PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
- Penelitian yang Relevan
- Teori –teori Pendukung
Upaya meningkatkan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talk stick pada siswa kelas VIII D. Sedangkan penulis lebih fokus menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe talk stick di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran keterampilan berima. Mata pelajaran bahasa Indonesia 1) Memahami pembelajaran. Tongkat bicara dulunya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak seluruh 14 orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antar suku) (Huda, 2014: 223).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe talk stick merupakan model yang menggunakan alat-alat yang berfungsi sebagai ransum atau putaran untuk mengungkapkan pikiran. Model pembelajaran speaking stick memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama mengungkapkan pikiran dan menjawab pertanyaan guru. Teknis pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick menurut Kurniasih (2015:83) adalah sebagai berikut. a) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada saat itu b).
Mengenai kelebihan dan kekurangan pembelajaran Talking Stick, kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick menurut Kurniasih (2015:83) adalah sebagai berikut.
Kerangka Pikir
Hipotesis
Penelitian tindakan di kelas adalah penelitian yang dilakukan secara sistematis yang mencerminkan berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang juga peneliti, mulai dari penyusunan rencana hingga evaluasi tindakan nyata di kelas dalam bentuk kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan kinerja. kondisi dan pembelajaran yang dilakukan. keluar (Subyantoro, 2009: 10).
Prosedur Penelitian
Perencanaan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar (TEL). Tahapan ini merupakan implementasi dari seluruh rencana yang telah dibuat, yang berlangsung di dalam kelas dan guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar (TEL) yang berlaku. Melalui observasi kita memperoleh data siswa dan kegiatan observasi ini merupakan implementasi dari lembar observasi yang telah dibuat peneliti pada tahap perencanaan.
Dalam proses observasi ini, peneliti mencatat segala hal yang berkaitan dengan aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian di kelas selama proses pembelajaran.
Setting Penelitian
Instrumen penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Hal ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan penerapan model pembelajaran speaking stick dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia pada pembelajaran pantun. Tingkat aktivitas guru ketika menggunakan model pembelajaran talk stick berada pada klasifikasi “Baik” antara 70%-79%. Aktivitas yang dilakukan guru mempengaruhi aktivitas siswa selama proses pembelajaran ketika menggunakan model pembelajaran speaking stick, dimana aktivitas yang dilakukan siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Selain itu, guru perlu meningkatkan kualitas membimbing siswa, khususnya siswa yang dinilai masih awam dengan model pembelajaran speaking stick dalam pembelajaran menulis pantun. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai rata-rata kelas dari hasil tes menulis pantun siswa dengan menggunakan model pembelajaran speaking stick adalah 85% dengan rata-rata 84,5 dari 26 siswa yang lulus dan 4 siswa yang gagal. Berdasarkan hasil observasi aktivitas yang dilakukan guru selama proses pembelajaran pada siklus II dengan menggunakan model pembelajaran speaking stick, maka kriteria evaluasi terhadap aspek-aspek yang diamati pada aktivitas guru diperkenalkan dan ditingkatkan.
Tingkat kesempurnaan guru dalam menggunakan model pembelajaran speaking stick berada pada klasifikasi “sangat baik” antara 80% - 100%. Kondisi aktivitas yang dilakukan guru sangat mempengaruhi aktivitas siswa selama proses pembelajaran ketika menggunakan model pembelajaran speaking stick, dimana aktivitas yang dilakukan siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Dengan adanya peningkatan aktivitas yang dilakukan guru dan siswa selama proses pembelajaran pada siklus II, maka penggunaan model pembelajaran speaking stick mengalami peningkatan.
Aktivitas hasil belajar siswa yang tuntas mempengaruhi berlangsungnya proses pembelajaran keterampilan menulis pantun dengan menggunakan model speaking stick. Hasil penelitian peningkatan keterampilan menulis pantun melalui model pembelajaran talk stick pada siswa IPA 2 kelas XI SMA Negeri 2 Wajo mencapai hasil yang maksimal. Model pembelajaran speaking stick merupakan model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Hasil Penelitian Siklus I
- Hasil Penelitian Siklus II
Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan awal yang dilakukan oleh guru yaitu memberi salam, mengajak siswa berdoa, berpartisipasi, mengelola kelas, baik mengelola kesiapan siswa mengikuti proses belajar mengajar, maupun mengelola sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam pembelajaran. proses pembelajaran. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai pengamat yang mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hal yang diamati adalah aktivitas yang dilakukan guru dan siswa selama proses pembelajaran dan hasil tes penilaian penulisan pantun.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap kegiatan yang dilakukan guru selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran speaking stick, terdapat 3 kriteria penilaian yang tidak dilaksanakan yaitu siswa dan guru tidak melakukan diskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. wacana, guru tidak melaksanakannya ketika kelompok telah selesai membaca materi yang dibaca dan mempelajari isinya, kemudian guru mempersilahkan anggota kelompok untuk meliput isi bacaan, dan guru tidak melaksanakannya ketika siswa lain berkesempatan membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompok tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Nampaknya kegiatan yang dilakukan guru hanya 7 kriteria penilaian dari 10 indikator aspek kegiatan yang diamati guru dalam mengajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran speaking stick, terdapat 3 kriteria penilaian yang tidak dilaksanakan yaitu siswa yang tidak tampil pada saat guru memberikan arahan untuk berani maju, menjelaskan dan menulis pantun di papan tulis, siswa tidak melakukan tanya jawab secara aktif, pertanyaan yang diajukan oleh guru, dan kegagalan siswa lain dalam membantu menjawab pertanyaan karena anggota kelompoknya tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Ternyata aktivitas yang dilakukan siswa hanya mempunyai 5 kriteria penilaian dari 8 indikator aspek aktivitas yang diamati siswa di kelas, artinya aktivitas belajar siswa secara umum hanya mencapai 62%. Berdasarkan analisis yang dilakukan terlihat aktivitas siswa dalam pembelajaran berada pada klasifikasi “Cukup” yaitu antara 60%-69%. Selama proses pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran speaking stick yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia dengan materi menulis pantun pada indikator pantun disusun secara acak, pengamat melakukan observasi dan mencatat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan format yang telah disiapkan yaitu observasi. lembaran.
Berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap aktivitas guru dan siswa pada pertemuan pertama dan kedua siklus II, maka hasil observasi yang dilakukan dapat dilihat pada tabel hasil observasi di bawah ini. Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berkelanjutan, aspek aktivitas siswa yang diamati terlaksana dan meningkat hingga mencapai 100%. Berdasarkan data yang tersaji di atas, dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan hingga evaluasi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan terlihat adanya peningkatan dalam pembelajaran menulis pantun.
Pembahasan
Hal ini terlihat dari tingginya keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran berkelanjutan, siswa terlihat sangat antusias mengikuti setiap proses pembelajaran melalui model pembelajaran speaking stick, baik dalam menjawab soal maupun mengerjakan soal latihan. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun dengan bantuan model pembelajaran speaking stick dan siklus pembelajaran pertama berjalan dengan baik, namun siswa masih terlihat kaku dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari kurangnya perhatian siswa ketika guru mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan, hal ini disebabkan karena mereka belum terbiasa dengan model pembelajaran speaking stick.
Pembelajaran pun meningkat dan terlihat siswa semakin bersemangat mengikuti proses pembelajaran dengan model pembelajaran speaking stick ini. Terlihat sekali siswa mengikuti pembelajaran ini dengan sungguh-sungguh dan ketika tongkat digunakan siswa terlihat senang dan ceria. mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan baik dan benar. Seperti yang diungkapkan Supriono, speaking stick merupakan pembelajaran yang mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Pada saat pelaksanaan pembelajaran menulis pantun dengan model pembelajaran speaking stick pada siklus I, nilai kinerja yang sesuai dengan indikator keberhasilan adalah >75.
Setelah terjadi peningkatan pembelajaran menulis pantun pada siklus II terlihat pembelajaran menulis pantun mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil tes ini akan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, ketuntasan siswa dalam pembelajaran menulis pantun pada II. siklus mencapai persentase ketuntasan sebesar 85% dari 26 siswa yang tuntas dengan prestasi 84,5 dan termasuk dalam kategori tinggi dengan menggunakan model speaking stick. Penggunaan model pembelajaran speaking stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dengan hasil yang diperoleh pada siklus I sebanyak 50% dari 15 siswa yang tuntas dengan nilai rata-rata 40,5, sedangkan pada siklus II, siklusnya, hasilnya meningkat menjadi 85% dari 26 siswa yang tuntas dengan rata-rata nilai 84,5 dari 30 siswa.
Model pembelajaran ini selain menyenangkan karena mengandung unsur permainan, juga dapat mendorong siswa untuk lebih berani dalam proses belajar mengajar serta melatih keterampilan menulis dan cepat memahami materi yang diberikan. Bagi guru dapat merancang pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan materi pantun khususnya penulisan pantun yang dapat ditingkatkan. Tes tertulis : Membuat pantun sesuai dengan ciri-ciri pantun. orang lain Kegiatan Komunikasi Disiplin Kerja Sama 1. Skala evaluasi dibuat dengan rentang 1 sampai dengan 5 titik penafsiran numerik.
PENUTUP
Simpulan
Saran
- Hasil Penilaian Akhir Belajar Siswa Siklus I
- Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I
- Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
- Hasil Penilaian Akhir Belajar Siswa Siklus II
- Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II
- Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II
1 Mengawali pembelajaran dengan salam, doa, minuman beralkohol 2 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada saat itu 3 Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 orang. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada kelompok (siswa) untuk membaca dan belajar. Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu anggota kelompok (siswa), kemudian guru mengajukan pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat menjawabnya, begitu seterusnya hingga sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan. jawaban dari guru.
Siswa lain dapat membantu menjawab pertanyaan apabila salah satu siswa (anggota kelompok) tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Produksi teks pantun yang runtut sesuai dengan ciri-ciri teks yang akan dibuat baik secara lisan maupun tulisan. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membaca dan belajar.
Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru mengajukan pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat menjawab, begitu seterusnya hingga sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. .