• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Jarak Bintik Buta pada Mata Manusia

N/A
N/A
Danu Han

Academic year: 2024

Membagikan "Penentuan Jarak Bintik Buta pada Mata Manusia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, dilakukan pengujian untuk menentukan jarak bintik buta, yaitu titik di retina di mana saraf optik meninggalkan bola mata dan tidak terdapat sel fotoreseptor (sel batang dan kerucut). Akibatnya, cahaya yang mengenai area ini tidak dapat diproses menjadi impuls saraf dan tidak dikenali oleh otak, yang menyebabkan objek di titik tersebut tidak terlihat atau tampak buram. Fenomena ini berkaitan dengan pembiasan cahaya di mata dan bagaimana cahaya tersebut jatuh pada retina (Solikah, 2022). Berdasarkan data hasil praktikum, terdapat variasi jarak bintik buta pada masing-masing individu, dengan sebagian besar individu memiliki jarak sekitar 13–14 cm, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki mata normal. Namun, ada dua individu dengan jarak bintik buta lebih jauh, yaitu Aftahul (17 cm) dan Latifa (20 cm), yang menunjukkan kondisi mata minus (miopia), dengan Latifa juga memiliki astigmatisme (silinder).

Mata manusia bekerja dengan cara menangkap cahaya yang masuk melalui kornea, melewati pupil dan lensa mata, dan akhirnya jatuh pada retina. Di retina, terdapat dua jenis fotoreseptor:

sel batang dan sel kerucut, yang menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi impuls saraf yang dikirimkan ke otak untuk diterjemahkan menjadi gambar visual (Budiarti, 2023). Namun, area sekitar saraf optik, yang dikenal sebagai bintik buta, tidak memiliki fotoreseptor, sehingga objek yang berada di titik tersebut tidak dapat dilihat. Jarak bintik buta pada mata manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ukuran bola mata, bentuk kornea, dan kemampuan akomodasi lensa mata. Akomodasi adalah proses penyesuaian kekuatan optik lensa mata untuk memfokuskan cahaya pada retina, memungkinkan seseorang melihat objek dengan jelas baik pada jarak dekat maupun jauh. Faktor-faktor ini memengaruhi seberapa efektif cahaya dapat difokuskan pada retina dan apakah objek yang terlihat jatuh pada titik yang memiliki fotoreseptor atau di titik bintik buta (Maryoto, 2020).

Hasil praktikum menunjukkan bahwa sebagian besar individu memiliki jarak bintik buta yang relatif sama, sekitar 13–14 cm, yang mengindikasikan kondisi mata normal (emetropi). Mata normal adalah kondisi di mana cahaya yang masuk dapat difokuskan dengan tepat pada retina tanpa memerlukan koreksi optik. Jarak bintik buta yang lebih kecil pada individu-individu ini menandakan bahwa pembiasan cahaya di mata mereka terjadi dengan sempurna. Namun, pada individu dengan kelainan refraksi seperti miopia dan astigmatisme, jarak bintik buta lebih jauh.

Aftahul memiliki jarak 17 cm, sementara Latifa memiliki jarak 20 cm, serta kondisi mata minus dan astigmatisme. Miopia terjadi ketika bola mata terlalu panjang atau lensa mata terlalu cembung, sehingga cahaya tidak terfokus tepat pada retina, tetapi jatuh di depan retina. Hal ini mengakibatkan objek jauh menjadi kabur dan bintik buta dapat terletak lebih jauh. Kondisi astigmatisme pada Latifa mengindikasikan bahwa bentuk kornea atau lensa matanya tidak simetris, sehingga cahaya yang masuk mengalami pembiasan yang tidak merata dan menyebabkan penglihatan kabur atau terdistorsi pada beberapa titik, yang juga berkontribusi pada jarak bintik buta yang lebih jauh (Kamal, 2020).

Berdasarkan hasil praktikum, dapat dihipotesiskan bahwa jarak bintik buta berhubungan dengan kondisi refraksi mata, yang dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran bola mata serta kemampuan akomodasi lensa. Individu dengan mata normal memiliki jarak bintik buta yang lebih dekat karena kemampuan mata untuk memfokuskan cahaya secara efektif pada retina.

Sebaliknya, individu dengan miopia atau astigmatisme memiliki jarak bintik buta yang lebih jauh karena cahaya tidak dapat difokuskan dengan tepat pada retina, memengaruhi kemampuan

(2)

mereka untuk melihat objek pada jarak tertentu. Ferywidyastuti pada 2017 juga menekankan pembiasan cahaya terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata ditekuk oleh lensa dan difokuskan pada retina. Lensa mata dapat menyesuaikan kelengkungannya, proses yang dikenal sebagai akomodasi, untuk memastikan cahaya tetap terfokus pada retina. Pada mata normal, proses akomodasi berjalan baik, dan cahaya jatuh pada titik yang tepat di retina, memungkinkan objek dilihat dengan jelas. Namun, pada mata dengan kelainan refraksi seperti miopia, cahaya difokuskan di depan retina, menyebabkan penglihatan kabur pada objek yang jauh dan memengaruhi posisi bintik buta. Hal ini juga terjadi pada individu dengan astigmatisme, di mana pembiasan cahaya terjadi secara tidak merata, memperburuk penglihatan dan mempengaruhi jarak bintik buta.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Pada jarak tertentu, objek tidak dapat terlihat karena cahaya yang jatuh pada titik tersebut

tidak dapat diproses oleh retina. Hal ini terjadi karena area di sekitar saraf optik, yang dikenal sebagai bintik buta, tidak memiliki fotoreseptor (sel batang dan sel kerucut).

Akibatnya, cahaya yang mengenai titik ini tidak dapat diubah menjadi impuls saraf dan tidak dikirim ke otak untuk diterjemahkan menjadi gambar visual.

2. Ada kaitan yang erat antara kemampuan mata untuk melihat objek pada jarak tertentu dengan struktur bola mata, khususnya pada kondisi refraksi mata. Mata dengan struktur bola mata yang normal (emetropi) dapat memfokuskan cahaya secara tepat pada retina, yang memungkinkan objek dilihat dengan jelas pada berbagai jarak. Namun, pada individu dengan kelainan refraksi seperti miopia (mata minus) atau astigmatisme, pembiasan cahaya tidak terjadi dengan sempurna. Pada miopia, cahaya difokuskan di depan retina, menyebabkan objek yang jauh tampak kabur dan memperpanjang jarak bintik buta.

Sedangkan pada astigmatisme, pembiasan cahaya yang tidak merata menyebabkan penglihatan yang kabur atau terdistorsi, yang juga berkontribusi pada jarak bintik buta yang lebih jauh.

DAPUS

Solikah, S. N., & Hasnah, K. (2022). Monograf Senam Mata untuk Pencegahan Miopia.

Penerbit NEM.

Budiarti, I. S. (2023). Indra Penglihatan; Mata. Bumi Aksara. (KUTIPAN DASAR TEORI) Kamal Faadhil, M. A. (2024). Pengaruh Derajat Miopia Terhadap Intelligence Quotient Pada Mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Lampung.

Ferywidyastuti, S., & Adab, P. Buku Ajar Fisika Optik .2017. (Pendekatan Problem Based Learning Berbasis Soft-Skills). Penerbit Adab.

Maryoto, A. (2020). Mengenal Mata dan Cara Merawatnya. Alprin.

Referensi

Dokumen terkait

Dari graf yang telah dimodelkan digunakan algoritme Dijkstra untuk implementasi fungsi yang dapat menentukan lokasi terbaik berdasarkan total jarak tempuh terpendek

Sistem pakar merupakan suatu bagian metode ilmu-ilmu artificial intelligence untuk dibuat suatu program aplikasi diagnosa penyakit mata pada manusia yang

Sistem pakar merupakan suatu bagian metode ilmu-ilmu artificial intelligence untuk dibuat suatu program aplikasi diagnosa penyakit mata pada manusia yang

Sebagai kesimpulan, kajian ini telah berjaya membangunkan algoritma ACO-PB yang berupaya untuk meminimumkan jarak laluan mata alat di dalam pemesinan kontur

SIG penentuan jarak terpendek masjid adalah suatu sistem informasi geografis yang memiliki fungsi untuk menentukan lokasi masjid terdekat dari posisi user berdiri melalui

Buku ini merupakan alternatif pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris kelas VII yang berisi materi tentang cara mengidentifikasi dan membandingkan teks

Deskripsi tugas praktikum mata kuliah Interaksi Manusia Komputer untuk mendesain ulang aplikasi letterboxd / manga / ao shuttle dalam bentuk mockup atau High Fidelity

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jarak dan durasi penggunaan smartphone dengan keluhan kelelahan mata pada mahasiswa ARO