ASAL MULA NAMA DESA GAGAK SIPAT
Sejarah Kyai Gagak sipat atau nama aslinya Pangeran Gambir Anom yang sewaktu Pemerintahan Pangeran Gambir Anom yang sewaktu pemerintahan Paku Buwono II (1729-1749) menjadi Raja di Keraton Kartasura beliau menduduki jamatan sebagai Bupati Penamping. Karena ikut melawan kekuasaan raja yang didominasi oleh Kompeni atau Belanda.
Bersama-sama dengan Mas Garendi putra Pangeran Teposono yang dibantu oleh orang-orang Cina mengadakan pemberontakan melawan Belanda.
Tujuan pertama kali dari para pemberontak ini adalah mengusir penjajah belanda dari tanah air. Awal pemeberontakan Mas Garendi awalnya berhasil melawan penjajah dan merebut Keraton Surakarta, kemudian Mas Garendi oleh para pengikutnya dinobatkan menjadi Sunan Kuning. Paku Buwono II berhasil lari ke Ponorogo.
Belanda melihat Paku Buwono II terdesak sangat senang dan menawarkan bantuan untuk duduk kembali di tahta Kartosuro asal Seluruh wilayah pantai utara sepenuhnya kepada Belanda.dan hali itu disetujui oleh Paku Buwono II.
Tentara Kartasura yang telah lari bersama rajanya meninggalkan keratonnya, setelah mendapatkan bantuan dari Belanda dtambah tentara Bugis, Madura mengadakan penyerbuan ke Keraton Kartasura dengan persenjataan yang lebih unggul dari pada Mas Garendi. Akhirnys dengan sangat terpaksa Mas Garendi beserta pasukannya mundur meninggalkan Benteng Kartasura oleh karena persenjataan kalah modern, korban banyak berjatuhan di pihak Mas Garendi. Tentara yang menyerah ditangkap kemudian dibunuh, sedangkan sisanya lari ke Gunung Kidul dan lari ke lereng Gunung Merapi menghindar dari kejaran tentara Belanda termasuk Adipati Mertoloyo atau Pangeran Gambir Anom. Sedangkan Mas Garendi lari ke Pasuruan.
Pada waktu Pangeran Gambir Anom bersemadi, untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa maka Pangeran Gambir Anom menerima wangsit agar meninggalkan goa persembunyiannya beserta pengikutnya ke arah timur dengan menyamar sebagai rakyat biasa dan akan diberikan petunjuk lagi tempat persembunyian yang baru. Dan benar tenyata perjalanan Pangeran Gambir Anom tidak sendiri, ditemani oleh seekor burung gagak yang menunjukkan Pangeran Gambir Anom kemana arah yang dituju.
Pada akhirnya sampailah Pangeran Gambir Anom di sebuah pohon beringin besar dan lebat daunnya dan burung gagak tersebut berhenti dan tidak terbang lagi dengan arti bahwa perjalanannya beserta para pengikutnya telah usai dan burung gagak tadi menyipat / mengarahkan arah perjalanan Pangeran Gambir Anom.
Kemudian Pangeran Gambir Anom beserta pengikutnya mendirikan padepokan di daerah tempat pohon beringin tersebut berada, dan untuk mengenang jasa dari burung gagak tersebut maka dusun tempat Pangeran Gambir Anom menetap tersebut dinamakan Dusun Gagak Sipat.
Agar Pangeran Gambir Anom dan para pengikutnya keberadaan idak diketahui oleh Belanda maupun Paku Buwono II beserta para tentaranya maka nama Pangeran Gambir Anom diubah menjadi Kyai Gagak Sipat. Beberapa saat setelah bermukim di tempat tersebut maka setelah tangkar tumangkar dan memiliki dua orang anak laki-laki yang diberikan nama Gagak Pratolo dan Kyai Merjan.
Keduanya setelah meninggal dunia dimakamkan di dekat ayahnya, Pangeran Gambir Anom.
Kyai Gagak Sipat sebelum meninggal berpesan, bahwa nanti jasadnya agar dimakamkan di bawah pohon beringin, dan kepada turun temurunnya berpesan agar nama Adipati
Martoloyo atau Gambir Anom dirahasiakan mengingat beliau adalah pemberontak melawan kekuasaan Raja atau Belanda dan makamnya agar jangan sampai dipugar atau dimuliakan, sebab besok yang berhak memugar atau memuliakan adalah kalau sudah sampai pada cucu-cucunya agar identitasnya tidak terbongkar serta anak cucunya tidak mendapatkan balasan dari pihak Belanda.