Seiring dengan peningkatan taraf hidup seseorang maka pemenuhan kebutuhan hidup tak lagi terbatas pada kebutuhan fisiologi saja, namun kebutuhan keselamatan akan rasa aman dan perlindungan ini juga makin dirasakan. Sesuai dengan hirarki menurut Abraham Maslow ada 5 kebutuhan fisiologi, kebutuhan keselamatan, kebutuhan sosial, kebutuhan dan aktualisasi diri. Mengingat bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari berbagai resiko yang dapat menimbulkan kerugian.1
Asuransi menurut Wirjono Prodjodikoro adalah suatu persetujuan pihak yang menjamin dan berjanji pada pihak yang dijamin, untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karena akibat dari suatu peristiwa.2
Pada peraturan perundang-undangan Nomor 40 tahun 2014 Tentang Perasuransian Pasal 1 ayat (1) sebagai berikut:
“Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk:
a. Memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti.
b. Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang di dasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.”
1 Yadi Janwari, Asuransi Syariah. Pustaka, Bandung, 2005. hlm. 4.
2 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Asuransi di Indonesia, Intermassa, Jakarta, 1987, hlm 1.
1
Pengertian asuransi di atas, akan lebih jelas bila dihubungkan dengan Pasal 246 KUHD yang menjelaskan bahwa asuransi adalah:
“Suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dalam suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu”.
Tujuan asuransi pada dasarnya adalah mengalihkan resiko yang ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan kepada orang lain yang bersedia mengambil resiko itu dengan mengganti kerugian yang dideritanya, pihak yang bersedia menerima resiko itu disebut penanggung (insurer). Perusahaan asuransi sebagai pihak penanggung dapat melihat besar atau kecil suatu resiko pada pihak tertanggung (insured) bila terjadi atau menimpa seseorang.
Kajian tentang asuransi sangat menarik sekali diantara prinsip ekonomi syariah lainya. Kajian mengenai asuransi syariah terlahir satu paket dengan kajian perbankan syariah, yaitu sama-sama muncul kepermukaan tatkala dunia Islam tertarik untuk mengkaji secara mendalam apa dan bagaimana cara mengaktualisasikan konsep ekonomi syariah. Pada Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian menjelaskan tentang pengertian asuransi syariah yang terdapat pada Pasal 1 ayat (2) sebagai berikut:
“Asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian, yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian antara pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi dengan cara:
a. Memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepadapihak ketiga yang mungkin diderita peserta atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau
b. Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya peserta atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya peserta dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.”
M. Sholahuddin mengemukakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara asuransi syariah dan konvensional. Asuransi konvensional umumnya memakai dasar ikatan pertukaran, ialah pertukaran antara pembayaran premi asuransi dengan uang pertanggungjawaban. Dalam syariah Islam, pertukaran ini harus jelas berapa yang harus dibayarkan dan berapa yang harus diterima sehingga mengandung unsur ketidapastian akad.
Permasalahan lainnya apabila putus di tengah jalan, tidak bisa dipastikan haknya yang akan diperoleh dan kemungkinan besar hangus sehingga mengandung unsur zalim. Dana yang dihimpun oleh lembaga asuransi kemudian mereka investasikan untuk usaha, jadi dasar pijaknya adalah sistem bunga, sehingga mengandung unsur riba. Dengan hal ini dapat diketahui bahwa praktik asuransi jiwa konvensional hukumnya menurut syariat Islam adalah haram.3
Diketahui bahwa terdapat tiga keberatan dalam praktik asuransi konvensional yakni: pertama, unsur gharar atau ketidakpastian; kedua maysir atau untung-untungan (gambling); dan ketiga, ada unsur riba. Tentang unsur gharar (ketidakpastian) tercermin dalam bentuk akad dan sumber akad.
3 M. Sholahuddin, Lembaga Ekonomi dan Keuangan Islam, Muhammadiyah University Press, Surakarta, 2006, hlm. 133.
Dalam asuransi konvensional, akad yang digunakan adalah akad tabaduli, yaitu akad jual beli. Lazimnya dalam akad jual beli menurut syariah Islam harus siapa pembeli, penjual, dan barang yang diperjualbelikan, harga, ijab kabulnya. Adapun dalam asuransi syariah menggunakan akad tolong- menolong (akad takaful) yaitu akad tolong menolong pada sesama peserta bila ada peserta terkena musibah, peserta lain ikut membantu melalui iuran kebajikan (tabarru’).4
Takaful dalam pengertian dimaksud, sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Maidah (5) ayat 2 sebagai berikut:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.
Berdasarkan pengertian di atas, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (selanjutnya disebut DSN-MUI) mengeluarkan fatwanya yang bernomor 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, yang secara umum memberikan penjelasan sebagai berikut:5
“Asuransi syariah (ta’min, takaful, atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui dana investasi dalam bentuk aset atau tabarru’
yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.”
Kemunculan usaha perasuransian syariah tidak bisa lepas dari keberadaan usaha perasuransian konvensional yang telah ada sejak lama.
Sebelum terwujud usaha perasuransian syariah, sudah terdapat berbagai
4 Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah, Kencana, Jakarta, 2016, hlm. 257.
5 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Fatwa Dewan Syariah Nasional No.
21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, Jakarta, 2001, hlm.5.
macam perusahaan asuransi konvensional yang telah lama berkembang.
Dalam rangka perkembangan perekonomian umat jangka panjang, maka masyarakat muslim perlu konsisten mengaplikasikan prinsip-prinsip perniagaan syariah berdasarkan nash-nash (teks-teks dalil agama) yang jelas atau pendapat pakar ekonomi Islam.
Asuransi syariah merupakan lembaga ekonomi syariah yang dapat membawa umat Islam ke arah kemakmuran patut diwujudkan dan merupakan sebuah keniscayaan. Atas dasar keyakinan umat Islam dunia dan keuntungan yang diperoleh melalui konsep asuransi syariah, maka lahirlah berbagai perusahaan asuransi yang menjalankan usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah.
Bersamaan beroperasinya bank syariah maka diperlukan kehadiran jasa asuransi syariah, berdasarkan pemikiran tersebut Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pada tanggal 27 Juli 1993 melalui Yayasan Abdi Bangsa bersama Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan perusahaan Asuransi Tugu Mandiri sepakat memprakarsai pendirian asuransi takaful, dari tiga lembaga ini membentuk Tim Pembentukan Asuransi Takaful Indonesia atau TEPATI, yang dipimpin oleh direktur PT Syarikat Takaful Indonesia (STI).6
Saat ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah operator asuransi syariah cukup banyak di dunia. Berdasarkan data Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), terdapat 49 pemain asuransi syariah di Indonesia yang telah mendapatkan rekomendasi syariah.
6 Abdullah Amrin, Meraih Berkah Melalui Asuransi Syariah, Kompas Gramedia, Jakarta, 2011, hlm 7.
Mereka terdiri dari 40 operator asuransi syariah, tiga reasuransi syariah, dan enam broker asuransi dan reasuransi syariah dimana perusahaan asuransi yang benar-benar secara penuh beroperasi perusahaan asuransi syariah ada tiga, yaitu Asuransi Takaful Keluarga, Asuransi Takaful Umum, dan Asuransi Mubarakah.7
Prudential merupakan salah satu perusahaan asuransi jiwa yang dinobatkan sebagai asuransi jiwa terbaik pertama dibandingkan dengan perusahaan asuransi jiwa yang lainnya, menurut Majalah Investor Prudential memiliki aset lebih dari 15 triliun, sebuah aset yang sangat besar untuk perusahaan asuransi jiwa. Selama ini prudential memiliki berbagai produk yang mampu mengcover nasabahnya dari berbagai macam resiko seperti sakit dan meninggal dunia, saat ini Prudential memiliki beberapa macam produk asuransi jiwa diantaranya: Asuransi Jiwa Berjangka, Asuransi Jiwa Tradisonal, Prulink Syariah, dan Dwiguna.8 Pernyataan tersebut tampak jelas bahwa perusahaan Prudential sangat mementingkan kelangsungan hidup bagi anggotanya dengan memberikan berbagai macam pilihan untuk berasuransi salah satunya adalah UnitLink.
Prudential sendiri memiliki cabang untuk mengembangkan usahanya dibidang asuransi terutama asuransi syariah yang sudah ada sejak tahun 2010, perusahaan prudential sendiri menamakan cabangnya diberbagai daerah dengan nama KPM (Kantor Pemasaran Mandiri). Salah satunya terdapat di
7 Ibid, hlm 7.
8 Rifzan, 3 asuransi terbaik menurut majalah investor tahun 2017, diakses dari https://carainvestasibisnis.com/3-asuransi-jiwa-terbaik-menurut-majalah-investor-tahun-2017/, pada tanggal 22 Januari 2018 pukul 22.00 WIB.
Kota Cilegon yang bekerja sama dengan PT. Cipta Profitama Abadi dengan surat perjanjian kerja sama dengan nama ADDENDUM I Perjanjian KPM No:
GA-135/FIN/III/2008, di dalam surat perjanjian tersebut PT. Cipta Profitama Abadi menjalankan bisnis asuransi di bawah naungan Prudential sebagai cabang yang berada di Kota Cilegon.
UnitLink adalah produk asuransi yang memiliki manfaat proteksi dan adanya alokasi investasi adalah suatu kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih dari satu jenis asset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan dan/atau keuntungan pada masa depan. Manfaat proteksi dalam produk UnitLink memberikan perlindungan jika terjadi risiko meninggal dunia, perlindungan jika terjadi risiko mengalami kondisi kritis, perlindungan terhadap kesehatan serta memberikan perlindungan jika terjadi risiko kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba.
Alokasi Investasi dapat digunakan untuk menggapai tujuan finansial masa depan seperti mempersiapkan dana pendidikan anak, persiapan dana pensiun, serta tujuan keuangan lainnya untuk masa depan. Karakteristik asuransi syariah adalah usaha saling tolong menolong (ta'awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para peserta melalui pembentukan kumpulan dana (Dana Tabarru') yang dikelola sesuai prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu. Asuransi syariah menggunakan asas risk sharing yang berarti peserta memberikan iuran dana tabarru' kepada pengelola (Perusahaan Asuransi) dan dana tabarru’ tersebut akan digunakan jika ada peserta yang
mengalami risiko. Pihak Perusahaan Asuransi bertugas sebagai pengelola dana tabarru' agar dikelola sesuai prinsip syariah.
Dalam Asuransi berbasis Syariah dikarenakan pembayaran klaim berasal dari dana Tabarru’, maka jika dana Tabarru’ lebih besar dari klaim yang dikeluarkan maka kondisi tersebut dikenal dengan istilah Surplus Underwriting. Jadi, Surplus Underwriting adalah dana yang akan diberikan kepada Pemilik Polis bila terdapat kelebihan dari rekening Tabarru' termasuk juga bila ada pendapatan lainsetelah dikurangi klaim dan hutang kepada perusahaan (jika ada).
Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiyaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. Atas pemaparan yang sudah dijelaskan diatas, penulis merasa perlu dan menarik untuk menyusun skripsi yang berjudul “PELAKSANAAN ASURANSI PRULINK SYARIAH PRUDENTIAL DI TINJAU MENURUT FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 21/DSN-MUI/X/2001 TENTANG PEDOMAN UMUM ASURANSI SYARI’AH (Studi Kasus Pada PT. Cipta Profitama Abadi KPM Prudential Cabang Cilegon)”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya dan untuk memberi batasan yang jelas dalam penulisan ini, penulis menuliskan beberapa identifikasi pokok permasalahan yang akan menjadi fokus pembahasan dalam penulisan ini, yaitu :
1. Apakah asuransi prulink syariah di PT. Cipta Profitama Abadi KPM Prudential Cabang Cilegon telah sesuai dengan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah dalam asuransi syariah sebagai pedoman dalam melaksanakan asuransi syariah?
2. Apakah perbedaan dana premi pada asuransi prudential syariah dengan prudential konvensional cabang Cilegon?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui asuransi prulink syariah PT. Cipta Profitama Abadi KPM Prudential Cabang Cilegon telah sesuai dengan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah dalam asuransi syariah sebagai pedoman dalam melaksanakan asuransi syariah.
2. Untuk mengetahui perbedaan dana premi pada asuransi prudential syariah dengan prudential konvensional cabang Cilegon.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini bersifat teoritis dan praktis, yaitu sebagai berikut :
1. Kegunaan Teoritis
a. Dapat menjadi tambahan bahan kepustakaan hukum tentang asuransi syariah Prudential cabang Cilegon telah sesuai Fatwa
Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah dalam asuransi syariah sebagai pedoman dalam melaksanakan asuransi syariah.
b. Dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum terutama mengenai hukum asuransi syariah.
2. Kegunaan Praktis
Memberikan pandangan terkait pentingnya melaksanakan sebuah program lini usaha syariah bagi perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia, khususnya perusahaan yang berkaitan dengan lembaga jaminan non-bank, seperti yang penulis kaji saat ini.
E. Kerangka Pemikiran 1. Kerangka Teori
Teori Mashlahah Mursalah
Mashlahah adalah sesuatu yang dipandang baik oleh akal sehat karena mendatangkan kebaikan dan menghindarkan keburukan (kerusakan) bagi manusia, sejalan dengan tujuan syara’ dalam menetapkan hukum.9
Pengertian mursalah adalah sama dengan mutlaqaah, yaitu terlepas.10 Kata “terlepas” dan “bebas” disini bila dihubungkan dengan kata mashlahah maksudnya adalah “terlepas atau bebas dari keterangan
9 Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam Di Indonesia (Tinjauan Dari Aspek Metodologis, Legalisasi, dan Yurisprudensi), PT RajaGrafindo Persada, 2007. hlm. 323-325.
10 Ibid., hlm. 265.
yang menunjukkan boleh atau tidak bolehnya dilakukan”, sehingga dapat disimpulkan bahwa mashlahat mursalah adalah sesuatu yang bermanfaatan tetapi tidak diperintahkan oleh Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya dalam Sunnah.11
Wahbah Zuhaili mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan mashlahah mursalah adalah beberapa sifat yang sejalan dengan tujuan syara’, tetapi tidak ada dalil tertentu dari syara’ yang membenarkan atau menggugurkan, dan dengan ditetapkan hukum padanya akan tercapai kemaslahatan dan tertolak kerusakan dari manusia. Sedangkan Muhammad Sa’id Ramdan al-Buti menjelaskan bahwa hakikat mashlahah mursalah ialah setiap manfaat yang tercakup dalam tujuan syara’ (pembuat hukum Islam) dengan tanpa ada dalil yang membenarkan atau membatalkan.
Definisi mashlahah mursalah ini dapat disimpulkan: pertama, mashlahah mursalah adalah sesuatu yang baik menurut akal dengan pertimbangan dapat mewujudkan kebaikan atau menghindarkan keburukan bagi manusia. Kedua, apa yang lebih menurut akal itu juga selaras dan sejalan dengan tujuan syara’ dalam menetapkan hukum.
Ketiga, apa yang baik menurut akal dan selaras dengan tujuan syara’
tersebut tidak ada petunjuk syara’ yang mengakuinya.12
Para ahli hukum Islam (fuqaha) menyadari sepenuhnya bahwa status hukum asuransi syariah belum pernah ditetapkan oleh para pemikir
11 Jaih Mubarok, Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000, hlm. 7-8.
12 Abdul Manan,Op.,Cit, hlm. 266-267.
hukum Islam di zaman dahulu, pemikiran asuransi dimaksud, muncul ketika terjadi akulturasi budaya antara Islam dengan budaya Eropa.
Namun, bila dicermati dengan kajian yang mendalam maka ditemukan bahwa asuransi itu terdapat didalamnya maslahat sehingga para ahli hukum Islam mengadopsi manajemen asuransi berdasarkan prinsip- prinsip syariah.
2. Kerangka Konsepsional
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian menjelaskan tentang pengertian asuransi syariah yang terdapat pada Pasal 1 ayat (2) sebagai berikut:
“Asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian, yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian antara pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi dengan cara:
a. Memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepadapihak ketiga yang mungkin diderita peserta atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau
b. Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya peserta atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya peserta dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.”
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (selanjutnya disebut DSN-MUI) mengeluarkan fatwanya yang bernomor 21/DSN- MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, yang secara umum memberikan penjelasan sebagai berikut:
“Asuransi syariah (ta’min, takaful, atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah
orang/pihak melalui dana investasi dalam bentuk aset atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.”
Az Zarqa Mengatakan sistem asuransi yang dipahami oleh para ulama hukum (syariah) adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan untuk menutupi kerugian peristiwa atau musibah. Tugas ini dibagikan kepada sekelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka. Mereka (para ulama ahli syariah) mengatakan bahwa dalam penetapan semua hukum yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi, Islam bertujuan agar suatu masyarakat hidup berdasarkan atas asas saling menolong dan menjamin dalam pelaksanaan hak dan kewajiban.13
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Nasional selanjutnya disebut DSN-MUI dengan nomor 21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syaria’ah menjelaskan berbagai macam pengertian akad diantaranya sebagai berikut:
“Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
Akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.”
Apabila penulis mencermati dasar hukum, baik yang bersumber dari Al-qur’an maupun hadis Nabi Muhammad saw yang telah diungkapkan di atas, serta hasil pertemuan para ahli hukum Islam
13 Abdullah Amrin, ,Op.,Cit, hlm. 38.
asuransi berdasarkan konsep ta’awun, maka penulis merumuskan prinsip-prinsip asuransi syariah yang harus dijadikan pedoman dalam mewujudkan kesejahteraan sesama peserta asuransi yang diungkapkan sebagai berikut:14
a) Para peserta asuransi dan praktisi perusahaan harus saling bertanggung jawab
Para peserta asuransi dan praktisi perusahaan yang menjalankan asuransi syariah harus saling bertanggung jawab anatara satu dengan yang lainnya, memikul tanggung jawab berdasarkan niat yang ikhlas untuk beribadah. Tanggung jawab setiap muslim merupakan kewajiban yang berstatus fardlu kifayah. Rasa tanggung jawab dimaksud, dapat muncul dari adanya sikap saling menayangi, saling mencintai, saling membantu, dan saling mementingkan kebersamaan sesama muslim. Hal ini merupakan implementasi dari tugas manusia yang di perintahkan Allah SWT di dunia ini untuk menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada kemungkaran.
b) Saling bekerja sama dan saling membantu
Salah satu keutamaan dalam ajaran Islam adalah umat Islam harus saling membantu sesamanya dalam kebajikan. Hal dimaksud merupakan gambaran dari sifat ketakwaan kepada Allah SWT. Cerminan ketakwaan itu, diantaranya:
14 Zainudin Ali, Hukum Asuransi Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, hlm. 8.
1) Menggunakan harta kekayaan dengan benar, misalnya untuk kebajikan sosial.
2) Menepati janji.
3) Sabar ketika mengalami bencana.
Ciri-ciri ketakwaan dimaksud, tercantum di dalam Al-Qur’an diantaranya, Qur’an Surah Al-Maidah (5) ayat 2 sebagai berikut:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”
Ayat Al-quran tersebut dapat dikembangkan pengertiannya menjadi bekerja sama di antara sesama manusia menciptakan kebajikan dan takwa, dan tidak bekerja sama dalam persoalan dosa dan permusuhan.
c) Saling melindungi diri dari berbagai kesusahan
Saling melindungi diri dari berbagai kesusahan dalam ajaran Islam dapat ditemukan dasar hukum dalam Qur’an Surah Quraisy (106) ayat 4, Qur’an Surah Al-Baqarah (2) ayat 126, dan Qur’an Surah At-Taubah (9) ayat 71 sebagai berikut:
a. Qur’an Surah Quraisy (106) ayat 4 “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”
b. Qur’an Surah Al-Baqarah (2) ayat 126
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku
paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
c. Qur’an Surah At-Taubah (9) ayat 71
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
d) Mewujudkan keselamatan.
Salah satu ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah setiap warga masyarakat Islam wajib mewujudkan keselamatan dalam menjalani kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Keselamatan dimaksud, bersifat komprehensif sehingga setiap warga masyarakat Islam harus memiliki pemikiran untuk saling menolong bekerja sama atau memiliki prinsip yang dapat menumbuhkan perasaan dan pemikiran untuk saling menolong (ta’awun).
Asuransi tidak bisa terlepas dari pro-kontra, terlepas itu asuransi syariah maupun konvensional. Namun masyarakat Indonesia terutama orang awam, tidak akan paham mana yang termasuk syariah dan mana yang termasuk konvensional. Sebenarnya, persoalannya bukan lagi terletak pada syariah ataupun konvensional. Namun dari segi prinsip operasionalnnya; seperti produknya, marketing plan, strategi pemasaran, strategi pengembangan jaringan dan poin-poin penting lainnya yang berpihak kepada kemaslahatan anggotanya.
Beberapa dampak positif dari perkembangan berasuransi diantaranya adalah :
1) Proteksi Resiko.
Asuransi adalah alat perlindungan dan penyelamatan dari berbagai kemungkinan resiko dalam kehidupan yang memang penuh dengan resiko. Sehingga resiko itu bahkan bersifat pasti, dalam arti akan terjadi juga meski manusia berusaha menghindari atau menundanya dengan berbagai cara. Kematian, sakit, penuaan dan pensiun adalah contoh dari resiko yang terjadi pasti. Di samping itu, masih banyak resiko lain yang belum tentu terjadi namun bisa saja terjadi sewaktu-waktu terhadap diri atau keluarga kita, seperti kehilangan barang berharga. Penyebabnya bisa berbagai macam, misalnya perampokan, pencurian, kebakaran dan kecelakaan. Semua kejadian itu akan berdampak pada diri kita atau keluarga kita, suka atau tidak, siap atau tidak, mau atau tidak. Salah satu konsekuensi dari resiko tersebut adalah timbulnya masalah keuangan keluarga.
2) Antisipasi
Dampak positif berikutnya yang lebih penting lagi adalah mengantisispasi berbagai jenis resiko itu agar kita atau keluarga kita relatif siap secara keuangan bila terjadi musibah. Asuransi tidak bisa mengobati rasa sedih kehilangan orang yang kita cintai.
Kendati demikian, asuransi dapat menolong kita sekurang-
kurangnya dari aspek finansial, untuk menghadapi dampak dari musibah.
F. Metode Penelitian
Masalah yang akan di kaji adalah mengenai pelaksanaan akad tabarru pada perusahaan asuransi syariah prudential maka penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yuridis normatif dilakukan dengan cara menelaah teori-teori serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan yang merupakan bahan sekunder. Hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang- undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah dan norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas. Oleh karena itu, pertama sebagai sumber datanya adalah data sekunder.15 Penelitian yang akan dibahas yaitu mengenai pelaksanaan asuransi Prulink Syariah Prudential ditinjau menurut Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah.
2. Pendekatan Penelitian
15 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Graiindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 118.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sebagai berikut:
a. Pendekatan Undang-Undang (Statue Approach)
Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan yang bersangkut paut dengan permasalahan (isu hukum) yang sedang dihadapi. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu Undang- Undang dengan Undang-Undang lainnya atau antara Undang- Undang dan Undang-Undang Dasar atau regulasi dan Undang- Undang.16
b. Pendekatan Kasus (Case Approach)
Pendekatan kasus (case approach) dapat digunakan pada penelitian yang dilakukan oleh kalangan praktisi maupun kalangan teoritis atau akademisi, kalangan praktisi melakukan penelitian dengan mengidentifikasi putusan-putusan pengadilan yang telah berkualifikasi yurisprudensi untuk digunakan dalam perkara konkret yang sedang ditangani.
Penelitian praktis itu akan bisa menjadi penelitian akademis apabila dalam melakukan pengkajian terhadap putusan-putusan
16 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Group, Jakarta, 2013, hlm.
133.
pengadilan digunakan landasan teoritis, seperti teori/ajaran, asas hukum, konsep hukum, dan adigium hukum.17
3. Data dan Sumber Data
Dalam penelitian normatif empiris, maka sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Adapun data yang diperlukan dalam menulis penelitian hukum ini sebagai berikut:
a. Data sekunder
Data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti melalui studi kepustakaan, dengan cara menelaah berbagai sumber yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, kekuatan mengikatnya digolongkan kedalam:
1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat norma, Al-Quran, Hadist Nabi Muhammad saw, Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 02 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian, Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No:
21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.
2) Bahan hukum sekunder memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang terdiri dari: buku-
17 P. Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2007, hlm. 123.
buku, jurnal, hasil penelitian skripsi, thesis, disertasi dan lain-lain.
3) Bahan hukum tersier, memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, misalnya kamus, ensiklopedia dan lain-lain.
b. Data Primer
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan penelitian secara langsung dilapangan, yang berhubungan langsung dengan objek penelitian, yang disajikan dalam bentuk dokumen yang tidak resmi.18 Data diperoleh dengan cara wawancara dengan bapak Aditya Juniarto sebagai General Affair PT. Cipta Profitana Abadi KPM Prudential Cilegon yang akan dilaksanakan pada Perusahaan Asuransi Syariah Prudential cabang Cilegon.
4. Teknik Pengumpulan Data a. Studi Wawancara
Dilaksanakan dengan langsung terjun dilokasi penelitian untuk mendapatkan data primer yaitu informasi dari pihak perusahaan asuransi syariah Prudential cabang Cilegon, dimana penulis menggunakan pertanyaan secara bebas dan tidak terikat dengan susunan pertanyaan namun tetap mengikuti pedoman wawancara yang telah disiapkan sebelumnya dengan bapak
18 Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta 2009, hlm.23.
Aditya Juniarto selaku General Affair dan Finance Manager pada PT. Cipta Profitama Abadi KPM Prudential Cabang Cilegon.
b. Studi Kepustakaan
Penulis menggunakan hasil kepustakaan dengan menelaah Perundang-undangan serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permasalahan dan untuk memenuhi data penelitian maka peneliti meminta salinan dokumen perusahaan.
5. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan mempelajari seluruh data yang diperoleh dari data primer yang berupa wawancara serta data sekunder yang berupa buku-buku, jurnal hukum serta artikel-artikel yang berkaitan dengan penelitian ini dan juga berdasarkan data tersier yang berasal dari kamus hukum, ensiklopedia dan media internet disusun secara sistematis dan analisis secara kualitatif.
Data yang akan diperoleh dikumpulkan, setelah itu disusun dan diklasifikasikan dengan data yang sama untuk digunakan dalam menjawab identifikasi masalah, selanjutnya hasilnya dipaparkan secara deskriptif dan ditarik kesimpulan.
G. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab pertama ini menguraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan
penelitian, kerangka pemikiran, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PELAKSANAAN AKAD PADA ASURANSI SYARI’AH DI PT. CIPTA PROFITAMA ABADI KPM PRUDENTIAL CABANG CILEGON
Pada bab ini akan memaparkan mengenai pengertian Asuransi syariah, perbedaan mendasar asuransi syariah dan asuransi konvensional, prinsip-prinsip asuransi syariah, pendapat para ulama tentang asuransi syariah, pengertian akad, bentuk- bentuk akad asuransi syariah, syarat-syarat dan rukun melaksanakan akad, prinsip-prinsip berasuransi syariah
BAB III TINJAUAN TENTANG PELAKSANAAN AKAD PADA PT. CIPTA PROFITAMA ABADI KPM PRUDENTIAL CABANG CILEGON BERDASARKAN FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL
Pada bab ini akan memaparkan mengenai gambaran umum tentang perusahaan asuransi prudential, pelaksanaan akad asuransi syariah prudential ditinjau menurut Fatwa Dewan Syari’ah Nasional.
BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI PELAKSANAAN AKAD PADA PT. CIPTA PROFITAMA ABADI KPM PRUDENTIAL CABANG CILEGON DITINJAU
MENURUT FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 21/DSN-MUI/X/2001 TENTANG PEDOMAN UMUM ASURANSI SYARI’AH.
Pada bab ini menjelaskan tentang analisis terhadap implementasi pelaksanaan akad pada PT. Cipta Profitama Abadi KPM Prudential Cabang Cilegon serta bagaimana pelaksanaan pengelolaan dana premi pada produk asuransi syariah pada PT. Cipta Profitama Abadi KPM Prudential Cabang Cilegon.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan, penulis menyimpulkan dari hasil pengkajian bab IV kemudian diberi kesimpulan dan saran-saran yang diperlukan.
A. Asuransi Syariah
1. Pengertian Asuransi Syariah
Asuransi jika dilihat secara syariah pada hakikatnya adalah suatu bentuk kegiatan saling memikul risiko di antara sesama manusia sehingga antara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas risiko yang lainnya.
Saling pikul risiko itu dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cara masing-masing mengeluarkan dana ibadah (tabarru) yang ditunjukkan untuk menanggung risiko tersebut, dengan kata lain asuransi syariah adalah sistem di mana para peserta menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Prinsip dasar asuransi syariah adalah mengajak kepada setiap peserta untuk saling menjalin sesama peserta terhadap sesuatu yang meringankan terhadap bencana yang menimpa mereka (sharing of risk).19 Sebagaimana firman Allah Swt., dalam Qur’an Surah Al-Maidah ayat 2 yang artinya:
”Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."
19 Abdullah Amrin, ,Op.,Cit, hlm. 35.
25
Asuransi syari'ah disebut juga dengan asuransi ta'awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu, atas dasar prinsip syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta, dalam asuransi syariah tidak ada perbuatan memakan harta manusia dengan batil, karena apa yang telah diberikan adalah semata-mata sedekah dari hasil harta yang dikumpulkan. Selain itu keberadaan asuransi syariah akan membawa kemajuan dan kesejahteraan kepada perekonomian umat.
Menurut Fatwa DSN. No.21/DSN-MUI/X/2001 Asuransi Syariah (Ta'min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/ atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Beberapa hadis yang menjelaskan tentang pentingnya berasuransi, diantaranya diriwayatkan oleh Umar bin Khattab (radhiallaabu 'anhu):20
a. Suatu hari kaum muslimin sedang bepergian dalam suatu misi.
Kemudian mereka melewati suatu kota yang ternyata sedang dijangkiti suatu wabah penyakit menular. Tentu saja Umar memerintahkan pasukannya untuk menghindari melewati kota tersebut. Namun beberapa sahabat lainnya bertanya kepada Umar:
Mengapa Anda lari dari takdir yang telah ditentukan Allah, jika Ia memutuskan bahwa kita tidak tertular wabah itu, maka kita tidak akan terkena. Dengan bijak Umar menjawab: “Kita ini hanya berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.”
b. Dikisahkan bahwa suatu hari Umar bertemu seorang lelaki yang baru saja duduk di bawah pohon, tak melakukan apa pun. Ketika sang Khalifah bertanya pada lelaki itu, mengapa ia tidak melakukan apa-apa, lelaki tersebut menjawab bahwa “bukankah Allah Swt.,
20 Ibid., hlm. 37.
telah menentukan nasib kita? Lalu untuk apa bekerja, jika takdir kita sudah ditentukan oleh Nya? Lalu apa yang Khalifah lakukan?
Beliau memukul orang tersebut! sambil pada saat yang sama memarahinya, bahwa memang betul takdir dan nasib telah ditentukan Allah Swt., namun kamu harus tetap berusaha sebaik mungkin untuk meraihnya, bukan hanya duduk tanpa berbuat apa pun.
Pelajaran yang diberikan Umar kepada kita, bahwa kita harus melakukan yang terbaik untuk menghindari bencana dan barulah setelah itu kita bertawakal kepada Allah Swt.
Pendapat Para Pakar Mengenai Pengertian Asuransi Syariah sebagai beriku:21
a. Al-Fanjari
Asuransi syariah (ta’min) menurut Al-Fanjari diartikan sebagai usaha saling menanggung atau tanggung jawab sosial. Ia juga membagi ta’min ke dalam tiga bagian, yaitu ta’min at-taawuniy, ta’min al tijari, dan ta’min al hukumiy.
b. Mushtafa Ahmad Zarqa
Pengertian asuransi secara istilah adalah kejadian. Adapun metodologi dan gambarannya dapat berbeda-beda, namun pada intinya, asuransi adalah cara atau metoda untuk memelihara manusia dalam menghindari risiko (ancaman) bahaya yang beragam yang akan terjadi dalam hidupnya, dalam perjalanan kegiatan hidupnya atau dalam aktivitas ekonominya.
c. Husain Hamid Hisan
21 Ibid., hlm. 38-39.
Mengatakan Asuransi adalah sikap ta’awun yang telah diatur dengan sistem yang sangat rapih, antara sejumlah besar manusia, semuanya telah siap mengantisipasi suatu peristiwa, jika sebagian mereka mengalami peristiwa tersebut, maka semuanya saling menolong dalam menghadapi peristiwa tersebut dengan sedikit pemberian (derma) yang diberikan oleh masing masing peserta.
Dengan pemberian (derma) tersebut mereka dapat menutupi kerugian-kerugian yang dialami oleh perserta yang tertimpa musibah. Dengan demikian asuransi adalah ta’awun yang terpuji, yaitu saling menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa, dengan ta‘awun mereka saling membantu antara sesama, dan mereka takut dengan bahaya (malapetaka) yang mengancam mereka.
d. Az Zarqa
Mengatakan sistem asuransi yang dipahami oleh para ulama hukum (syariah) adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan untuk menutupi kerugian peristiwa atau musibah. Tugas ini dibagikan kepada sekelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah.
Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka.
Mereka (para ulama ahli syariah) mengatakan bahwa dalam penetapan semua hukum yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi, Islam bertujuan agar suatu masyarakat hidup
berdasarkan atas asas saling menolong dan menjamin dalam pelaksanaan hak dan kewajiban.
Warkum Sumitro, mengemukakan bahwa pada garis besarnya ada empat macam pandangan para pakar hukum Islam terhadap asuransi sebagai berikut:22
a. Asuransi haram hukumnya dalam segala bentuk dan cara operasionalnya.
Pandangan ini didukung oleh beberapa para pakar hukum Islam, antara lain Yusuf al-Qardawi, Sayyid Sabiq, Abdullah al Qalili, dan Muhammad Bakhit al-Muth'i. Menurut pandangan kelompok ini, asuransi diharamkan karena beberapa alasan, yaitu:
1. Asuransi mengandung unsur perjudian yang dilarang dalam syariat Islam.
2. Asuransi mengandung unsur ketidakpastian.
3. Asuransi mengandung unsur riba yang dilarang dalam syariat Islam.
4. Asuransi mengandung unsur eksploitasi yang bersifat menekan para pesertanya.
5. Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak secara tunai (aqad Sharft).
6. Asuransi objek bisnisnya digantungkan pada hidup dan mat inya seseorang, yang berarti mendahului takdir Tuhan.
22 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam & Lembaga-Lembaga Terkait, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 186-189.
b. Asuransi hukumnya halal atau diperbolehkan dalam syariat Islam.
Pandangan ini dikemukakan oleh Abdul Wahab Khallaf, Muhammad Yusuf Musa, Abdurrahman Isa, Mustafa Ahmad Zarqa, dan Muhammad Nejatullah Siddiqie. Adapun alasan kelompok ini sebagai berikut:
1. Tidak ada ketetapan nash baik dalam Al-Qur'an dan Al-Hadis yang melarang praktik perasuransian.
2. Terdapat kesepakatan kerelaan dari keuntungan bagi kedua belah pihak, baik penanggung maupun tertanggung.
3. Kemaslahatan dari usaha asuransi lebih besar daripada mudaratnya saling menguntungkan kedua belah pihak.
4. Asuransi dapat berguna bagi kepentingan umum, sebab premi yang terkumpul dapat diinvestasikan untuk proyek proyek yang produktif dan pembangunan, dengan kata lain kemaslahatan dari usaha asuransi lebih besar dari pada mudaratnya.
5. Asuransi dikelola berdasarkan akad mudharabah (bagi hasil).
6. Asuransi termasuk kategori koperasi (syirkah taawuniyah).
7. Asuransi dianalogikan (di-qiyaskan) dengan dana pensiun atau dana Taspen.
c. Asuransi hukumnya boleh apabila asuransi bersifat sosial, sedangkan asuransi yang bersifat komersial haram hukumnya.
Pendapat ini dikemukakan/didukung oleh Muhamamd Abu Zahrah, (Guru Besar Hukum Islam Universitas Al Azhar Cairo, Mesir), alasan bahwa asuransi yang bersifat sosial diperbolehkan karena jenis asuransi sosial tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang dalam syariat Islam. Adapun asuransi yang bersifat komersial tidak diperbolehkan karena pada asuransi tersebut mengandung hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam.
d. Asuransi hukum syubhat.
Kelompok ini memberi alasan bahwa asuransi yang berkembang saat ini hampir diseluruh dunia tidak ada dalil syar'i yang mengharamkan atau menghalalkannya, jika hukum asuransi dimasukkan dalam kategori syubhat, diharapkan kepada kaum muslimin supaya hati-hati dalam menyikapinya. Asuransi diperbolehkan kalau dalam keadaan darurat dan sangat dibutuhkan, kiranya setelah lahirnya asuransi syariah, tidak ada lagi istilah syubhat dalam menghadapi masalah keragu-raguan dalam berasuransi.
Dikalangan organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia seperti Nahdhatul Ulama, dalam Munasnya di Bandar Lampung 1992 telah memutuskan bahwa asuransi jiwa hukumnya haram, kecuali memenuhi ketentuan ketentuan: pertama, asuransi tersebut harus mengandung
tabungan (saving); kedua, peserta yang ikut program asuransi harus berniat menabung; ketiga, pihak perusahaan asuransi menginvestasikan dana peserta dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat Islam yaitu bebas dari gharar, maysir, dan riba; dan keempat, apabila peserta mengundurkan diri sebelum jatuh tempo, dana yang telah dibayarkan pada pihak asuransi tidak hangus. Selain dari itu, jika suatu ketika pihak penanggung terpaksa tidak dapat membayar uang premi, maka: pertama, uang premi tersebut menjadi utang yang dapat diangsur oleh pihak tertanggung; kedua, hubungan antara pihak tertanggung dan pihak penanggung tidak terputus;
ketiga, milik tabungan milik tertanggung tidak hangus; keempat, apabila sebelum jatuh tempo tertanggung meninggal dunia, ahli warisnya berhak mengambil sejumlah uang disimpannya.23
Tentang asuransi kerugian, Musyawarah Nasional Nahdhatul Ulama juga mengeluarkan keputusan bahwa hal itu diperbolehkan, dengan ketentuan: pertama, apabila asuransi kerugian tersebut merupakan persyaratan bagi objek-objek yang menjadi anggunan bank; dan kedua, apabila asuransi kerugian tersebut tidak dapat dihindari karena terkait dengan ketentuan-ketentuan pemerintah, seperti asuransi untuk barang barang impor dan ekspor. Adapun untuk asuransi sosial, Musyawarah Nasional Nahdhatul Ulama memutuskan bahwa hal itu dapat dibenarkan (diperbolehkan), dengan ketentuan: pertama, asuransi sosial tidak termasuk akad muawadhah, tetapi akad syirkah ta’awuniah; kedua,
23 Khoirl Anwar, Asuransi Syariah, Halal & Maslahat, Tiga Serangkai, Solo, 2007, hlm.
25-28.
diselenggarakan oleh pemerintah sehingga kalau ada kerugian ditanggung oleh pemerintah, dan jika ada keuntungan, dikembalikan untuk kepentingan masyarakat.24
Perusahaan asuransi syariah dan reasuransi syariah berpedoman pada Kitab Suci Al-Qur'an dan Hadis, serta fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSNMUI), di antaranya tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah. Di samping itu pemerintah telah mengeluarkan perundang-undangan untuk mengatur pelaksanaan sistem asuransi syariah di Indonesia, yaitu:
a. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 426/KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Peraturan inilah yang dapat dijadikan dasar untuk mendirikan asuransi syariah sebagaimana ketentuan dalam Pasal 3 yang menyebutkan bahwa:
”Setiap pihak dapat melakukan usaha asuransi atau usaha reasuransi berdasarkan prinsip syariah...” Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal 3-4 mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin usaha perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah, Pasal 32 mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi konvensional, dan Pasal 33 mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip
24 Ibid.
syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.
b. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal 15-18 mengenai kekayaan yang diperkenankan harus dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.
c. Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan Nomor Kep.
4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah.
Kegiatan asuransi syariah dalam konsep hukum Islam (syariah) termasuk kedalam terminologi hubungan manusia dengan manusia (hablum minannaas) dan lingkungan sekitarnya (hablum minal alam) yang bersifat terbuka artinya Allah Swt., dalam Al-Qur'an hanya memberikan aturan yang bersifat garis besarnya saja. Selebihnya adalah terbuka bagi kalangan ulama mujtahid untuk mengembangkan melalui pemikirannya.
Sedangkan di satu sisi hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) seperti kegiatan peribadatan bersifat limitatif artinya tidak dimungkinkan bagi manusia untuk mengembangkannya.
Berbagai kegiatan transaksi ekonomi yang dilakukan saat ini termasuk didalamnya usaha perasuransian merupakan cerminan dari hubungan manusia dengan sesamanya yang disebut dengan hukum muamalah, sehingga kegiatan tersebut bersifat terbuka dalam pengembangannya.
2. Perbedaan Asuransi Konvensional Dan Asuransi Syariah
Akhirnya, dapat dilihat perbedaan mendasar antara Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah, perbedaan ini seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk memilih asuransi syariah. Selain itu, sebagai bahan kajian akan terlihat kelemahan sistem ekonomi konvensional yang diterapkan diberbagai bidang sehingga terkadang hanya menguntungkan salah satu pihak, diantara kelebihan asuransi syariah adalah sebagai berikut.25
a. Asas Dasar Asuransi Syariah
Asuransi syariah didasari atas prinsip saling menolong dan berbagi resiko, musibah dapat terjadi kapan saja dan tidak dapat dihindari karena hal tersebut merupakan ketentuan Allah Swt. Namun, kita perlu berupaya untuk mempersiapkan dari dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, dengan demikian disatu sisi peserta memiliki posisi sebagai orang yang dibantu atas musibah yang menimpanya. Namun, di sisi lain juga sebagai yang
25 Ma’ruf Amin, Didin Hafidhuddin, Solusi Berasuransi Lebih Indah Dengan Syariah, Cet. Ke-1, Karya Kita, Bandung, 2009, hlm. 57.
membantu nasabah lain yang tertimpa musibah, oleh karena itu ia akan mendapatkan pahala yang mulia dari Allah Swt.
b. Dasar Hukum
Dasar hukum yang digunakan dalam asuransi syariah bersumber dari hukum syariah, yaitu: Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, qiyas, maupun fatwa-fatwa ulama atau lembaga-lembaga lain (seperti Fatwa Dewan Syariah Nasional-MUI). Asuransi syariah tidak boleh menyimpang dalam operasionalannya, terlebih apabila bertentangan dengan hukum syariah. Namun, asuransi syariah dalam operasionalannya tetap mengacu pada hukum positif yang berlaku, selama tidak bertentangan dengan hukum syariah.
c. Akad
Akad merupakan hal paling mendasar dalam pengelolaan asuransj syariah, hal ini karena keabsahan suatu transaksi bergantung pada akad yang digunakan, dalam operasional asuransi syariah setidaknya terdapat dua jenis akad yang digunakan. Pertama, akad antara sesama peserta, yaitu akad tabarru', dalam akad ini sesama peserta saling berderma untuk kepentingan peserta lain yang tertimpa musibah. Akad tabarru' bersifat ta'awuni (saling menolong). Kedua, akad tijari (seperti akad mudharabah musytarakah, wakalah bil ujrah), yaitu akad yang mendasari operasional perusahaan dalam mengelola dana peserta.
d. Tatakelola
Dari sisi hubungan dengan nasabah, perusahaan asuransi syariah memiliki tata kelola yang bersifat keterbukaan dan kejujuran.
Selain itu, perusahaan asuransi syariah secara struktur memiliki Dewan Pengawas Syariah, yang mengawasi sistem operasional perusahaan dari sisi syariah, dengan demikian perusahaan beroperasi sesuai dengan nilai-nilai syariah, mulai dari perangkat hukum (akad, kebijakan perusahaan, ketentuan kepegawaian, dan sebagainya), dari pelaksanaannya (implementasi), serta dari sisi orang yang melaksanakannya (sumber daya insani). Aktivitas tata kelola ini dibingkai dalam bentuk shariah corporate governance yang setidaknya meliputi rapat rutin DPS, audit syariah (self assessment atau audit lapangan), check list peraturan syariah dan performance appraisal syariah.
e. Tanggung jawab terhadap Umat (Corporate Ummah Responsibility)
Selain berorientasi pada kemaslahatan peserta, asuransi syariah juga memiliki tanggung jawab terhadap kemaslahatan umat mulai dari penyadaran tentang pentingnya pengelolaan risiko sesuai dengan syariah sampai pada pembelajaran tentang praktik ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu asuransi syariah selayaknya menyediakan produk yang berorientasi pada kepentingan masyarakat secara luas, diantaranya produk-produk
mikro-takaful. Perusahaan asuransi syariah juga harus memperhatikan pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu dengan pemberdayaan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan aktivitas sosial lainnya.
Sehubungan dengan hal hal tersebut dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang mendasar antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah, lebih perinci Muhammad Syakir Sula membuat perbandingan sebagai berikut:26
Tabel Perbedaan Asuransi Syariah Dan Asuransi Konvensional.
No Prinsip Asuransi Konvensional Asuransi Syariah 1 Konsep Perjanjian antara dua pihak
atau lebih, dengan mana
pihak penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi,
untuk memberikan
pergantian kepada
tertanggung
Sekumpulan orang yang saling membantu, saling menjamin, dan bekerjasama, dengan cara masing-masing mengeluarkan dana tabarru’
2 Asal Usul Dari Masyarakat Babilonia 4000-3000 SM yang dikenal
dengan Perjanjian
Hummurabi. Pada 1668 M di Coffe House London berdirilah Lloyd of London sebagai cikal bakal asuransi konvensional.
Dari AI Aqidah, kebiaaan suku Arab jauh sebelum Islam datang. Kemudian disahkan oleh Rasulullah menjadi hukum Islam, bahkan telah tertuang dalam konstitusi pertama di dunia (Konstitusi Madina) yang dibuat langsung Rasulullah.
3 Sumber
Hukum Bersumber dari pikiran manusia dan kebudayaan.
Berdasarkan hukum positif, hukum alami, dan contoh sebelumnya.
Bersumber dari wahyu Ilahi.
Sumber hukum dalam syariah Islam adalah Al Qur'an, Sunnah atau kebiasaan Rasul, Ijma',
26 Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General) Konsep dan Sistem Operasional, Gema Insani Press, Jakarta, 2004, hlm. 326-328.
Fatwa Sahabat, Qiyas Istihsan, 'Urf'tradisi', dan Mashalih Mursalah
4 "Maghrib"
(maisir, gharar, dan riba)
Tidak selaras dengan Syariah Islam karena adanya maysir, gharar, dan riba, hal yang diharamkan dalam muamalah.
Bersih dari adanya praktik gharar, maysir, dan riba.
5 DPS (Dewan Pengawas Syariah)
Tidak ada, sehingga dalam
banyak praktiknya
bertentangan dengan kaidah- kaidah syara’
Ada, yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan operasional perusahaan agar terbebas dari praktik-praktik
muamalah yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
6 Akad Akad jual beli (akad mu’awadhah, idz’aan, gharar, dan mulzim)
Akad tabarru' dan tijarah (mudharabah, wakalah, wadiah, syirkah, dan sebagainya).
7 Jaminan/Risk (Risiko)
Transfer of Risk, di mana terjadi transfer risiko dari
tertanggung kepada
penanggung.
Sharing of Risk, dimana terjadi proses saling menaggung antara satu peserta dengan peserta lainnya (ta’awun).
8 Pengelolaan Dana
Tidak ada pemisahan dana, yang berakibat pada terjadinya dana hangus (untuk produk saving life)
Pada produk-produk saving life terjadi pemisahan dana, yaitu dana tabarru’ derma’
dan dana peserta, sehingga tidak mengenal istilah dana hangus. Adapun term insurance life dan general insurance semuanya bersifat tabbarru’.
9 Investasi Bebas melakukan investasi dalam batas-batas ketentuan perundang-undangan, dan tidak terbatasi pada halal dan haramnya objek atau sistem investasi yang digunakan.
Dapat melakukan investasi sesuai ketentuan perundang- undangan, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Bebas dari riba dan tempat-tempat investasi yang terlarang.
10 Kepemilikan
Dana Dana yang terkumpul dari premi peserta seluruhnya menjadi milik perusahaan,
Dana yang terkumpul dari peserta dalam bentuk iuran atau kontribusi, merupakan
perusahaan bebas
menggunakan dan
menginvestasikan kemana saja.
milik peserta (shaibul maal’), asuransi syariah hanya sebagai pemegang amanah (mudharib) dalam mengelola dana tersebut.
11 Unsur Premi Unsur premi terdiri dari tabel mortalita (mortality tables), bunga (interest), biaya-biaya asuransi (cost of insurance).
Iuran atau kontribusi terdiri dari tabarru’ dan tabungan (yang tidak mengandung unsur riba), tabarru’ juga dihitung dari tabel mortalita, tetapi tanpa perhitungan bunga teknik.
12 Loading Loading pada asuransi konvensional cukup besar terutama diperuntukkan untuk komisi agen, bisa menyerap premi tahun pertama dan kedua, karena itu, nilai tunai pada tahun pertama dan kedua biasanya belum ada (masih hangus).
Pada sebagian asuransi syariah, loading (komisi agen) tidak dibebankan pada peserta tetapi dari dana pemegang saham, namun sebagian yang lainnya mengambilkan dari sekitar 20-30 persen saja dari premi tahun pertama, dengan demikian, nilai tunai tahun pertama sudah terbentuk.
13 Sumber Pembayaran Klaim
Sumber biaya klaim adalah dari rekening perusahaan, sebagai konsekuensi penanggung terhadap tertanggung, murni bisnis dan tidak ada nuansa spiritual.
Sumber pembayaran klaim di peroleh dari rekening tabarru', yaitu peserta saling menanggung, jika salah satu peserta mendapat musibah, maka peserta lainnya ikut menanggung bersama risiko.
14 Sistem
Akuntansi Menurut konsep akuntansi accrual basis, yaitu proses akuntansi yang mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan nonkas dan mengakui pendapatan, peningkatan asset, expenses, liabilities dalam jumlah tertentu yang baru akan diterima dalam waktu yang akan datang.
Menganut konsep akuntansi cash basis, mengakui apa yang benar-benar telah ada, sedangkan accrual basis dianggap bertentangan dengan syariah karena
mengakui adanya
pendapatan, harta, beban, atau utang yang akan terjadi di masa yang akan datang, sementara apakah itu benar- benar dapat terjadi hanya Allah yang tahu.
15 Keuntungan Keuntungan yang diperoleh Profit yang diperoleh dari
(Profit) dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil investasi seluruhnya adalah keuntungan perusahaan.
surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil investasi, bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan, tetapi dilakukan bagi hasil (mudharabah) dengan peserta.
16 Misi dan Visi
Secara garis besar misi utama dari asuransi konvensional adalah misi ekonomi dan misi sosial.
Misi yang diemban dalam asuransi syariah adalah misi akidah misi ibadah (ta'awun), misi ekonomi (Iqtishodl), dan misi pemberdayaan umat (sosial).
17 Fundamental Hukum dan Operasional
Filosofi, berdimensi dunia saja.
Sumber hukum berdasarkan Undang-Undang dan hukum positif yang berlaku.
Akad berdasarkan prinsip jual-beli meskipun objeknya
mengandung unsur
ketidakpastian.
Pihak yang berakad, hanya
dilakukan dengan
perusahaan dan pemegang polis.
Asal-usul sejarah diambil dari masyarakat Babylon serta percakapan di warung kopi milik Lloyd di pinggiran sungai Themes, London. Kisah ini sebagai cikal bakal timbulnya asuransi konvensional.
Filosofi, mencari ridha Allah Swt sehingga berdimensi dunia dan akhirat.
Sumber hukum berdasarkan AI-Quran, AI-Hadits, dan hukum positif yang berlaku.
Akad utama berdasarkan prinsip tabarru', yaitu saling menolong bukan semata- mata bertujuan komersial.
Akad komersial dengan
menggunakan akad
mudharabah, mudharabah musytarakah atau wakalah serta jenis akad lain yang tidak bertentangan dengan syar'i.
Pihak yang berakad. Akad tolong-menolong dilakukan antara peserta, akad komersial dilakukan antara perusahaan dan peserta.
Asal-usul sejarah, diambil dari kisah dalam Al-Quran, seperti ta’wil mimpi yang dilakukan oleh Nabi Yusuf dan konsep al-Aqiah dari
kisah ini, dapat diambil manfaat akan pentingnya mengelola risiko dan mengantisipasi kejadian pada masa mendatang.
18 Manajemen (Good Corporate Governance)
Struktur organisasi tidak mensyaratkan adanya Dewan Pengawas Syariah.
GCG berdasarkan ketentuan hukum positif.
Dalam struktur organisasi terdapat Dewan Pengawas Syariah dengan tugas dan fungsi memastikan bahwa operasional perusahaan tidak menyimpang dari pinsip Syariah.
GCG mengacu pada hukum syariah dan hukum positif.
19 Sistem
Akuntansi Tidak menganut prinsip pemisahan dana, semua dana dianggap satu etintas pemilik.
Tidak diwajibkan membuat laporan zakat.
Secara umum, tidak dipersyaratkan untuk memisahkan premi yang diterima.
Sumber keuntungan berasal dari biaya yang dibebankan, selisih bunga teknis, komisireas, mortality gain, dan biaya administrasi lain.
Menganut prinsip
pemisahan entitas dana kelolaan, yaitu entitas dana tabarru', entitas dana peserta, dan entitas dana pemegang saham.
Membuat laporan yang berkaitan dengan sumber dan penggunaan dana zakat.
Premi yang masuk dalam perusahaan langsung dipisahkan ke dalam akun yang bersesuaian.
Sumber ketentuan berasal dari fee, bagi hasil, pembagian dari surplus underwriting dan biaya yang dibebankan pada awal kepesertaan serta biaya administrasi lain.
20 Operasiomal Desain produk biasanya memasukkan unsur bunga (riba).
Desain produk
menghindarkan undur gharar, maisir, riba.
Objek asuransi tanpa melihat unsur halal haramnya zat yang diasuransikan dan risiko finansial personal.
Pengelolaan risiko
berdasarkan prinsip transfer of risk dari pemegang polis ke perusahaan.
Memasarkan produk yang menggaransi return.
Pola marketing
konvensional, tidak mesti terikat dengan etika Islami.
Investasi dana kelolaan bisa dilakukan di mana saja sejauh tidak menyimpang
dari ketentuan
perundangundangan.
Pembayaran klaim risiko bersumber dari rekening perusahaan.
Pembayaran klaim manfaat akhir kontrak berasal dari rekening perusahaan.
Surplus underwriting sepenuhnya menjadi hak perusahaan.
Objek asuransi adalah zat yang halal dan risrko finansial personal yang tidak bertentangan dengan hukum syariah.
Pengelolaan resiko
berdasarkan prinsip sharing of risk diantara peserta.
Perusahaan sebagai
pengelola tidak
diperkenankan memasarkan produk yang menggaransi return.
Pola marketing dengan prinsip syariah marketing
yang mengedepankan
kejujuran, transparansi, amanah, dan profesional serta beretika lslami.
Investasi dana kelolaan pada instrumen berbasis syariah dan tidak dari ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Pembayaran klaim risiko bersumber dari rekening dana tabarru', yaitu dana yang sejak awal sudah diniatkan dan diikhlaskan untuk kepentingan tolong- menolong di antara peserta apabila terjadi musibah.
Pembayaran klaim manfaat akhir kontrak berasal dari rekening dana investasi peserta.
Surplus underwriting
dimungkinkan untuk
dibagikan sebagian kepada peserta.
21 Corporate Culture
Budaya perusahaan yang berbasiskan nilai-nilai kemanusiaan atau nilai-nilai universal.
Budaya perusahaan yang berbasiskan syariah Islam.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional sebagai berikut:27
1. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan, dewan ini berperan mengawasi manajemen, produk, serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam.
2. Prinsip asuransi syariah adalah takafulli (tolong menolong dan saling bantu-membantu), sedangkan prinsip asuransi konvensional (tadabuli) yakni jual beli antara nasabah dengan perusahaan.
3. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagai hasil (mudharabah), adapun pada asuransi konvensional investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.
4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah, perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya, adapun pada asuransi konvensinal, premi menjadi
27 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Deskripsi dan Ilustrasi, Cet.
ke-4, Ekonisia FE-UII, Yogyakarta, hlm. 118-119.