• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan model pembelajaran kooperatif tipe stad

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "penerapan model pembelajaran kooperatif tipe stad"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DISERTAI LDS TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA

KELAS VIII SMP N 3 BATANG ANAI KAB. PADANG PARIAMAN

Tyara Jayus Mely, Gustina Indriati, Evrialiani Rosba Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

[email protected]

ABSTRACT

This research was motivated by low biology learning result in class VIII SMP N 3 Batang Anai Kab. Padang Pariaman student whom under KKM. This was caused by centered base learning, as a result student feel bored to study, to overcome the problem one of the learning model was STAD and LDS type. The purpose of this study was to know student learning result by type STAD cooperative learning model with LDS towards biology learning result at class VIII students SMPN 3 Batang Anai. In cognitive, affective and psychomotor aspects.

This type of research was Randomized Control Group Postest Only Design. The instrument of affective aspect was by student observation sheet in learning process. The instrument of cognitive aspect was by writter test at the and of the research which consist 55 items. The psychomotor assessment was seen from discussion report. Based on the result of the research was obtained the mean of affective in experimental class was 59,31 and the control class was 46,76. T test result was obtained tcount>ttable = 3,34 with the ttable = 1,68 as a result hipothesis was accepted. The cognitive domain of the experiment class was 70,46 and the control class was 60,07. The tcount = 2,11 with the t table = 1,97 and with that hipothesis were accepted. The psychomotor domain of the experiment class was 57,36 and the control class was 45,36. The tcount result was concluded that the student learning result of VIII SMP N 3 Batang Anai had increased by applying type STAD cooperative learning model with LDS in affective, cognitive and psychomotor aspect domain.

Keywords : Cooperative, STAD, Student Learning Result

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan interaktif yang bernilai edukatif. Interaksi edukatif ini terjadi antara guru

dengan siswa dan siswa dengan siswa serta siswa dengan lingkungannya. Dalam proses pembelajaran guru harus melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran

(2)

sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan aktif dalam pembelajaran. Dalam hal pembelajaran guru harus mampu menggunakan model, metode maupun media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang dibahas dalam proses pembelajaran.

Pemilihan model, metode maupun media pembelajaran yang sesuai dapat menyebabkan siswa tidak merasa bosan dalam proses pembelajaran dan lebih mudah memahami materi yang di pelajarinya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penulis dengan guru IPA Biologi di SMP N 3 Batang Anai Kab. Padang Pariaman, pada bulan November 2016 diperoleh informasi, bahwa rendahnya hasil belajar IPA Biologi siswa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, pembelajaran masih terpusat pada guru. Penggunaan model pembelajaran dan media yang diterapkan belum tepat oleh guru menjadikan mata pelajaran IPA Biologi kurang menarik, sehingga dalam proses pembelajaran partisipasi siswa dalam bertanya

masih kurang dan siswa sulit memahami materi.

Salah satu materi yang dianggap sulit dipahami oleh siswa kelas VIII IPA Biologi adalah materi sistem gerak pada manusia, karena materi ini siswa dituntut memahami dan menjelaskan bagian-bagian sendi, otot serta gangguan yang terjadi pada materi sistem gerak pada manusia. Hal ini menyebabkan hasil belajar IPA Biologi yang diperoleh siswa masih rendah.

Keadaan ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran IPA Biologi belum memperoleh hasil yang optimal, maka dalam proses pembelajaran guru perlu memilih model pembelajaran dan media yang tepat sehingga dapat meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa. Salah satunya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievenment Division (STAD). Menurut pendapat Rusman (2014: 214) bahwa gagasan utama dibelakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan oleh guru.

(3)

Menurut Lufri (2007:48-49) model STAD (Student Teams Achievenment Division) Langkah- langkahnya seperti, Setelah dilakukan pretest, siswa dibagi beberapa kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin dan sebagainya. Guru menyajikan pelajaran atau presentasi verbal atau teks. Siswa bekerja dalam kelompok menggunakan lembaran kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan menguasai materi dengan saling membantu.

Dilakukan kuis untuk seluruh siswa, dalam kuis mereka bekerja masing- masing, diskor, dan setiap individu diberi skor perkembangan (dibandingkan dengan skor rata-rata pretest). Poin tiap anggota di jumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok. Kelompok yang mencapai criteria tertentu dapat di beri penghargaan.

Pembelajaran STAD memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan model pembelajaran STAD menurut (Istarani 2014:28-

29) adalah 1) Dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa. Karena mereka saling bekerjasama dalam kelompok. 2) Dapat memupuk rasa kebersamaan dan keberagaman dalam perbedaan. karena, dalam kelompok terdiri dari anggota yang heterogen. 3) Keutamaannya dapat digunakan dalam pengajaran mengajarkan materi-materi ilmu pasti. 4) Dengan kuis dapat menyenangkan anak dalam menjawab soal-soal materi yang diajarkan, dan dapat mengetahui kemampuan anak secara cepat. 5) Dengan pemberian reward akan mendorong atau memotivasi siswa- siswa untuk lebih giat belajar, serta.

Dengan adanya reward akan memberkan nuansa persaingan sehat di antara siswa.

Sedangkan kekurangannya adalah 1) Adanya siswa yang tidak akur dalam kelompoknya, karena ia dikelompokan pada anggota yang kurang ia senangi atau sukai. 2) Dalam kelompok, adanya siswa yang hanya sebagai pendengar budiman, kurang aktif. Ia beranggapan tugas akan selesai dikerjakan oleh temannya. 3) Kuis kurang dapat

(4)

menyahuti aspirasi siswa yang lambat dalam berfikir, karena dalam kuis dibutuhkan kecepatan dan kecermatan. 4) Pemberian reward adakalanya tidak sesuai dengan harapan atau keinginan siswa.

Dalam penerapan model pembelajaran tipe STAD ini, untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar dapat di kombinasikan dengan berbagai media salah satunya dengan LDS.

LDS merupakan salah satu media cetak yang digunakan untuk membantu dan mempermudah dalam kegiatan proses pembelajaran STAD.

Penggunaan LDS pada model pembelajaran STAD ini bertujuan supaya siswa dapat mengetahui secara jelas dari materi sistem gerak pada manusia dengan diskusi kelompok. Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Tipe STAD disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS) juga berfungsi sebagai arahan (petunjuk) pada saat diskusi dan juga dapat membantu meningkatkan cara belajar siswa aktif, dan memotivasi siswa agar tidak mudah bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian

permasalahan di atas maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Disertai LDS Terhadap Hasil Belajar IPA Biologi Siswa Kelas VIII SMP N 3 Batang Anai Kab. Padang Pariaman”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VIII SMP N 3 Batang Anai dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD disertai LDS pada ranah afektif, kognitif dan psikomotor.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan di SMP N 3 Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman pada bulan Juli-Agustus 2017 semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018. Desain penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini digunakan dua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Randommized Control-Group Posttest Only Design. Instrumen

(5)

penelitian yang digunakan pada penilaian ranah afektif berupa lembar observasi sikap siswa selama proses pembelajaran. Penilaian ranah kognitif menggunakan soal yang diberikan melalui tes tertulis diakhir penelitian dengan bentuk objektif sebanyak 55 butir soal. Penilaian psikomotor dilihat dari penilaian produk.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Ranah Afektif

Penilian ranah afektif diambil selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian ranah afektif pada kelas eksperimen dan kontrol mencakup dua aspek yaitu bekerja sama dan menghargai pendapat teman. Penilaian ranah afektif dinilai oleh observer yang diamati selama 3 kali pertemuan. Data hasil penilaian ranah afektif siswa ini dapat dilihat pada (Gambar 1).

Gambar 1. Grafik Nilai Rata-Rata Ranah Afektif Kelas Sampel

Berdasarkan (Gambar 1).dapat dilihat nilai rata-rata ranah afektif pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat masing-masing indikator kelas eksperimen, pada indikator bekerjasama yaitu 58,61, dan indikator menghargai pendapat teman yaitu 60, sedangkan pada kelas kontrol pada indikator bekerjasama yaitu 50, dan indikator menghargai pendapat teman yaitu 43,52.

Dari data uji normalitas kelas eksperimen diperoleh bahwa L0= 0,02173 dan Ltabel= 0,161 berarti L0<Ltabel bahwa hasil belajar siswa berdistribusi normal. Sedangkan data uji normalitas kelas kontrol diperoleh

58,61 60

50

43,52

0 10 20 30 40 50 60 70

Bekerjasama Menghargai Pendapat teman

Nilai Rata-rata

(6)

bahwa L0= 0,001887 dan Ltabel= 0,171 berarti L0<Ltabel dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa berdistribusi normal. Artinya hasil uji normalitas kedua kelas sampel berdistribusi normal.

Kedua kelas sampel mempunyai varians homogen, hal ini dapat dilihat dari hasil uji homogenitas dengan hasil uji Fhitung = 0,55 dan Ftabel = 1,90 berarti pada taraf 0,05 dengan dk 29,26 berarti Fhitung < Ftabel dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua kelas sampel mempunyai varians yang homogen.

Berdasarkan uji hipotesis didapatkan hasil pada taraf nyata 0,05 ttabel 1,68 sedangkan thitung 3,34 berarti thitung> ttabel dengan demikian hipotesis H1 diterima yang berarti terjadi peningkatan hasil belajar ranah afektif pada kelas sampel, tetapi walaupun secara statistik hipotesis diterima namun belum memberikan perubahan sikap siswa jika dilihat dari predikat cukup dan kurang. Hal ini disebabkan selama proses pembelajaran sikap siswa yang diamati oleh obsever selama 3

kali pertemuan belum menampakkan perubahan.

Penilaian afektif pada indikator bekerjasama kelas eksperimen tinggi dari nilai kelas kontrol, walaupun secara statistik memberi peningkatan tetapi belum menampakkan sikap yang optimal jika dilihat dari predikat cukup dan kurang pada kelas sampel. Hal ini disebabkan nilai rata-rata indikator bekerjasama pada kelas eksperimen dapat dilihat pada saat siswa telah mengerjakan lembar diskusi siswa (LDS), semua siswa mengikuti saat pembelajaran berlangsung namun pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol ada yang mengumpulkan LDS maupun resume yang tidak tepat waktu serta ada juga yang tidak lengkap dalam menjawab pertanyaan yang ada pada LDS maupun intruksi saat mengerjakan resume. Hal ini sejalan dengan pendapat Djamarah (2013:87) mengatakan bahwa didalam diskusi proses belajar mengajar terjadi interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah dan

(7)

dapat mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.

Pada kelas eksperimen didapatkan nilai rata-rata mengahargai pendapat teman saat berdiskusi 60 dengan predikat C, sedangkan pada kelas kontrol 43,52 dengan predikat D. Pada aspek menghargai pendapat teman saat berdiskusi ini terlihat bahwa secara statistik kelas eskperimen tinggi dari pada kelas kontrol, walaupun belum menampakkan perubahan sikap yang maksimal. Hal ini disebabkan masih ada siswa yang tidak mau menghargai pendapat teman saat berdiskusi. Namun disini guru telah menegur siswa untuk saling menghargai dalam kelompok. Sesuai dengan pendapat soebani (2013:53) semakin tinggi partisipasi anggota kelompok dalan memecahkan masalah, maka makin tinggi pula hasil yang dicapainya. Demikain pula sebaliknya semakin rendah partisipasi anggota kelompok dalam memecahkan masalah, semakin rendah pula hasil yang dicapainya.

Pada kelas kontrol menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, saat pelajaran

berlangsung terlihat sebagian siswa yang mau menghargai pendapat teman, namun ada juga ditemukan beberapa siswa yang tidak mau menerima pendapat teman bahkan siswa tersebut mengerjakan tugas secara individu, sehingga siswa merasa bosan dan ada siswa yang mengganggu temannya dalam mengerjakan tugas saat pembelajaran berlangsung.

Menurut Latisma (2011:192) ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai, ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, konsep diri, nilai serta moral. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku seperti, perhatiannya terhadap mata pelajaran, kedisiplinannya dalam mengikuti proses pembelajaran, motivasi yang tinggi. Ranah afektif juga menentukan keberhasilan belajar seseorang.

Menurut slameto (2010:188) sikap menentukan bagaimana individu bereaksi terhadap situasi serta apa yang dicari dalam kehidupan, sikap mengandung tiga

(8)

komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah laku.

2. Ranah Kognitif

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada kedua kelas sampel dengan memberikan tes akhir dalam bentuk soal pilihan ganda sebanyak 55 soal pada materi sistem gerak manusia di dapati bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, dapat dilihat pada (Gambar 2).

Gambar 2. Grafik Nilai Rata-Rata Ranah Kognitif Kelas Sampel

Berdasarkan (Gambar 2). dapat dilihat bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPA Biologi siswa pada kelas eksperimen dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

disertai LDS rata-rata nilai kognitif kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yaitu kelas eksperimen 70,46 dan kelas kontrol 60,07.

Pada ranah kognitif ini didapatkan hasil uji normalitas kelas eksperimen diperoleh bahwa L0

=0,13565 dan Ltabel =0,167 berarti L0<Ltabel bahwa hasil belajar siswa berdistribusi normal. Sedangkan data uji normalitas kelas kontrol diperoleh bahwa L0 = 0,0895 dan Ltabel = 0,1849 berarti L0 < Ltabel bahwa hasil belajar siswa berdistribusi normal.

Artinya hasil uji normalitas kedua kelas sampel berdistribusi normal.

Kedua kelas sampel mempunyai varians homogen, hal ini dapat dilihat dari hasil uji homogenitas dengan hasil uji Fhitung = 1,55 dam Ftabel= 1,97 berarti pada taraf 0,05 dengan dk 27,22 berarti Fhitung < Ftabel bahwa kedua kelas sampel mempunyai varians yang homogen. Karena populasi berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen maka dilakukan uji t untuk melihat apakah hipotesis diterima atau ditolak.

70,46

60,07

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Eksperimen Kontrol

Nilai Rata-rata

(9)

Berdasarkan hasil uji hipotesis didapatkan hasil pada taraf nyata 0,05 didapat ttabel 1,68 sedangkan thitung2,11 berarti thitung > ttabel dengan demikian hipotesis H1 diterima yang berarti terjadi peningkatan hasil belajar ranah kognitif pada kelas sampel, tetapi walaupun secara statistik hipotesis diterima namun belum memberikan perubahan pada pengetahuan siswa jika dilihat dari predikat kedua kelas sampel cukup.

Hal ini disebabkan selama proses pembelajaran siswa kurang memperhatikan materi sehingga belum memberi peningkatan pada ranah kognitif.

Penilaian ranah kognitif diambil dari nilai tes akhir yang dilakukan pada akhir pembelajaran.

Tes akhir ini menggunakan 55 soal pilihan ganda yang telah diambil dari 110 soal yang telah di uji cobakan pada kelas VIII.1 yang bukan kelas sampel. Adapun nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada (Gambar 2). Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD disertai LDS siswa yang tuntas

sebanyak 14 siswa dari 28 orang siswa dengan ketuntasan uji 50%.

Sedangkan pada kelas kontrol siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dari 23 orang siswa dengan ketuntasan 22%

pada kelas kontrol yang menggunakan metode diskusi dan tanya jawab. Menurut Djamarah dan Zain (2013:107) bahwa dikatakan baik apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75%

dikuasai oleh siswa dan dikatakan kurang apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.

Pada nilai rata-rata keseluruhan kelas sampel sama-sama mendapatkan nilai predikat cukup, kelas eksperimen dengan presentase ketuntasan 50% dan pada kelas kontrol dengan presentase ketuntasan 22%. Hal ini disebabkan karena siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama sudah mengikuti arahan dari guru sehingga mendorong siswa menjadi aktif dan bekerja sama dalam proses pembelajaran.

Pada kelas eksperimen dengan

menggunakan penerapan

pembelajaran kooperatif tipe STAD

(10)

disertai LDS dimana dengan model ini dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa karena mereka saling bekerja sama dalam kelompok, dengan memupuk rasa kebersamaan dalam perbedaan karena dalam kelompok terdiri dari anggota yang heterogen, dengan adanya pretest dan postest dapat menyenangkan siswa dalam menjawab soal-soal materi yang diajarkan dan dapat mengetahui kemampuan siswa secara cepat, dengan pemberian reward akan mendorong atau memotivasi siswa untuk lebih giat belajar dan dengan adanya reward akan memberikan nuansa persaingan sehat antara siswa.

Menurut Hamalik (2011:33) minat belajar siswa timbul apabila siswa tertarik akan sesuatu yang dipelajari dan dirasakan bermakna baginya, meningkatakan minat belajar siswa, membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran, sesuai dengan pernyataan Slameto (2010:12) agar setiap siswa berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran minatnya perlu ditingkatkan terlebih dahulu.

Penilaian pada kelas kontrol dengan menerapkan metode ceramah dan tanya jawab lebih rendah dibandingkan dengan kelas eksperimen yang menerapakn model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dilihat pada (Gambar 2).

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena pada kelas kontrol proses pembelajarannya hanya menggunakan metode diskusi dan tanya jawab, disini guru memberikan tugas kepada siswa dan meminta siswa untuk mengerjakannya, sehingga siswa kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini terlihat juga pada saat guru menjelaskan mata pelajaran hanya beberapa siswa yang memperhatikan sedangkan siswa yang lain sibuk dengan hal-hal lain seperti bercerita dengan teman sebelahnya dan melakukan kegiatan yang lain yang tidak bersangkutan dengan pelajaran. Dalam hal ini guru sudah berupaya untuk menegurnya agar tidak meribut saat jam pelajaran berlangsung, siswa tersebut ada mendengarkan apa yang ditegur oleh guru tetapi tidak lama kemudian mereka mengulangi perbuatannya.

(11)

Menurut Zain Djamarah (2010:97) bahwa kelemahan dari metode ini bila digunakan atau terlebih lama akan membosankan bagi siswa,” sehingga siswa kurang aktif dan kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga siswa lebih sering ribut.

3. Ranah Psikomotor

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada ranah psikomotor yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran dan yang dinilai yaitu kelengkapan laporan diskusi dan kerapian, kebersihan dan kejelasan dalam penulisan. Data hasil penelitian ranah psikomotor dapat dilihat pada (Gambar 3).

Gambar 3. Grafik Nilai Rata-Rata Ranah Psikomotor Kelas Sampel

Berdasarkan (Gambar 3) dapat dilihat nilai rata-rata penilaian ranah psikomotor kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol, dilihat masing-masing indikator pada kelas eksperimen, pada indikator kelengkapan laporan diskusi yaitu 61,11 dan indikator kerapian, kebersihan dan kejelasan dalam penulisan yaitu 53,61, sedangkan pada kelas kontrol pada indikator kelengkapan laporan diskusi yaitu 47,22 dan indikator kerapian, kebersihan dan kejelasan dalam penulisan yaitu 43,52.

Data uji normalitas kelas eksperimen diperoleh bahwa L0

=0,13251 dan Ltabel = 0,161 berarti L0 < Ltabel bahwa hasil belajar siswa berdistribusi normal. Sedangkan data uji normalitas kelas kontrol diperoleh bahwa L0 = 0,01175 dan Ltabel = 0,171 berarti L0< Ltabel hasil belajar siswa berdistribusi normal. Artinya hasil uji normalitas kedua kelas sampel berdistribusi normal.

Kedua kelas sampel mempunyai varians homogen, hal ini dapat dilihat dari hasil uji homogenitas dengan hasil uji Fhitung = 1,03 dan Ftabel = 1,90 berarti pada

61,11

53,61 47,22

43,52

0 10 20 30 40 50 60 70

Nilai Rata-rata

kelengkapan laporan diskusi

Kerapian, kebersihan dan kejelasan dalam penulisan

(12)

taraf 0,05 dengan dk 29,26 berarti Fhitung < Ftabel kedua kelas sampel mempunyai varians yang homogen.

Karena populasi berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen maka dilakukan uji t untuk melihat apakah hipotesis diterima atau ditolak.

Berdasarkan hasil uji hipotesis didapatkan hasil pada taraf nyata 0,05 didapat ttabel 1,68 sedangkan thitung 2,60 berarti thitung> ttabel dengan demikian hipotesis H1diterima yang berarti terjadi peningkatan hasil belajar ranah psikomotor pada kelas sampel, tetapi walaupun secara statistik hipotesis diterima namun belum memberikan perubahan pada penilaian produk siswa jika dilihat dari predikat cukup dan kurang pada kelas sampel.Hal ini disebabkan oleh rendahnya hasil rata-rata pada kedua kelas sampel pada ranah psikomotor banyak siswa yang tidak membuat, tidak mengumpulkan LDS maupun resume yang berhubungan dengan penilaian ranah psikomotor, serta banyak yang tidak hadir dalam proses pembelajaran.

Menurut Sardiman (2009:75) motivasi dapat juga dikatakan

serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh dalam dalam diri seseorang.

Pada nilai rata-rata kelas sampel eksperimen mendapatkan predikat cukup sedangkan pada kelas sampel kontrol mendapatkan predikat kurang. Rendahnya predikat pada kedua kelas sampel mengakibatkan tidak ada siswa yang mencapai ketuntasan pada ranah psikomotor. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2013-107) bahwa dikatakan baik apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60%

s.d 75% dikuasai oleh siswa, dan dikatakan kurang apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.

Dapat dilihat dari nilai psikomotor pada kelas eksperimen, sesuai dengan tuntutan dari model STAD ini yang dinilai adalah laporan

(13)

dari lembar diskusi siswa dimana membuat laporan lembar diskusi siswa setiap individu. Penilaian pada ranah psikomotor kelas eksperimen dengan dua indicator yaitu, kelengkapan laporan diskusi dan kerapian, kebersihan, dan kejelasan dalam penulisan. Hal ini bertujuan untuk mengatahui pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran setelah proses pembelajaran berlangsung.

Menurut Aswar (2009:87) penilaian keterampilan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat ketrampilan (skill) yang dimiliki siswa setelah mereka memahami proses pembelajaran kognitif dan afektif.

Penilaian ranah psikomotor pada indikator kerapian, kebersihan dan kejelasan dalam penulisan pada kelas eksperimen mendapatkan 53,61 dengan predikat kurang (D) sedangkan pada kelas kontrol mendapatkan 43,52 dengan predikat kurang (D). Pada nilai rata-rata keseluruhan kelas sampel sama-sama mendapat predikat kurang (D).

Rendahnya nilai psikomotor pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dikarenakan banyak coret-coretan

sehingga hasil diskusi yang dibuat kurang bersih, kurang rapi dan tidak sesuai dengan teori yang relevan.

Menurut Kunandar (2013:253-254) Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terjadinya peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII IPA Biologi SMP N 3 Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD disertai LDS pada ranah afektif, kognitif dan psikomotor.

DAFTAR PUSTAKA

Aswar, Syafri. 2009. Penilain Berbasis Kompetensi, padang : UNP Press.

Djamarah dan Zain (2013). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Hamalik, O. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

(14)

Latisma. 2011. Evaluasi Pendidikan.

Padang: FMIP

Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.

Jakarta: Rajawali Pers

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-

Faktor yang

Mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta

Kunandar. 2013. Peilaian Auntentik..

Jakarta: Raja Wali

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tabel distribusi t diperoleh, oleh karena thitung > ttabel yaitu 3,10 > 1,99 berarti hipotesis H0 ditolak maka yang diterima adalah hipotesis Ha, dengan demikian dapat