Pengelola kereta api bawah tanah Shanghai melakukan
kampanye pencegahan pelecehan wanita melalui mikroblognya.
Mereka menerbitkan foto seorang wanita yang mengenakan pakaian super tipis sehingga pakaian dalamnya terlihat jelas.
Keterangan foto tersebut cukup membuat panas publik, kira- kira maknanya begini, “di subway, berpakaian seperti ini, aneh jika tidak diganggu”.
“Sulit menghindari orang-orang usil, wahai para gadis, jadi tolong hargailah dirimu sendiri”, lanjut anjuran resmi pengelola kereta bawah tanah.
Pelecehan Pada Wanita, Sebenarnya Salah Siapa?
3 0 J U N I 2 0 1 2 N A D I K U
Ketika membaca berita ini, saya sangat setuju dengan pendapat pengelola Metro Shanghai bahwa wanita harus menjaga
kesopanannya agar tidak mengundang pelecehan terhadap dirinya sendiri. Namun tidak demikian dengan pihak kontra yang merasa dirugikan akan himbauan ini.
“Kalau mau dewasa kendalikan libido masing-masing lah. Masa gara-gara orang yang gk becus ngendaliin diri sendiri, orang lain dibatas-batasi”, respon salah seorang pembaca.
Kaum pria yang tak terima merasa wanita lah yang seharusnya menjaga diri, bagaimana pun juga tak semua orang bisa mengendalikan diri jika dihadapkan pada ‘pemandangan indah’
ini. Begitu seterusnya, perdebatan ini tak akan ada ujungnya antara pihak yang menyalahkan pria yang tidak mengendalikan dirinya dan pihak yang menyalahkan wanita yang mengundang pelecehan itu sendiri.
Jadi, sebenarnya ini salah siapa?
Bukan “ini salah siapa” yang harusnya kita kaji, tapi “ini kewajiban siapa” yang harus sama-sama kita pahami. Bahwa kedua belah pihak memiliki kewajiban masing-masing dalam mencegah terjadinya pelecehan seksual terhadap wanita khususnya di tempat-tempat umum.
Saya wanita dan saya tidak merasa dirugikan sama sekali.
Untuk wanita yang suka mengekspose lekuk tubuhnya sendiri, sadarlah.. Bukan kemuliaan yang kita dapatkan, malah harga diri kita yang rendah di mata para lelaki. Ibarat strata sosial di masyarakat, semakin mulia kedudukan seorang wanita, semakin tinggi harga dirinya, dan semakin jauh ia dari
pandangan lelaki biasa. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menjangkau interaksi dengannya. Ibaratkan intan, permata, atau mahkota yang paling mahal harganya, tak semua orang bisa menjangkau menyentuhnya. Begitu juga wanita, ia bukan barang sembarangan yang dengan murahnya dilihat dan disentuh. Bagaimana caranya pria memuliakan kita jika kita sendiri, para wanita, tidak memuliakan diri sendiri?
Pihak lelaki juga mempunya kewajiban yang sama untuk menjaga dirinya sendiri, atau lebih tepatnya mengendalikan dirinya sendiri. Walau sekeras apapun usaha wanita untuk menjaga dirinya sendiri jika pikiran kotor itu telah menguasai, tetap saja pelecehan terjadi. Logika yang sama juga berlaku untuk pria, Bagaimana perasaanmu jika ibu yang setengah mati melahirkanmu, istri yang sangat mencintaimu, tantemu, kakak perempuan yang memanjakanmu, bahkan adik perempuanmu
dilecehkan oleh orang lain. Marah?? Pasti jauh lebih dahsyat dari sekedar perasaan marah. Kalau pembunuhan dilegalkan, mungkin sudah kalian bunuh pelaku tersebut. Selalu ingat mereka, selalu jaga kehormatan mereka, juga kehormatan para wanita lain.
Ketika terjadi pelecehan karena pakaian wanita cukup
mengundang, wanita patut disalahkan, namun hakikatnya pria juga tidak 100% tidak bersalah. Namun ketika wanita telah menjaga kesopanannya dan tetap terjadi pelecehan, pria patut disalahkan 100%. Bukannya memihak, tapi saya lebih
menekankan bahwa kedua belah pihak memiliki kewajibannya masing-masing.
Nah, ketika kedua pihak telah melaksanakan kewajiban masing- masing, wanita berpakaian sopan dan pria mengendalikan dirinya sendiri, tidak akan pernah terjadi yang namanya pelecehan seksual dan sebagainya.