PENDAHULUAN
Latar Belakang
Memasukkan anak ke dalam lembaga pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini merupakan cara yang ideal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Kecerdasan visual-spasial atau yang disebut dengan kecerdasan visual adalah kemampuan memahami gambar dan bentuk, termasuk kemampuan menafsirkan ruang-ruang yang tidak terlihat (Yaumi & Ibrahim 2016: 83). Visual spasial merupakan salah satu bagian dari kecerdasan majemuk yang terdiri dari delapan jenis kecerdasan yang berkaitan erat dengan kemampuan memvisualisasikan gambaran dalam pikiran seseorang, atau bagi anak dimana ia berpikir dalam bentuk visualisasi dan gambaran untuk memecahkan suatu masalah atau menemukan jawaban. . , (Sujiono dkk. .
Anak dengan kecerdasan visual spasial menyukai benda atau aktivitas yang berkaitan dengan gambar, bentuk, pola, ruang, dan lain-lain. Kecerdasan visual spasial dapat dikembangkan dengan berbagai cara atau aktivitas, salah satunya dengan bermain. Peneliti menemukan bahwa keterampilan visuospasial anak tergolong rendah, yaitu hanya 1 anak dari 11 siswa di kelas tersebut yang dapat dikategorikan berkembang berdasarkan ekspektasi terhadap keterampilan visuospasialnya.
Hal ini diperkuat dengan hasil kemampuan berdasarkan portofolio anak untuk kemampuan visual spasial pada kategori kurang berkembang sebanyak 6 anak, kategori awal berkembang sebanyak 4 anak, dan kategori berkembang sesuai harapan sebanyak 1 anak. Penerapan Permainan Maze Untuk Meningkatkan Kemampuan Visual Spasial Anak Kelompok A Di Taman PAUD Doa Ibu Makassar.
Masalah Penelitian
- Identifikasi Masalah
- Alternatif Pemecahan Masalah
- Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini bagi peneliti sendiri adalah menambah wawasan dan terlibat langsung dalam proses belajar mengajar.
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
- Penelitian yang Relevan
- Kemampuan Visual Spasial
- Permainan Maze
Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa permainan dengan labirin dapat meningkatkan keterampilan visual-spasial siswa. Kecerdasan visual spasial merupakan kecerdasan yang dikaitkan dengan bakat seni khususnya seni lukis dan arsitektur. Kecerdasan spasial adalah kecerdasan yang mengacu pada kemampuan manusia untuk memahami secara akurat dunia visual-spasial (misalnya sebagai pemburu, pramuka, atau pemandu) dan untuk mengubah persepsi tersebut (misalnya sebagai dekorator, desainer interior, arsitek, artis, dan penemu).
Kecerdasan spasial adalah kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan manusia untuk memahami dunia visual-spasial secara tepat (misalnya sebagai pemburu, pramuka, atau pemandu) dan melakukan perubahan terhadap persepsi tersebut (misalnya sebagai desainer interior, arsitek, seniman, dan penemu). . Dari pendapat para ahli di atas penulis dapat menjelaskan bahwa kecerdasan visual spasial adalah kemampuan seseorang dalam memahami dunia visual secara akurat, yaitu ketepatan pandangan seseorang terhadap gambar, bentuk dan segala sesuatu yang bersifat visual. Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat).
Dari pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa kecerdasan visual spasial adalah kemampuan seseorang dalam memahami secara cermat gambaran atau bentuk visual baik berupa gambar, bentuk, warna, ruang, garis dan lain sebagainya. Secara umum, mereka yang memiliki kecerdasan visual spasial mempunyai daya observasi yang tinggi dan kemampuan berpikir dalam bentuk gambar.
Kerangka Pikir
Titik awal ini merupakan lokasi awal dimana pemain memulai permainan dan titik akhir merupakan lokasi akhir atau tujuan pemain. Permainan dimulai dari pintu masuk kemudian melewati jalan menuju pintu keluar, namun dalam permainan tersebut banyak terdapat liku-liku bahkan seringkali terdapat jalan buntu yang dapat membuat pemainnya tersesat. Pemain dikatakan berhasil jika dapat mencapai pintu keluar atau tujuan dengan menempuh jalur yang benar menuju pintu keluar tersebut.
Bentuknya menyerupai labirin dengan jalur bercabang dimana permainan mempunyai garis masuk atau garis start dan garis keluar atau garis finis. Permainan ini dapat dikatakan selesai atau pemain berhasil menyelesaikan permainan apabila pemain dapat melewati garis start dan mencapai garis finis dengan benar. Proses pembelajaran melalui permainan labirin dapat meningkatkan keterampilan visual spasial siswa, karena anak bermain secara langsung dan mengamati langsung permainan tersebut, dimana selama permainan anak dapat belajar menghubungkan gambar yang satu dengan gambar yang lain, anak dapat memecahkan masalah yaitu membaca peta sederhana dengan peralatan. melewati jalan atau jalan bercabang dalam game.
Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa peneliti berpendapat bahwa keterampilan visuospasial siswa dapat dikembangkan melalui permainan labirin. Berdasarkan uraian di atas, maka dibuatlah grafik untuk menggambarkan kerangka penelitian sebagai berikut:
Hipotesis Tindakan
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Lokasi dan Subjek Penelitian
- Prosedur Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Indikator Keberhasilan
Guru sesekali mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tentang gambar-gambar dalam permainan labirin hari itu. MB: anak sudah mampu mengenal gambar pada permainan labirin, namun tetap dengan bantuan guru. BB: anak belum mampu menghubungkan gambar satu dengan gambar lainnya dalam permainan labirin.
BSH: kanak-kanak boleh menyambung satu gambar dengan gambar lain secara bebas dalam permainan labirin.
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Hasil Penelitian
- Deskripsi Lokasi Penelitian
- Penerapan Permainan Maze untuk Meningkatkan Kemampual Visual
- Pelaksanaan Tindakan Siklus I
- Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Melalui permainan Maze yang diberikan peneliti diharapkan kegiatan pembelajaran dapat menyenangkan bagi anak dan dapat mengembangkan keterampilan visual spasial anak. Guru menyiapkan materi yang digunakan dalam permainan Labirin yang diberikan peneliti yaitu berupa Lembar Kerja Siswa (LKPD) berupa gambar burung unta dan jalur percabangan menuju ke telur. Guru juga menyiapkan krayon dan pensil. Anak mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan memainkan permainan Maze pada LKS yang telah dibagikan oleh guru.
Berdasarkan hasil observasi peneliti pada siklus I, peneliti melihat bahwa media yang digunakan dalam proses pembelajaran khususnya permainan labirin adalah Lembar Kerja Siswa (LKPD) berupa gambar permainan labirin yang di dalamnya terdapat gambar. . berbeda-beda pada setiap pertemuan sesuai dengan topik yang diajarkan pada hari itu. 7% 0%. informasi bahwa keterampilan visual-spasial anak Taman Doa Ibu PAUD Kelompok A menunjukkan bahwa mereka mudah membaca gambar dengan sub indikator, mereka mampu mengenali semua gambar yang ada pada permainan labirin. diperoleh 6 anak atau 54,54%, untuk kategori perkembangan awal diperoleh data 3 anak atau 27,27%, kategori berkembang sesuai harapan, diperoleh data 2 anak atau 18,18%. Langkah-langkah yang dilakukan guru dan peneliti dalam kegiatan permainan Maze adalah :.
Berdasarkan hasil observasi peneliti pada siklus I, peneliti menemukan bahwa media yang digunakan dalam proses pembelajaran khususnya permainan labirin adalah Lembar Kerja Siswa (LKPD) yang berbentuk gambar permainan labirin yang didalamnya terdapat gambar. berbeda-beda pada setiap pertemuan sesuai dengan topik yang diajarkan pada hari itu. Untuk subindikator kemampuan menyelesaikan permainan labirin dengan benar diperoleh data kategori keterbelakangan sebanyak 2 orang anak. diharapkan 5 anak atau 45,45%. Penelitian pada Siklus I memperoleh data kemampuan visual spasial dengan menggunakan permainan labirin pada Kelompok A di Taman PAUD Doa Ibu.
Alat atau bahan lain yang disertakan adalah pensil sebagai alat tulis dan pensil warna sebagai panduan dalam permainan labirin. Guru meminta anak mengamati gambar permainan labirin. Guru menjelaskan cara bermain sebelum membagikan lembar kerja kepada peserta. Ada permainan labirin hari itu. Berdasarkan hasil observasi diatas diperoleh informasi bahwa keterampilan visual spasial anak kelompok A di Taman PAUD Doa Ibu dengan indikator membaca gambar mudah dan sub indikator mampu membaca seluruh gambar pada permainan labirin mengenali pada kategori mulai berkembang, sehingga diperoleh data sebanyak 5 anak atau 45,45%, yang berkembang sesuai harapan, diperoleh data sebanyak 6 anak atau 54,54.
Untuk sub indikator mampu menghubungkan gambar yang satu dengan gambar yang lain pada permainan maze, awalnya untuk pengembangan kategori diperoleh data sebanyak 5 anak atau 45,45% dan untuk kategori berkembang sesuai dengan yang diharapkan diperoleh data sebanyak 6 anak. . atau 54,54%. Guru kemudian mengajak anak bermain bersama sebelum membagikan lembar kerja kepada anak. Guru juga menanyakan apakah anak mengerti atau tidak. Berdasarkan hasil observasi aktivitas anak dalam permainan labirin pada pertemuan kedua dapat dijelaskan bahwa permainan labirin dilakukan dengan menggunakan media, alat atau bahan berupa pensil, pensil warna dan lembar kerja yang berisi gambar-gambar permainan tersebut. labirin.
Guru meminta anak melihat gambar permainan labirin, kemudian guru menjelaskan kepada anak cara memainkan permainan labirin. Pada pertemuan pertama LKPD menggunakan gambar permainan labirin “tikus mencari keju” dan pada pertemuan kedua LKPD menggunakan gambar permainan labirin kera mencari pisang.
Pembahasan Hasil Penelitian
BSB: anak mampu mengenali semua gambar yang ada pada permainan labirin secara mandiri dan mampu membantu temannya mengenali gambar-gambar yang ada pada permainan tersebut. BSB: anak mampu menghubungkan gambar satu dengan gambar lainnya pada permainan labirin secara mandiri dan mampu membantu temannya dalam menghubungkan gambar satu dengan gambar lainnya. Memang benar guru mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam permainan labirin sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan visuospasial anak kelompok A Taman PAUD Doa Ibu dapat ditingkatkan dengan menggunakan permainan labirin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan visuospasial anak kelompok A Taman PAUD Doa Ibu Tahun 2019 dapat ditingkatkan dengan menggunakan permainan maze.
Saran
- Penjabaran indikator penelitian
- hasil observasi kemampuan visual spasial anak pratindakan
- hasil observasi kemampuan visual spasial anak siklus I pertemuan 1
- hasil observasi kemampuan visual spasial anak siklus I pertemuan 2
- hasil observasi kemampuan visual spasial anak siklus II pertemuan 1
- hasil observasi kemampuan visual spasial anak siklus II pertemuan 2
BSB: Anak dapat menyelesaikan permainan labirin sampai selesai tanpa bantuan guru dan dapat membantu temannya untuk menyelesaikan permainan tersebut.