• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Bioetanol dari Campuran Kulit Nenas dan Pepaya Secara Fermentasi dengan Variasi Massa Ragi Roti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pembuatan Bioetanol dari Campuran Kulit Nenas dan Pepaya Secara Fermentasi dengan Variasi Massa Ragi Roti"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pembuatan Bioetanol dari Campuran Kulit Nenas dan Pepaya Secara Fermentasi dengan Variasi Massa Ragi Roti

Salian1*, Vera Viena2, Irhamni3

1,2,3Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Jl. Tgk Imum Luengbata Batoh, Banda Aceh, Indonesia 23245

*Koresponden email: [email protected]

Diterima : 24 Januari 2022 Disetujui: 30 April 2022

Abstract

Fruit peel waste was one of carbohydrate feedstock for producing bioethanol. The research main purpose was analyzing the impact of yeast mass addition in fermentation process of pineapple and papaya peels mixture (PPPM) for making of bioethanol. The procedure was carried out by adding 10 grams of glucose for each treatment, the yeast Saccharomyces cerevisiae mass varied from 1 to 4 % w/v, and the fermentation time were 24, 48, 72 and 96 hours at temperature 30 0C. The initial sugar containment was tested by Brix refractometer and the bioethanol composition was characterized using Gas Chromatography-Mass Spectrometry. The initial sugar content of the PPPM starter was range from 3 – 5 %. By addition of yeast weight (1 - 4% w/v), the comparison of bioethanol yield were in range 2 to 5% using hydrometer alcohol and in the range of 3,013–3,403% while using GC-MS. In conclusion, the sugar content of PPPM substrate and yeast starter percentage have significant effect on bioethanol earning.

Keywords: pineapple, papaya peels, fermentation, yeast mass, bioethanol yield

Abstrak

Limbah kulit buah adalah salah satu sumber bahan baku karbohidrat untuk menghasilkan bioetanol. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh penambahan massa ragi roti dalam pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi menggunakan campuran kulit nenas dan pepaya. Prosedur penelitian dilakukan dengan penambahan 10 gram glukosa untuk setiap perlakuan, variasi massa ragi sacharomyces cerevisiae sebesar 1 – 4 % b/v, dan waktu fermentasi 24,48,72 dan 96 jam pada suhu 30 0C. Pengujian kadar gula awal dilakukan dengan Brix meter dan komposisi bioetanol dianalisa dengan alat GC-MS. Hasil analisa kadar gula awal starter dari campuran limbah kulit nenas dan pepaya yaitu 3 - 5%. Pada penambahan massa ragi (1-4%) b/v, berturut-turut diperoleh perbandingan yield bioetanol sebesar 2 - 5% menggunakan alat hydrometer alkohol, dan menggunakan GC-MS diperoleh yield sebesar 3,013 – 3,403%. Kesimpulan penelitian adalah kadar gula dari substrat campuran kulit nenas dan pepaya dan persentase ragi starter berpengaruh signifikan terhadap rendemen bioetanol.

Kata Kunci: kulit nenas, kulit pepaya, fermentasi, massa ragi, rendemen bioetanol

1. Pendahuluan

Fermentasi dari gula dan komponen pati tanaman dapat menjadi sumber bioetanol dalam pembuatan energi terbarukan. Bioetanol tersebut berasal dari jagung, tebu, kentang, beras, ubi bit dan limbah hasil pengolahan produk pertanian [1]. Konversi bioetanol dapat diolah langsung dari gula, pati dan lignin selulosa. Salah satu sumber bioetanol yang mudah digunakan adalah kulit buah nenas dan pepaya.

Menurut [2], kulit nenas memiliki komposisi air sebesar 81,72 %, serat kasar 20,87%, karbohidrat 17,53

%, protein 4,41 % dan gula reduksi sebesar 13,65 %. Sedangkan dalam 100gr buah pepaya terdapat gula, air 86,7 gr, karbohidrat 12,2 gr, dan kalori 46 kal. Berdasarkan hal tersebut, kulit nenas dan pepaya berpotensi sebagai bahan baku bioetanol karena masih terdapat kadar karbohidrat dan gula yang cukup tinggi.

Beragam penelitian tentang pembuatan bioetanol secara fermentasi ragi atau enzim dari bahan limbah kulit buah telah banyak dilakukan. Pada riset [3], penggunaan yeast saccharomyces cereviceae pada fermentasi bioetanol bahan kulit nenas diperoleh waktu optimum 3 hari dan kadar bioetanol sebesar 15,45%. Penelitian [4] menambahkan 20-40 gram saccharomyces cereviceae dan waktu fermentasi 2-10 hari. Hasil terbaik dengan kadar bioetanol tertinggi 3,965% diperoleh pada penambahan ragi 30 gram, dan waktu fermentasi 10 hari. Riset [5] menyebutkan peningkatan kadar bioetanol dari whey dengan subtitusi kulit nenas tidak dipengaruhi oleh lama fermentasi. Kadar bioetanol tertinggi dalam kisaran 1,21-2,25%

didapat pada waktu 60 jam. Ragi untuk fermentasi saccharomyces cereviceae digunakan sebanyak 50 gram dalam waktu 12-60 jam. [6] Menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus niger dalam

(2)

produksi bioetanol dari kulit pisang dan kulit nanas dengan metode hidrolisis dan fermentasi anaerob. Hasil pengurangan konsentrasi gula pada kulit nenas dan pisang berturut-turut antara (0,27-0,94 mg/cm3) dan (0,20-0,82 mg/cm3) setelah fermentasi 7 hari. Sedangkan [7] menyimpulkan bioetanol sebesar 5,98% v/v

± 1,01 g/L dapat dihasilkan pada proses fermentasi 48 jam menggunakan ragi dan baku kulit nenas.

Indonesia adalah negara kepulauan penghasil beragam jenis buah-buahan segar di Asia Tenggara, seperti pepaya, jeruk, rambutan, nenas, dll. Menurut data Badan Pusat Statistik [8] produksi nenas di Indonesia dari tahun 2017-2020 menurun dari 1.795.986 ton menjadi 1.641.087 ton. Sedangkan produksi pepaya tahun 2017-2020 meningkat dari 875.112 ton menjadi 937.639 tom. Kabupaten Bener Meriah di Aceh dikenal sebagai daerah penghasil nenas dan pepaya di Aceh. Menurut data BPS Aceh 2020 [9]

produksi nenas meningkat dari 11.026 kuintal menjadi 11.432 kuintal, dan produksi pepaya naik dari 106.847 kuintal menjadi 137.913 kuintal. Sebagian besar buah-buahan yang dihasilkan dari sejumlah provinsi di Sumatera belum banyak yang diolah menjadi produk buah kalengan atau produk bernilai ekonomis lainnya, sehingga hanya digunakan sebagai buah meja, diambil isinya dan kulitnya menjadi limbah. Hal tersebut melatarbelakangi dilakukannya penelitian tentang pengaruh penambahan variasi massa ragi roti pada pembuatan bioetanol secara fermentasi dari campuran kulit nenas dan pepaya.

Pembuatan bioetanol dari campuran kulit buah nenas dan pepaya ini melalui dua tahapan proses yaitu proses fermentasi dan destilasi. Yield dipengaruhi oleh lama fermentasi dan variasi massa ragi roti sacharomyces cereviceae. Perlakuan pH dan kadar gula awal substrat juga diuji sebelum penambahan glukosa. Proses penambahan glukosa dilakukan agar meningkatkan hasil bioetanol dan berguna sebagai sumber karbohidrat tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan campuran kulit nenas dan pepaya dengan variasi waktu fermentasi dan massa ragi roti saccharomyces cereviceae (1-4 % b/v) pada pembuatan bioetanol. Diharapkan hasil penelitian bioetanol ini dapat menjadi alternatif teknologi rekayasa limbah hasil pertanian sebagai potensi energi terbarukan dari biomassa.

2. Metode Penelitian 2.1. Bahan dan Peralatan

Peralatan penelitian yaitu: Erlenmeyer Pyrex 250 ml, pipet volume Pyrex 10 ml, labu takar Pyrex 500 ml, corong kaca, botol kaca Pyrex, labu leher tiga Pyrex 500 ml, bunsen, kaki tiga, kasa asbes, thermometer, pendingin, botol semprot, pipet tetes, gelas arloji, blender Miyako, pisau Stainless, wadah kaca volume 5 liter, saringan plastik Nagata, timbangan teknis, timbangan analitik Ohaus, pH meter Hanna, alkohol meter Boeco, refraktometer ATC.

Bahan penelitian yaitu: kulit nenas, kulit pepaya, akuades, ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) berbentuk serbuk dan glukosa. Adapun prosedur kerja yang dilakukan merupakan modifikasi dari metode penelitian [10] dan [4], tahapan kegiatan diuraikan sebagai berikut:

2.2. Preparasi Bahan Pembuatan Bioetanol

Bahan kulit nenas, dan pepaya dipilih dari sampah buah busuk di pasar. Limbah kulit nenas, dan pepaya setelah dicuci ditimbang masing - masing 250gr sesuai perlakuan berat sampel. Sampel campuran kulit nenas dan pepaya ditambahkan akuades sebanyak 1000 ml untuk masing-masing 500gr sampel campuran bubur.

2.3. Pembuatan Substrat

Pembuatan substrat fermentasi yaitu 250g kulit Nenas + 250g kulit pepaya +1000ml akuades (1:1:4).

Bubur halus hasil blender disaring hingga diperoleh filtratnya, dan dipasteurisasi pada suhu 70 oC selama 15 menit. Sampel substrat didinginkan sebelum digunakan pada pembuatan starter.

2.4. Starter

Starter dibuat dengan mencampurkan glukosa 10% dan variasi massa ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dengan kisaran 1-4 % berat/volume. Starter di inkubasi selama 24 jam pada suhu 30 oC sesuai variasi perlakukan masing-masing.

2.5. Inokulasi

Starter yang telah diinkubasi dengan penambahan inokulan ke dalam substrat fermentasi dengan variasi konsentrasi glukosa 10%. Didalam setiap 1% starter setara dengan 10 ml. Hal ini berguna untuk menumbuhkan ragi S. cerevisiae kedalam substrat fermentasi. Selain itu, penambahan glukosa 10%

bermanfaat sebagai media tumbuh tambahan dan sumber karbon bagi ragi dalam mempercepat pembentukan bioetanol.

2.6. Perlakuan Pengaruh Waktu Fermentasi

Ke dalam botol fermentasi ditambahkan filtrat sebesar 500 ml dari tiap sampel perlakuan. Inokulan Yeast (S. cerevisiae) sebanyak 1-4% berat/volume ditambahkan pada tiap perlakuan. Berdasarkan [11], penambahan starter yang sesuai pada proses fermentasi adalah 5% dari volume sampel fermentasi. Botol

(3)

selanjutnya ditutup rapat, diberi lubang udara dan untuk aliran gas CO2 dipasang sebuah selang air. Waktu fermentasi divariasikan antara 24, 48, 72, dan 96 jam. Kadar bioetanol diuji setelah fermentasi berlangsung selama 24, 48, 72, dan 96 jam.

2.7. Pemurnian

Proses destilasi dilakukan untuk memurnikan kandungan bioetanol hasil fermentasi campuran kulit nenas dan pepaya. Bioetanol disaring dengan kertas saring atau dengan penyaring vakum agar etanol yang dihasilkan memiliki kemurnian yang tinggi dengan minim pengotor. Pemilihan suhu dan waktu operasi yaitu destilasi 75 0C dan waktu 3 jam. Labu destilat berisi larutan hasil fermentasi bioetanol akan dipanaskan pada suhu konstan 75°C. Larutan hasil fermentasi akan menguap sesuai titik didih masing- masing larutan. Etanol akan menguap terlebih dahulu dan akan terembunkan oleh kondensor. Hasil etanol yang dihasilkan ditampung ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya.

2.8. Pengukuran Kadar Alkohol

Sebelum digunakan, alat Hydrometer Alkohol dikeringkan ke dalam oven suhu 100 oC selama 10 menit kemudian didinginkan. Hydrometer kemudian ditimbang dan dicatat berat awal dan berat setelah ditambahkan distilat. Prosedur yang sama dilakukan pada larutan pembanding aquades [12].

2.9. Analisa Bioetanol Menggunakan Gas Chromatografy Mass Spectrometry

Komposisi kimia penyusun dalam bioetanol dari campuran kulit nenas dan kulit pepaya dilakukan menggunakan alat GG–MS di laboratorium Politeknik Lhokseumawe. Prinsip kromatografi gas adalah dengan menyuntikkan sampel ke dalam ujung kolom kromatogram, lalu sampel akan menguap dan mengelusi gas inert sebagai fase gerak.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Proses Pembuatan Bioetanol

Campuran kulit buah nenas dan pepaya sebesar 500gr dihaluskan menjadi bubur filtrat air bubur digunakan sebagai starter untuk fermentasi. Variasi penambahan ragi berkisar antara 1-4 % berat/volume.

Menurut [13] penambahan ragi Saccharomyces cereviceae bentuk bubuk ke dalam substrat berfungsi sebagai bibit mikroba untuk konversi karbohidrat menjadi etanol. Keberhasilan proses fermentasi diamati dengan perubahan warna dan bau dari filtrat campuran kulit buah. Pada penelitian ini, starter pati filtrat yang semula berwarna kuning berubah menjadi berbuih dan berwarna keputihan dibagian atas dan baunya berubah menjadi wangi tape atau wangi manis alkohol. Pemurnian hasil fermentasi dilakukan dengan proses destilasi selama 9 jam pada suhu 75 0C. Untuk mendapatkan hasil alkohol yang lebih murni dilakukan pengulangan proses destilasi selama 3 kali siklus.

3.2 Hasil Analisa kadar gula sebelum fermentasi

Pada Gambar 1 grafik pengaruh variasi massa ragi roti terhadap kandungan gula awal substrat.

Kadar gula awal dalam substrat semakin meningkat dengan penambahan massa ragi. Selain itu, penambahan media glukosa sebanyak 10 % pada tiap perlakuan juga berperan dalam peningkatan kadar gula dalam filtrat pati agar ragi inokulum dapat melakukan fermentasi secara maksimal selama waktu 24- 96 jam yang diharapkan.

Gambar 1. Pengaruh variasi massa ragi roti terhadap kadar gula substrat Sumber: Data penelitian (2021)

Walaupun fermentasi dapat terjadi tanpa tambahan glukosa, tetapi dengan adanya gula memungkinkan diperoleh kadar alkohol yang diharapkan. Minimum kadar gula sebesar 10% diperlukan untuk pertumbuhan ragi. Berdasarkan hasil analisa diatas menunjukkan kandungan glukosa dalam limbah kulit nenas dan pepaya pada penelitian sangat rendah, oleh karena itu dalam penelitian ini ditambah glukosa 10 gram pada starter, sebagai pembantu pembentukan etanol oleh bakteri Saccharomyces cereviceae.

3 3 3

5

0 1 2 3 4 5 6

1 2 3 4

kadar gula (%)

Massa Ragi (%)

(4)

Temuan [14] menyebutkan Saccharomyces cerevisiae dapat mengoksidasi gula menjadi CO2 dan air dengan bantuan oksigen. Ragi S.cerevisiae mengkonversi 70% glukosa di dalam substrat menjadi CO2 dan alkohol. Menurut data [15] terdapat kandungan glukosa 13,65% dalam limbah buah nenas. Sedangkan glukosa dalam pepaya sebesar 8,23%. Jadi dapat dinyatakan bahwa kadar glukosa dalam limbah buah nenas dan pepaya berpotensi besar untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku fermentasi bioetanol.

3.3. Hasil Analisa pH Sebelum dan Sesudah Fermentasi

Fermentasi bioetanol dipengaruhi oleh pH. Pada riset ini pengukuran pH dilakukan sebelum fermentasi substrat campuran limbah kulit buah. Hasil pengujian pH sebelum fermentasi diperoleh bervariasi, yaitu pada massa ragi 1%, pH 5,8; pada 2 % ragi, pH 6,2; pada 3% ragi, pH 5,8 dan pada 4%

ragi pH diperoleh 5,9. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 2 dengan nilai pH maksimal sebesar 4,5 diperoleh pada produksi etanol oleh saccharomyces cereviae. Fluktuasi nilai pH pada Gambar 2 tersebut dipengaruhi oleh pembentukan CO2 dan asam-asam organik selama proses fermentasi ragi.

Gambar 2. Pengaruh massa ragi terhadap pH substrat, sebelum dan sesudah fermentasi Sumber: Data penelitian (2021)

Perubahan dan penurunan pH awal substrat selama proses fermentasi disebabkan oleh pembentukan produk sampingan hasil metabolisme sekunder ragi berupa asam-asam organik yang melarut bersama produk etanol. Hasil pengujian pH selama berlangsungnya fermentasi berkisar antara 4-5. Ini menunjukkan bahwa pH yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ragi masih dalam kisaran hasil penelitian sebelumnya oleh [16] yaitu antara pH 3-5.

3.4. Analisa Pengaruh Massa dan Waktu terhadap Rendemen Bioetanol

Kadar bioetanol dipengaruhi oleh variasi penambahan ragi sebagai inokulum dan lamanya proses fermentasi. Yang dimaksud dengan waktu fermentasi yaitu waktu yang diperlukan untuk mengonversi substrat berupa glukosa dalam campuran kulit buah menjadi etanol. Penggunaan waktu fermentasi yang terlalu dapat mengganggu proses fermentasi karena akan menghabiskan nutrisi dalam substrat dan akan terbentuk produk sampingan yang menghambat produksi rendemen bioetanol. Keadaan operasi fermentasi berupa suhu, kadar gula berlebih, dan keadaan lingkungan juga dapat berpengaruh pada kadar yield bioetanol. Pada Gambar 3 ditampilkan grafik berat massa ragi terhadap rendemen bioetanol pada variasi waktu fermentasi (24 -96 jam).

Gambar 3. Pengaruh massa ragi terhadap rendemen bioetanol pada variasi waktu fermentasi Sumber: Data penelitian (2021)

0 2 4 6 8 10 12 14

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5

pH substrat

Massa Ragi (%)

pH substrat pH setelah fermentasi

WF24 WF48

WF72 WF96

0,00 10,00 20,00 30,00

1 2 3 4

12,00 13,98 13,98 13,70

15,79 14,89 13,42 13,04

16,3 17,11

12,28 11,25

18,57 17,08 17,53 20,21

Rendemen Bioetanol (%)

massa ragi (%)

(5)

Pada Gambar 3 menunjukkan variasi penambahan berat ragi mempengaruhi peningkatan kadar bioetanol produk. Menurut [10] kadar bioetanol dipengaruhi oleh volume inokulum, dengan peningkatan volume inokolum memungkinkan diperoleh konsentrasi bioetanol lebih tinggi. Hal tersebut dikarenakan nutrien tersedia dalam fase lag dapat digunakan untuk tahap pertumbuhan eksponensial yeast dan mikroba telah beradaptasi dalam waktu cepat untuk melakukan fermentasi. Menurut [3] jika fermentasi melebihi 48 jam maka sel mikroba akan mengalami masa konstan atau sampai ke tahap penurunan. Ini disebabkan oleh berkurangnya nutrien sejalan dengan fermentasi sehingga banyak mikroba yang mulai mati dan tidak aktif lagi melakukan proses fermentasi.

Telah terbukti bahwa peningkatan persen massa ragi dapat mempengaruhi kadar bioetanol yang diperoleh. Pada penelitian ini kadar rendemen bioetanol terbesar diperoleh pada variasi yeast 4% dengan yield bioetanol sebesar 20,21 % pada waktu 96 jam fermentasi. Menurut [17] masa 3 hari adalah waktu paling baik bagi Saccharomyces cerevisiae membentuk bioetanol dari bahan baku glukosa. Namun pada riset ini rendemen bioetanol terbaik didapatkan pada waktu fermentasi 96 jam atau 4 hari. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kandungan gula awal didalam starter yang hanya berkisar antar 3-5% b/v sehingga proses fermentasi berjalan agak lebih lambat dari hasil penelitian [17] tersebut.

3.5 Analisa Kadar Bioetanol Menggunakan Hydrometer Alkohol dan GC-MS

Pada Tabel 1 diuraikan hasil perbandingan kadar bioetnaol menggunakan alat hidrometer alkohol dan pengujian dengan analisa GC-MS. Hasil bioetanol tertinggi pada kedua pengujian menunjukkan bahwa semakin tinggi massa ragi roti yang ditambahkan akan meningkatkan hasil produksi bioetanol. Kadar bioetanol tertinggi diperoleh pada massa ragi 4% dengan kadar bioetanol menggunakan alkohol meter sebesar 5% sedangkan hasil pengujian GC-MS sebesar 3,403 %. Terdapat perbedaan hasil kadar bioetanol yang diperoleh berdasarkan perbedaan keakuratan masing-masing alat. Hal ini juga dipengaruhi oleh kadar gula awal dari starter campuran kulit buah nenas dan pepaya yang digunakan, namun kadar bioetanol yang diperoleh masih berkisar dalam range 3-5%. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan variasi massa ragi jenis lainnya dan penambahan glukosa dan urea agar diperoleh kadar bioetanol yang lebih tinggi sesuai SNI bioetanol yang diharapkan. Selain itu juga dapat dicari sumber limbah lainnya yang masih banyak mengandung pati, lignin atau selulosa sebagai bahan baku pembuatan bioetanol sebagai sumber bioenergi terbarukan.

Tabel 1. Perbandingan kadar bioetanol menggunakan alat hydrometer alkohol dan GC-MS

Massa Ragi (%) Kadar Bioetanol

Alkohol meter (%) GC-MS (%)

1 2,000 3,013

2 2,000 3,001

3 3,000 3,233

4 5,000 3,403

Sumber: Data penelitian (2021)

Komposisi kimia bioetanol berdasarkan pengujian GC-MS ditampilkan pada Gambar 4 dan Gambar 5. Pada Gambar 4 ditampilkan puncak komponen etanol pada massa ragi 3%. Hasil pati campuran kulit nenas dan pepaya setelah fermentasi 96 jam diperoleh 1 puncak tertinggi dengan persen area terbesar 3,233% dan tinggi 3908765. Sedangkan pada Gambar 5 menunjukkan hasil bioetanol murni pada massa ragi 4% dari kandungan kulit nenas dan pepaya. Grafik ini juga menunjukkan 1 puncak tertinggi pada persen area 3.403% dan tinggi 7469904.

Berdasarkan data-data penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan proses produksi bioetanol dari pati karbohidrat sebagai bahan baku energi terbarukan efisien. Diperlukan persyaratan penting berupa jenis mikroba yang tepat yang dapat mengonversi beragam tipe gula sebagai bahan baku serta dapat bertahan pada keadaan lingkungan penuh stress. Jenis bibit bakteri dan ragi yang efektif untuk metabolisme gula yang terbaik adalah Sacharomyces cerevisiae, Aspergillus niger, Esschercia coli dapat dipilih untuk produksi bioetanol secara fermentasi anaerobik dengan memperhatikan faktor massa ragi dan waktu optimum fermentasi.

(6)

Gambar 4. Puncak komponen etanol dari campuran kulit buah pada massa ragi 3%

Sumber: Data penelitian (2021)

Gambar 5. Puncak komponen etanol tertinggi dari campuran kulit buah pada massa ragi 4%.

Sumber: Data penelitian (2021)

Berdasarkan dari hasil riset oleh [18], menunjukkan bahwa penggunaan ragi (Saccharomyces cerevisiae) pada pembuatan bioetanol dari kulit nanas belum memiliki standar yang baku sehingga hasil etanol masih sangat bervariasi. Jadi dapat diketahui bahwa faktor-faktor volume inokulum, jenis strain mikroba, massa ragi dan waktu fermentasi sangat menentukan efektivitas proses fermentasi dari glukosa yang berasal dari limbah kulit buah.

Output penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bahwa campuran kulit buah nenas dan pepaya masih mengandung kadar gula untuk alternatif sumber nutrisi glukosa dalam konversi bioetanol secara fermentasi anaerobik. Hasil karakteristik uji nyala yang dilakukan pada keempat sampel perlakuan bioetanol menunjukkan sifat nyala api biru pada suhu 100 0C dan cepat terbakar dan menghilang. Kadar bioetanol menggunakan alkohol meter sebesar 5% sedangkan hasil pengujian GC-MS sebesar 3,403 %.

4. Kesimpulan dan Saran

Pembuatan bioetanol dari campuran kulit buah nenas dan pepaya dengan variasi massa ragi 1-4 % dan variasi waktu fermentasi telah dilakukan. Hasil menunjukkan bahwa kadar gula awal dari starter kulit buah 3-5 % dapat menghasilkan bioetanol tertinggi sebesar 5% pada penambahan ragi 4%, dan waktu fermentasi 96 jam. Semakin tinggi penambahan massa ragi dan waktu fermentasi dapat meningkatkan yield bioetanol yang diperoleh.

Selanjutnya perlu dilakukan penelitian menggunakan variasi jenis enzim atau ragi lainnya agar diperoleh kadar bioetanol yang lebih tinggi dan karakterisasi bioetanol yang diperoleh memenuhi baku mutu bioetanol SNI dan internasional.

(7)

5. Ucapan Terima Kasih

Penulis memberikan penghargaan yang setingginya kepada Laboran Teknik Kimia dan Lingkungan USM, Laboran Instrumentasi Politeknik Lhokseumawe, dan mahasiswa Teknik Lingkungan Leting 2017 yang telah banyak membantu dalam analisa data dan pengumpulan sampel di lapangan.

6. Daftar Pustaka

[1] Nurjanah, R., Aznury, M. 2020. Variasi Produksi Bioetanol Dari Limbah Kulit Buah-Buahan Menggunakan Ragi Saccaromyces Cerevisiae, Review Artikel, Jurnal Kinetika Vol. 11, No. 02 (Juli 2020) : 60-64

[2] Nulhakim, L., Anggo, B., Febriana, R. R., Lukmana, H., Erriana, F., Pratiwi, A. D., & Azizah, P. N.

2019. Pembuatan bioetanol dari kulit nanas oleh saccharomyces cerevisiae terimobilisasi dalam butiran alginat. Semin. Nas. AVoER XI, 444-448.

[3] Ahmad,T., & Antonius, P. 2010. Pembuatan bioetanol dari kulit Nenas. Tugas akhir, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[4] Setyawati, H., N.A, Rahman. 2017. Bioetanol Dari Kulit Nanas Dengan Variasi Massa Saccharomyces Cereviceae Dan Waktu Fermentasi. Jurnal UPN, tersedia online pada http://eprints.itn.ac.id/3057/1/76-257-1-PB.pdf/diakses 20 Desember 2021.

[5] Azizah , N., Al-baarri, N., Mulyani, S. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol, PH, Dean Produksi Gas Pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Substansi Kulit Nenas.

Jurnal Aplikasi Teknologi, Pangan Vol. 01 No. 2,72-77

[6] Itelima J., Onwuliri F, Onwuliri E, Onyimba I, dan Oforji S. 2013. Bioethanol production from banana, plantain and pineapple peels by simultaneous saccharification and fermentation process.

International Journal of Environmental Science and Development. 4(2):213-216.

[7] Casabar J.T., Unpaprom Y., Ramaraj R. 2019. Fermentation of pineapple fruit peel wastes for bioethanol production. Biomass Conversion and Biorefinery. 9:761–765.

[8] Badan Pusat Statistik. 2020. Produksi buah-buahan Indonesia, Badan Pusat Statistik (bps.go.id), Diakses tanggal 20 Desember 2021.

[9] Badan Pusat Statistik. 2020. Provinsi Aceh Dalam Angka, tersedia online pada https://www.bps.go.id/indicator/55/62/1/produksi-tanaman-buah-buahan.html/Diakses tanggal 20 Desember 2021

[10] Nasrun., Jalaludin., Mahfuddah. 2015. Pengaruh Jumlah Ragi Dan Waktu Fermentsi Terhadap Kadar Bioetanol Yang Dihasilkan dari Fermentasi Kulit Pepaya. Jurnal Teknologi Kimia Unimal,4,1-10 [11] Okafor, N., & Okeke, B. C. 2017. Modern industrial microbiology and biotechnology. CRC Press.

[12] Jhonprimen H. S, Andreas Turnip, M. Hatta Dahlan, 2012, Pengaruh Massa Ragi, Jenis Ragi Dan Waktu Fermentasi Pada Bioetanol Dari Biji Durian, Jurnal Teknik Kimia Universitas Sriwijaya, Vol 18, No 2.

[13] Salsabila, U., Mardiana, D., dan indahyanti, E., 2013, Kinetika Reaksi Fermentasi glukosa Hasil Hidrolisis Pati Biji Durian Menjadi Etanol, Student Journal 2 (1): 331-336.

[14] Rahayu, W. P., & Nurwitri, C. C. 2019. Mikrobiologi pangan. PT Penerbit IPB Press.

[15] Andriani, R.D., Akeprathumchai, S., Laoteng, K., Poomputsa, K., Mekvichitsaeng, P., 2013, Pemanfaatan Limbah Buah Nanas Sebagai Media Pertumbuhan Xanthophyllomyces Dendrorhous Untuk Produksi Lipid, Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 14 No. 3 [Edisi Desember 2013] 193- 200

[16] Budiyanti dan Sunyoto. 2016. Varietas Unggul Baru Pepaya Merah Delima. Sinar Tani, Edisi 2- 8 No.3429 Tahun XLII.

[17] Mandari, S., Yenie, E., Muria S. R. 2014. Pembuatan Bioetanol Dari Kulit Nenas (Anenas Comosus.

L) Menggunakan Enzim Selulase Dan Yeast Saccharomyces Cerevisiae Dengan Simultaneous Sacharafication And fermentation (SSF). Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Teknik. Universitas Riau.

[18] Thamrin N. H. 2019. Studi Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Nanas (Ananas Comosus) Menjadi Bioetanol Dengan Proses Fermentasi. Skripsi. Samarinda: Program Studi Teknologi Hasil Perkebunan Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Referensi

Dokumen terkait

[24] Revitasari Reviana,Luri, “Pengaruh Konsentrasi Ragi dan Lama Waktu Fermentasi Terhadap Perolehan Bioetanol Dari Kulit Durian (Durio Zibethinus) ”, (Departemen

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh massa ragi dengan variasi waktu fermentasi terhadap bioetanol yang dihasilkan, cara memproses

Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “ Pengaruh Konsentrasi Ragi dan Lama Fermentasi terhadap Perolehan Bioetanol dari Kulit Durian ( Durio zibethinus ) ”,

Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “Pengaruh Konsentrasi Ragi dan Lama Fermentasi terhadap Perolehan Bioetanol dari Kulit Durian (Durio zibethinus)”,

dapat dilihat bahwa hasil perolehan bioetanol relatif meningkat dengan konsentrasi bioetanol tertinggi terjadi pada waktu fermentasi 96 jam dengan penambahan tween

(Response Surface Methode). Konsentrasi ragi pada media stater dan waktu fermentasi memiliki pengaruh nyata terhadap perolehan bioetanol yang dihasilkan. Dari analisa

Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh waktu fermentasi dan massa ragi roti terhadap yield, densitas, viskositas dan kadar bioetanol.. Metode penelitian menggunakan cara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar bioetanol dari (singkong, beras ketan hitam dan beras ketan putih) dengan penambahan ragi sebanyak 10 gram, dengan variasi waktu fermentasi 48 jam, 72 jam dan 96 jam dan mengetahui kadar etanol sesuai dengan Standar Nasional Indonesia