PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II. kelas SD Negeri 153 Walimpong, dengan tujuan utama meningkatkan keterampilan membaca dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media pembelajaran buku besar. Dari Tabel 4.6 terlihat persentase ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia siswa pada mata pelajaran membaca dengan menggunakan media pembelajaran big book menunjukkan 8 siswa termasuk dalam kategori utuh dengan persentase 100%. Siswa yang berada pada kelas I. dan II. siklus motivasi belajar aktif dengan media buku besar adalah 100%.
Persentase ketuntasan belajar bahasa Indonesia siswa dalam membaca melalui penggunaan media pembelajaran big book menunjukkan 3 siswa termasuk dalam kategori tuntas dengan persentase sebesar 37,5% dan 5 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas dengan persentase sebesar 62,5%. Persentase ketuntasan belajar bahasa Indonesia siswa dalam membaca melalui penggunaan media pembelajaran big book pada siklus II menunjukkan 8 siswa termasuk dalam kategori tuntas dengan persentase 100%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa media buku berukuran besar dapat meningkatkan keterampilan membaca dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas II SD Negeri 153 Walimpong Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng.
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
Penelitian Relevan
Peningkatan Minat Membaca Menggunakan Media Buku Besar Pada Siswa Kelas III.B SD Negeri Jageran Sewon Bantul Yogyakarta. Keberhasilan proses pembelajaran dilihat dari aspek yaitu: tercapainya ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia klasik siswa, keaktifan siswa dalam belajar bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data hasil belajar bahasa Indonesia siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar, data aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas belajar siswa.
Hasil analisis statistik deskriptif hasil belajar siswa pada media pembelajaran konkrit adalah positif, pemahaman materi dan konsep dari bahasa Indonesia dengan media pembelajaran konkrit menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan sebelumnya dengan bantuan media pembelajaran konkrit. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media pembelajaran konkrit dalam pembelajaran bahasa Indonesia mempunyai pengaruh dibandingkan sebelum penggunaan media pembelajaran konkrit. Dari penelitian yang relevan diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa, dalam hal ini pembelajaran bahasa Indonesia.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Dalam pengajaran di kelas, guru bahasa Indonesia mengajar sesuai dengan persyaratan kurikulum yang ditentukan. Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kurikulum menitikberatkan pada pengembangan aspek fungsional bahasa, yaitu peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Mengacu pada penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa baik lisan maupun tulisan.
Pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan prinsip kontekstual merupakan pembelajaran yang menghubungkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata. Implikasi dari wawasan tersebut terhadap kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah a) guru bukan satu-satunya sumber informasi, b) siswa diperlakukan sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu menemukan pemahamannya sendiri, c) dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru bertindak lebih dari sekedar model, teman, sahabat, motivator, fasilitator dan aktor yang berperan sebagai pembelajar. Implikasi dari wawasan tersebut dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah a) isi pembelajaran harus benar-benar bermanfaat bagi siswa, b) dalam kegiatan belajarnya, siswa harus menyadari manfaat penguasaan konten pembelajaran bagi kehidupannya, c) isi pembelajaran harus cocok untuk tingkat perkembangan, pengalaman dan pengetahuan pembelajaran mereka.
Hakikat Membaca
Implikasi wawasan terhadap kegiatan pengajaran bahasa Indonesia, a) layanan pembelajaran, selain klasikal dan kelompok, juga individual, b) pembelajaran, selain ada yang menguasai materi pembelajaran dengan cepat, ada juga yang lambat, dan c) pembelajaran harus sebagai suatu pokok bahasan yang unik yang diangkat, baik mengenai proses perasaan, berpikir maupun sifat-sifat individu sebagai hasil terbentuknya lingkungan, keluarga, teman bermain dan lingkungan sosial masyarakat. Berdasarkan pengertian membaca di atas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan jasmani dan mental dimana seseorang akan memperoleh informasi melalui membaca sesuai dengan tujuan membacanya. Membaca bersifat reseptif, artinya pembaca menerima pesan atau informasi yang disampaikan penulis dalam suatu teks bacaan.
Pada dasarnya kegiatan membaca bertujuan untuk mencari dan memperoleh pesan atau memahami makna melalui membaca. Dari ketujuh tujuan membaca di atas, semuanya dapat dicapai sesuai minat pembaca. Belajar membaca merupakan suatu upaya yang berkesinambungan, dan anak-anak yang melihat tingginya nilai membaca dalam kegiatan pribadinya akan belajar lebih giat dibandingkan anak-anak yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan membaca.
Hakikat Belajar
The Big Book merupakan buku cerita berukuran besar yang berukuran sekitar 60 x 50 cm dan biasanya berisi gambar-gambar dengan warna-warni yang indah. “Menurut Fitriana, media buku berukuran besar merupakan media yang populer di kalangan anak-anak dan baik digunakan di kalangan bawah seperti kelas I, II, III yang berisi cerita dan gambar pendek penuh makna.” Tirai & Dahlberg (Usaid 2014:43) menyatakan bahwa buku berukuran besar memungkinkan siswa belajar membaca dengan cara menghafal dan mengulangi bacaannya.
Banyak pakar pendidikan yang menyatakan bahwa buku berukuran besar sangat baik digunakan di kelas satu karena dapat membantu meningkatkan minat membaca siswa. Dari pemikiran di atas dapat disimpulkan bahwa buku besar merupakan sarana untuk mempelajari pengucapan kata, bentuk dan jenis kata yang familiar bagi anak. “Berikut langkah-langkah membuat sebuah buku yang bagus, yaitu dilakukan dengan tangan dan menggunakan alat-alat sederhana” (Usaid.
Kerangka Pikir
Tawarkan kepada siswa yang lambat membaca kesempatan untuk mengenali tulisan dengan bantuan guru dan teman lainnya. Saat siswa diminta menjadi sukarelawan, tidak ada satupun siswa yang berani maju. Data pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa 2 orang siswa berada dalam kategori sangat rendah dengan persentase 25%, 3 orang siswa dalam kategori rendah dengan persentase 37,5%, 1 orang siswa dalam kategori sedang dengan persentase 12,5%, 1 orang siswa berada dalam kategori sedang dengan persentase 12,5%, 1 orang siswa berada dalam kategori sedang dengan persentase 12,5%, berada pada kategori tinggi dengan persentase 12,5% dan 1 siswa berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase 12,5%.
Dari tabel 4.3 terlihat persentase ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia siswa dalam membaca melalui penggunaan media pembelajaran buku besar menunjukkan 3 siswa termasuk dalam kategori penuh dengan persentase 37,5% dan 5 siswa termasuk dalam kategori penuh dengan persentase 37,5% dan 5 siswa termasuk dalam kategori penuh. . dalam kategori tidak tuntas dengan persentase 62,5%. Siswa yang tidak mengikuti petunjuk guru akan diminta maju ke depan untuk membaca. Dari tabel 4.5 terlihat 3 siswa berada pada kategori sedang dengan persentase 37,5%, 2 siswa berada pada kategori tinggi. dengan persentase 25%, dan 3 siswa yang berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase 37,5%.
Siswa yang masih memerlukan bimbingan guru dalam membaca pada akhir siklus I sebesar 62,5%, sedangkan pada akhir siklus II sebesar 0%. Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan santai dan tidak stres pada siklus I dan II sebesar 100%. Sedangkan siklus II menunjukkan 3 siswa berada pada kategori sedang dengan persentase 37,5%, 2 siswa berada pada kategori tinggi dengan persentase 25% dan 3 siswa berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase 37,5%. .
Jumlah siswa yang masih memerlukan instruksi guru dalam membaca pada akhir siklus I sebanyak 62%, sedangkan pada akhir siklus II sebanyak 0%. Hasil tes pada siklus I menunjukkan 2 orang siswa berada pada kategori sangat rendah dengan persentase 25%, 3 orang siswa berada dalam kategori rendah dengan persentase 37,5%, 1 orang siswa berada dalam kategori sedang dengan persentase 12,5%. , 1 siswa berkategori tinggi dengan persentase 12,5%, dan 1 siswa berkategori sangat tinggi dengan persentase 12,5%. Sedangkan tes akhir siklus II menunjukkan 3 siswa berada pada kategori sedang dengan persentase 37,5%, 2 siswa berada pada kategori tinggi dengan persentase 25%, dan 3 siswa berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase. sebesar 37,5%.
Banyaknya siswa yang berani berdiri di depan kelas - 1 3 4 Observasi Hasil Kegiatan Belajar Siswa II.
Hipotesis Penelitian
METODE PENELITIAN
Setting dan subjek Penelitian
Jumlah siswa kelas II sebanyak 8 orang dengan rincian 4 putra dan 4 putri.
Fokus Penelitian
Membolehkan pelajar bersama-sama memahami setiap tulisan dalam media buku besar.
Rancangan Penelitian
Terlihat ketika guru meminta siswa maju ke depan untuk membaca, sudah ada beberapa siswa yang sukarela dan berani maju ke depan. Dalam membaca kata, masih ada beberapa siswa yang belum lancar membaca dan masih ada siswa yang suaranya kurang jelas saat mengucapkan kata. Permainan ini baik untuk melatih konsentrasi dan melatih siswa yang kurang mampu membaca agar berani tampil dihadapan teman sebayanya.
Meningkatnya proporsi aktivitas belajar siswa, kehadiran siswa dalam pembelajaran dan banyaknya siswa yang berani datang membaca menunjukkan bahwa siswa mempunyai perhatian yang besar dalam pembelajaran khususnya pada penelitian ini. Peningkatan terjadi karena pada II. siklus perbaikan berupa pemberian motivasi belajar, pemberian umpan balik kepada siswa, bimbingan yang lebih intensif kepada siswa yang belum mahir membaca, media semenarik mungkin dan penyesuaian penggunaan metode pengajaran. pada media yang digunakan.
Sumber, Teknik, dan Prosedur Penelitian
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian guna memperoleh data yang akurat. Menurut Suharsimi Arikunto, tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, kecerdasan, kesanggupan atau bakat seseorang atau kelompok. Dalam penelitian ini, tes diberikan pada akhir siklus I dan II untuk mengetahui sejauh mana peningkatan keterampilan membaca siswa setelah intervensi.
Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
Pada akhir siklus I berjumlah 3 orang siswa dengan persentase 37,5%, sedangkan pada akhir siklus II persentasenya 100%. Data hasil tes kemampuan membaca pada siklus I menunjukkan 2 orang siswa berkategori sangat rendah dengan persentase 25%, 3 orang siswa berkategori rendah dengan persentase 37,5%, 1 orang.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil Penelitian
Hal ini menunjukkan bahwa media buku berukuran besar merupakan media yang dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan membaca. Siswa dapat merangkum isi teks cerita sederhana tentang kegiatan keluarga yang telah dibacakan dengan bahasa santun. Dengan memberikan soal-soal latihan dalam bentuk menjodohkan, siswa dapat dengan cermat membedakan setiap individu di lingkungan rumah berdasarkan ciri-cirinya.
Siswa dapat menceritakan keberagaman teman di lingkungan rumahnya berdasarkan gambar kesukaannya dengan bahasa santun.
SIMPULAN DAN SARAN
Saran
Siswa melengkapi isi teks permintaan maaf tentang sikap hidup harmonis dalam bentuk jamak sahabat yang dibacakan pada teks (coba). Dengan bimbingan guru, siswa mampu mengembalikan isi teks narasi tentang menjaga keselamatan kerja dengan bahasa santun.