PROPOSAL
ANALISIS RANCANGAN CAMPURAN
AGREGAT KELAS ”A” PEKERJAAN
PERKERASAN JALAN SEI SITOLANG – SIALANG RINDANG
Di Susun Dalam Rangka Memenuhi Syarat Lulus Program Strata-1
Pada Program Studi Teknik Sipil Jalur RPL Universitas Pasir Pengaraian
Disusun Oleh : Randa Sepriyaldi
Nim:2413055
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN
2025
ii
LEMBARAN PENGESAHAN
JUDUL : ANALISIS RANCANGAN CAMPURAN AGREGAT ”A”PEKERJAAN PERKERASAN JALAN SEI SITOLANG – SIALANG RINDANG
NAMA : RANDA SEPRIYALDI NIM : 2413055
PROGRAM STUDI : TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS : PASIR PENGARAIAN
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
Diketahui
KAPRODI DEKAN
iii DAFTAR ISI
LEMBARAN PENGESAHAN ... ii
BAB I ... 4
Pendahuluan ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
BAB II ... 7
TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1. Struktur Perkerasan Jalan Lentur (Flexibel Pavement) ... 7
BAB III ... 11
MITODE PENELITIAN ... 11
3.1 Alat-Alat dan Bahan Penelitian ... 12
3.2. Metode Penelitian ... 13
3.2.1 Pengujian bahan penyusun dilaboratorium ... 13
3.2.2 Desain KAO ... 14
DAFTAR PUSTAKA ... 16
BAB I
Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Jalan merupakan infrastruktur penting yang menunjang mobilitas masyarakat dan distribusi barang. kualitas perkerasan jalan sangat dipengaruhi oleh material yang digunakan, termasuk agregat sebagai komponen utama. agregat kelas a adalah salah satu material yang sering digunakan untuk lapisan pondasi jalan, karena memenuhi kriteria teknis seperti gradasi, kekerasan, dan daya tahan terhadap abrasi. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah pengaruh agregat kelas A terhadap kualitas jalan, termasuk daya tahan terhadap beban dinamis dan kondisi lingkungan. kondisi perkerasan jalan akhir-akhir ini sangat memprihatinkan, jangankan untuk mencapai umur rencana, baru beberapa tahun saja direnovasi, kerusakan jalan telah terjadi lagi. faktor-faktor penyebab kerusakan pada lapisan perkerasan konstruksi jalan pada umumnya dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: perencanaan yang kurang tepat, penggunaan material bahan jalan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, kondisi tanah dasar yang tidak stabil, bangunan pelengkap yang kurang baik seperti kemiringan bahu jalan yang tidak sesuai.
Ruas jalan sie tolang–sialang rindang merupakan bagian dari jaringan jalan strategis yang berada di wilayah Kabupaten Rokan Hulu, provinsi riau. jalan ini memiliki fungsi penting dalam menunjang kelancaran arus transportasi antarwilayah serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya dalam distribusi hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. kondisi eksisting jalan yang sebagian besar masih berupa perkerasan lama yang sudah rusak, menyebabkan perlunya dilakukan peningkatan struktur...
Pekerjaan konstruksi pada ruas jalan ini meliputi pembangunan dan peningkatan struktur jalan, termasuk lapis pondasi agregat kelas A. fungsi utama
5
dari lapis pondasi ini adalah untuk menahan beban lalu lintas serta mendistribusikan beban ke lapisan tanah dasar secara merata.
Agregat kasar (batu pecah 1–2 dan medium)
Material ini diperoleh dari quarry pt xyz yang berlokasi di kecamatan tambusai, kabupaten rokan hulu. agregat kasar ini digunakan sebagai komponen utama dalam lapis pondasi agregat kelas a karena memiliki ketahanan mekanis dan ukuran butiran yang sesuai standar.
Agregat halus (pasir saring)
Berasal dari endapan sungai lokal yang telah melalui proses pencucian untuk menurunkan kadar lumpur dan bahan organik. pasir ini berfungsi sebagai pengisi celah antar butiran agregat kasar dan membantu mencapai gradasi yang diinginkan.
filler (abu batu atau semen)
Diperoleh dari hasil pemecahan batu di quarry atau dipasok dalam bentuk semen portland sebagai bahan alternatif. filler digunakan untuk mengisi rongga mikro antar agregat agar campuran menjadi lebih padat dan stabil.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, rumusan masalah dalam penelitian Ini Adalah:
1. Bagaimana karakteristik bahan penyusun campuran agregat Kelas A pada perkerjaan perkerasan jalan Sei Sitolang- Sialang Rindang?
2. Berapa komposisi penggunaan agregat kasar, agregat halus dan filler campuran agregat Kelas A pada perkerjaan perkerasan jalan Sei Sitolang- Sialang Rindang?
3. Berapa nilai CBR desain campuran agregat Kelas A pada perkerjaan perkerasan jalan Sei Sitolang- Sialang Rindang?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
6
1. Memperoleh sifat sifat teknis bahan penyusun campuran agregat kelas A pada perkerjaan perkerasan jalan Sei Sitolang- Sialang Rindang?
2. Mendapatkan komposisi campuran agregat kelas A pada perkerjaan perkerasan jalan Sei Sitolang- Sialang Rindang?
3. Memperoleh nilai CBR desain lapis pondasi agregat kelas A pada perkerjaan perkerasan jalan Sei Sitolang- Sialang Rindan
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Struktur Perkerasan Jalan Lentur (Flexibel Pavement)
Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) Menurut Sukirman (1999) Perkerasan Lentur (flexible pavement) merupakan perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikatnya. Pada konstruksi perkerasan lentur ini terdapat lapisan–lapisan yang bersifat menerima dan menyebarkan beban lalu lintas dari permukaan sampai ke tanah dasar.
Menurut Manual Desain Perkerasan Jalan No. 02/M/BM/2017, tipikal struktur perkerasan lentur yang digunakan dalam mendesain struktur perkerasan lentur baru adalah sebagai berikut:
1. Struktur perkerasan lentur pada permukaan tanah asli.
2. Struktur perkerasan lentur pada timbunan.
3. Struktur perkerasan lentur pada galian.
2.2. Sub Grade
Tanah Dasar (Subgrade) Tanah dasar merupakan tanah yang berada pada lapisan paling bawah yang perkerasan yang digunakan untuk menahan beban yang berada diatasnya. Pada lapisan tanah dasar dapat berasal dari tanah galian, urugan atau tanah asli. Untuk perkuatan dari tanah dasar sesuai dengan sifat tanah dan daya dukung tanah tersebut. Untuk tanah asli dalam kondisi baik bisa untuk dipadatkan, sedangkan untuk tanah urugan atau timbunan perlu di stabilisasi terlebih dahulu menggunakan semen atau kapur lalu dipadatkan. Tanah dasar atau subgrade sering mengalami deformasi permanen, kembang susut, daya dukung yang tidak merata, maka di tanah dasar diperlukan pemadatan untuk mengurangi hal tersebut. Karena daya dukung pada tanah dasar akan berfungsi
8
sebagai tempat perletakan lapisan mempengaruhi kualitas lapisan lainnya (Friska Desi Afrida R dan um Harnaeni, 2023)
2.3. Lapis Pondasi Bawah
Lapis pondasi bawah (sub base) adalah suatu lapisan perkerasan jalan yang terletak antara lapis tanah dasar dan lapis pondasi atas (base), yang berfungsi sebagai bagian perkerasan yang meneruskan beban di atasnya, dan selanjutnya menyebarkan tegangan yang terjadi ke lapis tanah dasar. Lapis pondasi bawah dibuat di atas tanah dasar yang berfungsi diantaranya sebagai :
1. Menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
2. Efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah lebih murah dari pada lapisan di atasnya.
3. Lapisan peresapan agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
4. Lapisan partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapisan pondasi atas Lapis Pondasi Bawah (LPB) Kelas A,berupa batu pecah disaring dan digradasi dan semuanya lolos saringan 3” atau 75,00 mm.
Tabel 2.1 Distribusi Gradasi Agregat Berdasarkan Ukuran Saringan
Ukuran Saringan
(mm) Kelas A Kelas B Kelas S
2 in 50 - 100 -
1 ½ in 37,5 100 88–95 100
1 in 25,0 79–85 70–85 77–89
3/8 in 9,50 44–58 30–65 41–89
No.4 4,75 29–44 25–55 26–54
No.10 2,0 17–30 15–40 15–42
No.40 0,425 7–17 8–20 7–26
No.200 0,075 2–8 2–8 4–16
Sumber: Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2
9 2.4 Lapisan pondasi atas
Lapisan pondasi atas adalah bagian dari struktur perkerasan jalan yang terletak di antara lapisan pondasi bawah dan lapis permukaan/asphalt (hotmix).
Lapisan ini sangat penting karena berfungsi untuk:
Fungsi Utama:
1. Menyebarkan beban lalu lintas ke lapisan pondasi bawah dan tanah dasar.
2. Memberikan stabilitas struktural terhadap lapis permukaan.
3. Meminimalkan deformasi permanen atau kerusakan akibat beban berulang.
4. Menjaga kualitas drainase, agar air tidak tertahan dan merusak struktur.
Bahan Lapisan Pondasi Atas
Biasanya menggunakan agregat kelas A, yaitu campuran agregat kasar dan halus yang telah lulus spesifikasi tertentu. Material ini harus:
• Memiliki gradasi seragam sesuai standar Bina Marga.
• Bebas dari bahan organik, lempung berlebih, atau kotoran lainnya.
• Cukup keras dan tahan terhadap abrasi.
2.5 Persyaratan Agregat dan Campuran Agregat
Persyaratan agregat dalam campuran agregat haruslah memenuhi kriteria Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, Spesifikasi Umum 2010:
1. Agregat Kasar a. Agregat kasar (tertahan pada ayakan 4,75mm) harus terdiri atas partikel yang keras dan awet. b. Agregat kasar kelas A yang berasal dari batu kali harus 100% mempunyai paling sedikit satu bidang pecah. c. Agregat kasar kelas B yang berasal dari batu kali harus 50% mempunyai paling sedikit satu bidang pecah
10
. 2. Fraksi Agregat Halus Agregat halus (lolos ayakan 4,75mm) harus terdiri atas partikel pasir atau batu pecah halus. Pengujian agregat diperlukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik agregat sebelum digunakan sebagai bahan lapis pondasi.
3. Gradasi Agregat Campuran/Gabungan Agregat untuk lapis pondasi harus bebas dari bahan organic dan gumpalan lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki, harus memenuhi persyaratan gradasi agregat campuran/gabungan.
11 BAB III
MITODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen melalui serangkaian kajian di laboratorium dalam rangka menganalisis properties material agregat dan mendasain rancangan campuran lapis pondasi agregat klas A guna menemukan nilai CBR. Secara garis besar tahapan penelitian dapat dilihat pada diagram alir berikut ini.
Modified Proctor
Finish CB
Analisa CBR Desain
Hasil & Pembahasan Maksimum Kesimpulan & Saran
Mix Desain
Tidak Ya
Start Rumusan Masalah
Alat & Bahan
Pengujian Agg Kasar
➢ Gradasi
➢ Berat Jenis Penyerapan
➢ Berat Volum Pengujian Agg Halus ;
➢ Gradasi
➢ Berat Volum
➢ Berat Jenis Penyerapan
Pengujian Abu Batu
➢ Gradasi
➢ Berat Isi
Spesifikasi
KAO (Standart Proctor)
12
Gambar 3.1. Diagram alir penelitian 3.1 Alat-Alat dan Bahan Penelitian
Untuk mendukung pelaksanaan penelitian, peralatan dan bahan yang dgunakan adalah:
3.1.1. Peralatan.
Sieve Shaker dan Saringan Standar
➤ Untuk analisis gradasi agregat, menentukan distribusi ukuran butir.
b) Los Angeles Abrasion Machine
➤ Untuk pengujian abrasi agregat, mengukur ketahanan terhadap keausan.
c) Proctor Test Apparatus
➤ Untuk menentukan kepadatan maksimum dan kadar air optimum (uji pemadatan tanah/agregat).
d) CBR Load Test Apparatus
➤ Untuk mengukur nilai California Bearing Ratio (CBR), yaitu kekuatan dukung tanah/agregat.
e) Bulk Density Test Equipment
➤ Untuk pengujian berat isi agregat, baik dalam kondisi lepas maupun padat.
f) Alat Pengujian Berat Volume (Volume Meter dan Timbangan Presisi)
➤ Untuk menentukan berat jenis dan volume agregat.
g) Oven Pengering
➤ Untuk mengeringkan sampel agregat hingga kadar air nol, digunakan dalam berbagai pengujian seperti berat jenis, kadar air, dan analisis gradasi.
h) Pycnometer
➤ Untuk pengujian berat jenis agregat halus dan uji kandungan lumpur (fine silt and clay content) berdasarkan perendaman.
13 i) Larutan NaOH 3% dan Botol Transparan
➤ Untuk pengujian kandungan bahan organik dalam agregat halus dengan metode warna (uji organik menggunakan larutan natrium hidroksida/NaOH 3%).
3.1.2. Bahan
Bahan campuran desain lapis pondasi agregat Klas A pada penelitian ini ari quarry lokal yang memenuhi spesifikasi teknis sesuai dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, berupa:
1. Agregat batu pecah 1-2 2. Agregat batu pecah medium 3. Agregat halus (pasir saring) 4. Filler (Abu batu/semen) 3.2. Metode Penelitian
Penelitian Ini Menggunakan Pendekatan Kuantitatif Dengan Dua Metode Utama, Yaitu:
3.2.1 Pengujian bahan penyusun dilaboratorium 1. Gradasi Agregat
Dilakukan menggunakan alat Sieve Shaker dan saringan standar untuk memastikan distribusi ukuran partikel agregat sesuai spesifikasi gradasi (Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2).
2. Ketahanan Abrasi (Los Angeles Test)
Mengukur tingkat keausan agregat kasar ketika terkena beban atau gesekan. Uji dilakukan dengan Los Angeles Abrasion Machine.
3. Berat Volume (Bulk Density)
Menentukan berat isi agregat dalam kondisi lepas dan padat, digunakan untuk perhitungan kebutuhan material dalam campuran.
14 4. Berat Jenis (Specific Gravity)
Menentukan perbandingan antara berat agregat dengan berat air pada volume yang sama. Dilakukan dengan Pycnometer untuk agregat halus dan tangki air untuk agregat kasar.
5. Kadar Air (Moisture Content)
Menentukan persentase air yang terkandung dalam agregat. Sampel dikeringkan dalam oven hingga berat konstan.
6. Kadar Lumpur dan Kandungan Bahan Organik
Kadar lumpur diuji menggunakan Pycnometer dan metode endapan lumpur halus. Kandungan bahan organik diuji dengan larutan NaOH 3% untuk mendeteksi bahan humus atau zat organik dalam agregat halus.
7. Kepadatan dan Kadar Air Optimum (Proctor Test)
Dilakukan menggunakan Proctor Test Apparatus untuk menentukan kepadatan maksimum dan kadar air optimum dari campuran agregat saat dipadatkan.
8. California Bearing Ratio (CBR Test)
Mengukur daya dukung tanah atau material pondasi terhadap tekanan. Uji ini menggunakan alat CBR sesuai standar ASTM D1883 atau SNI.
3.2.2 Desain KAO
Menentukan Kepadatan Maksimum Agregat Dan Kadar Air Optimal, tahapan penelitian diawali dengan tahapan penentuan kadar air optimum (KAO) dengan komposisi agergat gabung yang telah memenuhi spesifikasi agregat gabungan Klas A. untuk nilai KAO diperoleh dengan analisis desain proctor standart. Uji pemadatan tanah atau Proctor Standard adalah metode laboratorium untuk menentukan eksperimental kadar air yang optimal dimana suatu jenis tanah tertentu akan menjadi paling padat dan mencapai kepadatan kering maksimum.
1. Prosedur Proctor Standart :
a) Sampel agregat diuji dimasukkan ke dalam cetakan standar dengan volume 1/30 kaki kubik.
15
b) Sampel agregat dipadatkan dengan palu seberat 2.5 kg yang jatuh 305 mm sebanyak 25 kali pada setiap lapisan.
c) Proses ini diulang dengan berbagai kadar air, dan kemudian kurva hubungan antara kepadatan kering dan kadar air diplotkan.
d) Titik tertinggi pada kurva menunjukkan kadar air optimum dan kepadatan kering maksimum.
2. Peralatan:
Cetakan standar, palu pemadat, timbangan, alat ukur kadar air, dan oven.
3. Energi Pemadatan:
Energi yang digunakan pada uji Proctor Standard adalah energi yang dihasilkan oleh palu seberat 2.5 kg yang jatuh 305 mm sebanyak 25 kali pada setiap lapisan.
3.3.2. Proctor Modifikasi
Tahapan Desain CBR laboratorium adalah langkah untuk menentukan nilai kepadatan kering maksimum (γdry) dan kadar air optimum (w). Tahapan desain dengan melakukan pengujian proctor modifikasi.
Uji Proctor modifikasi adalah variasi dari uji pemadatan Proctor standar yang menggunakan energi pemadatan lebih tinggi. Uji ini bertujuan untuk mendapatkan nilai kepadatan kering maksimum (MDD) dan kadar air optimum (OMC) tanah, yang penting untuk desain konstruksi jalan dan bendungan.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai uji Proctor modifikasi:
• Energi Pemadatan:
Uji Proctor modifikasi menggunakan energi pemadatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan uji Proctor standar. Ini dicapai dengan menggunakan palu yang lebih berat dan dijatuhkan dari ketinggian yang lebih tinggi.
• Tujuan:
Uji ini bertujuan untuk mengetahui nilai MDD dan OMC tanah, yang merupakan karakteristik penting untuk desain konstruksi yang stabil dan aman.
16
DAFTAR PUSTAKA
AASHTO (1993). Guide For Design Of Pavement Structures. American Association Of State Highway And Transportation Officials.
ASTM International (2021). Standard Specification For Aggregate For Road And Bridge Construction. Astm D2940/D2940m-20.
Mulyono, T. (2004). Teknologi Bahan Konstruksi. Yogyakarta: Andi Offset.
Sukirman, S. (2003). Perkerasan Lentur Jalan Raya. Bandung: Nova.
Sni 1737:2011. Spesifikasi Agregat Untuk Perkerasan Jalan. Badan Standarisasi Nasional.
Sukirman, S., 2016. Beton Aspal Campuran Panas, Institut Teknologi Nasional, Bandung. Waani, J.E., 2013. Evaluasi Volumetrik Marshall Campuran Ac- Bc (Studi Kasus Material Agregat Di Manado Dan Minahasa), Jurnal Teknik Sipil Itb, 20(1): 67-78.
Cetin, A. Kaya, Z. Cetin, B. & Aydilek, Ah. (2014) Influence Of Laboratory Compaction Method On Mechanical And Hydraulic Characteristics Of Unbound Granular Base Materials, Road Materials And Pavement Design, 15:1, 220-235,
Direktorat Jendral Bina Marga (2018) Spesifikasi Umum 2018 Untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan Dan Jembatan. Se Dirjen Bina Marga No 02/Se/Db/2018.
Sukirman, S., 1999, Perkerasan Lentur Jalan Raya, Penerbit Nova, Bandung Bukhari, dkk, 2004, Rekayasa Bahan dan Tebal Perkerasan J
Direktorat Jendral Bina Marga (2010) Spesifikasi Umum 2010 Untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan Dan Jembatan. Se Dirjen Bina Marga No 02/Se/Db/2010.
Afrida, M. F. D., & Harnaeni, S. R. (2023, May). Analisa Nilai Kepadatan Tanah Dasar (Subgrade) dengan Pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP) Pekerjaan Akses Jalan Bandara Internasional Dhoho Kediri. In Prosiding
17
Seminar Nasional Teknik Sipil UMS (pp. 367-374). Badan Standarisasi Nasional. (2008). SNI 1969:2008 - Cara uji analisis saringan agregat halus dan kasar. Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2008). SNI 2417:2008 - Cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles. Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2008). SNI 3423:2008 - Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus dan kasar. Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2008). SNI 1965:2008 - Cara uji kadar air tanah dan agregat dengan oven. Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2008). SNI 3424:2008 - Cara uji kadar lumpur dalam agregat halus. Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2011). SNI 1744:2011 - Metode uji nilai CBR laboratorium. Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2010). SNI 1743:2010 - Metode uji pemadatan standar (Standard Proctor Test). Jakarta: BSN.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (2018). Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia.
18 Lampiran.1 Jadwal Penelitian
No Tahapan Kegiatan Waktu Pelaksanaan Keterangan
1 Persiapan dan Pengumpulan Alat dan Bahan
15 Jul 2025 – 21 Jul 2025 Saringan, LA Machine, Oven, Proctor, CBR dll
2 Pengujian Agregat Kasar dan
Halus di Laboratorium 22 Jul 2025 – 28 Jul 2025 Gradasi, Berat Jenis, Abrasi, dll 3 Pengujian Filler dan Uji Kadar
Organik 29 Jul 2025 – 04 Aug 2025 Uji abu batu/semen, NaOH 3%
untuk organik
4 Uji Proctor Standar dan
Modifikasi
05 Aug 2025 – 11 Aug 2025 Menentukan KAO dan Kepadatan Maksimum
5 Desain Campuran Agregat (Mix
Design)
12 Aug 2025 – 18 Aug 2025 Perhitungan komposisi dan proporsi campuran 6 Uji Nilai CBR Laboratorium 19 Aug 2025 – 25 Aug 2025 Mengukur daya dukung agregat
campuran
7 Analisis Data dan Pembahasan
Hasil 26 Aug 2025 – 01 Sep 2025 Interpretasi data dan perbandingan standar
8 Penyusunan Laporan Akhir dan
Konsultasi
02 Sep 2025 – 08 Sep 2025 Penulisan bab hasil &
pembahasan 9 Revisi dan Finalisasi Laporan 09 Sep 2025 – 15 Sep 2025 Koreksi dan persiapan
pengesahan