Pelayanan Sosial Berbasis Layanan Luar Lembaga (Studi : Upaya Meminimalisir Anak Putus Sekolah Pada
Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita Yogyakarta)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
untuk memenuhi Sebagian Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1
Oleh : Aji Santoso NIM. 16250066
Pembimbing:
Idan Ramdani, M.A.
NIP. 19930319 201903 1 009
PROGAM STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2022
i
HALAMAN PENGESAHAN
ii
SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Di Tempat
Assalamualaikum wr.wb
Setelah membaca, meneliti memberikan petunjuk, dan mengoreksi serta mengadakan perbaikan seperlunya, maka kami selaku pembimbing berpendapat bahwa skripsi Saudara:
Nama : Aji Santoso NIM : 16250066
Judul Skripsi: Pelayanan Sosial Berbasis Layanan Luar Lembaga (Studi: Upaya Meminimalisir Anak Putus Sekolah Pada Lembaga Kesejahteraan Sosial Yogyakarta)
Sudah dapat diajukan kembali kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yoagyakarta sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Stara Satu dalam bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial.
Dengan ini kami mengharap agar skripsi tersebut di atas dapat segera dimunaqasyahkan. Atas perhatian kami ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum wr. Wb
Yogyakarta, 25 Juli 2022 Mengetahui
Ketua Prodi Progam Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Pembimbing
Siti Solechah, S.Sos.I.., M.Si Idan Ramdani, M.A.
NIP. 19830519 200912 2 002 NIP. 19930319 201903 1 009
iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Aji Santoso NIM : 16250066
Program Studi : Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas : Dakwah dan Komunikasi
Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa skripsi saya yang berjudul “Pelayanan Sosial Berbasis Layanan Luar Lembaga (Studi: Upaya Meminimalisir Anak Putus Sekolah Pada Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita)”
adalah hasil karya saya pribadi yang tidak mengandung plagiarism dan tidak berisi materi yang dipublikasikan atau ditulis orang lain, kecuali bagian-bagian tertentu yang penyusun ambil sebagai acuan dengan tata cara yang dibenarkan sesuai ilmiah.
Apabila terbukti pernyataan ini tidak benar, maka penyusun bersedia mempertanggungjawabkannya sesuai hukum yang berlaku.
Yogyakarta, 29 Juli 2022 Yang Menyatakan
Aji Santoso 16250066
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya skripsi ini sepenuhnya saya persembahkan untuk keluarga saya tercinta, Ibu Munarti dan Kakak saya, Halim Budi Santoso, dan teman-teman yang selalu mensuport saya untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
v
MOTTO
Tugas pokok intelektual adalah mempertahankan kebebasan berpikir, bukan membunuh kebebasan berpikir
(Gus Dur)
Mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali (Aristoteles)
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Illahi Robbi, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammd SAW.
Kemudian, tidak bisa dipungkiri bahwa selesainya skripsi ini adalah dikarenakan bantuan bimbingan, serta dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Phill. Al Makin., M.A. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Prof. Dr. Hj. Marhumah, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3. Ibu Siti Solechah, S.Sos.I., M.Si selaku Ketua Progam Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah membantu melancarkan proses pengerjaan skripsi.
4. Bapak Idan Ramdani, M.A, selaku Dosen Pembimbing Skripsi (DPS) yang mengarahkan, membimbing selama proses awal hingga akhir pengerjaan skripsi ini.
5. Ibu Noorkamilah, S.Ag.,MSi selaku dosen pembimbing akademik (DPA) yang mengarahkan dan membimbing selama kuliah.
vii
6. Bapak dan Ibu pengajar pada Progam Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) yang banyak memberikan bekal keilmuan selama perkuliahan.
7. Staff dan Karyawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Khususnya Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah membantu dan mempermudah peneliti dalam melengkapi segala syarat yang dibutuhkan oleh akademik.
8. Ibu tercinta sebagai orang tua yang selalu mendidik, memberikan dukungan dan semangat dalam setiap hal yang dilakukan peneliti dalam proses menempuh kedewasaan agar menjadi manusia yang bermanfaat. Terima kasih atas segala pengorbanan tersirat maupun tersurat yang telah diberikan.
9. Kakak saya, Halim Budi Santoso selaku saudara dan juga partner yang selalu mensupport dan memberikan pengarahan kepada peniliti agar menjadi pribadi yang lebih baik, tegas, dan berprinsip dalam memandang masa depan.
10. Direktur Utama LKS Yayasan Senyum Kita dan Manajer Progam LKS Yayasan Senyum Kita yang telah membantu memberikan informasi peneliti dalam penyelesaian skripsi.
11. Temen-temen Ikamaru Yogyakarta yang telah menjadi keluarga kedua bagi peneliti di tanah perantauan ini, terimakasih atas semuanya, dalam berbagi ilmu dan seluruh kebahagian yang telah dilalui bersama.
12. Teman-teman IKS angkatan 2016, terutama Galih, Nazib, Faruq, dan Senja dan lainnya yang sudah menemani, mendukung, dan membantu masalah- masalah terakit skripsi dan studi saya
viii
13. Semua pihak yang telah ikut berjasa dalam penulisan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Pada akhirnya penulis menyadari skripsi ini jauh dari kata sempurna, karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umunya dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Yogyakrta, 20 Juli 2022 Penulis
Aji Santoso
ix
ABSTRAK
Aji Santoso, 16250066, Pelayanan Sosial Berbasis Layanan Luar Lembaga Studi Upaya Meminimalisir Anak Putus Sekolah Pada Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Skripsi: Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi, Unversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2022.
Persoalan anak putus sekolah merupakan salah satu permasalahan pendidikan yang tidak pernah berakhir. Masalah ini seperti mengakar dan selalu menjadi sorotan Pemerintah, Lembaga Kesejahteraan Sosial, ataupun Lembaga Masyarakat terkait, baik itu disebabkan karena kondisi ekonomi, faktor lingkungan, kurangnya motivasi, atau tergolong karena PMKS. Hal ini menjadi salah satu alasan LKS Yayasan Senyum Kita dalam membentuk dan menjalankan progam- progamnya sesuai fungsi, tujuan, dan proses pelayanan sosial. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui apa fungsi pelayanan sosial yang dilakukan, apa tujuan pelayanan sosial yang dipraktikkan, dan bagaimana proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh LKS Yayasan Senyum Kita
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori fungsi pelayanan sosial, teori tujuan pelayanan sosial, dan teori proses pelayanan sosial, Metode pengumpulan data yang digunakan ada beberapa cara, yakni dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dalam penelitian ini terdapat beberapa informan guna memperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tema penelitian, diantranya yaitu: Direktur Utama, Menejer Progam, dan Divisi Pemberdayaan Progam, sebagai informan kunci. Kemudian 1 relawan LKS, dan 5 penerima bantuan beasiswa pendidikan LKS Yayasan Senyum Kita, sebagai informan pendukung.
Dari penelitian yang dilakukan, memunculkan hasil sebagai berikut (1) fungsi pelayanan sosial diterapkan di LKS Yayasan Senyum Kita yang meliputi:
pertama, pelayanan-pelayanan untuk sosialisasi dan pengembangan, kedua, pelayanan-pelayanan untuk pertolongan dan ketiga, pelayanan pelayanan untuk mendapat akses, informasi, dan nasihat (2) tujuan pelayanan sosial dipraktikan di LKS Yayasan Senyum Kita yang meliputi, pertama memenuhi kebutuhan pendidikan adik asuh, kedua meningkatkan pendampingan belajar dengan tutor terbaik kepada adik asuh, dan yang ketiga adalah meningkatkan potensi ekonomi keluarga adik asuh melalui pemberdayaan usaha. (3) proses pelayanan sosial yang dijalankan oleh LKS Yayasan Senyum Kita yang meliputi, pendekatan awal (engagement), pengungkapan pemahaman masalah (assesment), perencanaan pemecahan masalah (planning), pelakasanaan pemecahan masalah (intevention), monitoring dan evaluasi.
Kata Kunci: Putus Sekolah, Fungsi, Tujuan, dan Proses Pelayanan Sosial
x
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... i
SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI...x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 11
E. Kajian Pustaka ... 11
F. Kerangka Teori ... 17
G. Metode Penelitian ... 24
H. Sistematika Pembahasan. ... 36
BAB II GAMBARAN UMUM LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL YAYASAN SENYUM KITA... 38
A. Sejarahnya Berdirinya LKS Yayasan Senyum Kita ... 39
B. Letak Geografis LKS Yayasan Senyum Kita ... 42
C. Visi dan Misi LKS Yayasan Senyum Kita ... 43
D. Struktur Lembaga Yayasan Senyum Kita ... 44
D. Pendanaan Lembaga ... 44
E. Progam LKS Yayasan Senyum Kita ... 45
BAB III UPAYA MEMINIMALISIR ANAK PUTUS SEKOLAH BERBASIS LAYANAN LUAR PANTI ... 38
A. Fungsi Pelayanan Sosial Di LKS Yayasan Senyum Kita ... 40
B. Tujuan Pelayanan Sosial Di LKS Yayasan Senyum Kita ... 46
C. Proses Pelayanan Sosial Di LKS Yayasan Senyum Kita ... 56
BAB IV PENUTUP ... 38
A. Kesimpulan ... 38
xi
B. Saran ... 39 Daftar Pustaka ... 97 LAMPIRAN... 101
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Rencana Anggaran Beasiswa Semester Genap Tahun Ajaran 2021/2020...80
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Leaflet Profil LKS Yayasan Senyum Kita...38
Gambar 2. Tampak Depan Kantor LKS Yayasan Senyum Kita... ...41
Gambar 3. Lokasi Google Maps LKS Yayasan Senyum Kita... ...42
Gambar 4 Struktur Kepengurusan LKS Yayasan Senyum Kita... ...44
Gambar 5. Kegiatan Progam Beasiswa Sehati LKS Yayasan Senyum Kita...47
Gambar 6. Kegiatan Progam Semangat Belajar LKS Yayasan Senyum Kita...50
Gambar 7. Penyaluran Beasiswa Pendidikan Sehati...61
Gambar 8. Kegiatan Progam Semangat Menulis...66
Gambar 9. Pamflet Kegiatan Semangat Wirausaha...69
Gambar 10. Pamflet Penyaluran Beasiswa Pendidikan Sehati...72
Gambar 11. Penyaluran Beasiswa Pendidikan Sehati...79
Gambar 12. Kegiatan Progam Semangat Non Akademik...82
Gambar 13. TOR Kegiatan Semangat Wirausaha...83
1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berbicara mengenai pendidikan sama halnya berbicara terkait nilai dasar yang terkandung dalam kehidupan manusia, sebab peran penting yang dimilikinya dapat diajadikan acuan arah dalam mengarungi kehidupan yang luas ini. Penerapan pendidikan pun harus diseimbangkan mulai dari pelaksanaannya dan perkembangan kajian pendidikannya, sesuai situasi keadaan sosial yang dialami oleh suatu kelompok masyarakat. Maka demikian pendidikan sebagaimana eksperimen yang tidak pernah selesai untuk diteliti dan selalu berkembang sepadan dengan dunia yang semakin maju ini. Manusia sebagai makhluk sosial yang dianugerahi dengan akal dan nalar sudah semestinya untuk memosisikan dirinya sebagai pembentuk kebudayaan dan peradaban dunia agar lebih baik kedepannya dengan begitu pendidikan selayaknya alat untuk mengolah daya kekreatifan dan keinovatifan yang dimiliki manusia.1
Di dalam pasal 28 KHA (Konvensi Hak Anak) dijelaskan setiap anak mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, menyediakan pendidikan gratis untuk tingkat dasar, memudahkan akses untuk pendidikan tingkat menengah, dan mendukung serta memotivasi anak agar tetap melanjutkan pendidikannya sampai ke tingkat perguruan tinggi, di antaranya menetapkan
1 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tentang tujuan pendidikan berkualitas, dalam http://sdgs.bappenas.go.id/tujuan-4/, diakses pada tanggal 3 September 2021.
2
pijakan terhadap penurunan angka anak putus sekolah melalui dukungan dan pantauan agar anak bisa selalu hadir mengikuti pelajaraanya di sekolah;
kedisiplinan anak di sekolah juga harus dipastikan melalui pantauan yang tepat sesuai tingkat kepedulian anak.2
Dalam hal ini pendidikan bukan hanya menangani satu sudut pandang saja karena pendidikan merupakan tahapan perbaikan diri yang bisa diupayakan melalui bermacam cara dengan mempelajarinya dan terus melatihnya. Maka dengan begitu kesempatan bisa memperoleh pendidikan ialah peluang bagus yang wajib dicapai dan perlu adanya upaya agar bisa mengikuti proses pendidikan tanpa melihat perbedaan status dalam individu3.
Sementara pada Undang-Undang pendidikan No. 20 tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional Pasal 34 ayat 1 sampai 3 juga sudah dijelaskan bahwa:
1. Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti wajib belajar.
2. Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
3. Wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, pemerintah dan masyarakat.4
2 https://www.unicef.org/indonesia/id/konvensi-hak-anak-versi-anak-anak, diakses pada tanggal 18 Oktober 2021
3 Mohammad Saroni, Pendidikan Untuk Orang Miskin, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2013), hlm. 187.
4 UU RI NO.3 TH. (1997). Undang-Undang Peradilan Anak. (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), hlm 14.
3
Melalui progam wajib belajar 9 tahun adalah salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam meratakan akses pendidikan agar bisa dirasakan oleh seluruh komponen masyarakat. Progam ini menganjurkan anak mulai dari umur 7 sampai 15 tahun diwajibkan menempuh sekolah tingkat formal atau pendidikan dasar sampai tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Peraturan diatas dapat dikatakan sebagai salah satu langkah perbaikan pemerintah dalam rangka memenuhi pendidikan dasar yang tentunya sejalan dengan progam pembangunan pemerintah.
Progam wajib belajar secara tersiar memiiliki tujuan untuk mewujudkan setiap individu agar memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan tanpa dibatasi letak geografis, status sosial ekonomi, agama yang dimiliki, dan perbedaan kelamin. Selain itu progam wajib belajar diharapkan mampu memberi dampak positive untuk kebutuhan progam pembanguanan pemerintah yang mendorong kualitas sumber daya manusia dari bermacam-macam keahliannya.5
Namun menurut riset pusat studi kependudukan dan kebijakan UGM dari data UNICEF tahun 2016 mengungkapkan bahwasanya di Indonesia sekitar 1,9 juta anak dalam skala usia 12 sampai 15 tahun belum bisa menjangkau pendidikan lanjutan. Walaupun dari skala usia itu hampir dari mereka bisa menempuh pendidikan tingkat menengah pertama (SMP), namun tetap ada dari beberapa
5 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat, Profil Gender dan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017, dalam https://www.dp3ap2.jogjaprov.go.id/, diakses pada tanggal 7 Oktober 2021
4
komponen anak yang mengalami problem permasalahan putus sekolah dan tidak melanjutkan tingkat pendidikannya.6
Kusumah mengatakan bahwa problem yang dirasakan oleh remaja putus sekolah adalah persoalan besar yang perlu direspon dengan serius. Persoalan putus sekolah bukan hanya sekedar ketidakmampuan atau hanya putus sekolah namun lebih ke merosotnya sumber daya manusia yang kemudian pada saatnya tidak mampu dan bingung untuk melakukan apapun, hal ini dikarenakan tidak ada persiapan dalam upaya menemui rintangan hidup kedepannya. Ketika generasi penerus bangsa bangsa mengalami problematika putus sekolah, kondisi ini yang kemudian akan menjadi ancaman bagi hidup dan masa depan bangsa Indonesia.
Persoalan remaja putus sekolah juga dapat membentuk berbagai akibat lainnya, disebabkan remaja yang terdampak tersebut tidak mempunyai bekal yang cukup untuk mendorong hidup mereka saat sudah dewasa. Permasalahan ini tentunya akan mengakibatkan tidak tergapainya tujuan dan cita-cita mereka, hingga muncul ketidakpercayaan diri, merasa malu dengan diri sendiri dan merasa asing dengan lingkungan sosialnya.7
Dinamika persoalan angka putus sekolah secara umum menjadi perhatian serius oleh pemerintah, salah satunya Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adanya persoalan angka putus sekolah bisa mengindikasikan tingkat
6 Siti Nur Qoniah Ariyani, Tren Angka Putus Sekolah Pendidikan Sekolah Menengah Pertama Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Vol 7, No 4, (2018)
7 Elita Metica Tamba, dkk., Pelayanan Sosial Bagi Remaja Putus Sekolah, Vol 2, No 2, (2014), hlm 219.
5
keberhasilan maupun kegagalan sistem pendidikan sesuai jenjangnya, ataupun bisa mendiskripsikan suatu kemampuan penduduk dalam menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Angka putus sekolah menggambarkan jumlah penduduk usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau tidak dapat menamatkan pendidikan di jenjang tertentu. Penyebab putus sekolah bisa beragam juga sesuai dari tingkat dan jenjang pendidikannya. Penyebab putus sekolah diantaranya adalah minimnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak, kondisi sosial ekonomi keluarga, keterbatasan serta kesulitan dalam mengakses infrastruktur pendidikan.8
Pada tahun 2016 prosentase jumlah anak putus sekolah di Yogyakarta sebesar 0,21% dari jumlah usia <13, 13-15, >15 tahun sebesar 277 Jiwa.
Permasalahan putus sekolah di Yogyakarta disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena permasalahan ekonomi. Pernyataan ini didorong dengan fakta usia mengalami putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi. Kedua, minimnya pemahaman orang tua terkait pentingnya pendidikan. Pernyataan ini didorong dengan adanya fenomena sosial dimana ditemukan beberapa kelompok masyarakat yang berpikiran bahwa anak perempuan tidak diharuskan untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang pendidikan tinggi.9
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyampaikan kurangnya mutu kualitas pendidikan di Indonesia di antaranya diakibat oleh kualitas guru yang tidak seimbang di daerah terluar dan terdepan, intansi sekolah yang tidak ramah
8 https://yogyakarta.bps.go.id/. (diakses pada tanggal 7 Oktober 2021 pukul 17.47 WIB)
9 Siti Nur Qoniah Ariyani, Tren Angka Putus Sekolah Pendidikan Sekolah Menengah Pertama Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Vol 7, No 4, (2018)
6
anak yang menyebabkan sering terjadi kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk anak dan juga intansi sekolah yang belum menyentuh kelompok marginal secara menyeluruh sehingga perlu perubahan secara fundamental. Kelompok marginal disini adalah perempuan dan anak dengan disabilitas10. Hingga saat ini jika mengamati data dari dinas pendidikan pemuda dan olahraga provinsi di Yogyakarta, sekitar 3.500 anak penyandang difabel sudah menempuh pendidikan di bangku sekolah, baik SLB atau sekolah inklusi, namun terdapat sekitar 1.400 anak penyandang difabel yang masih belum merasakan pendidikan di intasi sekolah. Jumlah tersebut adalah jumlah yang terdata, dan bisa jadi masih ada anak penyandang difabel lain yang belum merasakan pendidikan namun belum terdata sehingga jumlahnya bisa semakin banyak untuk jumlah SLB terdapat 70 sekolah inklusi dan 64 SLB yang tersebar di lima kota dan kabupaten. Hingga saat ini masih minim anak penyandang difabel yang dapat mengakses sekolah model inklusif, padahal pemerintah sudah mensosialisasikan sekolah inklusi ini, namun masih belum maksimal dan kurangnya pemahaman orang tua anak penyandang difabel mengenai sekolah model inklusif ini sehingga orang tua lebih memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya.11
10 https://news.detik.com/berita/d-3460243/jppi-wajib-belajar-12-tahun-masih-sebatas- retrorika (diakses pada tanggal 7 Oktober 2021 pukul 18.36 WIB)
11 Antonius Stevanus Bili, Skripsi, ”Peran Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Memfasilitasi Pendidikan Bagi Kaum Difabel”(Yogyakarta: APMD, 2018), hlm 4
7
Padahal di dalam Pasal 9 Bab 3 Undang-Undang tentang perlindungan anak juga sudah dijelaskan mengenai hak dan kewajiban anak, yang isinya sebagai berikut :
1. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
2. Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.12
Instrumen masyarakat yang terlibat dalam upaya perlindungan anak bukan hanya kelompok perorangan (keluarga), namun juga melibatkan organisasi- organisasi yang ada pada masyarakat salah satunya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat, wadah yang dibangun dan digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan suatu aspirasi atau gagasan di dalam kehidupan masyarakat, keberadaan LSM dalam upaya membentuk keswadayaan atau partisipasi masyarakat terhadap peningkatan program-program pembangunan terutama dalam aspek pendidikan bukan sesuatu ucapan belaka, namun juga dibuktikan didalam tindakan-tindakan konkrit yang sudah dilaksanakan.
12 https://pih.kemlu.go.id/files/UUNo23tahun2003PERLINDUNGANANAK.pdf, (diakses pada tanggal 23 Oktober 2021 pukul 16.00 WIB).
8
Terdapat beberapa tindakan dan komitmen bersama dalam upaya menyelamatkan “pendidikan” dengan terapan advokasi yaitu; pertama bentukan transformasi wacana advokasi pendidikan di masyarakat sebagai wadah masyarakat, hal ini sebagai upaya penyadaran diri dan ikut memperjuangkan hak- haknya dalam pendidikan, kedua, membentuk jaringan yang dapat digunakan sebagai wadah pendukung perjuangan dalam menerapkan advokasi di lingkungan pendidikan dan advokasi pendidikan di masyarakat dan ketiga, adalah pemberdayaan dan penguatan pendidikan di masyarakat sebagai upaya advokasi yang perlu dilakukan. Sehingga sebagai media penyadaran, pendidikan bisa berperan menjadi counter hegemony dari budaya dan sosial dalam masyarakat.13 Setelah memahami tindakan dari unsur-unsur pemberdayaan di atas, LSM dapat merangkai program-program pengembangan yang merupakan peran Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong tersampainya keberhasilan penyelenggaraan kelompok swadaya..
Berbagai macam LSM dibentuk di tengah masyarakat salah satunya adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita. Yayasan ini merupakan lembaga sosial yang pusat sasarannya adalah pendidikan anak dan pemberdayaan pemuda. Hal ini dipraktikan dengan memnyelenggarakan pelatihan, pendampingan dan pemberdayaan bagi pemuda. Dari pelatihan, pendampingan dan pemberdayaan tersebut para pemuda diharapkan mampu berkontribusi langsung dalam penanganan masalah-masalah sosial, khususnya di bidang pendidikan yang ada
13 Kiromim Baroroh, Peran Lembaga Swadaya Masyarakat Terhadap Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Life Skill, Vol 3, No 1, (Maret, 2009), hlm 25.
9
dilingkungan kita. Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita ini terdiri dari pemuda yang berinisiatif meningkatkan kualitas pendidikan anak yatim, dhuafa
& difabel.14 Didalam merespon fonemena putus sekolah yang disebabkan oleh beragam faktor, di antaranya adalah dengan mengadakan progam tambahan belajar akademik dan non akademik yang ada di luar sekolah15, baik pendidikan yang notabenenya itu informal maupun nonformal seperti tambahan bimbingan belajar di luar sekolah, kursus pengembangan keterampilan anak, majelis ta’lim, pengajian umum dan sebagainya.
Terkait penelitian terdahulu, Sodiyah didalam skripsinya menjelaskan bagaimana upaya pemerintah Kabupaten Kebumen dalam menanggulangi anak putus sekolah melalui pemberian bantuan beasiswa dari tingkat SD sampai SMA untuk keluarga kurang mampu, mengadakan pelaksanaan progam pengurangan pekerja anak dalam rangka mendukung keluarga harapan, mengadakan kegiatan peningkatan keterampilan bagi anak putus sekolah luar balai sosial, dan memberikan bantuan usaha ekonomi produktif bagi anak terlantar luar panti16. Mengenai hal tersebut dari beberapa refrensi yang ditemui oleh peniliti belum ada penelitian yang berfokus pada pelayanan sosial berbasis layanan luar lembaga atas dasar tersebut penelitian ini akan mengulas bagaimana upaya meminimalisir anak putus sekolah namun dengan objek penelitian di LKS Yayasan Senyum Kita
14 https://senyumkita.com/tentang-kami/, (diakses pada tanggal 1 November 2021 pukul 15.32 WIB)
15 Mohammad Saroni, Pendidikan Untuk Orang Miskin, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2013),
hlm 193.
16 Sodiyah dan Suripno, Skripsi, “Upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam Menanggulangi Anak Putus Sekolah”. (UNY, 2016).
10
melalui pelayanan sosialnya. Sehubungan beberapa permasalahan yang telah disebutkan dan mengingat betapa pentingnya pendidikan bagi masyarakat yang terkendala oleh beberapa faktor di atas, maka peneliti mengambil judul “Pelayanan Sosial Berbasis Layanan Luar Lembaga (Studi: Upaya Meminimalisir Anak Putus Sekolah Pada Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telas diuraikan oleh peneliti di atas maka rumusan masalah penelitian ini yaitu ?
1. Apa fungsi pelayanan sosial yang dilakukan oleh LKS Yayasan Senyum Kita?
2. Apa tujuan pelayanan sosial yang dilakukan oleh LKS Yayasan Senyum Kita?
3. Bagaimana proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh LKS Yayasan Senyum Kita?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah :
1. Untuk mengetahui apa fungsi pelayanan sosial yang dilakukan oleh LKS Yayasan Senyum Kita
2. Untuk mengetahui apa tujuan pelayanan sosial yang dilakukan oleh LKS Yayasan Senyum Kita
11
3. Untuk mengetahui bagaimana proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh LKS Yayasan Senyum Kita
D. Manfaat Penelitian
Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat di antaranya sebagai berikut :
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan ilmu pengetahuan baik secara umum maupun khusus bagi Ilmu Kesejahteraan Sosial terkait dengan pelayanan sosial dalam meminimalisir anak putus sekolah berbasis layanan luar lembaga.
2. Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dan evaluasi untuk lembaga lain dalam menangani masalah sosial terutama di bidang pendidikan khususnya dalam meminimalisir anak agar tidak sampai putus sekolah dan juga memberikan pelayanan sosial untuk anak agar terus melanjutkan jenjang pendidikannya.
E. Kajian Pustaka
Kajian pustaka atau telaah pustaka berisi mengenai tinjauan dari penelitian dan karya ilmiah terdahulu (buku, skripsi, tesis, disertasi, artikel, dan sebagainya).
Telaah pustaka sendiri berfungsi untuk mengulas posisi dan titik pijak peneliti di tengah penelitian terkait yang pernah dilakukan oleh peneliti lainnya.17
17 Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pedoman Penulisan Skripsi, (2014), hlm 15.
12
Mengenai kajian pustaka, peneliti menggunakan beberapa penelitian yang saling berkaitan dengan upaya meminimalisir anak putus sekolah yang di antaranya sebagai berikut:
Pertama dalam skripsi yang berjudul “Upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen Dalam Menanggulangi Anak Putus Sekolah” yang disusun oleh Sodiyah dan Suripno, S.H.,M.Pd. Penelitian ini memiliki tujuan menggambarkan upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam menanggulangi anak putus sekolah. Selain itu penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hambatan yang ditemui Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam menanggulangi anak putus sekolah.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa : upaya pemerintah Kabupaten Kebumen dalam menanggulangi anak putus sekolah sekolah dilakukan melalui, a) upaya preventif, meliputi pemberian bantuan beasiswa untuk siswa SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK yang berasal dari keluarga kurang mampu;
melaksanakan Program Keluarga Harapan; b) upaya kuratif, meliputi pelaksanaan Program Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan; c) upaya pembinaan, meliputi pelaksanaan kegiatan peningkatan keterampilan bagi anak putus sekolah luar balai sosial, kegiatan pendidikan kemasyarakatan; memberikan bantuan Usaha Ekonomi Produktif bagi anak terlantar luar panti; mengirimkan anak putus sekolah ke Balai Rehabilitasi Sosial Anak “Dharma Putera” Purworwjo dan Panti Sosial Marsudi Putera “Antasena”
Magelang. (2) Hambatan yang ditemui yaitu a) hambatan internal, yaitu hambatan dari pemerintah itu sendiri selaku subjek pelaksana yang berwujud: hambatan fisik
13
yaitu terkait dengan keterbatasan teknologi, hambatan organisasional yaitu terkait dengan mekanisme internal organisaai yang membatasi upaya yang dilakukan, hambatan distributif yaitu terkait pertentengan antara tuntutan efisiensi dengan tuntutan keadilan, dan hambatan anggaran; b) hambatan eksternal yaitu hambatan dari anak putus sekolah dan orangtua18.
Pembahasan di dalam penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan peniliti bahas, yakni mengulas bagaimana upaya pencegahan agar anak tidak putus sekolah. Adapun yang membedakan dengan penelitian yang akan peneliti ulas tertuju pada objek penelitiannya, dimana pada penelitian ini obyek yang dibahas adalah upaya LKS dalam meminimalisir anak putus sekolah melalui pelayanan sosialnya.
Kedua dalam skripsi yang berjudul “Upaya Orang Tua Mengatasi Anak Putus Sekolah Di Desa Suka Jaya” yang disusun oleh Hendriansyah, Yohanes Bahari, Izhar Salim. Penelitian ini untuk mengetahui upaya orang tua mengatasi permasalahan anak putus sekolah di Desa Suka Jaya Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang. Metode Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah kualitatif dengan bentuk penelitian deskriptif. Informan dari penelitian ini adalah 5 orang tua dan 5 orang anak putus sekolah. Dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi yang di laksanakan selama 1 bulan.
18 Sodiyah dan Suripno, Skripsi, “Upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam Menanggulangi Anak Putus Sekolah”. (UNY, 2016).
14
Upaya yang sudah dilakukan orang tua yakni dengan memberi motivasi atau dorongan kepada anak agar tetap bersekolah dengan cara: a). Memberikan nasehat serta memberitahu bahwa ilmu adalah hal yang penting; b). Memberi hadiah apa bila nilainya baik sebagai bentuk menghargai usaha anak; dan c). Kontrol orang tua terhadap anak dirasa kurang karena orang tua sibuk dengan pekerjaannya.
Pembinaan yang dapat dilakukan orang tua yakni 1). Mengajarkan nilai agama dan sopan santun; 2). Setiap hari minggu selalu mengajak anak untuk ibadah ke gereja;
3).Orang tua juga dapat membiasakan anak untuk ikut serta dalam kegiatan sosial seperti gotong royong, pada lamaran pernikahan; 4). Pekerjaan anak yang putus sekolah yaitu membantu orang tua noreh, bekerja sebagai supir dan bekerja di bengkel19.
Di dalam penelitian ini kesamaan pembahasan yang peneliti angkat yaitu membahas terkait upaya dorongan memotivasi anak agar tetap melanjutkan pendidikannya. Adapun yang membedakan dengan penelitian yang akan peneliti ulas yakni jika penelitian skripsi Hendriansyah membahas peran dan upaya orang tua mengatasi anak putus sekolah, sedangkan pada penelitian ini lebih mengkaji pelayanan sosial dalam meminimalisir anak putus sekolah di LKS Yayasan Senyum Kita.
Ketiga dalam skripsi dengan judul “Upaya Mengatasi Putus Sekolah Melalui Progam Kependidikan Di Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten
19 Hendriansyah, Yohanes Bahari, Izhar Salim, “Upaya Orang Tua Mengatasi Anak Putus Sekolah Di desa Suka Jaya”, Vol 3, No 9, (2014).
15
Pacitan, yang disusun oleh Ali Muhtarom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Apa yang melatarbelakangi banyaknya putus sekolah /DO di Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan ? (2) Progam pendidikan apa saja yang ada di Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan ? (3) Upaya apa saja yang sudah dilakukan pemerintah desa dalam mengatasi putus sekolah di Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan ?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode lapangan dan kepustakaan. Metode lapangan dengan melakukan teknik pengumpulan data yaitu dengan dokumentasi dan wawancara .
Hasil penelitian ini menunjukan adanya beberapa faktor penyebab anak putus sekolah di Kecamatan Jangka. Kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung menjadi faktor utama penyebab anak putus sekolah di Kecamatan Jangka. Selain faktor ekonomi faktor lingkungan juga menjadi penyebab anak-anak di Desa Bandar putus sekolah. Adapun pemerintah desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mengatasi banyaknya anak putus sekolah adalah dengan membuat progam kependidikan islam20.
Kajian dalam penelitian skripsi ini terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan diulas oleh peneliti yakni tertuju pada objek formal yang dibahas, secara sederhananya sama-sama mengulas tentang pendidikan dan fonemana putus sekolah. Sedangkan perbedaan dalam penelitian ini terletak pada fokus pembahasan yang dikaji, jika pada penelitian skripsi Ali Muhtarom fokus pembahasannya
20 Ali Muhtarom, Skripsi, “Upaya Mengatasi Putus Sekolah Melalui Progam Kependidikan Di Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan”, (STAIN Ponorogo, 2015).
hlm 1.
16
mengkaji terkait upaya mengatasi anak putus sekolah dengan memberikan progam- progam kependidikan melalui tokoh masyarakat dan tokoh agamawan, di penelitian ini lebih membahas upaya lembaga kesejahteraan sosial dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak agar tidak sampai putus sekolah.
Keempat dalam skripsi yang berjudul “Strategi Pengentasan Anak Putus Sekolah SMK di Kota Semarang”, yang disusun oleh Nur Khasanah. Dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama yaitu mengetahui faktor penyebab anak putus sekolah SMK di Kota Semarang serta tujuan penelitian kedua yaitu menyusun strategi yang dapat diprioritaskan untuk mengentaskan anak putus sekolah SMK di Kota Semarang diselesaikan menggunakan analisis hierarki proses (AHP).
Hasil dari penelitian ini yakni menyampaikan bentuk strategi dalam pengentasan anak putus sekolah SMK di Kota Semarang tersusun dari beberapa kriteria. Kriteria program yang diprioritaskan yaitu kriteria motivasi (0,310) merupakan kriteria yang diprioritaskan untuk pengentasan anak putus sekolah SMK di Kota Semarang. Kriteria berikutnya secara berurutan adalah kriteria sosial (0,302), kriteria ekonomi (0,195), dan kriteria kenyamanan di sekolah (0,192).
Adapun saran dalam penelitian ini antara lain orang tua/wali diharapkan memberikan pemahaman sejak dini agar anak termotivasi untuk terus belajar demi masa depanya, serta diharapkan untuk melakukan pengawasan pergaulan anak.
Memberikan sosialisasi pentingnya pendidikan, sosialisasi kesehatan seperti bahaya narkoba, pendidikan seks. Memperbanyak jumlah tenaga pendidik dan meningkatkan fasilitas infrastruktur sekolah, serta memberikan bantuan pendidikan
17
kepada siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu khususnya yang mengalami putus sekolah21.
Berdasarkan penjelesan di atas, penelitian ini memiliki fokus penelitian yang serupa dengan penelitian sebelumnya. Namun yang membedakan dari keempat penelitian sebelumnya adalah waktu penelitian, daerah atau tempat pelaksanaan penelitian, selain itu sampai penelitian ini dilakukan, peneliti belum menemukan penelitian yang berfokus kepada proses pelayanan sosial berbasis layanan luar lembaga dalam meminimalisir anak putus sekolah.
F. Kerangka Teori
Kerangka teori bisa dijelaskan sebagai tinjauan dan alat untuk mengetahui konteks sosial secara lebih luas dan mendalam22. Adapun di dalam kerangka teori ini akan menjelaskan teori yang sesuai dengan pembahasan penelitian.
1. Pelayanan Sosial
Pelayanan sosial merupakan suatu aksi (tindakan) yang digunakan untuk mengatasi permasalahan sosial dengan mengolah progam-program yang ditawarkan untuk bisa membantu individu dan kelompok yang mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara garis besar, pelayanan sosial merupakan suatu wujud kebijakan sosial dan bisa dinyatakan bahwa setiap
21 Nur Khasanah, Skripsi, “Strategi Pengentasan Anak Putus Sekolah SMK di Kota Semarang”, (UNNES, 2019).
22 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 213.
18
perundang-undangan dan peraturan juga menyangkut kehidupan sosial masyarakat.23
Pengertian pelayanan sosial memiliki banyak versi, menurut Kementrian Sosial, pelayanan sosial adalah bentuk suatu kegiatan yang dilaksanakan secara profesional untuk membant solusi dari permasalahan sosial yang dialami oleh individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan menggunakan pendekatan praktik pekerjaan sosial.24
Pengertian pelayanan sosial bisa dilihat dalam arti luas dan sempit. Dalam arti yang lebih luas dinyatakan oleh Khan: “Social services may be interpreted in an institutional context as consisting of programs made available by orther than market criteria to assure a basic level of helath education, welfare provision, to enhance communal living and individual functioning, to facilitate access to services and institutions generally, and to assist those in difficulty and need”, yang kurang lebih terjemahannya seperti berikut: Layanan sosial bisa diartikan dalam konteks kelembagaan dan terdiri dari program yang disediakan oleh atau di samping kriteria pasar untuk memastikan tingkat dasar pendidikan kesehatan, penyediaan kesejahteraan, untuk meningkatkan kehidupan bermasyarakat dan fungsi individu,
23 http://repository.uin-suska.ac.id/, (diakses pada tanggal 2 April pukul 18.00 WIB)
24 Setiyawati, Eni, and Santoso Tri Raharjo. "Proses Pelayanan Sosial Di Rumah Yatim At-Tamim Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung." Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 5, Nomor 1, Hal 29, (2016).
19
untuk memfasilitasi akses ke layanan dan lembaga pada umumnya, dan untuk menolong mereka yang terkendala oleh kesulitan dan membutuhkan.25
Sedangkan dalam arti sempit Muhidin memaknai pelayanan sosial sebagai pelayanan kesejahteraan sosial yaitu mencakup progam pertolongan kepada penyandang masalah sosial seperti anak terlantar, keluarga miskin, orang cacat, tuna susila, dan sebagainya. Pemahaman ini sering berkembang terutama di negara yang notabenenya berkembang. Misalnya di Amerika Serikat, pelayanan sosial digunakan sebagai suatu aktifitas yang terorganisir, betujuan sebagai pertolongan untuk orang-orang agar mendapatkan interaksi timbal balik antara individu dengan lingkungan sosialnya. Tujuan ini bisa tercapai melalui teknik dan metode yang diciptakan lewat tindakan-tindakan koorperatif untuk meningkatkan kondisi- kondisi sosial dan ekonomi.Sedangkan di Inggris, pelayanan sosial merangkum suatu komponen luas untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan dimana mereka hidup. Contohnya seperti memberikan perlindungan bagi kebutuhan yang tidak mampu dipenuhi oleh mereka sendiri. 26
Spicker seorang penulis Inggris memaparkan bahwa pelayanan sosial meliputi jaminan sosial, kondisi sosial, kesehatan, pekerjaan sosial, dan pendidikan.
Dari definisi di atas, kita bisa memahami bahwa bentuk pelayanan sosial ini
25 Setiyawati, Eni, Santoso Tri Raharjo, and Muhammad Ferdryansyah. "Pelayanan Sosial
Di Bidang Pendidikanpada Faith Based Organization (Studi Di Rumah Yatim At-Tamim Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung)." Share: Social Work Journal. Vol 3, Nomor 1, Hal 141, (2015).
26 Lutfi, dkk., Negara Kesejahteraan dan Pelayanan Sosial, (Malang:Intrans Publishing, 2015), hlm. 107.
20
diterapkan sebagai solusi dalam memecahkan persoalan bagi anak terlantar ataupun untuk mereka yang mempunyai keterbatasan dalam bidang ekonomi yang layak kita berikan bantuan serta pertolongan. Salah satu bentuk pelayanan sosial adalah program pendidikan yang dapat dilakukan oleh lembaga pelayanan sosial.27
2. Fungsi Pelayanan Sosial
Sebagai upaya meminimalisir anak putus sekolah, pelayanan sosial memiliki peran sebagai sumber perubahan kualitas diri yang bermanfaat bagi penerima layanan. Kebutuhan pendidikan anak bisa dibantu dengan progam layanan sosial yang diberikan oleh lembaga. Menurut Kahn terdapat tiga fungsi utama pelayanan sosial, yaitu :
A. Pelayanan-pelayanan untuk sosialisasi dan pengembangan B. Pelayanan-pelayanan untuk terapi, pertolongan, dan rehabilitasi.
C. Pelayanan-pelayanan untuk mendapat akses, informasi, dan nasihat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pelayanan sosial untuk pemenuhan pendidikan anak akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan penerima layanan dengan sarana prasarana yang memadai.28
Pelayanan sosial untuk sosialisasi dan pengembangan bisa diartikan sebagai pengadaan perubahan-perubahan dalam diri anak dan pemuda melalui
27 Setiyawati, Eni, Santoso Tri Raharjo, and Muhammad Ferdryansyah. "Pelayanan Sosial
Di Bidang Pendidikanpada Faith Based Organization (Studi Di Rumah Yatim At-Tamim Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung)." Share: Social Work Journal, Vol 3, Nomor 1, Hal 141, (2015).
28 Lutfi, dkk., Negara Kesejahteraan dan Pelayanan Sosial, (Malang:Intrans Publishing, 2015), hlm. 36,
21
program-program pemeliharaan, pendidikan (non formal) dan pengembangan.
Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitasi memiliki tujuan untuk menerapkan pertolongan kepada seseorang, baik secara individual maupun didalam kelompok atau keluarga dan masyarakat agar mampu mengatasi masalah-masalahnya. Sedangkan pelayanan sosial disini mempunyai fungsi sebagai “akses” untuk membentuk interaksi bimbingan yang sehat melalui berbagai program, sehingga beberapa progam pelayanan bisa berfungsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkannya. Pelayanan sosial bukan hanya pelayanan yang memberikan informasi, melainkan juga sebagai penghubung individu dengan sumber-sumber yang dibutuhkan dengan melakukan program-program rujukan. Fungsi tambahan dari pelayanan sosial yaitu membentuk partisipasi anggota masyarakat untuk mengatasi masalah- masalah sosial. Tujuannya bisa dalam bentuk terapi individual dan kelompok (untuk memberikan kepercayaan pada diri individu dan masyarakat) dan untuk mengatasi kendala-kendala sosial dalam pembagian politis, yakni membantu mendistribusikan sumber-sumber dan kekuasaan.29
3. Tujuan Pelayanan Sosial
Jika menengok dari segi tujuannya, pelayanan sosial mempunyai beberapa tujuan antara lain:
A. Untuk membantu individu atau kelompok agar bisa memperoleh atau bisa menggunakan pelayanan yang tersedia.
29 http://repository.uin-suska.ac.id/, (diakses pada tanggal 2 April pukul 18.00 WIB)
22
B. Untuk pertolongan dan rehabilitasi, dikenal adanya pelayanan terapi termasuk didalamnya adalah perlindungan dan perawatan, serta pelayanan yang dilakukan.
C. Untuk pengembangan, dikenal dengan pelayanan sosialisasi dan pengembangan.
Beberapa tujuan yang telah disebutkan di atas adalah tindakan utama yang perlu dilaksanakan untuk memperoleh tingakatan keberhasilan dari pelayanan sosial. Selain itu, pelayanan sosial juga memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik itu untuk pertolongan, pengembangan dan dapat membantu tercapainya penerima pelayanan sosial. Pencapaian tujuan yang dimaksud adalah untuk membantu individu secara sosial masyarakat agar memiliki kemandirian atau istilah lainnya bisa disebut sebagai seseorang yang telah mengalami keberfungsian sosialnya.30
Tujuan pelayanan sosial untuk anak adalah salah satu usaha dalam meningkatkan kesejahteraan anak, keluarga maupun orang-orang yang mengalami permasalahan sosial, baik di bidang kesehatan, pendidikan dan kemandirian. Edi Suharto menjelaskan tujuan pelayanan sosial untuk anak adalah membantu anak agar dapat tumbuh kembang secara optimal maka kebutuhan dasar anak harus terpenuhi, meliputi kebutuhan fisiologis, kasih sayang, pendidikan, kesehatan, perlindungan serta kesempatan yang menyangkut dirinya. Sehingga dari apa yang diungkapkan oleh Edi Suharto
30 http://repository.uin-suska.ac.id/, (diakses pada tanggal 2 April pukul 18.00 WIB)
23
kita bisa menarik kesimpulan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar anak bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak.31
4. Proses Layanan Sosial
Secara umum proses pertolongan dalam pelayanan sosial mengacu pada proses praktik pekerjaan sosial yang memerlukan beberapa tahapan. Siporin menjelaskan tahapan pertolongan sosial secara profesional sebagai berikut32:
A. Tahapan Engagement, Intake dan Kontrak
Kontak awal pekerja sosial dengan penerima layanan, pertukaran, mengenai kebutuhan penerima layanan dan mensosialisasikan pelayanan yang diberikan lembaga sosial dalam membantu memenuhi pemenuhan kebutuhan yang pada akhirnya dapat dibantu suatu kontrak antara pekerja sosial dan penerima layanan.
B. Tahap Assesment
Proses pemahaman dan pengungkapan masalah-masalah penerima layanan. Dalam kegiatan ini pekerja sosial melakukan identifikasi masalah dan kebutuhan, menentukan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam upaya pemecahan masalah, mengumpulkan menganalisis data serta merumuskan masalah yang dihadapi penerima layanan.
31 Setiyawati, Eni, Santoso Tri Raharjo, and Muhammad Ferdryansyah. "Pelayanan Sosial Di Bidang Pendidikan pada Faith Based Organization (Studi Di Rumah Yatim At-Tamim Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung)." Share: Social Work Journal, Vol 3, Nomor 1, Hal 142, (2015).
32 Lutfi, dkk., Negara Kesejahteraan dan Pelayanan Sosial, (Malang:Intrans Publishing, 2015), hlm. 38-39.
24
C. Tahap Perencanaan
Proses perencanaan merupakan proses rasional yang disusun dan dirumuskan oleh pekerja sosial, meliputi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah penerima layanan, tujuan pemecahan masalahnya, sasaran serta cara-cara pemecahan masalah.
D. Tahap Intervensi
Berdasarkan rencana intervensi, maka pekerja sosial melakukan kegiatan pemecahan permaslahan klien. Dalam penerapannya intervensi ini, pekerja sosial diharuskan untuk melibatkan penerima layanan secara aktif pada setiap kegiatan yang dilaksanakannya.
E. Tahap Evaluasi dan Terminasi
Pada tahap evaluasi pekerja sosial melaksanakan penilaian kembali semua kegiatan pertolongan yang telah dilaksanakan untuk melihat tingkat keberhasilan ataupun kendala-kendalanya. Sedangkan terminasi merupkan tahap pengakhirannya kegiatan pertolongan pekerja sosial yang dilaksanakan bertujuan apabila tujuan pertolongan telah tercapai atau penerima membutuhkan referral ke lembaga lain.
G. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu pijakan untuk mencapai penelitian yang sesuai sistematika prosedur penelitian dan cara yang terukur dalam penelitian.
Metode penelitian ini sangat penting. Menurut Arief Furchan metode penelitian
25
adalah bagian rencana yang strategis dalam pengumpulan dan analisis data dalam menjawab permasalahan yang dihadapi33.
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipakai didalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif Deskriptif. Penelitian Kualitatif merupakan pengumpulan data dengan latar alami untuk menafsirkan fenomena yang terjadi, dimana pada penelitian ini intrumen kunci adalah peneliti itu sendiri.
Penelitian kualitatif banyak dipakai dalam penelitian di bidang sosial.
Penelitian ini menekankan pada pemahaman tentang masalah yang terjadi dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas yang holistic, kompleks dan rinci. Penelitian Kualitatif Deskriptif dilakukan dengan karakteristik yang mendeskripsikan secara mendalam suatu fakta atau kejadian yang sebenarnya dan dibuat laporan kejadian dengan suatu interpretasi ilmiah34.
Melalui penelitian Kualitatif Deskriptif, peneliti akan fokus membahas tentang upaya dalam meminimalisir anak putus sekolah berbasis layanan luar panti yang ada di Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Pada pembahasannya, peneliti juga akan mengkaji terakit baik dari fungsi, tujuan sampai proses pelayanan sosial
33 Andi Prastowo, Memahami Metode-Metode Penelitian: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praksis (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 18.
34 Albi Anggito & Johan Setiawan, S.Pd, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat : CV Jejak, 2018), hlm. 8-10.
26
yang diterapakan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita Yogyakarta dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak asuh agar tidak sampai putus sekolah dan tetap melanjutkan pendidikannya.
Selanjutnya, pada proses pengumpulan data, penulis akan melakukan beberapa kegiatan diantaranya, melakukan kegiatan observasi, wawancara dengan narasumber serta pengambilan dokumentasi tentang proses pelayanan sosial di LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta.
2. Lokasi Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan mempunyai pemilihan setting tempat atau lokasi yang berbeda-beda. Lokasi identik dengan tempat penelitian dan menjadi salah satu pembeda di antara satu penelitian dengan penelitian lainnya. Lokasi atau tempat (place) menurut Spradley merupakan bagian dari situasi sosial (social situation)35. Lokasi atau tempat penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti yaitu di Rumah Senyum Kita, Blimbingsari RT 02, RW15, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian kualitatif biasa disebut dengan istilah informan. Informan merupakan orang yang memberikan informasi mengenai data yang yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti. Dalam sebuah penelitian, subjek merupakan orang
35 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, hlm. 215.
27
yang memiliki peran penting dan strategis karena subjek peneltian itulah merupakan data tentang variabel penelitian yang akan diteliti36. Subjek penelitian merupakan orang yang menjawab pertanyaan penelitian melalui wawancara, tanya jawab maupun dialog37. Sehingga dari teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian adalah individu yang akan memberikan informasi dengan menjawab pertanyaan melalui wawancara mengenai penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Subjek penelitian atau informan dalam penelitian ini adalah Mas Watsiq Yasar selaku Direktur Utama LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta, berikutnya untuk mengembangkan informasi yang diperoleh, informan kedua adalah Mas Mujahidin selaku Manager Progam LKS Yayasan Senyum Kita, ketiga Ibuk Amelia selaku orang tua anak asuh penerima bantuan besiswa pendidikan LKS YSK, keempat Mbah Bara selaku kakek anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan LKS YSK, kelima Ibuk Retno selaku orang tua anak asuh peneriman bantuan pendidikan di LKS YSK, ketujuh Dek Aji Suseno selaku anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan di LKS YSK, kedelapan Mbak Mayangsari selaku anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan di LKS YSK, kemudian yang kesembilan Mbak Auliasari selaku relawan penyalur beasiswa pendidikan di LKS YSK.
36 Muh. Fitrah dan Luthfiyah, Metodologi Penelitian; Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas
& Studi Kasus, (Jawa Barat : CV Jejak, 2017), hlm. 152.
37 Ahmad Tohardi, Buku Ajar Pengantar Metodologi Penelitian Sosial + plus, (Pontianak:
Tanjungpura University Press, 2019), hlm. 491.
28
4. Objek Penelitian
Menurut Fitrah dan Luthfiyah (2018), objek penelitian merupakan sesuatu yang akan diselidiki oleh peneliti selama kegiatan penelitian38. Pada kegiatan penelitian ini yang menjadi Objek dalam penelitian adalah progam dan proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Senyum Kita Yogyakarta..
5. Metode Pengumpulan Data
Didalam penelitian ini peneliti memakai beberapa metode pengumpulan data agar data yang dihasilkan lengkap dan akurat. Beberapa metode pengumpulan data yang diterapkan adalah sebagai berikut :
a. Metode Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk metode yang dipakai untuk mengumpulkan data, dimana peneliti memperoleh keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (informan), atau berdialog berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face)39. Wawancara yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin. Wawancara bebas terpimpin adalah kombinasi dari wawancara terpimpin dan
38 Muh. Fitrah dan Luthfiyah, Metodologi Penelitian; Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas
& Studi Kasus, (Jawa Barat : CV Jejak, 2017), hlm. 156.
39 Soekidjo Notoatmodjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), hlm.139.
29
wawancara tidak terpimpin. Sehingga dalam wawancara bebas terpimpin peneliti dapat mengembangkan pertanyaan dan tidak hanya berdasarkan pedoman wawancara.40 Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat tentang bagaimana progam dan proses pelayanan sosial yang ada di LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Pengumpulan data dengan metode wawancara, akan dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih dalam dari lima informan, yaitu Mas Watsiq Yasar selaku Direktur Utama LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta, berikutnya untuk mengembangkan informasi yang diperoleh, informan kedua adalah Mas Mujahidin selaku Manager Progam LKS Yayasan Senyum Kita, ketiga Ibuk Amelia selaku orang tua anak asuh penerima bantuan besiswa pendidikan LKS YSK, keempat Mbah Bara selaku kakek anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan LKS YSK, kelima Ibuk Retno selaku orang tua anak asuh peneriman bantuan pendidikan di LKS YSK, ketujuh Dek Aji Suseno selaku anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan di LKS YSK, kedelapan Mbak Mayangsari selaku anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan di LKS YSK, kemudian yang kesembilan Mbak Auliasari selaku relawan penyalur beasiswa pendidikan di LKS YSK. Wawancara ini dilakukan guna menggali terkait fungsi, tujuan, dan proses pelayanan sosial.
40 Ibid, hlm.141.
30
b. Metode Observasi
Observasi atau pengamatan adalah suatu bentuk susunan rencana dengan melihat, mendengar dan mencatat sejumlah dan taraf aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.41 Menurut keterlibatan peneliti, observasi dibagi menjadi 4 kelompok yaitu keterlibatan pasif, setengah-setengah, aktif dan penuh/lengkap. Keterlibatan pasif yaitu peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang yang diteliti dan tidak terjadi interaksi sosial dengan pelaku yang diamati. Keterlibatan setengah-setengah yaitu peneliti mengambil kedudukan dalam 2 hubungan struktural yang berbeda, antara menjadi struktur yang menjadi wadah bagi kegiatan yang diamati dan struktur dimana pelaku sebagai pendukung, keterlibatan aktif yaitu peneliti ikut mengerjakan apa yang dilakukan informan dalam kegiatannya. Sedangkan keterlibatan penuh/lengkap yaitu apabila peneliti menjadi bagian dari kegiatan dari informan yang diteliti.42
Metode observasi digunakan untuk melihat progam-progam dan proses pelayanan sosial yang diberikan dan disediakan oleh LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Berdasarkan teori yang ada, maka pengumpulan data dengan metode observasi yang dilakukan
41 Ibid, hlm.131.
42 Mamik, Metodologi Kualitatif, (Sidoarjo : Zifatama, 2015), hlm. 105-106.
31
peneliti menggunakan teknik keterlibatan aktif. Keterlibatan aktif dipilih untuk memperoleh data yang lebih lengkap dan akurat terkait bagaimana progam dan proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Melalui observasi ini peneliti mencoba untuk melihat dan terjun langsung di lapangan bagaimana jalannya progam dan proses pelayanan sosial di di LKS Yayasan Senyum Kita.. Dalam memperkuat temuan observasi yang dilakukan pada penelitian ini, maka peneliti juga melakukan kunjungan secara langsung di Rumah Yayasan Senyum Kita, dan beberapa rumah anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan dari LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta.
c. Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumentasi adalah salah satu metode dari pengumpulan data pada penelitian kualitatif yang dilakukan dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau orang lain tentang subjek 43
Metode dokumentasi untuk mendukung dan melengkapi data agar lebih valid serta akurat. Pada penelitian ini dilakukan dengan
43 Albi Anggito dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat : CV Jejak, 2018), hlm. 152-153.
32
mengambil foto secara lansung di Rumah Yayasan Senyum Kita, dan beberapa rumah anak asuh penerima bantuan beasiswa pendidikan di LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Pengambilan foto dan data juga bersumber dari dokumen seperti data berbentuk softcopy, foto, media elektronik, website dan lainnya yang terkait dengan progam dan proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta.
6. Metode Analisis Data
Analisis data adala serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengubah data yang diperoleh dari hasil penelitian menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan44. Menurut Miles dan Huberrman yang dikutip Albi Anggito dan Johan Setiawan dalam buku yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif, kegiatan analisis data terdiri dari tiga alur yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.45
Terdapat 2 jenis data yaitu data primer dan data sekunder, data primer dari penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil observasi pada infrastruktur dan suprastruktur serta wawancara kepada informan kunci (key informan) serta anak asuh dan keluarga dari penerima bantuan beasiswa pendidikan di LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Data sekunder adalah data yang didapatkan dari buku, laporan, jurnal, dan lain-lain yang mendukung dan relevan dengan tema penelitian
44 Ade Ismayani, Metodologi Penelitian, (Aceh : Syiah Kuala University Press, 2019), hlm.77.
45 Albi Anggito dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat : CV Jejak, 2018), hlm. 152-243.
33
ini. Dalam penelitian ini, langkah-langkah dalam menganalisis data hasil penelitian adalah sebagai berikut:
a. Data Reduction (reduksis data)
Menurut Miles dan Huberrman dalam Anggito dkk (2018), reduksi data merupakan bentuk analisis yang digunakan untuk menajamkan, mengarahkan, membuang datang yang tidak diperlukan serta mengorganisasikan data dengan sedemian rupa sehingga dapat ditarik kesimpulan dan diverifikasi. Pada saat reduksi data, terdapat kegiatan pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan di lapangan.46
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan reduksi data dengan cara memilih dan memilah data yang diperlukan dalam penelitian. Kriteria data dalam penelitian ini terkait dengan fungsi, tujuan dan proses pelayanan sosial yang diterapakan oleh LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta. Hal ini dilakukan karena data yang diperoleh dari proses pengambilan data sangat banyak dan tidak semua data dibutuhkan untuk penelitian ini. Sehingga perlu adanya reduksi data agar agar yang diolah benar- benar data yang dibutuhkan dan sesuai dengan judul penelitian ini.
b. Data Display (Penyajian Data)
46 Ibid, hlm. 243-244.
34
Sajian data merupakan suatu rangkaian mengorganisasikan informasi untuk dapat ditarik kesimpulan penelitian. Miles dan Huberrman membatasi penyajian data sebagai sekumpulan informasi yang tersusun sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan adanya penyajian data, akan lebih mudah dipahami tentang kejadian yang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan pemahaman yang didapat dari penyajian tersebut.47Dalam penelitian ini, peneliti menyajikan data dalam bentuk deskriptif mengenai proses pelayanan sosial yang diterapkan oleh LKS Yayasan Senyum Kita Yogyakarta.
c. Kesimpulan dan Verikasi
Kesimpulan dan Verikasi adalah bagian dari kegiatan konfigurasi yang utuh (Miles&Huberrman, 2007:18). Pertama memulai pengumpulan data, seorang penganalisis akan mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, penjelasan konfigurasi, alur sebab-akibat, proporsi. Peneliti akan menarik kesimpulan secara luas, tetap terbuka dan skeptic, tetapi kesimpulan sudah disediakan48. Dalam penelitian ini, kesimpulan dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah diajukan kepada para narasumber. Selain itu, penarikan kesimpulan yang peneliti lakukan juga mempertimbangkan temuan data di lapangan dengan melakukan kegiatan pengamatan dan dokumentasi, yang di mana hal tersebut
47 Ibid, hlm. 248-249.
48 Ibid., hlm. 249.