• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENELITIAN EKSPERIMEN

N/A
N/A
Yayah Syahriyah

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH PENELITIAN EKSPERIMEN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penelitian merupakan salah satu upaya manusia dalam memecahkan masalah yang sering timbul di sekitarnya. Seorang peneliti pada prakteknya di lapangan akan memilih salah satu metode yang dipandang paling cocok untuk penelitiannya, yaitu yang sesuai dengan data yang akan diperoleh, tujuan, dan masalah yang akan dipecahkan (efektivitas).

Pertimbangan lainnya adalah masalah efesiensi, yaitu seorang peneliti harus memperhatikan keterbatasan dana, tenaga, waktu dan kemampuan. Dengan demikian metode penelitian yang dapat menghasilkan informasi yang lengkap dan valid, dilakukan dengan cepat, sehingga dapat menghemat biaya, tenaga dan waktu. Ada banyak penelitian yang sering dipakai oleh peneliti, diantaranya penelitian eksperimen dan penelitian ex-post facto.

Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti. Penelitian eksperimen pada prinsipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship). Sedangkan penelitian ex-post facto merupakan merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel- variabel terikat dalam suatu penelitian.

Untuk dapat melaksanakan suatu penelitian yang baik, perlu dipahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkait dengan komponen-komponen penelitian. Baik yang berkaitan dengan jenis-jenis variabel, hakekat penelitian, karakteristik, tujuan, syarat- syarat penelitian, langkah-langkah penelitian dan bentuk-bentuk desain. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang penelitian eksperimen dan ex post facto.

(2)
(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian penelitian Eksperimen

Menurut Sugiyono (2006), penelitian eskperimen adalah sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.

Kemudian, W H.Wermeister (dalam “An Introduction to Critical Thinking”, Van Dallen, 1973) • Experimentation … consist in deliberate and controlled modification of the condition determining an event, and in the observation and interpretation of the ensuing changes in the event itself.

Kemudian, Moch. Ali (1993) mendefenisikan, eksperimen merupakan modifikasi kondisi yang dilakukan secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada peristiwa itu sendiri.

B. Variabel bebas dan Variabel terikat

1. Pengertian Variabel menurut para ahli

a. Bohnstedt (1982) Variabel penelitian adalah suatu karakteristik dari orang, objek, atau kejadian yang berbeda dalam nilai-nilai yang dijumpai pada orang, objek, atau kejadian itu sendiri

b. Kerlinger (1973)Variabel penelitian adalah suatu simbol yang menetapkan angka atau nilai dari suatu hal.

c. Fraenkel & Wallen (1993) Variabel penelitian adalah suatu konsep. Konsep mengenai kata benda yang berarti variasi dalam suatu kelas pada objek

d. Winarsunu (2006) Variabel penelitian diartikan sebagai suatu konsep yang mempunyai variasi atau keragaman. Sedangkan konsep itu sendiri adalah penggambaran atau abstraksi dari suatu fenomena atau gejala tertentu. Konsep tentang apapun jika memiliki ciri-ciri yang bervariasi atau beragam dapat disebut dengan variabel. Jadi, variabel adalah segala sesuatu yang bervariasi

e. Sutama (2016) Variabel penelitian merupakan konsep kata benda yang berarti variasi dalam suatu kelas objek, seperti kursi, gender, warna mata, prestasi, motivasi, atau kecepatan berlari. Selain itu, variabel penelitian juga merupakan peristiwa, kategori,

(4)

varietas, jenis, atau kelas, perilaku, atribut yang menyatakan suatu konstruk dan mempunyai nilai yang berbeda, tergantung pada bagaimana menggunakannya dalam kajian khusus

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas mengenai variabel penelitian, dapat diambil simpulan bahwa variabel penelitian adalah suatu konsep atau karakteristik mengenai objek, orang, atau fenomena yang memiliki ciri-ciri dan bervariasi yang digunakan untuk penelitian.

Menurut Sugiyono, variabel penelitian pada dasarnya adalah suatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Kelinger menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari, sehingga merupakan representasi konkrit dari konsep abstrak. Sebagai contoh tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosisal, jenis kelamin, golongan gaji, produktivitas kerja dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutnya Keddles dalam Surahman menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.

Secara teoritis, variabel didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau subyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan orang yang lain atau satu objek dengan objek lain. Bervariasi berarti pada veriabel tersebut mempunyai nilai, skor, ukuran yang berbeda.

Dengan demikian, penekanan pada variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Untuk menentukan variabel yang baik ditentukan oleh lanadasan teoritis, ditegaskan oleh hipotesis dan tergantung dari rumit dan sederhana rancangan penelitian. JadI, jika peneliti akan memilih variabel penelitian, baik yang dimiliki orang, objek maupun bidang kegiatan dan keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya.

Untuk dapat bervariasi, maka penelitian haus didasarkan pada sekelompok sumber data atau objek yang bervariasi.

2. Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen, sering disebut juga sebagai variabel bebas, variabel yang mempengaruhi. Variabel bebas juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi atau nilai yang jika

(5)

muncul maka akan memunculkan (mengubah) kondisi atau nilai yang lain. Menurut Tritjahjo Danny Soesilo, variabel Independen merupakan variabel yang dapat mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).Dapat disimpulkan bahwa variabel bebas (independent variable), adalah variabel yang menjadi penyebab atau memiliki kemungkinan teoritis berdampak pada variabel lain. Variabel bebas umumnya dilambangkan dengan huruf X. Dengan demikian, jika ditinjau keberadaannya, variabel bebas pada umumnya terlebih dahulu muncul (ada), dan akan diikuti variabel yang lainnya. Dalam rangkaian kegiatan ilmiah, peneliti dalam menentukan variabel bebas tidak boleh secara sembarangan. Variabel bebas bukanlah suatu kondisi yang terlepas sama sekali dengan keberadaan variabel terikat.

Dengan demikian, keberadaan variabel bebas pada umumnya terkait atau ada hubungannya dengan keberadaan variabel terikat. Berikut ini adalah ciri-ciri variabel independen:

a. Variabel yang menentukan variabel.

b. Kegiatan stimulus yang dilakukan peneliti menciptakan suatu dampak pada variabel dependen.

c. Biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk diketahui hubungannya.

Dalam penelitian pendidikan, beberapa wujud penelitiannya adalah berupa penelitian eksperimen, dan penelitian tindakan. Dalam penelitian eksperimen maupun penelitian tindakan, variabel bebas merupakan variabel yang dimanipulir (dirancang dan diimplementasikan) oleh peneliti. Pada umumnya variabel bebas dalam penelitian eksperimen maupun tindakan tersebut berupa treatment (perlakuan) yang akan dikenakan pada subjek penelitian untuk dinilai dampaknya (hasil perubahannya). Dalam menentukan variabel bebas, peneliti perlu melandaskan teori yang kuat. Selain itu, peneliti perlu mengkaji teori-teori yang menguraikan keterkaitan antara keberadaan variabel bebas dengan variabel terikat. Oleh karena itu, peneliti perlu mengkaji dan memilih teori manakah di antaranya yang menjamin kuatnya keterkaitan keberadaan di antara kedua variabel tersebut. Dengan adanya alasan yang kuat (tepat) di atas maka peneliti dapat menentukan penggunaan variabel bebas dalam penelitian eksperimen. Misalnya: Pengaruh motivasi belajar (X) terhadap prestasi belajar (Y).

3. Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang secara struktur berpikir keilmuan menjadi variabel yang disebabkan oleh adanya perubahan variabel lainnya. Variabel tak bebas ini menjadi primaryinterest to the researcher atau persoalan pokok bagi si peneliti, yang

(6)

selanjutnya menjadi objek penelitian. Dengan demikian, variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.

Sehinggavariabel ini merupakan variabel terikat yang besarannya tergantung dari besaran variabel indpenden ini, akan memberi peluang terhadap perubahan variabel dependen (terikat) sebesar koefisien (besaran) perubahan dalam variabel independen. Artinya, setiap terjadi perubahan sekian kali satuan varibel dependen, diharap akan menyebabkan variabel dependen berubah sekian satuan juga. Sebalikanya jika terjadi diharapkan akan menyebabkan perubahan (penurunan) variabel dependen sekian satuan juga. Dengan demikian variabel dependen mempunya ciri: Variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain Asepek tingkah laku yang diamati dari suatu organiseme yang dikenai stimulus Faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel bebas. Sebagai contoh: Pengaruh Teknik Pembelajaran Tri Fokus Steve Synder (TFSS) (X) Terhadap Kemampuan Membaca Cepat Siswa (Y).

4. Hubungan antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat

Machfoedz (2007:29) dikutip dari statistikian.com, memaparkan bahwa ada tiga jenis hubungan antarvariabel penelitian,yaitu, hubungan asimetris, simetris, dan timbal balik

a. Hubungan Asimetris Hubungan asimetris antarvariabel penelitian adalah hubungan antara satu variabel dengan beberapa variabel bebas atau dengan variabel terikat.

Ada 2 jenis hubungan asimetris, yaitu sebagai berikut.

1) Hubungan variabel bivariat adalah hubungan antar dua variabel. Contohnya adalah

“Hubungan antara Kecerdasan Intelektual dengan Prestasi Belajar Siswa”.

Kecerdasan Intelektual adalah variabel bebas (X) dan prestasi belajar adalah variabel terikat (Y).

2) Hubungan variabel multivariat adalah hubungan antara tiga variabel atau lebih.

Contohnya adalah “Hubungan antara Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar”. Variabel bebasnya adalah kecerdasan intelektual (X1), kecerdasan emosional (X2), dan motivasi belajar (X3), sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar (Y).

b. Hubungan Simetris, Hubungan variabel simetris adalah hubungan yang terjadi antara dua variabel, namun variabel satu tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. Dapat dikatakan bahwa salah satu variabel tidak terpengaruh oleh

(7)

variabel lain. Contohnya adalah variabel tinggi badan (Y1) dan variabel berat badan (Y2) merupakan variabel terikat yang dipengaruhi oleh variable pertumbuhan (X). Kedua variabel terikat tersebut berhubungan, akan tetapi satu variabel tidak bisa dipengaruhi oleh variabel lain.

c. Hubungan Timbal balik, Hubungan variabel timbal balik adalah hubungan yang terjadi ketika salah satu variabel mempengaruhi variabel lainnya, dan sebaliknya. Contohnya adalah variabel rasa percaya diri (X) mempengaruhi prestasi belajar (Y), dan sebaliknya prestasi belajar (Y) juga mempengaruhi rasa percaya diri (X).

C.

Variabel kontrol/Pengendalian

1. Pengertian variabel kontrol

Variabel kontrol menurut Sugiyono (2017) adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga variabel independen terhadap variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Umumnya, jenis penelitian ini lebih sering digunakan untuk mengontrol perusahaan, leverage, dan profitabilitas. Sementara menurut Becker dkk (2016) variabel kontrol lebih sering dilihat sebagai masalah. Dimana variabel kontrol ini menciptakan kesan terjadi ketidaksesuaian hubungan antara yang dihipotesiskan terhadap topik yang hendak diteliti. Maka dari Becker dkk pun akhirnya merekomendasikan untuk memasukan variabel kontrol dalam hipotesis di dalam analisis.

2. Ciri ciri variabel kontrol

a. Sebagai Variabel terkendali , Variabel kontrol lebih familiar disebut dengan variabel kendali. Karena fungsinya memang untuk mengendalikan variabel-variabel yang lain. Selain itu, variabel terkendali disebut juga dengan variabel yang dinetralisir.

b. Untuk Membandingkan, Disadari atau tidak, variabel kontrol juga sering digunakan untuk membandingkan. Terutama dalam penelitian eksperimental, maka variabel kontrol lebih sering digunakan untuk melakukan pembandingan dengan sampel yang tengah diangkat oleh peneliti.

(8)

c. Meningkatkan Presisi dari Estimasi Koefisien, Ternyata variabel kontrol dapat meningkatkan presisi dari estimasi koefisien. Sebenarnya hal ini dikarenakan pengaruh dari keputusan atau penentu hipotesis penelitian yang diangkat oleh peneliti.

(9)

d. Variabel Kontrol Tidak Dapat Hilang Begitu Saja. Adapun ciri dari variabel kontrol, yaitu variabel kontrol yang dilakukan pengukuran tidak dapat dihilangkan, namun juga tidak dapat sepenuhnya dihapus dari koefisien. Menurut Homburg dkk (2012c) diperlukan penelitian standar tinggi yang sama untuk bisa mengukur variabel kontrol yang mirip dengan menggunakan pretesting, skala multi-item, dan informan.

e. Variabel Kontrol dalam Diskusi dan interpretasi. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan.

Maka peneliti dapat melaporkan efek variabel kontrol dari variabel dependen.

Umumnya, banyak peneliti yang mengabaikan hal ini. Nah, dalam interpretasi diskusi, peneliti perlu mempertimbangkan apakah kesimpulan kausal sesuai dengan hasil data dan variabel yang diperoleh di lapangan.

f. Pengukuran Variabel Terkendali . Ternyata, variabel terkendali atau variabel kontrol dapat digunakan sebagai pengukuran yang andal dan valid. Dan ini dibenarkan oleh Homburg dan Giering (1996). Jadi, variabel kontrol sudah tidak diragukan lagi.

g. Meningkatkan Interpretasi Kausal . Jika kita melihat contoh variabel kontrol yang dipublikasikan di internet, di sana kita bisa temukan bahwa variabel kontrol dapat membantu dalam meningkatkan interpretasi kausal dari estimasi koefisien. Menurut Edwards dan Bagozzi (2000) terdapat empat sitesis literature yang mempengaruhi kriteria interpretasi kausal yang sedang diamati. Keempat sintesis literature tersebut meliputi sebab dan akibat harus fenomena yang berbeda, sebab harus mendahului efek dalam waktu, sebab dan akibat harus dikaitkan dan penjelasan sebab akibat alternatif dari hubungan yang diamati harus dikesampingkan.

h. Tidak Dalam Bentuk Eksplisit. Jadi variabel kontrol dalam sebuah penelitian tidak selalu ditunjukan secara eksplisit. Namun khusus penelitian yang bersifat eksperimental, maka variabel kontrol sangat penting dan mendasar. Hal ini disebabkan karena variabel kontrol dalam penelitian eksperimental bertanggungjawab untuk mengurai kerumitan yang kompleks dalam penelitian yang tengah diangkat.

i. Bersifat konstans. Jadi variabel kontrol adalah variabel yang tidak bisa diubah-ubah.

Hal ini karena variabel kontrol sebagai elemen yang tidak mengalami perubahan selama percobaan. Dengan kata lain, variabel kontrol sebagai variabel stimulus yang memudahkan peneliti untuk memahami variabel yang dilakukan pengujian. Saat variabel yang lain dapat diberi perlakuan khusus, maka fungsi variabel kontrol berdiri sendiri, sebagai alat ukur. Tanpa variabel kontrol, maka susah mengukur variabel yang diberi perlakuan tersebut.

D.

Rancangan Pra Eksperimen

(10)

Penelitian pre-eksperimen atau pre-experimental designs merupakan rancangan penelitian yang belum dikategorikan sebagai eskperimen sungguhan. Hal tersebut karena pada rancangan ini belum dilakukan pengambilan sampel secara acak atau random serta tidak dilakukan kontrol yang cukup terhadap variabel penganggu yang dapat mempengaruhi variabel terikat. Terdapat beberapa jenis penelitian pre-eksperimen diantaranya: One-Shot Case Study, One Group Pretest-Postest, Intact-Group Comparison. Ketiga rancangan pre- eksperimen menggunakan cara yang berbeda-beda, akan tetapi setiap rancangan diberikan perlakuan atau treatment. Perbedaannya terletak pada penggunaan pretest dalam rancangan (Yusuf, 2014).

1. One-Shot Case Study

Perlakuan diberikan pada suatu kelompok, sehigga tidak ada kelompok kontrol sebagai bandingan dari kelompok eksperimen. Perlakuan diberikan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya dengan melaksanakan posttest (perlakukan adalah variabel bebas dan hasilnya adalah variabel terikat).

2. One Group Pretest-Posttest

Peneliti sebelumnya memberikan pre-test kepada kelompok yang akan diberikan perlakukan. Kemudian peneliti melakukan perlakuan atau treatment. Setelah selesai perlakuan, peneliti memberikan post-test. Besarnya pengaruh perlakuan dapat diketahui secara lebih akurat dengan cara membandingkan antara hasil pre-test dengan post-test.

3. Intact-Group Comparison

Ada satu kelompok yang diteliti, tetapi kelompok tersebut kemudian dibagi menjadi dua.

Setengah kelompok pertama disebut kelas eksperimen karena menerima perlakuan, sedangkan setengah kelompok selanjutnya disebut kelas kontrol karena tidak diberikan perlakuan.

(11)

E.

Rancangan TrueExperiment dan QuasiExperiment

1. True Experiment (Penelitian Sesungguhnya)

Disebut sebagai true experiments karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen, sehingga validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) menjadi tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan dari true experiments menurut Suryabrata (2011) adalah untuk menyelidiki hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan perlakuan dan membandingkan hasilnya dengann grup kontrol yang tidak diberi perlakuan. Berikut adalah beberapa desain penelitian eksperimen sesungguhnya yang biasa digunakan dalam bidang pendidikan menurut Wiersma (1986), antara lain Posttest-Only Control Group Design ( Desain dengan kelompok kontrol tanpa Pretest); Pretest-Posttest Control Group Design ( Desain Pretes-Postest menggunakan Kelompok Kontrol dengan Penugasan Random); dan Solomon Four-Group Design (Desain Solomon).

a. Posttest-Only Control Group Design, Randomisasi dan perbandingan kedua kelompok kontrol dan kelompok eksperimen digunakan dalam jenis desain ini. Setiap kelompok yang dipilih dan ditempatkan secara random diberikan perlakuan atau beberapa jenis kontrol. Postest kemudian diberikan pada setiap subjek untuk menentukan jika ada perbedaan antara kedua kelompok. Sementara desain ini mendekati metode yang paling baik, karena sedikit kelemahan yaitu pada pengukuran pre-test. Sulit menentukan jika perbedaan pada akhir studi merupakan perbedaan aktual dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi. Dengan kata lain, randomisasi baik untuk mencampur subjek, tetapi tidak dapat menjamin bahwa percampuran ini benar-benar menciptakan kesamaan antara kedua kelompok (Emzir, 2015).

b. Pretest-Posttest Control Group Design, Desain penelitian ini merupakan desain penelitian yang cukup banyak dilakukan dalam penelitian eksperimen sesungguhnya.

Desain eksperimen ini menggunakan kelompok pembanding. Antara kelompok eksperimen dan kelompok pembanding dilakukan secara acak dengan prinsip random assignment. Dalam desain ini dapat dipahami, bahwa peneliti melakukan uji atau pengukuran terlebih dahulu sebelum melakukan perlakuan (pre-test) dan setelah perlakuan (post-test). Hasil pretest yang baik adalah jika nilai grup eksperimen tidak berbeda secara signifikan.

c. Solomon Four-Group Design, Desain ini berusaha untuk mengatasi pengaruh tes awal.

Penempatan subyek dalam setiap kelmpok subyek dilakukan secara acak. Dua kelompok

(12)

diberikan tes awal dan dua kelompok lainnya tidak. Satu kelompok yang diberi tes aawal dan satu kelompok lainnya yang tidak diberi tes awal dijadikan sebagai kelompok eksperimen. Sedangkan dua kelompok lainnya dijadikan sebagai kelompok kontrol.

2. Quasi Experiment

Stouffer (1950) dan Campbell (1957) merumuskankan eksperimen kuasi (quasiexperiment) sebagai eksperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen, namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan pembandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan. Proses perbandingan tergantung kepada kelompok pembanding tak setara yang berbeda dalam banyak hal dan bukan karena adanya perlakuan. Tugas peneliti dalam menafsirkan hasil rancangan eksperimen kuasi adalah memisahkan efek perlakuan dari efek yang disebabkan ketidaksetaraan awal diantara unit-unit didalam masing-masing kelompok perlakuan.

Perhatian utama penelitian hanya pada efek perlakuan. Untuk memperoleh pemisahan efek ini, peneliti harus menyatakan ancaman khusus terhadap validitas kesimpulan yang ditiadakankan oleh penugasan acak dan peneliti harus berusaha memecahkan permasalahan ini. Eksperimen kuasi perlu secara eksplisit menyatakan faktor-faktor kausal tak relevan yang ”tersembunyi” didalam ceteris paribus penugasan acak. Tipe eksperimen kuasi secara tradisional dibagi menjadi beberapa yaitu:

a. Nonequivalent Control Group Design, Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan terakhir diberikan postes

b. Time Series Design. Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-

(13)

beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten.

Setelah kestabilan keadaan kelompok dapay diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.

c. Conterbalanced Design. Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara random.

d. Factorial Design. Desain Faktorial selalu melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-kurangnya satu yang dimanipulasi). Desain faktorial secara mendasar menghasilkan ketelitian desain true-eksperimental dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau lebih variabel, secara individual dan dalam interaksi satu sama lain.

Tujuan dari desain ini adalah untuk menentukan apakah efek suatu variabel eksperimental dapat digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol atau apakah efek suatu variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari variabel kontrol, selain itu juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang tidak dapat dilakukan oleh desain eksperimental variabel tunggal.

F.

Rancangan Ex Post facto

Istilah ex-post facto menunjukkan bahwa perubahan variabel bebas itu telah terjadi, peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan sebab dari akibat yang sedang diamati. Karena tidak adanya pengendalian, maka dalam penelitian ex-post facto, lebih sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa variabel bebas (X) benar-benar ada hubungannya dengan variabel terikat (Y).

Penelitian ex-post facto merupakan metode yang banyak dipakai dalam situasi yang dihadapi oleh banyak penelitian pendidikan. Penelitian ini tetap merupakan metode yang berguna yang dapat memberikan banyak informasi berharga bagi pengambilan keputusan di bidang pendidikan. Penelitian ex-post facto dimulai dengan melukiskan keadan sekarang yang dianggap sebagai akibat dari faktor-faktor yang terjadi sebelumnya, kemudian mencoba menyelidiki ke belakang guna menetapkan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab dan sudah beroperasi masa lalu. Penelitian ex-post facto mirip dengan dengan penelitian eksperimen, hanya pada penelitian ex-post facto tidak ada pengontrolan variabel, variabel bebas tidak dimanipulasi, dan tidak ada perlakuan. Penelitian ex-post facto dapat dilakukan dengan baik bilamana menggunakan kelompok pembanding. Kelompok pembanding dipilih yang memiliki karakteristik yang sama tetapi mengalami kegiatan yang berbeda.

(14)

Definisi ex post facto adalah sesudah fakta, yaitu penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Penelitian ex post facto bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas secara keseluruhan sudah terjadi.

Sebagai contoh, pengaruh peredaran minuman keras terhadap tingkat kenakalan remaja.

Dalam hal ini peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen karena ia tidak mungkin memanipulasi kondisi subjek (membuat agar para pedagang warung kelontong menjual minuman keras) kemudian mengukur tingkat kenakalan remaja. Meskipun demikian, pengaruh tersebut dapat diuji dengan cara membandingkan tingkat kenakalan remaja di daerah yang peredaran minuman keras dibatasi dengan daerah yang peredaran minuman keras dibebaskan. Penelitian ex post facto dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Causal research (penelitian korelasi) adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para peneliti yang hendak menggunakannya, yaitu: (a) Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan penelitian tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen; (b) Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata; dan (c) Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.

2. Causal compararative research (penelitian kausal komparatif) adalah pendekatan dasar kausal komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dengan mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya, kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya. Atau dengan kata lain dalam penelitian kausal komparatif peneliti berusaha mencermati pertanyaan penelitian what is the effect of X?

(15)

BAB III KESIMPULAN

Variabel penelitian adalah suatu konsep atau karakteristik mengenai objek, orang, atau fenomena yang memiliki ciri-ciri dan bervariasi yang digunakan untuk penelitian Variabel bebas juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi atau nilai yang jika muncul maka akan memunculkan (mengubah) kondisi atau nilai yang lain. Sedangkan Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang secara struktur berpikir keilmuan menjadi variabel yang disebabkan oleh adanya perubahan variabel lainnya. Variabel tak bebas ini menjadi primaryinterest to the researcher atau persoalan pokok bagi si peneliti, yang selanjutnya menjadi objek penelitian. Dan yang terakhir adalah variabel kontrol, variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga variabel independen terhadap variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.

Penelitian pre-eksperimen atau pre-experimental designs merupakan rancangan penelitian yang belum dikategorikan sebagai eskperimen sungguhan. Terdapat beberapa jenis penelitian pre-eksperimen diantaranya: One-Shot Case Study, One Group Pretest-Postest, Intact-Group Comparison.

Disebut sebagai true experiments karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen, sehingga validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) menjadi tinggi. Berikut adalah beberapa desain penelitian eksperimen Posttest-Only Control Group Design ( Desain dengan kelompok kontrol tanpa Pretest); Pretest-Posttest Control Group Design ( Desain Pretes-Postest menggunakan Kelompok Kontrol dengan Penugasan Random); dan Solomon Four-Group Design (Desain Solomon).

Sedangkan Rancangan ex-post facto menunjukkan bahwa perubahan variabel bebas itu telah terjadi, peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan sebab dari akibat yang sedang diamati. Karena tidak adanya pengendalian, maka dalam penelitian ex- post facto, lebih sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa variabel bebas (X) benar-benar ada hubungannya dengan variabel terikat (Y).

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Ary, Donald et al, 2010, Introduction to Research in Education 8th edition, Wardswoth Cengage Learning Azam, Prof. Nurfani SU, Apt, DR. Sumarno & DR Adi Rahmat, 2006, Metodologi Penelitian Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Penelitian Kuasi Eksperimen dalam PPKP, Direktorat Ketenagaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Azam, Sumarno & Rahmat. 2006. Konsep Penelitian Ex-Post Facto. JURNAL PENDIDIKKAN MATEMATIKA, VOLUME 1 NOMOR 2, JULI 2010 Caporaso, 1973:31-38 Cook & Campbell, 1979

Emzir. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta : Rajawali Pers.

Solso, R. L MacLin, M. K, O. H. (2005). Cognitive Psychologi. New York. Pearson.

Sugiartini, G. A. (2015). Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Gambar terhadap Motivasi dan Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas VI SLB Negeri Gianyar. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 1-10.

Sugiyono, Dr. 2010. Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Penerbit Alfabeta.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R& D. Bandung: CV. Alfabeta.

Suryabrata, Sumadi. 2011. Metode Penelitian. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada.

Suryana, H. M. (2015, Februari 5). Skripsi: IAIN Tulungagung Institutional Repository. Retrieved from IAIN Tulungagung Institutional Repository website:

ht

t p: / /r e po.iai n - tu l ung a gung. ac .id / 1066/

Wiersma, William. 1986. Research Methods in Education an Introduction Fourth Edition.

Yusuf, A. M. (2014). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Jakarta: Prenadamedia Group.

(17)

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui efek ekstrak etanol biji semangka dalam proses penyembuhan luka.. Menggunakan desain penelitian eksperimental sungguhan,

• Desain penelitian ini biasanya digunakan untuk menentukan urutan/sekuen yang tepat dari beberapa perlakuan. • Sebagai contoh, Anda ingin merancang sebuah pelatihan bagi

antara variabel-variabel yang diteliti hipotesis eksperimental Prediksi mengenai efek dari antecendent terhadap perilaku..

Menurut Heryadi (2014: 125), “Variabel bebas adalah variabel predictor adalah variabel yang diduga memberi efek terhadap variabel lain. Sedangkan variabel terikat

Metode penelitian merupakan Penelitian eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap, dengan variabel bebas adalah bagian tanaman seledri (daun, batang dan bunga), sedangkan

Penelitian eksperimen adalah penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dengan kontrol yang ketat (Sedarmayanti dan

Penelitian/ metode eksperimental • Penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dengan kontrol yang ketat... Penelitian eksploratif •

The document discusses the characteristics and purpose of experimental research, highlighting the importance of objectivity and systematic methods in scientific