PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
METODOLOGI
METODOLOGI
PENYUSUNAN RDTR
PENYUSUNAN RDTR
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
KEDUDUKAN
KEDUDUKAN
RDTR DAN
RDTR DAN
PERATURAN
PERATURAN
ZONASI
ZONASI
Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW
kabupaten/kota harus menetapkan bagian dari wilayah
kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah yang akan disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan strategis kabupaten/kota. Kawasan strategis kabupaten/kota dapat disusun RDTR apabila merupakan: kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan menjadi kawasan perkotaan; dan memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR yang ditetapkan dalam pedoman ini.
Kedudukan RDTR adalah sebagai salah satu dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang dan sekaligus menjadi dasar penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR ditentukan sebagai zona yang penanganannya diprioritaskan. RDTR disusun muatan materinya lengkap, termasuk peraturan zonasi jika RTRW kabupaten/kota membutuhkan acuan lebih detil untu pengendalian pemanfaatan ruang kabupaten/kota. Jika RTRW kabupaten/kota tidak memerlukan RDTR, peraturan zonasi dapat disusun untuk kawasan perkotaan baik yang sudah ada maupun yang direncanakan pada wilayah kabupaten/kota.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Kedudukan RDTR Kabupaten dalam sistem perencanaan tata ruang dan sistem perencanaan pembangunan nasional bersama dengan RTR Kawasan Strategis Kabupaten adalah merupakan rencana rinci dari rencana umum tata ruang RTRW Kabupaten. RTRW Kabupaten sebagai sumber penyusunan RDTR sejajar dengan rencana pembangunan RPJP Kabupaten/Kota. RDTR yang disusun merupakan satu kesatuan dengan peraturan zonasi untuk suatu BWP tertentu. Jika RDTR tidak disusun atau RDTR telah ditetapkan sebagai
Perda namun belum ada peraturan zonasinya, maka peraturan zonasi dapat disusun terpisah dan berisikan zoning map dan zoning text untuk seluruh kawasan perkotaan baik yang sudah ada maupun yang direncanakan pada wilayah kabupaten. RDTR ditetapkan dengan Perda. Jika RDTR telah ditetapkan sebagai Perda terpisah dari peraturan zonasi, maka peraturan zonasi ditetapkan dengan Perda. Hubungan antara RTRW Kabupaten/Kota, RDTR, dan RTBL serta Wilayah Perencanaannya adalah sebagai berikut :
1. RTRW Kabupaten/Kota wilayah perencanaannya adalah wilayah
kabupaten/kota, dirincikan lebih lanjut menjadi RDTR dengan wilayah perencanaan dibagi menjadi BWP.
2. RDTR wilayah perencanaannya adalah BWP, dirincikan lebih
lanjut menjadi RTBL dengan wilayah perencanaan dibagi menjadi Sub BWP.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Gambar 8.1 Gambar 8.1
Kedudukan RDTR dalam Sistem Penataan Ruang dan Sistem
Kedudukan RDTR dalam Sistem Penataan Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan NasionalPerencanaan Pembangunan Nasional
Sumber: Pedoman Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota, Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2011
Dalam proses pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang Peraturan Zonasi memiliki kedudukan sangat penting karena beberapa alasan sebagai berikut:
1. Peraturan zonasi memiliki tingkat ketelitian yang sama dengan
RDTR, namun mengatur lebih rinci dan lebih lengkap ketentuan pemanfaatan ruang dengan tetap mengacu pada RTRW Kabupaten.
2. Perbedaan peran dan fungsi antara RDTR dengan Peraturan
Zonasi dalam sistem penataan ruang adalah:
RDTR merupakan salah satu jenjang rencana tata ruang
kota dengan skala 1 : 5000
Peraturan Zonasi merupakan salah satu perangkat
pengendalian pemanfaatan ruang yang berisi ketentuan-ketentuan teknis dan administratif pemanfaatan ruang dan pengembangan tapak. Peraturan Zonasi ini telah banyak digunakan di negara berkembang, dan dapat melengkapi
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
aturan pemanfaatan ruang untuk RDTR yang telah ditetapkan.
3. Peraturan Zonasi adalah peraturan yang menjadi rujukan
perijinan, pengawasan dan penertiban, dalam pengendalian pemanfaatan ruang yang merujuk pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten yang telah menetapkan fungsi, intensitas, ketentuan tata masa bangunan, sarana dan prasarana, serta indikasi program pembangunannya.
4. Peraturan Zonasi juga menjadi landasan untuk manajemen lahan
dan pengembangan tapak. Gambar 8.2
Gambar 8.2
Gambar. Kedudukan Peraturan Zonasi dalam Sistem Penataan Ruang di
Gambar. Kedudukan Peraturan Zonasi dalam Sistem Penataan Ruang di IndonesiaIndonesia
Sumber: Konsep Dasar Panduan Penyusunan Peraturan Zonasi Wilayah Perkotaan, Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum Tahun 2006
PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMANFAATAN PEMANFAATAN PENGENDALIANPENGENDALIAN
Kegiatan Intensitas Kegiatan Intensitas Tata Masa Bangunan Tata Masa Bangunan Sarana dan Parasarana Sarana dan Parasarana
Indikasi Program Indikasi Program Manajemen Lahan Manajemen Lahan (Kawasan) (Kawasan)
Land Development (Persil, Land Development (Persil,
Blok, Sektor) Blok, Sektor) Undang-undang Manajemen Undang-undang Manajemen Lahan Lahan Peraturan, Perijinan, Peraturan, Perijinan, Pengawasan, Penertiban, Pengawasan, Penertiban, Kelembagaan Kelembagaan Peraturan Zonasi : Peraturan Zonasi :
Peraturan dan Peta Kelembagaan dan Administrasi Peraturan dan Peta Kelembagaan dan Administrasi
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
FUNGSI DAN
FUNGSI DAN
MANFAAT RDTR
MANFAAT RDTR
DAN PERATURAN
DAN PERATURAN
ZONASI
ZONASI
8.2.1.8.2.1. FUNGSI DAN MANFAAT RDTRFUNGSI DAN MANFAAT RDTR
RDTR dan peraturan zonasi berfungsi sebagai:
a. Blorai mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota
berdasarkan RTRW;
b. acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari
kegiatan pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW;
c. acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;
d. acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan
e. acuan dalam penyusunan RTBL.
RDTR dan peraturan zonasi bermanfaat sebagai:
a. penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan
fungsi dan lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu;
b. alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan
pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat;
c. ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian
wilayah sesuai dengan fungsinya di dalam struktur ruang kabupaten/kota secara keseluruhan; dan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
d. ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk
disusun program pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP atau Sub BWP. Sebagaimana dengan kedudukan RDTR dan Peraturan Zonasi, Fungsi dan Manfaat RDTR dan Peraturan Zonasi sedianya juga disebutan lebih dulu dalam buku fakta dan analisa untuk penyusunan RDTR.
8.2.2.
8.2.2. KRITERIA DAN LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN RDTR DANKRITERIA DAN LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN RDTR DAN
PERATURAN ZONASI PERATURAN ZONASI
Kriteria penyusunan RDTR adalah :
a. RTRW kabupaten/kota dinilai belum efektif sebagai acuan dalam
pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang karena tingkat ketelitian petanya belum mencapai 1:5.000; dan/atau
b. RTRW kabupaten/kota sudah mengamanatkan bagian dari
wilayahnya yang perlu disusun RDTR-nya.
Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka dapat disusun peraturan zonasi, tanpa disertai dengan penyusunan RDTR yang lengkap. Lingkup wilayah perencanaan RDTR mencakup :
a. wilayah administrasi;
b. kawasan fungsional, seperti bagian wilayah kota/subwilayah
kota;
c. bagian dari wilayah kabupaten/kota yang memiliki ciri perkotaan;
d. kawasan strategis kabupaten/kota yang memiliki ciri kawasan
perkotaan; dan/atau
e. bagian dari wilayah kabupaten /kota yang berupa kawasan
pedesaan dan direncanakan menjadi kawasan perkotaan.
Wilayah perencanaan RDTR tersebut kemudian disebut sebagai BWP. Setiap BWP terdiri atas Sub BWP yang ditetapkan dengan mempertimbangkan:
a. morfologi BWP;
b. keserasian dan keterpaduan fungsi BWP; dan
c. jangkauan dan batasan pelayanan untuk keseluruhan BWP
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
PROSES
PROSES
PENYUSUNAN
PENYUSUNAN
RDTR
RDTR
Secara garis besar proses penyusunan Rencana Detil Tata Ruang Kota terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1. Tahap penyusunan Laporan Pendahuluan.
Tahap penyusunan Laporan pendahuluan meliputi kegiatan :
a. Kerangka Acuan Kerja (KAK) :
Kebutuhan RDTR.
Landasan Hukum.
Pengertian Umum RDTR.
Tujuan dan Sasaran RDTR.
Manfaat RDTR.
Kedudukan Pedoman RDTR.
Ruang Lingkup RDTR.
b. Pemahaman Terhadap KAK :
Pemahaman terhadap Substansi.
o Teori penataan wilayah.
o Pedoman / peraturan tata ruang wilayah.
o Substansi RDTR.
o Substansi wilayah perencanaan.
Pemahaman terhadap Metodologi.
o Metodologi perencanaan wilayah.
o Metode pendataan.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
o Metode analisis.
o Metode perencanaan.
o Metode pelaksanaan kegiatan perencanaan RDTR.
Tim Penyusun RDTR.
o Pembagian tugas dan kewenangan (keahlian).
o Pembagian waktu masa tugas dan kewenangan.
o Operasional.
c. Survey awal (survey orientasi lapangan).
d. Penyusunan laporan pendahuluan :
Pendahuluan.
Kajian teori.
Studi kasus
Gambaran umum wilayah perencanaan.
Metodologi.
Grand concept.
Rencana pelaksanaan kegiatan.
e. Pembahasan materi draft laporan pendahuluan.
Revisi materi menjadi laporan pendahuluan.
Pendahuluan.
Kajian teori.
Studi kasus
Gambaran umum wilayah perencanaan.
Metodologi.
Grand concept.
Rencana pelaksanaan kegiatan
2. Tahap penyusunan Laporan Antara.
Tahap berikutnya adalah tahap penyusunan laporan antara. Dasar materi penyusunan laporan antara adalah revisi materi laporan pendahuluan yang ditindaklanjuti dalam menuyusun metode dan persiapan survey serta metode pelaksanaan pekerjaan. Di dalam tahap penyusunan laporan antara meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Survey pendalaman wilayah perencanaan :
Data fisik dasar kawasan :
o Topografi.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
o Geologi.
o Klimatologi.
o Oceanografi.
o Tata guna lahan.
Kependudukan : o Jumlah penduduk. o Sebaran penduduk. o Umur penduduk. o Agama. o Pendidikan. o Mata pencaharian. Perekonomian : o Data investasi.
o Perdagangan dan jasa.
o Industri. o Pertanian o Perkebunan o Perikanan o Pariwisata o Pendapatan daerah. o Dan lain-lain. Penggunaan lahan :
o Luas fungsi lahan
o Sebaran kegiatan
o Permukiman
o Perdagangan dan jasa.
o Industri. o Pariwisata. o Pertambangan o Pertanian o Kehutanan. o Dan lain-lain.
Tata bangunan dan lingkungan :
o Intensitas bangunan
o Bentuk bangunan
o Arsitektur bangunan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
o Bangunan khusus
o Wajah lingkungan
o Image of the city
o Garis Sempadan Bangunan
o Konservasi.
Prasarana utilitas :
o Jaringan transportasi.
o
Jaringan air bersih
o Jaringan limbah o Jaringan drainase. o Jaringan telekomunikasi. o Jaringan gas. o Jaringan persampahan. b. Elaborasi data :
Elaborasi data kependudukan :
o Data fisik dasar kawasan.
o Data kependudukan.
o Data perekonomian.
Elaborasi data sektoral :
o Data penggunaan lahan.
o Data tata bangunan dan lingkungan.
o Data prasarana utilitas.
c. Analisa wilayah perencanaan :
Analisa struktur ruang :
o Analisa penduduk (hunian).
o Analisa fungsi dan pola ruang.
o Analisa jaringan pergerakan.
Analisa peruntukan blok :
o Analisa pembagian blok.
o Analisa peruntukan / fungsi lahan.
Analisa fasilitas umum :
o Analisa fasilitas umum dan fasilitas sosial.
o Analisa kawasan rawan bencana.
Analisa prasarana transportasi :
o Analisa angkutan jalan raya.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
o Analisa angkutan air.
o Analisa angkutan udara.
Analisa utilitas umum :
o Analisa air minum.
o Analisa jaringan drainase.
o Analisa jaringan air limbah.
o Analisa sistem persampahan.
o
Analisa jaringan listrik.
o Analisa sistem telekomunikasi.
o Analisa jaringan gas.
Analisa amplop ruang :
o Koefisien Dasar Bangunan (KDB).
o Koefisien Lantai Bangunan (KLB).
o Koefisien Dasar Hijau (KDH).
o Koefisien Tapak Basement (KTB).
o Koefisien Wilayah Terbangun.
o Kepadatan Bangunan.
o Kepadatan Penduduk.
Analisa tata massa bangunan :
o Garis Sempadan Bangunan (GSB).
o Garis Sempadan Sungai.
o Garis Sempadan Danau / Waduk.
o Tinggi Bangunan.
o Selubung Bangunan.
o Tampilan Bangunan.
Analisa kelembagaan dan peran serta masyarakat :
o Aspirasi dan permsalahan sosial.
o Perilaku lingkungan masyarakat.
o Perilaku kelembagaan.
o Metode dan sistem sosial masyarakat dan pendanaan.
d. Konsep perencanaan wilayah RDTR :
Konsep tujuan perencanaan wilayah.
Konsep struktur ruang.
Konsep peruntukan blok.
Konsep fasilitas umum
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Konsep utilitas umum.
Konsep penataan bangunan dan lingkungan (amplop
bangunan).
e. Pembahasan Draft laporan antara :
f. Revisi materi menjadi laporan antara :
Perumusan dan ketentuan teknis RDTR.
Draft Raperda RDTR.
3. Tahap penyusunan Laporan Akhir.
Tahap akhir adalah penyusunan rumusan dan rencana serta ketentuan teknis RDTR, meliputi :
a. Pengembangan konsep rencana.
b. Perencanaan wilayah RDTR.
Tujuan pengembangan wilayah perencanaan.
Rencana struktur ruang.
o Rencana persebaran penduduk.
o Rencana struktur ruang.
o Rencana blok
o Skala pelayanan kegiatan
o Rencana sistem jaringan.
Rencana sistem jaringan pergerakan.
Rencana sistem jaringan utilitas.
Rencana fasilitas umum.
Rencana peruntukan blok.
Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop
bangunan).
o Pengertian tentang amplop bangunan.
o Maksud dan tujuan.
o Komponen yang diatur.
Indikasi program pembangunan.
c. Draft Raperda.
d. Pengendalian RDTR.
Tujuan pengendalian.
Komponen pengendalian :
o Zonasi.
o Aturan insentif dan disinsentif.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
o Pengendalian pemanfaatan ruang melalui
pengawasan.
e. Kelembagaan dan peran serta masyarakat.
Kelembagaan.
Peran serta masyarakat :
o Manfaat.
o Prinsip utama.
o Bentuk peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
penataan ruang.
o Bentuk peran serta masyarakat dalam pemanfaatan
ruang.
o Tata cara peran serta dalam pelaksanaan peraturan
zonasi.
f. Pembahasan Draft laporan akhir.
g. Revisi materi menjadi laporan akhir.
h. Kelengkapan laporan akhir : album peta, album gambar, draft
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RU PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RU ANG (RDTR)ANG (RDTR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Usulan teknis BAB 8
Usulan teknis BAB 8 – metodologi metodologi penyusunan RDTRpenyusunan RDTR 8 - 168 - 16
KERANGKA KERANGKA ACUAN KERJA ACUAN KERJA ( KAK ) ( KAK ) Kebutuhan RDTR Landasan Hukum Pengertian Umum Tujuan dan Sasaran Manfaat Kedudukan Pedoman Ruang Lingkup Substansi Metodologi Tim Penyusun Metode Pendataan Metode Analisa Metode Perencanaan Metodologi Perencanaan Wilayah Metode Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan Substansi RDTR Substansi Wilayah Perencanaan Operasional Pembagian Tugas Dan Kewenangan (Keahlian)
Pembagian Tugas Dan Kewenangan (Waktu) PEMAHAMAN PEMAHAMAN TERHADAP TERHADAP KAK KAK SURVEY AWAL SURVEY AWAL ORIENTASI ORIENTASI DRAFT LAPORANDRAFT LAPORANPENDAHULUANPENDAHULUAN
Pendahuluan Kajian Teori Studi Kasus Gambaran Wil.Perencanaan Metodologi Grand Concept Renc. Pelaksanaan Kegiatan Pedoman/Peraturan
Tata Ruang Wilayah Teori Penataan
Wilayah
LAPORAN PENDAHULUAN
LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN LAPORAN PENDAHULUANPENDAHULUAN
SUMBER SUMBER INFORMASI INFORMASI (STAKEHOLDER) (STAKEHOLDER) KAWASAN KAWASAN PERENCANAAN PERENCANAAN RDTR RDTR - Survey orientasi - Pemahaman tata ruang - Daftar pertanyaan
- Orientasi wilayah perencanaan - Gambaran umum wilayah perencanaan - Potensi dan permasalahan
PERAN SERTA MASYARAKAT PERAN SERTA MASYARAKAT
LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN PENDAHULUAN
PERSIAPAN
PEMAHAMAN MATERI RDTR, WILAYAH PERENCANAAN
DAN TEORITIK ORIENTASI SURVEY PENYUSUNAN LAPORAN PENDAHULUAN
PEMBAHASAN DAN REVISI LAPORAN PENDAHULUAN PROSES PENYUSUNAN RDTR PROSES PENYUSUNAN RDTR PEMBAHASAN PEMBAHASAN DRAFT LAPORAN DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN REVISI PRODUK REVISI PRODUK LAPORAN LAPORAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN . . Gambar 2 Gambar 2
Skema Penyusunan Tahap Laporan Pendahuluan Skema Penyusunan Tahap Laporan Pendahuluan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
TAHAP
TAHAP
PENYUSUNAN
PENYUSUNAN
LAPORAN
LAPORAN
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
8.4.1.8.4.1. Kerangka Acuab Kerja (KAK).Kerangka Acuab Kerja (KAK).
A.
A. Maksud ,Tujuan Dan Sasaran Penyusunan Maksud ,Tujuan Dan Sasaran Penyusunan RDTRRDTR
Maksud dari penyusunan RDTR adalah mewujudkan rencana detail tata ruang yang mendukung terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional secara aman, produktif dan berkelanjutan. Adapun tujuannya adalah :
1. Sebagai arahan bagi masyarakat dalam pengisian
pembangunan fisik kawasan,
2. Sebagai pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan
pemberian periijinan kesesuaian pemanfaatan bangunan dengan peruntukan lahan.
Sasaran dari perencanaan ini adalah untuk
1. Menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan antar
lingkungan permukiman dalam kawasan.
2. Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar
kawasan maupun dalam kawasan.
3. TerBlorainya pembangunan kawasan strategis dan fungsi kota,
baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta.
4. Mendorongnya investasi masyarakat di dalam kawasan.
5. Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah
dan masyarakat/swasta.
8.4
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
B.
B. Fungsi PerencanaanFungsi Perencanaan
Adapun fungsi perencanaan detail ini adalah ;
1. Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan
program pembangunan daerah,
2. Menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian
perkembangan kawasan fungsional dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota,
3. Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi
dan efisien dalam perencanaan kawasan,
4. Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan melalui
pengendalian program-program pembangunan daerah. C.
C. Kedudukan RDTR KotaKedudukan RDTR Kota
Dalam jenjang perencanaan tata ruang, Rencana Detail Tata Ruang Kota merupakan produk rencana untuk:
a. Rencana operasional arahan pembangunan kawasan
(operasional action plan);
b. Rencana pengembangan dan peruntukan kawasan ( area
development plan);
c. Panduan untuk rencana aksi dan panduan rancang bangun
(urban design guidelines).
Rencana, aturan, ketentuan dan mekanisme penyusunan RDTR Kota harus merujuk pada pranata rencana lebih tinggi, baik pada lingkup kawasan maupun daerah.
D.
D. PersyaratanPersyaratan
Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah rencana yang disusun dan ditetapkan Pemerintah Daerah dengan prasyarat perencanaan sebagai berikut :
1. RDTR disusun menurut bagian wilayah kota yang telah
ditetapkan fungsi kawasannya dalam struktur ruang RTRW Kota.
2. RDTR dapat ditentukan menurut kawasan yang mempunyai
nilai sebagai kawasan yang perlu percepatan pembangunan, pengendalian pembangunan, mitigasi bencana, dan lainya.
3. RDTR mempunyai wilayah perencanaan mencakup sebagian
atau seluruh kawasan tertentu yang terdiri dari beberapa unit lingkungan perencanaan, yang telah terbangunan ataupun yang akan dibangun.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
4. RDTR mempunyai skala perencanaan 1: 5000 atau lebih besar
sesuai dengan kebutuhan tingkat kerincian dan peruntukan perencanaannya.
5. RDTR merupakan salah satu pedoman pembangunan daerah
yang memiliki kekuatan hukum berupa Peraturan Daerah (Perda)
6. RDTR ini dilakukan dengan memeriksa kesesuaian semua
rencana dan ketentuan sektoral baik horizontal, vertikal, diagonal seperti UU, PP, Kepres, Kepmen, Perda, KepGub, KepWal atau KepBup, SKB, NSPM dan pedoman-pedoman yang menunjang termasuk produk pra desain serta desain kegiatan sektoral tersebut.
7. RDTR merupakan pedoman berkekuatan hukum yang
merupakan arahan pembangunan daerah untuk :
1) Perijinan pemanfaatan ruang
2) Perijinan letak bangunan dan bukan bangunan,
3) Kapasitas dan intensitas bangunan dan bukan bangunan
4) Penyusunan zonasi
5) Pelaksanaan program pembangunan
Menetapkan dan mengoperasionalisasikan Rencana Detail Tata Ruang Kota, perlu mempertimbangkan beberapa aspek kebutuhan pembangunan daerah, baik untuk kepentingan ekonomi, sosial, budaya, politik dan lingkungan. Oleh karena itu RDTR merupakan perwujudan “Kegiatan” yang membentuk suatu kawasan kedalam ruang, yang terukur baik memenuhi aspek ekonomi, sosial, budaya, keamanan, kenyamanan, keserasian dan keterpaduan, serta berkesinambangan. Dengan memperhatikan keterkaitan antar kegiatan, yaitu tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama, kegiatan penunjang serta pelengkapnya dalam suatu kawasan. Kriteria dan faktor perencanaan yang dapat dipertimbangkan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota sebagai berikut :
1. Kawasan kota suatu kawasan dengan fungsi yang akan atau
telah menunjukan intensitas pembangunan non pertanian yang tinggi, dan menjadi urgen/prioritas sebagai upaya percepatan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
(Kotamadya), ibukota Kabupaten (Pusat Utama Pertumbuhan), dan Ibukota Kecamatan (pusat Pertumbuhan).
2. Kawasan strategis kota; suatu kawasan dengan fungsi yang
dianggap urgen/prioritas dan berdampak luas kepada kesejateraan masyarakat, kelestarian lingkungan, struktur ruang wilayah seperti untuk pengembangan ekonomi, pengembangan dan perlindungan sumber daya alam, pengembangan permukiman penduduk, mitigasi bencana, perlindungan setempat, jalan strategis (Arteri Primer, Sekunder, Kolektor Primer, dan Arteri Sekunder). Di dalam kawasan tersebut, dapat diklasifikasikan kedalam karakter kawasan yaitu
a. Kawasan dengan karakter tematis tertentu; seperti
kawasan kota lama, kota baru, kota mandiri, kota industri, kota pelabuhan, kota wisata, dan kota tepi air ( water front city).
b. Kawasan dengan karakter campuran; seperti kawasan
campuran antara fungsi hunian, dengan fungsi usaha/niaga, wisata, industri, pertambangan, agropolitan dan kawasan bersejarah (cultural heritage).
c. Kawasan dengan karakter khusus; seperti kawasan
berkembang cepat, kawasan terbangun yang memerlukan penataan/peremajaan, kawasan dilestarikan/konservasi, kawasan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, termasuk pula pembangunan permukiman di kawasan rawan bencana, kawasan perbatasan antar negara, serta kawasan permukiman pada koridor jalan strategis. E.
E. Penentuan Kawasan PerencanaanPenentuan Kawasan Perencanaan
Kawasan perencanaan mencakup suatu kawasan atau beberapa kawasan yang di dalamnya terbentuk fungsi-fungsi lingkungan tertentu yang saling terkait, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Bagian pusat kegiatan wilayah kota dengan batasannya;
b. Wilayah kota dengan tema/karakter kawasan fungsional;
(Kawasan Jalan A.Yani)
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Delinasi perencanaan dapat bersandarkan kepada :
1. Batasan fisik dapat berupa petunjuk alam seperti sungai,
danau, dan lain sebagainya; petunjuk binaan seperti jalan, gang antar bangunan, dan lainnya
2. Batasan administrasi (seperti batas RW/RK, Kelurahan/Desa,
Kecamatan). F.
F. Muatan Rencana Detail Tata Ruang KotaMuatan Rencana Detail Tata Ruang Kota
Struktur dan sistematika Rencana Detail Tata Ruang Kota memuat langkah-langkah penentuan tujuan dan sasaran pembangunan kawasan perencanaan, perumusan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan, identifikasi potensi dan masalah kawasan, analisis ruang makro dan mikro kawasan, perumusan kebutuhan pengembangan dan penataan ruang kawasan, perumusan rencana detail tata ruang kawasan, pengaturan ketentuan amlop ruang, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang, sebagaimana digambarkan dalam uraian berikut.
1. Persiapanan penyusunan RDTR;Persiapanan penyusunan RDTR;
2. Pengumpulan dan pengolahan data;Pengumpulan dan pengolahan data;
Inventarisasi
Elaborasi
3. Analisa kawasan perencanaan Analisa kawasan perencanaan
Analisa struktur kawasan perencanaan
Analisa peruntukan blok rencana
Analisa prsarana transportasi
Analisa Fasilitas Umum
Analisa utilitas umum
Analisa amplop ruang
Analisa kelembagaan dan peran serta masyarakat
4. Perumusan dan ketentuan teknis rencana detailPerumusan dan ketentuan teknis rencana detail
Konsep rencana
Produk rencana detail tata ruang
Rencana struktur ruang kawasan
Rencana peruntukan blok
Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop
ruang)
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Legalisasi rencana detail tata ruang
5. Pengendalian rencana detailPengendalian rencana detail
Tujuan
Komponen pengendalian
o Zonasi
o Aturan insentif dan dis insentif
o Perijinan dalam pemanfaatan ruang
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Melalui Pengawasan
6. Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat :Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat :
Peran kelembagaan,
Peran serta masyarakat
G.
G. Format RDTR KotaFormat RDTR Kota
Format Rencana Detail Tata Ruang Kota mempertimbangkan faktor ekonomis dan kebutuhan pembangunan daerah, untuk itu pengaturan skala perencanaan adalah :
1. Produk RDTR mempunyai skala perencanaan 1: 5.000
2. Sedangkan kegiatan yang memerlukan pendetailan yang lebih
rinci, kegiatan analisis dibuat dalam peta kerja 1:1.000., atau sebaliknya pada fungsi ruang yang ektensif (pertanian, perkebunan, kehutanan) skala peta dapat lebih kecil 1:25.000
3. Format peta analisis sekurang-kurang skala 1:5000, untuk
lingkungan yang lebih detail dibuat dalam skala 1:1000.
4. Peta dasar dapat menggunakan sumber hasil foto udara, citra
satelit,disarankan setiap daerah telah memiliki foto udara pada
kawasan perkotaan, kawasan cepat tumbuh, dan kawasan strategis kota.
5. Format laporan disajikan dalam buku berukuran A-4, terkecuali
pada laporan akhir dalam format 3, dengan album peta A-1(full color).
6. Dokumen RDTR merupakan bagian dari rencana wilayah, yang
ditetapkan serendahnya melalui Keputusan Walikota H.
H. Masa Berlaku RDTR KotaMasa Berlaku RDTR Kota
Rencana Detail Tata Ruang Kota dilaksanakan dalam rentang waktu 20 (dua puluh) tahun, atau sesuai dengan masa berlaku Rencana Tata Ruang Wilayah, dan ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
8.4.2.
8.4.2. Pemahaman Terhadap KAKPemahaman Terhadap KAK
A.
A. SubstansiSubstansi
Substabsi pendukung dalam proses penyusunan RDTR terdiri dari berbagai sumber, yaitu :
1. Teori / karya ilmiah.
Teori / karya ilmiah yang digunakan untuk menyusun RDTR adalah teori yang berkaitan dengan aspek :
a. Teori tentang bentuk dan perkembangan wilayah / kota.
b. Teori tentang perumahan dan permukiman.
c. Teori tentang bangunan dan gedung.
d. Teori tentang lingkungan.
e. Teori tentang sistem dan jaringan utilitas.
f. Teori tentang infrastruktur kawasan perkotaan atau
wilayah.
g. Teori tentang sosial perkotaan atau wilayah.
h. Teori tentang perencanaan wilayah atau perkotaan.
2. Kebijakan, pedoman penyusunan, peraturan yang berkaitan
dengan tata ruang wilayah, bangunan dan lingkungan. Kebijakan atau peraturan yang bersifat mengikat dan relevan dalam proses perencanaan RDTR adalah sebagai berikut :
a. Undang – Undang No 26 Tahun 2007 tentang tata ruang.
b. Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2011 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota.
c. Pedoman penyusunan RDTR.
d. Perda atau Kebijakan tata ruang tingkat provinsi (RTRW
Provinsi).
e. Perda atau Kebijakan tata ruang tingkat kabupaten / kota
(RTRW kab/kota).
f. Perda atau kebijakan tata ruang tingkat kecataman atau
wilayah perkotaan (RDTR).
g. Perda atau peraturan daerah sektoral yang relevan dan
mendukung proses perencanaan RDTR.
3. Substansi RDTR.
Proses perencanaan RDTR mengikuti pedoman penyusunan RDTR yang telah di tetapkan di dalam Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota dan dilengkapi dengan panduan operasional penyusunan RDTR.
4. Kondisi empiris wilayah perencanaan.
Kondisi empiris kawasan perencanaan adalah kondisi terkini wilayah perencanaan pada saat dilakukan penyusunan RDTR, meliputi kondisi umum kabupaten / kota secara keseluruhan sebagai bagian dari pandangan umum dan kondisi wilayah kecamatan atau kawasan perkotaan khusus pada wilayah atau kawasan perencanaan (delineasi perencanaan).
B.
B. Metodologi.Metodologi.
Metodologi adalah menyusun dan menentukan pola pikir dalam melaksanakan proses perencanaan RDTR. Pola pikir ini akan menentukan arah dan strategi dalam arah perencanaan dan penetapan wilayah untuk di kembangkan. Di dalam metodologi disertai dengan metode (cara) yang tepat dalam rangka mencapai arah dan tujuan perencanaan. Metodologi meliputi :
1. Metodologi perencanaan wilayah.
2. Metode pendataan / survey.
3. Metode analisa.
4. Metode perencanaan.
5. Metode pelaksanaan kegiatan perencanaan.
C.
C. Tim Penyusun.Tim Penyusun.
Tim penyusun kegiatan perencanaan RDTR di sesuaikan dengan kebutuhan yang telah tercantuk di dalam Kerangka Kerja (KAK).
8.4.3.
8.4.3. Survey Awal (Orientasi).Survey Awal (Orientasi).
Survey awal dilakukan setelah mempelajari materi gambaran umum wilayah perencanaan secara makro dari berbagai sumber. Orientasi makro ini untuk mendapatkan penjelasan empiris lapangan dan selanjutnya digunakan untuk melengkapi pandangan dan gambaran umum wilayah perencanaan.
8.4.4.
8.4.4. Penyusunan Draft Laporan PendahuluanPenyusunan Draft Laporan Pendahuluan
A.
A. Pendahuluan.Pendahuluan.
Materi yang ada di bagian awal adalah pengertian secara umum terhadap pentingnya dilakukan penyusunan RDTR di dalam wilayah perencanaan, maksud, tujuan dan sasaran serta manfaat. Selain itu
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
ada adasar hukum penyusunan RDTR, wilayah perencanaan (lingkup perencanaan), metodologi penyusunan RDTR dan sistematika penyusunan RDTR.
B.
B. Kajian TKajian Teori.ori.
Materi kajian teori disesuaikan dengan kondisi empiris, potensi dan masalah wilayah perencanaan dan karakter serta aspek yang berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan wilayah perencanaan. Materi kajian teori secara khusus adalah teori yang berhubungan dengan perkembangan wilayah, tata bangunan dan tata lingkungan. Kajian teori diperlukan untuk memberikan gambaran awal arah dalam membangun pola pikir perencanaan dan grand concept perencanaan.
C.
C. Studi Kasus.Studi Kasus.
Studi kasus merupakan usaha untuk memberikan gambaran arah perencanaan. Kasus yang diungkapkan pada bagian awal adalah kondisi wilayah yang memiliki kesamaan karakter. Konsep pengembangannya memberikan gambaran serupa terhadap proses dan bentuk perencanaannya.
D.
D. Gambaran Wilayah Perencanaan.Gambaran Wilayah Perencanaan.
Materi gambaran umum wilayah perencanaan diperoleh melalui berbagai sumber informasi tertulis dan gambar pendukung, dilengkapi dengan keterangan yang diperoleh melalui survey awal orientasi kondisi empiris. Pada tahap ini, gambaran umum wilayah perencanaan merupakan pandangan secara umum dan belum melalui sebuah penilaian untuk memperoleh data potensi dan masalah secara rinci.
E.
E. Metodologi.Metodologi.
Metodologi yang disusun merupakan pola pikir untuk memberikan arah perencanaan RDTR. Secara umum, metodologi penyusunan RDTR berdasarkan pada Undang – Undang No 26 Tahun 2007 tentang tata ruang, Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota dan Panduan dan Pedoman penyusunan RDTR. Pengembangan metodologi dapat dilakukan dan disesuaikan dengan kondisi empiris wilayah perencanaan, sehingga di dalamnya terjadi inovasi perencanaan RDTR.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
F.
F. Grand Concept.Grand Concept.
Grand concept dapat dilakukan pada tahap awal, merupakan kolaborasi pemahaman antara data awal (orientasi), metodologi penyusunan RDTR dan staudi kasus yang di dalamnya terdapat contoh visual perencanaan. Maka grand concept sangat diperlukan untuk memberikan gambaran awal proses dan bentuk perencanaan terhadap wilayah perencanaan.
G.
G. Rencana Pelaksanaan KegiatanRencana Pelaksanaan Kegiatan
Untuk mewujudkan proses dan arah perencanaan, maka dilakukan perencanaan mendalam terhadap langkah-langkah strategis dalam bentuk rencana pelaksanaan kegiatan berdasarkan rencana waktu, langkah kegiatan dan pembagian tugas anggota tim perencanaan.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RU PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RU ANG (RDTR)ANG (RDTR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Usulan teknis BAB 8
Usulan teknis BAB 8 – metodologi metodologi penyusunan RDTRpenyusunan RDTR 8 - 278 - 27
LAPORAN ANTARA
LAPORAN ANTARA LAPORAN ANTARALAPORAN ANTARA
FOCUS GROUP FOCUS GROUP DISCUSSION DISCUSSION (FGD ) (FGD ) KE 1 KE 1 FOCUS GROUP FOCUS GROUP DISCUSSION DISCUSSION (FGD ) (FGD ) KE 2 KE 2 Fisik dasar kawasan :
- topografi - hidrologi - geologi - klimatologi - oceanografi - tata guna lahan
Kependudukan: - Jumlah penduduk - Sebaran penduduk - Umur penduduk - Agama - Pendidikan - Mata pencaharian Perekonomian: - Data investasi - Perdagangandan jasa - Industri - Pertanian - Perkebunan - Perikanan - Pariwisata - Pendapatan daerah, dll PenggunaanLahan: - Luas fungsi lahan - Sebaran kegiatan - Permukiman - Perdagangandanjasa - Industri - Pariwisata - Pertambangan - Pertanian - Kehutanan, dll
Tata Bangunan- Lingk : - Intensitas bangunan - Bentuk bangunan - Arsitektur bangunan - Fungsi bangunan - Bangunank husus - Wajah lingkungan - Imageof the city - GSB - Konservasi Prasarana - utilitas : - Jaringan transportasi - Jaringanair bersih - Jaringan limbah - Jaringan drainase - Jaringan telekomunikasi - Jaringangas - Jaringan persampahan Elaborasi penduduk Elaborasi sektoral
Analisa Struktur Ruang : - Analisa penduduk - hunian - Analisa fungsi-pola ruang - Analisa jaringanpergerakan Analisa Peruntukan Blok : - Pembagian blok - Peruntukan/Fungsi lahan Analisa Fasilitas Um um : - Fasos - Fasum - Kawasan rawan bencana Analisa Pras. Transportasi : - Angkutan jalan raya - Angkutan kereta api - Angkutan air - Angkutan udara Analisa Utilitas Um um : - Air minum - Drainase - Air limbah - Persampahan - Kelistrikan - Telekomunikasi - Gas Analisa Amplop Ruang : - KoefisienDasar Bangunan - KoefisienLantai Bangunan - KoefisienDasar Hijau - KoefisienTapak Basement - KoefisienW ilayah Terbangun - Kepadatan Bangunan - Kepadatan Penduduk Analisa Tata Massa Bangunan: - Garis Sempadan Bangunan - Garis Sempadan Sungai - Garis Sempadan Danau - Tinggi Bangunan - SelubungBangunan - Tampilan Bangunan
Pembagianruangdala mkarakt erzonayangmelekat at auyangakandibent uk sebagai upayaunt uk mempermudahpola invest asi, arahperkembangan, polapengen daliandankeseras iandankeseimbang anlingkungan .
Dasarpert imbangandalam penet apanunit blok didasarkanat as perencanaan pembagianlahandalamkawas anmenjadi blok danjalan,di manablok t erdiri at as unit l ingkungandengan konfigurasi t ert ent u.
Dist ribusi pusat -pusat pelayanan kegiat andi rinci sampai pusat pelay anan lingkung anpermukim an.Set iapkegiat a nmamiliki skalapelayananyangakan menunjukkans yarat -syarat dan ket ent uant ekni s dalamruang kawasan.
St rukt urjaringan pergerakanmerupakankomponen perencanaanyang bert ujuanmendist ribusik anjenis pelayananj aringandan saranapergerakanke seluruhkawasandansubkawasansecaraberjenjan gsesuai denganst rukt ur ruangkawasan yangdirencanakan sehinggat ercipt a pergerakanyang mudah, lancar,aman, nyamandan t erpadu.Pelayanan jaringanpergerakan dirinci sampai pengukuranpoladansist emjaringan,kapasit as danint ensit as pelayananj aringanpergerakan.
St rukt urpelayanan jaringanut ili t as merupakankomponen perencanaanyang bertujuanmendist ribusika njenis pelayananjaringandanut ilit a s keseluruh kawasandansubkawasansecaraberjenjangsehingg at ercipt akualit a s dan kehidup anyangbaik danprodu kt if.Sist emjaring anut ilit as dalamkawasa n disesuaika ndengansist emjaring anmakrosedang kanpadasist emjaringan dist rib usi kekonsumendiat urme nurut dime nsi,kapasit as danint ensit a s sesuai dengandayadukungpendudu k,morfolos i kawasan,kondisi fisik lahan,sosial ekonomi danpola jaringanut il it as hinggaakhi rt ahun perencanaan.
Penataanbangun andanlingkunganat audikenal dengannamaAmplopruang merupakanhasil analisadayadukunglaha n,dayat ampungrua ngdan kekuat ani nvest asi sert aekonomi set empat ,memuat gambarandasarpenat aan padalahankawa sanperenca naanyangselanjut nyadijabar kandalam pengat uranbangunan,pengat uran ant arbangunan danpenat aan lingkungan fungsio nal sehingg at ercipt alingkun ganhunianyangharm onis,serasi,seimb ang amandannyaman
Penyelenggaraanbaangunan gedungbesert a lingkungannya sebagai wujud pemanfaat anruangmeli put i berbagai aspek t ermasuk pembent ukanci t ra/ karakt erfisi k lingkungan, besarandan konfigurasi dari elemen-elemen: blok bangunansert aket ingg iandanelevasi lant ai bangunanyangdapat mencipt a kan danmendefinisi kanberbagai kualit as ruangyang akomodat ift erhadap keragamankegiat a nyangada,t erut am ayangberlangsu ngdalamruangpublik.
Analisa Kelembagaan dan Perans erta Masyarakat : - Aspirasi dan permasalahan - Perilaku lingkungan masy. - Perilaku kelembagaan - Metodedansistem pendanaan
mengkaji st rukt urkelembagaan yangada, fungsi danperanl embaga,mekanisme peransert a masyarakat ,t ermasuk mediasert a jaringanunt uk ket erlibat an masyarakat dalam proses perencanaan,pemanfaat andan pengendaliansert a pengawasan.Dalam pelaksanaanperan sert amasyarakat dapat dilakuk an secaraperseorangan at audalam bent uk kelompok (organisasi kemasyarakat an/ LSM,orga nisasi keahlian/profe si,dll).
KONSEP KONSEP PERENCANAAN PERENCANAAN WILAYAH WILAYAH RDTR RDTR PEMBAHASAN PEMBAHASAN DRAFT LAPORAN DRAFT LAPORAN ANTARA ANTARA REVISI PRODUK REVISI PRODUK LAPORAN LAPORAN ANTARA ANTARA Konsep Tujuan Perenc
Konsep Struktur Ruang Konsep Peruntukan Blok Konsep Fasilitas Umum Konsep Penataan Bangunandan Lingkungan
(Amplop Bangunan) Konsep Pras Transportasi Konsep Utilitas Umum
- Delineasi wilayah perencanaan - Batasan materi RDTR - Verifikasi batas wilayah - Verifikasi data - Usulan program pembangunan wilayah
- K esepakatan delineasi wilayah perencanaan - Revisi batas wilayah perencanaan - Usulan program pengembangan dan pembangunan - Revisi dan pengembangan data
- Materi analisis RDTR - Verifikasi data - Konsep perencanaan dan pengembangan wilayah
- Verifikasi potensi dan masalah - Verifikasi program pengembangan dan pembangunan
- Pengemban - Kesepakata - Kesepakata - Kesepakata LAPORAN ANTARA LAPORAN ANTARA
SURVEY PENDALAMAN DAN ELABORASI D ATA PROSES ANALISA PENYUSUNAN KONSEP PERENCANAAN DAN
PENGEMBANGAN WILAYAH PEMBAHASAN DAN REVISI LAPORAN ANTARA Pendahuluan KajianTeori StudiKasus Gambaran Wil.Perencanaan Metodologi Grand Concept Renc. Pelaksanaan Kegiatan Metodedan Persiapan Survey MetodePelaksan aan Pekerjaan SURVEY SURVEY PENDALAMA PENDALAMA WILAYAH WILAYAH PERENCANAAN PERENCANAAN ANALISA ANALISA WILAYAH WILAYAH PERENCANAAN PERENCANAAN RDTR RDTR Gambar 3 Gambar 3 Skema Penyusunan Tahap Laporan Antara Skema Penyusunan Tahap Laporan Antara
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
TAHAP
TAHAP
PENYUSUNAN
PENYUSUNAN
LAPORAN
LAPORAN
ANTARA
ANTARA
8.5.1.8.5.1. Persiapan Penyusunan RDTRPersiapan Penyusunan RDTR
Tahap awal penyusunan Rencana Detail Tata Ruang adalah mempersiapkan seluruh sumber daya dan sumber dana serta urgensi dari kegiatan RDTR bagi pembangunan daerah. Beberapa kegiatan persiapan yang dapat dilakukan :
1. Penetapan lokasi perencanaanPenetapan lokasi perencanaan; kriteria lokasi perencanaan
mendasarkan kepada arahan/program kegiatan yang telah dirumuskan dalam RTRW, namun dapat pula didasarkan kepada urgensi/keterdesakan penanganan kawasan tersebut.
2. Menyusun kerangka acuan kerjaMenyusun kerangka acuan kerja, dengan memberikan pesan
kuat terhadap arahan kebijakan dan strategi pembangunan ruang, yaitu :
Perumusan Arahan Pengembangan Ruang
o Perumusan arahan pengembangan ruang diarahkan
agar menjaga keserasian dan keterpaduan antara rencana RTRW dengan RDTR;
o Menjaga keserasian dan keterpaduan antara
kegiatan sektoral;
o Pengembangan ruang diarahkan untuk
pengendalian dan perlindungan ruang dan bangunan
8.5
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
yang mempunyai nilai historis atau sejarah, perlindungan setempat, dll;
o Pengembangan ruang diarahkan pula untuk
memenuhi standar baku mutu lingkungan kawasan perencanaan;
o Pengembangan ruang diarahkan untuk mendorong
secara aktif peran masyarakat dalam perencanaan, pemanfaatan dan pembanguan ruang.
Perumusan Pengelolaan Pembangunan ruang.
o Membuat sumber dan pembiayaan kegiatan;
o Mobilisasi sumber daya manusia; dengan
membentuk tim penasehat/pengarah, tim teknis, tim supervisi sesuai kebutuhan daerah;
o Menyiapkan kelengkapan administrasi dan kontrak;
o Menyiapkan program kerja yang lebih rinci, sebagai
arahan bagi pelaksana untuk menyusun rencana.
8.5.2.
8.5.2. Pengumpulan Dan Pengolahan DataPengumpulan Dan Pengolahan Data
A.
A. TujuanTujuan
Pelaksanakan survai dan pengolahan data adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang kondisi awal kawasan perencanaan.
B.
B. Pelaksanaan KegiatanPelaksanaan Kegiatan
Pengumpulan dan pengolahan data dapat dibagi menjadi beberapa kegiatan, yaitu :
1. Mempersiapkan tenaga pelaksana survey; terdiri dari tenaga
teknis/surveyor dan tenaga ahli;
2. Mempersiapkan perlengkapan dan peralatan survey; seperti
kuesioner, checklist data, dan peta dasar, sedangkan peralatan survey seperti alat tulis, alat hitung, pencatat waktu, kendaraan bermotor, papan berjalan, dll;
3. Metode dan program; menyusun jadwal kegiatan pelaksanaan
inventarisasi :
i. Pengambilan data sekunder yang berasal dari instansi
pemerintah, lembaga formal dan informal, dan literatur;
j. Pengambilan data primer yang berasal dari pejabat, tokoh
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
lainnya dalam bentuk : wawancara, seminar, dan forum group diskusi (FGD), serta penggunaan media surat kabar
atau elektronik (radio, koran, majalah, papan
pengumuman, ruang maket). Hasil informasi dapat berupa
: kumpulan keinginan, masalah, dan program
pembangunan;
k. Identifikasi data lapangan, dengan melakukan pemotretan
situasi dan kondisi kegiatan fungsional di lokasi perencanaan.
C.
C. Muatan Data dan InformasiMuatan Data dan Informasi
Data dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penyusunan rencana detail haruslah terukur baik kualitas, kuantitas ataupun dimensi masing-masing objek/komponen pembentuk ruang, diantaranya sebagai berikut :
1. Fisik dasar kawasan, meliputi informasi dan data : topografi,
hidrologi, geologi, klimatologi, oceonografi, dan tata guna lahan;
2. Kependudukan, meliputi jumlah dan persebaran penduduk
menurut ukuran keluarga, umur, agama, pendidikan, dan mata pencaharian;
3. Perekonomian; meliputi data investasi, perdagangan, jasa,
industri, pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, pendapatan daerah, dan lain-lain;
4. Penggunaan lahan, menurut luas dan persebaran kegiatan
yang diataranya meliputi : permukiman, perdagangan dan jasa, industri, pariwisata, pertambangan, pertanian dan kehutanan dan lain lian;
5. Tata bangunan dan lingkungan:
Tata bangunan meliputi : intensitas bangunan (KDB, KLB, KDH), bentuk bangunan, arsitektur bangunan, pemanfaatan bangunan, bangunan khusus, wajah lingkungan, daya tarik lingkungan (node, landmark, dll), garis sempadan (bangunan, sungai, danau, pantai, SUTT).
6. Prasarana dan utilitas umum:
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
a) Jaringan; jalan raya, rel kereta api, jalur pelayaran
(sungai, danau, laut), dan jalur penerbangan (KKOP);
b) Fasilitas; (terminal, kargo, stasiun, pelabuhan, dan
bandara);
c) Kelengkapan jalan; halte, parkir, dan jembatan
penyeberangan;
d) Pola pergerakan (angkutan penumpang dan
barang).
b. Air minum (sistem jaringan, bangunan pengolah,
hidran); mencakup kondisi dan jaringan terpasang menurut pengguna, lokasi bangunan dan hidran, kondisi air tanah dan sungai, debit terpasang, dll;
c. Sewarage; air limbah rumah tangga;
d. Sanitasi (sistem jaringan, bak kontral, bangunan
pengolah); jaringan terpasang, prasarana penunjang dan kapasitas;
e. Drainase; sistem jaringan makro dan mikro , dan kolam
penampung;
f. Jaringan listrik; sistem jaringan (SUTT, SUTM, SUTR),
gardu (induk, distribusi, tiang/beton), sambungan rumah (domistik, non domistik);
g. Jaringan komunikasi; jaringan, rumah telepon, stasiun
otamat, jaringan terpasang (rumah tangga, non rumah tangga, umum);
h. Gas; sistem jaringan, pabrik, jaringan terpasang (rumah
tangga, non rumah tangga);
i. Pengolahan sampah; sistem penanganan (skala
individual, skala lingkungan, skala daerah), sistem pengadaan (masyarakat, pemerintah daerah, swasta).
7. Identifikasi daerah rawan bencana, meliputi lokasi, sumber
bencana, besaran dampak, kondisi lingkungan fisik, kegiatan bangunan yang ada, fasilitas dan jalur Blorai yang telah ada.
Data dan informasi disusun dan disajikan dalam bentuk peta, diagram, tabel statistik, termasuk gambar visual kondisi lingkungan kawasan yang menunjang perencanaan detail tata ruang. Identifikasi
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
tersebut harus pula tampak secara jelas dalam peta dilengkapi
dengan wilayah administrasi hingga ke batas wilayah
Kelurahan/Desa/RW, baik diterapkan dalam peta dengan skala 1 : 5.000 maupun visualisasi digital (kamera, handycamp).
D.
D. Elaborasi DataElaborasi Data
Lingkup pekerjaan elaborasi meliputi :
1. Elaborasi penduduk
2. Elaborasi kebutuhan sektoral
Elaborasi penduduk harus memperhitungkan kemampuan lokasi perencanaan menampung penduduk dalam kawasan perencanaan
yang bersangkutan, dan terdistribusi menurut blok-blok
perencanaan. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk elaborasi penduduk adalah :
a. Distribusi/kepadatan penduduk existing yang lebih terinci dalam
blok-blok perencanaan;
b. Pemanfaatan lahan dan kepadatan bangunan bukan
perumahan yang terinci dalam blok-blok perencanaan;
c. Rencana penggunaan lahan RTRW yang telah diklasifikasi
kedalam rencana lebih rinci.
Berdasarkan alokasi penduduk tersebut dapat di elaborasi kebutuhan-kebutuhan sektoral dengan menggunakan standard yang berlaku. Selanjutnya dari hasil elaborasi penduduk dan kebutuhan sektoral maka secara hipotesis sudah dapat dirumuskan serangkaian permasalahan dan friksi yang akan terjadi dalam lokasi perencanaan sehubungan dengan penerapan konsep Rancana Detail Tata Ruang.
8.5.3.
8.5.3. Analisa Kawasan PerencanaanAnalisa Kawasan Perencanaan
A.
A. Tujuan dan ManfaatTujuan dan Manfaat
Pekerjaan analisa dimaksudkan untuk mengkaji daya dukung dan daya tampung lahan lokasi perencanaan terhadap sasaran-sasaran yang telah ditetapkan sebagai hasil elaborasi RTRW. Sekaligus analisa juga dapat dipakai menguji hipotesa yang telah
dikemukakan, sehingga dapat dirumuskan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
B.
B. Prinsip DasarPrinsip Dasar
Metode yang dapat digunakan dalam analisis potensi dan masalah kawasan perencanaan adalah dengan menggunakan prinsip analisis SWOT:
1. Potensi/kekuatan; kekuatan yang dimiliki oleh indikator
perkembangan kawasan perencanaan untuk tumbuh dan berkembang, sehingga diperlukan suatu kebijakan dan strategi peningkatan/penambahan nilai (value added ) dari indikator tersebut;
2. Kelemahan/Permasalahan; kelemahan atau kekurangan yang
dimiliki oleh kawasan perencanaan sehingga menghambat kawasan perencanaan untuk tumbuh dan berkembang;
3. Kesempatan/peluang yang lebih luas yang memberikan
dampak tumbuh dan berkembangnya kawasan perencanaan seperti meningkatnya ekonomi makro, investasi yang tumbuh cepat, terbuka akses kawasan dengan luar, sehingga diperlukan kebijakan dan strategi penguatan akses dan kemudahankemudahan bagi pengembangan kawasan;
4. Ancaman; indikator eksternal yang dapat menghambat tumbuh
dan berkembangnya kawasan perencanaan, sehingga diperlukan kebijakan dan strategi penguatan koordinasi, kerjasama, dan sikronisasi pembangunan.
Setiap komponen atau variabel SWOT harus terukur secara kuantitatif, bila kualitatif dapat menunjukan faktor keterkaitan antara data dan kecenderungannya.
C.
C. Muatan AnalisisMuatan Analisis
C.1. Analisa Struktur Ruang C.1. Analisa Struktur Ruang
1.
1. Prinsip analisaPrinsip analisa
a. Ketentuan analisa struktur kawasan perencanaan
mengikuti kebijakan yang telah digariskan oleh RTRW;
b. Kedudukan dan skala dari sistem pergerakan, pemusatan
kegiatan, dan peruntukan lahan;
c. Arah perkembangan pembangunan kawasan;
d. Memperhatikan karakteristik dan daya-dukung fisik
lingkungan serta dikaitkan dengan tingkat kerawanan terhadap bencana.
2.
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
a.
a. Analisa penduduk meliputi :Analisa penduduk meliputi :
a) TujuanTujuan, sebagai subjek pembangunan dalam
mengukur hunian yang layak huni, kebutuhan pelayanan fasilitas lingkungan, dan klasifikasi lingkungan.
b) Komponen analisaKomponen analisa;
Pertumbuhan dan perkembangan penduduk;
Analisis sosial budaya; agama, pendidikan, adat istiadat dan cara hidup.
b.
b. Analisa fungsi ruang meliputiAnalisa fungsi ruang meliputi
a) TujuanTujuan, membentuk pola kawasan yang terstruktur
dalam peran dan fungsi bagian-bagian kawasan, yang memperlihatkan konsentrasi dan skala kegiatan binaan manusia dan alami.
b) Komponen analisaKomponen analisa;
Perkembangan pembangunan, merupakan
kebijakan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun swasta;
Pusat-pusat kegiatan, dengan melakukan
kajian terhadap pemusatan kegiatan yang ada atau direncanakan oleh rencana diatasnya;
Kesesuaian dan daya dukung lahan, sebagai
daya tampung dan daya hambat ruang kawasan dalam berkembang;
Pembagian fungsi ruang pengembangan,
merupakan struktur kawasan yang dibagi dalam fungsi dan peran bagian-bagian kawasan.
c.
c. Analisa sistem jaringan pergerakan meliputi :Analisa sistem jaringan pergerakan meliputi :
a) TujuanTujuan, memenuhi kebutuhan tata jenjang jaringan
pergerakan yang menghubungkan bagianbagian kawasan sesuai dengan fungsi dan perannya.
b) Komponen analisaKomponen analisa;
Analisis pelayanan jaringan jalan dapat
diklasifikasikan berdasarkan Undang-undang tentang Jaringan Jalan No.38 Tahun 2004,
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
termasuk fasilitas terminal penumpang dan barang;
Analisis pelayanan jaringan angkutan kereta
api, termasuk fasilitas stasiun;
o Analisis pelayanan jaringan angkutan
udara, termasuk fasilitas bandara, dan daerah keamanan bandara (KKOP);
o
Analisis pelayanan jaringan anngkutan air (laut, sungai, danau), termasuk fasilitas pelabuhan dan dermaga;
o Perkembangan pembangunan,
merupakan kebijakan rencana
pembangunan jaringan jalan, kereta api, udara dan air yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun swasta;
Analisis kebutuhan interkoneksi dan
intrakoneksi jaringan, berdasarkan sistem pembentukan struktur ruang yang telah direncanakan, dan hasil analisis point a) dan b) diatas.
C.2. Analisa Peruntukan Blok C.2. Analisa Peruntukan Blok
1.
1. Prinsip analisaPrinsip analisa
Analisis peruntukan blok kawasan melakukan kajian terhadap peruntukan dan pola ruang yang ada, dan pergeseran serta permintaan dikemudian waktu, berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk, tenaga kerja, aksesibilitas, nilai dan harga lahan, daya dukung lahan, daya dukung lingkungan, daya dukung prasarana, dan nilai properti lainnya.
2.
2. Komponen analisaKomponen analisa
a.
a. Pembagian BlokPembagian Blok
a) TujuanTujuan; membagi kawasan dalam bentuk atau
ukuran, fungsi serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blok-blok peruntukan lahan, sehingga mudah dalam alokasi investasi, pengendalian, dan pengawasan
b) Komponen analisaKomponen analisa :
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Alokasi lahan;
Rencana sistem prasarana kawasan;
Perangkat kelembagaan untuk mendukung
pengembangan kawasan;
Kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan
terhadap bencana alam, perlindungan
setempat, dan kawasan tertentu/khusus. Masing-masing blok peruntukkan utama tersebut selanjutnya akan dibagi menjadi beberapa subblok, sesuai pemanfaatan yang lebih spesifik dan kekhususannya.
b.
b. Peruntukan LahanPeruntukan Lahan
a) TujuanTujuan; mengatur distribusi dan ukuran kegiatan
manusia dan atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blok dan sub blok peruntukan lahan sehingga tercipta ruang yang produktif dan berkelanjutan.
b) Komponen analisaKomponen analisa :
Analisa perumahan :
o Kebutuhan perumahan menurut struktur
pendapatan masyarakat (deret dan renggang), dan ukuran rumah tangga (berdasarkan hasil elaborasi);
o Kebutuhan prasarana dan sarana
lingkungan.
Analisa industri;
o Lokasi perencanaan pengembangan
industri;
o Potensi tenaga kerja yang ada;
o Lingkungan; untuk kawasan yang telah
berkembang, agar diteliti dampak
terhadap pencemaran lingkungan. Apabila
merupakan kawasan yang belum
berkembang, agar diteliti jenis-jenis pengembangan industri yang sesuai dengan lingkungan dan prasarana daerah;
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
o Multiplier effect terhadap kegiatan
ikutannya, seperti perumahan, fasilitas sosial ekonomi, ruang terbuka hijau,
prasarana transportasi dan lain
sebagainya.
Analisa perdagangan dan jasa;
o Pengembangan kegiatan perdagangan
dan jasa sesuai dengan hirarkhi dan kebutuhan yang ditetapkan dalam RTRW;
o Kemungkinan-kemungkinan
pengembangan lokasi sentra tersier yang belum ditetapkan secara definitive dalam RTRW, demikian juga dengan sentra lokal;
o Multiplier effect terhadap kegiatan
ikutannya, seperti perumahan, fasilitas sosial ekonomi, ruang terbuka hijau dan non hijau, prasarana transportasi dan lain sebagainya.
Analisa pariwisata;
o Pengembangan pariwisata, dan kawasan
tersebut merupakan kawasan yang telah berkembang, agar diteliti kegiatan sekitar yang akan berdampak pada pencemaran
lingkungan, dan
kemungkinan-kemungkinan penanganan nya;
o Potensi tenaga kerja yang ada
(berdasarkan hasil elaborasi);
o Pembangunan kawasan wisata, agar
diteliti jenis-jenis pengembangan
pariwisata;
o Lingkungan; bila dimungkinkan
pencampuran kegiatan, dihindari kegiatan yang akan menimbulkan dampak penting yang berlebihan;
o Analisis multiplier effect terhadap kegiatan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
Pusat pemerintahan,
o Kegiatan pusat pemerintahan sesuai
dengan hirarkhi dan kebutuhan yang ditetapkan dalam RTRW;
o Lingkungan; mempunyai karakter kuat
dalam tata lingkungan dan bangunan;
o Multiplier effect; jenis kegiatan
perkantoran swasta yang akan
dikembangkan, termasuk juga analisis kegiatan penunjang yang muncul.
Analisa pusat pendidikan dan
penelitian/Teknologi Tinggi;
o Pengembangan kegiatan pusat
pendidikan dan penelitian atau Pusat Pengembangan Teknologi Tinggi yang ditetapkan dalam RTRW;
o Potensi tenaga kerja yang ada
(berdasarkan hasil elaborasi);
o Lingkungan; bila dimungkinkan
pencampuran kegiatan, dihindari kegiatan yang akan menimbulkan dampak penting yang berlebihan.
Analisa fasilitas pertahanan dan keamanan,
o Pengembangan kegiatan pertahanan dan
keamanan sesuai yang ditetapkan dalam RTRW;
o Potensi tenaga kerja yang ada
(berdasarkan hasil elaborasi);
o Kajian dampak keamanan terhadap
permukiman; termasuk juga analisis kebutuhan kegiatan penunjang, seperti perumahan, perdagangan dan jasa, ruang terbuka, zona kedap suara serta zona pengamanan (udara, laut, daratan),
prasarana transportasi dan utilitas
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
C.3. Analisis Fasilitas Umum C.3. Analisis Fasilitas Umum
a. TujuanTujuan; mengatur kebutuhan distribusi, luas`lahan dan ukuran
fasilitas sosial ekonomi, yang diatur dalam struktur zona dan blok dan sub blok peruntukan sehingga tercipta ruang yang aman, nyaman, mudah, produktif dan berkelanjutan.
b. Komponen analisaKomponen analisa :
a) Fasilitas sosial dan umum; meliputi pengembangan
kebutuhan fasilitas:
(a) Sosial : pendidikan, kesehatan, peribadatan,
rekreasi, lapangan olah raga, dll;
(b) Umum : pos keamanan, kantor pos, kantor polisi,
taman pemakaman, pos pemadam kebakaran, dll.
b) Fasilitas ekonomi, pengembangan kebutuhan fasilitas
ekonomi:
o Pusat niaga; supermall, mall, grosir, pertokoan,
toko, pasar, warung;
o Pusat perkantoran.
c) Fasilitas budaya, pengembangan kebutuhan fasilitas
budaya dikaitkan dengan seni budaya masyarakat dan cagar budaya, dan peninggalan bersejarah.
o Bangunan bersejarah;
o Kampung budaya;
o Ruang dan bangunan pertujukan.
d) Ruang terbuka hijau, yaitu meneliti kebutuhan ruang
terbuka hijau dengan memperhatikan daya dukung penduduk, potensi lahan, tingkat polusi kawasan dan gangguan lingkungan, tingkat kepadatan bangunan, serta kemungkinan cara pengadaan, pemanfaatan dan pengelolaannya. Kebutuhan ruang terbuka hijau menurut tingkat dan fungsi pelayanan:
o Ruang terbuka hijau dengan binaan
(Pemakaman, Lapangan Olah raga, perkebunan, pertanian, dll);
o Ruang terbuka hijau alami (sempadan sungai,
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
e) Ruang terbuka non hijau, yaitu meneliti kebutuhan ruang
terbuka non hijau dengan memperhatikan daya dukung penduduk, potensi lahan, penggunaan lahan sekitar, tingkat kepadatan bangunan, serta kemungkinan cara
pengadaan, pemanfaatan dan pengelolaannya.
Kebutuhan ruang terbuka non hijau menurut tingkat dan fungsi pelayanan:
(a) Skala; Lingkungan, kelurahan, kecamatan,
kabupaten (sesui zona rencana);
(b) Unsur yang perlu diperhatikan; sosial budaya,
ekologis, arsitektur/estetika, ekonomi;
(c) Jenis fasilitas; Plasa, parker, lapangan olah raga
(out door), taman bermain, trotoar, median. c.
c. Kawasan Mitigasi Bencana,Kawasan Mitigasi Bencana,
a. TujuanTujuan, meniliti dan mengkaji sumber bencana, lingkup
atau luasan dampak, dan kebutuhan pengendalian bencana, agar tercipta lingkungan permukiman yang aman, nyaman, dan produktif.
b. Komponen analisaKomponen analisa :
a) Sumber dan macam bencana;
b) Frekuensi bencana;
c) Fasilitas dan jaringan penanggulangan bencana;
d) Cakupan wilayah terkena dampak;
e) Daya dukung dan daya hambat alam.
C.4. Analisa Prasarana Transportasi C.4. Analisa Prasarana Transportasi
1.
1. Prinsip analisaPrinsip analisa
Analisis transportasi mengatur dan menentukan kebutuhan jaringan pergerakan dan fasilitas penunjangnya, menurut struktur zona, blok dan sub blok peruntukan, sehingga tercipta ruang yang lancar, aman, nyaman, dan terpadu, berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk, tenaga kerja, daya dukung lahan, daya dukung lingkungan jalan, daya dukung prasarana yang ada.
2.
2. Komponen analisaKomponen analisa
a.
a. Angkutan jalan raya;Angkutan jalan raya;
a) TujuanTujuan : meneliti tentang kemungkinan
PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RD PENYUSUNAN RENCANA DETIL TATA RUANG (RDTR)TR) KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016 KECAMATAN TUNJUNGAN, KAB. BLORA - 2016
sampai ke tingkat jalan lokal, dengan mempertimbangkan jalan yang telah ada atau direncanakan oleh rencana diatasnya.
b) Komponen analisaKomponen analisa :
Analisis level of service jalan yang sudah
ada;
Meneliti tingkat bangkitan lalu lintas
penumpang dan barang;
Meneliti titik-titik kemacetan dan trouble
spot lainnya;
Meneliti manajemen lalu lintas;
Meneliti kemungkinan - kemungkinan
dimensi jalan dengan mempertimbangkan volume lalu lintas dan sirkulasinya;
Selain itu meneliti juga tentang sarana
transportasi seperti parkir;
Trotoar/pedestrian, jembatan
penyeberangan orang, halte, dan lainnya;
Meneliti kinerja terminal, cargo dan
kebutuhan pengembangan dan
penataannya. b.
b. Angkutan kereta api;Angkutan kereta api;
a) TujuanTujuan; meneliti tentang kebutuhan pengaturan
dan penataan lingkungan jalan rel, stasiun, depo/balai yasa, dan keterpaduan dengan sistem angkutan jalan raya, air dan udara.
b) Komponen analisaKomponen analisa :
Tingkat kecelakaan
Tingkat hambatan perjalanan
Keamanan, dan kenyamanan
Estetika
Sirkulasi lalu lintas pada jalan akses
stasiun
Penata gunaan peruntukan lahan