• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian yang dilakukan oleh Satriani et al., (2020) dari STTIKOM Insan Unggul, yang mengangkat judul penelitian Perhitungan Harga Pokok Produksi Dan Harga Pokok Penjualan Terhadap Laba Penjualan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Penelitian yang dilakukan oleh Satriani et al., (2020) dari STTIKOM Insan Unggul, yang mengangkat judul penelitian Perhitungan Harga Pokok Produksi Dan Harga Pokok Penjualan Terhadap Laba Penjualan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1 Tinjauan Pustaka

Pada penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh penulis dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Satriani et al., (2020) dari STTIKOM Insan Unggul, yang mengangkat judul penelitian Perhitungan Harga Pokok Produksi Dan Harga Pokok Penjualan Terhadap Laba Penjualan. Dimana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan dari hasil proses perhitungan laba operasi sebesar Rp.688.229.064 dengan harga pokok penjualan sebesar Rp. 469.760.936 dan donat hias menghasilkan laba operasi sebesar Rp.120.388.901 dengan harga pokok penjualan sebesar Rp.44.001.009 dapat disimpulkan bahwa donat regular memiliki volume penjualan yang cukup besar dibandingkan donat hias, besarnya pengaruh total biaya yang dikeluarkan selama memproduksi donat serta perhitungan harga pokok penjualan yang akan berpengaruh terhadap harga jual yang akan mempengaruhi penjualan makanan donat sehingga berdampak pada laba perusahaan. Artinya jika semakin tinggi penjualan maka semakin besar pula laba yang diperoleh, dan sebaliknya.

2. Penelitian yang dolakukan oleh Ismayeni et al., (2020) dari Universitas Muhammadiyah Riau dengan judul Analisis Penerapan Activity Based Costing Dalam Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Ud. Bersama.

Menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil penelitian analisis perhitungan

(2)

metode Activity based costing, maka dapat disimpulkan bahwa dalam perhitungan harga pokok produksi UD. Bersama masih menggunakan perhitungan sederhana, hanya melakukan perhitungan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead yang terdiri dari biaya listirik, biaya bahan penolong dan biaya bahan bakar. Adanya selisih tersebut dititik beratkan pada biaya overheadnya yang tidak dibebankan dan di rinci secara benar sehingga perhitungan biaya yang dilakukan kurang akurat dan tepat sesuai dengan teori yang ada.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi & Krismariyanti (2018) dari Universitas Telkom, dengan judul Penerapan Harga Pokok Penjualan dalam Sistem Informasi Akuntansi pada Industri Manufaktur Pakaian Jadi Menggunakan Jasa Maklon. Menyimpulkan bahwa harga pokok penjualan (HPP) dapat dipertanggung jawabkan secara akuntabilitas melalui aplikasi dan ditampilkan secara tepat waktu. Perusahaan terbantu dalam menghitung HPP, sehingga Laporan Laba Rugi yang ditampilkan merupakan kondisi fakta yang dialami perusahaan. Penelitian ini dapat dikembangkan dengan memasukkan seluruh unsur pajak dalam transaksi, yaitu pajak penghasilan masuk dan pajak keluar, serta pajak badan usaha.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Yulianeu & Rohimah (2017) dari STIMIK DCI, dengan judul Penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP) di Rumah Kelom Geulis Kayungyun Tasikmalaya dengan Metode Break event point (BEP), Dengan hasil Penelitian yang menyimpulkan bahwa dengan adanya sistem aplikasi ini, dapat membantu mengolah laporan data kelom, data biaya tetap, data biaya variable, data biaya penyusutan, data hasil

(3)

perhitungan HPP dapat terselesaikan lebih cepat. Dalam perhitungan HPP di rumah kelom kayungyun, harus memperhatikan segala biaya yang dikeluarkan dari mulai proses produksi hingga proses penjualan, yaitu biaya tetap, biaya variable, dan biaya penyusutan.

5. Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan et al., (2016) Dari Politeknik LP3I Medan, dengan judul Analisis Perhitungan HPP Menentukan Harga Penjualan Yang Terbaik Untuk UKM. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sistem yang dibuat berdasarkan metode full costing dimana dalam metode ini menghitung seluruh biaya dalam pembuatan produk. Dengan adanya sistem, penentuan harga pokok produksi menjadi stabil, tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sistem mempermudah cara kerja sehingga bermanfaatan waktu dilakukan secara efektif dan efisien.

Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari tinjauan literatur di atas adalah penelitian yang dilakukan penulis memiliki perbedaan pada objek penelitian dan dengan metode pengembangan sistem yang dipakai. Pada penelitian yang akan diteliti, penulis memilih Miss Mojito sebagai objek penelitian dengan pendekatan yang dilakukan menggunakan metode variable costing dimana metode ini sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh Miss mojito dan web engieering sebagai metode pengembangan sistem, karena selain bersifat fleksibel. Sedangkan untuk pengujian sistem, penulis menggunakan pengujian ISO 9126.

(4)

1.2 Biaya

1.2.1 Pengertian Biaya

Menurut Mulyadi (2000), biaya adalah pos-pos yang dicatat, diklasifikasikan, diringkas, dan ditampilkan dengan penetapan biaya. Dalam arti luas, biaya adalah pengorbanan sumber daya keuangan, diukur dalam istilah moneter, yang telah terjadi atau mungkin terjadi untuk tujuan tertentu. Definisi memiliki empat komponen utama:

1. Biaya adalah pengorbanan sumber daya ekonomi 2. Diukur dalam satuan moneter

3 Apa yang terjadi atau bisa terjadi 4. Pengorbanan memiliki tujuan tertentu.

1.2.2 Objek Biaya

Objek biaya adalah konsep penting. Yaitu, biaya produk, pengambilan keputusan, dan penilaian. Unit biaya produk biasanya dijelaskan dalam buku besar biaya, dan biaya produksi serta penilaian kinerja dijelaskan dalam buku besar.

Objek biaya merupakan tidak berupa apa pun yang dibebankan. Objek biaya dapat berupa produk, pelanggan, departemen, dan aktivitas Untuk mengukur kinerja dengan tepat, manajemen harus dapat memilih objek biaya yang sesuai.

Misalnya, manajemen akan mengukur departemen efisiensi maka manajemen akan memilih departemen biaya.

(5)

1.2.3 Klasifikasi Biaya

Menurut Mulyadi (2000) biaya digolongkan berdasarkan hal-hal berikut ini:

1. Penggolongan Biaya Menurut Objek Pengeluaran.

Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar”.

2. Penggolongan Biaya menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan.

Perusahaan manufaktur terdapat tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi dan umum. Dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

a. Biaya Produksi

Merupakan Biaya pengolahan bahan mentah menjadi produk yang dapat dijual. Contohnya meliputi penyusutan mesin dan peralatan, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan biaya gaji karyawan yang mengerjakan bagian yang secara langsung dan tidak langsung berhubungan dengan proses manufaktur. Biaya produksi secara kasar dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, tergantung pada tujuannya. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung juga dikenal sebagai biaya utama, dan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik sering disebut sebagai biaya konversi, yaitu biaya untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi.

(6)

b. Biaya Pemasaran

Merupakan biaya yang dikeluarkan ketika melakukan kegiatan pemasaran produk. Contohnya termasuk biaya iklan, biaya promosi, biaya pengiriman dari gudang perusahaan ke gudang pembeli, gaji karyawan bagian pemasaran, dan biaya sampel.

c. Biaya adminisrasi dan umum

Merupakan biaya koordinasi pembuatan dan pemasaran produk.

Contoh biaya ini termasuk gaji karyawan di bidang keuangan, akuntansi, personalia, hubungan masyarakat, biaya auditor akuntansi, dan biaya fotokopi. Total biaya pemasaran dan umum dan administrasi sering disebut sebagai biaya transaksi.

3. Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai. Berdasarkan hubungannya, dapat dikelompokan menjadi dua golongan:

a. Biaya Langsung (direct cost)

Biaya langsung adalah biaya yang sebenarnya dikeluarkan. Jika sesuatu yang didanai tidak ada, biaya langsung itu tidak akan terjadi. Oleh karena itu, biaya langsung akan mudah diidentikkan dengan sesuatu yang dibiayai. Biaya langsung ini meliputi biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya departemen langsung berhubungan dengan semua biaya yang terjadi di departemen tertentu.

b. Biaya Tidak Langsung (indirect cost)

Biaya tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan bukan hanya karena satu hal yang dibiayai. Biaya tidak langsung yang terkait dengan

(7)

produk dikenal sebagai biaya produksi tidak langsung atau overhead pabrik. Dalam hal suku cadang, biaya tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan dalam satu departemen, tetapi manfaat diperoleh banyak divisi. Contohnya adalah biaya yang dikeluarkan di departemen pembangkit listrik. Biaya ini dibagi di antara departemen lain di perusahaan, baik untuk biaya penerangan maupun untuk menyalakan mesin dan peralatan yang mengkonsumsi listrik. Untuk segmen pemakai tenaga listrik, biaya yang diterima dari alokasi biaya ke unit pembangkit merupakan biaya tidak langsung komponen.

4. Penggolongan Biaya Menurut Perilakunya dalam Hubungannya dengan Perubahan Volume Aktivitas. Biaya dapat digolongkan menjadi empat, yaitu sebagai berikut:

a. Biaya variabel (variable cost)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Contoh: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung.

b. Biaya semi variabel

Biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya variabel dan biaya tetap.

c. Biaya semifixed

Biaya semifixed adalah biaya tetap untuk volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

Contoh: biaya sewa gudang.

(8)

d. Biaya Tetap (fixed cost)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu.

Contoh: biaya gaji direktur produksi.

5. Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya. Biaya dapat dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:

a. Pengeluaran Modal (capital expenditures)

Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi satu tahun).

Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai kos aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati yang menikmati manfaatnya dengan cara dipresiasi, diamortisasi, atau dideplesi. Contoh pengeluaran modal untuk pembelian aktiva tetap, reparasi besar terhadap aktiva tetap, promosi besar-besaran, pengeluaran untuk riset dan pengembangan produk.

b. Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditures)

Pengeluaran pendapatan merupakan biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi. Pengeluaran pendapat ini dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya tersebut. Contoh pengeluaran pendapatan antara lain yaitu biaya iklan dan biaya tenaga kerja.

(9)

1.3 Harga Pokok Produksi

Mulyadi (2014) menulis bahwa harga pokok produksi ialah sejumlah biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual, dalam pembuatan produk terdapat dua biaya yaitu biaya produksi dan non-produksi.

Biaya produksi yaitu biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk, sedangkan biaya non-produksi yaitu biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan seperti pemasaran dan administrasi dan umum.

Harga pokok ialah faktor terpenting dalam pertimbangan untuk penentuan harga jual suatu produk. Kesalahan dalam melakukan perhitungan harga pokok produksi dapat mengakibatkan kesalahan dalam menentukan harga jual produk.

Harga jual terlalu tinggi dapat mengakibatkan produk yang ditawarkan akan sulit bersaing, sebaliknya jika harga jual produk rendah juga akan mangakibatkan laba yang diperoleh perusahaan menjadi rendah. Hal ini dapat diatasi oleh suatu perusahaan dengan penentuan harga pokok produksi dan menetukan harga jual yang tepat pada usahanya.

1.4 Harga Pokok Penjualan

Menurut Islahuzzaman (2012) Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold) adalah biaya barang dagangan yang dibeli dan dijual kembali.

Sedangkan menurut Gill & Cahtton (2008) HP. Penjualan merupakan biaya pembuatan atau pembelian produk barang jadi yang dikirim dari pemasok ke pelanggan.

Disimpulkan bahwa harga pokok penjualan penting dilakukan karena menentukan biaya yang seharusnya dikeluarkan dalam memproduksi suatu produk, sehingga bisa menetapkan harga jual produk per satuan nya (unit).

(10)

1.5 Laba

Laba didefinisikan sebagai selisih lebih pendapatan atas biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk memperoleh pendapatan tersebut. Laba atau rugi merupakan hasil perhitungan secara periodik. Laba atau rugi ini belum merupakan laba atau rugi yang sebenarnya. Laba atau rugi yang sebenarnya baru dapat diketahui apabila perusahaan menghentikan kegiatannya dan dilikuidasikan.

Perhitungan laba rugi perusahaan, dilakukan dengan membandingkan pendapatan dalam satu periode tertentu dengan biaya-biaya untuk memperoleh pendapatan tersebut. Selisih dari pendapatan dan biaya-biaya akan merupakan laba atau rugi untuk periode tersebut. Jika terjadi selisih lebih pendapatan atas biaya- biaya yang terjadi berarti perusahaan mendapatkan laba, sedangkan jika terjadi selisih kurang pendapatan atas biaya-biaya yang terjadi maka perusahaan menderita kerugian.

1.6 Break Event Point (BEP)

Menurut Lestari & Permana (2018), Titik impas yaitu titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya atau titik dimana laba sama dengan nol atau break event.

Tujuan mencari titik impas menurut (Lestari & Permana, 2018) yaitu : 1. Mencari tingkat aktivitas saat pendapatan sama dengan biaya.

2. Menunjukan sasaran jumlah penjualan minimal yang harus diraih oleh perusahaan.

3. Mengawasi kebijakan penentuan harga.

4. Memungkinkan perusahaan mengetahui apakah mereka beroperasi dekat atau jauh dari titik impas.

(11)

1.7 Variable Costing

Menurut Mulyadi (2000), Variable costing merupakan metode penentuan biaya produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi sebagai variabel ke dalam biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Dengan demikian biaya produksi menurut metode variable costing terdiri atas unsur biaya produksi berikut:

Biaya bahan baku xxx

Biaya tenaga kerja langsung xxx Biaya overhead pabrik variabel xxx Total Biaya produksi xxx

Hubungannya terhadap laba rugi perusahaan, penggunaan metode variable costing memberikan informasi perencanaan laba jangka pendek, karena informasi akuntansi yang dihasilkan lebih relavan. Dalam jangka pendek, biaya tetap tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan, sehingga hanya biaya variabel yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu metode variable costing menghasilkan laporan laba rugi yang menyajikan informasi biaya variabel terpisah dari informasi biaya tetap dapat memenuhi kebutuhan manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek.

Dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan harga pokok produksi dibutuhkan metode perhitungan tepat untuk mengetahui harga pokok produksi terlebih dahulu, metode variable costing dinilai tepat dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang ingin menentukan harga pokok produksi agar dapat memperoleh harga pokok penjualan dan harga jual yang ideal bagi perusahaan.

(12)

1.8 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan dari anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria sebagai berikut, Hamdani (2019) :

1. Kriteria usaha mikro adalah sebagai berikut :

a. kekayaan bersih > Rp 50.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

b. Memiliki hasil penjualan tahunan > Rp 300.000.000,00.

2. Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut :

a. Memiliki kekayaan Rp5 0.000.000 – Rp 500.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau

b. Hasil penjualan tahunan Rp 300.000.000 – Rp 2.500.000.000.

3. Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut :

a. Memiliki kekayaan bersih Rp 500.000.000 – Rp 1.000.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan, atau

b. Memiliki penjualan tahunan Rp 2.500.000.000 - Rp 50.000.000.000.

1.9 Web Engineering

Web engineering merupakan rekayasa web yang menyatukan rekayasa perangkat lunak dengan konsep dasar yang menekankan kegiatan teknis serta manajemen. Pengembangan sistem bertujuan menyusun sistem baru baik untuk

(13)

menggantikan sistem lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang ada, Suaidah dan Latifah (2021) .

Menurut Pressman (2010) Web engineering atau biasa disebut dengan rekayasa web merupakan suatu metode pembangunan aplikasi web berkualitas tinggi dan bersifat fleksibel. Tahapan dalam metode rekayasa web, dapat dilihat pada Gambar 2.1 dibawah ini:

Gambar 2. 1 Tahapan Web Engineering

Tahapan-tahapan rekayasa web antara lain : 1. Communication (Komunikasi)

Komunikasi yang baik dengan pengguna ialah sarana efektif dalam mengartikan kebutuhan yang pengguna inginkan (requirements).

2. Planning (Perencanaan)

Tahap penggabungan requirement (kebutuhan) dan informasi dari pegguna, berupa wawancara dan perencanaan teknis. Perencanaan teknis dilakukan dengan mengidentifikasi perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang dibutuhkan.

3. Modeling (Pemodelan)

Analysis modeling ialah merumuskan kebutuhan dari pengguna serta permasalahan apa yang ingin diselesaikan, mengamati interaksi pengguna

(14)

dengan sistem berdasarkan hak akses pengguna, juga analisis fungsional yaitu mengidentifikasi operasi-operasi apa saja yang akan dijalankan pada sistem. Modeling merupakan desain antarmuka (interface), merancang tampilan dengan perpaduan antara warna, teks, dan gambar yang sesuai dengan isi dan tujuan aplikasi web.

4. Construction (Kontruksi) a. Implementasi (Coding)

Implementasi dilakukan dengan mengaplikasikan halaman web menggunakan HTML berdasarkan hasil perancangan isi pada aktivitas pada non technical, lalu implementasi isi dan fungsi logika dibuat menggunakan PHP.

b. Pengujian ( Testing )

Dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya kesalahan dalam skrip atau form, navigasi ataupun tampilan, maupun bagian lainnya.

5. Delivery & Feedback

Serah terima dan respon dilakukan dengan membuat kuisioner yang dibagikan kepada pengguna berupa respon untuk mendapatkan penilaian setiap kriteria sebagai hasil evaluasi untuk pengembang.

Keuntungan dalam menggunakan metode web engineering yaitu:

1. Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pengguna (user) 2. Pengembangan sistem menjadi terstruktur agar sesuai perencanaan 3. Menghemat waktu pengembangan sistem

4. Mengevaluasi resiko-resiko yang terjadi

(15)

5. Merumuskan tujuan dan kapasitas dari aplikasi serta menentukan batasan sistem yang dibangun

6. Memperhitungkan estimasi biaya pembuatan aplikasi (jika diperlukan) 7. Mendefinisikan jadwal pengembangan untuk versi selanjutnya (jika

diperlukan)

1.10 Object Oriented Analysis and Design (OOAD)

Menurut Rossa & Shalahuddin (2016), Object Oriented Analysis and Design (OOAD) yaitu metode yang digunakan dalam menganalisa dan merancang sistem dengan pendekatan berorientasi objek dengan menggunakan Unified Modelling Language (UML). Objek diartikan sebagai entitas yang memiliki identitas, state, dan behaviour. Pada analisa identitas objek ini menjelaskan bagaimana pengguna dapat membedakan dari objek lain dan behavior object dapat digambarkan melalui event yang dilakukan. Pada perancangan, identitas objek dengan cara bagaimana objek lain mengenalinya sehingga dapat diakses dan behavior dengan operation yang dilakukan. Sehingga objek satu dapat mempengaruhi objek lain dengan suatu sistem.

1.11 Unified Modeling Language (UML)

Menurut Rossa & Shalahuddin (2016) Unified Modeling Language (UML) ialah salah satu bahasa yang sering digunakan untuk mendefinisikan requirement, membuat analisis & desain, dan menggambarkan arsitektur pemrograman berorientasi objek. UML merupakan bahasa visual dalam pemodelan dan komunikasi mengenai sebuah sistem dengan menggunakan Diagram dan teks-teks

(16)

pendukung. Menurut Rossa & Shalahuddin (2016), terdapat beberapa jenis Diagram UML, diantaranya :

1.11.1 Use case Diagram

Menurut Rossa & Shalahuddin (2016), Use case yaitu pemodelan sistem informasi yang akan dibuat. Use case menerjemahkan sebuah interaksi antara satu atau lebih aktor dengan sistem informasi yang ingin dibuat. Use case digunakan agar dapat mengetahui fungsi yang ada di dalam sistem informasi dan siapa saja yang berhak menggunakan fungsi-fungsinya. Simbol-simbol Diagram Use case dapat dilihat pada Tabel 2.1 sebagai berikut.

Tabel 2. 1 Simbol-simbol Use case Diagram

(17)

Sumber : (Rossa & Shalahuddin 2016) 1.11.2 Class Diagram

Menurut Rossa & Shalahuddin (2016) Class Diagram ialah gambaran struktur sistem dari segi pendefinisian kelas-kelas yang akan dibuat dalam membangun sebuah sistem. Simbol-simbol Diagram Class Diagram dapat dilihat pada Tabel 2.2 sebagai berikut:

(18)

Tabel 2. 2 Simbol-simbol Class Diagram

Sumber : (Rossa & Shalahuddin 2016)

1.11.3 Activity Diagram

Menurut Rossa & Shalahuddin (2016), Activity Diagram dapat menggambarkan aliran kerja atau aktivitas sebuah sistem atau proses bisnis yang ada di perangkat lunak. Simbol-simbol Diagram Activity Diagram dapat dilihat pada Tabel 2.3 sebagai berikut:

(19)

Tabel 2. 3 Simbol-simbol Activity Diagram

Sumber : (Rossa & Shalahuddin 2016)

1.12 ISO 9126 Testing

Menurut Roger S. Pressman (2012) , Pengujian ISO 9126 adalah standar internasional yang digunakan untuk mengecek kualitas dari perangkat lunak yang dibuat oleh International Organization for Standarization (ISO) dan International Electrotechnical Commission (IEC). Hal tersebut dapat mendefinisikan kualitas perangkat lunak, karakteristik kualitas, model, dan metrik terkait untuk mengevaluasi dan menentukan suatu kualitas dari sistem atau perangkat lunak. ISO 9126 memiliki 6 model pengujian, diantaranya yaitu functionality (fungsionalitas), reliability (kehandalan), usability (kebergunaan), efficiency (efisiensi), maintanability (pemeliharaan, dan portability (portabilitas).

Referensi

Dokumen terkait

produksi kedalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya. overhead pabrik ysng bersifat variabel maupun tetap (Mulyadi,

Perusahaan telah tepat dalam memperhitungkan unsur-unsur harga pokok produksi CPO yang terdiri dari biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead

Metode harga pokok proses biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga

Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang menghitung semua unsur biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead baik

Harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari : Biaya bahan baku Rp xx Biaya tenaga kerja langsung Rp xx Biaya overhead pabrik tetap Rp xx Biaya overhead pabrik

Metode full costing merupakan teknik penentuan harga pokok produksi dengan membebankan seluruh biaya produksi meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead

14 Rumus penentuan harga pokok produksi menggunakan metode full costing meliputi : Biaya bahan baku xxx Biaya tenaga kerja langsung xxx Biaya overhead pabrik variabel xxx Biaya

Harga pokok produksi menurut metode variabel costing terdiri dari : Biaya bahan baku xxx Biaya tenaga kerja langsung xxx Biaya overhead pabrik variabel xxx Harga pokok produksi xxx