• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Syekh Muhammad Abduh dan Murtadha Mutahhari tentang Bunga Bank

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Pemikiran Syekh Muhammad Abduh dan Murtadha Mutahhari tentang Bunga Bank"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Definisi Istilah

Dia adalah salah satu tokoh terkemuka dalam Islam modern, mempengaruhi banyak gerakan reformasi Islam di berbagai negara.6 Buku Tafsir Al-Manar, Muhammad Abduh secara khusus membahas masalah bunga bank, tetapi tidak menganggapnya sebagai riba. Pandangan Muhammad Abduh bahwa bunga bank tidak mengarah pada peningkatan eksploitasi dan tidak ada kesamaannya dengan apa yang dilarang dalam Alquran. Meski lahir di lingkungan tradisionalis, Murtadha Mothahhari nampaknya lebih tertarik dengan tema Theosufi yang dikembangkan oleh Mulla Sadra.

Murtadha Muthahhari juga seorang ulama Syiah yang terlibat dalam mengeluarkan pendapat tentang hukum riba dan bunga bank. Bank adalah badan usaha yang menghimpun uang dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk dana pinjaman dan bentuk lainnya untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak. Singkatnya, bank tidak hanya berperan sebagai lembaga penyimpan, tetapi juga sebagai pemberi pinjaman kepada masyarakat.9.

Tinjauan Hasil Penelitian

Jenis penelitian utama yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian kepustakaan. Bahan atau objek penelitian adalah review buku-buku karya Abdullah Saeed atau data tertulis yang berhubungan langsung dengan tema penelitian ini yaitu kepentingan perbankan dalam sudut pandang Abdullah Saeed. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yaitu penulis mencoba memaparkan pandangan Abdullah Saeed tentang hukum bunga bank. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku karya Abdullah Saeed, antara lain perbankan syariah dan bunga, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa dan data sekunder berupa artikel yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan bunga bank.

Hasil kajian ini menunjukkan pinjaman atau apa sahaja yang seumpamanya termasuk riba adalah diharamkan oleh Abdullah Saeed kerana terdapat unsur kezaliman. 11 Muhammad Subekhi, "Kepentingan Bank dalam Pandangan Abdullah Saeed", (Tesis Sarjana: Jabatan Muamalat, Fakulti Syariah dan Undang-undang: Yogyakarta, 2014), hlm.8-10. 12 Sya'baniyah Rumsida, "Bunga Bank Perspektif Fazlurrahman dan Wahbah Az-Zuhaili", (Tesis Sarjana: Program Pengajian Undang-Undang Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah: Surakarta, 2016), hlm.

Dia juga mengatakan satu-satunya cara untuk menghilangkan suku bunga bank adalah bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah untuk membangun ekonomi dan menurunkan suku bunga bank menjadi nol persen. Landasan hukum riba yang digunakan oleh Fazlurrahman juga bersumber dari Al-Qur'an dan hadits, namun ia tidak menyamakan riba dengan bunga bank, namun tidak ada dalil dari Al-Qur'an dan hadits yang dikemukakan untuk bunga bank. Ia hanya melihat bunga bank dari perspektif moral dan etika saat ini, tidak memperhatikan keberadaan hukum formal dalam hukum Islam.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Muhammad Subekhi dalam pendapat Abdullah Saeed menunjukkan bahwa bunga bank tidak termasuk dalam riba yang diharamkan, dengan alasan tidak ada konsep bunga bank dalam al-Qur'an dan sunnah. Sedangkan menurut penulis dalam pandangan Muhammad Abduh bunga bank itu sah, bunga bank tidak sama dengan riba. Sedangkan pandangan Fazlurrahman adalah riba dilarang dan tidak setuju bahwa bunga bank dilarang.

Sedangkan pendapat penulis adalah pendapat Muhammad Abduh bahwa bunga bank itu halal dan pendapat Murtadha Muthahhari.

Landasan Teori

Selain penghimpunan dan penyaluran dana, pada umumnya bank juga menawarkan jasa perbankan seperti jasa pengiriman uang dan penyimpanan barang berharga. C. Jenis bank berdasarkan kegiatan usahanya 1) Bank Syariah/Bank Syariah. Bank syariah adalah bank yang biasa disebut bank bebas bunga, yaitu lembaga keuangan/perbankan yang bisnis dan produknya didasarkan pada Al-Qur'an dan hadits. Tujuan mendasar dari bank syariah adalah untuk membiayai dengan menemukan produk keuangan yang sesuai dengan aturan dan norma hukum Syariah.

Tujuan utama bank syariah adalah untuk memberikan keuntungan sosial ekonomi bagi umat Islam, bukan untuk memaksimalkan keuntungan seperti pada sistem perbankan berbasis suku bunga. Mencapai tujuan Bank Syariah atas prinsip Syariah secara keseluruhan (Kaffah) dan konsisten (Istikamah).21. 3) Bank konvensional. Bank Ajuha adalah tempat untuk mengirimkan modal dari mereka yang tidak dapat menghasilkan uang kepada mereka yang ingin menghasilkan uang lebih produktif untuk membantu masyarakat.23.

1 Tahun 2004 tentang bunga (interest/fa'idah) adalah biaya tambahan dalam transaksi pinjam meminjam uang (al-qardh) yang dihitung berdasarkan jumlah pokok pinjaman, tidak termasuk penggunaan/pengembalian pokok pinjaman berdasarkan jangka waktu tertentu yang dihitung di muka dan biasanya berdasarkan persentase. Salah satu hal yang tidak boleh menambah kekayaan adalah menerima keuntungan dalam transaksi bisnis tanpa imbalan yang adil. Riba dalam sistem nilai Islam adalah keuntungan yang tidak diperbolehkan menurut hukum Islam dan sudah ada dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Riba Qardh adalah transaksi hutang yang tidak memenuhi kriteria manfaat gabungan resiko (al-ghunmu bil ghurmi) dan hasil perusahaan muncul dengan biaya (al-kharraj bidh dhaman). Riba fadhl disebut juga dengan riba buyu adalah riba yang terjadi akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria kualitas, kuantitas dan penyerahan yang sama. Atas dasar penjelasan di atas, maka pertukaran barang yang tidak sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya menimbulkan tindakan kezaliman di pihak salah satu pihak maupun kedua belah pihak.

Riba nasi'ah, yaitu penambahan yang disebabkan oleh keterlambatan syarat pembayaran.36 Menurut ulama Syafi'iyah, riba yad dan riba nasi'ah keduanya terjadi dalam pertukaran barang yang tidak sejenis.

Metode Penelitian

Data primer merupakan sumber data penelitian dari referensi yang dijadikan sebagai sumber utama referensi penelitian. Kajian ini menggunakan sumber primer berupa buku dan jurnal ilmiah yang secara resmi menjadi dasar kajian ilmu ekonomi. Data sekunder merupakan dua pelengkap yang dapat dikorelasikan dengan data primer, data sebagai bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis, terdiri dari sumber buku, jurnal ilmiah, sumber arsip, dokumen pribadi, disertasi atau tesis, majalah dan dokumen resmi.

Data sekunder ini dapat digunakan sebagai bahan pelengkap penelitian untuk membuktikan bahwa penelitian lebih valid sehingga membantu peneliti untuk memecahkan masalah dan menyelesaikannya dengan baik. Kemudian secara sistematis diklasifikasikan menurut kebutuhan dan menurut kelompok masing-masing, sehingga memudahkan dalam memberikan analisis. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari data dari buku dan data dari halaman web sehingga dapat dengan mudah dipahami.

BUNGA BANK MENURUT MUHAMMAD ABDUH

Pandangan Muhammad Abduh mengenai bunga bank

Larangan riba, menurut Muhammad Abduh, disebabkan adanya unsur bunga (ekstra) yang membuat orang diperas (dieksploitasi). Oleh karena itu, alasan pelarangan adalah untuk menghindari unsur eksploitasi dan penambahan yang tidak pantas (sangat merugikan) milik orang lain. Dan sebagian kamu tidak memakan harta orang lain dengan sia-sia, dan tidak membawa perkara harta itu ke hadapan hakim, agar kamu memakan sebagian harta orang lain dengan berbuat dosa, padahal kamu mengetahuinya.” 48.

Namun, menurut Muhammad Abduh, bunga bank tidak mengarah pada eksploitasi dan tidak ada hubungannya dengan apa yang dilarang dalam Al-Qur'an, konsumsi makanan yang tidak benar (bathil). Itulah sebabnya riba dilarang untuk menghindari kezaliman dan memelihara kebiasaan menolong orang yang membutuhkan, yaitu melalui perbuatan baik dan kasih sayang kepada sesama manusia. Dengan bahasa retoris, Muhammad Abduh mempertanyakan apakah orang kaya tidak diuntungkan dari orang yang memang membutuhkan pinjaman tersebut.

Abduh melahirkan pertanyaan ini dengan tujuan menunjukkan larangan memanfaatkan kesempitan pikiran orang lain. Sebaliknya, Muhammad Abduh ingin mengatakan bahwa muamalah yang sejati adalah muamalah yang dapat memberikan pertolongan dan kemanfaatan bagi umat manusia. Pendapat lain bahwa menurut Muhammad Abduh diperbolehkannya menabung sekaligus mengambil bunga bank karena tabungan ini dapat mendorong berkembangnya sektor ekonomi.

Sebagai alasan tambahan untuk membenarkan menyimpan uang di bank, menurut Muhammad Abduh, menyimpan uang di bank sebenarnya adalah konsep kemitraan dalam hukum Islam (mudharabah). Karena dengan menabung di bank berarti menguntungkan baik pemerintah maupun masyarakat khususnya masyarakat yang menggunakan jasa bank tersebut. Bentuk kemitraan dapat dilihat dalam bentuk simpan pinjam, sejumlah orang menabung atau menitipkan sejumlah uang di bank, dan bank menggunakan uang tersebut untuk membantu orang lain yang membutuhkan melalui pinjaman dan sejenisnya.

Dengan demikian, Allah tidak melarang atau menganjurkan untuk selalu menyuruh dan membantu orang lain untuk melakukan usaha yang saling menguntungkan.

BUNGA BANK MENURUT MURTADHA MUTAHHARI

Pandangan Murtadha Mutahhari mengenai bunga bank

Mereka percaya bahwa bunga bank sama saja dengan riba, dan Alquran dengan tegas melarang dan mengharamkan riba. Menurut Muhammad Abduh, hukum ketidakpastian (zhanni) jenis ini merupakan wilayah ijtihad bagi para mujtahid. Namun perlu diketahui bahwa tentang sunnah Nabi Muhammad Abduh banyak sekali yang termaktub dalam Al-Qur'an, dan sunnah Nabi hanya memberikan petunjuk yang bersifat umum, ada pula sanad atau matan sunnah yang masih diragukan keasliannya.

Muhammad Abduh berpendapat bahwa ijma adalah pendapat umum (public opinion) masyarakat pada waktu tertentu. Dua hal yang mendorong Syekh Muhammad Abduh menyerukan ijtihad, yaitu tabi'at dan tuntutan (kebutuhan) masyarakat manusia. Sedangkan riba yang dibolehkan menurut Muhammad Abduh adalah riba yang ditambahkan dalam jual beli, yang penambahannya tidak ditambah, baik dibayar langsung maupun tidak, yang biasa disebut dengan riba fadhl.

Menurut analisis peneliti, terdapat beberapa perbedaan antara Syekh Muhammad Abduh dan Murtada Muthahhari mengenai bunga bank. 65 Khopiyatun Khasanah, “Studi Analitik Pendapat Mohamed Abduh tentang Riba Adh'afan Mudha'afan” (Skripsi: Jurusan Muamalah, Fakultas Syari'ah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo: Semarang, 2008). Muhammad Abduh sangat menganjurkan ijtihad tanpa memisahkannya dari Al-Qur'an dan hadits serta keyakinan yang dianutnya.

Terdapat perbedaan pendapat dari dua tokoh yaitu Syekh Muhammad Abduh dan Murtadha Muthahhari tentang bunga bank. Sedangkan pendapat Muhammad Abduh mengatakan bahwa bunga bank sah karena menurutnya bunga bank tidak sama dengan riba. Pemikiran Muhammad Abduh tentang bunga bank Menurut Muhammad Abduh bunga bank itu sah karena menurutnya bunga bank tidak sama dengan riba.

Pemikiran Murtadha Muthahhari Tentang Bunga Bank Menurut Murtadha Mothahhari, praktik bunga uang dalam Islam tidak bisa dibenarkan. Perbedaan pandangan Muhammad Abduh dan Murtadha Muthahhari tentang bunga bank terlihat dari perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut lebih didominasi oleh perbedaan metode ijtihad dalam memandang persoalan bunga bank. Sedangkan menurut Muhammad Abduh, ia menekankan kemampuan ijtihadnya dengan menerapkan metode kemaslahatan yang diterima secara umum dan kesesuaian ayat Al-Qur'an dengan ayat-ayat lainnya.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian dengan a = 5% menunjukkan bahwa secara parsial variabel lnflasi, SffiOR dan SBI berpengaruh secara signiftkan terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada

Pada Jurnal Pengaruh Inflasi, Gross Domestic Product, Suku Bunga Kredit, Loan to Asset Ratio, dan Kualitas Aktiva Produktif Terhadap Non Performing Loan menyatakan

Menurut Lailatul Fitri (2017) dalam penelitiannya bahwa dana pihak ketiga (DPK) berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit, akan tetapi pada Suku bunga

Towards A Just Monetary System , Terj.. tidak bisa berkembang bahkan akhirnya gulung tikar. Itulah sebabnya sebagian ulama mengharamkan sistem bunga dan dinyatakan sebagai

Tingkat bunga (the interest rate) biasanya diterapkan pada instrumen utang seperti pinjaman bank atau obligasi, kompensasi yang dibayarkan oleh peminjam dana kepada

Pada periode sebelum adanya penetapan fatwa MUI tentang bunga (tahun 2000-2003), profibilitas yang berhasil dicapai oleh bank Syariah Mandiri yang dilihat dari rasio ROA

Pengaruh Biaya Dana Terhadap Bunga Pinjaman Pada PT Bank Jawa Barat dan Banten Cabang Utama

Dalam hal ini penulis akan membahas pendapat salah seorang tokoh yaitu Abdul Mannan, terkait pendapatnya mengenai riba dan bunga bank, maka dari itu penulis artikel ini dengan judul