BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pasar modal (capital market) adalah pasar keuangan untuk dana jangka panjang dan merupakan pasar yang konkret, dana jangka panjang adalah yang jatuh tempo lebih dari satu tahun. Pasar modal adalah tempat efek-efek diperdagangkan yang dapat disebut juga dengan burse efek (stock exchange) dimana mempertemukan penjual dan pembeli efek secara langsung maupun tidak langsung.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka semakin meningkat pula bagi perusahaan untuk melakukan pengembangan dalam hal produk dan jenis usahanya. Baik/buruk perusahaan dapat dilihat dari kinerja suatu perusahaan tersebut, kinerja perusahaan yang baik menunjukan bahwa perusahaan sedang dalam kondisi baik, begitu pula sebaliknya. Kinerja perusahaan merupakan salah satu faktor pengambilan keputusan para investor untuk berinvestasi.
Investasi pada saham syariah memiliki ketertarikan sendiri bagi para investor, hal ini juga dikarenakan sudah banyakanya perusahaan syariah yang masuk di daftar efek syariah. Saham syariah harus memenuhi aturan Fatwa DSN – MUI No. 40/DSN- MUI/X/2003 yakni mematuhi aturan syariah dimulai dari investasi, perdagangan efek, dan penawaran umum.
Adapun pengguna laporan keuangan digolongkan menjadi du pihak, yaitu pihak internal dan eksternal perusahaan. Pihak karyawan perusahaan, kedaan perusahaan yang terlihat dari laporan keuangan menjadi bahan pertimbangan bagi karyawan untuk lanjut atau berhenti, ketika kedaan perusahaan yang tidak baik atau menunjukan financial distress (kesulitan keuangan) karyawan dapat berantisipasi mencari pekerjaan di perusahaan lain (Fahmi, 2011:16-17). Sedangkan pihak eksternal yaitu investor mereka yang akan membeli saham, investor berkewajiban mengetahui kedaan suatu perusahaan melalui laporan keuangan baik ketika akan
berinvestasi (calon investor) maupun sedang berinvestasi (investor), ketika perusahaan tergolong sedang bermasalah maka investor akan menjual sahamnya, dan calon investor pun akan mengurungkan niatnya untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut (Fahmi, 2011:16).
Keterlambatan waktu penyampaian laporan keuangan audit yang disampaikan oleh auditor dapat mempengaruhi kualitas informasi laporan keuangan tersebut, karena panjangnya waktu audit menunjukan bahwa informasi yang diberikan tidak out of date dan informasi yang lama menunjukan adanya masalah dalam laporan keuangan auditan (Adiraya & Sayidah, 2018).
IDX MES – BUMN 17 merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia dan Masyarakat Ekonomi Syariah untuk merespon kebutuhan informasi yang berkaitan dengan investasi syariah. Langkah ini diambil berkaitan dengan semakin banyak pengembangan ekonomi Islam terutama ditanah air yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatat dari hasil sensus penduduk bahwa secara umum penduduk Indonesia mayoritas kaum muslim. Melihat potensi kaum muslim tersebut, sekiranya dapat meningkatkan perkembangan perekonomian islam di Indonesia terutama dalam bidang pasar modal syariah. Dalam mewujudkan peningkatan perkembangan pasar modal syariah di Indonesia maka, memerlukan dukungan dari beberapa pihak seperti pelaku pasar modal, pemerintah, dan ulama.
IDX – MES BUMN 17 merupakan salah satu indeks yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia yang mulai diluncurkan pada 29 April 2021 yang merupakan hasil kerjasama kerja sama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Indeks ini mengukur kinerja harga dari 17 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan afiliasinya yang dinilai menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip syariah yang memiliki likuiditas baik, kapitalisasi pasar besar, serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik. BEI dan MES berharap peluncuran indeks ini dapat menjadi salah satu indikator peranan pemerintah dalam pengembangan ekonomi syariah dan dapat mengakomodasi keterkaitan investor Pasar Modal
Indonesia untuk berinvestasi pada saham syariah dan BUMN, dan IDX – MES BUMN 17 juga dapat menjadi indikator tolak ukur baru bagi investor untuk berinvestasi saham-saham (www.idx.co.id).
Dengan hadirnya indeks syariah tersebut, maka para investor telah disediakan saham- saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi dengan penerapan prinsip-prinsip syariah. Firman Allah dalam QS. An-Nisa (4):29
َََن ََْو َََََُكَََت ََْنَََا لَلََِا ََِل َََََِطَاَََب ََْلَاََِب ََْم ََُكَََن ََْيَََب ََْم ََُكَََلَا َََو َََََْمَََا َا َََْٓوََُل ََُكَْأََََََت ََل َا ََْوَََََُن َََم ََٰا َََن ََْي َََِذَلَلَا َاََََََُهََّيَََا َََٰٓي
َا ًََم ََْي ََِح َََر ََْم ََُكََِب َََنَا َََك ََ ٰاَا َلَنََِا َۗ ََْم ََُك َََسََُف ََْنَََا َا َََْٓوََُلََُت ََْقَََت ََل َََو َۗ ََْم ََُك ََْن ََّم ٍََضَا َََرَََت ََْن َََع ًََة َََرَا َََجََِت A r t i n y a :
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadaMu”.
Sampai saat ini OJK telah memperketat peraturan mengenai pelaporan keuangan tahunan, Namun sampai saat ini masih banyaknya perusahaan go public yang terlambat dalam menyampaikan laporan keuangan tahunan dan laporan auditor.
Berikut jumlah perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, dapat dilihat pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1.
Jumlah Perusahaan yang Terlambat Menyampaikan Laporan Keuangan 3 Tahun Terakhir.
Sumber: www.idx.co.id (data diolah), 2023.
Berdasarkan Gambar 1.1. dapat diketahui bahwa hingga pada tahun 2022 masih banyak perusahan go public yang terlambat dalam menyampaikan laporan keuangan, terbukti dalam kurun waktu 3 tahun terakhir perusahaan go public yang terlambat dalam menyampaikan laporan keuangan auditannya tertinggi terjadi pada tahun 2022 yaitu sebanyak 143 (seratus empat puluh tiga) perusahaan dan jumlah terendah terjadi pada tahun 2020 yaitu sebanyak 88 (delapan puluh delapan) perusahaan. Pada tahun 2021 sebanyak 91 (sembilan puluh satu) perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangan per 31 Desember 2020.
Dapat dilihat juga bahwa pada 3 (tiga) tahun terakhir selalu terjadi peningkatan masalah penyampaian laporan keuangan auditan. Dimana hal ini akan sangat
membuat para investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan-keputusan selanjutnya.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan ada 143 (seratus empat puluh tiga) emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan dan laporan tahunan kepada BEI. Sedangkan bursa laporan keuangan auditan harus disampaikan dalam bentuk laporan keuangan auditan, paling lambat bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan auditan. Sehingga laporan keuangan auditan yang berakhir 31 Desember 2022 harus diberikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) selambat – lambatnya tanggal 31 Maret 2023. Sedangkan dari hasil data yang tercatat, dari 853 (delapan ratus lima puluh tiga) perusahaan yang telah mengirimkan sebelum tanggal 31 Maret 2023 hanya 710 (tujuh ratus sepuluh) perusahaan saja, sementara itu masih terdapat 143 (Seratus empat puluh tiga) perusahaan yang belum menyampaikan laporan keuangan auditan yang berakhir pada 31 Desember 2022.
Hal ini membuat 143 (seratus empat puluh tiga) emiten memiliki resiko saham yang lebih tinggi dibanding perusahaan-perusahaan yang menyampikan laporan keuangan kepada Bursa Efek Indonesia tepat waktu. Hal ini dapat membuat investor yang telah terlanjur masuk saham tersebut dapat menjual sahamnya di pasar negosiasi, dengan resiko yang diterima investor adalah harga sahamnya turun drastis, bahkan yang fatal lagi dapat membuat harga saham menjadi Rp 50,- per sahamnya. Hal ini sangat membuat investor berfikir dua kali untuk menginvestasikan ke perusahaan yang mengalami keterlambatan penyampaian laporan keuangan perusahaannya.
Keterlambatan dalam laporan keuangan akan menimbulkan reaksi negatif dari pihak pengguna. Karena informasi yang terkandung dalam laporan keuangan sangatlah penting, karena digunakan sebagai sarana komunikasi antara pihak manajemen dan pihak yang berkepentingan salah sataunya adalah investor. Dalam hal ini laporan keuangan mengungkapkan bagaimana kinerja dan prospek perusahaan yang digunakan salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan berinvestasi.
Adanya keterlambatan dalam pelaporan keuangan akan menyebabkan kehilangan relevansinya. Hal ini dapat mengakibatkan menurunnya kepercayaan investor dan
kemudian akan berdampak pada harga jual saham di Pasar Modal (Apriyana &
Rahmawati, 2017).
Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor 14/POJK.04/2022 pasal 4 mengenai kewajiban penyampaian informasi. Sesuai aturan OJK, laporan keuangan audit harus disampaikan paling lambat tanggal 31 maret setiap tahun. Jika emiten terlambat menyampaikan laporan keuangan sampai 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak batas ahkir seharusnya, maka OJK akan menjatuhkan sanksi tertulis I, jika pada kalender ke-31 (tiga puluh satu) hingga ke-60 (enam puluh) belum juga menyampaikan, maka sanksi tertulis II akan diberikan. Sanksi ini disertai denda Rp.
50.000.000,-. Selanjutnya jika pada pada hari ke-61 (enam puluh satu) hingga ke-90 (sembilan puluh), emiten masih belum menyampaikan laporan keuangannya, maka OJK akan memberikan peringatan tertulis III ditambah denda sebesar Rp.
150.000.000,-.
Audit Delay, merupakan rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuangan tahunan, berdasarkan lamanya waktu (hari) yang dibutuhkan dibutuhkan untuk memperoleh laporan keuangan auditor independen atas audit laporan keuangan perusahaan sejak tanggal tutup buku perusahaan, yaitu per 31 Desember sampai tanggal yang tertera pada laporan auditor independen (Ebang et al., 2019). Apabila laporan keuangan disajikan terlambat, maka informasi yang terkandung di dalamnya dapat menjadi tidak relevan dalam mengambil keputusan. Firman Allah dalam QS.
Al-Anbiya (21):90
َا َََََن َََل َا ََْوََُنَا َََََك َََو ََۗاًََََبَََه َََر َلَو َاًََََب َََغ َََر َاَََنَََن ََْو ََُع ََْدَََََي َََو ََِت ََٰر ََََْي َََخ ََْلَا َىََِف َََن ََْو ََُع ََِر ََََٰسََُي َا ََْوََُنَا َََََك ََْمََُُهَلَنََِا
َََن ََْي ََِع ََِش ََٰخ Artinya:
“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi audit delay. Faktor yang pertama yaitu Debt to Equity Ratio (DER), Darsono & Ashari (2005:54) menjelaskan bahwa Debt to Equity Ratio seberapa besar penyediaan dana dari pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Rasio ini dapat menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka panjangnya, semakin rendah rasio berarti semakin baik perusahaan mampu membayar hutang jangka panjangnya. Semakin tinggi rasio berarti semakin pendanaan dengan hutang semakin banyak hal ini mengakibatkan perusahaan sulit memperoleh dana pinjaman karena ditakutkan perusahaan tidak mampu membayarnya lagi (Sunyoto, 2007:68). Sehingga ketika rasio ini tinggi maka jumlah audit delay dapat menjadi tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Annisa et al. (2022), Febriani, (2019), Saputri & Lestari (2018), Seli (2019) bahwa Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay. Sedangkan hasil penelitian Armando (2019), Gustiani (2020), Susanti (2018), Tumanggor & Mahmuddin (2022), Wisesa (2020) bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay.
Faktor kedua yaitu Return on Assets (ROA), menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang tersedia (Siraut, 2017:49). Rasio ini memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas karena dapat menunjukan apakah perusahaan efisien memanfaatkan aktiva dalam kegiatan operasional perusahaan (Darsono & Ashari, 2005:57). Semakin tinggi tingkat rasio ini juga dapat membuat jumlah audit delay menjadi rendah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gaol & Duha (2021), Gustiani (2020), Saputri & Lestari (2018), Siregar & Harini (2022), Susanti (2018) bahwa Return on Assets (ROA) berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay. Sedangkan hasil penelitian Adiraya & Sayidah (2018), Annisa et al. (2022), Damanik et al.
(2021), Ebang et al. (2019), Ginting (2019), Tumanggor & Mahmuddin (2022), Zulaikha (2022) bahwa Return on Assets (ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay.
Faktor yang ketiga yaitu Current Ratio (CR), Herry (2016:64) menjelaskan bahwa Current Ratio digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki perusahaan. Hutang jangka pendek sangatlah penting karena dapat mengakibatkan perusahaan bangkrut, semakin tinggi rasio ini semakin besar kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya (Darsono & Ashari, 2005:52). Ketika perusahaan dapat melunasi hutang jangka pendek atau rasio ini tinggi maka audit delay pada perusahaan ini akan rendah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Armando (2019), Susanti (2018) bahwa Current Ratio (CR) berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay. Sedangkan hasil penelitian Olivia (2019), Setyawan, (2020), Siregar & Harini (2022), Tumanggor & Mahmuddin (2022) bahwa Current Ratio (CR) tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay.
Faktor yang keempat yaitu Ukuran Perusahaan, Brigham & Houston, (2017:64) menyatakan besar kecilnya perusahaan dapat dilihat dari total aset yang dimiliki.
Ukuran perusahaan yang besar biasanya memilki pengendalian internal yang baik sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam penyajian laporan keuangan.
Apabila total aset suatu perusahaan adalah besar maka semakin singkat Audit Delay- nya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adiraya & Sayidah (2018) Gaol &
Duha (2021), Ginting, (2019), Saputri & Lestari (2018), Setyawan (2020), Susanti, (2018), Wisesa (2020) bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay. Sedangkan hasil penelitian Damanik et al. (2021), Ebang et al. (2019), Febriani (2019) Gustiani (2020), Siregar & Harini (2022), Tumanggor &
Mahmuddin, (2022), Zulaikha (2022) bahwa Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay.
Berdasarkan adanya latar belakang, ketidak konsistenan hasil penelitian terdahulu, dan fenomena bisnis yang terjadi, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut
dengan judul “Analisis Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay Pada Perusahaan Yang Terdaftar di IDX MES – BUMN 17”.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena bisnis yang diangkat, keragaman hasil penelitian terdahulu, dan teori pendukung diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), dan Ukuran Perusahan secara simultan terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17?
2. Bagaimana pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17?
3. Bagaimana pengaruh Return on Assets (ROA) secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17?
4. Bagaimana pengaruh Current Ratio (CR) secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17?
5. Bagaimana pengaruh Ukuran Perusahan secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17?
1.3.Tujuan Penelitian
Penelitian ini diharapkan untuk menganalisis dan mendapatkan bukti empiris mengenai signifikansi pengaruh Debt to Equity Ratio, Return on Assets, Current Ratio, dan Ukuran Perusahaan secara simultan maupun parsial terhadap Audit Delay.
Tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
1. Menganalisis pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), dan Ukuran Perusahan secara simultan terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17.
2. Menganalisis pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17.
3. Menganalisis pengaruh Return on Assets (ROA) secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17.
4. Menganalisis pengaruh Current Ratio (CR) secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17.
5. Menganalisis pengaruh Ukuran Perusahan secara parsial terhadap Audit Delay pada Perusahaan di IDX MES – BUMN 17.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian yang dilakukan ini terdapat dua manfaat yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis merupakan sumbangan hasil penelitian ini terhadap teori, sedangkan manfaat praktis adalah sumbangan hasil penelitian ini sebagai input yang positif bagi pemecahan masalah perusahaan.
1.4.1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya sehingga ditemukan pengetahuan-pengetahuan yang baru khususnya tentang audit delay. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran maupun teori-teori mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay yang meliputi Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), dan Ukuran Perusahaan.
1.4.2.Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam pemecahan masalah serta pengambil kebijakan untuk mengurangi audit delay pada perusahaan go public dengan mempertimbangkan Debt to Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), dan Ukuran Perusahaan.
1.5.Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini digunakan untuk menyajikan penulisan secara teratur sehingga memudahkan pembahasan. Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memuat uraian mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memuat uraian mengenai landasan teori, pengaruh variabel, ringkasan penelitian terdahulu, kerangka pemikiran teoritis, serta hipotesis penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan penjelasan mengenai desain penelitian, jenis data, metode pengumpulan data, populasi dan sampel, identifikasi dan definisi operasional variabel, pengujian data, statistik deskriptif, analisis regresi linier berganda data panel, serta teknik analisis data.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Bab ini berisi gambaran umum objek penelitian, hasil uji data, statistik deskriptif, analisis regresi linier berganda data panel, pembuktian hipotesis, serta pembahasan.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan, implikasi, keterbatasan penelitian, serta rekomendasi.