• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN SABUN PADAT TRANSPARAN DENGANMENGGUNAKANPENAMBAHANEKSTRAKBUNGATELANG - POLSRI REPOSITORY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PEMBUATAN SABUN PADAT TRANSPARAN DENGANMENGGUNAKANPENAMBAHANEKSTRAKBUNGATELANG - POLSRI REPOSITORY"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sabun

Sabun merupakan produk kimia yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari- hari. Pembuatan sabun telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu.

Metode pembuatan sabun pada zaman dahulu tidak berbeda jauh dengan metode yang digunakan saat ini, walaupun tentunya kualitas produk yang dihasilkan saat ini jauh lebuh baik. Sabun dibuat dengan metode saponifikasi yaitu mereaksikan trigliserida dengan soda kaustik (NaOH) sehingga menghasilkan sabun dan produk samping berupa gliserin. Bahan baku pembuatan sabun dapat berupa lemak hewani maupun lemak/minyak nabati. Penggunaan sabun dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing lagi, terutama sesuai dengan fungsi utamanya yaitu membersihkan (Apriana, 2013). Sabun padat dibedakan atas tiga macam, yaitu sabun tidak transparan (opaque), sabun transparan, dan sabun (translucent). Ketiga jenis sabun ini dapat dibedakan dengan mudah dari penampakannya. Sabun opaque adalah jenis sabun yang biasa digunakan sehari- hari.Sabun transparan adalah sabun yang penampakannya lebih berkilau dan lebih bening, sehingga sisi belakang sabun terlihat dari sisi depannya. Sabun translucent dan sabun transparan hampir sama, hanya penampakannya berbeda.

Sabun translucent tampak cerah dan tembus cahaya, tetapi tidak terlalu bening dan agak berkabut (Hambali dkk, 2005).

Pada pembuatan sabun terdiri dari bahan baku, bahan penolong dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan bahan penolong pada pembuatan sabun adalah senyawa alkali (basa) serta bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, parfum, dan pewarna alami. Sabun adalah garam alkali karboksilat (RCOONa). Gugus R bersifat hidrofobik karena bersifat nonpolar dan COONa bersifat hidrofilik (polar) (Anggaraeni, 2014).

4

(2)

Ada dua cara untuk membuat sabun, yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi. Kedua proses tersebut dibedakan dari produk sampingan yang dihasilkan berupa gliserol, dimana proses saponifikasi menghasilkan gliserin, sedangkan proses netralisasi tidak menghasilkan gliserin. Proses saponifikasi terjadi karena adanya reaksi antara trigliserilda dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali. Kedua proses tersebut merupakan proses utama yang terjadi di dalam pembuatan sabun.

Reaksi penyabunan dapat dilihat pada reaksi berikut :

CH3(OOCR) + 3NaOH C3H5(OH)3 + 3NaOOCR Asam Lemak Alkali Gliserin Sabun (Warra, 2013) Reaksi saponifikasi pada sabun.

R – COOH+NaOH R – COONa + H2O

Asam lemak bebas Alkali Sabun Air (Ketaren, 2008) Reaksi netralisasi pada sabun.

2.2 Jenis-jenis Sabun

Sabun merupakan salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari lemak dan minyak. Surfaktan memiliki sifat bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofobik dan bagian ekor bersifat hidrofilik. Karena sifat inilah sabun dapat mengangkat kotoran.

Adapun jenis-jenis sabun dan fungsinya adalah sebagai berikut:

1. Sabun mandi Padat

Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemakdan minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Sabun mandi merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa, dengan atau penambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit.

2. Sabun Transparan

Sabun ini adalah sabun yang tembus andang dan memiliki penampilan yang tembus pandang. Sabun ini memiliki kadar yang

(3)

ringan dan juga mudah larut dalam air. Sabun transparant yang bagus harus memiliki nilai transparansi mendekati 1.00.

Gambar 2.1 Sabun Transparan Sumber : Google

3. Deodorant Soap

Sabun deodorant adalah sabun yang digunakan untuk menghilangkan bau yang disebabkan oleh bakteri.

4. Sabun Cair

Sabun cair dibuat melalui proses saponifikasi dengan menggunakan minyak nabati serta menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan kejernihan sabun, dapat ditambahkan gliserin atau alcohol.

5. Sabun kesehatan

Sabun kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar parfum yang rendah, tetapi mengandung bahan-bahan antiseptic dan bebas dari bakteri adiktif. Bahan-bahan yang digunakan dalam sabun ini adalah tri-salisil anilida, tri-klor carbanilyda, irgassan Dp 300 dan sulfur.

(4)

Gambar 2.2 Monomer Surfaktan yang Membentuk Misel Sumber: Prawira, 2008

Kotoran yang menempel pada kulit tidak dapat dibersihkan jika hanya menggunakan air, melainkan perlu suatu bahan yang dapat mengangkat kotoran yang menempel tersebut. Karena sabun merupakan surfaktan, maka sabun dapat menurunkan tegangan muka dan tegangan antarmuka, serta mempunyai sifat menyabunkan, dispersibilitas, emulsifikasi, dan membersihkan.

Mekanisme pembersihan oleh sabun yaitu: saat kontak dengan air, sabun berpenetrasi di antara kulit dan kotoran untuk menurunkan gaya adhesi dan membuatnya lebih mudah dihilangkan. Kotoran tersebut selanjutnya dapat dihilangkan secara fisik dan kemudian terdispersi dalam larutan sabun sebagai hasil emulsifikasi oleh molekul sabun. Molekul sabun tersusun dari gugus hidrofobik dan hidrofilik. Ketika menggunakan sabun untuk membersihkan kotoran (lemak), gugus hidrofobik sabun akan menempel pada kotoran dan gugus hidrofilik menempel pada air. Pengikatan molekul-molekul sabun tersebut dapat menyebabkan tegangan permukaan air berkurang, sehingga kotoran dapat terbuang saat pembilasan.

2.3 Sifat-Sifat Sabun

Sifat-sifat sabun sebagai berikut :

a. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.

CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + OH-

(5)

b. Jika larutan sabun dalam air diaduk, maka akan menghasilkan buih, peristiwaini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.

CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2 c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses

kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun nonpolar karena sabun mempunyai gugus polar dan nonpolar. Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bersifat hidrofobik (tidak suka air)sedangkan COONa+ bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.

Nonpolar : CH3(CH2)16 (larut dalam minyak, hidrofobik dan juga memisahkan kotoran nonpolar) Polar : COONa+ (larut dalam air, hidrofilik dan juga memisahkan kotoran polar).

d. Proses penghilangan kotoran.

• Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan tegangan permukaan sehingga kain menjadi bersih dan air meresap lebih cepat ke permukaan kain.

• Molekul sabun akan mengelilingi kotoran dan mengikat molekul kotoran. Proses ini disebut emulsifikasi karena antara molekul kotoran dan molekul sabun membentuk suatu emulsi.

• Sedangkan molekul sabun didalam air pada saat pembilasan menarik molekul kotoran keluar sehingga kain menjadi bersih.

2.4 Sifat Fisik dan Kimia Bahan Pembuat Sabun 2.4.1 Minyak Kelapa

Minyak kelapa didefinisikan sebagai minyak yang dihasilkan dari biji kelapa segar dan matang (Cocos nucifera L.) melalui cara mekanis dan alami, baik dengan penggunaan panas atau tidak asalkan tidak menyebabkan perubahan atau transformasi minyak.

Biasanya ada tiga jenis minyak kelapa yang tersedia di pasaran, yaitu : 1. Pure coconut oil diekstraksi dari biji kelapa kering (kopra) dengan

(6)

cara kompresi. Ini mentah, tidak dimurnikan dan tanpa aditif.

2. Refined coconut oil yang diperoleh dengan pemurnian secara mekanis dankimiawi, pemutihan dan penghilang bau minyak kelapa mentah sehingga encer, tidak berwarna, tidak berbau dan tanpa ada jenis partikel (seperti protein) yang tersuspensi di dalamnya, karena hanya mterdapat lemak jenuh murni.

3. Virgin coconut oil (VCO) yang berasal dari santan yang diekstraksi dari daging kelapa yang telah diparut dan bukan dari kopra dengan proses seperti fermentasi, pemisahan sentrifugal dan tindakan enzimatik, sehingga sangat baik digunakan sebagai bahan baku pada pembuatan sabun.

Gambar 2.3 Minyak Kelapa Sumber : Alodokter, 2020

Berdasarkan SNI 01-2902-1992, minyak kelapa merupakan hasil dari pengepresan kopra yang telah dikeringkan atau hasil ekstraksi bungkil kopra.

Secara kimiawi, minyak kelapa terbentuk dari rantai karbon, hidrogen, dan oksigen yang disebut dengan asam lemak. Komponen-komponen asam lemak tersebut akan membentuk gliserida saat bergabung dengan gliserol (Arpi dan Noviasari, 2007). Gliserida dalam minyak adalah trigliserida yang dibentuk dari tiga molekul asam lemak dan dikombinasikan dengan satu molekul gliserol (Syah, 2005). Golongan asam lemak jenuh dan MCTs, asam laurat merupakan komponen utama karena memiliki persentase yang paling besar dibandingkan dengan asam lemak lainnya (Syah, 2005). Oleh karena itu, minyak kelapa digolongkan ke dalam minyak asam laurat (C12:0). Asam lemak jenuh lainnya yang memiliki persentase

(7)

cukup tinggi adalah asam miristat (C14:0) dan asam palmitat (C16:0) yang tergolong LCTs (Syah, 2005). Komponen lain yang terkandung dalam minyak kelapa diantaranya adalah sterol, tokoferol, dan tokotrienol. Berdasarkan Codex- Stan 210-1999, sterol yang terdapat dalam minyak kelapa sebagian besar berupa beta sitosterol (C29H50O) dan stigmasterol (C29H48O). Sterol bersifat tidak berwarna, tidak berbau, stabil, dan berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak (Krishna dkk, 2010). Berdasarkan Codex-Stan 210-1999, tokoferol dan tokotrienol yang terdapat dalam minyak kelapa adalah α-tokoferol, β-tokoferol, γ-tokoferol, α- tokotrienol, dan γ-tokotrienol. Persenyawaan tokoferol dan tokotrienol berfungsi sebagai antioksidan (Price, 2004). 2.3. Virgin Coconut Oil (VCODari tabel 2.1 juga dapat dilihat komposisi dari minyak kelapa pada umumnya, yang terdiri dari tiga bagian utama yakni air, asam lemak jenuh, dan asam lemak tak jenuh. Minyak kelapa dapat diproduksi dengan proses kering atau basah. Dalam proses kering, daging kelapa segar di potong-potong dan dikeringkan kemudiandaging kelapa di ekstraksi menjadi minyak kelapa. Pada proses basah, air ditambahkan ke daging kelapa yang diparut kemudian diektraksi. Campuran minyak atau susu yang dihasilkan dipisahkan dengan fermentasi atau dengan memanaskan campuran minyak kelapa untuk mendapatkan minyak kelapa.

2.4.2 Natrium Hidroksida (NaOH)

Senyawa alkali merupakan garam terlarut dari logam alkali seperti kalium dan natrium. Alkali digunakan sebagai bahan kimia yang bersifat basa dan akan bereaksi serta menetralisir asam. Alkali yang umum digunakan adalah NaOH atau KOH. NaOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun padat karena sifatnya yang tidak mudah larut dalam air (Rohman, 2009).

NaOH berwarna putih, massa lebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan diudara akan cepat menyerap karbondioksida dan melembab. NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air. Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida.

NaOH atau kaustik soda adalah senyawa alkali denganberat molekul 40 yang berbentuk padat dan berwarna putih, dapat mengakibatkan iritasi pada kulit, senyawa NaOH larut dalam air dan bersifat basa kuat, mempunyai :

(8)

Titik leleh : 318,4oC Titik didih : 1390oC

Densitas : 2,1 gr/cm3 pada 20oC

Kristal NaOH merupakan zat yang bersifat hidroskopis sehingga harus disimpan pada tempat yang tertutup rapat untuk mengurangi konsentrasi basa yang diperlukan (kirk et al, 1952 dalam Kamikaze, 2002).

2.4.3 Air

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0°C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam- garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Dalam pembuatan sabun, air yang baik digunakan sebagai pelarut yang baik adalah air sulingan atau air minum kemasan. Air dari PAM kurang baik digunakan karena banyak mengandung mineral.

2.4.4 Asam stearat (C18H36O2)

Asam stearat dapat berbentuk padatan atau cairan. Asam stearat berfungsi untuk mengeraskan dan menstabilkan busa. Asam stearat berwarna putih kekuningan dan memiliki titik cair pada suhu 56 °C (Hambali dkk, 2005).

2.4.5 Gliserin (C3H8O3)

Salah satu kandungan zat pada skincare yang banyak dicari saat Anda membutuhkan pelembap. Gliserin atau gliserol baik untuk kulit karena dapat melembapkan sekaligus menyehatkan kulit. Manfaat gliserin yang utama adalah bekerja sebagai pelembap yang sangat efektif untuk kulit. Senyawa ini membuat kulit menyerap air dari udara, sehingga mengurangi kekeringan dan bercak kusam pada kulit. Selain itu, gliserin juga dapat menyembuhkan kulit kering, kasar, dan iritasi.

2.4.6 Parfum

Isi sabun tidak lengkap bila tidak ditambah parfum sebagai pewangi.

Pewangi atau pengaroma adalah suatu zat tambahan yang ditujukan untuk

(9)

memberikan aroma wangi pada suatu sediaan agar konsumen lebih tertarik (Anggaraeni, 2014).

2.4.7 Gula Pasir (C12H22O11)

Gula pasir pada proses pembuatan sabun transparan berfungsi untuk membantu terbentuknya transparansi pada sabun. Gula pasir dapat membantu perkembangan kristal pada sabun (Hambali dkk, 2005).

2.4.8 Etanol (C2H5OH)

Etanol merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol digunakan sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak (Hambali dkk, 2005).

2.4.9 Syarat Mutu Sabun

Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia 06-3235 1994 dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Syarat Mutu Sabun Mandi

No. U r a i a n Satuan Tipe I Tipe II Superfat

1. Kadar air % maks. 15 maks. 15 maks. 15

2. Jumlah asam lemak

3. Alkali bebas % > 70 64 – 70 > 70 - Dihitung sebagai

NaOH

- Dihitung sebagai KOH

%

%

maks. 0,1 maks. 0,14

maks. 0,1 maks. 0,14

maks. 0,1 maks. 0,14 4.

5.

Asam lemak bebas dan atau lemak netral

Minyak mineral

%

-

< 2,5

Negatif

< 2,5

Negatif

2,5 – 7,5

Negatif Sumber: Acuan SNI 06-3235-1994

1. Kadar Air

Kadar air merupakan bahan yang menguap pada suhu dan waktu tertentu.

Maksimal kadar air pada sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun yang dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian dan sabun tidak mudah larut dalam air. Kadar air akan mempengaruhi kekerasan dari sabun (Qisti, 2009).

(10)

2. Jumlah Asam Lemak

Jumlah asam lemak merupakan jumlah total seluruh asam lemak pada sabun yang telah atau pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun yang berkualitas baik mempunyai kandungan total asam lemak minimal 70%, hal ini berarti bahan- bahan yang ditambahkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan sabun kurang dari 30%. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses pembersihan kotoran berupa minyak atau lemak pada saat sabun digunakan. Bahan pengisi yang biasa ditambahkan adalah madu, gliserol, waterglass, protein susu dan lain sebagainya.

Tujuan penambahan bahan pengisi untuk memberikan bentuk yang kompak dan padat, melembabkan, menambahkan zat gizi yang diperlukan oleh kulit (Qisti, 2009).

3. Alkali Bebas

Alkali bebas merupakan alkali dalam sabun yang tidak diikat sebagai senyawa.

Kelebihan alkali bebas dalam sabun tidak boleh lebih dari 0,1% untuk sabun NaOH, dan 0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang keras dan menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun dapat disebabkan karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses penyabunan. Sabun yang mengandung alkali tinggi biasanya digunakan untuk sabun cuci (Qisti, 2009).

4. Asam Lemak Bebas

Asam lemak bebas merupakan asam lemak pada sabun yang tidak terikat sebagai senyawa natrium atau pun senyawa trigliserida (lemak netral). Tingginya asam lemak bebas pada sabun akan mengurangi daya membersihkan sabun, karena asam lemak bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam proses pembersihan. Sabun pada saat digunakan akan menarik komponen asam lemak bebas yang masih terdapat dalam sabun sehingga secara tidak langsung mengurangi kemampuannya untuk membesihkan minyak dari bahan yang berminyak (Qisti, 2009).

5. Minyak Mineral

Minyak mineral merupakan zat atau bahan tetap sebagai minyak, namun saat penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai dengan kekeruhan. Minyak mineral adalah minyak hasil penguraian bahan organik oleh

(11)

jasad renik yang terjadi berjuta-juta tahun. Minyak mineral sama dengan minyak bumi beserta turunannya. Contoh minyak mineral adalah: bensin, minyak tanah, solar, oli, dan sebagainya. Kekeruhan pada pengujian minyak mineral dapat disebabkan juga oleh molekul hidrokarbon dalam bahan (Qisti, 2009).

2.5 Bunga Telang

Tanaman Telang atau biasa disebut Blue Pea Flower merupakan jenis bunga dalam familli Fabaceae yang tumbuh merambat dengan tinggi 6 meter, ranting halus, dan daun majemuk (Zussiva et al., 2012). Bunga telang merupakan bunga majemuk, terbentuk pada ketiak daun, memiliki tangkai silindris, panjangnya kurang lebih 1,5 cm, memiliki kelopak berbentuk corong, mahkota berbentuk kupu-kupu dan berwarna biru, tangkai benang sari berlekatan membentuk tabung, kepala sari bulat, tangkai putik silindris, kepala putik bulat. Buah berbentuk polong, panjang 7-14 cm, bertangkai pendek, buah yang masih muda berwarna hijau setelah tua berubah warna menjadi hitam (Hartono et al., 2013). Tanaman bunga telang (Clitoria ternatea) berasal dari Amerika Selatan bagian tengah yang menyebar ke daerah tropik sejak abad 19, terutama ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman ini tumbuh subur di bawah sinar matahari penuh, tetapi dapat tumbuh di bawah naungan seperti di perkebunan karet dan kelapa. Potensi bunga telang sebagai pakan yang baik karena memiliki nilai nutrisi yang tinggi dan juga sangat disukai ternak (Suarna, 2005). Clitoria ternatea merupakan salah satu dari 60 spesies Clitoria yang tersebar di dunia (Kosai et al. 2015). Berikut ini nama umum dan klasifikasi dari bunga telang menurut (Cronquist, 1981) :

Nama umum :

Indonesia : Bunga telang Inggris : Butterfly pea Klasifikasi :

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Sub kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)

(12)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae (suku polong-polongan) Genus : Clitoria

Spesies : Clitoria ternatea

Sumber: Marpaung, A.M. 2020

Gambar 2.4 Bunga Telang

Bunga telang termasuk tumbuhan monokotil dan mempunyai bunga yang berwarna biru, putih dan coklat. Bunga telang merupakan bunga berkelamin dua (Hermaphroditus) karena memiliki benang sari (alat kelamin jantan) dan putik (alat kelamin betina) sehingga sering disebut dengan bunga sempurna atau bunga lengkap.

2.5.1. Manfaat Bunga Telang

Bunga telang memiliki warna putih atau biru yang jelas dan ukuran yang relatif besar, sehingga digunakan sebagai tanaman hias di seluruh dunia. Beberapa dokumen etnobotani mencatat pemanfaatan Clitoria ternatea, diantaranya adalah masyarakat Kapuas, Kalimantan Barat sebagai obat, hias dan adat (Haryanti et al.

2015), masyarakat di Gianyar, Bali untuk upacara adat, obat dan hias (Sutara 2016; Paramita et al. 2017; Defiani & Kriswiyanti 2019), dan masyarakat di Sulawesi Tengah memanfaatkan bunga dan akar Clitoria ternatea sebagai tanaman obat (Tabeo et al. 2019). Kembang telang (Clitoria ternatea) sudah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk penyembuhan berbagai penyakit sehingga dijadikan salah satu tanaman obat keluarga (TOGA). Bagian Clitoria

(13)

ternatea yang umum dimanfaatkan adalah bunga dan daun. Bunga Clitoria ternatea dapat mengobati mata merah, mata lelah, tenggorokan, penyakit kulit, gangguan urinaria dan anti racun (Rokhman 2007; Triyanto 2016). Daun kembang telang yang ditumbuk dapat mengobati luka yang bernanah sedangkan jika direbus dan dicampur dengan tumbuhan lainnya dapat mengobati keputihan (Putri 2019). Di Asia Tenggara, pigmen biru bunga biasanya digunakan sebagai bahan pewarna makanan karena stabilitas tinggi. Melihat manfaat dan sifat dari bunga telang yang mudah tumbuh di Indonesia, serta aman untuk dikonsumsi maka antosianin dari bunga telang berpotensi untuk dijadikan pewarna alami pada bahan pangan.Warna biru dari bunga telang telah dimanfaatkan sebagai pewarna biru pada ketan di Malaysia. Bunga telang juga dimakan sebagai sayuran di Kerala (India) dan di Filipina (Lee dkk., 2011).

2.5.2. Kandungan Senyawa dalam Bunga Telang

Pigmen yang terkandung di dalam bunga telang meliputi flavanoids, carotenoids, dan betalains (Yoshikazu, 2005 dalam Zussiva et al., 2012). Adapun kandungan- kandungan bunga telang dalam 100 gram dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan Tabel 2.3

Tabel 2.2 Kandungan Senyawa dalam Bunga Telang

Kandungan Gizi Kadar (%)

Kadar Air 92,4

Protein 0,32

Lemak 2,5

Karbohidrat 2,23

Serat Kasar 2,1

Sumber: Neda et al., 2013

(14)

Tabel 2.3 Kandungan Senyawa Fitokimia Tanaman Clitoria ternatea.

Senyawa Mmol/mg bunga Antosianin 5,40 ± 0,23

Flavonoid 20,07 ± 0,55 Flavonol

glikosida

14,66 ± 0,33 Kaempferol

glikosida

12,71 ± 0,46 Mirisetin

glikosida

0,04 ± 0,01 Quersetin

glikosida

1,92 ± 0,12 Sumber: Anthika et al., 2015

Antosianin ada enam yaitu A1, A2, B1, B2, D1 dan D2 itu terisolasi dan struktur ini ditandai sebagai malonylated delphinidin 3,3,5-triglucosides memiliki 3,5-sisi rantai dengan alternatif d-glukosa dan asam p-coumaric (Terahara dkk., 1989). Bunga telang mengandung tanin, flobatanin, karbohidrat, saponin, triterpenoid, fenol flavonoid, flavanol glikosida, protein, alkaloid, antrakuinon, antisianin, stigmasit 4-ena-3,6 dion, minyak volatil dan steroid. Komposisi asam lemak meliputi asam palmitat, stearat, oleat linoleat dan linolenat. Biji bunga telang juga mengandung asam sinamat, finotin dan beta sitosterol (Hussain, 1998).

Sejak dulu, selain dianggap sebagai tanaman hias tumbuhan ini dikenal secara tradisional sebagai obat untuk mata dan pewarna makanan yang memberikan warna biru. Dilihat dari tinjauan fitokimia, bunga telang memiliki sejumlah bahan aktif yang memiliki potensi farmakologi.

Potensi farmakologi bunga telang antara lain adalah sebagai antioksidan, antibakteri, anti inflamasi dan analgesik, antiparasit dan antisida, antidiabetes, antikanker, antihistamin, immunomodulator, dan potensi berperan dalam susunan syaraf pusat, Central Nervous System (CNS) (Budiasih, 2017). Kandungan fitokimia bunga telang yaitu tanin, flobatanin, karbohidrat, saponin, triterpenoid, fenolmfavanoid, flavanol glikosida, protein, alkaloid, antrakuinon, antisianin, stigmasit 4-ena-3,6 dion, minyak volatil dan steroid. Komposisi asam lemakmeliputi

(15)

asam palmitat, stearat, oleat lonoleat, dan linolenat. Biji bunga telang juga mengandung asam sinamat, finotin dan beta sitosterol (Budiasih, 2017). Penggunaan pewarna sintetis yang tidak aman yaitu dengan pembuatan pewarna alami. Salah satu pigmen alami yang berpotensi untuk digunakan sebagai pewarna alami adalah antosianin yang berasal dari bunga telang (Clitoria ternatea). Pemanfaatan bunga telang dalam bidang pangan telah dilakukan di beberapa negara (Hary, 2012).

Warna biru dari bunga telang menunjukkan keberadaan dari antosianin. Ekstrak kasar dari bunga telang dapat digunakan sebagai alternatif pewarna untuk pewarnaan preparat sel darah hewan (Suebkhampet dan Sotthibandhu, 2011). Melihat manfaat, sifat dari bunga telang yang mudah tumbuh di Indonesia dan aman untuk dikonsumsi maka antosianin dari bunga telang berpotensi untuk dijadikan pewarna alami pada bahan pangan. Warna biru dari bunga telang telah dimanfaatkan sebagai pewarna biru pada ketan di Malaysia. Bunga telang juga dimakan sebagai sayuran di Kerala (India) dan di Filipina (Lee dkk., 2011).

Clitoria ternatea telah diamati aktivitas antioksidannya melalui metode DPPH.

Clitoria ternatea yang mengandung sejumlah fenol dan flavonoid menunjukkan penghambatan yang signifikan dibanding standar asam galat dan quercetin. Hal ini menunjukan bahwa daun dan bunga telang memiliki aktivitas antioksidan melawan radikal bebas seperti DPPH, radikal hidroksil, dan hidrogen peroksida. Hasil ini merupakan potensi sebagai sumber antioksidan dari bahan hayati (Lakshmi dkk., 2014).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal tersebut, untuk lebih meningkatkan nilai ekonomisnya, minyak jelantah dimanfaatkan melalui proses kimia yakni sebagai bahan baku dalam pembuatan sabun

Sabun dengan grade B diperoleh dari bahan baku minyak atau lemak dengan kualitas yang lebih rendah dan mengandung sedikit alkali, namun kandungan alkali tersebut

Sabun kualitas B merupakan sabun yang dibuat dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari minyak atau lemak dangan kualitas yang lebih rendah dan mengandung sedikit alkali,

Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa-basa alkali dengan asam lemak yang akan menghasilkan gliserol dan garam yang disebut sebagai Sabun asam lemak yang digunakan

Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan di esterifikasi dengan gliserol.. Reaksi

Jawaban: etanol berfungsi sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak, gula berfungsi untuk

Bahan baku utama pembuatan sabun adalah minyak salah satu minyak yang biasa digunakan adalah Virgin Coconut Oil VCO, minyak ini terbilang mahal dan kurang efisien untuk dijadikan sabun

Asam Lemak Bebas atau Alkali Bebas Asam lemak bebas adalah asam lemak yang berada dalam sabun yang tidak terikat sebagai senyawa natrium ataupun senyawa trigliserida sehingga