PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn
KELAS V DI SD NEGERI BEJI
Oleh: Alfiana Aziza*, Wachid Pratomo, Nadziroh, Chairiyah Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
e-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan, hambatan yang dilalui dan solusi untuk mengatasi hambatan dalam penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn kelas V di SD Negeri Beji. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian guru kelas V dan siswa kelas V SD Negeri Beji. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi kemudian di reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1)Penerapan Problem Based Learning dilakukan dalam beberapa tahap yaitu tahap perencanaan, proses dan evaluasi. 2) Hambatan yang dilalui ada tiga yaitu alokasi waktu yang kurang, siswa kurang percaya diri dan siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. 3) Solusi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan membuat LKPD disertai langkah-langkah yang lengkap, memberikan contoh, mendampingi siswa saat presentasi serta memberikan reward/penghargaan kepada siswa dan memberikan ice breaking di tengah kegiatan pembelajaran.
Kata kunci: berpikir, kritis, problem based learning
Abstract
This study aims to describe how it is implemented, the obstacles that are passed and the solutions to overcome obstacles in the application of Problem Based Learning in developing students' critical thinking skills in class V Civics learning at SD Negeri Beji. This research is a type of descriptive qualitative research with class V teachers and fifth grade students at SD Negeri Beji as the subject. Data collection techniques used were observation, interviews and documentation then data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results of this study indicate that: 1) The application of Problem Based Learning is carried out in several stages, namely the planning, processing and evaluation stages. 2) There are three obstacles that are passed, namely insufficient time allocation, students lack self-confidence and students are less active in learning activities. 3) The solution taken to overcome these obstacles is to make LKPD accompanied by complete steps, provide examples, accompany students during presentations and provide rewards/awards to students and provide ice breaking in the middle of learning activities.
Keyword: thingking; critical; problem based learning
Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam menentukan perubahan sosial. Sebuah Pendidikan mengandung pembinaan kepribadian, pengembangan kemampuan, potensi serta peningkatan pengetahuan dalam mengaktualisasikan pembelajaran secara optimal. Pengaktualisasian peserta didik berkaitan erat dengan adanya hubungan antara peserta didik dengan guru. Hubungan peserta didik dan guru dapat dibangun apabila keduanya memiliki daya yang sama yaitu bisa saling mempengaruhi guna terlaksananya proses pendidikan (transformasi pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan). Pendidikan merupakan usaha secara sadar untuk mentraformasikan manusia muda menjadi manusia yang dilekati dengan kemanusiaan sesuai kodratnya, yakni bermanfaat bagi dirinya, sesama, alam lingkungan serta segenap isi dan peradapannya. Hal ini sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara (1977:14) yang diberi nama 10 Fatwa Sendi Hidup Merdeka, salah satunya yaitu “Tetep, Antep dan Mantep”. Istilah ini menunjukkan bahwa Pendidikan dapat mengantarkan seseorang kea rah kemajuan diri dan memiliki tujuan yang jelas yaitu memerdekakan diri sendiri, masyarakat dan warga dunia.
Pendidikan dari masa ke masa harus terus menerus mengalami kemajuan sebagai bentuk menjawab persoalan bangsa serta ikut mengarahkan tujuan bangsa menuju yang lebih baik. Tuntutan terhadap proses pembelajaran yang berkualitas semakin tinggi seiring dengan perkembangan dan
perubahan zaman, diharapkan mampu menyiapkan generasi bangsa untuk mengahadapi tantangan dan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan. Salah satu perubahan tingkah laku yang diharapkan adalah sikap berpikir kritis pada siswa. Berpikir kritis merupakan proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi tersebut bisa didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat dan komunikasi. Wowo Sunaryo Kuswana (2012:196) mendefinisikan berpikir kritis adalah refleksi yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan dilakukan.
Dalam bidang Pendidikan, berpikir kritis dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman materi yang dipelajari dengan mengevaluasi secara kritis argument pada buku, teks, jurnal, teman diskusi, termasuk argumentasi guru dalam kegiatan pembelajaran.
Menempuh pendidikan di era saat ini siswa dipersiapkan untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, metakognisi, keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreasi dan berbagai keterampilan lainnya yang mendukung masa depan. Untuk mencapai tujuan tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran PKn. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang titik fokusnya pada pembentukan warga negara yang mampu melaksanakan hak dan kewajiban untuk menjadi warga Negara Indonesia yang baik dan cerdas. Secara umum Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan untuk membekali generasi muda selaku penerus cita-cita bangsa yang dengan kesadaran tinggi memiliki jiwa bela negara serta kemampuan berpikir secara komprehensif dan integral dalam meuwjudkan ketahanan nasional yang tangguh. Dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah perlu adanya sebuah model atau bentuk gambaran pelaksaan dari pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran secara menyeluruh dari awal hingga akhir.
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat akan memberikan suatu pengalaman pembelajaran yang bermakna dan terjadinya pembelajaran yang aktif. Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa penggunaan model pembelajaran sangat penting. Untuk mendukung pelaksanaan Pendidikan yang sesuai sekaligus mendukung keterampilan dan sikap berpikir kritis siswa maka, salah satu langkah yang dapat ditempuh yaitu memberikan pembelajaran yang bermakna serta berdasarkan kebutuhan siswa dengan menggunakan pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan dan kebutuhan siswa yaitu pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Dengan diterapkannya pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) diharapkan kemampuan berpikir kritis siswa berkembang. Kemampuan tersebut ditandai dengan sikap rasa ingin tahu yang tinggi, mampu menyelesaikan setiap permasalahan, dengan sikap berpikir secara sistematik, objektif dan memiliki dasar pemikiran yang kuat. Menurut Arends (2013:97) model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) atau model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Penerapan model ini pada pembelajaran PKn difokuskan pada nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari- hari. Guru menyampaikan materi pembelajaran PKn dengan mengintegrasikan dengan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri Beji yang sudah dilakukan, peneliti menemukan beberapa masalah yang berkaitan dengan penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn antara lain : (1) Penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran PKn masih belum dilaksanakan secara maksimal, (2) Siswa kesulitan menguasai materi, (3) Saat pembelajaran berlangsung siswa kurang antusias, (4) Siswa tidak memiliki keberanian atau malu untuk menyampaikan argumennya, (5) Sedikitnya siswa yang menyukai atau tertarik terhadap pelajaran PKn, (6) Kurang maksimalnya guru dalam memberikan materi karena alokasi waktu. Penyebab kurang maksimalnya penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran PKn, diantaranya : (1) Lemahnya proses pembelajaran sehingga menyebabkan tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai karena proses pembelajaran di kelas belum diarahkan pada kemampuan berpikir kritis, (2) Siswa tidak berani atau malu-malu untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di kelas, (3) Siswa lain kurang antusias dalam bertanya dan memberikan argument berupa saran dan kesimpulan, (4) Alokasi waktu menjadi tantangan bagi guru
dalam melakukan pembelajaran agar materi mampu diterima siswa dengan baik.
Berkaitan dengan hal – hal di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn kelas V di SD Negeri Beji”.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Sugiyono, (2019:15) penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek alamiah, dimana peneliti sebagai sumber instrument kunci, pengambilan sumber data dilakukan dengan cara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif menekankan makna dari pada generalisasi.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2023 di SD Negeri Beji, Patuk, Gunungkidul dengan subyek penelitian guru kelas V dan siswa kelas V. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa proses pembelajaran yang terjadi pada penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir berpikir kritis siswa kelas V pada pembelajaran PKn. Penulis menggunakan penelitian kualitatif karena berdasarkan kondisi realitas yang ada di lapangan yang bersifat mendeskripsikan hasil dari “Penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V pada pembelajaran PKn di SD Negeri Beji”.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder untuk mencari dan mengumpulkan data yang diolah. sumber data primer adalah data yang langsung diperolah dari sumber data pertama. Pada data primer sumber datanya adalah guru atau wali kelas dan peserta didik. Sumber data sekunder adalah data yang telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen (Sugiyono, 2013: 309). Data sekunder yang didapatkan peneliti dari hasil penelitian adalah visi, misi dan tujuan SD Negeri Beji serta arsip foto. Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menelaah data yang telah diperoleh kemudian dijadikan satu dari berbagai teknik yang diterapkan yaitu, wawancara, observasi dan dokumentasi. Salah satu hasil wawancara kepada narasumber selaku guru kelas V yang menyatakan Problem Based Learning sebagai beriku.
“Problem Based Learning merupakan model pembelajaran dengan memberikan permasalahan kepada siswa untuk dipecahkan” (Kamis, 23 Februari 2023). Berdasarkan petikan wawancara diatas mendapatkan hasil yang akan direduksi data dengan merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting. Penyajian data berupa bentuk uraian singkat dengan teks yang bersifat naratif untuk memudahkan memahami apa yang terjadi. Kesimpulan awal dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berubah apabila bertambahnya data melalui proses verifikasi.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan mengenai penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn kelas V di SD Negeri Beji, maka dapat diidentifikasi beberapa hasil penelitian diantaranya sebagai berikut.
Penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn kelas V di SD Negeri Beji
Penelitian yang dilakukan di kelas V SD Negeri Beji dalam menerapkan Problem Based Learning meliputi beberapa tahapan, yaitu perencanaan, proses dan evaluasi. Berdasarkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan di SD Negeri Beji, yaitu : perangkat pembelajaran yang digunakan pada penerapan Problem Based Learning sama dengan model pembelajaran lain seperti Silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Kurikulum 2013, Kalender akademik, Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), Buku Absen dan Instrumen Penilaian. Hal ini relevan dengan Permendikbud No.65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa penyusunan perangkat pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar isi. Selain itu juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat
penilaian dan skenario pembelajaran. Proses pembelajaran pada penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn meliputi 3 tahap kegiatan yaitu kegiatan awal, inti dan penutup. Hal ini relevan dengan pendapat Ramlawati (2017:5) mengenai langkah-langkah pada penerapan Problem Based Learning yang meliputi : 1) Orientasi peserta didik pada masalah. 2) Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar. 3) Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. 4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. 5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah .
Dalam menerapkan Problem Based Learning pada pembelajaran PKn, guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pengamatan dan penugasan. Hal ini relevan dengan karakteristik Problem Based Learning yaitu: 1)Mengkaji permasalahan; 2)Permasalahan berbasis pada situasi dunia nyata yang kompleks; 3) siswa bekerja kelompok; 4)Beberapa informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan tidak diberikan; 5) Siswa mengidentifikasi, menemukan dan menggunakan sumber yang sesuai; 6) Belajar secara aktif, terintegrasi, kumulatif dan terhubung (Abdullah, 2014:133). Media yang digunakan ketika menerapkan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn di kelas V yaitu menyesuaikan dengan materi.
Gambar1. Siwa memperhatikan video pembelajaran
Hal ini relevan dengan pendapat Musfiqon (2012:116) bahwa dalam pemilihan media pembelajaran terdapat beberapa prinsip yaitu efektifitas dan efisien, relevansi dan produktifitas. Setelah dilakukannya pembelajaran, guru memberikan evaluasi kepada siswa. Guru memberikan soal atau tugas mengenai materi yang telah dipelajari untuk mengetahui hasil ketercapaian materi dan sebagai bahan evaluasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Arifin (2017:2) yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan suatu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Penilaian dalam menerapkan Problem Based Learning ada penilaian tugas, UTS dan UAS. Penilaian harian terdiri dari penilaian pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik). Penilaian diberikan sesuai dengan hasil pekerjaan siswa. Hal ini sejalan dengan Permendikbud No.66 Tahun 2013 yang menyatakan bahwa penilaian Pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan data untuk mengukur hasil belajar siswa, meliputi penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian tingkat kecakapan, ujian kecakapan kualitatif, ujian nasional ujian, dan ujian sekolah.
Hambatan pada penerapan Problem Based Learning
Hambatan penerapan problem based learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn Kelas V di SD Negeri Beji yaitu alokasi waktu yang terbatas sehingga siswa kurang maksimal dalam menerima materi. Hal ini relevan dengan ruang lingkup PKn menurut Winarno (2019:30-31) menjelaskan bahwa ruang lingkup PKn di Sekolah Dasar hanya mencakup tujub substansi. Selain itu rasa percaya diri siswa yang kurang seperti malu untuk bertanya dan tidak berani dalam mengungkapkan pendapatnya, kegiatan diskusi menjadi kurang berjalan dengan baik. Karena
kepercayaan diri siswa merupakan aspek penting dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Hal ini sesuai dengan pendapat Susanti, dkk (2014:50) bahwa anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi mempunyai ciri yang salah satunya yaitu berani tampil di muka umum dan berbicara dengan jelas serta mudah dimengerti. Kegiatan pembelajaran juga akan berjalan lancer apabila siswa fokus. Kurang minat siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan guru membuat tujuan pembelajaran tidak tercapai karena siswa merasa bosan. Maka dari itu Kerjasama antara guru dengan siswa sangat diperlukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hotimah (2020:10) yang menyatakan bahwa agar proses pembelajran dapat berlangsung secara aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM), maka proses pembelajaran harus dibangun berdasarkan kegembiraan siswa dan guru.
Solusi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pada penerapan Problem Based Learning
Solusi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pada penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn Kelas V di SD Negeri Beji yaitu dengan guru membuat LKPD (Lembar Kegiatan Peserta Didik) yang disertai dengan langkah- langkah lengkap. Dengan membuat LKPD dapat menghemat waktu sehingga alokasi waktu dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Afkar & Hartono (2017:140) bahwa salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru dalam mengaktifkan peran siswa yaitu dengan penggunaan LKPD sebagai bahan ajar untuk menunjang keaktifan siswa dan membantu mengurangi masalah siswa dalam memahami pelajaran. Keberanian siswa yang kurang untuk bertanya dan mengungkapkan pendapatnya perlu ditingkatkan dengan guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mampu memancing kemampuan berpikir kritisnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Yuliati (2013:56) yang menyatakan bahwa berpikir kritis dapat diajarkan dan memerlukan latihan untuk dapat memilikinya. Selain itu, suasana kegiatan pembelajaran yang monoton serta membosankan dan media pembelajaran yang kurang menarik membuat siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut didukung dengan penelitian Fahrurrozi, Yofita Sari dan Jihan Fadillah (2020) yang berjudul
“Pemanfaatan Model Problem Based Learning terhadap kemampuan Berpikir Kritis dalam pembelajaran PKn Siswa Sekolah Dasar”. Dalam penelitian tersebut menjelaskan guru belum mampu membuat pembelajaran yang inovatif serta kreatif sehingga menyebabkan siswa merasa bosan ketika proses pembelajaran berlangsung, hal tersebut berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.
Dengan memberikan ice breaking di tengah pembelajaran seperti bernyanyi, bermain game dan lainnya akan memecah suasana menjadi lebih bersemangat lagi untuk siswa belajar. Sehingga siswa dapat fokus kembali pada materi.
Gambar 2. Guru memberikan Ice Breaking kepada siswa
Simpulan dan Saran
Berdasarkan temuan hasil penelitian dan pembahasan yang mengacu pada tujuan penelitian di SD Negeri Beji, maka diperoleh hasil kesimpulan yaitu penerapan Problem Based Learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran PKn kelas V di SD Negeri Beji meliputi tahap perencanaan, proses dan evaluasi. Dalam penerapannya ditemukan hambatan yang dilalui ada tiga yakni alokasi waktu yang kurang sehingga siswa kurang maksimal dalam menerima materi,
siswa kurang percaya diri ketika presentasi dan siswa kurang fokus dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi hambatan tersebut guru dapat membuat LKPD disertai langkah-langkah yang lengkap, memancing siswa, memberikan contoh, mendampingi siswa saat presentasi serta memberikan reward/penghargaan kepada siswa dan memberikan ice breaking di tengah kegiatan pembelajaran.
Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber data serta referensi. Dan peneliti selanjutnya lebih memperdalam kajian tentang Problem Based Learning agar lebih mendalami dan memahami dengan baik, lebih memperluas atau mempersempit subjek dan objek dengan variabel yang berbeda dari penelitian ini sehingga mendapatkan temuan yang lebih banyak lagi.
Ucapan Terima Kasih
Saya mengucapkan terimakasih kepada dosen, guru serta siswa SD Negeri Beji yang telah mendampingi saya dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan artikel ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga Allah SWT, memberikan balasan pahala yang setimpal atas kebaikan yang telah diberikan
Daftar Pustaka
Abdullah, S. R. (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:
Bumi Aksara.
Arends, R. L. (2013). Learning to Teach 2. Jakarta: Salemba Humanika. Arifin, Z. (2012).
Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Arifin, Z. (2012). Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Dewantara, K. H. (1977). Bagian Pertama : Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Fahrurrozi, Yofita, S., & Jihan, F. (2022). Studi Literatur: Pemanfaatan Model Problem Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran PKn Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(3), 4460-4468.
Hotimah, H. (2020). Penerapan Metode Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Bercerita Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Edukasi, 7(2), 5- 11.
Kuswana Sunaryo, W. (2012). Taksonomi Kognitif Perkembangan Ragam Berpikir. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Musfiqon. (2012). Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Ramlawati, Yunus, S. R., & Insani, A. (2017). Pengaruh Model PBL (Problem Based Learning) terhadap Motivasi dan Hasil Belajar IPA Peserta Didik. Jurnal Sainsmat, 6(1), 1-14.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Bandung.
Susanti, W., & D, S. (2014). Mencetak Anak Juara, Belajar Dari Pengalaman 50 Anak Juara.
Yogyakarta: KATAHATI.
Winarno. (2019). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Isi, Strategi dan Penilaian.
Jakarta: Bumi Aksara.
Yuliati, L. (2013). Efektivitas Bahan Ajar IPA Terpadu terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 9(1), 55-57.