ARTIKEL ILMIAH
“URGENSI MELEK TEKNOLOGI BAGI PELAKU EKONOMI DI TANAH PAPUA”
TUGAS KELOMPOK
Disusun dalam rangka menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah ekonomi informasi
Dosen pengampuh: Roberth M.W.S.T Marbun, SE, MA
Disusun oleh:
No. Nama Nim
1 ISMAIL URSAID R 2022041024012
2 MARTHA MONICA IMBAB 2022041024106
3 MELIN YIKWA 2022041024109
4 FRENGKI INYOMUSI 2022041024103
5 WALEK AUD 2022041024072
UNIVERSITAS CENDRAWASIH PAPUA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGAM STUDI ILMU EKONOMI 2024.
ABSTRAK
Pengembangan ekonomi kerakyatan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas pembangunan khususnya di bidang ekonomi. Pengembangan ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan potensi Usaha Mikro Kecil Menengah selama ini belum memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.
Tujuan studi untuk melihat sejauh mana pengembangan ekonomi kerakyatan di Provinsi Papua, dan merumuskan strategi pengembangan ekonomi kerakyatan di Provinsi Papua. Menggunakan analisis SWOT, menggunakan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menujukan pengembangan ekonomi kerakyatan di Provinsi Papua belum dapat dilaksanakan secara maksimal karena dipengaruhi oleh beberapa kelemahan dan kendala teknis lainnya seperti kekurangan modal usaha, peralatan yang masih sederhana, kualitas dan kuantitas produk yang rendah, sulitnya akses pasar dan lemahnya jiwa kewirausahaan khususnya bagi masyarakat/pelaku ekonomi rakyat asli Papua.
Pengembangan ekonomi kerakyatan dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran Usaha mikro dan menengah dan Koperasi/KUD karena masyarakat dengan mudah dapat dilibatkan dalam kedua wadah ekonomi tersebut. Pengembangan ekonomi kerakyatan dapat dilakukan dengan : Peningkatan kualitas dan kuantitas produk lokal agar dapat bersaing dengan pasar regional dan internasional, pemberian dana stimulan untuk modal usaha bagi para pelaku ekonomi rakyat dengan memanfaatkan dana OTSUS, dan APBN, Peningkatan SDM pertanian melalui dukungan sektor swasta (mitra usaha) dan permodalan dari lembaga perbankan. Untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki dalam pengembangan ekonomi kerakyatan maka dapat dilakukan melalui:
Meningkatkan kualitas SDM pelaku ekonomi rakyat melalui pendidikan non formal/pelatihan, pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan bagi para tenaga pendamping, pemberian modal usaha dan peralatan pertanian dengan memanfaatkan teknologi tepat guna (TTG), meningkatkan peran Usaha Mikro Kecil Menengah dan koperasi sampai ke seluruh kabupaten/kota, Pemanfaatan dana program untuk kegiatan ekonomi produktif. Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan memiliki peluang berupa meningkatkannya kualitas dan kuantitas produk lokal yang
berdaya saing, masyarakat tidak selalu mengantungkan pada bantuan modal pemerintah, pelaku ekonomi kerakyatan tidak selamanya tergantung pada tenaga pendamping.
PENDAHULUAN
Perkembangan dunia di akhir abad ke-20 ditandai dengan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat sehingga menghasilkan suatu revolusi teknologi baru setelah teknologi mesin uap dan teknologi tenaga listrik. Dikatakan sebagai suatu revolusi karena merupakan suatu teknologi serbaguna (general purpose technology) yang berpengaruh terhadap teknologi-teknologi lain serta
menyebabkan perubahan tatanan yang cukup mendasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Teknologi ini masih berkembang pesat dan dipercaya belum kelihatan titik jenuhnya dalam beberapa dekade mendatang. Perkembangan tersebut sangat menggembirakan karena
kemampuan teknologi yang semakin meningkat membawa dampak antara lain pada penurunan harga yang semakin drastis. Dengan demikian pemanfaatannya menjadi semakin layak dan semakin jauh merasuki kegiatan manusia dan
organisasi, mengubah pola kehidupan dan pola kerja, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dan memengaruhi tatanan sosial. Teknologi informasi, yang sebenarnya merupakan suatu perpaduan sejumlah teknologi, telah memungkinkan terjadinya internet working yang menyebabkan faktor jarak dan waktu menjadi kurang berarti. Informasi dapat mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain dengan kecepatan cahaya dan dapat dimanfaatkan untuk konsolidasi, koordinasi, dan kolaborasi yang mampu menghasilkan tindakan-tindakan dengan pertimbangan keuntungan skala global.
Melalui internet working tersebut dapat disebarkan informasi dalam jumlah besar secara gencar untuk membentuk opini publik secara global terhadap suatu tindakan yang telah, sedang, dan akan dilakukan untuk menghasilkan manfaat yang sepenuhnya dikendalikan oleh penyebar informasi. Teknologi informasi telah membawa dunia menuju ke era informasi, di mana informasi merupakan salah satu sumber daya paling penting sehingga harus dikelola dengan baik untuk tujuan-tujuan tertentu yang menguntungkan pelakunya. Dengan
kecepatan pengumpulan dan penyebarannya yang sangat tinggi, informasi sangat mungkin difungsikan sebagai suatu senjata strategis dalam
memenangkan persaingan global. Informasi berada pada garda depan dalam pertempuran kompetisi, mendahului aset-aset yang lain.
Wacana transformasi digital di sektor publik terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi COVID-19, yang memaksa masyarakat untuk cepat beradaptasi dengan sistem online, serta revolusi digital dan perubahan iklim menjadi triple distruption yang memperkuat arus wacana transformasi digital.
Dalam rangka inovasi daerah, pemerintah Provinsi Papua telah menerapkan Sistem Informasi Orang Papua (SIO PAPUA) sebagai sistem database elektronik data kependudukan, sosial, dan ekonomi setiap penduduk dalam satu kampung. Inovasi ini diharapkan menyediakan data yang dibutuhkan pemangku kepentingan sebagai langkah optimalisasi implementasi Otonomi Khusus (Otsus) di Papua.
Namun, transformasi digital di Papua masih menghadapi tantangan yang kompleks, seperti masih kuatnya pengaruh adat, rendahnya budaya berpemerintahan, tingginya ancaman keamanan, tingginya tingkat kesulitan geografis, dan tingginya kesenjangan digital. Masalah tersebut bahkan masih ditemukan setelah puluhan tahun Papua menjadi bagian Indonesia.
Padahal salah satu aspek penting yang seharusnya ditopang oleh transformasi digital adalah sistem kependudukan, yang berperan penting dalam pembangunan daerah. Sayangnya, di Papua, isu kependudukan justru masih menjadi dinamika tersendiri yang belum terselesaikan.
Berdasarkan uraian di atas maka penting untuk mengetahui gambaran umum tentang keberadaan UMKM pasca pandemi covid-19 secara umum di papua dan kota jayapura pada khususnya melihat bagaimana penggunaan media digital oleh UMKM dalam menjalankan usaha yang di kota jayapura hal ini juga begitu tidak mendapat informasi terbaru terkait gerakan pergi digital UMKM yang dilakukan oleh pemerintah kota jayapura kajian ini juga sebagai bentuk tanggung jawab akademinya di papua untuk mengembangkan dan
meningkatkan sumber daya manusia potensi daerah papua melalui aktivitas masyarakat yang mereka yaitu UMKM.
Digitalisasi program UMKM merupakan program pemerintah yang sedang digunakan di seluruh Indonesia tujuan agar pelaku umkm dapat mengembangkan teori pasar dan dapat meningkatkannya pendapatan permasalahan utama yang di alami di seluruh wilayah Indonesia masih rendahnya digital masyarakat dan minimnya infrastruktur layanan sebuah internet terlebih lagi wilayah di luar papua pulau jawa yang mengalami kesulitan akses internet. Provinsi papua setelah melakukan aktivitas normal baru maka aktivitas perekonomian mulai berjalan dengan baik kembali perekonomian di papua mulai beraktivitas lagi pada tahun 2022.
Penganekaragaman usaha dan pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG) Dari hasil studi juga diketahui bahwa selain permasalahan di atas, masalah penganekaragaman usaha (diversity product) dan pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG) juga belum berjalan dengan baik. Pelaku usaha ekonomi
kerakyatan di provinsi Papua juga masih didominasi oleh masyarakat pendatang yang sudah lama berdomisili di Papua dengan kualitas SDM yang lebih baik jika dibandingkan dengan masyarakat pribumi yang secara naluri juga masih sangat rendah dalam berusaha, rendahnya naluri atau jiwa kewirausahaan ini selain karena tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata masih rendah juga dipengaruhi oleh budaya setempat sehingga berdampak terhadap produktivitas mereka.
Upaya pengembangan usaha ekonomi kerakyatan dapat juga dilaksanakan dengan penganekaragaman usaha dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG). Sebagai contoh kasus, di mana pelaku usaha masyarakat asli Papua pada umunya hanya sebagai penjual pinang, ikan asar, ikan segar, jualan sayur, roti bakar, keladi bakar, buah-buahan lokal dan sebagainya yang sudah turun temurun dengan pemasaran pun masih terbatas pada pasar-pasar tradisional.
Kesan yang didapati bahwa tidak ada upaya penganekaragaman usaha dari para pelaku usaha ini belum berjalan dengan baik, misalnya ikan segar jika dengan memanfaatkan teknologi tepat guna (TTG) maka akan diolah selain menjadi ikan asar, juga dapat dikembangkan menjadi abon ikan, kerupuk, bakso, ikan asin dan lainnya dan diupayakan untuk dapat bersaing dengan produk lain di pasar modern (super market) sehingga akan memberikan nilai tambah dari produk tersebut, begitu juga dengan potensi ekonomi lainnya seperti sagu, buah merah, buah matoa dan sebagainya yang merupakan potensi khas Papua.
Permasalahan yang dihadapi pelaku usaha secara umum maupun khususnya masyarakat asli Papua dalam penganekaragaman usaha dan pemanfaatan TTG juga masih perlu dukungan pemerintah dan swasta serta lembaga
keuangan/perbankan. Salah satu faktor yang menghambat masyarakat pelaku ekonomi kerakyatan untuk berkembang adalah faktor peralatan usaha dan akses pasar yang masih sangat terbatas selain modal usaha. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan regulasi yang secara khusus mengatur mekanisme ini dengan cara memfasilitasi atau meminta dukungan sektor swasta/pengusaha besar dalam bentuk mitra usaha untuk mendukung pelaku ekonomi rakyat dari alat produksi (TTG) sampai pada menyiapkan lokasi secara khusus bagi hasil usaha masyarakat untuk dapat akses pemasaran ke pasar-pasar modern (super market).
Salin itu dapat juga melalui peningkatan wira usaha baru bagi masyarakat asli sebagaimana amanat Undang-undang otonomi khusus (OTSUS) dan penjabaran dari RPJMD provinsi Papua tahun 2013- 2018.
tingginya tantangan geografis.
Konektivitas wilayah di Papua masih menjadi permasalahan serius. Cakupan wilayah Papua yang luas dan kondisi geografis yang ekstrem menjadi salah satu tantangan mewujudkan pelayanan publik berkualitas. Tantangan tersebut juga berdampak pada semakin tingginya biaya koordinasi dalam pelaksanaan program pembangunan di berbagai bidang
tingginya kesenjangan digital.
Sebagian besar layanan internet di Papua disediakan oleh Very Small Aperture Terminal (VSAT) yang merupakan stasiun pemancar sinyal antena berbentuk parabola kecil. Akibatnya, layanan internet masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan perkantoran di ibukota kabupaten dan belum memenuhi kebutuhan di distrik.
Persoalan tersebut juga disebabkan minimnya ketersediaan sarana komunikasi BTS dan rendahnya akses darat antar wilayah yang kemudian menyebabkan mahalnya pembangunan sarana dan prasarana telekomunikasi dan internet di daerah terpelosok.
Persoalan transformasi digital ini menyebabkan lemahnya sistem pendataan penduduk di Papua yang akhirnya kerap melahirkan masalah baru.
Kualitas dan kuantitas produk usai usaha yang berkelanjutan
Upaya pengembangan ekonomi kerakyatan di provinsi Papua memang
menghadapi banyak permasalahan. Dari hasil studi juga diketahui bahwa salah satu permasalahan utama adalah kualitas dan kuantitas produk masyarakat pelaku ekonomi kerakyatan baik berupa UMKM maupun yang lainnya. Salin karena kualitas yang kalah bersaing dengan produk usaha dari luar Papua. Juga masalah kemampuan produksi yang berkelanjutan. Sebagai contoh kasus adalah petani rumput laut di Distrik Sariwanderi Kabupaten Yapen Papua, yang tidak mampu menyediakan produk rumput laut secara berkelanjutan kepada salah satu perusahaan yang dijadikan mitra usaha. Sehingga pada akhirnya usaha ini tidak dapat berjalan dengan baik. Begitu juga dengan usaha ikan bandeng di Holtekam Muara Tami Kota Jayapura yang akhirnya tidak mampu bersaing dengan produk ikan bandeng produksi dari luar Papua karena kalah bersaing dalam hal kualitas dan harga. Ini semua perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam kebijakan terkait pembinaan dan pendampingan yang kontinu serta dukungan modal usaha yang maksimal, karena sebenarnya kita di Papua memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Dan jangan kita hanya sebatas pada bangga dengan potensi tersebut tapi bagaimana mengembangkannya.
Berdasarkan hasil studi dan pembahasan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : Pengembangan ekonomi kerakyatan di provinsi Papua belum dapat dilaksanakan secara maksimal karena dipengaruhi oleh beberapa kelemahan dan kendala teknis lainnya seperti kekurangan modal usaha, peralatan yang masih sederhana, sulitnya akses pasar dan lemahnya jiwa kewirausahaan khususnya bagi masyarakat/pengusaha asli Papua.
Pengembangan ekonomi kerakyatan dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran UMKM dan Koperasi /KUD karena masyarakat dengan mudah dapat dilibatkan dalam kedua wadah ekonomi rakyat tersebut. Pengembangan ekonomi kerakyatan dapat dilakukan dengan: Peningkatan kualitas dan kuantitas produk lokal agar dapat bersaing dengan pasar regional dan internasional, pemberian dana stimulan untuk modal usaha bagi para pelaku ekonomi rakyat dengan memanfaatkan dana OTSUS, dan APBN, Peningkatan SDM pertanian melalui dukungan sektor swasta (mitra usaha) dan permodalan dari lembaga perbankan. Untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki dalam pengembangan ekonomi kerakyatan maka dapat dilakukan melalui:
Meningkatkan kualitas SDM pelaku ekonomi rakyat melalui pendidikan non formal/pelatihan, pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan bagi para tenaga pendamping, pemberian modal usaha dan peralatan pertanian dengan memanfaatkan teknologi tepat guna (TTG), meningkatkan peran UMKM dan koperasi sampai ke seluruh kabupaten/kota, Pemanfaatan dana program untuk kegiatan ekonomi produktif Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan memiliki peluang berupa meningkatkannya kualitas dan kuantitas produk lokal yang berdaya saing, masyarakat tidak selalu mengantungkan pada bantuan
modal pemerintah, pelaku ekonomi kerakyatan tidak selamanya tergantung pada tenaga pendamping. Sementara itu saran atau rekomendasi dari studi ini adalah:
Program pengembangan ekonomi kerakyatan sebaiknya dilakukan melalui pemanfaatan sarana kelembagaan ekonomi berupa UMKM dan Koperasi/KUD.
Pengembangan ekonomi kerakyatan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna (TTG) dan penganekaragaman produk agar kualitas dan kuantitas produk dapat lebih ditingkatkan Pembinaan dan pendampingan yang kontinu agar pelaku ekonomi rakyat dapat mandiri dan tidak menggantungkan pada bantuan pemerintah. Dalam pengembangan ekonomi kerakyatan tetap memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal agar terciptanya pembangunan yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Nugroho Peneliti Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada (2023) Puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, mengapa tranformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih jauh tertinggal?, The Conversation.
Available at: https://theconversation.com/puluhan-tahun-menjadi-bagian-dari- indonesia-mengapa-tranformasi-digital-dan-kesejahteraan-di-papua-masih-jauh- tertinggal-181710 (Accessed: 7 May 2024).
Ismail, M. (no date) Strategi Pengembangan Ekonomi Rakyat di Provinsi
Papua, Jurnal Bina Praja. Available at:
https://jurnal.kemendagri.go.id/index.php/jbp/article/view/25 (Accessed: 7 May 2024).
2024. Accessed May 7. https://www.researchgate.net/public
Bambang, Haffianto, 2009, Perencanaan Sistem. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta Bappeda Provinsi Papua, 2013. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018.
Jayapura. Bappeda Provinsi Papua, 2013. Profil Pembangunan Papua. Jayapura
BPS Papua , 2014, Papua Dalam Angka, Kerjasama Bappeda Papua dan BPS Papua. Jayapura.