MAKALAH
“PENELITIAN EKSPERIMEN”
DISUSUN OLEH:
DASRIANI
TAHUN 2023
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan suatu permasalahan. Fungsi penelitian adalah mencari jawaban terhadap permasalahan serta memberikan alternatif bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah. Jawaban terhadap permasalahan tersebut dapat bersifat abstrak dan umum sebagaimana halnya dalam penelitian dasar dan dapat pula sangat konkret dan spesifik.
Dalam melakukan penelitan banyak sekali pilihan metode yang dapat digunakan.
Namun, tidak semua metode cocok digunakan. Metode yang dipilih harus sesuai dengan tujuan penelitian. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian eksperimen.
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang bertujuan untuk menguji pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain atau menguji bagaimana hubungan sebab akibat antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Metode penelitian eksperimen memiliki perbedaan yang jelas dibanding dengan metode penelitian yang lainnya, yaitu adanya pengontrolan terhadap variabel penelitian dan adanya pemberian perlakuan terhadap kelompok eksperimen.
Untuk dapat melaksanakan suatu penelitian eksperimen yang baik, perlu dipahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkaitan dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan dengan jenis-jenis variabel, hakekat eksperimen, karakteristik, tujuan, syarat-syarat eksperimen, langkah-langkah penelitian eksperimen, dan bentuk-bentuk desain penelitian eksperimen. Berdasarkan latar belakang tersebut, disusunlah makalah yang berjudul “Penelitian Eksperimen”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1) Apa yang dimaksud dengan penelitian eksperimen?
2) Apa saja variabel dalam penelitian ekperimen?
3) Apa saja kategori dalam penelitian eksperimen?
4) Apa saja yang termasuk desain penelitian dalam desain pre-experimental?
5) Apa saja yang termasuk desain penelitian dalam desain true experimental?
6) Apa saya yang termasuk desain penelitian dalam desain quasi experimental?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui pengertian penelitian eksperimen.
2) Untuk mengetahui variabel dalam penelitian ekperimen.
3) Untuk mengetahui kategori dalam penelitian eksperimen.
4) Untuk mengetahui desain penelitian dalam desain pre-experimental.
5) Untuk mengetahui desain penelitian dalam desain true experimental.
6) Untuk mengetahui desain penelitian dalam desain quasi experimental.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penelitian Eksperimen
Eksperimen merupakan suatu penelitian ilmiah dimana peneliti memanipulasi dan mengontrol satu atau lebih variabel bebas dan melakukan pengamatan terhadap variabel- variabel terikat untuk menemukan variasi yang muncul bersamaan dengan manipulasi terhadap variabel bebas tersebut (Kerlinger, 1986:315). Penelitian eksperimen pada prisipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship) (Sukardi 2011:179). Penelitian Eksperimen bertujuan untuk meneliti kemungkinan sebab akibat dengan mengenakan satu atau lebih kondisi perlakuan pada satu atau lebih kelompok eksperimen dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan. Eksperimen hanya menetapkan suatu fakta yang tidak perlu diartikan lebih jauh lagi, misalnya eksperimen yang dilakukan oleh Thomas Edison untuk menemukan bola lampu.
2.2 Variabel bebas dan variabel terikat
Variabel adalah kualitas atau karakteristik dalam investigasi penelitian yang memiliki dua atau lebih nilai-nilai yang mungkin, contohnya adalah variabel dalam penelitian tentang seberapa efektif siswa belajar di kelas, yaitu metode pembelajaran, latar belakang guru, kondisi emosional, kecerdasan siswa, kepribadian, pengalaman belajar mula-mula, keterampilan membaca, dan strategi belajar. Contoh lain adalah variabel dalam penelitian seberapa baik perkecambahan biji, antara lain intensitas cahaya, kadar air, genetik, kecepatan pertumbuhan, dan jenis tanah serta pupuk yang digunakan.
Variabel bebas (independent) adalah variabel yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sesuatu yang lain, atau dapat juga diartikan sebagai variabel yang sengaja dimanipulasi oleh peneliti. Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang sifatnya potensial untuk dipengaruhi oleh variabel bebas, atau dapat juga dikatakan sebagai variabel yang tergantung pada variabel bebas. Contoh yang mudah dipahami adalah dalam bidang kedokteran. Bayangkan ketika kita ingin mengukur keefektifan dua obat berbeda yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Kita memilih 60 pria bertekanan darah tinggi sebagai sampel dan mengelompokkannya secara acak menjadi
dua kelompok. Kelompok pertama meminum satu jenis obat sedangkan kelompok kedua meminum jenis obat yang lain. Hasil pengukuran tekanan darah kemudian dibandingkan antara kedua kelompok tersebut. Pada situasi ini, kita memanipulasi jenis obat yang diminum oleh tiap orang sehingga obat tergolong variabel bebas. Tekanan darah adalah variabel yang diperkirakan terpengaruh oleh obat sehingga tekanan darah tergolong variabel terikat (Leedy & Ormrod, 2010).
2.3 Pemberian Kontrol terhadap Penelitian
Pada desain eksperimental, validitas internal bersifat penting. Tanpa validitas internal, hasil yang diperoleh peneliti tidak dapat diinterpretasikan. Bayangkanlah contoh berikut. Kita ingin melaksanakan penelitian untuk menginvestigasi efek metode pembelajaran terhadap skor tes hasil belajar sains. Kita mendapatkan dua guru kelas yang ingin berpartisipasi dalam penelitian ini. Salah seorang guru setuju untuk menggunakan metode pembelajaran baru yang sangat ingin dia gunakan, sedangkan guru yang satunya ingin tetap melanjutkan penggunaan metode pembelajaran yang selama ini sudah dia gunakan. Kedua guru ini setuju jika siswa mereka diberi tes hasil belajar sains pada akhir masa pembelajaran.
Pertanyaan yang muncul adalah sebagai berikut. Apakah dua kelas yang diajar memiliki karakteristik yang sama untuk semua aspek selain aspek metode pembelajaran yang digunakan? Jika siswa yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang baru memperoleh skor tes hasil belajar yang lebih tinggi, apakah kita dapat menyimpulkan bahwa metode tersebut yang menyebabkan skor hasil belajar tinggi?
Jawaban dari kedua pertanyaan di atas adalah tidak. Alasannya, guru yang mengajar berbeda. Guru pertama adalah wanita sedangkan guru kedua adalah pria, dan mereka tentu saja memiiki kepribadian, latar belakang pendidikan, dan gaya mengajar yang berbeda pula. Selain itu, dua kelas yang diajar mungkin juga berbeda. Bisa saja siswa yang diajar dengan metode baru memang lebih pintar atau lebih termotivasi dibandingkan siswa kelas satunya, atau bisa saja ada perbedaan hubungan interpersonal dalam tiap kelas dan perbedaan cahaya, suhu, atau tingkat kegaduhan dalam tiap kelas.
Faktor-faktor di atas boleh jadi mempengaruhi perbedaan hasil belajar siswa yang diperoleh peneliti (Leedy & Ormrod, 2010).
Kapanpun kita membandingkan dua kelompok atau lebih yang mungkin berbeda, kita pasti memiliki variabel “pengacau” (confounding variable) dalam penelitian kita.
Kehadiran variabel tersebut mempersulit kita untuk menarik kesimpulan mengenai
hubungan sebab akibat. Untuk memaksimalkan validitas internal ketika seorang peneliti ingin mengidentifikasi hubungan sebab akibat, peneliti perlu mengontrol variabel
“pengacau”. Berikut ini adalah beberapa strategi untuk melakukan kontrol.
1. Jaga beberapa hal agar tetap konstan
Ketika suatu faktor bersifat sama bagi setiap orang, faktor tersebut tidak dapat memperhitungkan berbagai perbedaan yang kita lihat. Seringkali peneliti memastikan bahwa perlakuan berbeda dikenakan dalam lingkungan yang sama atau setara. Peneliti mungkin mencari partisipan penelitian yang memiliki karakteristik tertentu yang mirip, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, atau status sosioekonomi. Kita juga perlu mencermati bahwa pembatasan sifat dasar dari suatu sampel mungkin dapat menurunkan validitas eksternal, atau penggeneralisasian, dari temuan yang diperoleh.
2. Libatkan kelompok kontrol
Peneliti biasanya melibatkan kelompok kontrol, yaitu kelompok yang tidak menerima perlakuan atau menerima perlakuan netral yang memiliki efek kecil.
Kelompok kontrol ini kemudian dibandingkan dengan kelompok eksperimental, yaitu kelompok yang menerima perlakuan. Contohnya, peneliti yang mengkaji pengaruh pengobatan arthritis terbaru mungkin memberikan dosis obat tertentu untuk beberapa partisipan, dan memberikan partisipan yang lain pil gula yang mirip dengan obat.
3. Lakukan penempatan orang secara acak dalam kelompok
Pada penelitian eksperimental, peneliti menggunakan pemilihan acak untuk menempatkan partisipan sampel ke dalam kelompok yang berbeda. Pada berbagai penelitian yang melibatkan manusia atau benda hidup yang lain, anggota dari sampel memiliki perbedaan satu sama lain yang relevan terhadap variabel yang sedang diinvestigasi. Contohnya, siswa SMA yang digunakan dalam penelitian di suatu sekolah tentunya berbeda satu sama lain dalam hal kecerdasan, motivasi, keuntungan pendidikan di rumah, dan faktor lain yang berpengaruh terhadap skor hasil belajar sains. Peneliti tentunya tidak mungkin mengontrol semua variabel tersebut dan tidak mungkin menjadikan siswa memiliki kecerdasan yang sama maupun motivasi yang sama.
Sebagai alternatif untuk menjaga beberapa karakteristik tetap sama bagi semua orang, peneliti dapat menempatkan partisipan secara acak di dalam kelompok.
Ketika seseorang telah terpilih dalam satu kelompok atau kelompok yang lain
secara acak, peneliti dapat berasumsi bahwa rata-rata, kelompok bersifat setara dan beberapa perbedaan di antara kelompok sepenuhnya adalah kebetulan belaka.
Faktanya, banyak uji statistik inferensial (khususnya uji yang memungkinkan peneliti untuk membuat perbandingan di antara dua atau lebih kelompok) yang didasarkan pada asumsi bahwa anggota kelompok ditentukan secara acak dan perbedaan sebelum perlakuan yang timbul di antara kelompok adalah hasil dari kebetulan semata.
4. Lakukan satu atau lebih pretest sebelum melaksanakan perlakuan
Terkadang penempatan secara acak dalam dua kelompok yang berbeda tidak mungkin dilakukan. Contohnya, peneliti mungkin meneliti kelompok yang sudah ada (siswa di kelas atau partisipan dalam program perawatan medis yang berbeda).
Alternatif yang dapat dilakukan adalah menilai variabel lain yang mungkin mempengaruhi variabel terikat dan menentukan apakah kelompok bersifat setara (ekuivalen) dalam hal variabel ini. Jika kelompoknya setara, berarti peneliti mengurangi atau mengeliminasi kemungkinan bahwa variabel tersebut memperhitungkan perbedaan dalam kelompok yang akan diobservasi.
Strategi lain yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi matched pairs, yaitu pasangan orang (satu dalam tiap kelompok yang dibandingkan) yang identik atau sangat setara dalam hal karakteristik yang terkait dengan penelitian. Contohnya, peneliti yang membandingkan skor hasil belajar siswa pada dua program pengajaran yang berbeda mungkin akan menemukan pasangan siswa dengan jenis kelamin dan umur sama yang memiliki skor IQ yang sama. Peneliti yang membandingkan dua perlakuan berbeda untuk penyakit tertentu mungkin mencocokkan pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, serta durasi dan intensitas penyakit. Pada kedua kasus tersebut, peneliti tidak mempelajari data yang dikumpulkan dari semua orang dalam dua kelompok, tetapi peneliti hanya mengumpulkan data dari orang yang menjadi bagian dari penelitian yang sudah diidentifikasi sebelumnya. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini di akhir laporan penelitiannya akan menjelaskan bagaimana partisipan dalam penelitian dicocokkan, misalnya peneliti dapat mengatakan bahwa pasangan dicocokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan status sosioekonomi.
Satu masalah yang timbul dari penilaian sebelum perlakuan (atau ekuivalen dengan pretes) adalah peneliti hanya mengemukakan variabel yang dinilai dan ditentukan sendiri oleh peneliti sebagai variabel yang ekuivalen antar kelompok.
Desain ini tidak menggambarkan faktor berpengaruh lain yang mungkin tidak ditentukan atau bahkan tidak dipikirkan oleh peneliti.
5. Paparkan partisipan kepada semua kondisi eksperimental
Strategi ini menjadikan setiap partisipan menerima semua perlakuan kontrol dan eksperimen, kemudian dinilai pengaruh dari tiap perlakuan tersebut secara independen. Pendekatan ini juga dikenal dengan within-subjects design atau repeated measures design. Contohnya adalah peneliti yang memberikan kuliah kepada sekelompok mahasiswa tentang American Civil War dan membagi kuliah tersebut menjadi tiga bagian, yaitu kondisi kontrol, imagery, dan attention.
Pada penelitian tersebut, peneliti memiliki tiga kelompok yang tidak ditempatkan secara acak sehingga peneliti memberikan semua intervensi (imagery, attention, dan control) pada ketiga kelompok tersebut. Terkadang peneliti menggunakan strategi yang sama dengan hanya satu kelompok, atau bahkan dengan hanya satu individu. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada desain quasi- experimental.
6. Lakukan kontrol secara statistik terhadap variabel “pengacau”
Terkadang peneliti dapat mengontrol variabel “pengacau” melalui teknik statistik. Beberapa teknik yang cocok untuk tujuan tersebut antara lain korelasi sebagian (partial correlation), analysis of covariance (ANACOVA), dan model persamaan struktural (structural equation modeling). Kita perlu menjaga pemikiran kita bahwa mengontrol variabel “pengacau” secara statistik bukanlah pengganti dari pengontrolan dalam satu desain penelitian secara penuh. Sebuah pengontrolan desain eksperimental secara hati-hati adalah satu-satunya pendekatan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan definitif tentang hubungan sebab-akibat.
2.4 Desain Pre-Experimental
Desain pre-eksperimental tidak dapat menunjukkan hubungan sebab-akibat karena: (1) variabel bebas tidak bervariasi atau (2) kelompok kontrol dan eksperimen tidak terdiri atas individu yang dipilih secara acak dan setara.Desain penelitian ini hanya membantu untuk membentuk hipotesis tentatif yang perlu diikuti oleh lebih banyak penelitian terkontrol. Dalam penelitian pre eksperimental ini, terdapat beberapa desain eksperinen yaitu :
1) Desain 1 : Study Kasus Eksperimen One-Shot (One shot experimental case study)
Desain ini mungkin adalah jenis penelitian yang paling primitif. Perlakuan eksperimental (Tx) dilakukan dan diikuti dengan pengukuran (Obs) melalui posttest untuk menentukan pengaruh dari perlakuan. Desain ini dapat digambarkan dengan tabel berikut.
Group Time
Group 1 Tx Ob
s
Gambar 1. Desain Study Kasus Eksperimen One-Shot Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental
Desain ini memiliki validitas internal yang rendah karena peneliti tidak mungkin menentukan apakah performance partisipan pada posttest adalah hasil dari perlakuan eksperimental. Banyak variabel lain yang mempengaruhi performance partisipan, misalnya kematangan psikologis, pengalaman kehidupan rumah, atau kejadian dalam kehidupan sosial. Mungkin kondisi yang diobservasi setelah perlakuan sudah ada sebelum perlakuan dilakukan. Dengan hanya satu pengukuran atau observasi, kita tidak mengetahui apakah situasinya berubah atau tidak, apakah berubahnya karena perlakuan atau bagaimana .
Desain ini mungkin menjadi akar dari banyak miskonsepsi umum. Contohnya, bayangkan seorang anak laki-laki duduk di tanah lapang yang basah pada pertengahan April. Keesokan harinya, dia menderita flu dan radang tenggorokan. Kita menyimpulkan bahwa duduk di tanah basah menyebabkan flu pada bocah tersebut. Jadi, desain pemikiran “penelitian” kita kurang lebih seperti ini: paparan terhadap dingin, tanah lembab (Tx) anak menjadi flu (Obs)
“Penelitian” seperti itu mungkin juga mendukung mitos seperti: jika kita berjalan di bawah tangga, kita akan mendapatkan kesialan; Jumat tanggal 13 adalah hari bencana, dsb. Seseorang mengamati suatu kejadian, kemudian mengamati kejadian berikutnya, dan menghubungkan keduanya sebagai sebab-akibat. Walaupun desain ini sifatnya mudah dilakukan, tetapi hasilnya tidaklah bermakna dari segi isi maupun tujuan. Oleh karena itu, peneliti seharusnya menggunakan desain yang akan dijelaskan berikutnya.
2) Desain 2 : Desain Pretest-Posttest Satu Grup (One grup pretest posttest design) Pada desain ini, suatu kelompok tunggal diberi evaluasi sebelum pelakuan, lalu diberi perlakuan eksperimental, dan terakhir dievaluasi kembali setelah perlakuan.
Desain ini dapat digambarkan dengan tabel berikut.
Group Time
Group 1 Obs Tx Obs
Gambar 2. Desain Pretest-Posttest Satu Grup Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental
Bayangkan seorang guru ingin mengetahui apakah kegiatan mendengarkan cerita melalui tape recorder dapat meningkatkan keterampilan membaca siswanya. Guru tersebut memberikan suatu pretest membaca terstandar kepada siswanya, kemudian meminta siswa mendengarkan cerita rekaman darti tape recorder setiap hari selama 8 minggu, dan diakhiri dengan memberikan tes terstandar yang sama dalam bentuk alternatifnya. Jika skor tes siswa meningkat dalam periode 8 minggu, guru tersebut dapat menyimpulkan (secara akurat atau tidak) bahwa mendengarkan cerita adalah penyebab dari peningkatan skor.
Misal, seorang ahli agronomi ingin menyilangkan dua strain jagung. Dia menemukan bahwa strain hibrid lebih tahan penyakit dibandingkan kedua tipe parentalnya. Beginilah desain penelitiannya: ahli agronomi mengukur tingkat penyakit dua strain parental (Obs), kemudian mengembangkan suatu hibrid dari dua strain parental (Tx), dan mengukur tingkat penyakit dari generasi berikutnya (Obs).
Pada desain ini, kita setidaknya mengetahui bahwa perubahan telah terjadi.
Namun, kita belum mengungkapkan penjelasan lain terkait dengan perubahan tersebut.
Pada kasus guru diatas, peningkatan skor mungkin saja terjadi karena aktivitas lain di dalam kelas, banyak berlatih dalam tes membaca, atau fakta bahwa siswanya memang sudah bertambah usia menjadi delapan minggu lebih tua sehingga lebih terampil membaca. Pada kasus ahli agronomi, perubahan curah hujan, suhu, dan kondisi tanah bisa saja menjadi alasan utama sehatnya jagung hibrid.
3) Desain 3 : Membandingkan Grup Statis (Static Group Comparison)
Desain ini melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tabel berikut membantu menjelaskan desain ini.
Group Time
Group 1 Tx Ob
s
Group 2 – Ob
s
Gambar 3. Membandingkan Grup Statis Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Kelompok eksperimen dipaparkan terhadap suatu perlakuan eksperimental sedangkan kelompok kontrol tidak. Setelah perlakuan selesai, kedua kelompok diamati dan dibandingkan. Pada desain ini, tidak ada usaha untuk memperoleh kelompok yang setara dan tidak ada usaha untuk menguji kedua kelompok untuk menentukan apakah mereka sama (setara) sebelum perlakuan. Jadi, kita tidak dapat mengetahui apakah perlakuan benar-benar menjadi penyebab dari perbedaan yang kita amati di antara kedua kelompok. Meskipun ketiga desain yang telah dideskripsikan di atas banyak dilakukan pada berbagai proyek penelitian, tetapi ketiganya meninggalkan banyak hal yang perlu dipertimbangkan, terutama dalam hal penarikan kesimpulan mengenai “apa menyebabkan apa”.
2.5 Desain True Experimental
Berbeda dengan tiga desain sebelumnya (desain 1, desain 2, dan desain 3) yang sangat sederhana terkait pre-eksperimen, desain true experimental lebih kompleks karena terdapat kontrol, sebab-akibat, dan validitas internal. Pada true experimental, terdapat 4 tipe desain penelitian yang dapat dilakukan. Keempatnya (desain 4, desain 5, desain 6, dan desain 7) memiliki persamaan yakni dilakukan secara randomisasi atau acak.
Randomisasi meminimalisir setiap perbedaan antara kelompok, sehingga apapun yang terjadi adalah sepenuhnya karena kebetulan. Tiga desain pertama dalam penelitian ini (desain 4, desain 5, dan desain 6) memiliki satu kesamaan yakni tiap kelompok mendapat perlakuan yang berbeda. Desain terakhir dalam penelitian ini (desain 7) agak berbeda yakni menyajikan perlakuan dan kontrol pada satu kelompok saja atau pada kelompok yang sama (Leedy & Ormrod, 2013:234).
1) Desain 4: Desain Kelompok Kontrol Pretes-Posttes (Pretest-Posttest Control Group Design)
Pada desain kelompok kontrol pretest-posttest, kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dipilih secara cermat melalui prosedur pengacakan yang tepat.
Kelompok eksperimen diamati, diberikan perlakuan eksperimental, dan diamati lagi.
Kelompok kontrol terisolasi dari pengaruh perlakuan eksperimental atau dengan kata lain tidak diberikan perlakuan eksperimental kemudian hanya diamati di awal dan di akhir percobaan (Leedy & Ormrod, 2013:234-235). Format dasar untuk desain kelompok kontrol pretest-posttest adalah sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar 1.
Gambar 4. Desain Kelompok Kontrol Pretes-Posttes (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:235) Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Desain ini mampu memecahkan masalah pada desai sederhana pada pra- eksperimental. Melalui desain ini, dapat (1) menentukan apakah perubahan terjadi setelah perlakuan eksperimental; dan (2) menghilangkan banyak potensi pengaruh variabel pengganggu sebagai validitas internal Dengan demikian, didapatkan dasar yang memadai untuk menarik kesimpulan tentang hubungan sebab-akibat (Leedy & Ormrod, 2013:235).
2) Desain 5: Desain Empat Kelompok Solomon (Solomon Four-Group Design) Salah satu potensi masalah dalam desain sebelumnya (desain 4) adalah bahwa proses observasi atau pengukuran yang dilakukan sebelum memberikan perlakuan eksperimental dimungkinkan mempengaruhi cara menanggapi perlakuan yang diberikan.
Misalnya, dimungkinkan pretest meningkatkan motivasi masyarakat. Artinya, pretes membuat mereka ingin mendapatkan keuntungan dari perlakuan yang mereka terima.
Pengaruh tersebut adalah contoh lain dari efek reaktivitas. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dibuktikan pretes atau pengukuran awal tidak memiliki pengaruh apapun
terhadap efek yang ditimbukan selain dari perlakuan eksperimental. Desain penelitian ini juga dapat menjadi penentu atau penguji apakah pengukuran awal dapat mempengaruhi hasil pengukuran akhir atau tidak Solomon (1949) mengembangkan desain kelompok kontrol pretes-posttes yang melibatkan empat kelompok (Leedy & Ormrod, 2013:235), seperti yang digambarkan dalam Gambar 2.
Gambar 5. Desain Empat Kelompok Solomon (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:235)
Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Penambahan dua kelompok yang tidak dipretes memberikan keuntungan yang berbeda. Jika peneliti menemukan bahwa dalam pengamatan akhir, kelompok 3 dan 4 berbeda seperti halnya yang terjadi pada kelompok 1 dan 2, maka peneliti dapat lebih mudah menggeneralisasi temuannya untuk situasi non-pretest telah diberikan. Dengan kata lain, desain empat kelompok Solomon dapat meningkatkan validitas eksternal penelitian (Leedy & Ormrod, 2013:235).
Dibandingkan dengan Desain 4, desain ini jelas melibatkan sampel yang lebih besar dan menuntut lebih banyak waktu dan energi peneliti. Nilai utamanya adalah menghilangkan pengaruh pretest seperti yang diinginkan, maka desain dapat dikatakan ideal (Leedy & Ormrod, 2013:235).
3) Desain 6: Desain Kelompok Kontrol Hanya Posttes (Posttest-Only Control Group Design)
Beberapa situasi kehidupan menentang adanya pretes. Contohnya, Badai, angin topan, atau panen tidak dapat dilakukan pretes. Selain itu, ada kalanya mungkin tidak dapat menemukan pretes yang cocok, atau pretes justru dapat mempengaruhi hasil dari perlakuan eksperimental. Dalam keadaan seperti itu, desain kelompok kontrol hanya
posttes menawarkan solusi. Desain dapat dianggap sebagai dua kelompok terakhir dari desain empat kelompok Solomon (Leedy & Ormrod, 2013:235-236). Paradigma untuk pendekatan hanya postes adalah seperti yang dideskripsikan dalam Gambar 3.
Gambar 6. Desain Kelompok Kontrol Hanya Posttes (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:236) Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Randomisasi kelompok tentu saja sangat penting dalam desain ini. Tanpa pengacakan, peneliti tidak memiliki lebih dari sebuah kelompok pembanding statis (Desain 3), sehingga peneliti akan kesulitan menarik kesimpulan tentang sebab dan akibat Melalui desain ini, dapat ditentukan pengaruh dari sebuah perlakuan ketika pengukuran awal atau pretes tidak bisa atau tidak mungkin dilakukan (Leedy & Ormrod, 2013:236).
4) Desain 7: Desain Dalam Subjek (Within-Subjects Design)
Desain ini dapat digunakan untuk membandingkan pengaruh yang relatif sama dari perlakuan yang berbedapada partisipan atau orang yang sama. Desain ini hanya dapat digunakan ketika pengaruh dari tiap perlakuan bersifat sementara dan lokal (Leedy
& Ormrod, 2013:236). Desain ini dapat di lihat pada Gambar 4.
Gambar 7. Desain Dalam Subjek (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:236) Keterangan:
Txa = Perlakuan Eksperimental a Obsa = Observasi/Pengukuran perlakuan a Txb = Perlakuan Eksperimental b Obsb = Observasi/Pengukuran perlakuan b
Idealnya, dua perlakuan yang berbeda harus diberikan berulang kali, satu demi satu, dalam urutan yang seimbang tapi agak acak. Misalnya, dalam buku yang menyajikan ilustrasi dan non-illustrasi konsep ilmu pengetahuan, kita mungkin mulai dengan konsep ilustrasi, kemudian non-illustrasi, dengan penyajian dua kondisi ini secara merata dan seimbang di dalam buku tersebut (Leedy & Ormrod, 2013:236-237).
2.6 Desain Quasi Eksperimen
Pada pembahasan sebelumnya desain true experimental, kami menekankan pentingnya randomisasi atau pengacakan, baik untuk pelihan anggota kelompok maupun pemilihan beberapa kelompok. Bagaimanapun juga, terkadang randomisasi tidak mungkin dilakukan atau tidak praktis. Dalam situasi seperti itu, peneliti sering menggunakan desain quasi eksperimen. Ketika melakukan penelitian quasi eksperimen, peneliti tidak mengontrol semua variabel pengganggu sehingga tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan beberapa penjelasan alternatif untuk hasil yang didapatkan. Peneliti harus mengambil segala variabel dan menjelaskan bahwa variabel-variabel tersebut tidak dikontrol untuk pertimbangan ketika menginterpretasikan data (Leedy & Ormrod, 2013:237).
1) Desain 8: Desain Pretes-Posttes Kelompok Kontrol Non-Acak (Nonrandomized Control Group Pretest-Posttest Design)
Kelompok desain pretes-posttes kelompok kontrol non-acak mungkin merupakan alternatif terbaik sebagai kompromi antara desain 3 dan desain 4. Pada desain pretes- posttes kelompok kontrol non-acak, serupa seperti desain 3, melibatkan dua kelompok yang tidak ditetapkan secara acak, namun juga menggabungkan observasi pra-perlakuan seperti pada desain 4 (Leedy & Ormrod, 2013:237). Singkatnya, desain pretes-posttes kelompok kontrol non-acak dapat digambarkan seperti pada Gambar 5.
Gambar 8. Desain Pretes-Posttes Kelompok Kontrol Non-Acak (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:237)
Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental
- = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Tanpa randomisasi, tentu saja tidak ada jaminan bahwa kedua kelompok memiliki keadaan awal yang sama atau setara. Namun, observasi atau pengukuran awal (misalnya, pretest) dapat mengkonfirmasi bahwa kedua kelompok setidaknya mirip dalam hal variabel dependen dalam penelitian. Setelah satu kelompok telah menerima perlakuan eksperimental, kemudian dapat ditemukan perbedaan kelompok sehubungan dengan variabel dependen, kita mungkin cukup menyimpulkan perbedaan yang diperoleh berdasarkan post-perlakuan, dimungkinkan hasil dari perlakuan itu sendiri (Leedy &
Ormrod, 2013:237).
Mengidentifikasi pasangan yang cocok dalam dua kelompok adalah salah satu cara memperkuat desain pretes-posttes kelompok kontrol non-acak. Misalnya, jika kita mempelajari efek dari program pra-sekolah tertentu pada skor IQ anak-anak, kita mungkin menemukan pasang dari tiap anak-anak yang berpasangan termasuk satu anak yang terdaftar dalam program pra-sekolah dan satunya yang tidak memiliki yang jenis kelamin, usia dan skor IQ yang sama sebelum program dimulai. Meskipun kita tidak bisa mengesampingkan penjelasan lain dalam situasi ini (misalnya, mungkin bahwa orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam program prasekolah, secara umum, lebih peduli tentang perkembangan kognitif anak-anak mereka), setidaknya kita bisa mengesampingkan beberapa penjelasan alternatif (Leedy & Ormrod, 2013:237-238).
2) Desain 9: Desain Waktu Seri Sederhana (Simple Time-Series Design)
Dalam bentuk yang paling sederhana, desain waktu seri sederhana terdiri dari membuat serangkaian pengamatan (yaitu, mengukur variabel dependen pada beberapa kesempatan), memperkenalkan intervensi atau dinamis baru lainnya ke dalam sistem, dan kemudian melakukan pengamatan tambahan. Jika perubahan substansial diamati pada seri kedua dari pengamatan dibandingkan dengan seri pertama, kita mungkin cukup menyimpulkan bahwa penyebab perubahan adalah faktor diperkenalkan ke dalam sistem (Leedy & Ormrod, 2013:238). Desain waktu seri sederhana dapat digambarkan secara ringkas dalam Gambar 6.
Gambar 9. Desain Waktu Seri Sederhana (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:238)
Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental
Pada studi tersebut, urutan pengamatan atau pengukuran yang dilakukan sebelum perlakuan biasanya disebut sebagai data dasar. Kelemahan utama dari desain ini adalah perlakuan eksperimental tidak mencerminkan sebagai faktor yang dapat memberikan pengaruh. Pengaruh yang muncul ternyata disebabkan oleh faktor lain yang bukan merupakan perlakuan eksperimental namun justru dianggap sebagai efek dari perlakuan eksperimental sehingga akan menyebabkan data yang keliru (Leedy & Ormrod, 2013:238).
3) Desain 10: Desain Waktu Seri, Kelompok Kontrol (Control Group, Time-Series Design)
Pada variasi dari desain waktu seri, dua kelompok diamati selama periode berkala, tapi satu kelompok (kontrol) saja yang tidak menerima perlakuan eksperimental (Leedy & Ormrod, 2013:238). Desain waktu seri, kelompok kontrol dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 10. Desain Waktu Seri Kelompok Kontrol (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:238) Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Desain ini memiliki validitas internal yang lebih besar dari pada desain waktu- seri sederhana (Desain 8). Jika suatu peristiwa luar adalah penyebab dari setiap perubahan yang kita amati, maka mungkin kinerja kedua kelompok akan berubah setelah perlakuan eksperimental berlangsung. Jika, sebaliknya, pengobatan eksperimental adalah faktor yang mempengaruhi kinerja, maka kita harus melihat perubahan hanya pada kelompok 1 (Leedy & Ormrod, 2013:238).
4) Desain 11: Desain Pembalikan Waktu Seri (Reversal Time-Series Design)
Desain pembalikan waktu seri menggunakan pendekatan dalam pelajaran sebagai
cara meminimalisir meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan intervensi efek luar yang mungkin membawa perubahan pada apa yang diamati. Intervensi perlakuan eksperimental kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada, dan kita mengukur variabel dependen secara berkala (Leedy & Ormrod, 2013:238). Dengan demikian, desain pembalikan waktu seri dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 11. Desain Pembalikan Waktu Seri (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:239)
Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Tx = Perlakuan Eksperimental - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
5) Desain 12: Desain Perlakuan Bergantian (Alternating Treatments Design)
Sebuah variasi pada desain perlakuan bergantian ini, melibatkan dua atau lebih bentuk yang berbeda dari perlakuan eksperimental. Mengacu pada dua bentuk yang berbeda dari perlakuan dengan notasi TXa dan TXb (Leedy & Ormrod, 2013:239). Desain ini dapat dideskripsikan seperti pada Gambar 9.
Gambar 12. Desain Perlakuan Bergantian (Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:239) Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran Txa = Perlakuan Eksperimental a Txb = Perlakuan Eksperimental b - = Tanpa Perlakuan Eksperimental
Jika perlakuan diberikan secara bergantian selama rentang waktu yang cukup lama, diharapkan untuk melihat efek yang berbeda untuk dua perlakuan yang berbeda (Leedy & Ormrod, 2013:239).
6) Desain 13: Multiple Baseline Design
Desain 11 dan 12 didasarkan pada asumsi bahwa efek dari perlakuan tunggal bersifat sementara dan terbatas pada kondisi singkat. Dengan demikian, desain ini tidak
akan bekerja jika perlakuan cenderung memiliki efek jangka panjang dan mungkin cukup umum. Selain itu, jika perlakuan eksperimental cenderung cukup menguntungkan bagi semua peserta, maka pertimbangan etis dapat mencegah kita dari kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan. Dalam hal demikian, desain dasar beberapa menyediakan alternatif yang baik. Desain ini membutuhkan setidaknya dua kelompok. Sebelum perlakuan, data dasar dikumpulkan untuk semua kelompok, dan kemudian perlakuan itu sendiri diperkenalkan pada waktu yang berbeda untuk setiap kelompok (Leedy &
Ormrod, 2013:239). Dalam bentuk yang paling sederhana, beberapa desain dasar mungkin dikonfigurasikan seperti pada Gambar 10.
Gambar 13. Multiple Baseline Design
(Sumber: Leedy & Ormrod, 2013:239)
Keterangan:
Obs = Observasi/Pengukuran
Tx = Perlakuan Eksperimental
- = Tanpa Perlakuan Eksperimental
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa :
1. Eksperimen merupakan suatu penelitian ilmiah dimana peneliti memanipulasi dan mengontrol satu atau lebih variabel bebas dan melakukan pengamatan terhadap variabel-variabel terikat untuk menemukan variasi yang muncul bersamaan dengan manipulasi terhadap variabel bebas tersebut.
2. Variabel dalam penelitian eksperimen ada tiga, yaitu variabel bebas (independent) , variabel terikat (dependent), dan variabel kontrol.
3. Ada tiga kategori penelitian eksperimental, yaitu desain pre-eksperimental, desain true experimental, dan desain quasi-experimental.
4. Desain penelitian dalam Pre-Experimental Designs ada 3, yaitu one shot experimental case study, one grup pretest posttest design, dan static group comparison.
5. Desain true experimental terdiri dari (1) pretest-posttest control group design; (2) solomon four-group design; (3) posttest-only control group design; dan (4) within- subjects design.
6. Desain quasi eksperimental terdiri dari (1) nonrandomized control group pretest- posttest design; (2) simple time-series design; (3) control group, time-series design;
(4) reversal time-series design; (5) alternating treatments design; dan (6) multiple baseline design.
3.2 Saran
Sebagai peneliti sebaiknya sebelum melakukan penelitian harus mengetahui terlebih dahulu variabel-variabel dalam penelitian nya. Selain itu juga harus mengetahui desain penelitian dari penelitian eksperimen yang hendak dilakukannya agar dalam melakukan penelitian nantinya jauh lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Kerlinger, N. 1986. Foundations of Research, Edisi ke- 3. New York : Holther.
Leedy, Paul D. And Ormord, J, E. 2010. Practical Research: Planning and Design.
9th Edition. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson, Merril Prentice Hall.
Leedy, Paul D. And Ormord, J, E. 2013. Practical Research: Planning and Design.
10th Edition. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson, Merril Prentice Hall.
Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya.
Jakarta: PT Bumi Aksara.