PENDEKATAN DAN
METODOLOGI .F
Tugas Konsultan sesuai dalam Kerangka Acuan Kerja mencakup pekerjaan
“Pengawasan Teknis (Supervisi) Pelayanan Jasa Konsultan”. Konsultan akan melaksanakan pengawasan (supervisi) pekerjaan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, Bidang Perumahan dan Prasarana Sarana Utilitas Umum (PSU), Konsultan dalam melaksanakan tugasnya akan menyajikan Pendekatan dan Metodologi sebagaimana yang akan diuraikan pada bab berikut ini.
F.1 Pengetahuan Konsultan Mengenai Kegiatan.
Dalam pelaksanaan tugas Supervisi Teknis, Konsultan menjabarkannya dalam bentuk diagram alir, seperti yang terlihat pada Gambar 6.1.
Diagram Umum Rencana Kerja Konsultan dan Gambar 6.2. Bagan Alir Kegiatan Konsultan Supervisi teknis.
NO. TAHAP KEGIATAN KEGIATAN STRUKTURAL KEGIATAN SUPERVISI KEGIATAN KONTRAKTOR CATATAN
Melakukan penyesuaian pelaksanaan dengan kondisi lapangan untuk selanjutnya dituangkan kedalam
CCO / Addendum.
Menyetujui gambar kerja yang diajukan oleh kontraktor.
Menyetujui usulan perpanjangan waktu yang diaujkan oleh
kontraktor.
Menyelenggarakan Rapat Pembuktian (Show Cayse Meeting)
G
Technical Justification tentang perpanjangan waktu. Laporan yang berisi kajian alternative
penyelesaian
H
D E F
Memberikan masukan kepada Pemimpin Bagian Kegiatan/
Pemimpin Kegiatan tentang alternative pemecahan masalahnya. Memberikan masukan
kepada Pemimpin Bagian Kegiatan/ Pemimpin kegiatan tentang alternative tindakan yang
sebaiknya dilakukan MeMemberikan masukan secara
berkala tentang perkembangan pelaksanaan berikut permasalahan
yang ada dan alternative pemecahannya.
Melakukan pengujian terhadap hasil pekerjaan kontraktor.
Memberikan persetujuan untuk tahapan pelaksanaan untuk
selanjutnya.
Memberikan masukan ke Pemimpin Bag Kegiatan tentang penyesuaian
yang diperlukan.
Memeriksa dan melakukan Koreksi yang diperlukan terhadap
gambar yang diajukan oleh kontraktor.
Memberikan rekomendasi kepada/Pemimpin Kegiatan tentang perpanjangan waktu yang layak diberikan.meriksa kebenaran MC dan data pendukungnya yang diajukan oleh kontraktor. Melakukan
opname bersama
Mengajukan Request dilampiri dengan gambar kerja setiap
akan melaksanakan suatu pekerjaan Mengajukan perpanjangan
waktu bila perlu.
Memperbaiki / rekonstruksi setiap pekerjaan yang tidak
diterima
Menyelenggarakan rapat Lapangan Koordinasi dengan Pengawas Lapangan dan Pemimpin Bagian
Kegiatan / Pemimpin Kegiatan.
Meng-Update schedule sevara berkala Melakukan system kearsipan
( Filling system )
I
Laporan berkala ( harian / pekanan s/d bulanan )
Laporan hasil pengujian mutu.
Menandatangani Surat Permintaan untuk memulai suatu pekerjaan yang diajukan
oleh kontraktor Technical Justification tentang penyesuaian yang diperlukan
konsep CCO kontrak Tandatangan sebagai bukti telah
diperiksa.
Secara garis besar, lingkup layanan Jasa Konsultansi meliputi hal-hal berikut ini :
Pengawasan Teknis.
Sertifikasi perkembangan fisik konstruksi dan pembayaran.
Pelaporan dan evaluasi kegiatan.
Mempersiapkan serah terima pekerjaan.
Persiapan kegiatan pemeliharaan dan pasca konstruksi.
Merekomendasikan tindak lanjut yang diperlukan.
Tugas dan Kewajiban Tim Pengawas Teknis (Field Supervision Team) adalah meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Tugas Konsultan pada pelaksanaan Pra Construction Meeting (PCM).
a. Mengkaji dokumen kontrak terkait target fisik yang mesti tercapai.
b. Memberikan saran / masukan kepada Pemimpin Kegiatan terhadap penyempurnaan Dokumen Kontrak.
c. Mengkaji usulan rencana kerja dan program mobilisasi yang diajukan oleh kontraktor, termasuk usulan perubahan- perubahan.
d. Memberikan saran dan masukan guna penyempurnaan rencana kerja dan program mobilisasi.
e. Menandatangani berita acara Pra Construction Meeting.
f. Menandatangani jadual pelaksanaan yang telah dibuat / disempurnakan kontraktor.
2. Tugas Konsultan pada pelaksanaan PHO.
a. Memberi rekomendasi kepada Pemimpin Kegiatan bahwa usulan yang diajukan oleh kontraktor sudah memenuhi syarat dengan dilampiri laporan hasil pemeriksaan lapangan dengan perkiraan tanggal pekerjaan akan dapat selesai 100%.
b. Membantu panitia PHO penyediaan data pendukung yang diperlukan seperti laporan harian, laporan hasil pengukuran, laporan hasil pengujian, data-data tambahan yang diminta panitia dan surat menyurat yang diperlukan.
c. Memeriksa hasil perhitungan akhir yang diajukan kontraktor setelah dilakukan berita acara serah terima (PHO).
d. Ikut menandatangani berita acara PHO.
3. Tugas Konsultan pada Review Design.
a. Mempersiapkan pertimbangan teknis terhadap review design yang diajukan antara lain :
Penambahan / Pengurangan Volume yang tercantum dalam kontrak.
Dihapusnya suatu jenis pekerjaan.
Perubahan spesifikasi untuk jenis pekerjaan.
Mengubah ukuran, letak dari suatu jenis pekerjaan.
Memunculkan jenis pekerjaan baru.
Memeriksa dan melakukan koreksi yang diperlukan terhadap gambar kerja yang diajukan kontraktor.
Memberikan masukan tentang penyesuaian diperlukan dalam bentuk pertimbangan teknis.
b. Menyampaikan pertimbangan teknis secara tertulis.
Menandatangani gambar kerja sebagai bukti telah diperiksa.
Membuat konsep CCO / Addendum.
4. Tugas Konsultan pada perpanjangan waktu.
a. Selain akibat kesalahan kontraktor, maka bila ada pekerjaan extra / tambah, kelambatan yang ditunjuk pada kontraktor, cuaca yang sangat merugikan dan situasi khusus.
b. Konsultan memberi rekomendasi kepada Pemimpin Kegiatan tentang perpanjangan waktu yang layak diberikan (dalam pertimbangan teknis).
5. Tugas Konsultan pada Show Cause Meeting.
a. Mengevaluasi sebab-sebab timbul keterlambatan ditinjau dari semua aspek.
b. Memberikan usulan / saran jalan keluar khususnya terhadap aspek yang menyebabkan timbulnya keterlambatan.
6. Tugas Konsultan pada proses termin.
a. Memeriksa progres fisik dan data pendukung termasuk kuantitas dan jumlah harga yang selesai dilaksanakan dan telah disetujui direksi dalam bulan bersangkutan.
b. Menandatangani progres fisik sebagai tanda sudah selesai diperiksa.
Dengan kata lain, Konsultan berkewajiban :
1. Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban dalam mengendalikan pelaksanaan pekerjaan agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai dengan desain, persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang tercantum serta jadual dalam dokumen kontrak serta jadual yang telah ditetapkan
2. Membantu Pengguna Jasa dalam memahami dan melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum yang tercantum dalam dokumen kontrak, terutama sehubungan pemenuhan kewajiban dan tugas kontraktor.
3. Menyiapkan rekomendasi sehubungan dengan “Contract Change Order” dan “Addenda”, sehingga perubahan-perubahan kontrak yang diperlukan dapat dibuat secara optimal dengan mempertimbangkan seluruh aspek dana yang tersedia.
4. Melaksanakan pengumpulan data lapangan yang diperlukan secara terperinci untuk mendukung peninjauan desain (Review Design) bilamana ada, menyusun perhitungan desain, membuat gambar desain dan menyiapkan perintah-perintah kepada kontraktor sehingga perubahan desain tersebut dapat dilaksanakan.
5. Melaksanakan pengecekan secara cermat semua pengukuran dan perhitungan volume pekerjaan yang akan dipakai sebagai dasar pembayaran, sehingga semua pengukuran pekerjaan, perhitungan volume dan pembayaran didasarkan kepada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam dokumen kontrak.
6. Melaporkan kepada Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan semua masalah sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan termasuk keterlambatan pencapaian target fisik, serta usaha-usaha penanggulangan dan tindak turun tangan yang diperlukan dan mengkonsultasikannya.
7. Melakukan monitoring dan pengecekan secara terus menerus sehubungan dengan pengendalian mutu dan volume pekerjaan, serta menandatangani “Monthly Certificate (MC)” apabila mutu dan pelaksanaan pekerjaan telah memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku.
8. Melakukan pengecekan dan persetujuan agar gambar-gambar terlaksana (“As Built Drawing”) yang menggambarkan secara
Kontraktor, serta membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan meneruskan gambar-gambar tersebut kepada Penanggung Jawab Kegiatan.
9. Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan dan menyusun laporan bulanan tentang kegiatan-kegiatan pelaksanaan pekerjaan untuk dilaporkan kepada Penanggung Jawab Kegiatan.
10. Menyusun laporan-laporan baik bulanan, teknis maupun laporan akhir, yang mencakup laporan kemajuan pekerjaan dan laporan keuangan serta masalah-masalah yang ditemui dilapangan.
11. Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan dalam melaksanakan “Provisional Hand Over” dan “Final Hand Over”, terutama dalam menyusun daftar kerusakan dan penyimpangan yang perlu diperbaiki.
12. Membantu dan bekerjasama dengan Staff Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bandung, terutama dalam mendapatkan data yang lengkap serta pelaksanaan test-test yang diperlukan.
F.2 Pendekatan Masalah.
Pendekatan Masalah dalam rangka layanan pengawasan teknis dapat didekati dari aspek-aspek sebagai berikut :
1. Pengendalian Teknis.
Bertindak untuk dan atas nama Pengguna Jasa, Konsultan Supervisi mengendalikan pelaksanaan fisik yang dilakukan oleh kontraktor.
Lingkup pengendalian antara lain meliputi : 1. Aspek mutu hasil pekerjaan.
2. Aspek volume pekerjaan.
3. Aspek waktu penyelesaian pekerjaan.
4. Aspek biaya keseluruhan kegiatan.
Semua aspek diatas harus merujuk dan mengikuti ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam Dokumen Kontrak.
2. Pengendalian Atas Koordinasi Terkait.
Konsultan Pengawas dalam rangaka melaksanakan tugas pengendalian teknis tersebut diatas berkewajiban mengendalikan proses koordinasi dengan pihak lain yang terkait dalam kegiatan tersebut.
3. Pengendalian Administrasi Kegiatan.
Dalam hal ini, Konsultan berkewajiban merancang, memberlakukan serta mengendalikan pelaksanaan keseluruhan sistem administrasi kegiatan yang diawasinya, yaitu mencakup antara lain surat- menyurat, memorandum, risalah rapat, laporan-laporan, contoh barang, foto dokumentasi, berita acara, gambar, sketsa, brosur, kontrak, addendum dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
Langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan Konsultan Pengawas untuk maksud diatas adalah :
1. Mempelajari, menanggapi, memecahkan dan menyelesaikan sampai tuntas maksud dari surat masuk maupun keluar.
2. Memperhatikan memorandum dan risalah untuk pedoman dalam pelaksanaan tugas konsultan.
3. Mempersiapkan dan mengecek contoh barang / bahan agar memenuhi persyaratan yang ditetapkan baik kualitas maupun kuantitas.
4. Membuat foto-foto dokumentasi pada setiap paket pekerjaan.
5. Mempelajari dan mengecek gambar-gambar / sketsa pelaksanaan agar tidak ada penyimpangan sebelum maupun sesudah pekerjaan selesai.
6. Membantu / menyiapkan addendum serta lain-lain yang dianggap perlu.
4. Monitoring dan Manajemen Teknik.
4.1. Fungsi dan Proses Pengendalian.
Pengendalian / monitoring adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran, merancang sistem informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar, menganalisa kemungkinan adanya penyimpangan antara pelaksanaan dan standar, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber dana digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran.
Langkah-langkah Proses Monitoring Kegiatan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Menentukan sasaran.
2. Menentukan definisi lingkup kerja.
3. Menentukan standarkan kriteria sebagai patokan dalam rangka mencapai sasaran, dengan patokan pada :
Dasar hukum terkait dengan kegiatan Jasa Konsultansi Pengawasan Penanganan PSU Perumahan MBR/Subsidi
Perumahan Villa Mutiara Cimanggung Desa Cimanggung(BKK JABAR), yaitu :
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2011 Tentang Perumahan dan kawasan permukiman
b. Peraturan pemerintah republik indonesia Nomor 12 tahun 2021 Tentang Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 14 tahun 2016 Tentang penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman
c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 03/PRT/M/2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 38/PRT/M/2015 Tentang Bantuan Prasarana, Sarana, Dan Utilitas Umum Untuk Perumahan Umum
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 TAHUN 2009 Tentang Pedoman Penyerahan Prasarana, Sarana, Dan Utilitas Perumahan Dan Permukiman Di Daerah
e. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
f. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
g. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
h. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
i. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
j. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
k. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sumedang Tahun 2005-2025.
4. Merancang / menyusun sistem informasi, pemantauan, pelaporan hasil pelaksanaan pekerjaan.
5. Mengkaji, investigasi dan menganalisis hasil pekerjaan terhadap standar, kriteria dan sasaran yang telah ditentukan.
6. Mengadakan tindakan pembetulan.
Untuk langkah Proses Pengendalian Kegiatan ditunjukan pada Gambar 6.3.
4.2. Teknik dan Metoda Pengendalian.
Suatu sistem pemantauan dan pengendalian memerlukan perencanaan yang realitis sebagai tolok ukur pencapaian sasaran dan harus dilengkapi dengan metoda yang dapat segera mengungkapkan tanda-tanda terjadinya penyimpangan (bila ada).
Agar suatu sistem pengendalian / monitoring dapat bekerja dengan efektif, diperlukan unsur-unsur sebagai berikut :
1. Tolok ukur yang realitis.
2. Perangkat yang dapat memproses dengan cepat dan tepat.
3. Perkiraan yang akurat.
4. Rencana tindakan.
Salah satu bagian pengelolaan mutu kegiatan yang penting adalah menyusun serta menerapkan Program Penjaminan Mutu (Quality Assurance). Tujuan utama kegiatan penjamin mutu adalah mengadakan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk memberikan kepercayaan kepada semua pihak yang berkepentingan bahwa tindakan yang diperlukan untuk mencapai tindakan mutu produk yang telah dilaksanakan dengan berhasil. Ini semua dapat ditunjukan dengan catatan dan dokumen yang berkaitan dengan Quality Assurance / Quality Control (QA/QC).
Audit pada aspek mutu perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana program QA/QC yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang di audit meliputi :
1. Program menyeluruh untuk mencapai sasaran mutu.
2. Kriteria fit for uses dan aman.
3. Mengikuti peraturan dan prosedur.
4. Memenuhi spesifikasi dan kriteria.
5. Identifikasi dan koreksi kekurangan yang menyebabkan obyek tidak memenuhi mutu.
6. Dokumen yang mencatat hasil implementasi program QA/QC.
4.3. Pengendalian Rentan Pre-Audit, Monitoring dan Post-Audit.
Pengendalian meliputi rentan “Pre-Audit”, “Monitoring” dan
“Post-Audit” yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 4.3.1. Rentang Kendali Pre-Audit
Kegiatan Konsultan dalam rangka pengendalian teknis dalam rentang “Pre-Audit” adalah seluruh kegiatan Konsultan sebelum melakukan pengawasan, yang terdiri dari :
1. Pengumpulan dan analisa data.
2. Pengecekan hasil perencanaan dengan membandingkannya dengan kondisi lapangan.
3. Pemeriksaan terhadap kesiapan Konteraktor, yang meliputi material, peralatan, tenaga dan jadual pelaksanaan.
Kegiatan pengumpulan dan analisa data, informasi dan hasil perencanaan akan menghasilkan catatan mengenai seluruh pekerjaan antara lain :
1. Jenis pekerjaan.
2. Kualitas pekerjaan.
3. Kualitas yang di isyaratkan.
4. Jadual pelaksanaan.
5. Jadual pembayaran.
Pengecekan hasil perencanaan dilakukan dengan cara membawa hasil perencanaan ke lokasi untuk menentukan apakah hasil perencanaan tersebut telah sesuai dengan kondisi yang ada. Apakah ternyata dari hasil pengecekan design tidak sesuai dengan kondisi lapangan, maka Konsultan Supervisi akan membuat alternatif lain yang sesuai untuk diajukan kepada Pengguna Jasa.
Material dan peralatan yang didatangkan Kontraktor akan diperiksa terlebih dahulu oleh Konsultan sehingga benar- benar memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
Jadual waktu yang telah dibuat Kontraktor akan diteliti lebih dahulu apakah sudah memadai terhadap volume pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan perkiraan tenaga / tukang yang akan mengerjakan. Apabila menurut analisa tidak seimbang antara volume dengan tenaga kerja dan peralatan terhadap waktu yang tersedia, maka Konsultan akan menyarankan kepada Kontraktor untuk menyiapkan tenaga kerja dan peralatan yang secukupnya agar bisa selesai tepat pada waktunya.
Penyimpangan biaya keseluruhan biasanya disebabkan oleh adanya pekerjaan tambahan sebagai akibat adanya perubahan design dan pertambahan volume pekerjaan.
Agar tidak terjadi perubahan biaya yang terlalu besar, Konsultan akan menggantikan nilai pekerjaan tambah itu dengan pengurangan volume pekerjaan lain sehingga terjadi kompensasi dan tidak memerlukan biaya tambah, sepanjang hal tersebut memungkinkan dan mendapat persetujuan dari Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan.
4.3.2. Rentang Kendali Monitoring.
Kegiatan pengendalian teknis rentang “Monitoring”
adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama masa pelaksanaan pekerjaan. Meskipun Konsultan Pengawas telah melakukan “Pre-Audit”, namun setiap langkah pelaksanaan pekerjaan akan terus dimonitor agar kalau terjadi penyimpangan segera diketahui dan dapt diluruskan kembali sesuai dengan petunjuk yang benar.
Selama periode ini Konsultan akan selalu melakukan evaluasi terhadap progress dan kualitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh Konsultan.
Dalam melakukan monitoring, kerjasama antara anggota tim harus dijaga sebaik-baiknya sehingga informasi dan pelaporan bisa berjalan dengan cepat, sehingga kerugian yang menyangkut aspek mutu, volume, waktu dan biaya keseluruhan hasil pekerjaan dapat dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya. Selain mengawasi pekerjaan fisik,
Konsultan Pengawas juga memonitor aspek lingkungan sekitar kegiatan, agar jangan sampai pelaksanaan lapangan berikut tenaga kerjanya mengganggu, mematikan serta merusak flora dan fauna yang ada.
Faktor keselamatan kerja juga akan dimonitor secara rutin dengan memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku.
4.3.3. Rentang Kendali Post-Audit.
Setiap kemajuan pelaksanaan pekerjaan akan merupakan prestasi kerja bagi Kontraktor. Kemajuan fisik ini akan dipakai untuk pengajuan pembayaran senilai hasil kerjanya. Namun Kontraktor tidak akan bisa menyajikan permintaan pembayaran sebelum mendapat rekomendasi dari Konsultan Pengawas bahwa hasil pekerjaannya sudah memenuhi persyaratan teknis atau tidak.
5. Evaluasi Rencana.
Konsultan Pengawas melakukan evaluasi atas rencana kegiatan yang akan dilaksanakan serta menyarankan perubahan / penyempurnaan / penyesuaian rencana yang perlu dilakukan (bila ada), guna menjamin tercapainya maksud dan tujuan kegiatan dengan sebaik-baiknya.
6. Verifikasi Hasil Pekerjaan Kontraktor.
Konsultan Pengawas berwenang dan pada saatnya berkewajiban menyatakan bahwa hasil pekerjaan Kontraktor telah memenuhi semua persyaratan untuk disetujui atau disyahkan oleh Pengguna Jasa.
7. Kontrol Sistematik Terhadap Kegiatan Lapangan.
Dalam konteks lebih luas, pekerjaan Konsultan Pengawas mengemban juga fungsi kontrol Manajemen Kegiatan konstruksi.
Sebelum memeriksa hasil pekerjaan, perlu diperiksa dahulu persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan setengah- setengah atau dengan cara perencanaan yang mendadak, akan mengakibatkan hasil kerja yang tidak memuaskan. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan suatu kontrol yang sistematik, Pengawas Lapangan perlu menerapkan sistem yang baik dilapangan.
Kontrol yang sistematik terhadap kegiatan dilapangan memiliki 3 (tiga) tujuan, yaitu :
1. Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan yang masuk dalam kegiatan. Bila terdapat kekurangan yang terjadi, maka harus dikembangkan sasaran jangka pendek dan program kerja untuk mengatasinya.
2. Memastikan bahwa pekerjaan pengawasan berjalan secara benar sehingga peringatan secara dini dapat diberikan apabila terjadi sesuatu kesalahan.
3. Mengamankan biaya yang sudah dianggarkan dalam kegiatan tidak dilampaui bila terjadi perubahan kontrak.
Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu peninjauan dilapangan, antara lain :
1. Pencapaian target fisik.
2. Pencapaian target keuangan.
3. Pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.
4. Pemakaian tenaga kerja dan peralatan yang menjamin efektifitas dan efisiensi kerja lapangan.
5. Pemantapan kerjasama antara pekerja yang terkait langsung dengan kegiatan dari seluruh instansi terkait.
6. Hubungan dengan Pengguna Jasa.
Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai atau menunjukan tendensi yang tidak menggembirakan. Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalah dengan benar, maka langkah-langkah yang diambil untuk mengatasinya akan lebih cepat dan efektif.
8. Pengontrolan Kegiatan.
Merencanakan dan membangun adalah suatu aktifitas yang dinamis, dan yang dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Karena itu, Network/S-Curve Chart yang telah disetujui sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus dicek kembali secara periodik :
1. Apakah waktu yang telah direncanakan telah ditepati 2. Akan ditepati dalam jangka panjang atau pendek 3. Nantinya akan ditepati (jangka panjang)
Bila perlu dapat diadakan perubahan baru untuk mengendalikan jalannya kegiatan seperti yang dikehendaki.
Jarak Waktu Kontrol.
Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam rentang waktu, yaitu :
a. 1-2 minggu untuk aktifitas-aktifitas yang kritis atau yang mendekati kritis.
b. 2-3 minggu untuk aktifitas-aktifitas yang tidak kritis.
Cara Mengontrol.
Dibedakan 3 (tiga) cara mengontrol, yaitu sebagai berikut : a. Untuk sebuah aktifitas yang akan dimulai : disajikan langkah-
langkah cara mengontrol seperti Flow Chart Gambar 6.4.
b. Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah dimulai : disajikan langkah-langkah cara mengontrol seperti Flow Chart Gambar 6.5.
c. Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah selesai : disajikan langkah-langkah cara mengontrol seperti Flow Chart Gambar 6.6.
9. Fungsi Konsultan Pengawas.
Fungsi Konsultan Pengawas pada dasarnya dibagi dalam 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi Administrasi, dan Fungsi Pengawasan (Supervisi).
9.1. Fungsi Administrasi
Fungsi Administratif terdiri dari :
1. Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan dalam memahami dan melaksanakan ketentuan- ketentuan hukum yang tercantum dalam Dokumen Kontrak, terutama yang berhubungan dengan penentuan kewajiban dan tugas Kontraktor.
2. Mengadakan komunikasi surat-menyurat dan membuat memorandum atas pekerjaan konstruksi.
3. Membuat dokumentasi hasil-hasil test pelaksanaan pekerjaan berupa foto dokumentasi yang dibuat sesbelum kegiatan dilaksanakan (mulai), sedang dilaksanakan dan pada saat kegiatan selesai, serta kejadian lapangan lainnya.
4. Menyiapkan dan meyampaikan laporan pekerjaan secara berkala.
5. Menyiapkan rekomendasi sehubungan dengan “Contract Change Order” dan “Addendum” sehingga perubahan- perubahan kontrak yang diperlukan dapat dibuat secara optimal dengan mempertimbangkan semua aspek yang ada.
9.2. Fungsi Pengawasan (Supervisi)
Funsi pengawasan (Supervisi) meliputi :
1. Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya mengendalikan pelaksanaan pekerjaan agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai dengan desain, persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam dokumen Kontrak serta Jadual Waktu yang telah ditetapkan.
2. Melaksanakan pengumpulan data lapangan yang diperlukan secara terperinci untuk memdukung Review Design (bila ada), membantu Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan sehingga perubahan desain tersebut dapat dilaksanakan.
3. Melaksanakan pengecekan secara cermat semua pengukuran dan perhitungan volume pekerjaan yang akan dicapai sebagai dasar pembayaran didasarkan kepada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Dokumen Kontrak.
4. Mengadakan pengadaan personil dan peralatan Kontraktor apakah sesuai dengan kebutuhan yang diisyaratkan.
5. Memantau dan mengecek pengendalian mutu dan volume pekerjaan untuk Sertifikasi Pembayaran Bulanan
“[Monthly Certificate (MC)]”.
6. Melakukan pengecekan dan persetujuan Gambar Terlaksana “(As Built Drawing)”.
7. Membantu Pemimpin Kegiatan / Pemimpin Bagian Kegiatan dalam menyiapkan pelaksanaan “Provisional Hand Over (PHO)” dan pada beberapa kondisi kontrak juga “Final Hand Over (FHO)”.
10. Tanggung Jawab Konsultan Pengawas
Konsultan Pengawas bertanggung jawab penuh kepada Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat komitmen/Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan bahwa hasil ketentuan dalam Dokumen Kontrak, Konsultan Pengawas harus memberikan jaminan atas segala ijin kerja, persetujuan dari setiap jenis / langkah pelaksanaan, persyaratan konstruksi, mutu hasil pekerjaan, volume pekerjaan dan persyaratan lainnya, apakah sudah sesuai dengan spesifikasi dan metoda pelaksanaan yang telah disepakati.
Untuk memperjelas uraian tersebut diatas, berikut ini dilengkapi Gambar 6.7. Bagan Alir Aktifitas Pelaksanaan Pekerjaan sejak pekerjaan dimulai sampai pekerjaan selesai.
Gambar 6.7.
BAGAN ALIR AKTIVITAS PELAKSANAAN PEKERJAAN
Tinjauan dokumen lelang dan colecting data
Proses perubahan rencana jika
diperlukan penyesuaian dan
revisi rencana
Survey, verifikasi data, pengendalian kerja
Kelengkapan kontraktor
Rekomendasi usulan pelaksanaan
Persiapan keseluruhan yang diperlukan, gambar
tambahan untuk kerja kontraktor yang disetujui
oleh
Membantu employer untuk memeriksa dan
menyelesaikan problem utama mencegah yang tidak
perlu dari kontraktor
Memeriksa dan menyetujui metode
dan jadual pelaksanaan
Memeriksa dan menyetujui daftar peralatan, fasilitas Camp, lokasi AMP dan Stockyard
Memeriksa dan Rekomendasi Personil Utama
Kontraktor
Memeriksa dan Menata metodologi
kualitas dan kuantitas
Memeriksa dan menyetujui staking out/
pengukuran
Memeriksa dan menyetujui
metoda konstruksi
Memeriksa dan menyetujui quarry/meterial yang disiapkan kontraktor
Koordinasi Proyek
Inspeksi Lapangan
Pengujian Laboratorium
Rekord kondisi Cuaca
Pengukuran Kuantitas
CCO bila ada
Penelitian Shop Drawing
Rekomendasi lain, jika ada
Pemeriksaan dan Penyerahan
Pekerjaan
Memeriksa dan menyetujui As
built drawing yang dibuat kontraktor
LAPORA N AKHIR
Reporting
Mendapatkan dan memelihara segala jaminan yang diperlukan : Meterial, Pembayaran Sertifikat Bulanan ( Monthly Certificate ) Catatan Kondisi yang tidak pasti di lapangan dan mencegah kelambatan
Pengawasan Kemajuan Mengarahkan kepada KontraktorReporting
Menghindari/Memeriksa Klaim Kontraktor
11. Pengendalian Mutu
Selama periode konstruksi, Konsultan akan senantiasa memberikan pengawasan, arahan, bimbingan dan instruksi yang diperlukan oleh Kontraktor guna menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat kualitas.
Aspek-aspek pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi antara lain sebagai berikut dibawah ini :
1. Peralatan laboratorium dan personil.
2. Penyimpanan material/bahan.
3. Cara pengangkutan material/campuran ke lokasi pekerjaan.
4. Pengujian material yang akan digunakan.
5. Penyiapan Job Mix Formula campuran.
6. Pengujian rutin laboratorium selama pelaksanaan.
7. Test lapangan.
8. Administrasi dan formulir-formulir.
Pengendalian kualitas tersebut diatas dapat diuraikan sebagai berikut :
11.1. Peralatan Laboratorium dan Personil.
Peralatan laboratorium yang perlu dipergunakan, seperti disebutkan dalam buku spesifikasi, dan atau bilamana dimungkinkan dapat menggunakan laboratorium / fasilitas pengujian yang berbadan hukum resmi atas persetujuan Pengguna Jasa. Peralatan laboratorium tersebut harus dalam kondisi layak pakai dan telah dilakukan kalibrasi sebelumnya,
alat tersebut dapat mewakili keadaan sebenarnya. Untuk peralatan yang baru, kalibrasi biasanya telah dilakukan oleh Pabrik yang mengeluarkan alat tersebut. Sedangkan untuk alat-alat yang lama, kalibrasi dapat dilakukan dengan instansi-instansi yang berwenang untuk melakukan kalibrasi.
Personil / tenaga kerja yang terkait untuk melakukan pengujian harus cukup berpengalaman dan mengenal dengan baik tentang testing laboratorium maupun lapangan.
11.2. Penyimpanan Material/Bahan.
Bahan-bahan harus disimpan dengan suatu cara yang sedemikian rupa untuk menjamin perlindungan kualitas.
Bahan-bahan yang disimpan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah diperiksa oleh Konsultan.
Tempat penyimpanan harus bebas dari tumbuh-tumbuhan dan puing, harus mempunyai drainase yang lancar. Bahan-bahan yang diletakan langsung diatas tanah tidak boleh digunakan dalam pekerjaan kecuali tempat kerja tersebut telah dipersiapkan dan diberi lapisan atas dengan suatu lapisan pasir atau kerikil setebal 10 cm.
Bahan-bahan (batu pecah dan sebagainya) harus disimpan dengan cara yang sedemikian rupa untuk mencegah degregasi dan untuk menjamin gradasi yang sesuai serta mengontrol kadar air.
Tinggi maksimum tumpukan 5 m.
Penumpukan berbagai ragam agregat untuk hotmix, beton dan lain-lain harus dipisahkan dengan papan pembatas guna mencegah pencampuran bahan-bahan. Tumpukan agregat harus dilindungi dari air hujan untuk mencegah kejenuhan agregat yang akan mengakibatkan penurunan kualitas.
11.3. Cara pengangkutan Material/Campuran.
Konsultan dapat melakukan pembatasan bobot pengangkutan untuk perlindungan terhadap setiap bangunan atau struktur yang ada disekitar kegiatan.
Bilamana terjadi gangguan diantara operasi berbagai pekerjaan, Konsultan akan mempunyai wewenang untuk memerintahkan Kontraktor dan untuk menentukan urutan pekerjaan yang diperlukan guna mempercepat penyelesaian seluruh kegiatan.
11.4. Pengujian Material Yang Akan Digunakan.
Semua material dari setiap bagian pekerjaan akan diperiksa oleh Konsultan. Staff Konsultan setiap saat akan membuat rencana untuk memeriksa material yang akan digunakan berdasarkan atas jadual kerja Kontraktor.
Walaupun bahan-bahan yang disimpan telah disetujui sebelum penyimpanan, namun dapat diperiksa ulang dan di test kembali oleh Konsultan.
Material yang akan digunakan harus di test di laboratorium untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan, dengan jumlah dan jenis test seperti yang disebutkan dalam spesifikasi.
11.5. Job Mix Formula.
Agar mendapatkan campuran yang baik dan memenuhi persyaratan spesifikasi, sebelum pekerjaan dimulai perlu dibuatkan dahulu suatu Job Mix Formula yang telah disetujui Konsultan, antara lain untuk pekerjaan : Aggregate Base Class A & B, Hotmix, Beton (bila ada pekerjaan Concrete) dan lain- lain.
11.6. Pengujian Rutin Laboratorium.
Selama pelaksanaan seperti yang disebutkan dalam spesifikasi, bahan-bahan atau campuran-campuran perlu dilakukan pengujian rutin harian atau selama pekerjaan berlangsung, guna menjamin kualitas sesuai persyaratan.
Jenis dan frekuensi / jumlah test rutin ini seperti yang disebutkan dalam spesifikasi.
11.7. Test Lapangan.
Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan, produk tersebut perlu diadakan pengujian / test lapangan seperti apa yang disebutkan dalam persyaratan pengujian.
11.8. Formulir-formulir Pengujian.
Formulir-formulir pengujian baik untuk testing di laboratorium dan lapangan, menggunakan form yang sudah baku dan disetujui oleh Pengguan Jasa.
Untuk memperjelas uraian tersebut diatas, berikut ini dilengkapi Gambar 6.8. BAGAN ALIR PENGENDALIAN MUTU.
12. Pengendalian Kuantitas (Volume)
Pengawasan kuantitas (Quality Control) adalah pengawasan terhadap bahan-bahan/campuran (atau setiap item pekerjaan) yang dilakukan oleh kontraktor pada waktu sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan setelah pelaksanaan.
Konsultan akan memperoses bahan-bahan campuran berdasarkan : 1. Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.
2. Metoda perhitungan.
3. Lokasi pekerjaan.
4. Jenis Pekerjaan.
5. Tanggal diselesaikannya pekerjaan.
Setelah produk pekerjaan memenuhi syrata baik kulaitas maupun elevasi dan persuratan lainnya, maka pengukuran kuantitas dapat dilakukan, sehingga di dapat volume pekerjaan yang akurat dan tepat. Dengan demikian volume yang disetujui oleh konsultan dan akan disertifikasi adalah benar terukur dan dapat dipertanggung jawabkan kepada pengguna jasa.
Beberapa pengukuran antara lain :
1. Pengukuran meter Panjang ( m’ )
Pengukuran dilapangan dapat dilakukan dengan meteran, yaitu panjang, setelah penampang suatu konstruksi telah sesuai dengan gambar kerja.
2. Pengukuran meter Persegi ( m2 )
Pengukuran dilapangan dapat dilakukan dengan meteran, yaitu Panjan dan lebar, setelah ketebalan memenuhi tebal minimum atau toleransi yang dibenarkan dalam spesifikasi.
3. Pengukuran meter Kubik (m3 )
Pengukuran dilapangan dapat dilakukan dengan meteran, yaitu untuk panjang dan lebar. Sedangkan untuk ketebalan dapat diukur dengan core drill atau alat ukur, sehingga panjang, lebar dan tebal menghasilkan volume yang akurat.
4. Pengukuran Berat (Ton )
Pengukuran ton dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
a. Pertama yaitu penimbangan dengan timbangan atau truck scale (Misalnya hotmix di AMP).
b. Kedua dengan pengukuran meter kubik dikalikan berat jenis bahan tersebut (berat jenis dapat diketahui dari laboratorium dari hasil penelitian).
Formulir untuk perhitungan kuantitas tersebut dapat dilihat pada contoh quantity sheet pada lampiran. Form-Form ini dibuat secara komputerisasi, sehingga perhitungan volume pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat. Bila diperlukan, Form-form tersebut dapat disesuaikan dengan format kegiatan.
Untuk memperjelas uraian di atas, proses pengendalian kuantitas dapat dilihat pada Gambar 6.9. BAGAN ALIR PENGENDALIAN VOLUME.
Tandem Roller. Pneumatic Tire Roller dan sejumlah Dump Truck.
Dari alat tersebut di analisis produksi mata perjam, kemudian produksi terkecil vang digunakan untuk evaluasi pengendalian wak-tu.
Untuk rencana sekian jam kerja perhari, apakah mampu alat tersebut mengahasilkan produk hotmia seperti volume yang digunakan. Bila tidak tercapai maka perlu diambil tindakan- tindakan antara lain :
a Menambah jumlah alat, atau b. Menambah jam kerjalover time
c. Efisiensi dan manajemen pengoperasian alat berat dan Tenaga Kerja.
Untuk melaksanakan suatu pekerjaan diperlukan sejumlah tenaga kerja, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan sesuai dengan jadual/wak-tu vang ditentukan. Bila pekerjaan diperkirakan tidak bisa diselesaikan sesuai dengan waktu semula.
maka tenaga kerja perlu dl tambah atau tenaga kerja dua shift atau kerja lembur/overtime.
Dengan tenaga kerja yang cukup dan jam kerja yang cukup/efektif maka diharapkan pelaksanaan pekerjaan bisa tepat wakrtu, Jumlah Jam Kerja
Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung pula pada jam kerja per hari. Jumlah jam kerja yang sedikit akan mengahsilkan produk yang lebih kecil daripada bila jam kerjanya lebih banyak.
Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian sehingga volume pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau pekerjaan tidak bisa diselesaikan pada slang hari, maka perlu untuk kerja malamlovertime.
Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai secara optimal maka konsultan akan memenuhi secara sungguh-sungguh "Network Planning" yang umumnya dibuat oleh Kontraktor dengan Metode Lintas Kritis ( Critical Path Method;
”'CPM" ).
Mengingat sangat pentingnya "Network Planning” dalam suatu pekerjaan pengawasan, maka konsultan akan menganalisa secara rutin "Network Planning" dari Kontrakrtor dan akan membantu Kontrakrtor dalam mereview clan menyusun kembali "Network Planning" tersebut bila diperlukan.
Pengendalian skedul pelaksanaan lainnya dapat menggunakan
"Barchart/S-Curve" yang bisa juga dapat digunakan "Vektor Diagram'yang balk dan cocok untuk pekerjaan ini, karena dapat mengetahui/menunjukan lokasi dan waktu.
13. Pengendalian Biaya
Didalam kontrak pelaksanaan pekerjaan tercantum : 1. Biaya Kegiatan
2. Estimate Quantity/volume pekerjaan.
3. Harga Satuan Pekerjaan.
Guna pengendalian biaya pelaksanaan kegiatan, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :
Pengukwan hasil pekerjaan, perlu dilakukan dengan akurat dan benarbenar sehingga volume yang diba_yarkan sesuai dengan gambar rencana atau terpasang. Dengan demikian volume dalam kontrak tidak dilampaui yang pada akhirnya biaya _yang dikeluarkan sesuai dengan yang dianggarkan.
Pekerjaan yang biasa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima clan' segi pengukwan k,uantitas dan kualitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benar-benar untuk pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.
Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontrak dan harga satuan pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak
pelaksanaan. sehingga biava kegiatan dibavarkan sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.
14. Administrasi Kegiatan dan Formulir-formulir
Sebelum Kontraktor memulai alaifitas konstruksi, Kontraktor sevogyanya membuat suatu permohonan secara tertulis kepada Konsultan untuk prosedur Konstruksi dan persetujuan pekerjaan dalam tahap yang logisUntuk maksud tersebut. Konsultan ahan ; Menginspeksi clan menvetujui bahan-bahan vang akan digunakan_ Menginspeksi clan menyetujui pelaksanaan pekerjaan Gsik. Mengispeksi dan menyetujui metode dan ketelitian pekerjaan konstruksi. Melaksanakan test-test lapangan.
Melaksanakan test laboratorium terhadap sample yang akan diambil dari lokasi kerja.
Melaksanakan test-test vang lain sesuai dengan spesifikasi.
Bagian tersebut di atas adalah merupakan sebagian dari administrasi/prosedur kegiatan yang perlu didukung dengan suatu kelengkapan administrasi kegiatan, antara lain dalam bentuk formulir/form misalnya, seperti yang ditunjukan pada gambar berikut :
15. Pengendalian Waktu
Didalam pelaksanaan pembangunan, alat berat, tenaga kerja dan jumlah jam kerja perhari adalah sangat erat sekali hubungannya dengan waktu pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.
Dibawah ini adalah penjelasan bagaimana pengendalaian waktu perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi perpanjang waktu, sehingga tidak terjadi pemborosan waktu, tenaga dan biaya.
Waktu Rencana Kerja Kontraktor.
Sebelum pekerjaan dimulai konsultan akan mengecek rencana kerja kontraktor yang telah dibuat kontraktor. Apakah rencana kerja yang ditargetkan sudah layak dan realistis. Misalnya dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila dibandingkan pada saat musim kemarau untuk pekerjaan pengecoran misalnya, untuk kondisi kerja yang sama. Kemudian apakah metoda pelaksanaan dan urutan kerja kontraktor sudah sistimatis, konsepsional dan benar.
Selanjutnya berdasarkan rencana kerja kontraktor yang sudah disetujui oleh konsultan pengawas akan mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut. Dari time schedule tersebut bila dijabarkan kedalam target harian, sehingga setiap hari apakah target volume tersebut bisa dicapai atau tidak, bila target volume tersebut tidak tercapai maka selisih volume harus diprogramkan/di kejar untu rencana kerja selanjutnya. Dengan Rencana kerja yang disebutkan dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan sebagaimana dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan kegiatan bisa diselesaikan tepat waktu.
Alat Berat ( Heavy Equipment).
Untuk pekerjaan pembangunan, diperlukan alat berat, bisa merupkan kombinasi dari beberapa jenis alat.
Pertama harus diketahui/dianalisa kapasitas alat, kalau alat tersebut adalah suatu kombinasi, maka kapasitas yang diperhitungkan adalah yang terkecil, missal untuk redymix.
Untuk rencana sekian jam kerja perhari, apakah mampu alat tersebut mengahasilkan produk readymix seperti volume yang digunakan. Bila tidak tercapai maka perlu diambil tindakan- tindakan antara lain :
a Menambah jumlah alat, atau b. Menambah jam kerjalover time
c. Efisiensi dan manajemen pengoperasian alat berat Tenaga Kerja
Untuk melaksanakan suatu pekerjaan diperlukan sejumlah tenaga kerja, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan sesuai dengan jadual/wak-tu vang ditentukan. Bila pekerjaan diperkirakan tidak bisa diselesaikan sesuai dengan waktu semula. maka tenaga kerja perlu dl tambah atau tenaga kerja dua shift atau kerja lembur/overtime.
Dengan tenaga kerja yang cukup dan jam kerja yang cukup/efektif maka diharapkan pelaksanaan pekerjaan bisa tepat wakrtu.