1 PENDAHULUAN
Menurut WHO (World Health Organization), Rumah Sakit merupakan bagian internal dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan lengkap (Komprehensif), penyembuhan penyakit (Kuratif), dan pencegahan penyakit (Preventif) kepada masyarakat (Supriyanto dan Ermawati, 2010). Berdasarkan UU RI Nomor 44 Tahun 2009, Rumah Sakit merupakan institusi pelayana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara lengkap yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Penelitian mutu pelayanan kesehatan dilakukan dengan membandingkan pencapaian terhadap standar pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan (Pohan, 2003).
Pengukuran mutu bisa dilakukan dengan salah satunya mengukur kinerja Rumah Sakit yang dapat diketahui melalui beberapa indikator, yaitu: BOR (Bed Occupation Rate) adalah angka yang menujukkan presentase tingkat penggunaan tempat tidur pada satuan waktu tertentu diunit rawat inap. AVLOS (Averate Length Of Stay) adalah rata-rata lama waktu rawat seorng pasien. BTO (Bed Turn Over) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.
TOI (Trun Over Internal) adalah tenggang perputaran tempat tidur (keadaan dimana tempat tidur yang tadinya kosong telah diisi dan yang telah diisi akan kosong dan akan kembali terisi kembali). NDR (Net Death Rate) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderit keluar. GDR (Gross Death Rate) adalah jumlah kematia kasar yang ada dalam di Rumah Sakit, dan rata-rata kunjungan klinik perhari (Syafharini 2012).
Berdasarkan dari pengamatan Setiyana (2013), yang dilakukan pada beberapa Rumah Sakit di Indonesia beberapa tahun sebelumnya menunjukkan bahwa mutu layanan perawat di Rumah Sakit banyak dikeluhkan oleh pasien dan didapati pula kurangnya kualitas pelayanan melalui kecepatan memahami kebutuhan dan keinginan pasien. Hal ini tentu sanggat berlawanan dengan tugas dan kewajiban sebagai seorang perawat yang harus memberikan pelayana baik pada pasien. Tugas dan tanggung jawab seorang perawat bukan hal yang ringan untuk dilakukan. Danang (2009), mengatakan perawat bertanggung jawab terhadap tugas fisik, administrasi, menghadapi kecemasan, dan
2 keluhan yang muncul dari pasien, serta di tuntut untuk selalu tampil sebagai profil perawat yang baik oleh pasien. Apabila Rumah Sakit memberikan pelayanan yang memuaskan dan terbaik sesuai harapan makan akan menciptakan rasa nyaman pada pasien. Jika pasien merasa nyaman dan terpuaskan maka secara langsung maupun tidak langsung pasien akan kembali menggunakan jasa Rumah Sakit tersebut. Oleh sebab itu pihak pengelola Rumah Sakit perlu mempertahankan dan meningkatkan kepuasan pasien dengan menampilkan dan memberikan pelayanan kesehatan yang baik. Untuk pasien rawat inap, ditemukan faktor-faktor penentu dari kualitas pelayanan yaitu: (1) waktu menunggu, (2) informasi pemeriksaan, (3) keramahan, (4) daya tanggap, (5) makanan, (6) kesiapan ruangan, (7) kepuasan keseluruhan menginap di Rumah Sakit, (8) kemungkinan kembali menggunakan layanan pada Rumah Sakit tersebut.
Manajemen Rumah Sakit memiliki mutu pelayanan keperawatan yang diukur dengan pelayanan pada pasien yaitu kecepatan layanan, banyak waktu menunggu untuk mendapatkan layanan, sikap perawat terhadap pasien (daya tangkap), dan kesiapan ruangan saat pasien tiba yang dilakukan sesuai standar keperawatan (Asmuji, 2012). Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mutu layanan perawat di Rumah Sakit berdasakan tingkat kepuasan pasien dalam menggunakan layanan Rumah Sakit tersebut.