Siswa dapat menghitung kestabilan agregat tanah dan mengetahui kestabilan agregat tanah untuk suatu jenis tanah yang dianalisis. Sifat fisik tanah yang perlu diperhatikan adalah masalah degradasi struktur tanah akibat fungsi pengelolaan. Praktek pengolahan tanah yang berbeda-beda dapat mempengaruhi sifat-sifat tanah, baik fisik, kimia maupun biologi tanah (Kurnia et al., 2008).
Salah satu sifat fisik tanah yang penting adalah kemampuannya mengalirkan air melalui ruang pori-pori, yang disebut permeabilitas tanah. Pada tanah yang tidak jenuh air, kadar air merupakan salah satu faktor dominan yang mempengaruhi nilai permeabilitas tanah (Israelsen dan Hansen, 1962). Tanah yang bertekstur kasar memiliki kemampuan menahan air yang lebih kecil dibandingkan tanah yang bertekstur halus.
Struktur tanah yang diinginkan tanaman adalah struktur tanah gembur yang mempunyai ruang pori-pori berisi air dan udara sehingga penyerapan unsur hara bekerja maksimal (Hayati et al., 2012). Kestabilan agregat tanah dapat mempengaruhi ruang pori dalam pergerakan dan penyimpanan air, aktivitas mikroba, dan pertumbuhan tanaman.
METODE PRAKTIKUM A. Waktu dan Tempat Praktikum
Apabila ketinggian air pada tongkat celup turun hingga mencapai ketinggian penunjuk atau tongkat celup, tambahkan air hingga ketinggian air pada tongkat celup kembali ke titik awal/tanda yang telah ditentukan. Kedalaman banjir (H) adalah ketinggian air yang terletak di tengah-tengah antara tanda yang telah ditetapkan dan penunjuk (skala pengait). 4) Aliran kuasi-steady (aliran air konstan) terjadi bila kecepatan air yang jatuh di dalam ring menjadi konstan. Menuangkan air ke dalam pipa saluran masuk permeameter dan mengatur aliran air agar saluran keluar permeameter tidak merusak struktur sampel tanah pada ring pengambilan sampel tanah pada ring pengambilan sampel yang telah dipasang sebelumnya.
HASIL PENGAMATAN A. Sifat Fisika Tanah
Analisis Permeabilitas Tanah Tabel 4.2 Analisis Permeabilitas Tanah
Analisis Lengas Tanah
Analisis Tekstur
PEMBAHASAN 1. Sifat Fisika Tanah
- Permeabilitas Tanah
- Analisis Lengas Tanah
- Analisis Aterberg
- Analisis Tekstur
- Analisis Struktur
- Kemantapan Agregat
Pada umumnya semua jenis tanah bersifat permeabel, dimana air mengalir bebas melalui ruang-ruang kosong (pori-pori) yang terdapat di antara butiran-butiran tanah, namun tingkat permeabilitasnya berbeda-beda sesuai dengan karakteristik tanah. Tanah yang mempunyai tekstur dan struktur berbutir halus seperti lempung mempunyai kemampuan yang kecil dalam meloloskan air, dan sebaliknya tanah yang mempunyai tekstur kasar seperti pasir mempunyai kemampuan yang besar dalam meloloskan air. Hasil perhitungan data praktek permeabilitas tanah mediterania di sawah Matesih pada kedalaman 0-5 cm, jumlah air yang mengalir per pengukuran (Q) 6,13 ml, ketebalan tanah (L) 5 cm, waktu pengukuran (T) 0 ,0167 jam, Tinggi muka air dari permukaan atas contoh tanah (H) adalah 1,4 cm, luas contoh tanah (A) adalah 19,625 cm2 sehingga diperoleh permeabilitas.
Tanah mediterania di sawah Matesi kedalaman 5-10 cm, jumlah air yang mengalir per pengukuran (Q) sebanyak 21,4 ml, ketebalan tanah (L) 5 cm, waktu pengukuran (T) adalah 0,0167 jam, tinggi muka air dari daerah sampel, tanah bagian atas (H) 1,4 cm, luas tanah sampel (A) 19,625 cm2, jadi permeabilitasnya 237,77 ml/ jam. Hasil perhitungan data praktek permeabilitas tanah vertisol Jatikuwung pada kedalaman 0-5 cm, jumlah air yang mengalir setiap pengukuran (Q) 12,9 ml, ketebalan tanah (L) 5 cm, waktu pengukuran (T) 0 ,0167 jam, tinggi Permukaan air permukaan atas contoh tanah (H) adalah 1,3 cm, luas permukaan contoh tanah (A) adalah 19,625 cm2 sehingga permeabilitasnya adalah 153,57 ml/jam. Tanah vertisol di Jatikuwung pada kedalaman 5-10 cm, jumlah air yang mengalir setiap pengukuran (Q) sebanyak 1,2 ml, ketebalan tanah (L) 5 cm, waktu pengukuran (T) 0,0167 jam, tinggi muka air dari permukaan bagian atas contoh tanah (H) adalah 1,9 cm, luas contoh tanah (A) adalah 19,625 cm2, sehingga permeabilitasnya adalah 9,67 ml/jam.
Perhitungan tersebut merupakan hasil praktek data permeabilitas tanah alfisol di Jumanton pada kedalaman 0-5 cm, jumlah air yang dialirkan per pengukuran (Q) sebesar 0,76 ml, tebal tanah (L) sebesar 5 cm , waktu pengukuran (T) adalah 0,0167 jam, tinggi permukaan air permukaan atas sampel tanah (H) adalah 1,5 cm, luas permukaan sampel tanah (A) adalah 19,625 cm2, jadi permeabilitasnya adalah 7,75ml/jam. Tanah alfisol di Jumanton pada kedalaman 5-10 cm, jumlah air yang mengalir setiap pengukuran (Q) sebanyak 37 ml, ketebalan tanah (L) 5 cm, waktu pengukuran (T) 0,0167 jam, tinggi muka air dari atas permukaan tanah sampel (H) 2 cm, luas permukaan tanah sampel (A) adalah 19,625 cm2 sehingga permeabilitasnya adalah 284,61 ml/jam. Menurut Achmad dan Putra (2016), kelembaban tanah adalah air yang mengisi sebagian atau seluruh pori-pori tanah.
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan air tanah adalah banyaknya curah hujan dan air yang dapat meresap ke dalam tanah. Banyaknya air dalam tanah juga dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yaitu tersedianya air dalam jumlah yang cukup. Air yang ada diserap dengan energi yang tinggi, sehingga tanah liat sulit dilepaskan terutama saat kering sehingga kurang dapat diakses oleh tanaman.
Perhitungan tersebut merupakan hasil data praktek permeabilitas tanah Alfisol sawah Matesi pada kedalaman 0-5 cm, jumlah air yang dialirkan per pengukuran (Q) sebesar 6,13 ml, ketebalan tanah (L ) adalah 5 cm, waktu pengukuran (T ) adalah 0,0167 jam, Ketinggian muka air dari permukaan atas sampel tanah (H) adalah 1,4 cm, luas sampel tanah (A) adalah 19,625 cm2 , jadi permeabilitasnya adalah 68,11 ml/jam. Tanah alfisol pada sawah Matesi kedalaman 5-10 cm, jumlah air yang dialirkan per pengukuran (Q) sebanyak 21,4 ml, ketebalan tanah (L) 5 cm, waktu pengukuran (T) 0,0167 jam, tinggi muka air dari permukaan tanah bagian atas (H) sampel adalah 1,4 cm, luas permukaan sampel tanah (A) adalah 19,625 cm2, sehingga permeabilitasnya adalah 237,77 ml/jam. Hal ini menunjukkan bahwa tanah alfisol di Jumanton mempunyai pori-pori yang besar pada kedalaman 5-10 cm sehingga dapat meloloskan air yang tinggi, sedangkan pada kedalaman 0-5 cm pori-porinya kecil sehingga hanya sedikit air yang dapat melewatinya.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari data Xa dan Xb diperoleh kestabilan total dengan mengurangkan Xa dan Xb sehingga diperoleh hasil sebesar 0,72. Perhitungan indeks stabilitas total dengan (1/Xa-Xb) Hasil praktek analisa Aterberg menunjukkan batas kelengketan, batas cair, batas roll, indeks plastisitas, batas perubahan warna.
Indeks plastisitas yang pertama sebesar 28,8, yang kedua sebesar 2,3, yang pertama mempunyai indeks plastisitas yang tinggi karena didominasi oleh tanah liat, sedangkan yang kedua relatif rendah karena fraksi pasirnya lebih besar dibandingkan dengan fraksi tanah liat. Perhitungan tekstur dari data yang diperoleh selama praktik menghasilkan persentase tanah liat sebesar 17,45%, persentase debu sebesar 5,74%, dan persentase pasir sebesar 76,81%. Perhitungan indeks stabilitas total dengan (1/Xa-Xb)
Saran
Pengelolaan kelembaban tanah dan laju pertumbuhan tanaman karet belum membuahkan hasil pada musim kemarau dan hujan. Sifat fisik tanah pada hutan tanaman lilin, tanah agroforestri dan tanah hutan sekunder di Desa Labuan Kungguma Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Ketidakpastian Prediksi Spasial Perbandingan Tekstur Tanah Model Regresi Pohon dan Hutan Acak.
Hubungan batas cair dan indeks plastisitas tanah lempung yang distabilkan dengan ISS 2500 terhadap nilai kohesi pada uji geser langsung dan uji tekan bebas. Studi laju transpirasi Peltophorum dassyrachis dan Gliricidiasepium pada sistem tanam pagar tanaman dan pengaruhnya terhadap konduktivitas hidrolik tak jenuh. Kajian Tingkat Perkembangan Lahan Sawah Di Desa Kaluku Tinggu Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.
Pengaruh sifat fisik tanah terhadap konduktivitas hidrolik jenuh pada 5 penggunaan lahan (studi kasus di Desa Sumbersari Malang). Pengaruh Aplikasi Biochar Kulit Kakao terhadap Stabilitas Agregat dan Produksi Tanaman Jagung di Ultisol Lampung Timur. Analisis pengaruh tekstur tanah dan C organik terhadap produksi tanaman singkong (Manihot esculenta Crantz) di Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai.
Stabilitas agregat setelah penerapan Biochar pada tanah berpasir lempung pada saat penanaman jagung di lahan kering Kabupaten Lombok Utara. Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah pada Tanah Berpasir di Desa Noongan Kecamatan Langowan Barat. Sifat fisik tanah pada hutan agroforestri primer dan perkebunan kakao di Kecamatan Wera Saluopa Desa Leboni Kecamatan Pamona Puselemba Kabupaten Poso.