PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMA
NEGERI 2 SIPORA UTARA KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI
Helci G. Maundeng, Gustina Indriati, Diana Susanti Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This research described about some of student didnot understand the material about protista in learning process. This, it can be bad effect to the result of leraning biology. This situasion happen because the learning approach of scientific did not carried well. It can be seen to the student biology test was still under the student of score. This research ained to know the student result of learning with the model of inkuiry learning assembling to grade a student with the protista material in SMA 2 Sipora Utara. This reserach was experiment research. The research instrument used coqnitive domain written test live multiple choice with 66 items. The hypotesis to this reserach can be test by using test-t with criteria a t hitung > t table. The data analysist obtained to coqnitive domain in experiment class 75,13 (B) and cntrol clas 71,06 (B). From this research result can conclude that the model of quidance inqury learning assembling can improve the result of learning biology coqnitive domain class grade X SMA N 2 Sipora Utara.
Key word: Learning, Coqnitive, Inkuiry Ieraning
PENDAHULUAN
Mata pelajaran biologi adalah salah satu mata pelajaran yang sampai saat ini sebagian besar siswa menganggap sebagai mata pelajaran hafalan dan sulit. Dalam biologi, banyak materi yang bercorak terstruktur dan harus membutuhkan hafalan. Sementara pemahaman materi pelajaran tidak hanya cukup mampu menyebutkan unsur-unsur secara urut dan terstruktur saja, tetapi
bagaimana mampu memahami secara sistematis, utuh dan mampu menjelaskan serta membahasakan hubungan antara bagian satu dengan bagian yang lainnya secara teratur.
Untuk memahaminya diperlukan banyak sumber dan media yang mendukung materi tersebut. Namun kebanyakan guru selalu menggunakan metode ceramah dalam penyampaiannya sehingga proses pembelajaran bersifat
monoton dan siswa merasa jenuh dan bosan. Selain itu, selama ini siswa dalam kegiatan pembelajaran masih sangat kurang. Akibatnya proses pembelajaran membosankan dan siswa belum bisa menyerap materi Biologi dengan optimal.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penulis dengan guru Biologi kelas X SMA N 2 Sipora Utara diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran guru sudah menerapkan kurikulum 2013, namun dalam pelaksanaan pendekatan saintifik, masih belum sesuai yang diharapkan. Hal itu terlihat pada hasil ulangan semester 1 kelas X pada materi Protisa tahun pelajaran 2016/2017 masih berada dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang harus dicapai siswa adalah 70.
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa hasil belajar biologi siswa kelas X pada materi Protista masih rendah.
Salah satu model pembelajaran yang dapat mendorong siswa aktif adalah model inkuiri terbimbing.
Menurut Trianto (2014: 78) Inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang dapat melatih
ketrampilan siswa dalam melaksanakan proses investigasi untuk mengumpulkan data berupa fakta dan memproses fakta tersebut sehingga siswa mampu membangun kesimpulan secara mandiri guna menjawab pertanyaan atau permasalahan yang diajukan oleh guru.
Dalam inkuiri terbimbing kegiatan belajar harus dikelola dengan baik oleh guru dan output dalam pembelajaran sudah dapat diprediksi sejak awal. Inkuiri jenis ini cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep- konsep dan prinsip-prinsip yang mendasar dalam bidang ilmu tertentu ( Amri 2010:89).
Penelitian tentang inkuiri terbimbing pernah dilakukan oleh Istafada (2013) yang menyatakan bahwa model inkuir terbimbing ini dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis telah melakukan penelitian dengan judul ’’Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA N 2
Sipora Utara Tahun Pembelajaran 2017/2018’’.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober- November tahun 2017 pada kelas X semester I di SMA N 2 Sipora Utara Tahun Pelajaran 2017/2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian ini
menggunakan rancangan
Randomized Control Group Posttest Only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA N 2 Sipora Utara yang terdaftar pada Tahun Pelajaran 2017/2018. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Random Sampling sehingga diperoleh kelas eksperimen yaitu X IPA 4 dan kelas kontrol X IPA 3.
Instrumen yang akan digunakan untuk ranah kognitif berupa tes tertulis dalam bentuk soal objektif yang diuji coba kan pada kelas yang berbeda agar instrumen tes tersebut menjadi alat ukur yang baik, maka perlu dilakukan analisis soal melalui validitas tes, reabilitas
soal, indeks kesukaran soal dan daya pembeda soal.
HASIL DAN PEMBAHASAN Ranah Kognitif
Penilaian ranah kognitif dilakukan pada akhir penelitian.
Rata-rata nilai kognitif dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Diagram Nilai Rata-rata Ranah Kognitif
Pada ranah kognitif ini didapat hasil analisis uji normalitas pada kelas eksperimen adalah L0 = 0,06558 < Ltabel = 0,190 dan kelas kontrol adalah L0 = 0,013334 < Ltabel
= 0,190, maka data dari kedua sampel berdistribusi normal, sedangkan hasil analisis uji homogenitas didapat Fhitung = 0,80 <
Ftabel = 2,39 yang berarti data kedua sampel homogen dan uji hipotesis didapat Fhitung = 1,686 < Ftabel = 1,682 dimana maka dengan demikian hipotesis diterima.
0 20 40 60 80
A B
75,13
71,06
eksperimen kontrol
Nilai
kelas
Data hasil persen ketuntasan kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2. Diagram Persen Ketuntasan Kelas Eksperimen
Gambar 3. Diagram Persen Ketuntasan Kelas Kontrol
Penilaian Ranah Kognitif
Penilaian ranah kognitif dilakukan pada akhir penelitian, dengan soal berupa pilihan ganda yang berjumlah 66 butir soal yang telah divalidasi. Setelah penelitian dilakukan di SMA N 2 Sipora Utara diperoleh nilai rata-rata siswa pada kelas ekperimen yaitu 75,13 dan kelas kontrol 71,06.
Tingginya hasil belajar pada kompetensi pengetahuan kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing disebabkan pada saat
proses pembelajaran siswa dituntut untuk menemukan atau merumuskan permasalahan atau pertanyaan serta merumuskan hipotesa dari permasalahan yang ditemukan sehingga dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis serta mengembangkan kemampuan dan ide-ide baru mereka untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan pengetahuan yang baru.
Menurut Kunandar (2013: 159) penilaian kompetensi pengetahuan atau kognitif adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur tingkat pencapaian atau penguasaan peserta didik dalam aspek pengetahuan yang meliputi ingatan atau hafalan, pemahaman, penerapan atau aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Penilaian ranah kognitif dapat dilihat dari proses pembelajaran kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Pada saat proses pembelajaran siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian guru membagikan bahan ajar kepada
54%
46%
Tuntas Tidak Tuntas
36%
64%
Tuntas Tidak Tuntas
masing-masing siswa dalam kelompoknya, selanjutnya siswa diminta untuk membaca dan mengamati bahan ajar tersebut.
Setelah itu, masing-masing kelompok di minta untuk menemukan atau merumuskan permasalahan sesuai dengan tujuan pembelajaran, setelah menemukan permasalahan atau pertanyaan maka siswa diminta untuk merumuskan hipotesa atau jawaban sementara.
Dalam hal ini, guru berperan membimbing setiap kelompok dalam merumuskan hipotesa yang di buat setiap kelompok. Guru tidak membetulkan apakah hipotesa tersebut benar atau salah tetapi guru hanya meluruskan dari setiap pertanyaan atau jawaban sementara dari setiap kelompok. Selanjutnya siswa diminta melakukan diskusi dengan teman sekelompoknya dan menulis laporan tersebut dalam doble polio. Tidak hanya itu, siswa juga diminta membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dilakukan
Menurut Trianto (2014:78) model pembelajaran inkuiri terbimbing ini merupakan salah satu model
pembelajaran yang dapat melatih ketrampilan siswa dalam melaksanakan proses investigasi untuk mengumpulkan data berupa fakta dan memproses fakta tersebut sehingga siswa mampu membangun kesimpulan secara mandiri guna menjawab pertanyaan atau permasalahan yang diajukan oleh guru.Hal ini sesuai yang diungkapkan Lufri (2007:11) bahwa belajar bukan suatu hasil dan bukan pula suatu proses atau aktivitas.
Belajar tidak hanya proses mengingat, menghafal tapi jauh dari itu yakni proses mengalami sesuatu.
Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan belajar dicapai dengan cara menemukan atau merumuskan, mengemukakan ide-ide yang diperoleh, serta berdiskusi dengan teman-teman sehingga materi pelajaran akan lebih mudah diingat.
Pembelajaran pada kelas control menggunakan metode diskusi dan tanya jawab (5M). Pada kelas kontrol guru membagi siswa dalam beberapa kelompok dan memberikan topik di masing-masing kelompok.
Selanjutnya, siswa diminta untuk
berdiskusi dengan teman kelompoknya sesuai dengan topik masing-masing. Kemudian siswa menulis hasil diskusi kedalalam kertas double polio. Namun masih ada beberapa siswa yang hanya mencatat saja dan tidak berdiskusi dan terlihat kurangnya siswa yang menanggapi pertanyaan atau menyampaikan jawaban pada saat presentasi diskusi. Hal ini menyebabkan pembelajaran kurang menyenangkan dan menarik minat siswa dalam belajar.
Menurut Kunandar (2013: 159) penilaian kompetensi pengetahuan atau kognitif adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur tingkat pencapaian atau penguasaan peserta didik dalam aspek pengetahuan yang meliputi ingatan atau hafalan, pemahaman, penerapan atau aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, penilaian ranah pengetahuan pada kelas eksperimen didapatkan hasil yang mencapai KKM sebanyak 12 siswa dari 22 siswa dengan persentase
ketuntasannya 54%, sedangkan kelas kontrol didapatkan hasil yang mencapai KKM sebanyak 8 siswa dari 22 siswa dengan persentase ketuntasan 36%. Menurut Djamarah (2010: 107) apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60%
dikuasai oleh siswa maka tingkat keberhasilannya tergolong kurang.
Hal ini berarti proses pembelajaran kurang maksimal, ini disebabkan karena peneliti sebagai guru muda kurang pengalaman dalam mengajar.
Kemudian masih kurangnya pengelolaan kelas, sehingga suasana kelas menjadi ribut saat proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini sesuai dengan pendapat Lufri (2007: 106) bahwasanya keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar secara optimal. Apabila terdapat gangguan dalam proses pembelajaran, guru dapat mengembalikan kondisi ini ke kondisi pembelajaran yang optimal diantaranya yaitu dengan cara mendisiplinkan kelas.
Hasil penelitian pada ranah pengetahuan ini belum mencapai
60% siswa yang tuntas pada kelas eksperimen. Hal ini bukan berarti penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing tidak bisa digunakan dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi, rata-rata hasil belajar siswa pada penelitian ini sudah berada di atas KKM. Hasil penelitian yang diperoleh pada kelas kontrol berada pada tingkatan yang belum mencapai KKM. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan kerena pada kelas kontrol proses pembelajaranya hanya menggunakan metode diskusi, disini guru memberikan tugas kepada siswa dan meminta siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan dan didiskusikan dalam kelompoknya masing-masing, sehingga siswa kurang aktif dan kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa lebih mengandalkan temannya yang lebih pintar untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan uraian di atas, penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar pada
ranah kognitif siswa kelas X SMA N 2 Sipora Utara dalam penelitian ini.
KESIMPULAN
Penerapan model
pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa pada ranah kognitif siswa kelas X SMA N 2 Sipora Utara pada materi protista tahun pelajaran 2017/2018.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan. 2010. Proses Pembelajaran Inovatif Dan Kreatif Dalam Kelas.
Jakarta. Prestasi Pustakarya Aunurrahman. 2011.
Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta.
Djamarah dan Aswan Zain. 2010.
Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta
Istafada, 2013. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terrbimbing terhadap hasil belajar siswa. Jurnal pendidikan biologi (3) 1:
106-116
Kunandar. 2013. Penilaian Autentik.
Jakarta. RajaGrafindo Persada
Lufri. 2007. Strategi Pembelajaran Biologi. Padang: UNP Press.
Trianto. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progersif Dan Kontekstual.
Jakarta. Prenadamedia