• Tidak ada hasil yang ditemukan

pembinaan agama islam di lembaga pemasyarakatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pembinaan agama islam di lembaga pemasyarakatan"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Program pendidikan untuk semua (for all education) harus dilaksanakan bagi semua kelas sosial mulai dari anak usia dini hingga lanjut usia, termasuk narapidana yang menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Pembinaan agama yang diberikan kepada warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sari Kota Makassar diharapkan mampu menyemangati para warga binaan setelah keluar dari penjara.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Salah satu bentuk pembinaan agama Islam yang dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan adalah dengan diajarkan shalat lima waktu. Dalam pelatihan di PEI Kelas I Kota Makassar, ada beberapa jenis pelatihan yang diterima warga binaan. A.

Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Tentang Pembinaan Keagamaan

  • Pembinaan Keagamaan
  • Metode Pembinaan Keagamaan

Pendidikan dan Kreatifitas Narapidana

Program pendidikan untuk semua hendaknya dilaksanakan bagi seluruh lapisan masyarakat mulai dari usia dini hingga lanjut usia, termasuk program pendidikan kecakapan hidup bagi narapidana yang menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Pengembangan pendidikan sangat penting bagi narapidana karena jumlah narapidana di lembaga pemasyarakatan semakin hari semakin meningkat. Meningkatnya jumlah narapidana di lembaga pemasyarakatan sebenarnya erat kaitannya dengan keadaan negara dan bangsa yang terus mengalami berbagai krisis jangka panjang, seperti krisis ekonomi, akhlak, akhlak, nilai-nilai agama Islam, dan lain sebagainya.

Narapidana adalah orang-orang yang telah melanggar norma-norma kehidupan. Mereka tidak dapat bertahan dan tidak kuat menghadapi situasi dan kondisi kehidupan yang sulit sehingga menimbulkan rasa frustasi, apatis, kehilangan pekerjaan, pengangguran dan permasalahan lain seperti tidak mempunyai kebutuhan pokok (sandang, sandang, dan lain-lain). di satu sisi, dan di sisi lain, tidak sedikit pula narapidana yang berasal dari lapisan masyarakat yang tergolong sejahtera secara ekonomi bahkan dari kalangan elite seperti pengusaha, politisi, dan birokrat. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang merupakan payung dari sistem pemasyarakatan di Indonesia menata sistem pemasyarakatan agar narapidana dapat memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana, sehingga narapidana dapat berintegrasi kembali ke dalam komunitasnya dan berperan aktif dalam pembangunan. dan kehidupan normal sebagai warga negara. Ketika seorang narapidana menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan, maka haknya sebagai warga negara dibatasi.

Meskipun narapidana kehilangan kebebasannya, ada hak-hak narapidana yang masih dilindungi dalam sistem penjara di Indonesia. Apabila proses pembinaan telah berlangsung 2/3 dari masa hukuman sebenarnya atau minimal 9 bulan, maka pembinaan berada pada tahap ini. Pada tahap ini, narapidana yang memenuhi syarat diberikan cuti sebelum dibebaskan atau dibebaskan bersyarat.

Narapidana dan Lembaga Pemasyarakatan

Menurut Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat melaksanakan pembinaan narapidana dan peserta didik pemasyarakatan. Artinya tidak boleh ada penyiksaan terhadap narapidana baik berupa tindakan, perlakuan, perkataan, perlakuan maupun penempatan. Satu-satunya penderitaan yang dialami narapidana adalah hilangnya kebebasan bergerak di masyarakat.

Dalam masa hilangnya kebebasan bergerak, terpidana harus diintegrasikan ke dalam masyarakat dan tidak boleh dikucilkan dari komunitasnya. Pekerjaan narapidana tidak boleh hanya berfungsi untuk mengisi waktu saja, dan pekerjaan tersebut juga tidak boleh ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kantor (badan) pada jam-jam tertentu. Pembinaan dan pendidikan harus berlandaskan Pancasila, antara lain harus menanamkan semangat gotong royong, semangat toleransi dan kekeluargaan.

Membina narapidana di lembaga pemasyarakatan berarti memperlakukan seseorang yang berstatus narapidana untuk mengembangkannya agar menjadi seseorang yang berakhlak baik. Dan salah satu tujuannya adalah mencoba melakukan resosialisasi terhadap seseorang yang pernah mengalami konflik sosial, menjadi seseorang yang benar-benar selaras dengan jati dirinya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan akhir sistem pemasyarakatan adalah memulihkan kesatuan hubungan sosial (reintegrasi sosial) narapidana dengan atau ke dalam masyarakat.

Teori Keterkaitan Tentang Pembinaan Dan Pendidikan

Wawancara merupakan teknik yang digunakan peneliti untuk memperoleh data mengenai pola interaksi sosial khususnya antar sesama warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari Kelas II B Kota Makassar. Wawancara yang digunakan bersifat terbuka dan tidak terstruktur. Pada awal pendirian dan pengoperasiannya, Lapas Kelas 1 Makassar mempunyai sarana dan prasarana yang terdiri atas: 7 ruang kantor, 4 blok tempat tinggal narapidana dan narapidana, 1 blok pengasingan dan 1 musala. Pekerjaan yang ada di masyarakat dan menunjang pembangunan seperti peningkatan industri kecil dan produksi pangan. g) Pembinaan dan pendidikan narapidana dan pelajar berdasarkan Pancasila.

Pernyataan informan di atas menunjukkan bahwa para narapidana juga dibekali kreativitas berupa menulis Al-Quran dan ceramah agama. Hal ini dapat dibuktikan dengan antusiasnya para narapidana untuk mengikuti setiap pelatihan yang dilakukan, tidak hanya itu bahkan para narapidana di lembaga pemasyarakatan dalam kesehariannya juga ada yang mengenakan pakaian muslim seperti di pesantren. Pembinaan narapidana adalah segala upaya yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan moral (karakter) narapidana.

Seolah-olah mantan narapidana yang kembali ke masyarakat dianggap sebagai orang yang selalu berbuat buruk dalam hidupnya. Masyarakat memandang mantan narapidana sebagai orang yang berperilaku buruk dan dipandang sebagai orang yang berkepribadian kriminal. Ironisnya, cukup banyak masyarakat yang peduli terhadap keberadaan mantan narapidana yang telah menjalani hukumannya untuk menjadi bagian dari masyarakat, atau agar keberadaannya diterima dalam hubungan sosial masyarakat.

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Lokasi dan Objek Penelitian

Fokus Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, penentuan fokus usulan lebih didasarkan pada pembinaan keagamaan yang dilakukan di lembaga pemasyarakatan. Menurut Sugiyono (2014:34), keterbatasan masalah dan topik dalam penelitian kualitatif lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi dan kelayakan masalah yang ingin dipecahkan, serta keterbatasan tenaga, dana dan waktu.

Sumber Data

Data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara terhadap narapidana dan petugas lapas, yang kemudian dikembangkan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan internal.

Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh secara tidak langsung diperoleh dari catatan atau arsip kantor Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari Kota Makassar. Artinya peneliti dapat leluasa melakukan wawancara secara langsung yang pelaksanaannya mengacu pada pedoman pertanyaan yang digunakan. Melalui dokumentasi, hasil penelitian dari wawancara dan observasi akan lebih kredibel atau dapat diandalkan.

Teknik Analisis Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Selama ini Lapas Kelas 1 Makassar dibangun dengan prototipe lembaga pemasyarakatan standar. Untuk menunjang pelaksanaan pembinaan dalam meningkatkan keterampilan (kemandirian) narapidana, disediakan juga fasilitas lain di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar. Ruang hiburan dan seni yang terdiri atas: perpustakaan, ruang kunjungan keluarga, tempat pengembangan mental dan keterampilan, klinik rawat jalan, c.

Pemberian fasilitas untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian sangat membantu para narapidana dalam upayanya menciptakan potensi apa pun yang ada dalam dirinya dengan bimbingan dan pelatihan dari petugas. Lapas Kelas I Makassar bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional berupa pemenuhan jenjang pendidikan seperti mengikuti paket A/B, literasi fungsional. Salah satu bentuk kerjasama dengan dinas tenaga kerja adalah penyelenggaraan pelatihan kerja sebagai upaya mempersiapkan narapidana untuk kembali ke masyarakat.

Untuk kerjasama dengan departemen sosial yaitu pelaksanaan rehabilitasi sosial dan resosialisasi mantan tahanan negara dan anak.

Sistem Pembinaan Agama Narapidana di Lembaga

Pembinaan agama Islam sebaiknya diperkenalkan sejak dini, sesuai dengan hadis Nabi yang artinya mencari ilmu sejak lahir sampai liang lahat. Pembinaan agama Islam sebagai bagian dari dakwah yaitu upaya penerapan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan mempunyai kedudukan penting dalam tahap pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Pembinaan keagamaan di Lapas Kelas 1 Makassar rutin dilakukan setiap hari Selasa dan Rabu mulai pukul 08.00 hingga 10.00.

Yang dimaksud dengan pendidikan agama adalah pembacaan Al-Quran dan penyuluhan serta pemahaman agama yang mendalam. Pada hakekatnya pelatihan yang diberikan di Lapas hanya berfokus pada pengembangan kepribadian dan kemandirian, namun kedua metode pelatihan tersebut menggunakan strategi untuk menerapkan pelatihan tersebut kepada warga binaan, termasuk salah satu upaya pembinaan agama Islam bagi warga binaan di lembaga. lembaga pemasyarakatan yang stabil disebut terencana” (wawancara 16 September 2016). Dalam proses pelaksanaan hukuman yang diterima para narapidana, mereka juga mendapat bimbingan menulis Alquran dan ceramah agama.

Dari beberapa upaya yang telah peneliti uraikan di atas, perkembangan agama Islam di lembaga pemasyarakatan sudah sangat baik. Dari uraian hasil pemaparan di atas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa kegiatan pembinaan keagamaan yang dilaksanakan di Lapas Kelas I Makassar cukup baik. Namun bukan hanya pembinaan agama saja yang diberikan kepada narapidana, namun pembinaan lain berupa pembinaan jasmani, rohani, dan intelektual.

Pola Pendidikan dan Kretifitas Narapidana di Lembaga

  • Pembinaan Terhadap Para Warga Binaan
  • Pendidikan dan Kreatifitas Narapidana

Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir warga binaan pemasyarakatan sehingga dapat menunjang aktivitas positif yang diperlukan selama masa pelatihan. Narapidana dianggap oleh masyarakat menimbulkan masalah yang selalu meresahkan masyarakat sehingga masyarakat menolak dan mewaspadainya. Sulit bagi mantan narapidana untuk kembali ke masyarakat, atau mereka takut dikucilkan dan disinggung oleh orang lain.

Adanya model pelatihan bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan tidak lepas dari dinamika yang bertujuan untuk memberikan lebih banyak kesempatan kepada narapidana untuk menghadapi kehidupan setelah masa hukumannya berakhir (gratis). Lahirnya istilah rumah tahanan dipilih sesuai dengan visi dan misi lembaga tersebut untuk mempersiapkan para narapidana agar dapat berintegrasi kembali ke dalam masyarakat. Lembaga disebut-sebut sebagai sistem pembinaan bagi pelanggar hukum dan sebagai perwujudan keadilan yang berupaya mencapai reintegrasi sosial, yaitu membangun kembali kesatuan hubungan antara narapidana dan masyarakat.

Kegiatan di dalam lapas tidak hanya sekedar menghukum atau melindungi para narapidana saja, namun juga mencakup proses pembinaan agar para narapidana menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi kejahatan yang telah dilakukannya. hukuman. Dengan begitu, jika terpidana keluar dari penjara maka mereka dapat diterima kembali di masyarakat dan lingkungan serta dapat hidup normal seperti sedia kala. Blogspot.com/ 2011/ 01/Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembinaan Narapidana.

PENUTUP

Kesimpulan

Peningkatan kesadaran berbangsa dan bernegara, peningkatan kemampuan intelektual (intelijen), peningkatan kesadaran hukum, dan peningkatan integrasi diri dengan masyarakat. Model pendidikan dan kreativitas warga binaan Lapas Kelas I Kota Makassar antara lain: menjahit, membuat kursi bambu, penutup bosara dan miniatur perahu.

Saran

Blogspot.com/2009/03/Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Perkembangan Narapidana/Tahanan.

Referensi

Dokumen terkait

TOTAL HIP ARTHROPLASTY LEADS TO BETTER RESULTS AFTER LOW-ENERGY DISPLACED FEMORAL NECK FRACTURE IN PATIENTS AGED 55 TO 70 YEARS.A RANDOMIZED CONTROLLED MULTICENTER TRIAL COMPARING