USULAN PENELITIAN TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Melanjutkan Penelitian Dalam Rangka Penyusunan Tesis Pada Program Studi Magister Ilmu Hukum
Konsentrasi Hukum Pidana
Oleh : Berli Pernando NPM : 20040022404
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2024
PENCURIAN KELAPA SAWIT MELALUI DENDA ADAT DI KABUPATEN SELUMA DENGAN KUHP
Oleh : Berli Pernando NPM : 20040022404
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Melanjutkan Penelitian Dalam Rangka Penyusunan Tesis Pada Program Studi Magister Ilmu Hukum
Konsentrasi Hukum Pidana
Bandung, September 2024
Pembimbing Utama
Dr. Dini Dewi Heniarti, SH., MH,
Pembimbing Pendamping
Dr. Chepi Ali Firman Z, SH., MH,
DAFTAR ISI...i
A. Latar Belakang...1
B. Identifikasi Masalah...13
C. Tujuan Penelitian...13
D. Kegunaan Penelitian...13
E. Kerangka Pemikiran...14
F. Metode Penelitian...29
G. Sistematika Penulisan...31
DAFTAR PUSTAKA...33
i
Negara Republik Indonesia adalah negara hukum dengan supremasi hukum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Secara umum, terdapat tiga prinsip dasar, yaitu supremasi hukum (supremacy of law), kesetaraan dihadapan hukum (equality before the law), dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem, dapat berperan dengan baik dan benar ditengah masyarakat jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan dalam bidang penegakan hukum.
Pelaksanaan hukum itu dapat berlangsung secara normal, tetapi juga dapat terjadi karena pelanggaran hukum, oleh karena itu hukum yang sudah dilanggar harus ditegakkan.1
Hukum juga merupakan wujud dari perintah dan kehendak Negara yang dijalankan oleh pemerintah untuk kepercayaan dan perlindungan penduduk yang berada dalam wilayahnya. Perlindungan yang diberikan oleh suatu Negara terhadap penduduknya itu dapat bermacam-macam sesuai dengan perilaku setiap masyarakat karena hukum itu juga dari suatu kebiasaan masyarakat.2
1 Hasaziduhu Moho, Penegakan Hukum di Indonesia Menurut Aspek Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan, Jurnal Warta Vol 1. No 1, Universitas Dharmawangsa. Medan, 2019, Hlm 4
2Arief Gosita, Masalah Korban Kejahatan, Buana Ilmu, Jakarta, hlm. 63.
1
Hukum pidana yang telah tercantum dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan yang terdapat diluarnya, yaitu dalam ketentuan undang- undang yang khusus untuk mengadakan peraturan-peraturan dalam segala lapangan, merupakan suatu keseluruhan yang sistematis karena ketentuan- ketentuan dalam Buku I KUHP juga berlaku untuk peristiwa- peristiwa pidana diluar KUHP atau dalam undang-undang khusus tertentu.
Aturan-aturan pidana khusus yang ada di luar KUHP tunduk pada sistem dan ketentuan dalam KUHP, dimana dalam pasal 103 KUHP dinyatakan,
“ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VIII dan buku ke-I (aturan-aturan umum), juga berlaku bagi perbuatan yang oleh aturan-aturan dalam perundangan lain diancam dengan pidana, kecuali kalau ditentukan lain oleh undang-undang”.3
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merupakan salah satu sumber pokok hukum pidana materil Indonesia, yang memuat asas-asas umum hukum pidana, ketentuan pemidanaan atau hukum penitensier dan yang paling pokok adalah peraturan hukum yang memuat larangan dan perintah yang harus ditaati oleh setiap orang. Penegakan hukum terhadap ketentuan undang-undang hukum pidana tujuannya untuk mendukung kesejahteraan dalam masyarakat dengan menekan semaksimal mungkin adanya suatu pelanggaran hukum dan tindak pidana yang merugikan masyarakat, baik moril maupun materil bahkan jiwa seseorang.
3R. Santoso Brotodiharjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, Refika Aditama, Bandung, 2008, hlm.
22-23.
Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana, Tindak pidana merupakan bentuk tingkah laku yang melanggar undang- undang pidana. Oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilarang oleh undang- undang harus dihindari dan barang siapa yang melanggarnya maka akan dikenai pidana. Jadi larangan dan kewajiban tertentu yang harus ditaati oleh setiap warga Negara wajib dicantumkan dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah.4
Salah satu tindak pidana yang marak terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah tindak pidana pencurian. Tindak pidana pencurian adalah kejahatan yang umum terjadi ditengah-tengah masyarakat dan dapat dikatakan paling meresahkan masyarakat.
Kehidupan masyarakat berkembang dengan pesat. Semua aspek kehidupan mengalami kemajuan yang mengakibatkan peningkatan intensitas kejahatan yang meresahkan masyarakat. Permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi menjadi faktor utama peningkatan kejahatan. Hal ini dikarenakan sedikitnya lapangan kerja yang disediakan oleh pemerintah.
Akibatnya, beberapa golongan masyarakat menggunakan “pencurian”
sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.5 Pencurian yang dilakukan karena permasalahan ekonomi yang membuat dirinya dan keluarganya sulit untuk bertahan hidup. Pencurian merupakan kejahatan yang paling tua dan
4 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT Citra Adityta Bakti, Bandung, 1997, hal. 6.
5 Pribadi, J Sahlepi, M.A, Ramadani, S. 2019, Penegakan Hukum Terhada Pelaku Tindak Pidana Pencurian Buah Kelapa Sawit Yang Dilakukan Oleh Anak (Studi Penelitian Di Polres Langkat).
Hal. 1.
masih memiliki eksistensi hingga sekarang. Pencurian merupakan perbuatan yang harus dipidana.6
Definisi pencurian telah dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP pidana yang berbunyi “Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”. Dapat disimpulkan bahwa pencurian adalah suatu perbuatan mengambil barang kepunyaan orang lain secara tidak sah dan melawan hukum.7
Editiawarman mengatakan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindak pidana pencurian yaitu; Pertama, Faktor internal yaitu faktor yang berhubungan dengan individu. Kedua, faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu. Hal ini dapat berupa8; 1. Faktor lingkungan, faktor lingkungan berupa keadaan sosial dan
ekonomi. Orang yang berada dalam keadaan sulit ekonomi akan cenderung memiliki perilaku kriminal terutama mencuri. Selain itu, keadaan lingkungan dan sosial masyarakat juga mempengaruhi pola pikir dan keinginan untuk melakukan tindak kriminal. Orang yang berada diantara pencopet akan terpengaruh untuk melakukan pencopetan juga.
6 Harahap, S.A. 2020, Penerapan Undang-Undang Perkebunan Terhadap Pelaku Pencurian Kelapa Sawit Di Wilayah Perkebunan (Analisis Putusan Nomor: 3 /Pid.B/2015/Pn.Stb). Vol. 1 No 2.
Hal. 89
7 Permana, I.P.Y.A., & Wirasila, A.A.N. Analisis Yuridis Tindak Pidana Pencurian
8 Ediwarman, 2017, Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kriminologi. Cetakan Kedua, Yogyakarta: Genta Publishing. Hal. 24-56
2. Faktor sosial ekonomi keadaan perekonomian merupakan salah satu faktor yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pola- pola kehidupan masyarakat, keadaan ini juga mempengaruhi cara-cara kehidupan (way of life) seseorang. Dalam kondisi-kondisi pergolakan mudah sekali terjadi kriminalitas yang disebabkan adanya ketegangan maupun insecuritypada masyarakatnya misalnya level dari penghasilan sosial yang rendah, keadaan perumahan, kesehatan dan sebagainya kurang/tidak mendapat perhatian. Akibatnya, kriminalitas akan meningkat.
3. Faktor keturunan. Orangtua memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku anak. Orangtua yang terbiasa melakukan tindak kriminal akan mempengaruhi pola kembang pikiran anak dan menganggap kriminal adalah hal yang biasa.
Pencurian yang sering dilakukan di masyarakat salah satunya adalah pencurian kelapa sawit. Tanaman Kelapa Sawit merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia dengan sistem perkebunan oleh perusahaan-perusahaan besar baik oleh perusahaan Pemerintah yang berbentuk Badan Usaha Milik Negara maupun Perusahaan Milik Swasta.
Bahkan masyarakat pun banyak bertanam kelapa sawit secara kecil-kecilan.9 Tanaman kelapa sawit mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi dan merupakan penghasil minyak nabati yang paling banyak digunakan oleh masyarakat luas di Indonesia. Hasil utama tanaman Kelapa Sawit adalah
9 Rahmad Mulyadi, Pembudidayaan Kelapa Sawit dan Pemasarannya, Media Tani, Jakarta, 2009, Hlm. 23
minyak sawit atau yang sering disebut dengan istilah Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit (palm karnel oil/PKO). Nilai jual kelapa sawit sangat mempengaruhi tingginya kejahatan pencurian yang terjadi perusahaan- perusahaaan kelapa sawit.10
Tindak pidana pencurian kelapa sawit secara khusus diatur dalam UndangUndang Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan yang mengatur tentang tindak pidana pencurian yang dilakukan diwilayah suatu perkebunan.
Larangan pencurian di perkebunan ini termaktub dalam Pasal 55 Undang- Undang 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Pasal ini menyatakan “Setiap orang secara sah dilarang; a) mengerjakan, menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai Lahan Perkebunan; b) mengerjakan, menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai Tanah masyarakat atau Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dengan maksud untuk Usaha Perkebunan; c) melakukan penebangan tanaman dalam kawasan Perkebunan; atau d) memanen dan/atau memungut Hasil Perkebunan” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah)”.11
Kejahatan atau tindak pidana merupakan masalah kemanusiaan juga merupakan permasalahan sosial. upaya penanggulangan dimasukkan dalam kerangka kebijakan kriminal (criminal policy). kebijakan kriminal adalah upaya rasional dari suatu negara untuk menanggulangi kejahatan. upaya ini
10 Teguh Prasetyo, Hukum dan Undang-Undang Perkebunan, Nusamedia, Bandung, 2013, Hlm. 57
11Undang – Undang Nomor 39 Tahun 2014.
pada hakikatnya merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari upaya perlindungan masyarakat (social defence planning atau protection society) yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Kebijakan kriminal (criminal policy) dalam rangka penanggulangan kejahatan di Indonesia menggunakan teori yang dikemukakan oleh G.P Hoefanagels yang menyatakan bahwa “criminal policy is the rational organization of social reactions to crime”.12
Peraturan perundang-undang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma–norma hukum yang hidup dan berlaku dalam masyarakatnya, tentunya akan mendapat penolakan. Dalam konteks Indonesia, living law masyarakat Indonesia adalah Hukum Adat. Hukum adat diperkenalkan oleh Snouck Hurgronje pada Tahun 1983 dalam bukunya De Atjehnese. Dalam buku itu dia memperkenalkan istilah Adatrectht (hukum adat), yaitu hukum yang berlaku bagi bumiputra (orang indonesia asli) dan orang timur asing pada masa hindia belanda.13
Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa “hukum itu harus peka terhadap perkembangan masyarakat dan bahwa hukum itu harus disesuaikan dan menyesuaikan diri dengan keadaan”. Hukum adat selain dapat digolongkan berdasarkan keragaman sebagaimana terdapat dalam lingkungan-lingkungan hukum (rechtskring), juga dapat dilihat dari perspektif lain, yakni dari bidang kajian, yaitu hukum adat mengenai tata
12 G.P Hoefanagels, The Other Side of Criminology, Deventer, Holland : Kluwer, 1973, Hlm. 57
13 Kusmadi Pudjosewojo, Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia, Aksara Baru, Jakarta, 1976, Hlm. 64
susunan warga (hukum tata negara), hukum adat mengenai hubungan antar warga (hukum perdata), dan hukum adat tentang delik (hukum pidana).14
Hubungan kepastian hukum antara paham kodifikasi yang dipengaruhi oleh Belanda dan hukum adat atau dikenal dengan hukum yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Pada abad ke-19 lahirlah gerakan hukum
“legisme” yang mengasumsikan bahwa setiap kegiatan penerapan hukum, semata-mata hanyalah suatu penerapan isi dari undang-undang terhadap perkara-perkara konkret. Gagasan legalitas di Indonesia sudah ada sejak KUHP didatangkan oleh Belanda dan diterima oleh sistem hukum di Indonesia. Gagasan legalitas diusulkan dalam amandemen UUD 1945 Pasal 28I ayat (1) yaitu “hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”
Hukum adat adalah hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan Republik Indonesia, yang mengandung unsur agama, dapat pula dikatakan bahwa Hukum Pidana Adat adalah hukum Indonesia asliyang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan yang mengandung unsur agama, diikuti dan ditaati oleh masyarakat secara terus- menerus, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pelanggaran terhadap aturan tata tertibnya dipandang dapat menimbulkan kegoncangan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, bagi si pelanggar diberikan sanksi adat, koreksi adat atau sanksi/kewajibanadat oleh masyarakat melalui pengurus adatnya.15
14 Lastuti Abubakar, Revitalisasi Hukum Adat Sebagai Sumber Hukum dalam Membangun Sistem Hukum Indonesia, Universitas Padjadjaran Bandung, Bandung, 2011, Hlm. 45
15 Moh. Koesno, Hukum Adat sebagai Suatu Model Hukum, Mandar Maju, Bandung, 1992,h.11
Pengertian Hukum Pidana Adat mengandung empat hal pokok, yaitu pertama, hukum Indonesia asli yang merupakan rangkaian peraturan- peraturan tata tertib yang tidak tertulis dalam bentuk perundang- undangan yang mengandung unsur –unsur agama. Kedua, peraturan tersebut dibuat, dikuti, dan ditaati oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Ketiga, pelanggaran terhadap peraturan tersebut dipandang sebagai perbuatan yang menimbulkan kegoncangan dan mengganggu keseimbangan kosmis,perbuatan melanggar peraturan ini dapat disebut sebagai tindak pidana adat. Keempat, pelaku yang menimbulkan pelanggaran tersebut dikenai sanksi/kewajiban adat oleh masyarakat yang bersangkutan.16
Keberadaan Hukum Pidana Adat dalam sistem hukum nasional merupakansumber hukum yang telah mendapat pengakuan, seperti dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi : “Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan masyarakat hukum adat beserta hak hak tradisionalnya sepanjangmasih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NegaraKesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. Hukum Pidana Adat juga mengacu pada ketentuan Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Secara eksplisist maupun implisit ketentuan Pasal 5 ayat (1), Pasal 10 ayat (1), dan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 meletakkan dasar eksistensi Hukum Pidana Adat. Ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 menentukan bahwa, “Hakim dan Hakim Konstitusi
16 Teguh Sulistia dan Aria Zurnetti, Hukum Pidana Horizon Baru Pasca Reformasi, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, h. 3.
wajib menggali, mengikuti,dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Kemudian Pasal 10 ayat (1) menyebutkan bahwa, “Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak mengatur atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Berikutnya ketentuan Pasal 50 ayat (1) menentukan,
“Putusan pengadilan selain harus memuat alasandan dasar putusan juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikandasar untuk mengadili.” Pada dasarnya kalimat “nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat” menjadikan sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Ini mencerminkan baik tersuratmaupun tersirat bahwa perlakuan Hukum Pidana Adat juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.
Hukum adat sebagai suatu sistem hukum memiliki pola tersendiri dalammenyelesaikan sengketa. Hukum memiliki karakter yang khas dan unik biladibandingkan dengan sistem hukum lain. Hukum adat lahir dan tumbuh darimasyarakat, sehingga keberadaannya bersenyawa dan tidak dapat dipisahkandari masyarakat. Hukum adat tersusun dan terbangun atas nilai, kaidah,dannorma yang disepakati dan diyakini kebenarannya oleh komunitas masyarakatadat. Penyelesaian perkara atau sengketa dalam masyarakat hukum adat didasarkan pada pandangan hidup (lebensaacbuung) yang dianut olehmasyarakat tersebut, bahwa pandangan
hidup masyarakat adat tertumpu pada filsafat eksistensi manusia.
Pandangan hidup masyarakat adat yang berasaldari nilai, pola pikir, dan norma telah melahirkan ciri masyarakat hukum adat. Ciri masyarakat hukum adat adalah religious, komunal, demokrasi, mementingkan nilai moral spiritual, dan bersahaja (sederhana). Masyarakathukum adatmenyelesaikan sengketa melalui jalur musyawarah atau kekeluargaan, karena dalam musyawarah dapat dibuat kesepakatan damai yang menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu, musyawarah bertujuan untuk mewujudkan kedamaian dalam masyarakat.
Permasalahan yang diselesaikan oleh Lembaga Adat Seluma seperti di Kabupaten Seluma bukan hanya silang sengketa tanah saja tetapi lebih banyak tindak pidana pencurian. Salah satunya tindak pidana pencurian kelapa sawit dikarenakan 70% lahan perkebunan di Kabupaten Seluma ditanami oleh Kelapa Sawit baik yang dimiliki oleh Pribadi maupun Perusahaan.
Selanjutnya penyelesaian pencurian kelapa sawit lebih banyak diselesaikan melalui adat dan tidak diproses lanjut oleh Kepolisian Sektor di Polres Seluma sebagaimana terjadi di Polsek Seluma. Pencurian yang disebabkan karena susahnya mencari pekerjaan, dikarenakan jumlah penduduk yang tidak sesuai dengan lapangan pekerjaan, banyaknya masyarakat yang putus sekolah, karena ijazah tamatan sekolah merupakan syarat formil dalam mencari pekerjaan. Oleh karena itu orang menggunakan jalan pintas, yaitu sedikit bekerja dan dapat menghasilkan uang banyak.
walaupun dengan melakukan tindak pidana pencurian yang melanggar hukum.
Penyelesaian perkara atau perselisihan seperti pencurian dan tindak pidana lain di Kabupaten Seluma lebih banyak diselesaikan dengan Hukum Adat. Tujuan dari hukum adat adalah untuk menciptakan kedamaian dan keharmonisan hidup masyarakat, bukan untuk memutuskan kalah atau menang. perkara diselesaikan oleh perangkat desa, yang terdiri dari kepala desa, wakil kepala desa, tetua dan warga desa. Penyelesaian perkara merupakan hasil musyawarah dan kesepakatan antara pihak yang dirugikan dengan perangkat desa, musyawarah dilakukan untuk mendapat kesepakatan yang terbaik dalam penyelesaian masalah. Hasil dari musyawarah melaui hukum adat biasanya tidak akan merugikan kedua belah pihak. Hukum adat di Kabupaten seluma terbentuk dari kebiasaan masyarakat kabupaten seluma sendiri dan terarah pada hal yang tersilah pada masalah duniawi, yaitu antara manusia dengan manusia lainnya, juga tersilah pada masalah agama, yaitu antara manusia dengan kepercayaannya. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “Penegakan Hukum Tindak Pidana Pelaku Pencurian Kelapa Sawit Melalui Denda Adat Di Kabupaten Seluma Dengan Kuhp
”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengidentifkasikan masalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana upaya untuk meminimalisir pencurian kelapa sawit dengan penegakan hukum adat?
2. Apa sanksi yang diberikan atas pencurian kelapa sawit dengan hukum adat?
C. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan yang diharapkan dapat tercapai, demikian pula dengan Tesis ini, Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu:
1. Memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana sistem denda adat dapat berfungsi dalam menanggulangi tindak pidana pencurian kelapa sawit dan bagaimana hal ini berdampak pada masyarakat dan sistem hukum yang lebih luas.
2. Menilai sejauh mana denda adat dapat mengurangi atau mencegah tindak pidana pencurian kelapa sawit di komunitas tertentu.
3. Mengkaji bagaimana denda adat berfungsi dalam konteks hukum negara dan seberapa baik hukum adat dan hukum positif saling melengkapi dalam menangani kejahatan.
4. Meneliti dampak dari penerapan denda adat terhadap masyarakat lokal, termasuk dampak sosial, ekonomi, dan hubungan antarwarga.
5. Mengukur sejauh mana masyarakat merasa bahwa penegakan hukum melalui denda adat adalah adil dan efektif dibandingkan dengan pendekatan hukum formal
6. Memberikan rekomendasi untuk perbaikan atau penyesuaian dalam sistem denda adat untuk meningkatkan penegakan hukum dan kepuasan masyarakat.
D. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas, Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis Secara teoritis, hasil penelitian ini pertama-tama diharapkan dapat memberikan sumbangan perkembangan hukum pidana mengenai pokok-pokok pikiran dan strategi baru di bidang pembinaan narapidana sesuai dengan tujuan pemidanan dalam rangka menanggulangi dan mengurangi kejahatan, khususnya dalam pencegahan peredaran narkotika di Lembaga pemasyarakatan.
2. Kegunaan Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang merupakan perwujudan pengabdian kepada masyarakat, karena hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan baik kepada petugas yang berkewajiban mengelola pembinaan narapidana maupun kepada masyarakat umum berupa pemberian pengertian yang luas tentang peredaran narkotika di Lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan pemidanaan.
E. Kerangka Pemikiran
Hukum sebagai tatanan perilaku yang mengatur manusia dan merupakan tatanan pemaksa. Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah dan larangan)
yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan harus ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan.17 “Cita hukum bangsa dan negara Indonesia adalah pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, untuk membangun negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.18
Agar hukum dapat berfungsi secara efektif yang bertujuan untuk mengubah perilaku dan memaksa manusia untuk melaksanakan nilai-nilai yang ada dalam kaidah hukum, maka diperlukan penegakan hukum.
Penegakan hukum (law enforcement) adalah proses yang dilakukan untuk menegakkan norma-norma hukum sebagai pedoman bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Proses penegakan hukum melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum.
Penegakan hukum adalah pelaksanaan hukum secara konkrit dalam kehidupan masyarakat.19 Setelah pembuatan hukum dilakukan, maka harus dilakukan pelaksanaan konkrit dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hal tersebut merupakan penegakan hukum. 20
Hikmahanto Juwono menyatakan institusi hukum yang melakukan penegakan hukum di Indonesia adalah Kepolisian, Kejaksaan, Badan Peradilan dan Advokat. Terdapat berbagai macam permasalahan dalam penegakan hukum, yakni :
1. Problem pembuatan peraturan perundang-undangan.
17 E. Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Cet VI, PT. Penerbit dan Balai Buku Ichtiar, Jakarta, 1963
18 Roeslan saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggung Jawaban Pidana, Cetakan Pertama, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1996
19 Satjipto Rahardjo. Ilmu hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, Cetakan ke-V 2000, hlm. 74
20 Barda Nawawi Arief, S. H. Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan. Prenada Media, 2018, Vol. 1, No. 1, 2018, Hlm. 7
2. Masyarakat mencari kemenangan bukan keadilan.
3. Uang mewarnai penegakan hukum.
4. Penegakan hukum sebagai komoditas politik, penegakan hukum yang diskriminatif dan ewuh pekewuh.
5. Lemahnya sumber daya manusia.
6. Advokat tahu hukum versus advokat tahu koneksi.
7. Keterbatasan anggaran.
8. Penegakan hukum yang dipicu oleh media masa.
Pelaksanaan hukum dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan tujuan hukum yang berfungsi untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman. Jika hukum tidak dilaksanakan, maka peraturan hukum itu hanya merupakan susunan kata-kata yang tidak mempunyai makna dalam kehidupan masyarakat. Dalam menegakkan hukum ini ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan.
Satjipto Rahardjo dalam bukunya “Masalah Penegakan Hukum”, menyatakan bahwa penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide tentang keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Proses perwujudan ide-ide itulah yang merupakan hakikat dari penegakan hukum. Tujuan hukum yang terpenting adalah untuk mencapai keadilan di dalam masyarakat.21 Ini berarti bahwa hukum harus merupakan kaidah-kaidah
21 Setiono. Rule of Law (Supremasi Hukum). Surakarta. Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. 2004. hlm. 3
yang adil dan pelaksanaan hukum itu tidak boleh menghilangkan nilai-nilai etika pada umumnya dan menghilangkan martabat kemanusiaan.22
Penegakan hukum menjalankan aturan normatif seperti melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, yang berdasarkan dengan norma dan aturan hukum yang berlaku. Selain itu penegakan hukum merupakan upaya aparatur penegakan hukum untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Penegakan hukum harus ditegakkan sesuai dengan norma dan nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalamnya, apabila seseorang melakukan sebuah tindak pidana maka penegakan hukum akan dilaksanakan sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan oleh orang tersebut.
Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan yang sewenang-wenang, berarti bahwa seseorang akan memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Hukum yang berlaku pada dasarnya tidak diperbolehkan menyimpang. Hukum itu bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratakan. Barang siapa mencuri harus dihukum, dimana setiap orang yang mencuri harus dihukum, tanpa membeda-bedakan siapa yang mencuri.
Kepastian hukum sangat identik dengan pemahaman positivisme hukum. Kepastian hukum diatur dalam undang-undang Pasal 28 D ayat (1), yang berbunyi “Setiap orang berhak atas, pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.23
22 Sukadi, Imam. "Matinya Hukum dalam Proses Penegakan Hukum di Indonesia." Risalah Hukum, 2011, Hlm. 39-53.
23 Moho, Hasaziduhu. "Penegakan Hukum di Indonesia Menurut Aspek Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan." Warta Dharmawangsa 13.1 (2019).
Keadilan menurut hukum atau yang sering dimaksud adalah legal justice yang dalam bentuk hak dan kewajiban, dimana pelanggaran terhadap keadilan ini akan ditegaskkan lewat proses hukum. Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah melanggar keadilan, maka akan dikenakan hukuman lewat proses hukum.
Prinsip penerapan hukum adalah prinsip rasionalitas, konsistensi, publisitas dan praduga tidak bersalah.24
Prinsip rasionalitas mengajarkan bahwa tindakan-tindakan yang diharuskan dan dilarang oleh aturan hukum adalah jenis tindakan yang diharapkan dapat masuk akal untuk dilakukan. Prinsip konsistensi mengharuskan bahwa kasus yang serupa dapat diperlakukan secara serupa. Menurut Rawls kriteria serupa diberikan oleh aturan-aturan hukum dan prinsip yang digunakan untuk menafsirkannya. Prinsip pubilitas merupakan prinsip yang dibangun dengan asumsi bahwa tidak ada pelanggaran tanpa sebuah hukum (nulla crimen sine lege), dan tuntutan-tuntutan yang diimplikasikan. Prinsip ini menuntut agar hukum diketahui dan disebarluaskan dengan sengaja, bahwa undang-undang dasar tidak digunakan untuk merugikan individu tertentu. Prinsip praduga tidak bersalah adalah prinsip yang berbunyi, hukum adalah perintah-perintah yang ditujukan pada orang yang berakal sehat. Jadi, sebuah sistem hukum harus membuat ketentuan yang mengandung aturan dan bukti yang menjamin prosedur penyelidikan yang rasional, dengan proses legislasi, prinsip tersebut dapat kita perluas dengan sebuah kriteria untuk sebuah tindak pidana yang harus dipertanggungjawabkan. 25
24 John Rawls, 2006 Teori Keadilan Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam Negara, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
25 Dwisvimiar, Inge. "Keadilan dalam perspektif filsafat ilmu hukum." Jurnal Dinamika Hukum, Vol, 3 No 11, 2011, Hlm. 522-531.
Kemampuan bertanggung jawab adalah suatu kondisi kematangan dan kenormalan psikis yang mencakup tiga kemampuan, yaitu26 :
1. Memahami arah-tujuan faktual dari tindakan sendiri 2. Kesadaran bahwa tindakan tersebut secara sosial dilarang 3. Adanya kehendak bebas berkenaan dengan tindakan tersebut.
“keadilan dan kepastian hukum merupakan dua tujuan hukum yang kerap kali tidak sejalan satu sama lain dan sulit dihindarkan dalam praktik hukum.27 Suatu peraturan hukum yang lebih banyak memenuhi tuntutan adalah kepastian hukum, maka semakin besar kemungkinan aspek keadilan yang terdesak. Apabila dalam penerapannya dalam kejadian konkrit, keadilan dan kepastian hukum saling mendesak, maka hakim sejauh mungkin harus mengutamakan keadilan di atas kepastian hukum”.28
Kemanfaatan hukum dapat diartikan sebagai kebahagiaan (happiness).
Hukum yang baik adalah hukum yang memberikan kebahagiaan bagi banyak orang.
Menurut aliran Utilitarianisme, penegakan hukum mempunyai tujuan berdasarkan manfaat tertentu (teori manfaat atau teori tujuan), dan bukan hanya sekedar membalas perbuatan pembuat pidana, bukanlah sekedar untuk melakukan pembalasan atau pengimbalan kepada orang yang melakukan tindak pidana, tetapi mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat.
26 Remmelink, Jan, 2003, Hukum Pidana, Diterjemahkan oleh Trism Pascal Moeliono, Jakarta:
Gramedia
27 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana, Aksara Baru, Jakarta, 1981.
28 Risdianto, D, Perlindungan Terhadap Kelompok Minoritas Di Indonesia Dalam Mewujudkan Keadilan Dan Persamaan Di Hadapan Hukum. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, Vol 6, No 1, 2017, Hlm. 125-142.
Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu Strafbaar feit. Straf diterjemahkan dengan pidana dan hukum. Baar diterjemahkan dapat atau boleh. Feit diterjemahkan tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan. Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana (yuridis normatif). Kejahatan atau perbuatan jahat bisa diartikan secara yuridis atau kriminologis. Kejahatan atau perbuatan jahat dalam arti yuridis normatif adalah perbuatan seperti yang terwujud in abstracto dalam peraturan pidana.29
Menurut Simons, Pengertian tindak pidana merupakan tindakan melanggar hukum pidana yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undangundang hukum pidana telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. Menurut Moeljatno, perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan tersebut disertai ancaman (sanksi) berupa pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut.
Wirjono Prodjodikoro mengemukakan bahwa Tindak pidana adalah pelanggaran norma-norma dalam tiga bidang yaitu hukum perdata, hukum ketatanegaraan, dan hukum tata usaha pemerintah yang oleh pembentuk undangundang ditanggapi dengan suatu hukuman pidana. Salah satu tindak pidana yang sering terjadi di Indonesia yakni pencurian. 30
Tindak pidana pencurian pada dasarnya telah diatur dalam Pasal 362 KUHP, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan
29 Laia, Fariaman, "Penerapan Hukum Pidana Pada Tindak Pidana Gratifikasi yang Dilakukan dalam Jabatan." Jurnal Panah Keadilan, Vol.1, No.2, 2022, Hlm. 1-16.
30 Hakim, Lukman, Asas-asas Hukum Pidana Buku Ajar Bagi Mahasiswa, Deepublish, 2020, Hlm.48
Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP, sebagaimana perkara pencurian dengan nilai barang relatif kecil yang diproses pidana dinilai sangat tidak adil jika diancam dengan hukuman hingga 5 (lima) tahun.31
Pencurian menurut syara’ dalam hukum islam adalah pengambilan oleh seorang mukallaf yang baligh dan berakal terhadap harta milik orang lain secara diam-diam, apabila barang tersebut mencapai nisab (batas minimal) dari tempat simpanannya tanpa ada subhat barang-barang yang diambil tersebut. Di dalam hukum Islam ada dua jenis pencurian, yakni pencurian yang mewajibkan jatuhnya hukum hudud, pencurian yang mewajibkan jatuhnya hukuman ta’zir. Pencurian yang mewajibkan jatuhnya hukuman hudud terdiri atas dua hal yaitu pencurian kecil (sariqah sugra) dan pencurian besar (sariqah kubra).
Hukum Islam memandang tindak pidana pencurian sebagai tindak pidana yang berbahaya dan oleh karenanya maka hukumannya sudah ditetapkan oleh syara’ yaitu hukuman potong tangan sebagaimana tercantum dalam Surat Al- Maidah ayat 38 sebagai berikut :
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencari, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Dalam menjatuhkan hukuman potong tangan, para ulama mempertimbangkan harta yang dicuri bernilai secara hukum, harus tersimpan di tempat penyimpanan yang biasa dan mencapai
31 Madari, Muhammad Soma Karya, Penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda dalam kuhp terhadap perkara tindak pidana pencurian: analisis peraturan mahkamah agung nomor 02 Tahun 2012 tentang penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda dalam KUHP, 2014. Hlm. 9
nisab. Jika tidak mencapai nisab, maka tidak ada hukuman potong tangan tetapi diganti dengan ta’zir (hukuman).32
Pencurian kelapa sawit adalah pencurian yang bersifat merugikan seseorang, tindak pidana pencurian kelapa sawit sudah menjadi suatu fenomena yang tidak asing terjadi di perkebunan kelapa sawit Seluma. Pelaku dengan mudah melakukan pencurian kelapa sawit, hal ini disebabkan luasnya areal perkebunan kelapa sawit yang terkadang luput dari penjagaan petugas perusahaan. Selain itu lokasi perkebunan yang berdampingan dengan pemukiman warga setempat juga mendorong pelaku dengan mudah melakukan pencurian.
Alat-alat yang digunakan oleh pelaku pencurian kelapa sawit, yaitu dodos, pisau egrek, ganco, tombak dan kereta sorong. Cara-cara yang dilakukan oleh para pelaku pencurian kelapa sawit yaitu melakukan pencurian buah kelapa sawit di pohon menggunakan alat berupa tangga, dodos kecil dan kereta sorong dengan cara mengambil buah kelapa sawit menggunakan tangga. Melakukan pencurian kelapa sawit di tempat pengumpulan hasil (TPH) menggunakan alat tajok dan kendaraan becak barang. Melakukan pencurian dengan mengambil brondolan buah kelapa sawit, brondolan adalah biji kelapa sawit yang memberondol atau lepas dari tandan buah segar kelapa sawit (TBS). Melakukan pencurian dengan mengait buah kelapa sawit ketika mobil atau lori yang membawa kelapa sawit melintas Lori adalah kendaraan yang berjalan di atas rel dan memiliki gerobak gandengan. Lori digunakan sebagai kendaraan alternatif pengangkut kelapa sawit. Melakukan pencurian bekerjasama dengan pekerja, sebelum melakukan pencurian kelapa
32 Lubis, M. Dipo Syahputra, Madiasa Ablisar, and Eka Putra, "Perbandingan Tindak Pidana Pencurian Menurut Hukum Pidana Nasional dan Hukum Pidana Islam.", Jurnal Mahupiki, Vol. 2, No.1, 2014.
sawit, pelaku melakukan negosiasi dengan pihak pekerja perkebunan untuk bekerjasama melakukan pencurian kelapa sawit. Pelaku melakukan negosiasi dengan pihak pekerja perkebunan karena pekerja perkebunan kenal dengan pelaku, seperti teman dekat, warga satu kampung dengan pelaku, maupun warga kampung tetangga yang sudah kenal dengan pelaku sehingga pekerja ikut bekersama.
Upaya penanggulangan tindak pidana pencurian kelapa sawit dilakukan dengan dua cara yaitu preventif (mencegah sebelum terjadinya kejahatan) dan tindakan represif (usaha sesudah terjadinya kejahatan). Bentuk usaha preventif dilakukan oleh pihak perkebunan kelapa sawit adalah meningkatkan patroli keamanan diseluruh wilayah perkebunan, menambah jumlah personil keamanan, memperketat penjagaan perkebunan oleh petugas keamanan, mengkonsentrasikan pihak keamanan kebun pada tempat-tempat yang rawan terjadi pencurian., memasang alat tambahan keamanan di daerah-daerah rawan pencurian, membuat parit-parit dan membuat benteng di daerah yang berbatasan dengan desa dan ditempat-tempat yang rawan terjadi pencurian, mengadakan hubungan sosial yang baik dengan masyarakat, melakukan pemuatan kelapa sawit pada mobil dan lori tidak melebihi kapasitas, mengarahkan petugas keamanan perkebunan untuk mengawal lori yang memuat kelapa sawit dari dalam areal perkebunan. Bentuk upaya represif upaya penanggulangan dan tahap-tahap yang dilakukan ketika terjadi pencurian adalah menyerahkan kepada pihak keamanan perkebunan untuk di data apa-apa saja yang telah dicuri, kemudian pihak keamanan perkebunan melaporkan
kepada Asisten perkebunan bahwa telah terjadi pencurian diareal perkebunan, kemudian pelaku di proses menggunakan hukum adat pada daerah tersebut. 33
Kasus pencurian buah kelapa sawit yang terjadi di Kecamatan Seluma Kabupaten Seluma ini di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi, faktor lingkungan dan Faktor pendidikan. Faktor ekonomi adalah faktor yang amat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, hal ini dikarenakan manusia memiliki kebutuhan (sandang, pangan, papan) yang harus dipenuhi setiap hari.
Pemenuhan kebutuhan inilah yang membutuhkan biaya, jika kebutuhan sehari-hari sangat banyak, maka biaya yang dibutuhkan juga semakin banyak. Alasan tersebut sering dipergunakan para pelaku kejahatan karena alasan tersebut dapat meringankan hukuman yang dijatuhkan padanya. Terjadinya kejahatan pencurian buah kelapa sawit ini dikarenakan oleh faktor ekonomi dari pelaku yang masih tergolong rendah sedangkan kebutuhannya yang mendesak untuk dipenuhi.
Faktor lingkungan (tempat tinggal) dari pelaku juga merupakan faktor pendorong untuk melakukan pencurian. Misalnya, pelaku bergaul dengan orang yang pekerjaannya memang pencuri, maka suatu saat dia akan ikut pula mencuri.
Selain itu, kurangnya pengawasan dari masyarakat setempat dan lokasi perkebunan kelapa sawit tersebut jauh dari pemukiman warga sehingga memancing para pencuri untuk melakukan tindak kejahatan di daerah tersebut. Lingkungan seseorang ternyata cukup berpengaruh terhadap pembentukan karakter yang bersangkutan. Jika lingkungan baik kemungkinan perilakunya pun akan baik.
33 Rizki, Santoni Fajar, and Adi Hermansyah, "Penanggulangan Tindak Pidana Pencurian Kelapa Sawit Di Perkebunan PT. Socfindo (Suatu Penelitian di Wilayah Kabupaten Nagan Raya).", Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Pidana, Vol.3, No.4, 2019, Hlm. 626-637.
Namun jika bergaul dengan para pancuri kemungkinan lambat laun akan terpengaruh sehingga ikut mencuri.
Faktor yang lain adalah pendidikan. Tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tindakan seseorang, seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dalam bertindak, bertutur kata, bertingkah laku, cenderung berfikir dengan menggunakan kerangka fikir yang baik dan sistematis sehingga segala perbuatannya cenderung untuk dapat dipertanggung jawabkan lain halnya dengan orang yan memiliki tingkat pendidikan yang rendah dalam melakukan tindakan terkadang berfikiran sempit. Selain itu seseorang yang memiliki strata pendidikan yang tinggi dalam mencari pekerjaan cenderung mudah dibandingkan dengan orang yang memiliki strata pendidikan yang rendah, karenanya banyak orang yang memiliki pendidikan yang rendah tidak memiliki pekerjaaan/pengangguran. Karena tidak memiliki pekerjaan itu maka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dia akan melakukan pekerjaan apa saja asalkan ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tak perduli apakah itu melanggar hukum atau tidak.34
Terkait dengan tindak pidana pencurian kelapa sawit tentu suatu upaya yang dilakukan haruslah sesuai dengan ketentuan hukum, menjunjung tinggi nilai keadilan, kemanusiaan dan juga haruslah sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku. Selain penyelesaian menggunakan sistem peradilan pidana juga dapat menggunakan sistem peradilan adat yang upaya penyelesaian diselesaikan oleh pemangku adat atau aparatur gampong dengan mengedepankan
34Sinaga, Andri, and Ainal Hadi, "Tindak Pidana Pencurian", Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Pidana, Vol. 2, No.1, 2018, Hlm. 31-41.
proses musyawarah guna tercapainya upaya penyelesaian secara perdamaian.
Proses penyelesaian atau penegakan hukum terhadap tindak pidana pencurian kelapa sawit dilakukan penangkapan, penindakan, dan penyidikan, selanjutnya menempuh jalur mediasi secara musyawarah untuk diselesaikan secara perdamaian, dan dilakukan penghentian penyidikan dengan dasar telah ada upaya diselesaikan secara adat di Desa.
Di setiap daerah masing-masing mereka juga mempunyai hukum adat, hukum adat ini tidak hanya berlaku untuk masyarakat setempat saja namun hukum adat juga berlaku bagi pendatang yang berkunjung ke daerah tersebut. Maka dari itu kita sebagai pendatang atau warga lokal harus saling menghargai tempat yang kita kunjungi dan juga kebiasaan-kebiasaan nya, seperti pepatah mengatakan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.35
Hukum adat adalah hukum murni yang lahir dari norma dan kebiasaan- kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat, hukum adat sangat dihormati oleh masyarakat adat karena hukum adat sudah ada dan mengatur masyarakat sebelum adanya hukum yang berlaku sekarang. Dalam perkembangan nya hukum adat memiliki peranan dalam menyesuaikan beberapa peraturan seperti undang-undang argaria, pembagian harta dalam undang-undang perkawinan dan masih banyak lagi.
Hukum adat tidak boleh sampai kehilangan eksistensi nya, hukum adat harus tetap di lindungi dan diberlakukan jangan sampai pemerintah hanya melihat keuntungan dari menjual lahan kepada investor tetapi tidak memperhatikan dampak yang merugikan lingkungan sekitar. Masyarakat adat berhak atas hak-hak yang mereka
35 Ayu, M. (2022, Juni 9). Hukum Adat : Pengertian, Sumber, Dan Unsur. Retrieved From Nasional.Kompas.Com: Https://Nasional.Kompas.Com/Read/2022/06/09/03000081/Hukum- Adat-- Pengertian-Sumber-Dan-Unsur
miliki jangan sampai keputusan pemerintah mengakibatkan berat sebelah dan membuat kecemburuan sosial.36
Hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku dan jika aturan itu dilanggar ada upaya tertentu untuk memaksa agar aturan itu tetap ditaati. Kusumadi Pudjosewojo memberikan pengertian hukum adat adalah ”keseluruhan aturan hukum yang tidak tertulis”. menurut Jauh Kusumadi yang menjelaskan bahwa hukum adat bukan merupakan lapangan hukum tersendiri melainkan meliputi semua lapangan hukum. 37
Hukum dan hukum adat mempunyai arti yang sama yaitu sebagai suatu rangkaian norma yang mengatur tingkah laku dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat dengan tujuan terciptanya suatu ketertiban dalam masyarakat. Yang membedakannya adalah hukum adat berlaku bagi orang Indonesia, sifatnya tidak tertulis dan tidak dibuat oleh legislatif.
Pengakuan formal terhadap hukum adat diatur pada Pasal 5 ayat (1) dan 50 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 mengenai Kekuasaan Kehakiman. Pasal-pasal ini mengharuskan hakim untuk mencari, ikut serta, dan paham terhadap nilai-nilai hukum serta konsep rasa keadilan yang berlaku dalam masyarakat. Selanjutnya, prinsip legalitas dalam hukum pidana tertulis dijelaskan oleh Pasal 2 dalam KUHP baru.
Pasal ini menyatakan bahwa hukum pidana tertulis tidak mengurangi keberlakuan hukum yang berlaku dalam masyarakat, sehingga seseorang dapat
36 Yetno, A. (2021). Perlindungan Masyarakat Adat Dan Tradisi Budaya Dalam Upaya Mewujudkan Tujuan Hukum Di Indonesia . In Prosiding Seminar Nasional IAHN-TP Palangka Raya, 46-52.
37 Wulansari, Catharina Dewi, and Aep Gunarsa, Hukum adat Indonesia: suatu pengantar, Refika Aditama, 2016.
dikenai pidana meskipun perbuatannya tidak diatur secara khusus dalam undang- undang. Hukum yang berlaku dalam masyarakat harus selaras terhadap nilai-nilai Pancasila, HAM (Hak Asasi Manusia), serta asas-asas hukum yang berlaku secara internasional. Dengan demikian, dari perspektif sosiologis dan normatif, keberadaan hukum adat pidana diperkuat oleh KUHP yang baru, menjadikannya sebagai bagian penting dari hukum positif yang berlaku dalam komunitas adat di Indonesia dan berperan sebagai pengatur sosial.38
Hukum adat diatur dalam Pasal 2 ayat (2) yang intinya mengatur bahwa mereka yang melanggar “hukum yang hidup dalam masyarakat” (disebut juga
“hukum adat”) dapat dipidana meski perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana menurut KUHP baru.39
Sebagai sistem hukum yang bersifat universal, hukum Islam akomodatif terhadap sistem hukum yang berlaku di suatu masyarakat. Dalam hal ini hukum Islam memberikan ruang bagi hukum adat untuk tetap dilaksanakan oleh masyarakat, tentunya dengan syarat tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini terbukti dengan penerimaan Islam terhadap Adat atau ‘Urf sebagai bagian dari adilatul ahkam (dalil hukum). Bukti bahwa hukum Adat bisa diadopsi oleh Islam adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam :
“Sesungguhnya yang dianggap umat Islam baik, maka di sisi Allah juga akan dianggap baik”
38 Satjiotp Rahardjo (2005), Hukum Adat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (Perspektif Sosiologi Hukum), dalam Komnas HAM, Masyarakat Hukum Adat, Inventarisasi dan Perlindungan Hak, Komnas HAM, Jakarta.
39 Ahmad Rifan dan Ilham Yuli Isdiyanto. (2023). “Diametralisasi Living Law dan Kepastian Hukum dalam Pasal 2 RKUHP”, Ahmad Dahlan Legal Perspective, Vol.1 No.1.
HR. Ahmad Merujuk kepada makna Adat yang sama dengan ‘Urf dalam Islam maka Allah ta’ala berfirman :
“ Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. 40
Eksistensi hukum Adat diakui oleh Islam sebagai dalil hukum yang dipertimbangkan dalam menetapkan suatu hukum, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.41
Kedudukan hukum adat di dalam sistem hukum di Indonesia memiliki kedudukan secara konstitusional bersifat sama dengan kedudukan hukum pada umumnya yang berlaku dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Hukum adat merupakan hukum yang berlaku bagi orang Indonesia asli dan orang timur asing pada masa Hindia Belanda. Dalam perjalanan, hukum adat diatur, dilindungi, dan diakomodir oleh konstitusi.42
F. Metode Penelitian a. Metode Pendekatan
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode yuridis sosiologis yaitu hukum tidak hanya dikonsepsikan sebagai suatu gejala normatif yang mandiri, tetapi sebagai institusi sosial yang dikaitkan secara riil dengan variabel-variabel sosial yang lain43.
40 Alquran Surah Al A‘raf : 199. Alquran dan Terjemahannya. Jakarta: Kementrian Agama RI, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‘an, 2013
41 Prawiro, Abdurrahman Misno Bambang, "Harmonisasi Hukum Adat dan Hukum Islam bagi Pengembangan Hukum Nasional, " Al-Mashlahah Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, Vol.2 No.3, 2017.
42 Marzuki, P.M. (2023). Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, h.
47.
43Ronny Hanitijo Soemitro, SH, Metodologi Penelitian Hukum, Penerbit Ghalia indoensia, 1993, Hlm. 34
Penelitian ini dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji asas-asas hukum, khususnya kaidah-kaidah hukum positif yang berasal dari bahan- bahan kepustakaan, peraturan perundang-undangan.
b. Spesifikasi Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analis. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya, penelitian ini kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori dan pendapat para ahli.
c. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data sekunder akan diperlukan karena penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Data sekunder di bidang hukum ditinjau sudut kekuatan mengikatnya, yakni :
a. Bahan-bahan hukum primer
Bahan hukum ini mempunyai kekuatan hukum mengikat, yakni peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan (hukum adat, yurisprodensi dan traktat).
b. Bahan-bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan hukum yang dapat membantu menganalisa dan memahami bahan hukum primer, bahan hukum sekunder adalah rancangan peraturan perundang-undangan, hasil karya ilmiah para sarjana dan hasil penelitian.
Data primer juga diperlukan dalam penelitian karena data primer berfungsi sebagai pelengkap atau pelindung data sekunder. Data primer berupa hasil wawancara dengan perangkat Desa di Kecamatan Seluma Kabupaten Seluma.
c. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan pada data sekunder diperoleh dengan melakukan studi di perpustakaan terhadap bahan-bahan hukum primer, dan sekunder yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
Sedangkan data sekunder diperoleh dengan wawancara yang dilaksanakan secara langsung dengan Perangkat Desa Kecamatan Seluma Kabupaten Seluma.
d. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis secara kualitatif yaitu suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan serta juga tingkah laku yang nyata, yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Data deskriptif analisis karena tidak menggunakan rumus-rumus dan angka- angka dengan menggunakan metode berfikir deduktif.
G. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan hukum ini, penulis membuat tulisan yang keseluruhan pembahasannya terbagi dalam lima bab dan setiap bab terdiri dari sub – sub
yang lebih spesifik dan berkaitan Adapun gambaran dari setiap bab adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Pada Bab ini menggambarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, jadwal penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : KAJIAN TEORITIS PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA MELALUI DENDA ADAT
Bab ini merupakan bab yang akan mengemukakan dengan jelas, ringkas, dan padat tentang hasil kajian kepustakaan tentang sumber hukum atau teori hukum mengenai permasalahan yang akan diteliti. Hal tersebut akan dijadikan sebagai sarana pendukung dalam proses penyusunan penelitian ini.
BAB III : PELAKSANAAN PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PENCURIAN KELAPA SAWIT MELALUI DENDA ADAT
Dalam bab ini, akan menguraikan atau menjelaskan masalah atau obyek penelitian, termasuk kasus yang menjadi obyek penelitian.
BAB IV : ANALISIS PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PENCURIAN KELAPA SAWIT MELALUI DENDA ADAT
Dalam Bab ini berisi hasil dan pembahasan dalam penegakan hukum tindak pidana pencurian kepala sawit melalui denda adat Masyarakat setempat dalam mencapai tujuan penegakan hukum adat yang akan menganalisis dan menjawab identifikasi masalah yang dijabarkan dalam bab I, menggunakan teori hukum sebagai pisau analisis guna mencapai tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian.
BAB V : PENUTUP
Dalam bab ini, yang menyatakan pemahaman peneliti tentang masalah yang diteliti berkaitan dengan tesis berupa kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil penelitian dan saran sebagai tindak lanjut dari simpulan tersebut.
Hukum dalam Pasal 2 RKUHP”, Ahmad Dahlan Legal Perspective, 2023.
Vol.1 No.1.
Alquran Surah Al A‘raf : 199. Alquran dan Terjemahannya. Jakarta: Kementrian Agama RI, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‘an, 2013
Arief Gosita, Masalah Korban Kejahatan, Buana Ilmu, Jakarta, 1993,hlm. 63.
E. Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Cet VI, PT.
Penerbit dan Balai Buku Ichtiar, Jakarta, 1963
Ediwarman, Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kriminologi. Cetakan Kedua, Yogyakarta: Genta Publishing. 2017. Hal. 24-56
G.P Hoefanagels, The Other Side of Criminology, Deventer, Holland : Kluwer, 1973, Hlm. 57
Hakim, Lukman, Asas-asas Hukum Pidana Buku Ajar Bagi Mahasiswa, Deepublish, 2020, Hlm.48
Hasaziduhu Moho, Penegakan Hukum di Indonesia Menurut Aspek Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan, Jurnal Warta Vol 1. No 1, Universitas Dharmawangsa. Medan, 2019, Hlm 4
John Rawls, Teori Keadilan Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam Negara, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. , 2006.
Kusmadi Pudjosewojo, Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia, Aksara Baru, Jakarta, 1976, Hlm. 64
Madari, Muhammad Soma Karya, Penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda dalam kuhp terhadap perkara tindak pidana pencurian:
analisis peraturan mahkamah agung nomor 02 Tahun 2012 tentang penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda dalam KUHP, 2 014. Hlm. 9
Marzuki, P.M, Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta: Kencana Prenada Media . 2023. Group, h. 47.
Moh. Koesno, Hukum Adat sebagai Suatu Model Hukum, Mandar Maju, Bandung, 1992,h.11
33
Pribadi, J Sahlepi, M.A, Ramadani, S, Penegakan Hukum Terhada Pelaku Tindak Pidana Pencurian Buah Kelapa Sawit Yang Dilakukan Oleh Anak (Studi Penelitian Di Polres Langkat). 2019. Hal. 1.
R. Santoso Brotodiharjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, Refika Aditama, Bandung, 2008, hlm. 22-23.
Rahmad Mulyadi, Pembudidayaan Kelapa Sawit dan Pemasarannya, Media Tani, Jakarta, 2009, Hlm. 23
Remmelink, Jan, Hukum Pidana, Diterjemahkan oleh Trism Pascal Moeliono, Jakarta: Gramedia, 2003.
Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana, Aksara Baru, Jakarta, 1981.
Roeslan saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggung Jawaban Pidana, Cetakan Pertama, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1996
Ronny Hanitijo Soemitro, SH, Metodologi Penelitian Hukum, Penerbit Ghalia indoensia, 1993, Hlm. 34
Satjiotp Rahardjo, Hukum Adat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (Perspektif Sosiologi Hukum), dalam Komnas HAM, Masyarakat Hukum Adat, Inventarisasi dan Perlindungan Hak, Komnas HAM, Jakarta. (2005), Satjipto Rahardjo. Ilmu hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, Cetakan ke-V 2000,
hlm. 74
Jurnal :
Barda Nawawi Arief, S. H. Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan. Prenada Media, 2018, Vol. 1, No. 1.
Dwisvimiar, Inge. "Keadilan dalam perspektif filsafat ilmu hukum." Jurnal Dinamika Hukum, Vol, 3 No 11, 2011, Hlm. 522-531.
34
Dilakukan dalam Jabatan." Jurnal Panah Keadilan, Vol.1, No.2, 2022, Hlm.
1-16.
Lastuti Abubakar, Revitalisasi Hukum Adat Sebagai Sumber Hukum dalam Membangun Sistem Hukum Indonesia, Universitas Padjadjaran Bandung, Bandung, 2011, Hlm. 45
Lubis, M. Dipo Syahputra, Madiasa Ablisar, and Eka Putra, "Perbandingan Tindak Pidana Pencurian Menurut Hukum Pidana Nasional dan Hukum Pidana Islam.", Jurnal Mahupiki, Vol. 2, No.1, 2014.
Permana, I.P.Y.A., & Wirasila, A.A.N. Analisis Yuridis Tindak Pidana Pencurian.
2019
Prawiro, Abdurrahman Misno Bambang, "Harmonisasi Hukum Adat dan Hukum Islam bagi Pengembangan Hukum Nasional, " Al-Mashlahah Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, Vol.2 No.3, 2017.
Risdianto, D, Perlindungan Terhadap Kelompok Minoritas Di Indonesia Dalam Mewujudkan Keadilan Dan Persamaan Di Hadapan Hukum. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, Vol 6, No 1, 2017, Hlm. 125- 142.
Rizki, Santoni Fajar, and Adi Hermansyah, "Penanggulangan Tindak Pidana Pencurian Kelapa Sawit Di Perkebunan PT. Socfindo (Suatu Penelitian di Wilayah Kabupaten Nagan Raya).", Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Pidana, Vol.3, No.4, 2019, Hlm. 626-637.
Sinaga, Andri, and Ainal Hadi, "Tindak Pidana Pencurian", Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Pidana, Vol. 2, No.1, 2018, Hlm. 31-41.
Setiono. Rule of Law (Supremasi Hukum). Surakarta. Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. 2004. hlm. 3
Sukadi, Imam. "Matinya Hukum dalam Proses Penegakan Hukum di Indonesia."
Risalah Hukum, 2011, Hlm. 39-53.
Teguh Prasetyo, Hukum dan Undang-Undang Perkebunan, Nusamedia, Bandung, 2013, Hlm. 57
35
Yetno, A. (2021). Perlindungan Masyarakat Adat Dan Tradisi Budaya Dalam Upaya Mewujudkan Tujuan Hukum Di Indonesia . In Prosiding Seminar Nasional IAHN-TP Palangka Raya, 46-52.
Undang-undang :
Undang – Undang Nomor 39 Tahun 2014.
Internet :
Ayu, M. Hukum Adat : Pengertian, Sumber, Dan Unsur. Retrieved From Nasional.Kompas.Com:
Https://Nasional.Kompas.Com/Read/2022/06/09/03000081/Hukum-Adat-- Pengertian-Sumber-Dan-Unsur./ (2022, Juni 9).
36