meterai yang terutang menjadi kedaluwarsa setelah jangka waktu 5 (lima) tahun sejak saat terutang .

Kedaluwarsa

Pasal 23 UU Bea Meterai

(24)

Ketentuan Pidana Pasal 24

Setiap orang yang:

meniru atau memalsu Meterai yang dikeluarkan oleh

Pemerintah Republik Indonesia, dengan maksud untuk memakai atau meminta orang lain memakai Meteri tersebut sebagai

Meterai asli, tidak dipalsu, atau sah; atau

Membuat meterai dengan menggunakan cap asli secara melawan hukum, termasuk membuat meterai elektronik, dan meterai dalam bentuk lain, secara melawan hukum

dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda

paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

(25)

Ketentuan Pidana Pasal 25

Setiap orang yang memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, mempunyai persediaan untuk dijual atau memasukkan ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia:

Meterai dipalsu atau dibuat secara melawan hukum seolah-olah asli, tidak dipalsu, dan dibuat secara tidak melawan hukum; atau Barang yang dibubuhi meterai sebagaimana dimaksud dalam huruf a, seolah-olah barang tersebut asli, tidak dipalsu, dan dibuat secara tidak melawan hukum

dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana

denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta

rupiah)

(26)

Ketentuan Pidana Pasal 26

Setiap orang yang dengan sengaja menghilangkan tanda, menghilangkan ciri, atau memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, mempunyai persediaan untuk dijual, atau memasukkan ke wilayah NKRI

seolah-olah meterai tersebut belum dipakai, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun

atau pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00

(dua ratus juta rupiah)

(27)

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:

Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar yang dibuat

Ketentuan Peralihan

Meterai tempel yang digunakan untuk melakukan pembayaran Bea Meterai yang terutang atas Dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b, dapat digunakan dengan nilai total Meterai tempel yang dibubuhkan pada Dokumen paling sedikit Rp9.000,00 (sembilan ribu rupiah).

Pasal 28

c.

a. sebelum Undang-Undang ini berlaku, Bea Meterainya tetap terutang dan dibayar berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai.

b. Meterai tempel yang telah dicetak berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1985

tentang Bea Meterai dan peraturan pelaksanaannya yang masih tersisa,

masih dapat digunakan sampai jangka waktu 1 (satu) tahun setelah UU ini

mulai berlaku dan tidak dapat ditukarkan dalam bentuk apapun.

(28)

28

(29)

PMK No. 134/PMK.03/2021

Pembayaran bea meterai, ciri umum dan ciri khusus pada

meterai Tempel, kode unik dan keterangan tertentu pada meterai Elektronik, meterai dalam bentuk lain, dan penentuan Keabsahan meterai, serta pemeteraian kemudian

(30)

Latar

Belakang

PMK No.

134/PMK.03/2021

Melaksanakan ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai mengenai :

tata cara pembayaran Bea Meterai

ciri-ciri keaslian meterai untuk mencegah dan menghindari peniruan, pemalsuan, dan

penyalahgunaan meterai tempel

keabsahan meterai

tata cara pemeteraian kemudian

penggunaan meterai tempel yang telah

dicetak berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985

(31)

Pembayaran Bea Meterai

Pihak yang terutang melakukan

pembayaran Bea Meterai yang terutang pada Dokumen pada saat terutang Bea Meterai.

Dokumen yang terutang Bea Meterai dikenai Bea Meterai dengan tarif tetap sebesar

Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).

(32)

Pembayaran Bea Meterai

Meterai

01

o Meterai Tempel

o Meterai dalam bentuk lain - Meterai teraan

- Meterai komputerisasi - Meterai percetakan

Surat Setoran Pajak (SSP)

02

(33)

Pembayaran

dilakukan dengan membubuhkan Meteraiyang

sah dan berlaku serta belum pernah dipakai

Ketentuan Pembubuhan

o direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di tempat Tanda Tangan akandibubuhkan

o dibubuhkan Tanda Tangan sebagian di atas kertas dan sebagian di atas Meterai tempel disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun dilakukannya penandatanganan

Meterai Tempel

(34)

*

*

*

*

*

*

MenteriKeuangandapatmenambahkan ciri khusus meterai tempel yang ditetapkan dengan keputusan menteri.

*

= Ciri Umum

Ciri Umum dan Khusus Meterai Tempel

www.pajak.go.id

(35)

Meterai Teraan Meterai Komputerisasi Meterai Percetakan*

Syarat telah memperoleh izin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak

CaraPembubuhan mesin teraan meterai digital sistemkomputerisasi teknologi percetakan Ketentuan

Pembubuhan Jika Dokumen terdiri atasdua lembar atau lebih, makadibubuhkan

pada lembar pertama Dokumen tidakdiatur

Unsurdalam meterai

logo KementerianKeuangan

tulisan “Direktorat JenderalPajak”

logo dan/atau tulisan nama PembuatMeterai

tulisan “METERAITERAAN”

angka yang menunjukkantarif Bea Meterai

tanggal, bulan, dan tahun pembubuhan

nomormesin

kodeunik

tulisan “BEA METERAILUNAS”

angka yang menunjukkan tarif Bea Meterai.

tulisan “METERAIPERCETAKAN”

logo KementerianKeuangan

angka yang menunjukkan tarif Bea Meterai

namaPembuatMeterai

Meterai dalam Bentuk Lain

* Dokumen yang dibubuhi Meterai Percetakan berupacek dan bilyet giro

www.pajak.go.id

(36)

SSP hanya digunakan untuk pembayaran BeaMeterai:

▪ dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan dengan jumlah lebih dari 50Dokumen

tidak memungkinkan menggunakan Meterai tempel karena tidaktersedia/

tidak dapat digunakan

Menyetorkan Bea Meterai yang terutang ke kasnegara

▪ menggunakan formulir SSP/Kode Billing

• kode akun pajak 411611

• kode jenis setoran 100

Melekatkan SSP yang telah ber-NTPN dan Dokumen yang terutang Bea Meterai/daftar

Dokumen

Surat Setoran Pajak (SSP)

Membuat daftar Dokumen jika terdapat dua atau lebih Dokumen

a b

c d

dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejaksaat terutangBeaMeterai

www.pajak.go.id

(37)

Penentuan Keabsahan Meterai

Meterai tempel

www.pajak.go.id

menggunakan Meterai yang sah dan berlaku serta belum pernah dipakai; dan

memenuhi ketentuan pembubuhan Meterai tempel

Meterai dalam bentuk lain

dibuat berdasarkan izin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak; dan

menggunakan Meterai dalam bentuk lain yang memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan

Jika tidak memenuhi maka Pembayaran Bea Meterai tidak sah dan Dokumen dianggap tidak dibubuhi Meterai

(38)

Permintaan penentuan keabsahan

Jika diperlukan pihak yang terutang atau pihak lain dapat mengajukan permintaan penentuan keabsahan

Harus dilampiri dengan Meterai yang dimintakan penentuankeabsahannya

DJP menentukan keabsahan dengan cara:

melakukanpenelitian

meminta keterangan atau penjelasan dari pihak yang melaksanakan pencetakan Meteraitempel

www.pajak.go.id

(39)

Dokumen yang Bea Meterainya tidak ataukurang dibayar sebagaimana mestinya

100 %

terutangsejak 1 Januari 2021

200 %

Bea Meterai yang terutang +

sanksi administratif

terutangsebelum 1 Januari 2021

Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan

Bea Meterai yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat Pemeteraian Kemudian

CaraPembayaran

Bea Meterai yang terutang:

Meterai tempel; atau

SSP

kode akun pajak411611

kode jenis setoran100

Sanksiadministratif:

SSP

kode akun pajak 411611

kode jenis setoran512

Pemeteraian Kemudian

www.pajak.go.id

(40)

Pengesahan Pemeteraian Kemudian

Pejabat tersebutmemastikan

Meterai tempel yang digunakansahdanberlaku sertabelum pernah dipakai

Kebenaran SSP yang telah mendapatkan NTPN denganmelakukan konfirmasi pada saluran tertentu yang disediakanoleh Direktur Jenderal Pajak;

Kesesuaian nilai pembayaran dalam SSP yang telahmendapatkan NTPN dengan jumlahBea Meterai yang wajib dibayar melalui Pemeteraian Kemudian

Kesesuaiankode akun pajak dankode jenis setoran

Pemeteraian Kemudiandisahkan oleh

Pejabat Pos;atau

Pejabat lain yang ditunjuk Direktur Jenderal Pajak

www.pajak.go.id

(41)

Cap Pemetereian Kemudian

Pejabat membubuhkan cap Pemeteraian Kemudian

Dokumen/daftar Dokumen yang Bea Meterainya telah dibayar; dan/atau

SSP yang telah mendapatkan NTPN

Bentuk Cap Pemetereian Kemudian

www.pajak.go.id

(42)

Penerbitan Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Dalam hal pihak yang terutang tidak melakukan pemeteraian

kemudian atas dokumen yang Bea Meterainya tidak/kurang dibayar sebagaimanamestinya

Kepala KPP dapat menerbitkanSKP

Pihak yang terutang dapat meminta pengesahan atas dokumen yang Bea Meterainya ditetapkan dengan SKP

Berdasarkan penelitian (kesesuaian nilai SSP dengan jumlah Bea Meterai di SKP) dapat disahkan dengan membubuhkan cap PemeteraianKemudian

Dokumen yang Bea Meterainya seharusnya dipungut

www.pajak.go.id

Dalam hal ditemukan data bahwa Dokumen yang Bea Meterainya tidak/kurang dibayar merupakan

Kepala KPP Pihak yang terutang mengirimkan

Pemberitahuan kepada Kepala KPP tempat Pemungut bea meterai untuk kemudianditindaklanjuti

(43)

Meterai tempel lama dapat digunakan sampai dengan tanggal 31 Desember 2021 dan tidak dapat ditukarkan dengan uang atau dalam bentukapa pun.

Pembayaran menggunakan Meterai tempel paling sedikit Rp9.000,00 (sembilan ribu rupiah) dan sesuai dengan ketentuan pembubuhan

Ketentuan Peralihan

Izin pembubuhan tanda Bea Meterai lunas dengan menggunakan mesin teraan

meterai digital dan teknologi percetakan dan izin sebagai pelaksana pembubuhan tanda Bea Meterai lunas masih berlaku sampai dengan izinberakhir/dicabut.

Izin pembubuhan tanda Bea Meterai lunas dengan menggunakan sistem

komputerisasi masih berlaku dalam hal pemilik izin melakukan pembayaran Bea Meterai di muka dan melaporkan ke KPP terdaftar dan izin belum dicabut.

Tanda Bea Meterai Lunas

Tanda yang telah dibubuhkan dapat digunakan untuk pembayaran

selisih Bea Meterai yang seharusnya terutang dengan tarif yang tertera wajib dilunasi dengan mesin teraan meterai digital atau SSP, paling lama sebelum Dokumen digunakan.

PMK-65/PMK.03/2014 (tentang Bentuk, Ukuran, dan Warna Benda Meterai)

www.pajak.go.id

KMK-133b/KMK.04/2000 (Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Cara Lain)

(44)

Pencabutan atas peraturan berikut:

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK.04/2000

tentang Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Cara Lain

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.03/2014 tentang Bentuk, Ukuran, dan Warna Benda Meterai

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.03/2014tentang Tata Cara PemeteraianKemudian

Ketentuan Penutup

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.03/2021 mulai berlaku pada tanggal 19 Januari 2021

www.pajak.go.id

(45)

Contoh pengenaan

sanksi administratif Bea

Meterai

(46)

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas laporan pemungutan Bea Meterai, ditemukan 15 (lima belas) Dokumen objek pemungutan Bea

Meterai dengan rincian sebagai berikut:

a) 1 (satu) Dokumen telah dipungut dan disetorkan ke kas negara;

b) 2 (dua) Dokumen tidak dipungut dan tidak disetorkan ke kas negara;

c) 7 (tujuh) Dokumen telah dipungut, tetapi tidak disetorkan ke kas negara; dan

d) 5 (lima) Dokumen tidak dipungut, tetapi disetorkan ke kas negara.

Berdasarkan data tersebut, pengenaan sanksi administratif adalah sebesar 100% (seratus persen) atas:

a) 2 (dua) Dokumen yang tidak dipungut dan tidak disetorkan ke kas negara; dan

b) 7 (tujuh) Dokumen yang telah dipungut, tetapi tidak disetorkan ke kas negara.

Sedangkan atas 1 (satu) Dokumen yang telah dipungut dan disetorkan ke kas negara dan 5 (lima) Dokumen yang tidak dipungut, tetapi disetorkan ke kas negara, tidak dikenai sanksi administratif.

Dengan demikian, perhitungan dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) adalah sebagai berikut.

Bea Meterai terutang Rp 150.000,00 Bea Meterai telah disetor

1 x Rp10.000,00 = Rp10.000,00 5 x Rp10.000,00 = Rp50.000,00 +

Rp 60.000,00 - Bea Meterai kurang disetor Rp 90.000,00 Sanksi Pasal 11 ayat (3)

= 100% x 9 x Rp 10.000,00 Rp 90.000,00 + Bea Meterai yang masih harus dibayar Rp 180.000,00

(47)

E-Meterai

(48)
(49)
(50)
(51)
(52)

DESAIN Meterai Elektronik

COVERT

1. Nomor Serial emeterai

2. Penanda Waktu Pembubuhan 3. Email Pembubuh

OVERT

1. Lambang Garuda

2. Tulisan Meterai Elektronik 3. Angka 10000 dan Tulisan

SEPULUH RIBU RUPIAH 4. Kode Unik (QRCODE)

DIGITAL BUSINESS SOLUTION

(53)

BENTUK METERAI

METERAI ELEKTRONIK

Berbasis X.509 SHA 512(Digital Stamp/Digital Signature)

Unik Secure QR dengan Desain 70 persen desain Meterai

Serial Number 22 digit alphanumerik Data timestamp dan lokasi pembubuhan

Hanya dapat dibaca menggunakan aplikasi khusus / scanner khusus

Mengikat /binding ke dokumen yang dibubuhkan Monitoring dashboardrealtime

Meterai Elektronik adalah Meterai berupa label yang penggunaannya dilakukan dengan cara dibubuhkan pada dokumen melalui sistem meterai elektronik.

DIGITAL BUSINESS SOLUTION

(54)

DIGITAL BUSINESS SOLUTION

OVERT

COVERT FORENSICS

SECURITY Fitur Keamanan

PERURI SEAL

QR Khusus yang dapat mengakomodir gambar sampai

dengan 70% dari ukuran QR

PERURI SCANNER

Peruri Seal hanya dapat dibaca dengan scanner/aplikasi khusus

dari Peruri, yaitu Peruri Scanner

Pemeriksaan oleh Peruri

SIGNATURE PANEL

Sertifikat elektronik dapat dicek dengan

menggunakan Signature Panel pada aplikasi PDF

Reader

(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)

MEKANISME DISTRIBUSI METERAI ELEKTRONIK

METERAI ELEKTRONIK

DJP

PERURI Distributor

Retailer Pemungut Bea Meterai

Pihak yang Terutang

Institusi Ritel

Individu Kas

Negara

Kontrak Pembuatan dan Distribusi

Distribusi dan Penjualan

Deposit

Penjualan

Distribusi Pemungutan

Penyetoran

Penjualan

DIGITAL BUSINESS SOLUTION

Penjualan + margin

(61)

Kualifikasi Distributor

1. telah menyampaikan:

o surat pemberitahuan tahunan pajak

penghasilan untuk 2 (dua) tahun pajak terakhir;

dan

o surat pemberitahuan masa pajak pertambahan nilai untuk 3 (tiga) Masa Pajak terakhir,

o yang sudah menjadi kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan di bidang perpajakan;

2. tidak mempunyai utang pajak atau mempunyai utang pajak namun atas keseluruhan utang pajak tersebut telah mendapatkan izin untuk menunda atau mengangsur pembayaran pajak sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; dan

3. tidak sedang dalam proses penanganan tindak pidana di bidang perpajakan dan/atau tindak

pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya tindak pidana di bidang perpajakan yaitu

pemeriksaan bukti permulaan secara terbuka, penyidikan, atau penuntutan;

A. Wajib Pajak yang memenuhi ketentuan sebagai berikut:

B. memiliki kemampuan finansial untuk

menjamin ketersediaan Meterai Elektronik;

dan

C. memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan Sistem Meterai Elektronik.

(62)

Pemungut

Bea Meterai

PMK NO 151/PMK.03/2021

(63)

Dokumen Tertentu yang menjadi objek Bea Meterai:

a) surat berharga berupa cek dan bilyet giro;

b) Dokumen transaksi surat berharga termasuk Dokumen transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan dalam bentuk apa pun;

c) surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang sejenis, beserta rangkapnya; dan

d) Dokumen yang menyatakan jumlah uang dengan nilai nominal lebih dari Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah), yang:

1. menyebutkan penerimaan uang; atau

2. berisi pengakuan bahwa utang seluruhnya atau

sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan.

(64)

Kriteria Pemungut Bea Meterai

a. memfasilitasi penerbitan Dokumen tertentu (surat berharga berupa

cek dan bilyet giro); dan/atau b. menerbitkan dan/atau

memfasilitasi penerbitan Dokumen selain poin a tersebut dengan

jumlah lebih dari 1.000 (seribu)

Dokumen dalam 1 (satu) bulan.

(65)

Tata Cara Penetapan Pemungut Bea Meterai

DJP atau pejabat yang ditunjuk menetapkan WP sbg

pemungut BM

Penetapan sebagai Pemungut Bea Meterai mulai berlaku terhitung sejak awal bulan berikutnya setelah tanggal surat penetapan.

Wajib Pajak yang memenuhi kriteria tetapi belum ditetapkan sebagai Pemungut Bea Meterai dapat menyampaikan surat pemberitahuan untuk

ditetapkan sebagai Pemungut Bea Meterai

(disampaikan melalui email, aplikasi, sistem DJP)

(66)
(67)

Pencabutan Penetapan sebagai Pemungut Bea Meterai

DJP atau pejabat yang ditunjuk dapat mencabut penetapan sebagai Pemungut Bea Meterai dalam hal Pemungut Bea Meterai tidak memenuhi kriteria selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.

Pencabutan penetapan sebagaimana dimaksud mulai berlaku terhitung sejak awal bulan berikutnya setelah tanggal surat pencabutan penetapan.

Meterai Elektronik yang belum dibubuhkan oleh Pemungut Bea Meterai yang dilakukan pencabutan penetapan sebagaimana dimaksud dikembalikan kepada Distributor sebagai persediaan Meterai Elektronik

(68)

Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Bea Meterai

Memungut

memungut Bea Meterai yang

terutang atas Dokumen

tertentu dari Pihak Yang Terutang

Meny etor

menyetorkan Bea Meterai ke kas

negara

Melap or melaporkan

pemungutan dan

penyetoran Bea Meterai ke kantor

Direktorat

Jenderal

Pajak.

(69)

Pemungutan Bea Meterai

dilakukan pada Saat:

Dokumen diterima dari Pembuat Meterai, untuk Dokumen tertentu

Dokumen selesai dibuat oleh pihak yang menerbitkan atau memfasilitasi penerbitan

Dokumen untuk dokumen tertentu

Dokumen diserahkan kepada Pihak Yang Terutang, untuk Dokumen tertentu

surat berharga berupa cek dan bilyet giro

Dokumen transaksi surat berharga termasuk Dokumen transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan dalam bentuk apa pun

- surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang sejenis, beserta rangkapnya; dan

- Dokumen yang menyatakan jumlah uang dengan nilai nominal lebih dari Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah), yang: 1.

menyebutkan penerimaan uang; atau 2. berisi pengakuan bahwa utang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan.

Meterai Percetakan

Meterai Elektronik

Meterai Elektronik

(70)

Penyetoran Bea Meterai

Penyetoran Bea Meterai yang dipungut untuk setiap Masa Pajak wajib dilakukan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

- menyetorkan Bea Meterai menggunakan SSP atau kode billing dengan kode akun 411611 dan kode jenis setoran 900 (untuk pemungutan dengan

membubuhkan Meterai Percetakan) dan 901 (untuk pemungutan apabila pembubuhan Meterai Elektronik tidak memungkinkan untuk dilakukan) - Kode Billing dengan kode akun pajak 411611 dan kode jenis setoran 902

untuk pemungutan dengan membubuhkan Meterai Elektronik.

Penyetoran dengan menggunakan Kode Billing sebagaimana dimaksud dilakukan dengan mencantumkan NPWP Distributor yang mendistribusikan Meterai Elektronik kepada Pemungut Bea Meterai di kolom keterangan

pada Kode Billing dan diperhitungkan sebagai deposit bagi Distributor.

(71)
(72)

Pelaporan Bea Meterai

Pelaporan wajib dilakukan dengan menyampaikan SPT Masa Bea Meterai ke kantor DJP paling lambat tanggal 20 bulan

berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

SPT Masa Bea Meterai berbentuk elektronik dan disampaikan melalui aplikasi atau sistem yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan diberikan bukti penerimaan elektronik

Dalam hal pada suatu Masa Pajak:

a. tidak terdapat Dokumen yang wajib dipungut Bea Meterai, maka pelaporan tetap dilakukan; dan

b. pembubuhan Meterai Elektronik tidak memungkinkan untuk dilakukan,

SPT Masa Bea Meterai dilampiri dengan daftar Dokumen

(73)

Dalam hal batas akhir penyetoran dan pelaporan merupakan hari libur, maka penyetoran dan

pelaporan dapat dilakukan paling lama pada hari kerja berikutnya

Pemungut Bea Meterai dengan kemauan sendiri dapat membetulkan SPT Masa Bea Meterai yang telah disampaikan dalam hal:

a. terdapat salah tulis atau salah hitung; atau b. terdapat surat berharga berupa cek dan/atau

c. bilyet giro yang Bea Meterainya telah dipungut tetapi tidak

digunakan

(74)
(75)

THANK YOU

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, Bea Meterai adalah pajak atas dokumen, termasuk di dalamnya surat perjanjian yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai

UNDANG-UNDANG NO. Perubahan tarip bea meterai yang terakhir terjadi pada akhir tahun 1959 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1960. Kenaikan tarip tersebut dimaksudkan

Menimbang : bahwa pembebasan bea meterai dari surat-surat pemberitahuan, lapuran dan lain-lain surat, yang diwajibkan untuk mendapat surat idzin guna mengangkut, menyimpan

Kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam Undang-Undang Bea Meterai Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi di Indonesia di

Termasuk dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia harus telah dilunasi bea Meterai yang terhutang dengan cara pemeteraian-kemudian. UU BM Pasal 8

Dengan demikian, konsep pengaturan kedepannya terhadap pengaturan bea meterai dalam kegiatan perdagangan elektronik di Indonesia yaitu model bea meterai bersifat elektronik yang diatur

Ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai selanjutnya disebut UUBM7 menentukan bahwa: “Bea Meterai adalah pajak atas Dokumen”, dan Pasal 1 angka 4

Pedoman pelaporan PPh, PPN, PPnBM, dan Bea Meterai sesuai Peraturan Dirjen Pajak No.11 Tahun 2025 untuk meningkatkan kepastian hukum dan layanan administrasi